MELAYANG-LAYANG

Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh
Allah melayang-layang di atas permukaan air.
(Kejadian 1:2).

Dalam sebuah diskusi teologi tentang sifat-sifat Tuhan, seorang dosen saya di sekolah teologi menggambarkan bagaimana Tuhan itu seperti benteng yang kokoh, tidak tergoyahkan, solid, padat, dan tidak bisa ditembus. Pemahaman teologinya sangat kaku dan mengikat hanya pada satu pengertian kebenaran saja, selebihnya adalah kesalahan atau bahkan dibidahkan. Sehingga bayangan saya yang lahir pada saat itu tentang Tuhan adalah sosok yang tidak kenal kompromi, keras, tegas, dan menghukum apapun yang tidak disukaiNya. Mungkin Anda juga pernah mengenal orang yang sedemikian, sehingga ia menjalani kehidupannya sama dengan apa yang dia pahaminya.

Ayat di atas sangat menarik. Di dalamnya terdapat eksistensi tentang realitas Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci yang justru berbeda sama sekali. Ini adalah realitas Tuhan di awal Kejadian. Ketika dunia ini belum berbentuk dan dalam kondisinya masih kosong, di mana-mana yang ada pada saat itu hanyalah permukaan air. Disini Tuhan menyatakan diriNya dalam frasa ini ~yhiêl{a/ tp,x,Þr:m. (Baca: ’ĕ·lō·hîm mə·ra·ḥe·p̄eṯ), di mana dalam teks ini elohim digambarkan sedang melayang-layang di atas permukaan air. Dalam pengertian yang lebih antromorfis (penggambaran Tuhan dalam perilaku manusia) dapat diterjemahkan seperti seseorang yang sedang berjalan santai, kondisi rileks, atau bahkan melenggang. Tidak ada kesan gambaran Tuhan yang kaku, keras, tak kenal kompromi dalam pengertian ayat ini seperti yang digambarkan di atas.

Maksud penjelasan yang kontras ini adalah seringkali dalam kehidupan ini kita masuk ke dalam pemahaman hidup yang kaku, dipaksakan, hingga dalam tahap membebani dan menimbulkan stres. Seolah-olah hanya itulah satu-satunya pilihan hidup yang harus dijalani. Padahal ada banyak pilihan lain dalam kehidupan ini yang bisa diambil yang membuat kehidupan yang kita miliki menjadi lebih baik, bermakna, dan tentu saja membuat kehidupan kita menjadi lebih bahagia. Dan yang seringkali bukan kehidupan itu sendiri, sebab memang dari sananya sudah begitu, tetapi pilihan-pilihan kita untuk memahaminya. Seperti pembahasan awal mengenai realitas Tuhan. Alkitab
tidak memberikan satu saja gambaran tentang Tuhan, namun jika kita maunya begitu, ya tidak ada yang melarang. (AA)
Refleksi:
Biarkan Tuhan “melayang-layang” di atas kehidupanmu membebaskanmu dari pilihan-pilihan yang membuat hidupmu terkungkung

5 + 2 = 5000?

“Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi
apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”
(Yohanes 6:9)

Problem sedang dialami oleh para murid saat itu. Ada 5.000 laki-laki, belum terhitung perempuan dan anak-anak yang hadir. Jumlah yang sangat besar. Ketika hari petang, problem konsumsi muncul. Bukan perkara kecil karena memberi makan massa dengan jumlah yang besar pasti membutuhkan dana dan sumber daya yang besar. Para Murid hanya melihat ketidak mampuan mereka. 200 dinar, jumlah uang tabungan Yesus yang dipegang oleh Yudas, dapat memberi makan 200 keluarga. Jika 1 keluarga terdiri dari 5 orang, maka yang dapat makan hanya 1000 orang. Berarti jatah makan 1 orang harus dibagi untuk 5 orang atau lebih. Pasti sangat tidak cukup.

Sumberdaya yang dimiliki hanyalah 5 roti dan 2 ikan. Siapa anak yang membawa 5 roti dan 2 ikan? Roti dan ikan sebanyak itu pasti bukan bekal untuk dirinya sendiri. Mungkin ia membawa bekal untuk seluruh keluarganya, orang tua dan saudaranya. Atau dia diutus orang tuanya memberi bingkisan kepada Andreas, yang sudah mengantar orang tuanya untuk bertemu Yesus.

Siapapun anak itu, bungkusan yang diserahkannya, menjadi awal karya luar biasa Yesus. Pemberian ini menjadi ungkapan syukur Yesus kepada BapaNya, sehingga dapat dibagikan secara berlimpah kepada semua orang dengan sisa 12 bakul. Tetapi kisah ini diakhiri dengan Yesus menyingkir dari orang banyak yang hendak mengangkatNya menjadi raja.

Allah dapat berkarya melalui apapun dan siapapun. Dalam kisah ini Ia menggunakan 5 roti, 2 ikan, dan seorang anak kecil. Siapa yang menyangka bahwa angka-angka yang kecil, sumberdaya yang terbatas dapat mencukupi massa yang besar? Itulah ketidak terbatasan Allah yang bekerja memelihara manusia. Ia memelihara kita dengan berbagai cara. Termasuk melalui pihak-pihak yang tidak dipandang dan dimarjinalkan oleh mayoritas. Sekarang maukah kita juga diberdayakan oleh Allah menjadi alat memelihara hidup sesama, menjadi sahabat bagi sesama? (AL)
Refleksi :
Mari menjadi bagian dari karya Allah yang tak terbatas dalam memelihara hidup

CARA-NYA YANG AJAIB

“Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak
pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia:
semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”
(1 Korintus 2 : 9)

Umat percaya sering keliru memahami “ke-maha kuasaan Tuhan.” Mereka menerapkannya dengan cara-cara yang serampangan. Mereka membatasi Allah “hanya” mampu bertindak dengan spektakuler dan melupakan hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah nyata ini terjadi pada akhir tahun 1800-an di Philadelphia. Seorang gadis kecil yang bernama Hattie May Wiatt berdiri terisak di dekat pintu masuk sebuah gereja yang tidak terlalu besar, ia tidak diperkenankan masuk ke gereja tersebut karena “sudah terlalu penuh”. Pdt. Russell H. Conwell segera menuntunnya masuk ke ruangan Sekolah Minggu dan ia mencarikan tempat duduk yang masih kosong untuk Hattie. Hattie bersama kedua orangtuanya tinggal di daerah kumuh karena mereka tergolong keluarga miskin. Hattie begitu tergugah perasaannya, iapun memikirkan anak-anak lain yang senasib dengan dirinya dan tidak mempunyai kesempatan untuk ikut Sekolah Minggu.

Dua tahun kemudian Hattie meninggal dan Pdt. Conwell yang memimpin acara pemakaman yang sangat sederhana. Setelah selesai ditemukan sebuah dompet usang dan dalam dompet tersebut terdapat uang receh sebesar 57 sen dan secarik kertas tulisan tangan Hattie “Uang ini untuk membantu pembangunan gereja kecil agar gereja tersebut bisa diperluas sehingga lebih banyak anak bisa menghadiri Sekolah Minggu.” Rupanya selama 2 tahun, semenjak ia tidak diperbolehkan masuk gereja itu, Hattie telah mengumpulkan dan menabung hingga terkumpul 57 sen untuk maksud yang sangat mulia itu.

Setelah membaca surat itu, para anggota jemaat pun dengan sukarela memberikan donasi, bola salju yang dimulai oleh seorang gadis kecil miskin ini pun terus bergulir dan dalam 5 tahun telah berhasil mengumpulkan dana sebesar 250.000 dollar, suatu jumlah yang fantastik pada saat itu karena dapat dipakai untuk membeli emas seberat 1 ton. Allah dapat bekerja melalui siapa saja dengan cara apapun. Jangan mencoba membatasi karya-Nya. Karena Ia selalu bekerja dengan penuh misteri dan keajaiban. (AL)
Refleksi :
Allah itu sanggup menggerakkan siapa saja dengan cara-Nya yang ajaib. Jangan membatasi Tuhan.

BATU YANG BERSORAK

“Beberapa orang Farisi yang turut dengan orang banyak itu berkata kepada Yesus:
“Guru, tegorlah murid-murid-Mu itu.” Jawab-Nya: “Aku berkata kepadamu: Jika
mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak.””
(Lukas 19:39-40)

Perbedaan model spiritualitas dapat menyebabkan jurang perbedaan apabila tidak dipahami dengan benar. Sering sekali dalam pertemuan lintas denominasi beberapa pihak menjadi “alergi” dan tidak nyaman menikmati suasana ibadah yang berbeda bahkan cenderung mencela. Kejadian-kejadian seperti ini yang menyebabkan adanya batas pemisah antara satu denominasi dengan denominasi yang lain. Dan mengakibatkan semangat ekumenis susah terwujud.

Kisah ini dimulai saat dua orang murid Yesus telah mempersiapkan keledai sebagaimana instruksi yang telah diberikan-Nya kepada mereka (Ay. 29-35). Kemudian Yesus mengendarai keledai itu menuju Yerusalem (Ay. 36). Melihat hal itu, orang banyak menghamparkan pakaian mereka di jalan, bagaikan karpet merah yang dibentangkan bagi tamu kehormatan pada zaman sekarang. Mereka juga memuji Dia karena segala karya ajaib yang telah Dia lakukan. Mereka memuliakan Dia sebagai Raja yang datang dalam nama Tuhan (Ay. 37-38). Tetapi bagi para pemimpin
agama, pujian terhadap Yesus terlalu berlebihan. Maka mereka meminta Dia untuk menghentikan pujian murid-murid-Nya (39). Namun Yesus, yang ingin memasuki Yerusalem dengan menyatakan diri sebagai Mesias, menolak permintaan mereka. Walaupun pengikut-Nya berhenti memuliakan Dia, batu-batu akan menggantikan mereka, berteriak mengagungkan Dia (Ay. 40) karena Ia datang sebagai Mesias, yang dari Allah. Maka terbagi dualah sikap orang pada saat itu, sebagian memuji Dia dan sebagian menjadi oposisi.

Jika kita tidak dapat menemukan esensi dari penyembahan sebagai upaya
memuliakan Tuhan, maka yang terjadi adalah “pembatasan metode.” Padahal Tuhan ingin dimuliakan dalam berbagai bentuk dan ekspresi iman umat-Nya. Dimulai dari hubungan internal umat Allah, Janganlah terjebak pada metode mana yang benar dan mana yang salah. Sehingga akhirnya ada pihak yang menjadi pengritik kelompok yang lain. Dalam kebersamaan dan persahabatan kita dapat memuliakan Allah dengan
harmonisasi dan kehindahan sesama sahabat. (AL)
Refleksi :
Sikap persahabatan dalam iman, harus dipupuk dari hal-hal yang kecil termasuk menyembah-Nya sebagai sahabat dalam keragaman spiritualitas.

YANG TAK TERBATAS

“Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi
bagi Allah segala sesuatu mungkin.””
(Matius 19:25)

Sifat Allah yang tidak terbatas berarti Allah berada di luar dan tidak terbatas oleh waktu atau ruang. Tidak terbatas berarti “tanpa batas”. Ketika kita merujuk Allah sebagai sesuatu yang “tidak terbatas,” secara garis besar kita menganggap Dia sebagai Mahatahu, Mahakuasa, dan Mahahadir.

Mahatahu berarti Allah mengetahui segala sesuatu; bahwa Ia memiliki pengetahuan yang tidak terbatas. Pengetahuan-Nya yang tidak terbatas menyatakan diri-Nya sebagai penguasa yang berdaulat dan hakim atas segala hal. Allah tidak hanya mengetahui segala hal yang akan terjadi, namun juga mengetahui segala hal yang dapat mungkin terjadi.

Mahakuasa berarti Allah itu penuh dengan segala kuasa. Ia memiliki kekuasaan tidak terbatas. Memiliki seluruh kekuasaan ini penting sebab hal itulah yang membentuk kemampuan Allah untuk mewujudkan kedaulatannya. Karena Allah itu

Mahakuasa dan memiliki kuasa tidak terbatas, tidak ada yang dapat menggagalkan ketetapan-Nya untuk terwujud. Termasuk, tidak ada yang dapat menghalangi atau menghindari tujuan ilahi-Nya untuk terpenuhi.

Mahahadir berarti Allah selalu ada. Tidak ada tempat bagi Saudara untuk bersembunyi dari kehadiran Allah. Allah tidak terbatas oleh waktu dan ruang. Ia hadir di setiap waktu dan ruang. Kehadiran Allah yang tidak terbatas ini sangat penting karena ini menjadikan Allah bersifat kekal. Ia tidak berawal dan tidak berakhir. Tidak pernah ada kesempatan dimana Ia tidak hadir. Tidak akan pernah ada kesempatan dimana Ia berhenti hadir.

Allah itu tidak terbatas, berarti Allah itu jauh di atas, melebihi kita semua dan
kemampuan kita untuk memahaminya. Karena ketidakterbatasan Allah itulah, maka manusia harus bijaksana dalam membangun konsep percaya. Kita harus tetap terbuka pada pekerjaan Allah yang misteri dan percaya bahwa Ia pun dapat memakai orangorang disekeliling kita. Dengan demikian kita dapat paham, bahwa setiap hal yang berada sekitar kita dapat menjadi instrumen yang digunakan Allah untuk mengasah hidup kita. (AL)
Refleksi :
Banyak orang berupaya membatasi Tuhan dengan konsep-konsep yang menyebabkan dirinya kehilangan kemampuan menikmati ketakterbatasan Tuhan.

KETIDAKTAHUAN JURANG PERSAHABATAN

“Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar,
murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah
orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang
tidak diperbolehkan pada hari Sabat.”
(Matius 12:1-2)

Ketidaktahuan dapat mengakibatkan pandangan hidup yang sempit. Hal inilah yang terjadi dengan orang Farisi pada teks hari ini. Kaum Farisi, tergantung dari waktunya, adalah sebuah partai politik, sebuah gerakan sosial, dan belakangan sebuah aliran pemikiran di antara orang-orang Yahudi yang berkembang pada masa Bait Suci Kedua (536 SM–70 M). Dalam gulungan naskah-naskah Laut Mati, kaum Farisi dikatakan sebagai kaum yang suka mencari dan memerhatikan halhal yang sangat kecil. Mereka menjadi pengamat pelaksanaan hukum yang sangat teliti, karena mereka memiliki kerangka berpikir bahwa Allah mencintai orang yang taat hukum dan menghukum yang tidak patuh.

Orang-orang Farisi mengajukan protes kepada Yesus terkait penghormatan terhadap hari sabat. Hukum Yahudi memang melarang penganutnya melakukan segala bentuk “kerja” pada hari Sabat. Yang dimaksudkan adalah “39 kategori aktivitas” yang dilarang oleh Talmud. Ke-39 kategori ini disimpulkan berdasarkan perbandingan terhadap ayat-ayat Alkitab yang sepadan dari jenis-jenis pekerjaan yang perlu untuk membangun Kemah Suci. Kejadian ini menunjukan kegagalan orang-orang Farisi dalam melihat esensi dari Sabat dan Hukum Tuhan yang lain sehingga mereka cenderung membatasi relasi yang humanitas atas nama hukum. Mereka terjebak menjadi kaum legalis yang kurang menghidupkan “seni beriman.” Itulah sebabnya Yesus menjawabnya dengan mengingatkan salah satu inti dari beriman yakni “…Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan,…” (Ay. 7).

Ketidak pahaman seperti ini mengakibatkan orang Farisi kehilangan hubungan dengan Kristus dan murid-Nya. Sempitnya cara pandang mereka mengakibatkan mereka menaruh jarak dan menempatkan Kristus sebagai lawan mereka. Dalam membangun persahabatan, marilah kita mengedepankan substansi bukan “bungkus.” Dan hal tersebut dapat terjadi apabila kita memiliki cakrawala berpikir yang luas. (AL)
Refleksi :
Orang yang memiliki cakrawala berpikir yang luas, adalah orang yang mampu bersahabat dengan siapa saja

PETRUS : KASIH MENEMBUS BATAS APAPUN (Kisah para Rasul 10:1-48)

“Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa
Allah tidak membedakan orang.”
(Kisah Para Rasul 10:34)

Sejak peristiwa dugaan peristiwa penodaan agama yang dilakukan oleh Ahok sampai hari ini (setelah pilkada DKI Jakarta selesai) masyarakat masih berdebat tentang isyu suku, agama, radikalisme dan golongan bahkan semakin liar dan hampir tidak terkendali.

Petrus sebagai orang Yahudi asli yang telah mengalami perjumpaan dan pembaruan hidup dalam Yesus Kristus, tidak serta merta menjadi pribadi yang sempurna. Sikap primordialisme Petrus masih melekat dalam dirinya, hal itu terlihat jelas dalam Kis 10 ini. Dalam ayat 18 -19 Petrus berkata kepada Kornelius dan anggota keluarganya: “Kamu tahu betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tahir. Itulah sebabnya aku tidak keberatan ketika aku dipanggil, dan datang kemari.” Tetapi, ketika ia diperlihatkan oleh Tuhan semua binatang haram untuk memakannya pada ayat 13-14 barulah ia sadar bahwa Tuhan menghendaki dia untuk bergaul dan memberitakan kasih Allah kepada orang-orang non Yahudi.

Pesan penting dari cerita Petrus dan Kornelius ini adalah: Pertama, Kita harus menyadari bahwa sadar atau tidak sering kita memiliki sikap primordialisme juga; merasa suku kita lebih hebat/ superior, agama kita lebih benar, pandangan kita lebih mumpuni dll, sedangkan yang lainnya, salah. Sikap demikian akan membuat tembok yang tebal dalam pergaulan dan dalam membangun relasi dengan orang lain maupun dengan masyarakat. Itulah sebabnya sikap yang demikian harus dibuang supaya kita bisa cair menerima dan memperlakukan orang lain secara terhormat sebagai ciptaan Tuhan. Kedua, Jika kita sudah merasakan dan mengalami bagaimana Tuhan Yesus mengasihi kita apa adanya, maka kita juga harus mengasihi mereka yang belum menerima cinta kasih Tuhan apa adanya juga, tanpa memandang latarbelakang suku, agama, status sosial dll. Sebab Kasih Yesus menembus, menjangkau semua manusia tanpa dibatasi oleh apapun. Kasih Yesus harus menjadi pondasi dalam pergaulan, persahabatan dan relasi kita dengan masyarakat di manapun kita berada. Ketiga, Konelius dan keluarga, orang-orang di luar sana dan dunia ini membutuhkan cinta kasih dari Yesus. Tugas dan panggilan kita adalah mengamalkan dan menularkan cinta dan kasih itu kepada mereka. (RS)
Refleksi:
Apakah cinta dan kasih Yesus menjadi pondasi dalam pergaulan, pertemanan dan persahabatan kita?

STEFANUS : PERGI DALAM DAMAI (Kisah Para Rasul 7:54-60)

“Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: “Ya Tuhan Yesus, terimalah
rohku.” (Kisah Para Rasul 7:59)

RIP singkatan dari Rest In Peace, yang dapat diterjemahkan pergi dalam damai. RIP ini biasanya ditulis di batu nisan kuburan. Pertanyaannya adalah apakah benar orang yang telah meninggal itu pergi dengan damai atau pergi dengan meninggalkan banyak ganjalan?

Kisah Para Rasul 7:57-61 menceriterakan tentang peristiwa bagaimana Stefanus dieksekusi mati oleh masa dengan cara yang tidak manusiawi, yaitu dilempari dengan batu sampai mati, dikenal sebagai hukum rajam. Stefanus artinya mahkota. Ia adalah satu dari tujuh orang yang dipilih oleh para rasul sesudah kebangkitan Yesus untuk mengawasi bantuan kepada orang miskin (pelayanan diakonia) supaya para rasul berkonsentrasi memberitakan firman. Stefanus sangat menonjol iman, kasih, kuasa rohani, dan hikmatnya. Ia menggunakan waktu melebihi yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan khusus yang ditugaskan kepadanya,. Dia banyak mengerjakan mujizat dan giat mengabarkan Injil. Kisah Para Rasul 7:1-53 adalah bukti kuasa dan hikmat seorang Stefanus yang dengan kuasa dan hikmat Allah ia meringkas sejarah umat Israel sampai pada kematian Yesus disalibkan, kebangkitan dan kenaikanNya ke sorga, dalam bentuk khotbah di depan Imam Besar agama Yahudi dan di depan anggota majelis Mahkamah Agama. Isi khotbah Stefanus tidak bisa diterima. Mereka
marah, menyeretnya, dan merajamnya.

Apa pesan dari cerita ini? Pertama, cara orang meninggal tidak menentukan apakah orang itu pergi dengan damai atau pergi dengan penuh ganjalan Cara kematian Stefanus yang dirajam sampai mati, mungkin kita berpikir kematiannya sangat tragis dan memilukan, sehingga ia tidak pergi dengan damai. Justru sebaliknya, cerita ini menjelaskan bahwa Stefanus pergi dengan damai; hal ini terlihat dari sikap hati dan imannya. Imannya, dengan ia menyerahkan seluruh hidupnya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan pemilik hidupnya. “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sikap hatinya adalah ia berdoa dengan suara nyaring: “ Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka.” Ia bersedia mengampuni mereka yang membunuhnya. Sikap hati dan imannya inilah yang membuat ia pergi dengan damai. Kedua, Stefanus meneladani sikap Yesus ketika menghadapi pencobaan dan penganiayaan yang dilakukan oleh para musuh. Sikap berserah kepada kedaulatan Allah, yang berdaulat memberikan kehidupan dan mengambil kehidupan itu. Ketiga, ia percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit , maka ia percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. (RS)
Refleksi:
Marilah kita meneladani iman, kasih, kerja keras, hikmat dari seorang Stefanus sehingga kita dapat dipakai oleh Allah untuk menjadi berkat bagi lingkungan kita.

YUSUF ARIMATEA : SUNYI SEPI (Lukas 23:50-56A)

“Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang
baik lagi benar. Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. Ia berasal
dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah. ”
(Lukas 23:50-51)

Bermacam-macam bentuk ekspresi dapat diungkapkan kepada seseorang yang dicintai dan disayangi. Apakah orang yang dicintai itu sedang merayakan hari ulang tahunnya, atau orang yang dicintai itu telah pergi untuk selamanya. Yusuf dari Arimatea telah mengungkapkan rasa kagum, rasa hormat, rasa cinta dan sayang kepada Yesus yang telah mati dengan cara yang unik dan mengagumkan. Siapakah Yusuf dari Arimatea itu?

Yusuf dari Arimatea adalah seorang kaya pada zaman itu; ia adalah anggota Majelis Besar atau Mahkamah Agama. Ia dikenal sebagai orang yang baik dan benar.. Ia tidak menyetujui keputusan Majelis Besar menjatuhkan hukuman mati atas diri Yesus Kristus. Secara diam-diam ia pergi menghadap kepada Pilatus dan meminta mayat Yesus untuk diturunkan dan dikuburkan di kuburan miliknya. Yusuf menurunkan mayat Yesus, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, dimana belum pernah dibaringkan mayat. Selanjutnya tidak ada ceritera Yusuf dari Arimatea.

Ada beberapa keunikan, kelebihan dan kekurangan dari seorang Yusuf dari Arimatea. Pertama, Yusuf adalah pribadi yang rendah hati. Kerendahan hatinya tampak melalui sikap dan tindakannya.Misalnya, menjelang malam ia pergi menghadap kepada Pilatus untuk meminta mayat Yesus dikuburkan secara terhormat. Menjelang malam memiliki indikasi supaya apa yang ia lakukan tidak perlu diketahui oleh orang banyak. Kemudian, ia mengapani sendiri mayat Yesus dengan kain lenan dan membaringkannya
di dalam kuburan. Kedua, Yusuf dikenal sebagai orang yang baik dan benar dan yang menanti-nantikan Kerajaan Allah, itulah sebabnya ia memperlakukan mayat Yesus secara terhormat; ia tidak membiarkan mayat Yesus terus tergantung di kayu salib. Ia korbankan jabatan sebagai anggota Makamah Agama karena ia dapat dipecat dari jabatannya karena menurunkan dan mengurusi mayat Yesus. Hal inilah yang menjadi kelebihan dari seorang Yusuf.

Ketiga, Yusuf dari Arimatea menjadi murid Yesus secara pasif. Pasif berarti tidak secara aktif mengikuti kegiatan pelayanan Yesus. Ia menjadi murid Yesus secara diam-diam, mungkin karena faktor posisi dan jabatan yang ia miliki.Hal inilah yang barangkali menjadi kekurangan atau kelemahan dari seorang Yusuf. (RS)
Refleksi:
Setiap kita memiliki keunikan masing-masing ketika mengungkapkan rasa cinta, sayang dan rasa syukur kepada Tuhan Yesus

HANNA: PEMABUK ATAU PENDOA (I Samuel 1:8-20)

“Tetapi Hana menjawab: “Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat
bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum,
melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN.”
(1Samuel 1:15)

Doa sering dikenal sebagai nafas hidup orang percaya, namun demikian kenyataannya dalam kehidupan berjemaat bertolak belakang. Contoh, jemaat kurang tertarik dengan kegiatan persekutuan doa yang diselenggarakan oleh gereja. Kehadiran jemaat dalam persekutuan doa sangatlah minim, dibandingkan dengan kegiatan gereja lainnya. Kiranya renungan dibawah ini mengingatkan kita tentang pentingnya doa.

Hana dalam bahasa ibraninya khanna yang berarti ‘belas kasihan.’ Hana adalah salah seorang dari dua istri Elkana. Elkana, suaminya berasal dari keturunan Efraim, tinggal di Ramataim- Zofim. Penina istri kedua dari Elkana selalu ingin menyakiti hati Hana. Penina dengan sengaja menyakiti hati Hana supaya Hana menjadi marah, gusar dan menangis. Hal ini terjadi setiap kali keluarga Elkana pergi ke rumah Tuhan untuk beribadah dan mempersembahkan korban. Bagaimana Hana mengatasi rasa sakit dan kepedihan hati itu? Pada suatu kali ketika keluarga Elkana pergi beribadah di rumah Tuhan, Hana mengambil kesempatan untuk berdoa secara pribadi kepada Tuhan di dekat tiang pintu rumah Tuhan. Imam Eli memperhatikan doa Hana. Ia menyangka Hana mabuk oleh anggur. Ternyata dugaan imam Eli keliru. Hana berdoa kepada Tuhan, mencurahkan seluruh beban dan seluruh isi hatinya kepada Tuhan.

Pesan penting yang dapat kita pelajari dari ceritera Hana si pendoa adalah: Pertama, Hana menempatkan Tuhan sebagai sahabat sejatinya. Ia mencurahkan semua beban persoalan dan kepedihan hatinya hanya kepada Tuhan. Tidak ada yang disembunyikan oleh Hana. Kedua, Hana sangat percaya kepada Tuhan bahwa Dia tidak akan mempermalukan Hana,. Baginya, hanya Tuhan yang dapat mengangkat harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita di tengah-tengah keluarga. Satu tahun kemudian Hana mendapatkan anak laki-laki namanya Samuel. Ketiga, Hana konsisten dengan janjinya kepada Tuhan. Ia membawa Samuel kepada Imam Eli untuk dipersembahkan kepada Tuhan, menjadi pelayan rumah Tuhan. Sebab Hana berjanji kepada Tuhan: “Jika Tuhan mendengarkan doanya dan memberikan anak laki-laki, maka anak itu akan dipersembahkannya kepada Tuhan.” (RS)
Refleksi:
Apakah kita sudah menjadikan doa sebagai gaya hidup kita? Apakah kita sudah mengalami kuasa dan mujizat dari doa-doa yang kita naikan kepada Tuhan?