STEFANUS : PERGI DALAM DAMAI (Kisah Para Rasul 7:54-60)

“Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: “Ya Tuhan Yesus, terimalah
rohku.” (Kisah Para Rasul 7:59)

RIP singkatan dari Rest In Peace, yang dapat diterjemahkan pergi dalam damai. RIP ini biasanya ditulis di batu nisan kuburan. Pertanyaannya adalah apakah benar orang yang telah meninggal itu pergi dengan damai atau pergi dengan meninggalkan banyak ganjalan?

Kisah Para Rasul 7:57-61 menceriterakan tentang peristiwa bagaimana Stefanus dieksekusi mati oleh masa dengan cara yang tidak manusiawi, yaitu dilempari dengan batu sampai mati, dikenal sebagai hukum rajam. Stefanus artinya mahkota. Ia adalah satu dari tujuh orang yang dipilih oleh para rasul sesudah kebangkitan Yesus untuk mengawasi bantuan kepada orang miskin (pelayanan diakonia) supaya para rasul berkonsentrasi memberitakan firman. Stefanus sangat menonjol iman, kasih, kuasa rohani, dan hikmatnya. Ia menggunakan waktu melebihi yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan khusus yang ditugaskan kepadanya,. Dia banyak mengerjakan mujizat dan giat mengabarkan Injil. Kisah Para Rasul 7:1-53 adalah bukti kuasa dan hikmat seorang Stefanus yang dengan kuasa dan hikmat Allah ia meringkas sejarah umat Israel sampai pada kematian Yesus disalibkan, kebangkitan dan kenaikanNya ke sorga, dalam bentuk khotbah di depan Imam Besar agama Yahudi dan di depan anggota majelis Mahkamah Agama. Isi khotbah Stefanus tidak bisa diterima. Mereka
marah, menyeretnya, dan merajamnya.

Apa pesan dari cerita ini? Pertama, cara orang meninggal tidak menentukan apakah orang itu pergi dengan damai atau pergi dengan penuh ganjalan Cara kematian Stefanus yang dirajam sampai mati, mungkin kita berpikir kematiannya sangat tragis dan memilukan, sehingga ia tidak pergi dengan damai. Justru sebaliknya, cerita ini menjelaskan bahwa Stefanus pergi dengan damai; hal ini terlihat dari sikap hati dan imannya. Imannya, dengan ia menyerahkan seluruh hidupnya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan pemilik hidupnya. “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sikap hatinya adalah ia berdoa dengan suara nyaring: “ Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka.” Ia bersedia mengampuni mereka yang membunuhnya. Sikap hati dan imannya inilah yang membuat ia pergi dengan damai. Kedua, Stefanus meneladani sikap Yesus ketika menghadapi pencobaan dan penganiayaan yang dilakukan oleh para musuh. Sikap berserah kepada kedaulatan Allah, yang berdaulat memberikan kehidupan dan mengambil kehidupan itu. Ketiga, ia percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit , maka ia percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. (RS)
Refleksi:
Marilah kita meneladani iman, kasih, kerja keras, hikmat dari seorang Stefanus sehingga kita dapat dipakai oleh Allah untuk menjadi berkat bagi lingkungan kita.

YUSUF ARIMATEA : SUNYI SEPI (Lukas 23:50-56A)

“Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang
baik lagi benar. Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. Ia berasal
dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah. ”
(Lukas 23:50-51)

Bermacam-macam bentuk ekspresi dapat diungkapkan kepada seseorang yang dicintai dan disayangi. Apakah orang yang dicintai itu sedang merayakan hari ulang tahunnya, atau orang yang dicintai itu telah pergi untuk selamanya. Yusuf dari Arimatea telah mengungkapkan rasa kagum, rasa hormat, rasa cinta dan sayang kepada Yesus yang telah mati dengan cara yang unik dan mengagumkan. Siapakah Yusuf dari Arimatea itu?

Yusuf dari Arimatea adalah seorang kaya pada zaman itu; ia adalah anggota Majelis Besar atau Mahkamah Agama. Ia dikenal sebagai orang yang baik dan benar.. Ia tidak menyetujui keputusan Majelis Besar menjatuhkan hukuman mati atas diri Yesus Kristus. Secara diam-diam ia pergi menghadap kepada Pilatus dan meminta mayat Yesus untuk diturunkan dan dikuburkan di kuburan miliknya. Yusuf menurunkan mayat Yesus, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, dimana belum pernah dibaringkan mayat. Selanjutnya tidak ada ceritera Yusuf dari Arimatea.

Ada beberapa keunikan, kelebihan dan kekurangan dari seorang Yusuf dari Arimatea. Pertama, Yusuf adalah pribadi yang rendah hati. Kerendahan hatinya tampak melalui sikap dan tindakannya.Misalnya, menjelang malam ia pergi menghadap kepada Pilatus untuk meminta mayat Yesus dikuburkan secara terhormat. Menjelang malam memiliki indikasi supaya apa yang ia lakukan tidak perlu diketahui oleh orang banyak. Kemudian, ia mengapani sendiri mayat Yesus dengan kain lenan dan membaringkannya
di dalam kuburan. Kedua, Yusuf dikenal sebagai orang yang baik dan benar dan yang menanti-nantikan Kerajaan Allah, itulah sebabnya ia memperlakukan mayat Yesus secara terhormat; ia tidak membiarkan mayat Yesus terus tergantung di kayu salib. Ia korbankan jabatan sebagai anggota Makamah Agama karena ia dapat dipecat dari jabatannya karena menurunkan dan mengurusi mayat Yesus. Hal inilah yang menjadi kelebihan dari seorang Yusuf.

Ketiga, Yusuf dari Arimatea menjadi murid Yesus secara pasif. Pasif berarti tidak secara aktif mengikuti kegiatan pelayanan Yesus. Ia menjadi murid Yesus secara diam-diam, mungkin karena faktor posisi dan jabatan yang ia miliki.Hal inilah yang barangkali menjadi kekurangan atau kelemahan dari seorang Yusuf. (RS)
Refleksi:
Setiap kita memiliki keunikan masing-masing ketika mengungkapkan rasa cinta, sayang dan rasa syukur kepada Tuhan Yesus

HANNA: PEMABUK ATAU PENDOA (I Samuel 1:8-20)

“Tetapi Hana menjawab: “Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat
bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum,
melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN.”
(1Samuel 1:15)

Doa sering dikenal sebagai nafas hidup orang percaya, namun demikian kenyataannya dalam kehidupan berjemaat bertolak belakang. Contoh, jemaat kurang tertarik dengan kegiatan persekutuan doa yang diselenggarakan oleh gereja. Kehadiran jemaat dalam persekutuan doa sangatlah minim, dibandingkan dengan kegiatan gereja lainnya. Kiranya renungan dibawah ini mengingatkan kita tentang pentingnya doa.

Hana dalam bahasa ibraninya khanna yang berarti ‘belas kasihan.’ Hana adalah salah seorang dari dua istri Elkana. Elkana, suaminya berasal dari keturunan Efraim, tinggal di Ramataim- Zofim. Penina istri kedua dari Elkana selalu ingin menyakiti hati Hana. Penina dengan sengaja menyakiti hati Hana supaya Hana menjadi marah, gusar dan menangis. Hal ini terjadi setiap kali keluarga Elkana pergi ke rumah Tuhan untuk beribadah dan mempersembahkan korban. Bagaimana Hana mengatasi rasa sakit dan kepedihan hati itu? Pada suatu kali ketika keluarga Elkana pergi beribadah di rumah Tuhan, Hana mengambil kesempatan untuk berdoa secara pribadi kepada Tuhan di dekat tiang pintu rumah Tuhan. Imam Eli memperhatikan doa Hana. Ia menyangka Hana mabuk oleh anggur. Ternyata dugaan imam Eli keliru. Hana berdoa kepada Tuhan, mencurahkan seluruh beban dan seluruh isi hatinya kepada Tuhan.

Pesan penting yang dapat kita pelajari dari ceritera Hana si pendoa adalah: Pertama, Hana menempatkan Tuhan sebagai sahabat sejatinya. Ia mencurahkan semua beban persoalan dan kepedihan hatinya hanya kepada Tuhan. Tidak ada yang disembunyikan oleh Hana. Kedua, Hana sangat percaya kepada Tuhan bahwa Dia tidak akan mempermalukan Hana,. Baginya, hanya Tuhan yang dapat mengangkat harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita di tengah-tengah keluarga. Satu tahun kemudian Hana mendapatkan anak laki-laki namanya Samuel. Ketiga, Hana konsisten dengan janjinya kepada Tuhan. Ia membawa Samuel kepada Imam Eli untuk dipersembahkan kepada Tuhan, menjadi pelayan rumah Tuhan. Sebab Hana berjanji kepada Tuhan: “Jika Tuhan mendengarkan doanya dan memberikan anak laki-laki, maka anak itu akan dipersembahkannya kepada Tuhan.” (RS)
Refleksi:
Apakah kita sudah menjadikan doa sebagai gaya hidup kita? Apakah kita sudah mengalami kuasa dan mujizat dari doa-doa yang kita naikan kepada Tuhan?

DAUD : SI PENAKLUK RAKSASA (I Samuel 17:40-58)

Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan
pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama
TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.
(1 Samuel 17:45)

Kecil-kecil cabe rawit , peribahasa ini sering kita dengar. Pesan dari peribahasa ini jelas bahwa yang kecil ini tidak boleh diabaikan. Ia dapat sangat pedas bahkan dapat mengalahkan semua rasa. Bagaimana peribahasa ini dibandingkan dengan cerita Daud yang kecil mengalahkan Goliat yang besar.

Siapakah Goliat? Goliat adalah panglima tentara Filistin dari Gat , panglima tentara yang paling ditakuti oleh bangsa-bangsa sekitar bangsa Filistin, dan juga ditakuti tentara Israel. Goliat mungkin adalah keturunan dari sisa orang Refaim yang terkenal sebagai orang-orang raksasa, namun sebagian dibasmi oleh bani Amon . Ulangan 2:20- 21, menggambarkan Goliat dengan tinggi badan 3,2 meter, seorang panglima tentara yang kuat dan belum ada yang bisa mengalahkannya. Siapakah Daud? Daud adalah anak bungsu Isai dari delapan bersaudara. Arti nama Daud adalah pemimpin atau kepala. Daud dari kecil menjadi gembala ternak. Daud bertarung dengan Goliat satu lawan satu, Daud mengalahkan dan membunuh Goliat. Cara mengalahkan Goliat bukan dengan pedang tombak, atau anak panah, tetapi dengan ketapil, aneh tapi nyata.

Pelajaran apa yang bisa kita renungkan dari Daud dalam ceritera ini? Pertama, Daud mengandalkan Tuhan sebagai kekuatannya, sebagai penyelamatnya. Itulah sebabnya Daud berkata: “engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu. Hari ini Tuhan akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku….” Inilah iman Daud. Kedua, Daud adalah seorang pemuda yang berani menghadapi bahaya apapun, termasuk tidak takut kepada Goliat. Goliat ditantang oleh Daud untuk berduel dengannya. Sebenarnya Daud punya alasan untuk takut kepada Goliat; seperti: Daud bukanlah seorang tentara yang sudah dilatih secara tehnik untuk berperang; dia hanyalah seorang gembala ternak saja. Dari sisi usia, dia masih sangat muda, sangat minim pengalaman, apalagi pengalaman untuk berperang. Ketiga, Daud adalah pribadi yang tulus hati dan rendah hati. Karakter inilah yang memikat hati Tuhan sehingga Tuhan memilihnya menjadi raja menggantikan Saul. Keempat, yang bodoh, lemah, hina, dan tidak terpandang oleh dunia ini dapat dipilih dan dipakai Allah untuk memalukan dunia, untuk menyatakan kuasa dan keagungan Allah. (RS)
Refleksi:
Yang kecil, hina, bodoh, dan tak berarti ini bila mengandalkan Tuhan, m dapat mengalahkan dunia ini, mempermalukan dunia yang penuh dengan keangkuhan ini.

NUH : BERANI TAMPIL BEDA (Kejadian 6:7-10)

Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara
orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.
(Kejadian 6:9)

Sepak terjang Ahok di dunia politik dan pemerintahan begitu fenomenal dan
memberi inspirasi. Mengapa memberi inspirasi dan menjadi tokoh fenomenal? Jawabannya, Ahok adalah pejabat tinggi pemerintah yang berani tampil beda. Meskipun dia harus menjadi tahanan, itu adalah bagian dari konsekuensi berani tampil beda sebagai pejabat publik

Kejadian 6:5-7a menyatakan betapa kecewanya Allah melihat perilaku manusia “Ketika dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi dan hal itu memilukan hatiNya. Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi,…” Pada zaman Nuh, masyarakat tidak bermoral , serta tidak mengerti, memutar-balikkan dan memperkosa kebenaran. Ketika kondisi moral masyarakat yang hancur seperti itu ternyata masih ada orang yang hidupnya tidak sama dengan masyarakat pada umumnya. Orang itu adalah keluarga Nuh. Nuh berperilaku melawan arus, melawan ketidakbenaran, melawan kebobrokan moral. Nuh berani tampil beda. Kemungkinan besar orang-orang pada waktu itu melihat perilaku Nuh dan keluarganya sebagai orang aneh, keluarga aneh karena perilakunya tidak lazim seperti orang-orang pada umumnya. Apalagi ketika Nuh dan keluarganya membuat bahtera di atas bukit. Namun demikian, Tuhan melihat Nuh sebagai orang yang benar dari orang-orang sezamannya. Melalui air bah Allah memusnahkan manusia yang bejat dan tidak bermoral, dan Allah menyelamatkan keluarga Nuh melalui bahtera. Pelajaran apa yang dapat kita renungkan bersama? Pertama, Allah adalah Allah yang adil. Ia akan menghukum siapa saja yang bersalah dan melakukan kejahatan. Keadilan Allah tidak pandang bulu, ini berlaku untuk siapa saja. KeadilanNya tidak dibatasi oleh status, jabatan dan embel-embel lainnya. Kedua, Tuhan menghendaki umatNya berani tampil beda dimanapun berada, dalam situasi apapun. Beda dalam hal ini, karakter yang benar, perilaku yang benar, sikap dan perkataan yang benar, dan seluruh kehidupan yang diselaraskan dengan kebenaran firmanNya. Ketiga, orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan dengan cara Tuhan sendiri. Orang benar tidak perlu takut dan cemas ketika kebenaran dianiaya, diperkosa dan diintimidasi. (RS)
Refleksi:
Sudahkah kita menampilkan kehidupan yang benar di tengah-tengah keluarga kita, di tengah-tengah pekerjaan kita, di tengah masyarakat kita berada.

NAOMI :HABIS GELAP TERBITLAH TERANG (Rut 1:20- 22, 4:14-17)

“Tetapi ia berkata kepada mereka: “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku
Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku.”
(Rut 1:20)

Kitab Rut 1:1-22 menceritakan Naomi yang perjalanan hidupnya sebagian besar diwarnai dengan kesusahan, penderitaan dan kepahitan; namun pada akhirnya ia mengalami kemerdekaan dan kebahagiaan. Naomi arti namanya adalah yang tercinta dan yang manis. Namun, pengalaman perjalanan hidupnya tidak semanis arti namanya, tetapi sebaliknya. Hidupnya diwarnai dengan kesengsaraan dan penderitaan sama seperti arti “Mara”. Naomi seorang perempuan yang sarat dengan kepahitan, kesengsaraan dan penderitaan. Apa buktinya? Pertama, tidak lama setelah
keluarga Naomi tinggal menetap di bangsa Moab, Elimelekh suaminya meninggal. Kehilangan suami sebagai kepala rumah tangga berarti kehilangan seorang pelindung baginya. Kedua, tidak lama kemudian, anaknya laki-laki Mahlon dan Kilyon juga meninggal. Jika mengacu pada arti nama keduanya, yang artinya sakit dan lemah kemungkinan mereka meninggal karena sakit dan kelemahan tubuh. Bagi Naomi peristiwa kematian kedua anaknya adalah kepahitan hidup yang kedua. Anak lelaki adalah generasi penerus yang akan mewarisi keturunan dari sang ayah. Hal ini tentu sangat menyakitkan bagi Naomi. Ketiga, Setelah kematian suami dan kedua anaknya, Naomi kehilangan harta dan kekayaan, ia menjadi miskin, karena suami dan kedua anaknya yang menjadi tulang punggung keluarga telah tiada.

Apa yang dapat kita pelajari dari ceritera seorang Naomi? Pertama, kita sering diizinkan Tuhan untuk menghadapi dan mengalami peristiwa kehidupan yang tidak kita inginkan atau harapkan. Meskipun berat, Naomi menjalani kehidupan itu bersama dengan Tuhan. Itulah sebabnya ia pulang ke bangsanya, pulang ke Allahnya di Yehuda. Kedua, kegagalan, kepahitan, kegelapan hidup yang kita alami dapat dipakai oleh Tuhan untuk mengalami kuasaNya, pemeliharaanNya dan pertolonganNya. Ketiga, Rut 1:21…. Dengan tangan yang kosong Tuhan memulangkan aku. Pentingnya menyadari keadaan, kemudian cepat kembali kepada Tuhan sumber kehidupan dan sumber berkat. Keempat, Allah berdaulat atas seluruh kehidupan kita. Allah berdaulat memberikan sesuatu untuk kita, tetapi Allah juga berdaulat mengambilnya. (RS)
Refleksi:
Mengalami kegagalan, kepahitan, dan kesusahan hidup lainnya, percayalah bahwa Tuhan dapat mengubahnya menjadi sesuatu yang indah, membahagiakan dan menjadi berkat bagi diri kita maupun orang lain

RUT : SAHABAT ORANG TUA (Rut 1:15-18)

Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan
tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan
di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku j
dan Allahmulah Allahku
(Rut 1:16)

Sering kita mendengar hubungan antara menantu perempuan dengan mertua perempuan yang kurang baik. Narasi kitab Rut 1 menampilkan cerita yang berbeda. Elimelekh pergi dari Betlehem-Yehuda membawa Naomi istrinya dan kedua anak laki-lakinya, Mahlon dan Kilyon ke daerah Moab. Ketika mereka tinggal di Moab, Mahlon dan Kilyon menikah dengan perempuan Moab, yaitu Orpah dan Rut. Malapetaka menimpa keluarga ini. Elimelekh dan kedua anak laki-lakinya meninggal. Yang masih hidup adalah Naomi, Orpah dan Rut. Orpah pulang ke orang tua dan kampung halamannya sesuai dengan perintah Naomi. Sedangkan Rut tidak pulang ke rumah orang tuanya di Moab, tetapi pergi bersama Naomi ke Betlehem- Yehuda. Apa yang dapat kita pelajari dari Ruth?

Pertama: Rut adalah pribadi yang mampu menempatkan diri pada posisi yang tepat dan benar, yaitu ia mau dan bersedia dengan tulus iklas menjadi teman, sahabat bagi Naomi, sang mertua yang sedang mengalami penderitaan, kepahitan hidup dan kemalangan. Rut tidak mau meninggalkan Naomi seorang diri. Rut dalam bahasa Ibrani artinya sahabat.

Kedua, Rut adalah seorang janda muda yang mau berkorban untuk Naomi. Jika ia tinggalkan Naomi, ia kembali ke kampung halamannya, mendapatkan suami baru, membangun keluarga baru. Itu berarti ada masa depan yang lebih baik, daripada ikut Naomi. Namun, ia tidak lakukan itu. Rut meninggalkan zona nyamannya demi hidup bersama dengan Naomi.

Ketiga, Rut mampu melihat dengan kaca mata iman, bahwa Tuhan bekerja dibalik semua peristiwa kedukaan, kepahitan dan kegelapan hidup manusia, bahkan dibalik kerapuhan dan kepahitan seperti yang dialami Naomi. Diakhir cerita ini , Rut dan Naomi menjadi perempuan-perempuan yang berbahagia, karena melalui pernikahan Rut dengan Boas, lahirlah Obed. Dari Obed lahirlah Isai, dari Isai lahirlah Daud.

Keempat, Rut menunjukkan karakter kesetiaan sejati, yaitu kesetiaan yang tidak dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang buruk sekalipun. Kesetiaan Rut kepada keluarga Elimelekh tetap sama, baik ketika Elimelekh dan kedua anak laki-lakinya masih hidup maupun ketika mereka semua sudah meninggal.(RS)
Refleksi:
Sudahkah kita menghormati dan menjadi sahabat bagi orang tua kita, juga mertua kita ketika mereka masih hidup?

MEMBERI DARIPADA MENERIMA

“Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya
untuk membangunnya”(Roma 15:2)

Pastor Leo adalah pribadi yang merupakan contoh seorang yang menunjukkan kasih yang tulus dan meneladani Kristus. Beliau sedang menyelesaikan studi doktoral dalam bidang kepemimpinan Kristen. Bersama istri dan kedua anak mereka, ia tinggal tidak jauh dari kampus tempatnya menimba ilmu. Beliau memiliki banyak pengalaman di ladang pelayanan di daerah terpencil di salah satu pulau terbesar di Nusantara. Gelar master dalam bidang misi diperolehnya dari salah satu perguruan tinggi Kristen yang bergengsi di Amerika Serikat. Saat ini beliau juga sedang studi doktoral di perguruan tinggi Kristen yang tidak kalah bergengsi. Kerinduan beliau adalah mengembangkan pelayanan mentoring kepada para hamba Tuhan di Indonesia. Kerinduan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan beliau akan para hamba Tuhan yang dianggap telah gagal dalam menjalankan peran sebagai hamba Tuhan. Sebagai pendeta/pastor beliau sangat memahami kondisi psikologis dari hamba-hamba Tuhan yang sedang menjalankan panggilan Tuhan. Pertemuan kami diawali dengan kontak melalui sosial media. Beliau mengambil inisiatif untuk bertemu dengan alasan ingin berdiskusi mengenai mentoring dalam kepemimpinan Kristen. Saya sebenarnya tidak merasa kompeten dan tidak menganggap diri sebagai narasumber yang tepat untuk diajak berdiskusi mengenai hal tersebut. Namun sikap hati beliau yang ingin belajar mendorong saya untuk juga mengambil sikap hati yang mau belajar. Yang terjadi adalah saya belajar banyak dari kehidupan Pastor Leo. Saya belajar mengenai kepekaan beliau terhadap kebutuhan orang lain. Beliau begitu memperhatikan hal-hal kecil yang saya butuhkan selama saya tinggal bersama beliau dan keluarganya. Dia juga begitu memperhatikan kehidupan sepasang suami istri yang sedang menghasilkan karya-karya luar biasa. Padahal mereka tinggal berjauhan, sepasang suami-isteri itu tinggal di Indonesia.

Sebagaimana bidang yang sedang dipelajarinya, Pastor Leo sedang melakukan pelayanan mentoring sebagai gaya hidupnya. Dia tidak henti-hentinya membangun kehidupan orang lain dan mendorong untuk hidup taat kepada Allah. Dia menganggap orang lain yang Tuhan kirimkan ke dalam kehidupannya adalah sesama manusia, sesama anggota keluarga Allah untuk hidup saling melayani. Kerinduan beliau adalah membangun sebuah pusat mentoring bagi para hamba Tuhan yang mengalami masalah
dalam menjalankan pelayanan mereka.

Sebagaimana kisah Rasul Paulus yang memberikan teladan dalam melayani (Kis. 20:35), membantu orang-orang yang lemah dan senantiasa mengingatkan perkataan Tuhan Yesus yang mengatakan “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima”(ROR)
Reflleksi:
Apakah Anda sudah mengalami kebahagiaan dalam memberi?

KASIH YANG NYATA

“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu
dalam hal saling membantu”
(Efesus 4:2)

Pertemuan yang tidak disangka dengan Christy, seorang teman semasa kuliah di Wheaton College hanya berlangsung singkat. Walaupun singkat, namun pertemuan tersebut sangat berkesan dan membangun kehidupan rohani saya. Saya memang berniat mencari alamatnya dan berharap bertemu dengannya. Saya mengenal Christy ketika mengambil studi magister di Wheaton College 19 tahun yang lalu. Sebagai mahasiswa internasional yang baru pertama kali belajar di negara lain, saya merasa seperti anak kecil yang harus belajar banyak hal untuk bisa survive di tanah yang asing – dengan kebiasaan dan budaya yang sangat berbeda-. Saya mengalami kesulitan terutama di dalam mengerjakan tugas-tugas mingguan. Makalah-makalah dalam bahasa Inggris yang saya serahkan kepada dosen mendapatkan banyak sekali koreksi yang memaksa saya untuk mencari pertolongan. Pada saat itulah, Christy yang memahami kesulitan saya datang menawarkan bantuan. Saya sebenarnya merasa tidak enak karena akan memberikan beban tambahan kepadanya; sebab dia juga harus melakukan tanggungjawabnya sendiri menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang luar biasa banyak. Namun melihat kesungguhan hatinya untuk menolong, saya belajar untuk meninggalkan sikap ewuh pakeuwuh dan menerima dengan ucapan syukur bantuan yang ditawarkannya. Christy menjadi malaikat penolong yang dikirimkan Tuhan untuk menolong saya yang mengalami kesulitan yang besar dalam menyelesaikan studi. Saya akhirnya bisa menyelesaikan studi kurang dari dua tahun dengan kasih karunia Tuhan. Peranan dan bantuan Christy sangat berarti. Kami bukan saja menjadi teman sekelas, tetapi juga menjadi sahabat dan saudara di dalam Kristus. Oleh karena kesabarannya menolong saya maka saya berhasil menyelesaikan studi dengan baik. Dengan rendah hati dia telah membantu orang asing yang mengalami kesulitan. Saya juga belajar untuk rendah hati menerima pertolongan dari seseorang yang dengan tulus menawarkan bantuan. Saya yakin Tuhan sedang menunjukkan kepada saya bagaimana penerapan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Efesus 4:2 menyatakan, “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu”. Itulah yang telah dilakukan Christy sebagai bagian dari penerapan akan Firman Tuhan yang dibaca dan dipahaminya. Sungguh suatu pengalaman yang berarti ketika dapat bertemu kembali dengan malaikat penolong yang dulu Tuhan kirimkan untuk menolong hambaNya. Pengalaman bertemu dengan Christy setelah belasan tahun tidak bertemu – sejak lulus kuliah tahun 2000 – merupakan pengalaman yang luar biasa. Kami bisa bersamasama mengingat kembali kebaikan-kebaikan Tuhan. (ROR)
Refleksi:
Adakah seseorang yang membutuhkan pertolongan Anda hari ini?

UPAH YANG KEKAL DARI PENYAMBUTAN

“Barangsiapa menyambut seorang nabi, ia akan menerima upah nabi, dan
barangsiapa menyambut orang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah
orang benar”
(Mat. 10:41)

Bara dan Melda adalah sepasang suami istri asal Indonesia yang memutuskan untuk menetap di negara Paman Sam untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Keduanya memiliki gelar akademik dalam bidang yang berbeda. Bara adalah seorang ahli di bidang marketing sedangkan Melda adalah seorang sarjana hukum. Mereka saling mengenal melalui sebuah kelompok paduan suara yang memberi kesempatan bagi mereka untuk mengunjungi berbagai tempat. Bara sangat terkesan dengan kehidupan yang lebih baik dan menjanjikan di Amerika dan sejak masih lajang bertekad untuk menetap disana. Itu sebabnya ketika mereka menikah, keduanya sepakat untuk pindah ke tempat itu. Mereka tinggal di salah satu kota besar di negara bagian Colorado. Saya mengenal Melda melalui suatu pelayanan mahasiswa ketika masih di Indonesia. Ketika mendengar saya akan berkunjung ke negara bagian tempat mereka tinggal, dia menawarkan dan mengundang saya untuk menginap di rumah mereka. Setelah selesai mengikuti konferensi di sebuah hotel di kota tempat mereka tinggal, saya dijemput oleh Bara bersama dua orang anak laki-laki mereka (Melda sedang kerja shift siang, jadi tidak ikut menjemput). Saya belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya, bahkan tidak memiliki bayangan akan wajah mereka. Saya hanya mengenal Melda ketika masih tinggal di Indonesia. Meskipun baru saling mengenal, saya merasakan rasa persaudaraan – mungkin karena berasal dari negara yang sama atau karena kami juga berasal dari suku yang sama-. Namun saya merasakan lebih daripada itu. Saya merasakan rasa persaudaraan sebagai sesama orang yang percaya kepada Kristus. Setelah saling memperkenalkan diri dan memastikan bahwa mereka menjemput orang yang dimaksudkan, saya mengikuti mereka masuk ke dalam mobil dan menuju rumah kediaman mereka. Di dalam perjalanan, saya merenungkan dan menghargai kerelaan Bara untuk menjemput seseorang yang tidak dikenalnya dan menempuh perjalanan yang cukup jauh. Mungkin dia juga masih lelah sehabis bekerja shift malam, tetapi karena permintaan istrinya untuk menjemput teman lama sang istri, dia melakukannya juga. Saya dapat merasakan keteguhan hati dan komitmen Bara dan istrinya untuk selalu menyambut orang Indonesia yang berkunjung ke kota mereka sebagaimana mereka ungkapkan sebelumnya. Komitmen itu mereka buktikan ketika ada teman-teman dari Indonesia yang mengunjungi mereka beberapa waktu kemudian. Mereka senantiasa menyambut orang-orang yang mengunjungi mereka dengan senang hati dan bersusaha melayani
keperluan orang yang berkunjung.

Dalam Kisah Para Rasul diceritakan mengenai Publius, seorang gubernur yang menyambut para rasul dan menjamu mereka selama tiga hari (Kis. 28:7). (ROR)
Refleksi: Menyambut orang lain dengan senang hati akan mendapatkan upah yang kekal.