PENGERTIAN YANG BENAR

“Jika memang kamu mengerti maksud firman ini:Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah” (Matius 12:7)

Ada sebagian orang yang masih berpikir bahwa memberikan persembahan untuk gereja atau persembahan kepada hamba Tuhan merasa lebih rohani daripada memberikan bantuan kepada sesama. Kebaikan tak memiliki batasan usia. Dari yang kecil sampai yang lanjut usia dapat melakukannya. Yang diperlukan adalah kesadaran dan ketulusan hati. Seperti yang dilakukan seorang bocah asal North Carolina, Caiden Perez. Bocah yang baru berusia 7 tahun ini memiliki perhatian khusus pada orang tak mampu. Dia suka sekali membantu orang yang kesusahan, sama seperti kesukaannya pada superhero idolanya. Dia mengajak sang ayah mengadakan pesta pizza untuk para gelandangan di sekitar mereka, karena menurutnya hal tersebut akan membuat mereka senang. Sang ayah lantas mengubah rencana ini menjadi pembagian ‘tas kebaikan’ pada para gelandangan. Tas ini berisi kebutuhan dasar seperti kaus kaki, shampo, pasta gigi, dan air minum. (sumber: Vemale.com).

Nas hari ini merupakan penjelasan Kristus terhadap perintah Allah yang keempat, yakni tentang hari Sabat, dan pembelaan-Nya terhadap perintah itu melawan gagasangagasan takhayul yang dikemukakan oleh guru-guru Yahudi. Ia menunjukkan bahwa perbuatan-perbuatan yang perlu adalah belas kasihan. Penjelasan lainnya menunjuk kepada salah pengertian orang Farisi mengenai Hosea 6:6, belas kasihan dan bukan persembahan. Allah menghendaki hati yang benar jauh melebihi hal-hal lahiriah yang telah menjadi formalitas belaka. Suatu pengertian rohani dari Yesus kepada para murid-Nya dan orang Farisi untuk agar orang Farisi tidak menghakimi orang yang tidak bersalah. Argumentasi Yesus mempunyai makna ganda. Pertama, legalisme orang Farisi tidak berdasarkan firman Tuhan. Hukum Taurat menyatakan bahwa Allah lebih peduli kepada belas kasihan, bukannya persembahan. Kedua, Allah membenarkan murid-murid Yesus. Memperhatikan kebutuhan sesama manusia lebih penting dari ritual agama. Belas kasihan lahir dari hati nurani yang tersentuh oleh kebutuhan dan penderitaan orang lain.

Belas kasihan bukan sekadar rasa prihatin atau bersikap simpati. Belas kasihan juga tidak pamrih dan memperhitungkan untung ruginya. Belas kasihan itu murni dan didasari oleh kasih yang tulus. Yesus menyatakan bahwa setiap kita yang menolong sesama yang membutuhkan maka itu juga berarti kita mengasihi Allah. (RCM) Refleksi : Mengasihi sesama merupakan wujud dari mengasihi Allah.

BERITA YANG MEMBAWA PERUBAHAN

“ Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu? Jawabnya: Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku? Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya.” (Kisah Para Rasul 8:30-31)

Thomas Watson, pendiri perusahaan IBM pernah berkata “Ada sebuah pangsa pasar di dunia untuk komputer” Jika IBM tidak berubah di mana sekarang keberadaan IBM? Thomas Watson mau membuat sebuah terobosan setelah menerima informasi mengenai perkembangan peradaban manusia. Informasi adalah pencerahan, bukan perubahan. Artikel yang kita baca dapat membuat kita merasa cerdas dan diperkaya. Tapi sayang sebatas itu saja. Informasi hanya bisa berguna jika kita melakukan aksi-aksi yang sesuai dengannya. Mengkonsumsi informasi adalah titik awal terpenting untuk sebuah perubahan, tapi tetap belum terjadi perubahan apapun di dalamnya. Paling-paling kita hanya merasa sudah berubah.

Filipus adalah seorang dari tujuh orang yang di pilih untuk melayani jemaat di Yerusalem. Bersama dengan Stefanus dan yang lainnya. Sementara gereja yang baru bertumbuh di Yerusalem terus mengalami penganiayaan menyusul kematian Stefanus sebagai martir. Filipus pergi ke Samaria untuk memberitakan Injil. Kemudian ia mendapatkan petunjuk dari malaikat untuk berangkat ke sebelah selatan melewati jalan menurun dari Yerusalem menuju Gaza. Filipus bertemu dengan sida-sida dari Ethiopia. Sida-sida adalah seorang laki-laki yang dikebiri dan bertugas menjaga harem/selir raja. Ia adalah seorang yang punya jabatan dan berpengaruh . Ia seorang pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Ethiopia. Ia baru saja pulang dari Yerusalem untuk beribadah. Ketika sedang membaca Kitab Nabi Yesaya dan tidak memahami maksud tulisan Yesaya makan Filipus membantu menerangkan tentang Yesus. Sida-sida tersebut akhirnya memahami dan percaya kepada Yesus yang kemudian membawa perubahan dalam keimanannya. Informasi yang disampaikan oleh Filipus mengenai Yesus akhirnya direspon dengan iman yang membawa perubahan.

Berkembangnya media sosial membuat kita menerima berbagai berita dan dapat berbagi berita secara cepat. Namun apakah berita yang kita terima itu bermanfaat dan membangun? Apakah berita yang kita sebarkan melalui media sosial itu dapat membuat orang jadi lebih baik? Kita sebaiknya menyebarkan berita yang dapat membawa perubahan kepada orang lain untuk menjadi lebih baik. Berita yang kita sampaikan seharusnya membawa perubahan yang membangun orang dan menghantar mereka kepada kekekalan. (RCM) Refleksi : Berita yang kita sampaikan hendaklah membawa dampak yang positif bagi orang lain.

PRIORITAS

 “ Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.” ( Roma 11:25-36)

Kata prioritas menunjukkan kepada pengertian sesuatu hal yang diutamakan. Dalam kita menjalani kehidupan pasti ada prioritas. Seorang mahasiswa yang sedang menempuh studi harus memprioritas waktu untuk belajar, disamping menyediaakan waktu untuk aktivitas-aktivitas yang lainnya. Hal ini dilakukan sebagai syarat mutlak supaya mendapatkan prestasi yang baik dan menyelesaikan studi tepat waktu. Bagi seorang karyawan bekerja sungguh-sungguh harus menjadi prioritas di samping melakukan kegiatan-kegiatan lain di luar pekerjaannya. Kesungguhan dalam bekerja menjadi syarat profesionalitas dan kesuksesan seseorang dalam bekerja.

Bagian bacaan Alkitab hari ini merupakan sebuah doksologi akhir, yaitu suatu madah pujian pendek indah yang diungkapkan kepada Allah yang Maha kasih. Dalam madah pujiannya rasul Paulus tidak ragu-ragu mengungkapkan bahwa Allah menguasai sepenuhnya sejarah dunia dan bahkan menguasai sepenuhnya kehidupan manusia. Allah adalah Tuhan yang mengetahui seluruh rencana, tujuan, tantangan, persoalan, dan bahkan pemenuhan hidup manusia. Rasul Paulus menyatakan: “ Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.” Bagi Rasul Paulus yang menjadi prioritas dalam kehidupannya adalah Tuhan. Segala gerak, rencana, dan tujuan dari kehidupannya adalah untuk kemuliaan nama Tuhan, bahkan dalam bagian lain yang merupakan kesaksian hidupnya Rasul Paulus menyatakan:” bagiku hidup adalah Kristus, dan jika aku mati adalah keuntungan.”

Pertanyaan mendasar patut dikemukakan. Apa sesungguhnya yang kita cari dalam hidup ini? Apa yang menjadi prioritas? Kekayaan, kehormatan, kedudukan, kesenangan? Sejujurnya barangkali harus diakui bahwa hal-hal ini sering menjadi rujukan manusia. Kekayaan, kehormatan, kedudukan, kesenangan seringkali menjadi target manusia sehingga semua rencana, gerak, dan tujuan menuju ke arah tersebut. Dalam kondisi seperti ini maka yang terjadi adalah pengkultusan terhadap materi dan segala hal yang bersifat duniawi. Tentunya kita tidak menampik bahwa dalam hidup ini membutuhkan materi, tetapi jangan kita menjadikannya sebagai tujuan dan prioritas. Apakah dengan Kekayaan, kehormatan, kedudukan kita pasti bahagia? Tentunya tidak. Pembacaan Alkitab hari ini mengajak kita untuk menjadikan Tuhan sebagai prioritas dalam hidup kita. Tuhanlah yang menjadi pusat dalam hidup kita, sebab segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia.(AE) Refleksi: Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

MAKNA PERJUMPAAN DENGAN TUHAN

 

“Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya…” ( Markus 1:29-34)

I badah pada hakekatnya merupakan perjumpaan antara Tuhan dan manusia. suatu perjumpaan di mana Allah dalam kerinduannya terhadap manusia datang untuk menjumpai manusia, dan sebaliknya manusia datang kepada Allah merespons kerinduan Allah tersebut dalam ketaatan dan kesetiaannya kepada Tuhan. Dalam ibadah Allah berkenan menuntun umatnya melalui FirmanNya, dan umat diberikan kesempatan untuk merespon dengan mendengarkan Firman, bernyanyi, berdoa, dan bersyukur. Dengan demikian ibadah bukan sekedar upacara atau acara seremonial, tetapi sungguh-sungguh merupakan suatu kesempatan di mana umat dapat berjumpa dan berkomunikasi dengan Tuhan sehingga manusia memahami maksud dan kehendak Tuhan atas dirinya serta mewujudkannya dalam bentuk perilaku etis-moral dalam kehidupannya. Namun pada kenyataannnya memang sangat disayangkan bahwa ibadah sekarang ini tidak mampu membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan umat Tuhan. Banyak orang pergi ke gereja ( juga ke tempat-tempat ibadah lainnya) tetapi tidak membawa dampak apapun bagi dirinya. Perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan etis moral yang baik tetap saja dilakukan.

Kedatangan Tuhan Yesus di rumah ibu mertua Petrus memberi jawaban atas pergumulan yang sedang dihadapi oleh keluarga tersebut, di mana ibu mertua Petrus sedang sakit dan mengalami kesembuhan. Bahkan banyak orang-orang sakit dan orang kerasukan setan juga mendapatkan pemulihan. Kehadiran Allah ditandai dengan pemulihan dan tersedia jalan keluar dari permasalahan, maka ibadah sebagai bentuk perjumpaan Allah dengan umatnya seharusnya membuat seorang yang membawa pergumulan pulang dengan keyakinan bahwa Allah akan menguatkan dan memampukan menghadapi pergumulan bahkan keluar dari segala pergumulan. Itu berarti bahwa perjumpaan dengan Tuhan dalam ibadah membuatnya mengalami perubahan dalam memandang kehidupan dan permasalahan. Permasalahan dan pergumulan tidak lagi dilihat dalam perspektif yang melemahkan, tetapi dalam perspektif yang menguatkan dan mendewasakan. Dengan demikian umat menyadari bahwa kebesaran dan kekuasaan Tuhan jauh melampaui permasalahan dan pergumulan yang sedang di hadapi umat. Sebagai umat Tuhan di UK. Maranatha tentu memiliki permasalahan dan pergumulannya masing-masing, tetapi mari kita miliki perspektif iman bahwa dalam perjumpaan dengan Tuhan kita dikuatkan, dipulihkan, bahkan semakin didewasakan. (AE) Refleksi: Gusti ora sare, Dia menolong, menguatkan, dan memulihkan

DIUBAH MENJADI SERUPA DENGAN GAMBARNYA

“..dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambarNya…” ( 2 Korintus 3:1-18 )

Sebuah perubahan itu sangat diperlukan. Kalimat ini mengingatkan hal perlunya melakukan langkah-langkah pengembangan, kreatif, inovatif yang harus terusmenerus dilakukan supaya bisa survive bahkan supaya lebih berkembang. Hal melakukan perubahan ini tentu harus dilakukan dalam berbagai bidang kehidupan: baik dalam bidang bisnis, dalam bidang pendidikan, dalam bidang ilmu-pengetahuan dan teknologi dll. Sebuah perubahan ke arah yang lebih baik itu jelas sangat diperlukan, tetapi masalahnya banyak orang yang merasa tidak bisa atau tidak sanggup untuk melakukan perubahan. Diam di tempat dan tidak melakukan apapun. Kemalasan dan keengganan menjadi kontra-produktif yang merugikan.

Dalam perikop bacaan hari ini rasul Paulus menunjukkan pentingnya suatu proses perubahan yang berkesinambungan. (ayat 18). Kita diubah untuk semakin mendekati gambaran Tuhan dengan upaya-upaya yang lebih keras dan intensitas yang terus meningkat. Itu sebuah proses yang akan membawa kita untuk semakin lebih baik lagi dari hari ke hari agar bisa semakin mendekati gambarNya. Ini menunjukkan bahwa Tuhan menyatakan kita mampu mengalami perubahan dalam sebuah proses berkelanjutan agar semakin serupa dengan gambaranNya, dengan pribadiNya, dengan sifatNya, lengkap dengan segala kemuliaan. Tidak peduli seburuk apa perilaku, sifat atau perbuatan kita pada waktu lalu, tidak peduli sebesar apa kesalahan kita dahulu, tidak peduli seberapa lekatnya pola-pola negatif dalam pikiran atau hati kita sebelumnya, tidak peduli sekelam apa masa lalu kita, di dalam Kritus kita benar-benar menjadi ciptaan yang baru. Setelah perubahan menjadi ciptaan baru kita peroleh, adalah penting bagi kita untuk menjaga diri kita agar jangan kembali terjerumus ke dalam kebiasaan, sifat atau kelakuan buruk kita di masa lalu. Dalam surat kepada jemaat Kolose Paulus memesankan hal ini. Kita harus bisa menjaga segala perubahan kita sebagai ciptaan yang baru agar tidak sia-sia dengan kembali tercemar dengan kebiasaan dan perbuatan buruk kita di masa lalu. Ini sangat penting agar kita bisa berproses terus menerus menjadi lebih baik dan semakin mendapatkan gambar Tuhan yang benar, bukan sebaliknya kembali kepada keburukan, menjadi semakin menjauh dari image Tuhan tersebut dan semakin sesat.

Dalam Kristus kita bukan lagi ciptaan lama melainkan sudah menjadi ciptaan baru yang bisa terus berproses untuk semakin mendekati gambaranNya.(AE) Refleksi: Melakukan proses perubahan untuk semakin mendekati gambaranNya

SIAPA DI DALAM KRISTUS, IA ADALAH CIPTAAN BARU

 “ Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru:yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:11-21)

Menjadi Kristen bukan sekedar pergi ke gereja, memberikan persembahan, memiliki surat baptisan, surat pengakuan iman, dan status di KTP. Menjadi Kristen berarti menanggalkan dan meninggalkan semua cara kehidupan yang lama dan memulai pola kehidupan yang baru. Kekristenan adalah perubahan dalam cara berfikir, berkata, dan bertindak yang mencerminkan bahwa kita sudah beralih ( bertransformasi) dari gelap kepada terangNya yang ajaib ( 1 Petrus 2:9 ). Dewasa ini banyak orang yang mengaku Kristen, namun tidak pernah menunjukkan dirinya sebagai pengikut Kristus. Kehidupan lamanya tidak pernah ditanggalkan, dan tidak menunjukkan perubahan sama sekali. Bahkan banyak yang nampak rohani, namun tidak pernah menjadi teladan dalam hal beribadah, dalam hal memberi dan mengasihi, tetapi justru menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Dalam perikop ini Rasul Paulus menyebutkan dua hal yang penting supaya kita hidup untuk Kristus, yang dua-duanya merupakan dampak dari matinya Kristus bagi kita, yaitu pembaruan dan pendamaian. Maksud dari pembaharuan terdiri dari 2 arah: yaitu tidak acuh terhadap dunia (ayat 16), dan yang ke-2 mengalami perubahan hati yang menyeluruh. “ jadi siapa yang ada di dalam Kristus..” jika memang ia seorang Kristen dan ingin membuktikan dirinya sebagai orang Kristen maka ia harus menjadi ciptaan baru. Ciptaan baru artinya bahwa mereka bukan saja mendapat nama baru, memakai pakaian baru, namun yang terpenting makna ciptaan baru adalah mereka mendapatkan hati dan sifat yang baru Dan begitu besar perubahan yang dikerjakan anugerah Allah di dalam jiwa sehingga, seperti yang dikatakan selanjutnya, yang lama sudah berlalu, yaitu pikiran-pikiran lama, asas-asas hidup yang lama, dan kebiasaankebiasaan lama, sudah berlalu. Semuanya ini harus menjadi baru. Perdamaian mengandaikan adanya pertikaian dan retaknya persahabatan. Dosa telah memutuskan persahabatan antara Allah dan manusia. Namun, lihatlah, ada kemungkinan untuk berdamai. Yang Mahakuasa di sorga yang murka bersedia didamaikan. (ayat 18) dan ia telah menentukan pelayanan perdamaian. Pendamaian di sini dikatakan sebagai kewajiban kita yang tak bisa ditinggalkan (ayat 20). Karena Allah bersedia didamaikan dengan kita, kita harus didamaikan dengan Allah dan sesama. Kita dapat mengalami transformasi atau pembaharuan hidup, ketika kita mengalami perjumpaan secara pribadi dengan TUHAN. Di dalam Kristus manusia memperoleh segala yang baru: pikiran, perasaan dan hidup baru. (AE) Refleksi: “Wujudkan perjumpaan dengan Tuhan supaya hidup kita diperbarui”

IBADAH SEJATI? BERPERILAKU YANG LAHIR DARI AKAL BUDI “

 janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah:apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” ( Roma 2:1-5)

Banyak orang memahami ibadah dalam arti menghadiri kebaktian gereja, berdoa, menyanyikan pujian, mendengarkan Firman, mengisi paduan suara di gereja, mengisi vocal group, dan memberikan uang persembahan. Orang merasa dirinya sudah “cukup” saleh dan “rohani” dengan melakukan semuanya itu lantas menjustifikasi orang lain sebagai yang tidak saleh dan rohani. Sikap seperti tentunya tidak tepat selain ini merupakan penghakiman terhadap orang lain, tetapi juga merupakan bentuk kesombongan rohani. Paulus mengatakan bahwa ibadah yang sejati tak dapat dipisahkan dari konsep mempersembahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan (1-2) dan konsep hidup berjemaat sebagai tubuh Kristus (3-5).

Ibadah yang sejati adalah mempersembahkan seluruh kehidupan kita. Kata “mempersembahkan” di dalam PL berkaitan dengan para imam yang mempersembahkan kurban kepada Tuhan. Ada syarat agar kurban berkenan kepada Tuhan. Dalam konteks ibadah Kristen: pertama, Tuhan menerima persembahan yang hidup. Seperti tradisi PL, hanya hewan hidup (bukan bangkai) yang dipersembahkan. Namun, berbeda dengan PL, kurban Kristen tidak disembelih, mati dan habis dibakar karena kurban itu adalah hidup anak-anak Tuhan. Kedua, Tuhan menerima persembahan hidup yang kudus dan tidak bercela, yaitu yang menjauhi dosa. Ketiga, Tuhan menerima persembahan yang berkenan kepada-Nya, yaitu hidup yang selalu menyenangkan-Nya.

bagaimana kita melakukan ibadah yang sejati? Dengan tidak mengikuti kehidupan duniawi, tetapi mengikuti perilaku yang lahir dari akal budi yang telah diperbarui Tuhan. Akal budi yang diubahkan ini akan memimpin hidup kita dalam kehendakNya. Ibadah yang sejati bukan urusan pribadi semata melainkan tanggung jawab umat untuk menjadi satu di dalam Kristus, saling membangun dan melayani. Ibadah bersifat bersama. Sebagai bagian dari persekutuan Kristen, setiap pribadi tidak boleh berpikir terlalu tinggi mengenai diri sendiri. Biarlah jemaat menilai diri dan berkarya sesuai dengan karunia yang dianugerahkan Tuhan, sehingga kesatuan dan keefektifan ibadah terlihat hasilnya. (AE) Refleksi: Mempersembahkan hidup kepada Tuhan adalah memberikan diri melayani sesama.

TUNAIKAN TUGAS PELAYANAN

 “Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu” (2 Timotius 3:14-5:5)

Ada kenyataan di depan mata kita sekarang ini yaitu sebuah kondisi merosotnya kadar kualiatas moral masyarakat kita. Tentunya pernyataan seperti bukan mengada-ada, bukan pula membesar-besarkan, apalagi ada maksud untuk mendramatisasi. Degradasi moral ini hampir terjadi di semua lapisan masyarakat yang ada. Di kota, di desa, pada lapisan atas, lapisan menengah dan bawah, pejabat tinggi maupun rendah, karyawan swasta maupun pegawai negeri, bahkan di kalangan guru dan dosenpun tak luput dari serangan “penyakit” degradasi atau kemerosotan moral ini. Penyakit ini menyerang siapa saja yang tidak memiliki keteguhan iman dan spiritual. Untuk menghadapi penyakit seperti ini bukan dengan ketinggian pangkat atau jabatan, bukan pula dengan status dan kepopuleran, dan bukan pula dengan gelar yang berjejer, tapi dengan kekuatan Rohani.

Dalam bacaan Alkitab hari ini Paulus mengingatkan Timotius bahwa para pengikut2 Kristus akan mengalami penganiayaan dan penderitaan yang datang dari dunia. Akan muncul penyesat2 yang akan meruntuhkan persekutuan mereka. Mereka adalah pengajar2 sesat yang menyesatkan sehingga banyak orang yang menjadi murtad dan beralih atau berpindah kepada ajaran2 yang tidak sesuai lagi dengan pengajaran Alkitab. Bahkan jemaat di Efesus banyak dirasuki dan dipengaruhi oleh pemberitaan2 palsu tentang kebangkitan yang sudah dialami setiap pribadi dan kehidupan2 etis yang sekuler. Banyak orang yang mengajarkan ajaran2 baru yang mengatas-namakan kebenaran, tapi itu semua adalah palsu dan menyesatkan. Terhadap situasi ini, Paulus memberikan nasehat dan dorongan kepada Timotius dan kepada jemaat di Efesus untuk tetap terus berpegang pada kepada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini (ay.14). Kitab suci yang memberi hikmat dan menuntun kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus dan Kitab Suci yang akan menuntun umat untuk menjalani hidup sesuai dengan nilai moral-etik yang baik dan benar. Ada suruhan bagi Timotius dan umat untuk siap sedia memberitakan Firman baik atau tidak baik waktunya, menyatakan yang salah, menegor, dan menasehati dengan kesabaran dan dengan kasih pengajaran. Dan umat dinasehati untuk mengasai diri, sabar, melakukan pekerjaan pemberitaan Injil, dan menunaikan “stewardship”. Sebagai institusi Kristen dan umat di UKM kita diingatkan untuk tetap setia pada kebenaran Firman Tuhan di tengah pergolakan jaman sekalipun. (AE)

Refleksi: Mempermuliakan Kristus dalam setiap aspek kehidupan

DALAM HIDUP BERSAMA:MENARUH PIKIRAN DAN PERASAAN YANG TERDAPAT DALAM KRISTUS YESUS

 “ Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”. ( Filipi 2:1-11)

Banyak perceraian terjadi dalam rumah tangga yang disebabkan suami dan istri tidak mampu mengendalikan kepentingan dirinya dan bersikap egois. Suami merasa benar sendiri, demikian juga istri. Pembenaran diri begitu kuat mencengkram tanpa ada upaya sedikitpun untuk mau terbuka dan bersikap menerima pihak yang lainnya. Dalam dunia olahraga dan dunia organisasipun begitu. Sikapsikap individu yang mementingkan diri sendiri, egois, dan serakah yang mengabaikan kepentingan tim dan organisasi merupakan ancaman tersendiri yang menjadi salahsatu faktor penyebab kegagalan. Ketika sikap-sikap seperti ini yang dominan dimiliki oleh anggota maka jangan pernah berharap kelompok akan memperoleh keberhasilan. Karena itu yang dibutuhkan adalah membangun kerjasama yang di dalamnya terdapat sikap saling sehati, sepikir dan satu tujuan.

Dalam teks ini paulus mengemukakan suatu alasan yang kuat di mana umat harus menjalin kehidupan dalam keselarasan dan keharmonisan. Dasar pemikiran nasehatnya yaitu, bahwa di dalam Kristus ada nasehat: penghiburan kasih, persekutuan Roh, Belas kasihan, dan Kasih mesra. Nasehat ini adalah sebuah rujukan kepada kebaikan hati manusiawi. Hal mencari kepentingan sendiri dan puji2an yang sia-sia merupakan musuh utama dan musuh yang sangat licik dari kehidupan gereja, karena itu lawan semuanya itu dengan “humility”. Kerendahan hati merupakan lawan dari pujian yang sia-sia dan memperhatikan orang lain merupakan lawan dari mencari kepentingan sendiri. Teladan utama dari kerendahan-hati adalah penyangkalan diri seperti Kristus. “…yang walaupun dalam rupa Allah…” Lebih tepat jika diterjemahkan menjadi Sekalipun di dalam keadaan-Nya sebelum berinkarnasi memiliki sifatsifat hakiki Allah, kesetaraan dengan Allah itu tidak dianggap-Nya harga yang harus dipertahankan untuk kepentingan-Nya. “…Melainkan telah mengosongkan diriNya”. Tindakan merendahkan diri secara sukarela tidak berhenti pada inkarnasi saja tetapi berlanjut sampai pada kedalaman-kedalaman yang memalukan, yaitu mati di kayu salib. Salib menekankan sifat yang memalukan dari kematian itu. Ia telah merendahkan diri-Nya. Dia mengesampingkan segala hak dan kepentingan pribadi untuk memastikan kesejahteraan orang lain.(AE)

Refleksi: Bagaimana dengan UKM? Apakah kita sudah seperti Kristus memastikan kesejahteraan orang lain?

MENGALAMI TRANSFORMASI BERARTI MAMPU MENGENDALIKAN DIRI

“ dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan” ( 2 Petrus 1:3-15 )

Hasutan, hoax, berita bohong yang menebarkan kebencian hampir setiap hari kita jumpai dan bertebaran di mana-mana, terutama di media sosial. Hasutan dan provokasi yang berbau SARA yang bersifat mengadu domba dan menimbulkan gesekan dan konflik di tengah-tengah masyarakat. Keadaan seperti ini tentu sangat membahayakan bagi persatuan dan kesatuan bangsa, terutama dalam konteks masyarakat Indonesia yang sangat majemuk. Karena itu sangat diperlukan ketegasan Negara ( dalam hal ini pemerintah) menindak pihak-pihak yang berusaha menyebarkan kebencian yang bernuansa SARA untuk tujuan dan kepentingan apapun melalui prinsip-prinsip penegakan hukum yang berkeadilan, dan juga mendorong dan menghidupkan kembali semangat penghayatan dan pengamalan Pancasila serta Bhineka Tunggal Ika.

Dalam suratnya penulis 2 Petrus menasehatkan para pembacanya untuk sungguhsungguh berusaha mengembangkan iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, dan kesalehan dalam kasih terhadap semua orang. Penulis menasehatkan sebagai komunitas orang beriman sangatlah penting membangun sikap yang mampu mengendalikan diri agar umat tetap kuat dan berdiri teguh di tengah godaan yang terusmenerus datang menerpa. Pengendalian diri penting supaya umat tidak terhanyut oleh arus dunia, tapi terus dimampukan untuk menjadi garam dan terang atas dunia ini. penulis surat Petrus mengingatkan bahwa hal penguasaan diri merupakan panggilan umat percaya karena kuasa illahi telah dianugerahkan kepada kita. yaitu segala sesuatu yang berguna untuk hidup saleh. Semua itu telah dianugerahkan kepada umat dengan berkelimpahan sehingga umat menjadi giat dan berhasil dalam pengenalan akan Yesus Kristus. Jika umat tidak dapat mengendalikan diri maka ia menjadi buta dan picik karena umat melupakan bahwa dosa-dosanya sudah diampuni dan telah dikaruniakan hak penuh untuk memasuki kerajaan Allah.

Sikap penguasaan diri merupakan panggilan Allah kepada umat, khususnya bagi umat percaya di UKM supaya kita dapat bertahan dan teguh untuk tetap mempraktekkan kasih kepada sesama di tengah-tengah dunia yang penuh dengan kebencian dan perpecahan. Penguasaan diri akan menjadi alarm bagi kita yang mengingatkan kita terhadap arah, fokus, dan tujuan hidup kita. (AE) Refleksi: Tetap teguh dan setia dalam mempraktekkan kasih karunia Allah.