DIBEBASKAN UNTUK BERBEDA

Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat. (Roma 7:6)

Pada saat Tsunami, saya mengenal pekerja Seni dari Chili yang bekerja di NGO Banda Aceh. Ia menyampaikan pendapat yang menarik tentang gambar-gambar anak-anak Aceh yang mengikuti programnya. Ia mengatakan demikian, “Saya heran dengan lukisan anak-anak di Indonesia. Gambar manusianya rambutnya semua sama, hitam.” Saya mengernyitkan kening sejenak bertanya, “Memang kenapa jika rambutnya hitam? Bukankah memang seharusnya demikian.” Tanyaku penuh selidik. Dia menjawab, “Mestinya tidak harus semua hitam sebab kreasi seni dalam masing-masing anak seharusnya berbeda. Saya terdiam sejenak mencerna apa yang disampaikan. Saya rasa memang inilah kondisi di Indonesia.

Menilik ayat di atas adalah polemik yang sangat besar antara apa yang disampaikan oleh Paulus tentang kebebasan dalam menjalankan iman kepada Yesus Kristus, dan tata aturan agama Yahudi yang dijadikan dasar acuan kekristenan baku. Latar belakang nya adalah terjadinya ketidaksepahaman antara cara kekristenan bangsabangsa selain Yahudi (gentiles) menjalani kekristenannya; Dengan kekristenan yang menurun langsung dari proses asimilasi dengan tata cara agama Yahudi. Meskipun Rasul Paulus telah menjelaskan adanya perbedaan cara pandang, namun masyarakat Yahudi tetap menuntut agar gentiles tersebut wajib mengikuti tata cara kekristenan yang dijalani oleh bangsa Yahudi tersebut.

Menyikapi penjelasan renungan hari ini, dalam kehidupan ini tidak jarang kita mengalami ketakutan pada hal yang berbeda. Alih-alih bertoleransi memahami perbedaan, kita malah menekan yang berbeda, mengendalikan mereka agar sama dengan kita, padahal hal tersebut tidak seharusnya terjadi. Atau ketika terjadi akan menyebabkan pengekangan bagi kehidupan orang-orang yang berbeda tersebut. Dalam konteks hubungan mayoritas terhadap minoritas, seringkali terjadi pemaksaan pihak mayoritas yang hasilnya malah menyebabkan ketidakharmonisan terhadap minoritas. Sehingga dengan demikian perbedaan harus dipahami sebagai fitrah. Namun meskipun demikian, akan selalu ada orang-orang berkeinginan menyatukan keberagaman tersebut menjadi satu pandangan, dan berusaha meniadakan pandanganpandangan lain khususnya yang berseberangan dengan dirinya. Padahal perbedaan memang tidak bisa dihindarkan. Dan musuh manusia bukanlah perbedaan, melainkan ketidakmampuan melihat perbedaan. (AA) Refleksi: Belajar untuk menerima dan memahami keragaman dan perbedaan, sebab itu akan menjadi perekat kehidupan yang harmoni

KEBEBASAN DARI TUHAN

 Dikirim-Nya kebebasan kepada umat-Nya, diperintahkan-Nya supaya perjanjianNya itu untuk selama-lamanya; nama-Nya kudus dan dahsyat. (Mazmur111:9)

Kebebasan, sebuah kata yang membuat banyak orang merasa takut. Kebebasan seringkali dikonotasikan suatu hal yang negatif, tidak terkendali atau melanggar peraturan. Plato pernah mengajarkan sebuah ilustrasi menarik tentang manusia gua. Manusia gua ini terkurung dalam sebuah gua, hingga pada suatu ketika ia berhasil menerobos keluar dari gua tersebut. Ia berlari meninggalkan gua menuju kebebasannya. Namun tak berapa lama kemudian, ia berlari masuk kembali ke dalam gua dan tidak mau keluar lagi. Ternyata ia takut menghadapi kehidupan di luar sana menjadi manusia yang bebas merdeka. Ia merasa lebih nyaman menjadi manusia yang terkungkung tinggal di dalam gua, sebab barangkali hanya ia itu yang diketahuinya dalam kehidupan. Ayat di atas adalah bagian dari tulisan Raja Daud dalam kitab pujiannya atau Mazmur.

Ayat di atas terlihat sangat jelas yang menyatakan bahwa Tuhan justru mengirimkan kebebasan pada umatNya. Kata kebebasan ini dalam bahasa aslinya atau redemption (inggris) yang artinya bebas karena suatu tindakan penebusan. Sehingga dalam pengertian ini kebebasan lebih mudah dipahami bukan tentang suatu tindakan yang tidak terkendali, melainkan sebuah kebebasan dari belenggu atau ikatan, atau sebuah kondisi kelegaan, terlepas dari bebasan dan keterikatan dalam kehidupan ini.Dan itu adalah tindakan yang dilakukan Tuhan sendiri bagi umat manusia seperti yang dituliskan oleh Raja Daud dalam tulisan Mazmurnya ini.

Kembali pada ilustrasi awal, memang benar ada kebebasan yang tanpa arah dan kendali, sehingga alih-alih memberikan kelegaan bagi manusia, malahan membawa kehidupan manusia menjadi tanpa tujuan yang jelas. Alih-alih kebebasan memberikan kelegaan, malahan menuju titik-titik nihilistik, yakni sebuah titik di mana kehidupan seseorang mengalami pengulangan-pengulangan tanpa makna, merasa hampa, hingga menjelang kematian. Padahal memahami kebebasan seperti yang dituliskan Raja Daud dalam kehidupan yang kita miliki, justru menjelaskan kondisi yang bermakna, sebab kebebasan yang diberikan oleh Tuhan bukan kebebasan tanpa makna atau nihilistik, melainkan kebebasan yang membuat kita mampu mengucap syukur kepada Tuhan atas tindakan yang dilakukanNya tersebut. (AA) Refleksi: Bebaskanlah Roh Tuhan berkarya menjawab permasalahan yang mengikat dan menjadi beban yang berat dalam kehidupan kita.

MENJADI DUTA KRISTUS

“…setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23)

Ketika Allah menganugerahkan keselamatan, Allah membayar harganya dan kita menerimanya dengan cuma-cuma. Ketika kita memberikan hidup kita bagi Allah, ada yang harus kita korbankan, yaitu keinginan manusia lama kita. Ketika menjadi serupa dengan Kristus menjadi panggilan kita, hal inipun menuntut pengorbanan, termasuk di dalamnya ego kita. Ketika rasul Paulus menjadi pengikut Kristus, dia menganggap semua yang dimilikinya sampah karena Kristus. Ketika kita menjadi duta Allah di muka bumi, tentu ada harga yang harus kita bayar. Apakah itu?

Ketika kita dilahirkan baru, kita tidak seketika masuk ke dalam Kerajaan-Nya, melainkan kita diutus kembali ke dalam dunia untuk menjadi duta Allah sambil mengalami pengudusan untuk semakin serupa dengan Kristus. Kita juga diutus melalui Amanat Agung untuk mewartakan kabar baik dan memuridkan mereka yang menerima-Nya. Dalam konteks inilah kita menjadi duta Allah dalam konteks hidup kita masing-masing. Sama seperti Bapa mengutus Yesus, demikian pula Yesus mengutus para murid-Nya, termasuk kita semua orang yang telah diselamatkan. Allah mengajarkan dalam Firman-Nya, bahwa ranting pohon yang tidak berbuah akan ditebang dan dibuang ke dalam api, rasul Paulus menuliskan bahwa dia sendiri melatih dirinya agar setelah memberitakan Injil, dia sendiri tidak ditolak. Hal ini berarti untuk menjadi duta Allah, kita harus selalu berusaha, dengan kuasa dari Allah, untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Keteladanan yang buruk dapat mematahkan kesaksian kita sebagai seorang duta, bahkan menjadi penghalang bagi orang lain untuk datang kepada Allah. Sebagai seorang duta Allah, kita melayani orang lain dengan ramah, tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular. Hal ini berarti kita harus penuh hikmat dalam bertindak, mengalah, namun tidak membiarkan diri diperdaya. Seperti halnya bertumbuh semakin serupa Kristus itu membutuhkan proses dan waktu, demikian pula kepiawaian kita sebagai duta Allah dan dalam melayani membutuhkan proses yang membentuk kita semakin siap untuk dilibatkan Allah dalam perkara-perkara yang lebih besar dan berdanpak lebih luas.

Pandanglah sekeliling kita, setelah merenungkan tulisan ini, bersiaplah maju sebagai duta Allah pada hari ini, yang mana yang perlu diperbaiki, apa yang harus dilakukan, dll. (PO)

Refleksi: Apakah kita sudah menyadari panggilan kita sebagai duta Allah? Sudahkah kita menyadari harga yang harus kita bayar? Sudah siapkah kita setiap waktu untuk membayarnya?

APAKAH KEMULIAAN ALLAH TERPANCAR ?

 “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya…” (Matius 5:16a)

Ada sebuah lagu yang sebenarnya sangat menantang saya untuk membuktikan lirik lagu tersebut, lebih daripada sekedar menyanyikannya. Penggalan lirik dalam lagu tersebut adalah : “… kulihat di wajahmu, kemuliaan Raja…”. Benarkah di wajah kita terpancar kemuliaan Sang Raja? Seharusnya ya, tetapi seringkali hidup kita kurang “bercahaya”, tidak sepenuhnya memancarkan kemuliaan Allah, seperti halnya Musa ketika turun dari Gunung Sinai seusai menerima sepasang loh batu yang ditulis sendiri oleh Allah. Apakah bila dunia melihat wajah kita, dunia melihat kemuliaan Allah? Saya kuatir tidak semua orang percaya “bercahaya” sedemikian. Ketika kita menunjuk seseorang dan berkata bahwa kita melihat kemuliaan Raja di wajahnya, tidakkah kita berbohong? Bagaimanakah kemuliaan Allah bisa terpancar di wajah kita?

Mungkin ada di antara kita yang kurang peduli dengan pertumbuhan rohani kita, seperti domba yang asyik sendiri di padang penggembalaan Allah, kita tidak bertumbuh dalam pengenalan kita akan Allah, tidak bertumbuh dalam karakter Kristus, tidak bertumbuh dalam kasih kita kepada sesama manusia. Hidup kita tak ubahnya manusia “rohani” selama beberapa jam saja (yang inipun masih dipertanyakan) di hari Minggu, dan kembali menjadi “manusia lama” di waktu-waktu lain. Kalau seperti ini, jangan harap kemuliaan Allah terpancar. Dunia di sekitar kita akan menolak kehadiran kita sebab hidup kita tidak mendatangkan berkat dan rahmat. Jangan sampai kita dibenci, bahkan oleh dunia, bukan karena kita anak terang, melainkan karena perbuatan kita justru bertentangan misalnya melanggar hukum. Karena itu integritas merupakan prinsip dasar bagi setiap orang untuk dipercaya dan menjadi teladan. Jikalau integritas kita didasarkan kepada Kristus, maka kita dimampukan untuk memancarkan kemuliaan Allah kepada orang-orang di sekitar. Integritas akan terwujud apabila kita hidup dalam ketaatan kepada firman Tuhan. Jadi, yang dibutuhkan adalah hal-hal mendasar, seperti ketaatan seorang murid, kerendahan hati dalam melayani. Ada banyak pengajaran dalam Firman Tuhan yang mengarahkan kita untuk berpikir, berkata, dan bersikap, yang mengarahkan kita untuk menjadi serupa dengan Kristus, yang otomatis akan membuat kita semakin bercahaya, tanpa harus dicari, dibuat/direkayasa. Marilah kita bersama kembali kepada kasih yang mula-mula kepada Allah, marilah kita menjadi murid Kristus, agar terang kita semakin bercahaya. (PO) Refleksi: Apakah hidup kita, wajah kita sudah memancarkan kemuliaan Allah?Jika belum, marilah kita memulainya dengan menjadi murid Kristus yang baik

KUALITAS SEORANG SAHABAT

“… tetapi ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara.” (Amsal 18:24b) Amsal 14:20

berbunyi : “Juga oleh temannya orang miskin itu dibenci, tetapi sahabat orang kaya itu banyak.” Dalam realita hidup jauh lebih mudah menemukan teman, bahkan banyak teman karena didukung oleh materi. Meskipun demikian, menemukan seorang sahabat yang baik maupun menjadi seorang sahabat yang baik tetap jauh lebih sulit. Sebab seorang sahabat yang baik mengutamakan jalinan kasih dan ketulusan. Seorang sahabat yang baik dapat merepresentasikan kasih Allah.

Kita harus pandai memilih teman, namun bukan pilih-pilih. Memang pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. namun tidak berarti kita tidak boleh bertegursapa dengan orang-orang yang berkebiasaan buruk. Justru kita dipanggil untuk memberi pengaruh positif agar mereka berubah. Kita bercermin kepada Tuhan Yesus berfirman bahwa Dia memanggil kita sebagai “sahabat.” Yesus juga bersedia bersahabat dengan orang-orang berdosa. Persahabatan dengan Yesus sudah pasti merupakan persahabatan yang membawa perubahan. Lewi dan Zakheus pemungut cukai berubah menjadi pengikut Kristus. Yesus adalah Guru dan kita adalah murid-murid-Nya, karena itu kitapun harus menjadi sahabat yang seperti Kristus. Seorang sahabat yang baik akan menegur kalau ada kesalahan, bukan sekadar mengumbar pujian. Biarlah kita tidak mencari pujian orang lain, daripada memuji tapi sebenarnya menjatuhkan. Ada pepatah berbunyi “A friend in need is a friend indeed” (seorang teman dalam kesukaran adalah benar-benar teman). Seorang teman yang baik hadir dalam berbagai cara, entah secara fisik, secara psikis, maupun mendampingi secara rohani. Dalam menjalin persahabatan, kita menghadapi berbagai karakter manusia, berbagai latar belakang baik yang positif maupun negatif. Keberagaman dan berbagai kekurangan tersebut tidak boleh menghalangi kita untuk memberlakukan kasih Kristus sebagai ikatan yang mempersatukan. Firman Tuhan berkata: “Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Melalui tindakan kasih kita mewartakan kepada dunia bahwa persahabatan merupakan sikap rohani yang dibutuhkan oleh setiap orang.

Kita saling membutuhkan teman. Alangkah baik dan indahnya, bila kita anakanak Tuhan saling menjadi sahabat yang karib satu dengan yang lain. Marilah kita menyadari, belajar, dan bersandar kepada Tuhan untuk menjadi seorang sahabat. (PO)

Refleksi: Apakah kita sudah menjadi seorang sahabat seperti Yesus?Kalau kita meneladani Yesus, kita bisa menjadi sahabat yang benar dan berkualitas bagi orang-orang di sekitar kita, seperti pula Guru kita

MENJADI BAPA ROHANI

 “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberikan pemberian yang baik kepada anakanakmu, apalagi Bapamu yang di sorga…” (Matius 7:11)

Semakin sulit pada masa ini untuk menemukan bapa teladan, atau bapa yang sungguh menjadi “wakil” Allah di bumi. Malahan, ada ekstrim ayah kandung membunuh anaknya dengan sengaja. Hal yang sama terjadi pula dengan seorang ibu yang dengan sengaja membunuh atau menelantarkan anak kandungnya. Di tengah-tengah situasi yang memprihatinkan tersebut kita dipanggil untuk mengalami pemulihan dari Kristus. Pemulihan agar citra seseorang sesuai dengan citra Kristus, yaitu memiliki karakter kasih, lemah-lembut, pemaaf dan peduli kepada orang-orang di sekitarnya.

Citra seorang bapa pernah disinggung oleh Tuhan Yesus ketika menjelaskan betapa baiknya Bapa surgawi. Yesus berfirman, bahwa manusia yang jahat saja tahu memberikan yang baik kepada anaknya, apalagi Bapa yang di sorga. Sebagai insan manusia yang penuh keterbatasan setiap kita memiliki kemampuan yang terbatas pula, sehingga apa yang dipikirkan, dikatakan, dan diperbuat belum tentu sesuai dengan apa yang seharusnya dipikirkan, dikatakan, dan diperbuat sesuai dengan karakter Kristus. Satu-satunya cara agar seorang bapa dapat menjadi “wakil” Allah di bumi adalah dengan meneladani karakter Allah sebagai Bapa yaitu meneladani Tuhan Yesus. Dengan kata lain, seseorang yang telah mengalami kelahiran baru memiliki dasar yang kuat untuk dapat bergantung kepada kekuatan dan hikmat Allah. Melalui kesaksian Alkitab kita dapat mengalami proses pertumbuhan dengan belajar dari beberapa tokoh. Misalnya kita dapat belajar dari kehidupan imam Eli. Sekalipun dia sudah mengenal Allah, dia tidak melakukan peran dan tanggung jawabnya, terutama dalam mendidik kedua anaknya. Imam Eli melaksanakan perannya sebagai seorang Imam yang sungguh-sungguh, tetapi peran dia sebagai Imam gagal ia praktikkan kepada anak-anaknya. Apa artinya kita berhasil dalam profesi kita tetapi gagal mendidik anggota keluarga kita? Seorang bapa rohani membimbing anak-anaknya untuk mengenal Tuhan, menjadi teladan dalam melakukan Firman, dll., sehingga dia benar-benar menjadi “wakil” Allah di bumi. Peran sebagai seorang bapa yang baik dapat ditemukan ketika kita benar-benar meneladan Kristus. Dengan meneladan Kristus maka seorang ayah akan berpikir, berkata, dan bersikap kepada anak-anaknya dengan kasih Allah. (PO)

Refleksi: Apakah kita sudah menjadi seorang bapa rohani yang baik bagi orang-orang di sekitar kita?

DIMENSI PERSAHABATAN ROHANI

 “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu.” (Amsal 17:17)

Kualitas seorang sahabat selalu dikaitkan dengan kehadiran. Kehadiran seorang sahabat akan lebih bermakna apabila didukung dengan kualitasnya. Berbicara tentang kehadiran, ada tiga ranah, yaitu kehadiran secara fisik, secara psikis, dan secara rohani. Berbagai keterbatasan dapat menyebabkan kualitas suatu persahabatan tidak maksimal. Pada saat ini kita merenungkan kehadiran dan kualitas persahabatan pada ranah rohani.

Seorang sahabat rohani memberikan kehadiran secara rohani, misalnya dalam bentuk saling mendoakan dan berbagi pengalaman atau penghiburan di dalam Tuhan. Komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai media, namun yang pasti, dampaknya dapat dirasakan secara rohani. Hal inilah yang diteladankan oleh rasul Paulus. Dalam keterbatasannya (termasuk tembok penjara) Rasul Paulus tetap memelihara kerohanian sejumlah jemaat gereja mula-mula. Melalui surat-surat kirimannya (selain itu juga melalui murid-muridnya) Rasul Paulus memberikan nasihat, teguran dan penghiburan. Kehadiran seorang sahabat rohani merepresentasikan kehadiran Allah dalam hidup seseorang, terlebih apabila seorang saudara berada di tengah pergumulan berat. Kehadiran seorang sahabat yang baik dapat menjadi saluran berkat Allah. Tindakan seorang sahabat rohani tidak terbatas di kalangan tertentu, sebab bersifat inklusif.

Karena itu melalui peran sahabat rohani juga dapat dipakai Allah untuk memenangkan hidup yang kekal bagi seseorang. Sebaliknya sikap atau kebiasaan kita yang buruk dapat menjadi penghalang untuk menjalin suatu persahabatan.. Karena itu marilah kita melihat sekeliling kita dengan lebih peka. Kita perlu bersikap kritis yaitu dengan siapakah kita bisa menjalin dan membagikan kasih persahabatan. Memang seyogyanya kita menjadi sahabat bagi semua orang, Keterbatasan manusiawi dan berbagai sumber daya membatasi tindakan kita, namun melalui tindakan kasih kita bisa menembus setiap benteng penghalang. Apabila setiap orang memiliki kehendak baik dalam kasih Kristus, maka Allah akan memakai dia untuk menjangkau banyak orang dalam keselamatan-Nya. (PO) Refleksi: Apakah kita sudah menjadi seorang sahabat rohani bagi orang-orang di sekitar kita?

SEKARANG AKU TAHU

 “Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya.” (Mazmur 20:7)

Ucapan “sekarang aku tahu” adalah sebuah ungkapan yang pendek namun bermakna sangat dalam. Ucapan itu menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki pengertian yang diperbarui di saat sekarang ini (present time). Bukan hanya kenangan di masa yang lalu namun sebuah pengalaman fresh yang baru dialaminya. Alkitab mencatat beberapa ucapan seperti itu yang disampaikan oleh orang-orang yang memiliki pengalaman pribadi bersama dengan Tuhan (Kel18:11, 1Raj17:24, 2Raj5:15, Maz20:7). Pengenalan dan perjalanan kita bersama dengan Tuhan bukan hanya didasarkan pada apa kata orang tetapi juga melalui suatu pengalaman pribadi, suatu perjumpaan pribadi dengan-Nya. Memang biasanya seorang mengenal Tuhan Yesus dimulai dengan sesuatu yang dikatakan atau disaksikan oleh orang lain. Tuhan menyuruh kita untuk menjadi saksi-Nya supaya banyak orang mendengar tentang karya keselamatan di dalam Tuhan Yesus (Kis1:8). Namun setelah seseorang mendengar tentang Kristus maka langkah selanjutnya adalah percaya dengan segenap hatinya, bertobat sungguh-sungguh, dan mulai hidup bersama dengan Kristus. Hubungan kita dengan Tuhan Yesus bukan hanya lagi didasarkan pada apa kata orang, melainkan pada suatu pengalaman pribadi dengan Tuhan .

Seorang pengikut Kristus yang hanya mengenal Juru Selamatnya dari kata orang berisiko untuk mengeluarkan penilaian dan sikap yang salah saat mengatasi badai hidup, seperti apa yang sempat dialami oleh Ayub. Namun seorang yang mengenal betul siapa Tuhan yang telah menyelamatkannya, maka orang itu tidak akan mengeluarkan pernyataan yang salah tentang Tuhan karena dia mengenal dengan lebih baik. Perjumpaan pribadi dengan Tuhan akan membuat rupa Kristus menjadi nyata dalam hidup kita, dalam perkataan kita, juga dalam tindakan kita sehari-hari. Hanya mengenal dari kata orang tidak akan membawa seseorang kepada pertumbuhan sesungguhnya menjadi seorang Kristen sejati. Tetapi mengenal secara pribadi akan memampukan seseorang untuk terus bertumbuh di dalam kasih karunia Allah, menjadi seorang pengikut Kristus sejati yang mencerminkan pribadi Kristus sendiri. (AL) Refleksi : Pengenalan yang utuh akan Allah harus didasarkan pada ajaran (informasi) dan pengalaman (pengenalan).

MENDENGAR DAN MEMANDANG

 “ Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (Ayub 42:5)

Pengenalan akan Allah membuat sikap Ayub berubah total. Dia tidak berani lagi protes terhadap Allah atas semua penderitaan yang dialaminya. Dia mengakui bahwa perkataan sembrono yang dia ucapkan sebelumnya dilandasi oleh ketidakmengertian (42:1-6). Sekalipun Ayub dicatat sebagai orang yang saleh, ternyata pergumulan yang semakin berat membuatnya “patah arang” terhadap Allah. Pengalaman menjalani penderitaan yang berat dalam jangka waktu panjang telah membentuk pandangan Ayub tentang Allah dan mengubah sikapnya. Perubahan sikap merupakan suatu yang sangat penting dalam pandangan Allah. Mungkin perubahan sikap inilah yang menjadi tujuan Allah melalui keputusan Allah membiarkan Ayub menghadapi pencobaan berat yang diprakarsai oleh Iblis. Setelah tujuan tersebut tercapai, tibalah waktunya bagi Allah untuk memulihkan keadaan Ayub. Wibawa rohani Ayub dipulihkan melalui kembalinya peran Ayub sebagai imam yang mendoakan ketiga orang temannya (42:7-10). Posisi sosialnya dipulihkan melalui kedatangan semua saudaranya dan semua kenalannya (42:11a). Kondisi ekonomi Ayub dipulihkan melalui sokongan dari semua saudaranya dan semua kenalannya (42:11b-12). Kondisi keluarganya juga dipulihkan dengan cara dia kembali mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan (42:13). Berkat Allah juga dinyatakan melalui umur panjang yang Allah berikan kepada Ayub (42:16-17).

Apa yang menjadi kunci dari Ayub sehingga mampu mengalami transformasi secara spiritual? Sederhana saja, Ayub tahu, menyadari, dan mengakui tingkat pengenalannya akan Tuhan. Sebelum peristiwa kemalangan tersebut, memang Ayub adalah orang yang sangat saleh, namun hanya berdasarkan informasi dari “kata orang saja.” Namun setelah mengalami masa kesukaran, Ayub mengalami “pencelikkan mata rohani.” Ia akhirnya mampu memandang Allah, belajar memahami rencana-Nya. Informasi pihak lain mungkin saja benar, tetapi tidak lengkap. Informasi itu akan ter-reduksi dengan pengalaman dan penghayatan pribadi. Sebaliknya, kemampuan “memandang Allah” menuntun orang percaya pada landskap rancangan Allah yang utuh. Hal itulah yang akan menguatkan seseorang dalam pengiringannya kepada Tuhan. (AL)

Refleksi : Jika selama ini kita hanya mendengar, marilah belajar memandang pada Allah dan rancangan-Nya yang utuh.

YA TUHANKU DAN ALLAHKU

 “ Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”.” (Yohanes 20:28)

Pada hari Minggu Paskah Kedua tanggal 30 April 2000, Santo Paus Yohanes Paulus II mengkanonisasikan (= menyatakan santa) Suster Faustina Kowalska. Suster Faustina (1905-1938) sangat mengagungkan devosi kepada Kerahiman Ilahi (Kerahiman Ilahi adalah sebuah devosi Katolik kepada cinta belas kasihan Allah dan keinginan untuk membiarkan cinta dan rahmat tersebut mengalir melalui hati seseorang terhadap orang-orang yang membutuhkan hal itu). Dalam Kalender Gereja Katolik, hari Minggu Paskah Kedua tepat sekali dirayakan Gereja sedunia sebagai Pesta Kerahiman Ilahi.

Teks mengenai pengalaman Thomas yang meragukan kebangkitan Yesus sesungguhnya gambaran bagi kita tentang Kerahiman Ilahi tersebut. Pengalaman ketakberdayaan dan keterbatasan manusia di satu pihak dan Kerahiman Ilahi di pihak lain. Thomas mewakili siapa saja yang ingin melihat lebih dahulu sebelum mau percaya. Melihat kemudian percaya. Itulah pikiran Thomas dan pikiran banyak orang. Bukankah kita pun sering berpikir seperti Thomas? Sesudah Yesus wafat, para murid tidak berani keluar rumah. Mereka ketakutan dan mengurung diri dalam rumah dengan “pintu-pintu yang terkunci” (Yoh 20:19). Delapan hari sesudah peristiwa kebangkitan, mereka masih juga ketakutan dan tetap mengurung diri. Thomas, salah seorang murid, tetap tidak percaya kendati teman-temannya kompak bersaksi bahwa mereka melihat Tuhan hidup. Kerahiman Ilahi nyata ketika Yesus sendiri mendatangi murid-murid yang lumpuh tak berdaya karena ketakutan. Yesus membebaskan mereka dari ketakutan yang membelenggu.

Kenyataannya, tidak jarang kita takut dan cemas dalam menghadapi berbagai persoalan. Seribu satu masalah menghantui hidup kita setiap hari. Karenanya, kita cenderung menjadi tak berdaya, ketakutan dan malahan terpuruk. Tetapi dengan kaca mata kebangkitan Yesus kita dapat melihat semuanya itu dengan cara pandang baru: dari kematian, lahirlah hidup yang lebih indah dan langgeng abadi. Allah tak pernah alpa sesaat pun dalam memberikan kuat kuasa Rohnya bagi siapa saja. Dipandang dari sisi Allah, semuanya indah, terang dan menyejukkan. Syaratnya apa? Pandanglah Yesus yang bangkit itu. Dengannya kita akan menikmati Kerahiman Ilahi dan memberikan pengakuan yang lugas, “Ya Tuhanku dan Allahku.” (AL) Refleksi : Mari menghayati-Nya sebagai pembebas dari ketakutan dengan kuasa KerahimanNya