v

 “Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan.” (Galatia 5:5)

Apakah kebenaran itu? Kebenaran bukanlah suatu perasaan. Kebenaran bukan pula sebuah ide saja. Kebenaran terdapat dalam Alkitab. Kebenaran itu penting bukan semata-mata karena ia benar. Kebenaran penting karena ia mendefinisikan siapa dan apa yang kita percaya. Buku berjudul Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah (All Truth is God’s Truth) yang di tulis oleh Arthur F. Holmes menuliskan bahwa pemikiran tentang kebenaran telah dimulai oleh filsafat Yunani dan terus berkembang sampai saat ini. Baik disadari ataupun tidak, mau ataupun tidak, kita akan terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran zaman tersebut dan membentuk gaya hidup kita

Paulus memperingati bahaya dari kehilangan kasih karunia. Dia menjelaskan kebenaran pada orang-orang percaya, yang berpedoman pada Injil dari Anugerah: “Sebab oleh Roh dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan…” Apa yang kita nantikan pada bagian ini adalah “harapan dari pembenaran” untuk keselamatan yang akan kita nantikan, kita tidak melakukan ‘pekerjaan’ untuk hal itu; kita menantikan kebenaran itu dengan iman; oleh karena itu oleh iman, hanya percaya pada penderitaan Kristus, kita dapat menantikan kebenaran itu. Ketika seseorang dalam Kristus, maka tidak ada yang lebih penting. Tidak ada orang bersunat, atau tidak bersunat yang dapat menambah pendirian kita kepada Allah. Semua hal itu penting apabila bersama Allah dalam Kristus oleh iman. Kehidupan kekristenan tidak hanya hidup dengan iman tanpa hidup dalam Roh Kudus, dan Roh Kudus menolong kita untuk menghasilkan pekerjaan baik oleh kasih. Iman yang bekerja karena kasih, bukan berarti bahwa kasih menambah sesuatu kepada iman, tetapi iman yang menyelamatkan adalah iman yang bekerja karena kasih. Lewat Roh dan iman kita bisa melihat kebenaran yang kita harapkan. Mata kita dicelikan sehingga mampu mengenali Yesus dan kebenaran dalam diriNya Filsafat manusia tidak dapat mencapai kebenaran yang sesungguhnya karena kebenaran yang sesungguhnya hanya dapat dikenal berdasarkan wahyu dari kebenaran itu sendiri. Tuhan Yesus mengatakan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh. 14:6) Hanya kekristenan yang mendapat wahyu kebenaran dari Sang Kebenaran itu sendiri. Apakah respons kita terhadap anugerah besar ini? Apakah kita lebih suka dengan kebenaran dunia dan seturut dunia menghina kebenaran Alkitab? (RCM) Refleksi : Yesus Kristus adalah kebenaran.

KEANGKUHAN YANG MENJERAT DAN YANG BISA

“Kemudian Haman disulakan pada tiang yang didirikannya untuk Mordekai.Maka surutlah panas hati raja.”  (Ester 7:10)

Alkisah dalam buku yang ditulis oleh Herodion Pitakarya Gunawan bercerita tentang seekor burung gagak yang diberi judul “Burung Gagak yang Jahat”. Burung gagak dalam cerita ini digambarkan bertubuh besar, gagah dan angkuh. Ia marah pada burung kutilang yang tidak takut padanya. Suatu hari datang seorang pemburu ke hutan. Gagak menghasut si pemburu untuk memanah si kutilang dengan
menawarkan bulunya sebagai anak panah. Namun, si pemburu berulang-ulang gagal memanah si burung kutilang hingga bulu burung gagak habis. Karena kesal tidak mendapatkan hasil buruan, sebagai gantinya pemburu menangkap gagak yang kini tidak dapat terbang karena bulunya sudah habis.
Haman, pembesar Kerajaan Persia, juga angkuh. Ketika Mordekhai, pegawai di gerbang istana, tidak bersedia menyembah ia marah. Ia pun menggunakan jabatan dan kedudukan politiknya untuk membunuh Mordekhai beserta seluruh orang Yahudi di kerajaan itu. Namun, tipu muslihatnya itu disingkap oleh Ester sehingga Raja Ahasyweros murka (Ester 7:1-7). Raja semakin murka ketika Haman melanggar kesusilaan istana dengan berlutut dan memohon kepada Ester yang tengah berbaring. Raja akhirnya memerintahkan agar Haman disulakan (ayat 7-9). Ironisnya Haman disulakan pada tiang yang disediakan untuk menyulakan Mordekhai (ayat 10). Ia akhirnya jatuh karena keangkuhannya.

Keangkuhan dapat menjerat kita dalam kebencian dan kepicikan. Sama halnya ketika kita menjadi seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang dipenuhi oleh rasa keangkuhan, tinggi hati tanpa melihat orang lain yang dipimpinnya, akan menggunakan cara yang penuh kebencian, kepicikan dan kemarahan. Padahal tanpa menggunakan hal tersebut, mengambil hati bawahan, mengajak bicara akan jauh lebih baik bagi seorang pemimpin terhadap bawahannya. Keangkuhan seorang pemimpin terhadap bawahannya akan menjerat pemimpin itu sendiri pada kejatuhannya. Menjadi pemimpin yang punya integritas baik, memiliki visi yang jelas akan membantu mewujudkan Maranatha mengarah ke pencapaian visi, misi, dan tujuan. (CSB)
Refleksi :
Berpegang teguh pada firman Tuhan dapat menghindarkan kita dari jerat
keangkuhan.