MENJADI SAHABAT (Ayub 2)

 “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.” (Amsal 13: 20)

Seorang remaja Kristen yang menjadi ketua OSIS di sebuah SMA menuturkan bahwa tidak mudah untuk mencari sahabat di lingkungan sekolahnya. Ia telah belajar untuk menjadi sahabat bagi orang lain dengan meluangkan waktu untuk menjadi pendengar yang baik, membantu dalam pelajaran dan tugas sekolah, serta menjadi pemimpin yang bertanggung jawab dan dipercaya. Namun, di saat ia memerlukan dukungan dan bantuan, seringkali sulit menemukan sahabat yang mau mendengarkan dan membantunya. Terkadang ia merasa seperti berjuang sendiri di tengah lingkungan orang yang belum percaya.

Barangkali Ayubpun merasa dirinya berjuang sendiri di tengah badai kehidupan yang menimpanya. Anak-anaknya telah tiada, dan isterinya tidak mendukung dan menghiburnya. Ada 3 sahabat Ayub yang mendengar tentang penderitaan yang ia alami dan berinisiatif untuk datang, menyediakan waktu dan menyatakan empati mereka bagi Ayub seperti tertulis di Ayub 2:11 “Ketika ketiga sahabat Ayubmendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Teman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia.” Namun, ternyata mereka akhirnya justru memarahi dan menghakimi Ayub oleh karena mereka tidak sabar dengan Ayub dan tidak memiliki pemahaman yang benar tentang Allah, penderitaan hidup dan kedaulatanNya atas hidup Ayub. Di tengah keterpurukannya, Allah sendirilah yang pada akhirnya berperkara dengan Ayub dan menyatakan diri dan kuasaNya yang ajaib pada Ayub. Allah memulihkan hati dan hidup Ayub seutuhnya. Ayub semakin mengenal dan mengalami Tuhan.

Dalam kehidupan kita, bagaimana reaksi dan tindakan kita saat mendapati teman kita yang mengalami masalah atau dukacita dalam hidupnya? Terkadang kita merasa tidak mampu untuk menolong dan mengerti apa yang mereka alami. Namun, Tuhan ingin kita tetap hadir, mendukung dan mendoakan mereka. Kiranya Tuhan menolong kita untuk menjadi sahabat yang berhikmat, penuh kasih dan setia. (CA) Refleksi: Apakah kita menjadi sahabat yang memberi pengaruh positif atau negatif kepada orang lain?Yesus telah menjadi sahabat yang setia dan sejati bagi kita. Kiranya Allah menolong kita menjadi saluran berkatNya

BERANI MENYATAKAN KASIH (1 Samuel 20)

 “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17:17)

Salah satu film yang berkisah tentang persahabatan adalah film “Hachiko” yang diangkat dari kisah nyata kehidupan seorang pria di Tokyo dengan seekor anjing pada tahun 1920an. Tiap hari Hachiko menemani tuannya, yang adalah seorang dosen, untuk berangkat ke stasium dan saat jam pulang kerja di sore hari Hachiko telah menanti tuannya di stasiun. Hingga pada suatu hari, tuannya meninggal sebelum pulang ke rumah. Hachiko tetap setia menunggu di tempat ia biasa menunggu dan menyambut tuannya, bukan hanya sehari atau dua hari tapi berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun ia berulang kali datang ke stasiun pada jam-jam kepulangan tuannya. Kisah Hachiko ini menunjukkan rasa sayang dan kesetiaan pada orang yang merawat dan menyanyanginya.

Hari ini kita diingatkan tentang persahabatan Daud dan Yonatan yang menunjukkan kasih, kesetiaan, dan ketulusan. Sebenarnya persahabatan mereka penuh resiko karena ada hal-hal yang dapat menghambat tali persahabatan mereka atau membuat mereka bermusuhan terutama karena hubungan ayah Yonatan yaitu Saul dan status Daud yang akan menjadi raja selanjutnya. Sekalipun Daud adalah menantu Saul, namun Saul tetap tidak menyukainya bahkan berusaha membunuhnya. Kehidupan Daud menjadi begitu terancam dan tidak menentu sehingga ia menjadi pelarian. Yonatan sebagai anak dari raja Saul melihat kenyataan bahwa bukan dirinya yang akan menjadi penerus tahta ayahnya melainkan Daud. Posisi Yonatan seakan terjepit di antara ayah dan sahabatnya. Sekalipun situasi yang mereka hadapi tidak mudah, persahabatan mereka tetap dapat terjalin karena Tuhan hadir dalam kehidupan mereka seperti yang tertulis dalam 1 Samuel 20:23 “…sesungguhnya, TUHAN ada di antara aku dan engkau sampai selamanya.”. Saat Saul dan Yonatan telah gugur dalam peperangan, Daud begitu meratapi kepergian mereka dan ia tetap menunjukkan kasih kepada keturunan Yonatan.

Adakah hal-hal yang menghalangi kita untuk menaruh kasih setiap waktu bagi sahabat kita dan sepenanggungan dalam kesukaran yang mereka hadapi? Terkadang kita harus berkorban atau menanggung berbagai resiko untuk membantu sahabat kita. Kiranya Allah sumber kasih itu mengalirkan kasihNya dalam hidup kita sehingga kita dapat menjadi saluran kasih Allah bagi orang-orang di sekitar kita. (CA)

Refleksi: Adakah orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar hidup kita yang barangkali tersisih dan kurang terperhatikan oleh orang lain? Kiranya Tuhan memberkan keberanian dan ketulusankepada kita untuk mengasihi mereka.

TAAT PADA PERINTAH TUHAN

 “Lalu jawab Musa kepada mereka ”tunggulah dahulu, aku hendak mendengar apa yang akan diperintahkan TUHAN mengenai kamu” (Bilangan 9:8)

Di televisi pernah beberapa kali di siarkan banyaknya orang yang melanggar peraturan dilarang parkir, dilarang berhenti, menerobos palang rel kereta apai, atau juga menerobos lampu merah. Perilaku seperti ini termasuk bentuk ketidaktaatan masyarakat terhadap peraturan lalu lintas. Sulit bahkan hampir mustahil, jika kita mengharapkan semua masyarakat menaati peraturan lalu lintas yang ada. Dan memang banyak sekali bentuk pelanggaran terhadap peraturan yang ada. Hal yang umum saja, contohnya Surat Izin Mengemudi (SIM), tidak semua pengendara memilikinya. Tak sedikit kita temui anak-anak sekolah bahkan masih SD, mereka mengendarai sepeda motor. Dengan melihatnya pun kita sudah bisa menilai bahwa anak-anak seperti mereka sudah pasti melanggar suatu peraturan. Ditambah lagi tidak memakai helm.

Hari ini kita belajar dari Musa mengenai ketaatannya kepada perintah Tuhan. Firman Tuhan sangat menekankan tentang pentingnya umat menghormati kekudusan Tuhan. Tidak ada tempat bagi kenajisan! Di Perjanjian Lama ada aturan bahwa menyentuh mayat juga menjadi suatu tanda kenajisan yang membuat seseorang harus disingkirkan dari komunitasnya, dan membuat seorang najis harus mentahirkan diri secara khusus. Peraturan ini pun masih berlaku saat orang Israel akan merayakan Paskah. Namun ada beberapa orang yang protes, bukan karena masalah pemberlakuan kenajisan, tapi karena mereka dicegah berpartisipasi dalam memberikan persembahan bagi Tuhan. Meskipun berdasarkan aturan kenajisan, mereka terhitung najis oleh mayat, tetapi hati mereka ingin menaati firman Allah mengenai perayaan Paskah. Lalu Musa, dengan bijaksana, menanyakan terlebih dulu kehendak Tuhan mengenai masalah ini. Karena peraturan itu datang dari Tuhan, tentu hanya Tuhan yang punya jawaban atas protes yang mereka sampaikan.

Tuhan menghendaki supaya kita taat dan setia kepada-Nya. Ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan merupakan bukti bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi-Nya. Tetapi kita harus mengerti dan memahami secara benar bahwa motivasi atau alasan yang mendorong kita untuk taat dan setia kepada Tuhan tidak boleh didasari pikiran yang dangkal, salah, dan keliru. Alkitab jelas mengajarkan bahwa ketika kita taat dan setia, kita juga mengalami tentangan, pergumulan dan penderitaan serta ujian terhadap iman kita kepada Kristus. Ketaatan kita adalah penyerahan hidup sepenuhnya kepada Allah. (RCM) Refleksi : Mengasihi Tuhan berarti taat pada firman Tuhan

MENANTIKAN PERTOLONGAN TUHAN

 “Adalah baik menanti dengan diam pertolongan Tuhan “ (Ratapan 3:26)

Ketika kita menjalani kehidupan di dunia ini seringkali tidak sabar menantikan pertolongan Tuhan, saat menghadapi berbagai persoalan hidup, baik itu persoalan ekonomi, perkerjaan, usaha, persoalan rumah tangga, dan berbagai macam persoalan lainnya yang sering terjadi dalam kehidupan kita selama ini. Seringkali ada persoalan-persoalan yang membuat kita merasa sudah tidak mampu lagi untuk menghadapinya, dan bila menghadapi kenyataan hidup seperti ini kita sering merasa seperti sendiri dan rasanya seperti mau mati, dan mungkin sering juga kita berkata “kenapa hidupku berat sekali?”. Dalam menghadapi berbagai persoalan hidup ini seringkali sebagai orang percaya kita seperti kehilangan pengharapan, yang pada akhirnya membuat iman percaya kita menjadi lemah, apalagi sudah sekian lama berdoa tetapi kita belum juga melihat pertolongan Tuhan datang.

Nas hari ini berisi pesan Yeremia yang ingin agar bangsa Israel tahu bahwa masih ada harapan. Mereka masih dapat berharap karena alasan-alasan berikut: Murka Tuhan hanya berlangsung untuk sesaat, tetapi kasih-Nya yang besar tidak pernah berakhir. Allah tidak menolak Yehuda selaku umat perjanjian-Nya dan Dia masih mempunyai rencana bagi mereka. Tuhan itu baik dan pemurah kepada mereka yang menantikan Dia dalam kerendahan hati dan penyesalan. Tuhan ingin menunjukkan belas kasihanNya kepada para penderita apabila maksud-Nya dalam menghukum mereka telah tercapai Jika kita sedang dalam pergumulan, berdoalah dan nantikanlah pertolongan Tuhan. Dengan kacamata iman, kita akan melihat bahwa pergumulan yang kita alami sebenarnya hanyalah berukuran kecil.

Jika kita memakai kacamata firman Allah, kita akan dapat melihat bahwa Allah ada di pihak kita dan akan memberikan kita kemenangan atas setiap permasalahan hidup kita. Jangan memaksakan waktunya Tuhan. Jika kita bertindak sesuai dengan waktunya kita, kita hanya akan menemui kekecewaan. Tunggulah dengan sabar di kaki Tuhan (berdoa), maka Allah akan menolong kita tepat pada waktunya. ”…tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:31). Dunia ini sarat dengan problem. banyak orang sudah merasa lelah dalam menjalani hidup ini. Tetapi apabila kita melekat / menempel dan menyatu dengan Dia, maka tidak ada yang dapat membuat kita lelah, karena di dalam Tuhan selalu ada kekuatan baru. Di dalam menanti-nantikan Tuhan kiranya ada pujian yang keluar dari mulut kita, kerena di dalam pujian ada kemenangan yang luar biasa.(RCM) Refleksi : Pertolongan Tuhan tidak pernah datang terlambat

v

 “Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan.” (Galatia 5:5)

Apakah kebenaran itu? Kebenaran bukanlah suatu perasaan. Kebenaran bukan pula sebuah ide saja. Kebenaran terdapat dalam Alkitab. Kebenaran itu penting bukan semata-mata karena ia benar. Kebenaran penting karena ia mendefinisikan siapa dan apa yang kita percaya. Buku berjudul Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah (All Truth is God’s Truth) yang di tulis oleh Arthur F. Holmes menuliskan bahwa pemikiran tentang kebenaran telah dimulai oleh filsafat Yunani dan terus berkembang sampai saat ini. Baik disadari ataupun tidak, mau ataupun tidak, kita akan terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran zaman tersebut dan membentuk gaya hidup kita

Paulus memperingati bahaya dari kehilangan kasih karunia. Dia menjelaskan kebenaran pada orang-orang percaya, yang berpedoman pada Injil dari Anugerah: “Sebab oleh Roh dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan…” Apa yang kita nantikan pada bagian ini adalah “harapan dari pembenaran” untuk keselamatan yang akan kita nantikan, kita tidak melakukan ‘pekerjaan’ untuk hal itu; kita menantikan kebenaran itu dengan iman; oleh karena itu oleh iman, hanya percaya pada penderitaan Kristus, kita dapat menantikan kebenaran itu. Ketika seseorang dalam Kristus, maka tidak ada yang lebih penting. Tidak ada orang bersunat, atau tidak bersunat yang dapat menambah pendirian kita kepada Allah. Semua hal itu penting apabila bersama Allah dalam Kristus oleh iman. Kehidupan kekristenan tidak hanya hidup dengan iman tanpa hidup dalam Roh Kudus, dan Roh Kudus menolong kita untuk menghasilkan pekerjaan baik oleh kasih. Iman yang bekerja karena kasih, bukan berarti bahwa kasih menambah sesuatu kepada iman, tetapi iman yang menyelamatkan adalah iman yang bekerja karena kasih. Lewat Roh dan iman kita bisa melihat kebenaran yang kita harapkan. Mata kita dicelikan sehingga mampu mengenali Yesus dan kebenaran dalam diriNya Filsafat manusia tidak dapat mencapai kebenaran yang sesungguhnya karena kebenaran yang sesungguhnya hanya dapat dikenal berdasarkan wahyu dari kebenaran itu sendiri. Tuhan Yesus mengatakan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh. 14:6) Hanya kekristenan yang mendapat wahyu kebenaran dari Sang Kebenaran itu sendiri. Apakah respons kita terhadap anugerah besar ini? Apakah kita lebih suka dengan kebenaran dunia dan seturut dunia menghina kebenaran Alkitab? (RCM) Refleksi : Yesus Kristus adalah kebenaran.

MENANTIKAN JANJI ALLAH

 “Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan di bangun oleh Allah ” (Ibrani 11:10)

Anies Baswedan-Sandiaga Uno saat unggul dalam hitung cepat di sejumlah lembaga survei dalam pemilihan calon gubernur dan wakil gubernur GKI memberikan banyak janji. Di balik euforia kemenangan, ada tumpukan tugas di Ibu Kota yang harus segera diselesaikan. Ada janji selama kampanye yang harus diwujudkan untuk kemajuan Jakarta. Ada sejumlah program yang terus-menerus disosialisasikan oleh Anies dan Sandiaga selama masa kampanye. Mulai dari bidang hunian yang populer dengan DP Rumah Rp 0. Kemudian di pendidikan, AniesSandiaga mempopulerkan Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus yang merupakan kelanjutan dari program sebelumnya. Namun setelah terpilih dan belum menjadi Gubernur DKI janji-janji yang sebelumnya digembar-gemborkan mulai tidak jelas realisasinya.

Allah memberikan janji kepada Abraham sebagai orang pilihanNya. Abraham mengetahui bahwa negeri perjanjian yang di bumi ini bukanlah menjadi akhir dari pengembaraannya. Sebaliknya, negeri itu menunjuk kepada kota sorgawi yang telah dipersiapkan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang setia. Tidak heran kalau Abraham disebut bapak kaum beriman. Ia tekun menantikan penggenapan janji Allah walaupun kapan dan seperti apa realisasi janji itu tidak jelas. Ia menaati perintah Allah untuk pergi meninggalkan negeri leluhurnya dan tinggal di tempat asing. Kemah-kemah yang didirikannya di setiap perhentian menunjukkan bahwa ia selalu siap berpindah sesuai dengan petunjuk Tuhan sampai ia tiba di Tanah Perjanjian.

Menantikan penggenapan suatu janji adalah pekerjaan yang sulit. Apalagi ketika penggenapan janji yang kita tunggu itu tidak kunjung terjadi. Satu-satunya yang memampukan kita bertahan dalam penantian itu adalah jika kita kenal dan percaya penuh kepada pihak yang berjanji. Sikap iman Abraham ini sebenarnya merupakan gambaran sikap iman Kristen yang meyakini bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara dan merupakan bagian dari perjalanan hidup bermusafir. Tujuan kita ada di depan, yaitu Surga yang dijanjikan Allah. Umat Kristen mewarisi kekayaan sejarah iman umat Allah masa lampau, baik yang dicatat dalam Alkitab maupun dalam catatan sejarah gereja. Kepercayaan para tokoh iman itu disandarkan hanya pada Allah yang setia memenuhi janji-Nya. Kini, kita menyaksikan melalui Alkitab dan gereja penggenapan janji-janji Allah bagi mereka satu per satu terwujud. Patutkah kita meragukan kesetiaan-Nya?(RCM)

Refleksi : Allah tidak pernah lalai menepati janjiNya.

MEMELIHARA IMAN

 “Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal” (Yudas 1:21)

Tana Toraja pada masa lalu selama bertahun-tahun lamanya adalah sebuah wilayah yang sebagian besar penduduknya masih menganut animisme. Namun di tengah keadaan suram tersebut, datanglah seorang pendeta dari Belanda bernama Antonie Aris van de Loosdrecht. Bersama sang istri, Alida van de Loosdrect, mereka melakukan pelayanan kepada masyarakat sekitar. 26 Juli 1917 adalah tanggal dimana sebuah hal yang tidak terduga terjadi. Saat Antonie sedang berbincang-bincang mengenai rencana penerjemahan cerita-cerita Alkitab ke dalam bahasa Toraja dengan seorang guru di Bori”, tiba-tiba pria asal Belanda tersebut diserang oleh seseorang yang telah melumuri diri dengan arang. Sebuah tombak pun tertancap di jantungnya. Dalam keadaan tubuh penuh darah, Anton minta di tinggalkan sendiri untuk berdoa. Dalam keadaan berdoa inilah Antonie meninggal dunia. Dia telah memelihara imannya. Sampai kini, Pendeta Antonie Aris van de Loosdrech dikenang sebagai Martir untuk Tana Toraja. Tana Toraja, sebagaimana yang kita ketahui, merupakan salah satu daerah di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Kristen.

Bagian terpenting di dalam surat Yudas ada pada perikop bacaan kita yang memberikan nasihat sehubungan dengan maksud penulisannya, yaitu agar umat percaya membangun iman yang teguh di atas dasar yang benar. Yudas mengajak umat Tuhan untuk mengingat kembali mengenai pokok-pokok kepercayaan yang sudah diajarkan oleh rasul-rasul. Selain itu, umat Tuhan juga dituntut untuk memberikan kesaksian kehidupan yang suci, dengan penjabaran empat nasihat khusus yang berkaitan dengan membangun diri di atas dasar iman yang paling suci, dengan berdoa dalam Roh Kudus, dengan memelihara diri dalam kasih Allah, dan dengan menantikan rahmat Tuhan Yesus Kristus untuk hidup yang kekal. Dengan demikian, iman gereja tidak hanya terbina dan terpelihara, tetapi juga terus dibangun di atas dasar yang benar, yakni firman Tuhan.

Kita dituntut proaktif di dalam mengatasi setiap tantangan, baik dari luar maupun dari dalam. Di dalam menyikapi tantangan ini kita akan berperanan sejajar dengan pahlawan iman, bila kita mampu mengatasi masalah-masalah yang ada dengan cara yang dikehendaki Allah. Kondisi gereja yang ada di ujung tanduk penyesatan tidak seharusnya membuat kita mengalah dan berserah dalam kelemahan iman. Kita mungkin tidak dapat menghalangi hadirnya sang penyesat, tetapi kita dapat menjadikan kondisi ini sebagai batu loncatan untuk menumbuhkan iman agar semakin kuat di dalam Dia. (RCM) Refleksi : Peliharalah iman di atas dasar yang benar yaitu firman Allah.

MESIAS YANG DINANTIKAN

 “Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias” (Lukas 3:15)

Ketika dalam suatu negara atau kelompok masyarakat terjadi krisis atau konflik yang berkepanjangan biasanya orang merindukan seorang sosok yang bisa mengayomi dan mempersatukan mereka. Demikian juga dalam keadaan tertindas karena penjajahan, orang sungguh merindukan seorang pemimpin yang dapat membebaskan mereka dari penjajahan. Sama halnya dengan bangsa Israel, ketika mereka berada dalam krisis dan penderitaan, mereka merindukan seorang tokoh yang mereka sebut sebagai Mesias yang akan memimpin dan membebaskan mereka dari penderitaan.

Penantian akan datangnya Mesias untuk menyelamatkan orang Israel telah lama ditunggu tunggu, meskipun sikap dalam penantian akan Mesias tersebut motifnya lebih dominan pada dimensi politisnya daripada aspek teologisnya. Sikap tersebut secara manusiawi dapat dipahami karena melihat situasi dan kondisi umat Yahudi pada waktu itu berada dalam situasi yang sangat sulit, baik dari segi sosial ekonomi, politik, budaya, agama dan sebagainya. Oleh sebab itu kehadiran dan keberadaan Yohannes pembaptis yang vocal dalam menyuarakan “pertobatan” diyakini sebagai representasi Mesias yang mereka nantikan selama ini.

Seruan pertobatan yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis telah menyatakan bahwa seruan itu adalah titik antara zaman lama dengan zaman yang baru. Yohanes telah memalu genderang dan tiupan trompet untuk mensiarkan bahwa tibalah waktunya Mesias yang sudah dinantikan itu datang. Orang-orang berfikir kalau-kalau dialah Mesias yang lama dinantikan itu, tetapi Yohanes mengatakan “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak”.

Hidup manusia di dunia ini tidak bisa terlepas dari masa penantian karena manusia senantiasa berelasi dengan waktu. Di dalam masa penantian, sering kali kita merasa demikian berat dan susah untuk dilewati. Namun ketika kita mengetahui di ujung penantian itu terdapat sebuah “harapan,” maka penantian itu sekalipun berat tetap mampu kita jalani. Masihkah kita siaga dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya? Marilah kita makin hidup saleh dan benar oleh iman dan melakukan Firman yang telah kita dengar dan baca serta mencontoh iman teguh dari para pemimpin terdahulu dalam masa penantian. (RCM)

Refleksi : Pertobatan adalah syarat menantikan kedatangan Mesias

PEMIMPIN YANG MENGABDI PADA KEBENARAN

“Tetapi kepada para tua-tua itu ia berkata: ”Tinggallah di sini menunggu kami, sampai kami kembali lagi kepadamu; bukankah Harun dan Hur ada bersama-sama dengan kamu, siapa yang ada perkaranya datanglah kepada mereka.” (Keluaran 24:14)

Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) di kenal sebagai pemimpin yang penuh pengabdian dan pengorbanan dalam memperjuangkan kejujuran serta kebenaran. Dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk kepentingan masyarakat yang di pimpinnya. Dia tidak takut terhadap apapun juga selama berjalan dalam kebenaran. Bahkan ketika kehidupannya terancam dia tetap tenang karena yakin Allah berada di pihaknya dan senantiasa menyertainya. Kesetiaan pada tugas dan penggilannya sebagai abdi masyarakat dilaksanakan dengan sebaik mungkin.

Musa adalah abdii Allah yang menjadi perantara antara Allah dan umat Israel. Musa memimpin berbagai upacara perjanjan antara Allah dan umat Israel. Upacara perjanjian yang diadakan antara Allah dengan Israel adalah wujud formal yang memeteraikan perjanjian yang telah disetujui oleh kedua belah pihak. Allah sebagai pihak pertama, menawarkan penyertaan dan jaminan-Nya atas Israel. Israel di pihak kedua berjanji taat kepada segenap firman-Nya.

Upacara itu dimulai dengan persembahan kurban. Darah kurban yang separuh disiramkan ke mezbah (mewakili Allah) sebagai pernyataan kesetiaan Allah kepada Israel. Sisa darah kurban itu disiramkan kepada umat Israel setelah mereka menyatakan komitmen mereka. Sebagai wujud persekutuan itu, Allah berkenan menampakkan diri kepada umat Israel dan mereka (diwakili para pemimpinnya) menikmati persekutuan dengan-Nya melalui makan dan minum bersama-sama. Lalu, Musa mendapatkan tugas khusus naik ke gunung Sinai untuk menerima loh batu berisikan Sepuluh Hukum Allah dan berbagai peraturan rinci mengenai pendirian kemah suci. Musa akan kembali lagi kepada umat Israel untuk menyampaikan kepada umat Israel yang difirmankan oleh Allah kepadanya.

Allah di dalam Kristus menjanjikan penyertaan dan pemeliharaan-Nya kepada kita yang percaya. Sebaliknya kita pun dipanggil untuk mengikrarkan kesetiaan dan ketaatan kepada-Nya. Ketika kita dipercaya menjadi seorang pemimpin bagi banyak orang, tetaplah setia kepada kebenaran karena Allah tetap setia kepada kita. Beranilah melangkah dalam menegakkan kebenaran karena kita tidak sendiri. Allah akan memampukan kita dan juga memberikan rekan-rekan kerja yang mendukung kita. Nyatakan komitmen kita untuk lebih setia dan mengasihi Dia yang sudah lebih dahulu setia dan mengasihi kita.(RCM) Refleksi : Pemimpin yang benar berjalan bersama Allah.

PANDANGLAH IA

 “Dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau disana,” (1 Raja-raja 17: 4)

Dalam menjalani panggilan hidup kita sebagai anak-anak Tuhan di dunia ini seringkali mengalami putus asa ketika pergumulan berat melanda. Pada tahap ini, kekhawatiran dan ketakutan menjadi masalah utama akhirnya kita melihat pergumulan lebih besar daripada kuasa dan pemeliharaan Tuhan.

Sejak awal melayani, Elia menghadapi situasi yang tidak mudah. Raja Ahab sekeluarga menjadi teladan buruk bagi Israel dengan menjadi pemimpin yang berpaling dari Tuhan. Rakyat Israel pun turut serta dalam kejahatannya. Elia sang nabi ditugaskan untuk menyerukan pertobatan kepada Israel walaupun nyawa menjadi taruhannya. Namun, Tuhan yang memanggil, Tuhan pula yang memelihara. Dalam berbagai situasi yang sulit justru Tuhan hadir dengan cara yang tak disangka-sangka. Sungai Kerit, tempat persembunyian Elia yang dipilih oleh Tuhan, menjadi tempat yang rutin didatangi burung gagak untuk memberi Elia makan tiap pagi dan petang. Pemeliharaan Tuhan dengan cara khusus tersebut meneguhkan iman Elia bahwa dalam situasi sesulit apapun, Tuhan tetap beserta.

Tentu saja kisah pemeliharaan Tuhan ini tidak berhenti dalam hidup Elia, tetapi berlanjut sampai saat ini dalam kehidupan kita masing-masing. Kesulitan yang kita hadapi ketika kita menaati firman Tuhan akan membuat kita semakin mengalami kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Oleh karena itu kita tidak bisa lepas dariNya, pandanglah Tuhan dan berharaplah senantiasa pada pertolonganNya. (CSB) Refleksi: Penyertaan Tuhan dalam pergumulan yang berat akan menghasilkan kisah hidup yang dahsyat.