AYUB & SAHABATNYA

“Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabatsahabatnya,
dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala
kepunyaannya dahulu”
(Ayub 42:10)

Salah satu ciri khas anak kecil adalah selalu bertanya “mengapa”? Benarlah anggapan bahwa anak-anak selalu ingin tahu segala hal, sedangkan orang dewasa selalu ingin mengetahui tentang penderitaan. Memang dunia ini penuh dengan hubungan sebab akibat. Misalnya, pemanasan global disebabkan oleh mencairnya gumpalan-gumpalan es di kutub Utara bumi. Degradasi moral di berbagai negara adalah akibat dari penggunaan teknologi yang tidak bijaksana dan kurang dipersiapkan. Bahkan ada yang membuat sinyalemen bahwa perang suku di Afrika adalah akibat ulah negara-negara adidaya yang saling berebut kekuasaan atas dunia. Dalam konteks yang lebih kecil, kemakmuran hidup seseorang dianggap adalah akibat kerja keras dan motivasi yang tinggi serta etos kerja yang sangat baik dari orang tersebut. Itu sebabnya, tidak masuk akal jika seseorang yang memiliki moral yang sangat baik, hubungan keluarga yang sangat bahagia, serta kemampuan manajemen bisnis yang mumpuni seperti Ayub, mengalami penderitaan hidup
yang sangat mengenaskan. Sahabat-sahabatnya berusaha membantu Ayub untuk menemukan jawaban atas penderitaannya. Dengan berbagai hikmat dan pengertian
yang mengandalkan kekuatan pikiran manusia disertai keterbatasan wawasan mereka, para sahabat Ayub kembali kepada suatu teori bahwa orang baik akan mendapatkan apa yang baik, sedangkan penderitaan adalah akibat dari perbuatan yang tidak baik. Sebenarnya Ayub memiliki pandangan yang relatif sama dengan para sahabatnya, kecuali Elihu yang mengungkapkan pendapatnya bahwa mungkin saja Tuhan mengijinkan segala penderitaan Ayub terjadi untuk memurnikan hidupnya. Elihu tidak salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Ketika Allah kemudian menyingkapkan maksudnya, bahwa TUHAN tidak bermaksud mengijinkan Ayub menderita supaya dia mengetahui jawabannya, melainkan supaya dia mengenal Allah lebih dekat lagi. (ROR)

Refleksi: Kadang Allah mengijinkan penderitaan untuk kita alami supaya kita mengenal dia lebih dekat lagi dan lebih bergantung kepadaNya. Kita mungkin tidak selalu bisa menemukan jawaban atas pertanyaan kita.

DAUD, ABNER & YOAB

“Ketika Abner datang kepada Daud di Hebron bersama-sama dua puluh
orang, maka Daud mengadakan perjamuan bagi Abner dan orang-orang yang
menyertainya”
(2 Sam. 3:20)

Abner adalah seorang jenderal dan pemimpin pasukan dari raja Saul. Dia memiliki kemampuan militer yang sangat baik. Untuk jangka waktu yang tidak terlalu lama, Abner pernah menjadi pemimpin pasukan di bawah pemerintahan raja yang lemah. Kepribadian Abner dikenal sebagai seorang yang cenderung mementingkan diri sendiri. Dengan usahanya sendiri, dia ingin menyatukan kerjaaan Israel dan keerajaan Yehuda. Dia menolak untuk bekerja sama untuk mewujudkan rencana Allah. Sedangkan Daud adalah seorang raja yang diurapi Allah untuk mengantikan raja Saul yang telah nyata-nyata gagal dalam memimpin umat Tuhan. Bahkan Saul telah berani menentang perintah Allah dengan melakukan upacara persembahan kepada Tuhan, yang sebenarnya adalah tugas nabi Samuel. Daud menyadari potensi dan ketrampilan Abner dalam memimpin. Oleh karena itu, Daud menggunakan pendekatan yang bersahabat ketika menerima Abner dan
pasukannya. Kemudian Abner mulai mengerti dan menerima rencana Allah untuk menjadikan Daud sebagai raja atas Israel dan Yehuda. Demi mewujudkan rencana
allah, Daud bersedia berdamai dan bekerjsama dengan Abner. Karena ketaaatan kepada Allah, Daud membuat perjanjian damai dengan Abner. Itu sebabnya dia sangat bersedih ketika Abner kemudian dibunuh oleh Yoab, ajudannya yang setia namun memiliki kepribadian yang cenderung ingin melakukan apa yang dipikirnya baik. Daud tidak memanfaatkan otoritasnya untuk menghukum Abner maupun Yoab. Dia memilih untuk menjalin kerjasama dengan mereka dan bersedia menerima kelebihan dan kekurangan mereka. Bagi Daud, menjalankan rencana Allah jauh lebih utama daripada mengikuti keinginan hati dan perasaannya. Daud pun menyadari kekurangan pribadinya; sambil mengakui dan memberdayakan kekuatan orangorang yang bekerjasama dengan dia. Bekerjasama untuk mencapai maksud dan rencana Allah jauh lebih penting daripada mengejar kemuliaan diri sendiri. (ROR)

Refleksi:
Bagaimana kita memperlakukan rekan kerja kita? Apakah kita bersedia menerima kelemahan mereka dan memberdayakan kekuatan mereka demi mencapai rencana Allah?

MENINDAS ORANG LEMAH BERARTI MENGHINA ALLAH

“Siapa menindas orang yang lemah , menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh
belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.”
(Amsal 14:31)

Sudah menjadi pemandangan umum di negeri kita terdapat kecenderunganorang kuat menindas yang lemah. Yang kuat akan menguasai yang lemah. Yang lemah akan melayani yang kuat dan dengan terpaksa mengabdikan hidupnya kepada yang kuat. Fenomena itu memungkinkan kita menyaksikan ada orang yang teraniaya, tertindas, ternista, dan miskin. Oleh karena orang yang seharusnya menolong, justru mengakali dan memerasnya, seperti buruh yang bekerja dengan upah serendah mungkin, supaya majikan bisa mendapatkan keuntungan sebesar mungkin. Berdasarkan fakta, orang yang kuat cenderung memanfaatkan yang lemah. Orang kuat justru senantiasa mencari cara untuk mendapatkan keuntungan dari kaum lemah. Ketahuilah bahwa penindasan, penistaan, dan penganiayaan terhadap kaum lemah merupakan perbuatan yang menghina Tuhan.

Apabila orang kuat itu hidup di dalam Tuhan, justru Tuhan memberi amanat dan tugas panggilan untuk menanggung kelemahan orang yang tidak kuat, dengan mengesampingkan segala kesenangan dan keuntungan kita sendiri. Menolong yang lemah adalah kewajiban setiap anak Tuhan. Dengan demikian, menolong dan mengangkat yang lemah merupakan tindakan yang memuliakan Tuhan. Tuhan mengatakan kita yang kuat wajib menanggung yang lemah. Wajib itu berarti harus dilakukan.

Dalam pekerjaan pun, apabila kita mendapati rekan kerja yang lemah, kita pun bisa menerapkan konsep yang sama, yaitu memberdayakan yang lemah dengan memberikan pelatihan dan bimbingan agar rekan kerja kita itu dapat dapat mengatasi kelemahan dan kesulitannya. Kita pun dapat memberikan bimbingan untuk menolongnya supaya lebih maju, dengan memberikan kursus-kursus keterampilan yang dapat meningkatkan penghasilannya. Juga kita dapat memberikan pendampingan sebagai orang yang berpengalaman dan kompeten di bidangnya, sampai orang tersebut dapat maju berkembang.(RTM)

Refleksi:
Saya akan berusaha untuk menolong dan mendampingi yang lemah sehingga dapat menjadi kuat di dalam Tuhan agar hidup kita menjadi berkat.

JANGAN MAIN HAKIM SENDIRI

“Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia
berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap
berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.”
(Roma 14:4)

Menurut KBBI, menghakimi mengandung arti (1) ‘orang yang mengadili perkara,’ (2) ‘pengadilan’ dan (3) ‘juri’, ‘penilai.’ Menghakimi dapat diberikan pula pemaknaan yang lain, yaitu mereka yang menghakimi sebagai ’orang pandai, budiman dan ahli; orang yang bijak.’ Ditinjau dari pemaknaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa menghakimi adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk menentukan sesuatu itu benar atau salah. Itulah sebabnya dalam sebuah pengadilan dikenal sebutan “hakim”di mana ia berperan menghakimi suatu perkara. Jika tidak ada hakim, tidak ada seorang pun yang memiliki wewenang menentukan mana yang benar dan salah. Sebagai akibatnya semua orang akan merasa benar dan tidak ada yang salah. Jika demikian, hidup manusia akan sama seperti di masa hakim-hakim dimana manusia melakukan apa yang baik menurut pandangannya, “setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri”(Hakim-Hakim 21:25).

Tugas kita sebagai murid Kristus sama seperti seorang ayah dalam sebuah keluarga. Seorang ayah tentu wajib memberitahu anak-anaknya apa yang baik dan benar. Di samping itu, sang ayah mengingatkan mereka hal-hal buruk yang tidak boleh dilakukan. Akan sangat buruk bagi anak-anaknya jika seorang ayah hanya memberitahukan hal-hal benar saja tanpa memberitahukan hal-hal buruk yang perlu dihindari. Oleh karena itu, seorang ayah yang baik tidak akan henti-hentinya memberitahu anak-anaknya siapa yang bisa diikuti dan dijadikan sebagai teman, serta siapa yang harus dijauhi karena kelakuan buruk dan kejahatannya. Itulah tugas seorang ayah dalam mendidik anak-anaknya. Tindakan itu baik bagi sang ayah dan sangat baik bagi anak-anaknya. Sekarang tugas kita janganlah menghakimi sesama, tetapi kita memiliki tugas yang lebih penting, yaitu selalu mengingatkan keluarga, rekan kerja, dan masyarakat di lingkungan sekitar untuk menjauhkan diri dari hal-hal buruk, keliru, dan mengajarkan apa yang benar.(RTM)

Refleksi:
Jangan menghakimi sesama, tetapi yang wajib kita lakukan ialah mengajarkan hal yang benar.

SOLIDARITAS SEBAGAI WUJUD KESETARAAN

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan
orang yang menangis!”
(Roma12:15)

Kesetaraan manusia berarti manusia sebagai makhluk Tuhan memiliki tingkatan atau kedudukan yang sama. Tingkatan atau kedudukan yang sama bersumber dari pandangan bahwa semua manusia tanpa dibedakan adalah diciptakan dengan kedudukan yang sama yaitu sebagai makhluk mulia dan tinggi derajatnya dibandingkan dengan makhluk lain. Di hadapan Tuhan semua manusia memiliki derajat, kedudukan, atau tingkatan yang sama. Dalam konteks sosial, kesetaraan manusia dapat ditegakkan dengan solidaritas.

Salah satu kualitas yang harus dimiliki oleh setiap anggota tim sepakbola adalah solidaritas dan adanya saling ketergantungan antara satu dengan yang lain. Tanpa solidaritas, sebuah tim sepakbola tidak akan berjalan efektif. Bahkan, tanpa solidaritas dengan mudahnya tim itu terpecah belah dan kemasukan gol. Solidaritaslah yang membuat satu tim bisa tertawa bersama-sama, atau bahkan bisa menangis bersama. Solidaritas membuat mereka yang sedang jatuh tidak lagi tergeletak sebab ada tangan-tangan yang akan memegang, menopang, dan memeluk. Solidaritas membuat mereka yang bersedih tidak merasakan kesedihan itu seorang diri sebab selalu tersedia bahu tempat untuk bersandar, menangis, dan berbagi hidup.

Kita seharusnya memiliki solidaritas yang tinggi dalam sebuah tim. Baik itu tim di tempat kerja, tim di rumah, dan keluarga, tim dalam komunitas masyarakat, terlebih lagi tim di dalam pelayanan baik di kampus maupun di lingkungan. Hanya dengan cara seperti inilah keutuhan sebuah tim akan terus terjaga, semua yang sedang dikerjakan tim menjadi efektif dan tujuan yang ditetapkan pun akan lebih mudah tercapai. Tanpa solidaritas, sebuah tim bukanlah tim. Lihatlah ke sekeliling kita, siapa tahu ada yang membutuhkan tempat berbagi. Tawarkanlah dan berikan bantuan.

Solidaritas yang maksudkan tentu seperti Tuhan Yesus. Ia telah memberikan teladan tentang solidaritas karena Ia mau mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa sebagai hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 12:6-7).(RTM)
Refleksi:
Sahabatku, mari kita bersolidaritas kepada sesama sebagai panggilan kita dan untuk meneladani Tuhan Yesus.

CONGREGATIO SANCTORUM

“yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu
sebagai milik yang harus dipertahankan,”
(Filipi 2:6)

Dalam buku “The Church in the Power of the Spirit”, Jurgen Moltmann mendefinisikan ulang pengertian “congregatio Sanctorum” (persekutuan orang-orang kudus) sebagai persekutuan persahabatan. Moltmann berpendapat persahabatan adalah asosiasi bebas. Persahabatan adalah hubungan yang baru, yang melampaui peran sosial mereka yang terlibat. Persahabatan adalah sebuah hubungan yang terbuka yang menyebar keramahan, karena menggabungkan kasih sayang dengan hormat. Congregatio Sanctorum merupakan, komunitas saudara-saudara yang benar-benar menjadi persekutuan antar teman, yang tinggal dalam persahabatan dalam kasih Yesus.

Teologi Moltmann tentang trinitas didasarkan pada gagasan bahwa tiga persona trinitas yang menjadi serupa. Penekanan Moltmann ini pada “asosiasi bebas” sebagai karakter persahabatan yang muncul terutama saat kita tengah berjuang dengan kekuatan dan daya tarik individualisme yang egois. Sehingga, kita menemukan penekanan Moltmann ini sebagai penawar krisis bagi kita saat ini di tengah gereja yang lebih individualisme dan self-focus. Filipi pasal 2 kemudian menyoroti Yesus yang dalam kebebasannya menyerahkan diri demi lainnya. Dengan cara demikian, persahabatan, sebagai salah satu karakter gereja, menempatkan kita dalam posisi untuk menggunakan kebebasan sebagai jembalan dalam melayani orang lain.

Kebebasan itu dengan sengaja “diserahkan bagi dan di rekatkan kepada” orang lain. Pengorbanan inilah yang membuat persekutuan sahabat itu kemudian menjadi bermakna karena setiap orang berinisiatif membantu dan melayani orang lain. Tidak ada egoisme dan individualisme. Tidak mudah memang bahkan mungkin terlalu ideal. Namun pada akhirnya kita harus berupaya demikian mewujudkan panggilan Allah mewujudkan persekutuan Kristen yang egaliter dan bersahabat. (AL)

Refleksi:
Persekutuan Kristen adalah persekutuan dalam persahabatan, kesetaraan, dan saling melayani.

BELAJAR SETARA DARI TRINITAS

“Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa
Kita”
(Kejadian 1:26a)

“Kita” dalam bahasa Ibrani ditulis dalam bentuk kejamakan yang menunjuk pada keesaan yang disebut “Plural of Majesty”. Tunggal menunjukkan kepada keberadaan Allah sebagai satu-satunya Allah yang benar diantara allah-allah lain dan satu-satunya Allah yang menciptakan langit dan bumi, sedangkan jamak menunjukkan akan kepribadian Allah yang kompleks. Kepribadian Allah yang kompleks dalam konsep kekristenan yaitu Allah Tritunggal (Bapa, Firman, Roh Kudus).. Tritunggal tidak berbicara tentang berapanya Allah melainkan tentang bagaimananya Allah yang memiliki kepribadian yang kompleks tersebut.

Dalam kejamakannya, orang percaya kemudian memahami Allah sebagai Pribadi yang bersekutu dalam kesetaraan dan kemuliaan. Dalam peta itu juga manusia diciptakan oleh Allah sebagai pribadi yang setara dengan yang lain. Hanya manusialah yang diciptakan Allah untuk dapat memenuhi kepuasan dan kebutuhan dasar manusia. Oleh sebab itu, Allah menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan (Kej 1:27). Manusia diciptakan untuk berelasi dan saling melengkapi dalam kasih. Dalam Perjanjian Lama, manusia tidak dilihat secara terpisah atau sendiri-sendiri, tetapi sebagai anggota-anggota yang bertanggung jawab dari satu keluarga atau suku bangsa.

Hal ini tidak berarti bahwa Allah tidak memperhatikan individu. Seringkali juga panggilan Allah datang kepada individu, tetapi tetap tujuannya untuk kepentingan kelompok. Abraham dipanggil untuk meninggalkan kesenangan hidup dalam keluarga dan negerinya demi menjadi berkat bagi banyak orang (Kej 12:1-3). Musa dipanggil untuk hidup dan menjadi berkat bagi bangsa Israel (Kel 24:2). Artinya, Allah memanggil manusia dalam kehidupan pribadinya / individu tetapi demi kepentingan banyak orang. Tidak melihat orang lain sebagai berbeda, tetapi dalam kacamata kesetaraan. (AL)
Refleksi:
Kepentingan orang lainlah yang membuat kita menjadi lebih berharga.

HARAPAN DARI ATAS SALIB

“Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak
memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita
pendamaian itu kepada kami.”
(2 Korintus 5:19)

Yesus adalah kepenuhan sekaligus pintu gerbang dari janji keselamatan Allah bagi manusia dalam cinta. Keterlibatan ini tampak dalam dinamika sejarah yang terus menerus diperjuangkan oleh manusia dalam rangka antisipasi terhadap janji Allah. Janji Allah tidak lain menghadirkan Kerajaan Allah kepada manusia. Perwujudan Kerajaan Allah dalam kehidupan manusia, meminjam istilahnya Moltmann, berarti tindakan antisipasi terhadap janji Allah. Janji Allah adalah hidup kekal. Hidup kekal telah dimulai dan senantiasa berjalan dalam dinamika relasional antara Allah dan manusia. Iman memiliki masa depan kebangkitan kalau manusia mau menerima salib.

Keterarahan yang ada dalam proses transendensi manusia dalam pengalaman ambang batasnya ‘klop’ dengan pewahyuan diri Allah sebagai ‘penyelamat’ yang berpuncak dalam pribadi Yesus Kristus. Bagaimana hal ini mungkin? Menurut Moltmann, dengan menerima salib, penderitaan dan kematian bersama Kristus, dengan menerima perjuangan dan kesesakan dalam tubuh dan menyerahkan diri pada sengsara Sang Kasih yang juga merupakan pengalaman ambang batas, iman mewartakan masa depan kebangkitan, kehidupan dan keadilan Allah dalam hidup sehari-hari di dunia.

Yesus Kristus yang menderita, wafat, dan bangkit adalah wujud solidaritas Allah, atau keterlibatan hidup Allah dalam sejarah manusia yang mengalami penderitaan. Allah pun tersalib di dalam manusia yang menderita. Yesus menjadi realitas konkret solidaritas Allah atas dasar cintakasih-Nya. Tindakan Allah melalui seluruh pribadi Yesus Kristus itulah yang menjadi dasar bagi orang beriman untuk bertindak seperti Yesus Kristus, yakni melibatkan diri dalam penderitaan sesama. Lebih lanjut menurut Moltmann, puncak dari solidaritas Allah tampak dari peristiwa salib. Dalam peristiwa salib ditunjukkan bahwa Allah sendiri adalah Allah yang tidak dapat berpangku tangan atau tidak dapat menjadi apatis pada penderitaan manusia. Sebaliknya, lewat salib itulah Ia menunjukkan dengan nyata sebuah hati yang tergerak dan solider mencintai manusia (pathos). (AL)

Refleksi:
Salib menjadi simbol harapan dan solidaritas Allah bagi manusia. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menjadi harapan bagi sesama.

PERSEKUTUAN YANG BENAR-BENAR HIDUP

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan
pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di
dalamnya.”
(Efesus 2:10)

Orang Percaya menjadi persekutuan gereja yang benar-benar hidup jika didalamnya dibina persaudaraan dalam kasih yang membangun persekutuan untuk bersama-sama membawa pesan Injil Yesus Kristus ke dalam masyarakat. Kita menjadi nyata ketika ditugasi untuk menjadi garam di tengah-tengah masyarakat di mana kita ada. Maka berbicara soal makna dan fungsi kehadiran orang percaya di masa depan apalagi berhadapan daengan keterpurukan bangsa. Orang percaya tidak bisa tidak akan menjadi saksi kasih yang diakses atas dasar solidaritas Allah. Kita harus sadar bahwa kita dipanggil pertama-tama menjadi Kristen bagi orang miskin. Kemiskinan merupakan keadaan yang seakan-akan terus semakin membelenggu mereka yang terbelenggu olehnya. Kita harus menjadi saksi dan pembawa kebaikan Allah ke dalam masyarakat. Itu berarti bahwa kita secara konsisten menyuarakan perdamaian, penghormatan terhadap harkat kemanusiaan, keadilan serta solidaritas.

Orang Percaya harus ikut bersama kekuatan-kekuatan lainnya yang berkehendak baik dalam usaha menyelamatkan masyarakat dari keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan. Orang Percaya harus memperjuangkan hak-hak orang miskin, kaum buruh, dan orang kecil. Kekristenan menjadi sahabat orang miskin, kaum yang terperginggirkan dan tersisih.

Orang Kristen juga perlu secara konsisten bersikap positif terhadap umat lain. Orang Kristen harus secara menyakinkan membawa sikap yang pluralistik dan inklusif sangat mendesak karena melalui diakonianya dapat berperan aktif. Perlu kita bangun hubungan dengan umat beragama lain untuk bersama-sama menyelamatkan bangsa. Dalam hal ini gereja perlu berusaha supaya dapat dialami dalam masyarakat sebagai sahabat, sebagai ramah, dapat dipercaya. Orang percaya sebagai gereja sesuai dengan makna, dipanggil untuk dimana mereka hidup dan bekerja menjadi kekuatan ke arah perdamaian, kebaikan, kejujuran, keadilan. Semua cita-cita luhur ini tentu dimaksudkan untuk kesejahteraan rakyat kita. (AL)

Refleksi: Orang Percaya akan menjadi persekutuan yang hidup jika mengembangkan sikap belajar terus menerus dari orang lain.

PERSEKUTUAN BAGI ORANG LAIN

“Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala
kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama”
(Kisah Para Rasul 2:44)

Jurgen Moltmann, menjawab pergumulan individualisme dengan peran gereja. Kehadiran gereja di dunia ini diutus untuk menjadi gereja bagi orang lain bukan untuk anggota jemaatnya saja. Hal itu didasari ketika Yesus mendirikan gereja menjadi bagian dari sebuah keluarga, menjadi saudara di dalam Kristus, untuk melayani Yesus. Artinya, persekutuan orang percaya menjadi tempat bagi kita untuk bersekutu dan saling menolong satu sama lain.

Persekutuan bagi orang lain itu adalah gambaran dari suatu keyakinan teologis dan ikrar bahwa Yesus adalah manusia bagi orang lain. Selanjutnya dikatakan, manusia bagi orang lain berarti menurut kepercayaan Kristiani justru karena Dia mau menjadi manusia bagi orang lain maka Dia sampai mengorbankan diriNya. Dengan pemikiran seperti ini, orang percaya harus melakukan hal yang sama.

Persekutuan bagi orang lain akan berdampak pada kerinduan untuk membagikan berkat Yesus ke seluruh dunia. Persekutuan yang berguna bagi orang lain diimplementasikan dalam aksi bersama. Aksi tersebut terwujud dalam perbuatan,  dan bermakna bahwa orang percaya haruslah sungguh-sungguh perduli dengan masalah-masalah kemanusiaan. Kepedulian tersebut menunjukkan bahwa orang percaya hadir bagi orang lain. Persekutuan bagi orang lain itu adalah gambaran dari suatu keyakinan teologis dan ikrar bahwa Yesus adalah manusia bagi orang lain.

Tak salah jika orang percaya dapat berfungsi bagi orang lain, seharusnya kita memandang dunia ini sebagai panggilan dan tantangan untuk berkiprah dalam mendayagunakan segala potensinya untuk memberitakan kabar baik (eugangelion). Orang Kristen dalam memberitakan kabar baik mestinya juga memberitakan pembebaskan manusia dari berbagai persoalan hidup yang dihadapi sehari-hari. Untuk mengakses kerinduan tersebut, orang percaya yang dinamis pada zaman para rasul memberdayakan pria dan wanita ke dalam suatu persekutuan yang penuh sukacita yang meluas (Kis.2). (AL)

Refleksi: Orang Percaya memikul tanggungjawab dalam kedudukannya untuk memulihkan dunia ini kepada kehidupan yang bergerak, produktif, dan kreatif.