IMAN YANG SEDERHANA

 Tetapi jawab perwira itu kepadaNya, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan didalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh”. (Matius 8: 8)

Ada seorang anak kecil yang tampak kebingungan mencari bola kecilnya. Setelah beberapa waktu mondar-mandir tanpa hasil, anak kecil tersebut secara spontan berdoa: “Tuhan, tolong temukan bolaku”. Bola itu tadi menggelinding menuruni jalan di depan rumah. Setiap orang di rumah telah berusaha ikut mencarinya, tetapi tidak ada yang menemukannya. Keesokan harinya, anak itu melompat-lompat kegirangan sambal bersorak: “Mama, Yesus telah membawa kembali bolaku!”. Sang ibu menengok dari jendela dan melihat bola itu tergeletak di atas rumput. Bagaimana mungkin bola itu bisa ada di sana? Tidak ada yang tahu. Tetapi, anak kecil itu merasa Yesus tidak terlalu sibuk untuk mendengarkan permintaannya.

Perwira dalam Matius 8: 5-13 mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan Sang penguasa alam semesta, dan ia menyadari bahwa dirinya hanyalah bawahan yang harus taat dan percaya pada apa yang dikatakan tuannya. Ketika Yesus mengatakan bahwa Dia akan datang ke rumahnya dan menyembuhkan hambanya yang sakit itu, perwira itu buruburu berkata, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (ayat 8). Yesus memuji iman perwira ini sebagai iman yang besar. Iman yang sederhana, namun sangat bermakna. Pengakuan tentang siapakah Yesus Kristus dalam hidup kita dan kepercayaan kita pada apa saja yang sanggup dilakukanNya, itulah iman.

Iman yang sederhana ini akan mempengaruhi sikap dan keyakinan kita kepadaNya bahwa apa saja yang dia katakan pasti terlaksana. Dengan iman, kita tidak akan pernah lepas dariNya. (CSB)

Refleksi: Iman mengarahkan kita pada kemahakuasan Tuhan, bukan pada ketidakmampuan diri.

KEMURAHANNYA YANG BERLIMPAH

 “…yang dilimpahkanNya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.” (Efesus 1: 8)

Tidak semua orang mau/ rela memberi. Apalagi jika tahu pihak yang diberi adalah orang yang malas bekerja, sudah kaya atau memanfaatkan pemberian sebagai sesuatu yang menguntungkan dirinya. Itu dia sebabnya orang enggan untuk memberi, apalagi jika berfikir bahwa orang yang diberi akan menyalahgunakan pemberian. Tidak demikian dengan Allah. Di dalam Kristus, Allah “telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga” (ayat 3). Sampai disini kita mungkin beranggapan sudah sewajarnya Allah memberkati orang beriman. Namun, saat mencermati konteksnya, kita akan tercengang. Ternyata, Allah telah memilih kita sebelum dunia ini dijadikan (ayat 4). Kita dibuat semakin takjub ketika menyadari bahwa Allah menetapkan pilihan itu “dalam segala hikmat dan pengertian” (ayat 8). Dia telah mengenal kita lengkap dengan segala dosa, pelanggaran, dan kebejatan yang kita lakukan. Dalam AnugerahNya, Ia memilih untuk “menentukan kita melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya” (ayat 5) sekalipun potensi kita menyalahgunakan kemurahanNya tidak membatalkan ketetapanNya. Sekarang pilihan ada di tangan kita. Di hadapan kemurahanNya yang berlimpahlimpah itu, bagaimana kita akan hidup? Apakah kita hidup secara sembrono dan sesuka hati? Ataukah kita, dengan memberi diri pada pimpinan Roh Kudus, belajar hidup sebagai anak Allah, hidup “untuk memuji kemuliaanNya” (ayat 14). Karena bagaimanapun juga kita tidak pernah lepas dari Allah Bapa kita. (CSB) Refleksi: Orang hanya akan menyalahgunakan kemerdekaaanya jika ia tidak menyadari betapa besar ia dikasihi.

MANUSIA DAN IMAN

 Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh anugerahNya telah dibenarkan dengan cuma-cuma melalui penebusan dalam Kristus Yesus. (Roma 3: 23-24)

Dalam penerimaan karyawan, setiap perusahaan ingin menerima calon karyawan terbaik. Calon harus memenuhi semua standar yang disyaratkan atau melebihi standar tersebut. Syarat yang ditetapkan terkadang seperti syarat pada perusahaan lain pada umumnya, dengan tambahan dari syarat yang khusus. Hal tersebut dilakukan dengan harapan perusahaan menerima karyawan yang tepat sesuai dengan keinginan/standar perusahaan.

Sebagai manusia, kita semua terlahir sebagai makhluk yang berdosa. Oleh karena itu kita tidak pantas dan tidak layak dihadapan Tuhan. Hal tersebut merupakan kebenaran yang tidak dapat disangkal. Namun terkadang kita berupaya membandingkan kesalehan kita dengan orang lain. Kita merasa lebih suci dan lebih layak dihadapan Tuhan. Padahal bila dilihat dan dibandingkan dengan kekudusan Tuhan, diri kita tidak ubahnya seperti kain kotor yang tidak layak dan tidak berkenan dihadapan Tuhan.

Dosa yang dimaksud bukan hanya sekedar banyaknya pelanggaran yang kita lakukan, juga bukan hanya berupa tindakan, tapi dosa adalah tabiat kita. Manusia dilahirkan dalam dosa, dan kita bertumbuh dengan kecenderungan berdosa. Tetapi dalam anugerahNya, Allah bertindak untuk mengatasi dosa. Kristus yang tanpa dosa dibuatNya menanggung seluruh dosa kita agar kebenaranNya dapat dikenakan kepada kita, agar kita dilayakkan menjadi anakNya melalui iman kepada Tuhan. Iman membuat kita tidak dapat lepas dari kehadiran Tuhan. Melalui karya penebusan, kita menerima anugerah yang memperbaharui yakni menjadi anak Allah dan layak untuk melayani Dia. (CSB) Refleksi: Kelayakan kita tidak bersumber dari diri sendiri, melainkan dari kebenaran Kristus yang dianugerahkan kepada kita..

YABES, MEMINTA PERTOLONGAN TUHAN

Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya; nama Yabes itu diberi ibunya kepadanya sebab katanya: “Aku telah melahirkan dia dengan kesakitan.” Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya: “Kiranya Engkau memberkati aku berlimpahlimpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!” Dan Allah mengabulkan permintaannya itu. (1 Tawarikh 4:9-10)

Di suatu daerah, ada nama anak yang diberikan oleh orang tuanya, agak aneh, seperti Banjir karena saat melahirkan daerahnya dilanda banjir, ada juga namanya Tikar krn saat lahir melihat tikar. Dalam adat Yahudi, nama diberikan kepada anak biasanya memiliki suatu arti, sama seperti Yabes, yang artinya kesakitan atau kepedihan atau penderitaan. Saat melahirkan dia, ibunya mengalami kesakitan. Apa artinya sebuah nama? Dalam beberapa kasus, Tuhan mengganti nama seseorang. Ia beberapa kali mengganti nama seseorang karena dianggap memiliki makna yang kurang baik. Penggantian nama itu bertujuan agar seseorang hidupnya sesuai dengan makna yang baru. Contohnya seperti nama Abram yang diubah menjadi Abraham, Simon menjadi Petrus, Saulus menjadi Paulus. Namun dalam kasus Yabes, Tuhan tidak mengganti namanya.

Yabes anak Israel, dibesarkan oleh orangtuanya. Ia mendengarkan cerita dari orang tuanya bagaimana kaum Israel dipimpin oleh Allah, bagaimana Allah membelah lautan dan bagaimana Allah memelihara mereka di padang gurun dengan menurunkan manna dan mengirimkan burung puyuh selama perjalanan itu. Pengalaman waktu kecil ini yang ia dengar dan rasakan, sehingga menumbuhkan pengenalan akan Allah yang hidup, yang berkuasa memberkatinya. Paling tidak ada dua permintaan kepada Allah yang dapat dipelajari dari Yabes. Pertama, dia meminta berkat Allah. Ia tidak menyerah kepada keadaan, dia tidak menyalahkan ibunya memberikan nama Yabes, tapi dia meminta berkat Allah, karena hanya Allah yang sanggup memberkatinya. “Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku.” Bukan karena kekuatannya, kepintarannya, namun karena anugerahNya saja. Kedua, dia meminta penyertaan dan perlindungan Tuhan. Berkat, kelimpahan hanya bonus, yang tidak berarti bila tanpa Allah. Inilah kerinduannya, bahwa Allah menyertainya dan melindunginya sepanjang hidupnya.

Dalam keadaan sulit dan terdesak ada kecenderungan kita seringkali mempersalahkan pihak lain yang seringkali diungkapkan “mencari kambing hitam”. Namun belajar dari Yabes bahwa bersama Allah ada kedamaian, ada sukacita, dia meminta berkat, perlindungan, dan penyertaan Allah. (TMZ) Refleksi: Mintalah pertolongan kepada Tuhan dan berpegang kepadaNya.

PAULUS, BERMEGAH KARNA SALIB

 “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” (Galatia 6:14-16 )

Arti salib adalah kematian. Dari abad ke-6 S.M sampai dengan abad ke-4 setelah masehi, salib adalah metode eksekusi yang mengakibatkan kematian dengan cara kejam dan sangat menyakitkan. Ketika disalib, korban itu diikat atau dipaku ke kayu salib dan dibiarkan tergantung disana sampai mati. Kematian tersebut adalah proses yang panjang dan membuat korbannya sangat menderita. Namun, karena Kristus dan kematian-Nya di atas salib, maka makna salib pada hari ini jauh berbeda.

Dalam kehidupan ini kita pun akan mengalami penderitaan dan kesukaan. Kita senangnya pilih kesukaan, namun kita harus melewati penderitaan, sama seperti Kristus mengalami penderitaan sampai dikayu salib. Biarlah kehendakMu yang jadi, agar Allah dimuliakan. Tuhan Yesus mau pikul salib.

Salib bagi Paulus sebuah kemenangan atas pengaruh dunia (ay 14). Pengaruh dunia sangat besar. Dunia bisa berarti kebutuhan hidup. Kita perlu waspada terhadap kebutuhan ini. Minta pimpinan pada Tuhan, hari demi hari, karena terkadang orang menyimpang dan keluar dari rel iman. Perlu kekuatan Tuhan, bukan kekuatan sendiri untuk menang. Dunia bisa berarti kebutuhan keamanan/ perlindungan. Paulus beberapa kali mengalami aniaya, terdampar, dipenjara, namun dia mengarahkan perlindungannya kepada Tuhan. Dunia bisa berarti keinginan. Waspada, terhadap keinginan agar tidak terjerumus. Minta pimpinan Tuhan, biarlah kehendakNya yang jadi. Asal keinginan kita sesuai Firman Tuhan, nantikan perkara / mujizat besar dari Allah.

Salib menjadi pendorong untuk hidup menjadi ciptaan baru (ay 15). Menjadi ciptaan baru, merupakan suatu proses, bukan suatu yang instan. Proses ini yang mengubah karakter kita untuk hidup sebagai ciptaan baru. Saat bertemu Tuhan, Saulus diubah namanya menjadi Paulus, namun bukan itu yang terpenting. Hatinya yang diubahkan oleh Tuhan menjadi ciptaan baru. Yang tadinya benci dan jahat terhadap umat Tuhan, sekarang mencintai Tuhan bahkan kepada jemaatnya. Menjadi ciptaan baru merupakan sesuatu yang berarti/bernilai, lebih dari pada status sosial. Ini yang menjadi kebanggaannya, karena salib semuanya berarti. (TMZ) Refleksi: Kita dijadikan ciptaan baru. Hiduplah sesuai status Anda yang baru, bersama Kristus!

AYUB, TETAP SETIA

 “ Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:20-21)

Penderitaan ibarat sebuah koin dengan dua sisi : “Satu sisi, penderitaan dapat membuat kita tetap setia, namun sisi lainnya, penderitaan dapat membuat kita mundur bahkan kehilangan iman” Mari belajar dari Ayub yang mengalami penderitaan bertubi-tubi, walau peristiwa ini sangat ekstrim dan sangat sulit untuk dipahami. Saat malapetaka menimpa Ayub dan semua harta bendanya habis, Ayub mencoba untuk mengerti maksud Tuhan. Ketika seluruh anaknya pun tertimpa bencana angin ribut, Ayub mencoba untuk bertahan. Pada saat, ia sendiri ditimpa penyakit kulit yang menjijikan, Ia berusaha untuk tidak kehilangan pengharapan. Berita malapetaka yang datang bersamaan sepertinya sebuah tragedi bagi Ayub. Namun Ayub masih memiliki rasa hormat yang luar biasa akan keberadaan Tuhan. “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

Ayub sadar akan Allah yang transenden. Allah yang Mahabesar, Mahakuasa, Mahamulia, dan Mahakekal. Tidak mungkin manusia dapat menjangkau Allah hanya dengan pemikirannya, sebab Allah yang transenden itu sangat jauh dan melampaui daya pikir manusia. Selain itu Ayub mengalami benar, Allah yang imanen. Allah yang dekat. Ia telah berkenan menyatakan diri-Nya dan mendekatkan diri-Nya kepada manusia. Pemahaman Ayub, bahwa Allah yang memiliki semuanya, semua pemberianNya, dan hak Allah untuk mengambilnya setiap saat. Inilah kunci mengapa Ayub tetap setia, ia paham betul bahwa Allah yang berdaulat dalam hidupnya. Ayub hidup saleh karena karena hatinya sungguh-sungguh terpaut kepada Allah. Kalimat yang keluar dari mulut Ayub, bukanlah kalimat biasa. Kalimat agung yang hanya dapat diucapkan oleh manusia yang matang dan sungguh-sungguh mengenal Allah. Ia mengerti apa artinya hidup sebagai manusia, terlahir tanpa apa-apa, begitu saat kembali.

Seperti Ayub, dalam perjalanan hidup kita pun tidak luput dari tantangan dan penderitaan. Karena itu perspektif yang tepat dalam melihat tantangan perlu kita bangun supaya kita kuat bahkan mampu melihat sisi positif dari setiap pergumulan yang ada. (TMZ) Refleksi: Tetap setia kepada Allah. Kita mengerti bahwa rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera, dan hari yang penuh harapan. (Yer 29:11)

YESUS, FOKUS KEPADA TUJUAN

 Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12 ; Yohanes 10:10)

Bila kita ingin berangkat dari Bandung ke Jakarta untuk suatu kepentingan, biasanya melewati jalan tol, supaya cepat. Namun saat di tengah perjalanan ternyata jalan tol tidak bisa dilewati karena mengalami kerusakan. Semua pengendara diharuskan keluar melalui pintu tol terdekat. Apa yang kita lakukan? Meneruskan perjalanan ke Jakarta lewat jalan lain, atau kembali pulang ke Bandung? tentu kita fokus kepada tujuan.

Yesus tahu betul tujuannya datang ke dunia, bahkan Ia nyatakan dengan perkataan dan tindakannya, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Pada pasal berikutnya Ia menguatkan kembali, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan dikuasai oleh maut, sehingga berada di dalam kegelapan. Tidak ada seorang pun yang sanggup menyelamatkan dirinya dari kematian kekal, dan hukuman akibat dosa kecuali melalui Yesus. Dia tahu visinya, untuk menyelamatkan manusia. Dia tidak menyerah, dia tidak rela manusia berdosa tidak ada penyelamatnya. Dia mau menjalani penyalibannya walau berat, karena hanya Dia yang bisa membayar dosa manusia. Dia ingin setiap orang mempunyai terang hidup dan bukan hanya itu, mempunyai hidup dalam segala kelimpahan.

Pergumulan Yesus untuk menjalankan misinya, tentulah tidak mudah, tentulah penuh perjuangan. Seperti dalam Matius 26:39, 42 (TB) Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” Dia datang kepada Bapa, yang mengutusnya, menyampaikan pergumulanNya. Namun Dia tetap fokus kepada tujuan semula, menjalankan misi BapaNya “…jadilah kehendak-Mu!”. Kita juga diminta selama hidup ini fokus memenuhi tugas-panggilanNya untuk menyatakan kabar kebaikan Tuhan bagi semua orang di manapun kita berada. (TMZ) Refleksi: Fokus kepada panggilan hidup yang diberikan Allah. Kerjakan itu seperti untuk Tuhan, walau rintangan menghalangi jalan kita. Minta hikmat Tuhan untuk mengatasinya.

BARTIMEUS, PANTANG MENYERAH

 “Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!” (Markus 10:46-48)

Statistik menunjukkan, di dunia 800.000 orang mati karena bunuh diri. Di Indonesia sekitar 10.000 orang bunuh diri setiap tahunnya. Jadi dalam setiap 1 jam, terjadi 1 orang bunuh diri. Mereka menyerah terhadap tantangan hidup, sehingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Sungguh sangat menyedihkan! Belajar dari seorang yang biasa saja, bahkan dipandang sebelah mata, yaitu Bartimeus. Bartimeus seorang yang luar biasa di mata Tuhan Yesus. Walau secara fisik dia tidak dapat melihat, namun mata hatinya dapat melihat kepada Tuhan Yesus. Paling tidak ada dua hal yang dapat kita pelajari.

Pertama : Dapat mengatasi tantangan internal. Dia sadar, matanya tidak bisa melihat, bahkan kerinduannya suatu kali dia sembuh, apalagi dia mendengar kabar bahwa ada seseorang yang dapat menyembuhkan segala penyakit, termasuk kebutaan, yaitu Yesus. Dia buta, dia miskin sehingga harus mengemis setiap hari. Dia terbelakang karena tidak dapat menikmati pendidikan maupun pekerjaan yang layak. Dia terasing dan tidak punya teman, kecuali keluarga yang memapah dia ke jalan tempat mengemis. Dia lemah, karena tidak mendapat makanan yang bergizi. Walau secara fisik, dia buta, miskin, terbelakang, terasing, lemah, namun dia masih memiliki telinga dengan pendengaran yang tajam sehingga mengetahui kedatangan Yesus, Anak Daud. Dalam keyakinan ia berseru bahkan berteriak untuk meminta belas kasihan Yesus; dengan kakinya ia berjalan mendekati Yesus dan menerima panggilanNya.

Kedua : Dapat mengatasi tantangan eksternal. Walau banyak orang menegornya supaya ia diam, namun semakin keras ia berseru. Sepertinya tegoran orang-orang, ia tidak perdulikan. Ia berseru kepada Yesus, karena itulah satu-satunya harapannya. Dia pantang menyerah, walau tegoran untuk diam datang dari lingkungan sekitarnya. Karena itu memperjuangkan harapan adalah hal terpenting dalam kehidupan kita, dan dasar pengharapan kita adalam iman kepada Yesus Kristus. (TMZ) Refleksi: Pantang menyerah walau lingkungan tidak mendukung. Masih ada Allah yang

MERDEKA DI DALAM YESUS

 tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” (Yohanes 3:21)

Seorang rekan iseng bertanya, “Mengapa sih setan munculnya malam?” Saya tersenyum sejenak mendengar pertanyaannya tersebut. Ya, setan yang menyimbolkan kekuatan jahat yang mengganggu manusia lebih banyak yang munculnya di malam hari. Dan bersama dengan para setan, banyak kejahatan juga dilakukan oleh manusia di malam hari, misalnya maling, perampok, begal dan lain sebagainya. Mungkin saja kejahatan di malam hari tidak terlihat, sebab jika kejahatan dilakukan di siang hari, resiko tertangkapnya akan menjadi lebih besar. Kata gelap sendiri juga banyak dihubungkan dengan istilah-istilah negatif seperti gelap mata, hubungan gelap, uang gelap, dan masih banyak istilah lainnya. Namun sebaliknya ayat di atas menjelaskan sebuah kontras dari ilustrasi di atas. Rasul Yohanes menuliskan, “…barang siapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang…” Orang yang melakukan tindakan yang benar memang tidak memerlukan ruang gelap untuk menutupi kebenarannya.

Ia bebas melakukan di mana saja tanpa harus takut ketahuan orang. Tentu saja ini menjadi sebuah pengkondisian yang sangat menarik dalam kehidupan manusia, bahwa kebenaran yang dilakukan oleh manusia memberikan ruang yang lebih terbuka, tidak ada hal tersembunyi, dan tentu saja perbuatan yang sedemikian dapat mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Mungkin saja jika seluruh lingkungannya jahat, maka orang akan melakukan kebenaran secara sembunyi-sembunyi. Namun pada umumnya oang yang melakukan yang benar hidup dalam terang. Dalam kehidupan ini mungkin perbuatan kita tidak selalu benar, sehingga tidak jarang kita harus menutupinya, dengan berjalan di dalam kegelapan agar orang lain tidak melihat kejahatan apa yang kita lakukan. Namun sebaliknya ketika kita melakukan yang benar, kita tidak perlu menyembunyikannya, sebab kebenaran itu sendiri menjadi terang bagi jalan kehidupan kita. Sehingga dengan demikian sangat baik jika dalam kehidupan ini kita lebih memperluas tindakan atau perbuatan kebenaran, sebab dengan demikian jalan kehidupan kita menjadi terang benderang. Sebaliknya jika kita banyak melakukan banyak kejahatan, dalam ayat perikop ini menjelaskan bahwa tinggal dalam kegelapan itu sudah menjadi hukumannya, sebuah kehidupan yang penuh dengan kepalsuan dan kejahatan. Sebuah pilihan hidup yang salah untuk dijalani. (AA) Refleksi: Janganlah melakukan kejahatan sebab dengan demikian kita menjauh dari terang dan akan tinggal dalam kegelapan yang memberikan pilihan-pilihan hidup yang makin memburuk.

MERDEKA DI DALAM YESUS

 ”Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” (Galatia 5:1)

Ajaran animisme memiliki satu keyakinan yang menarik. Misalnya ketika para penganutnya tidak melakukan ritual terhadap roh-roh misalnya pada sebuah pohon besar di sekitar rumah dengan cara memberikan sesajen, maka orang itu bisa celaka akibat kelalaiannya tersebut. Ternyata pola pikir ini tidak hanya ada dalam ajaran animisme saja, melainkan bisa muncul dalam praktek hidup kekristenan juga dengan cara yang berbeda. Misalnya ada yang Kristen yang beranggapan bahwa jika mereka tidak pergi ke gereja di hari Minggu, maka mereka akan celaka. Atau jika memberikan persembahan terlalu sedikit akan menerima kutuk usahanya menjadi tidak lancar. Sesuatu bisa menjadi benar jika diyakini sedemikian. Namun sebenarnya tidaklah demikian apa yang menjadi praktek hidup kekristenan yang sebenarnya. Ayat di atas menjelaskan sebuah konsepsi keimanan Kristen yang menarik dari penjelasan Rasul Paulus. Dikatakan dengan sangat jelas bahwa kita sungguh-sungguh merdeka, sebab Kristuslah yang memerdakan kita. Ini adalah sebuah pernyataan iman yang menjelaskan bahwa di dalam Yesus tidak ada lagi praktek hidup yang tidak tepat seperti yang dijelaskan dalam ilustrasi di atas. Tidak tepat jika dijelaskan bahwa orang yang tidak melakukan formasi spiritualitas akan mendapat hukuman dari Tuhan, sehingga mereka menjadi takut dan melakukan hal-hal yang dianjurkan.

Jika demikian maka kekristenan tidak berangkat dari kemerdekaan di dalam Kristus melainkan masih mengenakan kuk perhambaan. Jadi menjalankan tanggung jawab keimanan bukanlah karena supaya bebas dari hukuman. Orang percaya melakukan hal-hal tersebut sebab memang berdampak baik bagi kehidupan kerohaniannya. Benar. Tuhan tidak akan menghukum orang yang tidak pergi ke gereja, melainkan dengan sendirinya mereka kehilangan persekutuan dengan saudara-saudara seiman lainnya, sehingga dengan demikian ke gereja menjadi bagian penting bagi kehidupan rohani orang percaya. Tuhan juga tidak akan menghukum orang yang tidak membaca Alkitab, melainkan dengan sendirinya kehilangan pegangan hidup dan pengenalan akan Tuhan. Sehingga dengan demikian bisa dipahami bahwa kekristenan yang kita miliki di dalam Yesus tidak lagi berbicara tentang hukuman, melainkan dorongan kesadaran untuk mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati. (AA) Refleksi: Jangan takut pada hukuman Tuhan, takutlah ketika kita tidak lagi mengenal siapa Tuhan bagi kehidupan ini.