PEMIMPIN YANG MENGABDI PADA KEBENARAN

“Tetapi kepada para tua-tua itu ia berkata: ”Tinggallah di sini menunggu kami, sampai kami kembali lagi kepadamu; bukankah Harun dan Hur ada bersama-sama dengan kamu, siapa yang ada perkaranya datanglah kepada mereka.” (Keluaran 24:14)

Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) di kenal sebagai pemimpin yang penuh pengabdian dan pengorbanan dalam memperjuangkan kejujuran serta kebenaran. Dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk kepentingan masyarakat yang di pimpinnya. Dia tidak takut terhadap apapun juga selama berjalan dalam kebenaran. Bahkan ketika kehidupannya terancam dia tetap tenang karena yakin Allah berada di pihaknya dan senantiasa menyertainya. Kesetiaan pada tugas dan penggilannya sebagai abdi masyarakat dilaksanakan dengan sebaik mungkin.

Musa adalah abdii Allah yang menjadi perantara antara Allah dan umat Israel. Musa memimpin berbagai upacara perjanjan antara Allah dan umat Israel. Upacara perjanjian yang diadakan antara Allah dengan Israel adalah wujud formal yang memeteraikan perjanjian yang telah disetujui oleh kedua belah pihak. Allah sebagai pihak pertama, menawarkan penyertaan dan jaminan-Nya atas Israel. Israel di pihak kedua berjanji taat kepada segenap firman-Nya.

Upacara itu dimulai dengan persembahan kurban. Darah kurban yang separuh disiramkan ke mezbah (mewakili Allah) sebagai pernyataan kesetiaan Allah kepada Israel. Sisa darah kurban itu disiramkan kepada umat Israel setelah mereka menyatakan komitmen mereka. Sebagai wujud persekutuan itu, Allah berkenan menampakkan diri kepada umat Israel dan mereka (diwakili para pemimpinnya) menikmati persekutuan dengan-Nya melalui makan dan minum bersama-sama. Lalu, Musa mendapatkan tugas khusus naik ke gunung Sinai untuk menerima loh batu berisikan Sepuluh Hukum Allah dan berbagai peraturan rinci mengenai pendirian kemah suci. Musa akan kembali lagi kepada umat Israel untuk menyampaikan kepada umat Israel yang difirmankan oleh Allah kepadanya.

Allah di dalam Kristus menjanjikan penyertaan dan pemeliharaan-Nya kepada kita yang percaya. Sebaliknya kita pun dipanggil untuk mengikrarkan kesetiaan dan ketaatan kepada-Nya. Ketika kita dipercaya menjadi seorang pemimpin bagi banyak orang, tetaplah setia kepada kebenaran karena Allah tetap setia kepada kita. Beranilah melangkah dalam menegakkan kebenaran karena kita tidak sendiri. Allah akan memampukan kita dan juga memberikan rekan-rekan kerja yang mendukung kita. Nyatakan komitmen kita untuk lebih setia dan mengasihi Dia yang sudah lebih dahulu setia dan mengasihi kita.(RCM) Refleksi : Pemimpin yang benar berjalan bersama Allah.

HIDUP DAN TERANG YESUS

Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
(Yohanes 1:4-5)

Dalam falsafah Jawa, Ki Ageng Surya Mentaram, ada salah satu ajarannya yang cukup menarik, “urip urup” yang dalam bahasa Indonesia artinya hidup itu menyala. Ajaran ini menjelaskan bagaimana kehidupan yang dimiliki oleh
seseorang itu harus memberi manfaat bagi orang lain, sebagai penjelasan dari kata menyala tersebut. Demikianlah orang Jawa diharapkan menjalani hidupnya.

Ayat di atas sebagai bagian awal dari Injil Yohanes sangat menarik, yang menjelaskan siapa Yesus Kristus. Pada kalimat “Dalam Dia ada hidup…” seharusnya kata ada bukan berarti punya seperti dalam bahasa Indonesia, melainkan dalah, dari kata h=n (Baca:en). Sehingga kata tersebut menjelaskan sebuah identitas atau eksistensi Yesus yang di sini adalah hidup, dan hidup itulah terang bagi manusia. Maksud terang bagi manusia dapat jadi adalah panduan, seperti disampaikan dalam kaitan dengan kegelapan. Kata terang dalam Alkitab sering dikaitkan dengan peran pelita. Pelita itu memberi cahaya dalam kegelapan, memberikan panduan atau arah bagi jalan yang hendak ditempuh atau dilewati oleh seseorang. Bayangkan saja jika seseorang berjalan di tempat yang sangat gelap, tentu saja tidak mudah dan berbahaya.

Dalam kehidupan ini tidak jarang kehidupan kita diperhadapkan pada ruang-ruang ketidakpastian atau kegelapan. Misalnya di Kampus seorang Dosen dapat mengalami kegalauan dalam menjalani profesinya yang telah dijalani secara rutin, melakukan hal yang sama, bertahun-tahun, hingga kehilangan tujuan dalam pekerjaannya. Dalam kondisi ini seringkali manusia sering kehilangan makna hidupnya, menjadi hampa dan tidak berharga. Beberapa orang mencoba bertahan dan menghibur diri saja, “Yah dijalani saja” seakan-akan sudah tiada lagi pilihan lain. Dalam kondisi seperti inilah sangat baik sekali jika kita kembali memandang siapa yang adalah Sang Hidup yang menjadi terang manusia itu. Memahami bahwa Yesus Kristus sendiri yang menjadi terang dan penuntun bagi kehidupan kita, tentu akan memberikan pengertian tentang kehidupan yang lebih baik. Dia akan menuntun kita ke jalan-jalan di mana kehidupan yang kita miliki tidak hanya sekedar untuk dijalani melainkan tertransformasi menuju
kepenuhan dan kebermaknaan. (AA)

Refleksi:
Pahamilah hidupmu di dalam Yesus Kristus untuk mendapatkan kepenuhan dan kebermaknaan yang lebih baik.

KEINDAHAN YANG ENAK DIPANDANG DAN BERGUNA

“Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang
berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji.Allah
melihat bahwa semuanya itu baik.”
(Kejadian 1:26a)
“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.”
(Kejadian 1:31)

Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan mengenai estetika, bahkan oleh para filsuf, adalah: Apakah keindahan itu harus ada arti atau gunanya? Atau apakah
keindahan boleh eksis tanpa ada tujuan tertentu? Kalau kita baca seluruh pasal yang pertama dari Firman Tuhan, di Kejadian pasal 1, kita melihat mulai hari ketiga sampai dengan hari ketujuh bahwa ada kata-kata yang khusus yang diulangi: “Allah melihat bahwa semuanya itu baik” (10, 12 18, 21, 25). Kata dalam Bahasa Ibrani yang dipakai bisa diterjemahkan: 1. pleasant, agreeable, 2. a good thing, benefit, welfare (Bible Works Genesis 1:10). Sebagai hal yang’ pleasant’, ciptaan Tuhan adalah menarik buat mata dan panca indera. Sebagai  hal yang ‘agreeable’, ada persetujuan lebih dahulu di antara Allah Tritunggal, dimana Roh Allah (Kejadian 1:2) dan Anak Allah (Ibrani 1:2) juga terlibat dalam kesatuan saat menciptakan isi dunia ini, apalagi dalam keputusan bersama sebelum menciptakan manusia (Berfirmlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” Kejadian 1:26). Tetapi kata-kata yang dikelompokkan di definisi kedua menunjukkan ada manfaatnya, ada sesuatu yang baik sebagai tujuannya (‘benefit, welfare’). Tunas muda dan tumbuhan yang berbiji, serta pohon “yang menghasilkan buah yang berbiji”di taman Eden berguna dan sangat bermanfaat bagi manusia. Keindahan tunas muda, tumbuhan, dan pohon sungguh sangat indah dan bervariasi warna hijaunya. Itu sudah ‘pleasant’ buat mata kita.Apalagi keindahan itu diciptakan dengan manfaat secara khusus bagi manusia sebagai makanannya (Kejadian 1:30), tentunya tanpa pestisida, 100% murni, gurih dan penuh khasiat demi kesehatan.

Kita dapat bersyukur adanya Taman Eden di Maranatha.Kita dapat menikmati ciptaan Allah di alam terbuka atau melalui jendela ruang kuliah dan bersyukur kepada Sang Pencipta kita.Waktu Tuhan memperhatikan segala yang Ia ciptakan, termasuk manusia, baru dalam perfection itu Allah mengatakan “amat baik.” Tuhan tidak merendahkan kita tetapi menganggap ciptaan manusia penuh value, amat baik, disediakanNya segala yang manusia butuhkan. (CG)
Refleksi:
Apakah saya sudah memperhatikan keindahan ciptaan Tuhan hari ini?Atau apakah saya membiarkan diri terlalu disibukkan dengan segala macam tugas untuk disegarkan Tuhan lewat ciptaanNya?

MENJADI REALISTIS

“Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing”

(Roma 12:3

 

Kata-kata Rasul Paulus seperti kita kutip di atas merupakan nasihat kepada para orang percaya supaya bersikap realistis terhadap diri sendiri. Memang, ada orang yang menilai dirinya sendiri terlalu rendah, dan ada pula yang terlalu tinggi. Keduanya tidak sesuai dengan kenyataan. Penilaian yang terlalu rendah terhadap diri sendiri, membuat orang menjadi rendah diri atau selalu merasa “minder”; suatu sifat negatif yang merugikan diri sendiri dan sering juga orang lain. Sebab, dengan sifat yang seperti itu orang cenderung tidak berani melakukan hal-hal yang sebenarnya harus dan dapat dilakukannya. Sebaliknya, penilaian yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri membuat orang menjadi sombong dan memandang rendah orang lain. Suatu sifat yang negatif, yang merugikan diri sendiri dan juga orang lain.

 

Untuk dapat memberikan penilaian yang tepat mengenai diri sendiri, Paulus menasihatkan supaya kita menggunakan “ukuran iman”. Sebagaimana kita ketahui, di dalam iman, kita mengakui kekurangan dan ketidak-berdayaan kita, namun yang oleh kuasa dan kasih Kristus, dimampukan menjalani kehidupan ini dengan kasih dan ketaatan kepada kehendak-Nya, sehingga memperoleh keselamatan. Dengan pemahaman iman yang demikian, kita akan terdorong untuk “mengendalikan dan menguasai diri”, sehingga tidak membuat penilaian yang terlalu tinggi atau pun terlalu rendah terhadap diri sendiri. Dengan sikap yang demikian, kita akan terlepas dari ancaman bahaya menyombongkan diri sendiri dan meremehkan orang lain, maupun pesimisme yang melumpuhkan tekad dan kemampuan. (AL)

 

 

Refleksi :

Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. —1 Petrus 5:5

JIKA ALLAH DI PIHAK KITA

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kiita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? “ (Roma 8:31-32)

Jonathan K. Parker adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di University of California di Santa Cruz, ketika ia dan seorang temannya mengajukan suatu usulan untuk memberikan kuliah yang berjudul “The Theology of Francis Schaffer”. Kebijakan kampus membolehkan seorang mahasiswa tingkat ahir untuk mengajar topik tertentu, tetapi harus melalui proses pendaftaran. Mereka menyerahkan deskripsi mata kuliah beserta silabus kepada ketua program studi agama (Religious Study Department). Sang ketua progam adalah seorang doktor lulusan Jerman, non-Kristen, yang walaupun bukan orang percaya menghargai usulan dari kedua mahasiswa tersebut dan berjanji akan mendiskusikannya dengan dewan dosen.

Dalam rapat dewan dosen, salah seorang dosen berusaha menggagalkan usulan mata kuliah tersebut dengan alasan bahwa Jonathan dan temannya sering melakukan penginjilan dan membuat orang lain bertobat. Namun demikian ketua progam menangkap maksud dosen tersebut yang memiliki prasangka buruk dan telah bersikap diskriminatif. Akhirnya usulan mata kuliah tersebut diterima dan mendapat dukungan dari ketua progam dan dewan dosen. Jonathan Parker dan temannya sangat bersyukur atas keputusan tersebut.

Mata kuliah tersebut menolong banyak mahasiswa yang belum pernah mendengar tentang Francis Schaffer. Itu merupakan pertama kali mahasiswa mempelajari diskusi intelektual dari perspektif Kristen, dimana mereka mengintegrasikan iman Kristen dan bidang ilmu yang mereka pelajari seperti filsafat, seni, politik. Sejak saat itu, Jonathan Parker yakin bahwa ia terpanggil untuk bekerja di bidang pendidikan tinggi. Dia menyaksikan bagaimana kedaulatan Allah bekerja di dalam diri seorang yang tidak percaya, sehingga dia punya kesempatan untuk mengintegrasikan iman Kristen dengan bidang akademik di lingkungan non-Kristen. (ROR)

 

Refleksi:
Tuhan berdaulat untuk menunjukkan kuasaNya bahkan melalui orang-orang yang tidak percaya sehingga orang-orang percaya dapat mengalami kebenaran sejati.

 

Jadwal Kegiatan

1. Sharing & Doa (Setaip Senin pk. 09.00 – 10.00)

2. Student Fellowship (Setiap Jumat pk. 11.00 – 12.30)

3. Maranatah Fellowship (Setiap Jumat pk. 11.00 – 12.30)

4. Persekutuan Doa (Setiap Selasa 14.30 – 15.30, Setiap Rabu 09.00)

5. Student Outreach (Setiap Jumat pk. 11.00 – 12.30)