MENJADI SETIA

“Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah
menemukannya.”
(Amsal 20:6)

Batasan benar dan salah, baik dan tidak baik dalam era serba pragmatis, relatif dan konsumtif menjadi buram. Saat ini penilaian banyak orang sudah menjadirelatif dalam segala sesuatu. Apa pun yang dikerjakan tidak bergantung pada standar yang sudah ditetapkan tetapi tergantung pada kepercayaan dan pandangan seseorang.

Dalam Amsal ini umat Tuhan diajarkan untuk memiliki perilaku yang baik dan setia. Perilaku yang bermanfaat bagi orang lain. Raja Salomo mengamati banyak orang yang menyebutkan kebaikannya tetapi kenyataannya dalam kehidupan seharihari sulit menemukan orang yang setia. Hal ini menunjukan bahwa natur manusia yang berdosa dan cenderung melakukan perbuatan jahat. Dalam ayat sebelumnya dikatakan rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, hati manusia begitu kotor sehingga sulit membersihkannya. Namun bersyukur, pengorbanan
Kristus di atas kayu salib yang mampu membersihkan hati nurani manusia yang berdosa dan melepaskan manusia dari belenggu maut. Hati yang diperbaharui memampukan manusia untuk setia dan taat melakukan kebenaran Fiman Allah. Kesetiaan seseorang tidak ditentukan dengan situasi dan kondisi serta tidak bisa diukur dengan waktu yang pendek. Seseorang dikatakan setia bila ia didapati melakukan kebaikan dalam jangka panjang dan teruji sekali dalam berbagai situasi. Semakin banyak tantangan di zaman ini, semakin sukar kita menemukan orangorang yang kesetiaannya teruji. Berbagai macam motivasi orang melakukan kebaikan tetapi kecenderungan banyak orang akan dapat melakukan kebaikan ketika segala sesuatu berjalan dengan baik. Tantangan dunia kerja yang membuat para karyawan melupakan makna dari sebuah kesetiaan. Begitu juga dengan pemimpin di dunia kerja yang karena persaingan bisa saja melupakan dan mengabaikan makna kesetiaan yang diberikan oleh stafnya.

Kesetiaan adalah salah satu karakter Tuhan. Jadi, kita sebagai warga kampus Universitas Kristen Maranatha seharusnya memiliki kesetiaan. Apapun posisi kita, biarlah lingkungan di mana kita berada mendapati kita sebagai orang yang setia. (RZA)
Refleksi: Buktikan kesetiaanmu kepada Tuhan dalam hidup sehari-hari

MEMBERI SEMANGAT

images

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah
mengeringkan tulang”
(Amsal 17:22)

Masih mengenai kebahagiaan. Salah satu sifat orang yang bahagia adalah melakukan tindakan-tindakan yang memberi semangat kepada orang lain. Kata-kata yang mendorong dapat digunakan untuk membahagiakan orang lain. Apa yang dapat Anda lakukan ketika menemukan bahwa teman dekat, rekan kerja, pasangan, saudara kandung, atau bahkan anak Anda terlihat murung karena mereka gagal mencapai yang dicita-citakan, atau mereka menyadari bahwa mereka talah melakukan kesalahan besar dalam hidup mereka. Apakah Anda akan menyalahkan dia? Atau, Anda mencoba memberikan penjelasan rasional yang sangat masuk akal mengenai penyebab dan akibat dari kegagalan atau kesalahan yang telah diperbuatnya? Atau, Anda akan mengingatkan dia mengenai Firman Tuhan yang akan menolong dia memiliki perspektif yang kekal, sekalipun itu mungkin akan menambah rasa bersalahnya, dan Anda merasa telah melakukan hal yang benar dan percaya bahwa Anda sedang melakukan sesuatu yang membawa dia kepada kebenaran? Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah memberikan semangat bagi orang yang kita kasihi. Semangat yang akan menolong dia untuk tidak menyerah atau berputus asa. Semangat yang akan menyadarkan dia bahwa setiap orang mempunyai kemungkinan untuk melakukan kesalahan dalam hidup; dan bahwa setiap orang juga memiliki kemungkinan untuk mengalami kegagalan. Dari pada fokus kepada kesalahan ataupun kelemahan yang menyebabkan kegagalan, lebih baik dia fokus kepada kekuatan dan kemungkinan untuk mengatasi kegagalannya dengan baik. Sebab kegagalan bukanlah akhir dari segala sesuatu. Orang berhasil bukanlah orang yang tidak pernah mengalami kegagalan, melainkan orang yang bangkit dari kegagalannya dan mencoba lagi. Tidak mungkin juga ada orang di dunia ini yang tidak pernah melakukan kesalahan. Sama seperti yang seharusnya kita lakukan, kita mendorong orang yang kita kasihi untuk belajar dari kesalahannya dan mencoba lagi dengan upaya yang lebih baik. Hati yang gembira datang dari hati yang bersyukur akan kasih karunia dan kedaulatan Tuhan dalam hidupnya. (RO)

Refleksi :
Apakah Anda mau menjadi obat yang manjur hari ini? Mari kita memberikan
semangat kepada orang lain hari ini.

TRANSFORMED BY GOD

Pengantar

Bagi anda penggemar layar lebar, pasti pernah melihat salah satu film besutan sutradara Michael Bay yang yang berjudul Transformer. Film bergenre sci-fi ini menunjukkan bagaimana robot-robot baik di bawah pimpinan Optimus Prime berjuang bersama-sama dengan manusia untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran melawan para Robot yang Jahat di bawah Decepticon. Yang menarik adalah sebelumnya para robot-robot tersebut berbentuk mobil sport, truk, yang kemudian berubah wujud robot-robot perkasa yang. Mungkin itulah sebabnya mungkin mengapa para robot-robot itu disebut transformer sebab mereka berubah wujud.

Berbicara tentanga transformasi adalah berbicara tentang perubahan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) transformasi diartikan perubahan rupa bentuk, sifat, atau fungsi. Mentransformasi artinya  mengubah rupa bentuk, sifat, atau fungsi tersebut. Salah satu contoh yang bisa digunakan untuk menjelaskan kata ini adalah perubahan yang terjadi pada kupu-kupu, yakni perubahan dari bentuk ulat menjadi kepompong yang kemudian menjadi kupu-kupu dengan sayapnya yang indah. Namun demikian ini bukan sebuah perubahan yang memang semestinya terjadi sebab pada hakikatnya perubahan itu memang sudah ada dari sananya. Perspektif pemaknaan kata transformasi adalah perubahan yang ditujukan untuk suatu tujuan.  Ada daya aktif yang diperlukan untuk melakukan perubahan tersebut.

Dalam pembahasan menunju sebuah dasara dari keimanan, menjelaskan bagaimana Tuhan mentransformasi manusia,  Rasul Paulus menjelaskan sebuah konsep yang sangat menarik kepada Jemaat di Korintus dalam nats sebagai berikut: Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. (II Korintus 5:17) Untuk itu marilah kita membedah ayat tersebut ke dalam pembahasan-pembahasan sebagai berikut terkait dengan transformasi hidup dalam perspektif keimanan Kristen.

DARI MANA DIMULAI?

Kekristenan sendiri adalah mengenai hidup yang dirubahkan. Keyakinan Kristen dimulai dari perubahan yang ada dalam kehidupan seseorang. Pertanyaannya dari mana awal kehidupan orang percaya itu dirubahkan? Ada banyak cara orang mengusahakan suatu perubahan dalam kehidupannya. Misalnya perubahan yang dihasilkan karena motivasi atau pengembangan mental positif. Namun perubahan dalam kekristenan lebih dari pada sekedar kekuatan kata-kata atau mental positif. Perubahan dalam kekristenan bersumber pada keyakinan pada Yesus Kristus yang menjadi sentral dalam ajaran kekristenan. Esensi kekristenan itu sendiri ada di dalam pribadi, hidup dan pengajaran Yesus Kristus.

Pada penggalan bagian pertama ayat tersebut “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus” menurut Ellicott (http://biblehub.com/commentaries/2_corinthians/5-17.htm) menjelaskan konsep Rasul Paulus tentang penyatuan antara manusia dengan Kristus melalui iman yang diteguhkan melalui pembaptisan. Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. (Roma 6:3-4). Baptisan seperti adalam Matius 28:19-20 adalah sebuah bentuk pengakuan iman, inisiasi bahwa seseorang memilih untuk hidup di dalam Yesus.

Jadi awal dari kehidupan seorang percaya agar bisa mengalami proses transformasi adalah ketika seseorang mulai hidup dalam persekutuan bersama dengan Yesus Kristus. Sebab Yesus adalah pusat dari berita Injil yang adalah kekuatan Allah yang tidak hanya menyelamatkan kehidupan orang yang percaya (Roma 1:16), melainkan juga merubahkan apa apa yang ada di dalamnya.  Marilah kita lihat apa yang menjadi perubahan tersebut.

Manusia yang Lama dan Manusia Baru

Selanjutnya yang dijelaskan dalam nats surat Korintus tersebut adalah sebuah kontras pada perubahan itu sendiri yang dijelaskan dengan istilah Manusia Lama dan Manusia Baru. Alkitab banyak menggunakan istilah ini dalam berbagai konteks. Dalam keimanan Kristen keyakinan dalam Yesus Kristus menghasilkan sebuah proses transformasi yang sangat nyata. Bahasa rohaninya dijelaskan dengan istilah pertobatan, atau secara umum terjadinya perubahan orientasi dalam kehidupan manusia.

Manusia lama adalah manusia yang hidup menurut kemauan dirinya sendiri. Alkitab menjelaskan dengan istilah sark atau kedagingan. Kehidupan yang dipenuhi oleh keinginan-keinginan sendiri yang sebagiannya tidak memuliakan Allah namun hidup dalam keberdosaan. Menarik sekali memahami bahwa manusia memiliki daya atau dorongan dalam dirinya untuk melakukan perbuatan-perbuatan rendah yang tidak terkendali yang merusak dirinya sendiri. Inilah sumber yang menciptakan suatu kondisi dehumanisasi yakni manusia yang berperilaku rendah yang mengumbar hawa nafsu dan kejahatan dari dalam dirinya. Inilah yang dicatat oleh Rasul Paulus mengenai perilaku tersebut: “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu.” (Galatia 5:19-21a)

Sedangkan mereka yang mengalami perubahan dalam Yesus mereka dipulihkan dari dosa atau keberdosaan melalui kuasa penebusan lewat kematianNya. Dasar dari transformasi kekristenan adalah pengampunan dosa yang diberikan kepada manusia. Esensi dari pengampunan itu sendiri adalah pembebasan manusia menuju kehidupan yang lebih berpengharapan di dalam Tuhan. Mereka kemudian menjadi manusia baru yang memiliki kehidupan baru yang berorientasi pada Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah sebuah sistem atau pola kehidupan yang bersumberkan pada kebenaran, yang tentu saja berseberangan dengan sifat-sifat di atas. Rasul Paulus menjelaskan bahwa kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus yang menghasilkan perubahan ke dalam, yakni bertumbuhnya karakter sebagai berikut: “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. (Galatia 5:22-23).

Jadi hasil dari sebuah transformasi itu adalah sebuah kesadaran di dalam diri manusia untuk kemudian berusaha melepaskan diri  dari kebiasaan rendah manusia lama yang mengumbar hawa nafsu menuju kehidupan yang lebih terkendali atau memiliki penguasaan diri, yang tentu saja adalah hasil atau kolaborasi manusia dalam meresponi pimpinan Allah dalam kehidupannya melalui Roh Kudus.

Yang Sudah Berlalu dan Yang Sudah Datang

Jika permainan kata, ini adalah penyusunan kata-kata yang sangat luar biasa yang menjelaskan sebuah proses transisi yang sangat jelas dan menyakinkan dalam sebuah time setting. Namun kenyataannya ini adalah kebenaran Firman Tuhan yang membuatnya menjadi lebih meyakinkan bahwa proses perubahan yang terjadi dalam kehidupan orang percaya yang hidup di dalam Yesus adalah suatu hal yang sangat jelas dan meyakinkan. Yang sudah berlalu adalah manusia lama seperti yang dijelaskan dalam ayat-ayat dalam surat Galatia tersebut di atas, dan yang baru adalah seluruh hak-hak yang bisa diterima bagi mereka yang memilih untuk hidup di dalam naungan Yesus Kristus.

Hak pertama tentu saja berbicara tentang pengampunan dosa, bahwa kehidupan setiap orang percaya adalah menuju keselamatan seperti yang telah dijanjikan Allah. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, vmelainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16). Hak kedua adalah providensia diberikan Allah kepada umatNya. “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. (Matius 6:25). Hak ketiga adalah hak pertumbuhan bagi mereka yang hidup di dalam Kristus. “Di bawah pimpinan Kristus, seluruh tubuh dipelihara dan disatukan oleh sendi-sendinya, serta bertumbuh menurut kemauan Allah.” (Kolose 2:19b) .Hak keempat adalah penyertaan atau perlindungan Allah bagi umatNya sepanjang jaman. “Dan ingatlah Aku akan selalu menyertai kalian sampai akhir zaman.” (Matius 28:20b).

Tujuan Hidup yang Bertansformasi

Jika ulat bertansformasi menjadi kupu-kupu menunjukkan sebuah proses menuju pada sebuah keindahan hidup dari penampilan yang buruk rupa, apa tujuan dari transformasi yang dilakukan Allah bagi umatNya?  Apa perlunya kehidupan seseorang ditransformasi oleh Allah seperti tertera dalam judul artikel ini? Ayat ini sangat tepat untuk kita gunakan sebagai dasar tujuan bagi transformasi tersebut: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” (I Petrus 2:9).

Dalam konteks teologi Perjanjian lama Israel dipilih Allah untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Lalu melalui keturunannya yakni Yesus Kristus dalam konteks teologi Perjanjian Baru seluruh bangsa di seluruh dunia mendapatkan berkat keselamatan. Lalu apa tujuan Allah memilih kita menjadi orang percaya yang mengalami transformasi hidup di dalam Allah melalui Yesus Kristus?

Ayat ini menjelaskan mengapa Allah memilih kita dalam hak kepemilihannya “yakni supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia.” Tak pelak panggilan dalam keyakinan dan keimanan Kristen adalah sebuah panggilan juga tentang kesaksian hidup yang telah diberikan Allah kepada kita. Sebuah kesaksian tentang bagaimana Allah telah memberikan perubahan hidup melalui Yesus Kristus. Paling tidak ada empat hak di atas yang menjadi karya Allah di dalam kehidupan orang percaya. Itulah sebabnya ketika Yesus mengatakan kepada para pengikutNya kamu adalah garam dan terang dunia (Matius 5:13-14), itu adalah sebuah penunjukkan identitas yang berkesaksian. Garam dan terang adalah sebuah analogi yang jelas mengenai keberfungsian orang percaya di tengah-tengah dunia ini. Bahkan selanjutnya Yesus berkata dengan sangat tegas: “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Jika transformasi yang kita alami tidak memberikan pengaruh bagi sekeliling kita, mungkin saja belum terjadi transformasi dalam kehidupan kita. Sebab apa yang dikatakan Yesus di atas sangat jelas tentang apa yang menjadi tujuan dari transformasi tersebut. Allah mentransformasi kehidupan kita agar kita memberikan dampak atau pengaruh bagi orang lain. Dan bisa jadi itu secara otomatis. Marilah kita perhatikan satu ayat lagi sebagai berikut: “tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus  untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air  di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yohanes 4:14). Kehidupan orang yang dirubahkan oleh Allah adalah air hidup yang memancar. Allah memberikan air hidup dalam kehidupan kita, dan kehidupan kita memancar bagi orang lain.

Aplikasi Penutup

Agar kita tidak terjebak juga dalam konsep pemikiran spiritualis saja, marilah kita membedah hal tentang hidup yang ditransformasi Allah dalam konteks kehidupan sehari-hari, bagaimana kita menjalani kehidupan di dunia ini. Kesaksian hidup itu sangatlah luas bukan hanya ketika Anda memberitakan berita Injil secara verbal kepada orang lain. Bahkan dalam konteks transformatif hal-hal yang bersifat verbalistik bukanlah hal yang utama. Hal yang paling diutamakan dalam kehidupan orang yang mengalami transformasi adalah kesaksian seseorang dalam kehidupan nyata. Rasul Paulus mengibaratkan kehidupan seperti ini seperti surat terbuka yang dibaca oleh banyak orang: ““Saudara sendirilah surat pujian kami, yang tertulis di dalam hati kami dan yang dapat diketahui dan dibaca oleh setiap orang. Mereka sendiri dapat melihat bahwa Saudara merupakan surat yang ditulis Kristus, yang dikirim melalui kami. Surat itu ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh Allah yang hidup; bukan juga di atas batu tulis, tetapi pada hati manusia.” (II Korintus 3:2-3).

Jadi misalnya kesaksian hidup dalam dunia profesi di mana seorang percaya seharusnya menunjukkan sebuah prestasi kerja yang produktif dan gemilang sehingga apa yang dilakukannya dapat membawa pengaruh dan kemajuan bagi orang-orang yang ada di lingkup kerjanya, dan bukan sebaliknya menjadi orang yang tidak produktif.  Atau kesaksian dalam keluarga di mana seorang ayah atau ibu bisa memberikan teladan yang baik bagi anak-anaknya agar mereka memiliki rasa aman, cukup rasa kasih sayang dalam keluarganya, dan membangun sebuah keluarga yang mampu memberikan jaminan masa depan yang baik. Atau kesaksian seorang sahabat yang selalu hadir dan memberikan dorongan pada sahabatnya untuk memiliki kehidupan yang lebih baik dan memberikan semangat positif pada saat sedang jatuh.

Jadi kesimpulan terakhirnya adalah transformasi adalah sebuah perubahan orientasi yang dihasilkan menuju kehidupan yang lebih baik dan bertanggung jawab sebagai akibat dari persekutuan hidup di dalam Yesus Kristus. Dan transformasi kehidupan itu ditujukan agar seseorang mampu memberikan pengaruh atau kesaksian positif bagi sekelilingnya. Memancarkan kehidupan sebagai anak-anak Allah yang menjadi berkat bagi sesama.

Amos Tatag Triyahyo Adi, S.Th

Penulis adalah mahasiswa Pasca Sarjana Bandung Theological Seminary. Bergerak di bidang pelayanan literatur untuk pemberdayaan dari Lembaga Seni Hidup, penggagas gerakan sosial Jesus People dan konsultan terkait implementasi nilai dan pembentukan sistem dalam organisasi.

Pengembangan Integritas Diri

Oleh: Robert Oloan Rajagukguk *)

 

Integritas diri merupakan hakekat kepribadian seorang manusia. Integritas diri menggambarkan keutuhan suatu pribadi. Tanpa integritas diri, maka pada dasarnya seseorang mengalami keterbelahan dan ketidak-utuhan diri. Integritas diri juga menjadi ciri kedewasaan sebuah pribadi. Dapat dibayangkan sebuah pribadi atau seseorang yang tidak memiliki keutuhan pribadi. Dia akan menampilkan diri yang tidak sebenarnya; bisa dalam bentuk kepura-puraan, ketidak-aslian, ataupun kebingungan. Apa yang dipikirkan atau bahkan diyakini tidak sejalan dengan apa yang dikatakan dan yang dilakukan. Seorang yang tidak memiliki integritas diri akan menampilkan diri yang tidak asli, tidak konsisten, tidak dapat diandalkan, dan tidak mantap.

Integritas diri sebenarnya dibangun di atas perkembangan jatidiri atau identitas diri. Itulah sebabnya seseorang yang belum mantap dalam perkembangan jati dirinya akan sulit sekali membangun kehidupan yang berintegritas. Seseorang yang tidak mengenal diri dengan baik, kekuatan dan kelemahannya, kelebihan dan kekurangannya, tidak akan pernah mencapai perkembangan integritas diri yang diharapkan. Orang yang mengenal diri dengan baik selanjutnya diharapkan dapat menerima dirinya, memanfaatkan kekuatan dengan baik serta mengembangkan kelemahan dan kekurangan diri sebagai upaya menyesuaikan diri dengan baik di lingkungannya; dan sebagai bagian dari proses pertumbuhan pribadi (personal growth). Jati diri yang mantap ditandai oleh pengembangan kompetensi-kompetensi diri yang memadai untuk menghadapi kehidupan sehari-hari. Kompetensi diri ini dapat berupa ketrampilan-ketrampilan hidup yang mendasar (basic life skills), yang meliputi ketrampilan dalam mengurus keperluan diri secara fisik/manual (mengurus kebersihan dan kesehatan fisik) maupun ketrampilan dalam berinteraksi dengan orang lain (memulai kontak sosial dan membina hubungan dengan orang lain). Jati diri yang mantap juga ditandai oleh kemampuan mengelola emosi, baik emosi yang bersifat negatif maupun emosi yang bersifat negatif. Emosi yang bersifat negatif adalah emosi-emosi yang membuat seseorang down, seperti sedih, kecewa, merasa tidak berharga ketika mengalami kondisi kesepian, penolakan, respon orang lain yang tidak menyenangkan. Sedangkan emosi yang positif adalah emosi-emosi yang membuat seseorang up , seperti senang, terhibur, bangga, merasa dihargai atau diperhatikan pada waktu kebutuhannya terpenuhi, pada waktu mendapat perlakuan yang baik, mendapat penghargaan, pujian, dll. Jati diri yang mantap juga ditandai oleh kematangan dalam menjalin relasi dengan orang lain, yaitu keadaan dimana seseorang dapat menerima dan menghargai perbedaan atau keunikan dirinya dibandingkan orang lain, baik dalam ciri kepribadian, keunikan latar belakang jender, budaya, pilihan karir, dan sebagainya. Kematangan sosial yang menjadi modal untuk menjalin hubungan yang lebih akrab atau intim dengan orang lain (baik dalam bentuk persahabatan maupun dalam hubungan berpacaran atau suami istri). Penerimaan dan penghargaan ini kemudian diterapkan dalam kehidupan sosialnya, sehingga memberikan kepuasan dan keleluasaan dalam menjalin relasi dengan orang-orang di sekitarnya, dimanapun dia berada. Kemampuan menerima dan menghargai orang lain ini juga menolong untuk mengembangkan jati diri yang mantap dalam mengembangkan kehidupan yang salingtergantung (interdependen) dengan orang lain. Kesalingtergantungan ditandai dengan kemampuan untuk memberi pertolongan yang dibutuhkan orang lain dan menerima pertolongan dari orang lain pada saat yang tepat.

Pengembangan integritas diri dibangun diatas pengembangan jatidiri, yang mencakup ketrampilan hidup dasar, kemampuan mengelola emosi, kemampuan mengembangkan relasi sosial yang matang, dan kemampuan untuk menjadi interdependen. Jati diri yang mantap juga didasarkan pada perkembangan nilai-nilai diri atau keyakinan yang  jelas dan dipegang atau diyakini dan diterapkan secara konsisten. Perkembangan ini tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses penanaman nilai, pengujian nilai, pengalaman internalisasi pribadi, sampai kepada pembuktian konsistensi penerapan nilai dalam kehidupan sehari-hari. Proses penanaman nilai dimulai sejak kanak-kanak, remaja, hingga dewasa. Sedangkan pengujian nilai berlangsung sepanjang kehidupan (melalui pergumulan hidup, kesusahan ataupun kesenangan) sehingga terbentuk akumulasi kebenaran-kebenaran yang menambah keyakinan akan nilai-nilai yang dipegang sebagai prinsip-prinsip hidup. Demikian pula pengalaman internalisasi terjadi secara terus menerus didalam kehidupan manusia. Proses internalisasi terjadi ketika seseorang menjadikan nilai-nilai tertentu menjadi bagian dari dirinya sendiri, bukan hanya sebagai aturan yang berlaku di masyarakat atau komunitasnya. Akhirnya, pembuktian konsistensi penerapan nilai-nilai yang diyakini tersebut terjadi setiap saat, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, bulan, tahun, dan seterusnya, sampai seseorang meninggalkan dunia.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pengembangan integritas diri merupakan pergumulan sepanjang rentang kehidupan, yang dimulai sejak masa kanak-kanak hingga masa tua atau sampai akhir hayat (sebagian orang tidak hidup sampai masa tua). Bagaimana seseorang mengembangkan integritas pribadi akan menentukan bagaimana ia menjalani kehidupannya; apakah akan menjalaninya dalam kehidupan yang bahagia penuh makna dan kepuasan hidup karena telah menjalani kehidupan yang utuh, atau akan menjalaninya dengan kehidupan yang tidak bahagia, tanpa makna yang tidak memuaskan, penuh kepura-puraan dan kebingungan. Mengembangkan kehidupan yang berintegritas adalah suatu keniscayaan yang sejalan dengan hakekat manusia sebagai makhluk berakal dan berakhlak mulia sebagaimana Tuhan ciptakan. Sebaliknya, kehidupan yang tidak berintegritas adalah kehidupan yang membingungkan dan tidak sesuai dengan maksud penciptaan.

 

*) Penulis adalah dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, konsultan pengembangan diri dan karir, pengajar mata kuliah Kode Etik Psikologi, Psikoterapi dan Psikologi Integratif (Integrasi Psikologi dan Spiritualitas).

Menerima Cinta(Kristus) yang Memerdekakan

Pendahuluan

Senin, 28 Oktober 2013 pagi saya bergegas menutup kelas saya karena di lapangan parkir FSRD diselenggarakan upacara bendera memperingati Hari Sumpah Pemuda. Sudah lama rasanya saya tidak ikut upacara bendera. Meski tidak saya ikuti hingga selesai karena ada hal lain yang saya harus kerjakan, beberapa menit melihat Merah Putih berkibar sembari memberi hormat membuat saya berpikir: apa yang ada di benak pemuda di tahun 1928 ketika mereka mengucapkan sumpah itu? Adakah sumpah itu diucapkan terpaksa, atau justru dengan sukarela dan kesadaran?

Ahok, Wagub Jakarta dalam acara Mata Najwa di Metro TV Edisi 30 Oktober 2013 berkata: “ Kita ini pejabat yang disumpah. Kebanggaan saya adalah bahwa saya disumpah untuk mengemban jabatan ini. Jika saya melakukan pekerjaan saya, saya tidak perlu dapat penghargaan lagi karena itu memang tugas saya….itu memang sumpah saya.” Ungkapan beliau memberi kesan bahwa ia orang yang sangat sadar ketika melakukan sumpah itu dan tidak tampak adanya unsur keterpaksaan.

Jika kita melihat seorang pejabat publik mengucapkan sumpah pada saat di lantik, ataupun ketika seorang pejabat struktural di lingkungan Universitas Kristen Maranatha mengucap janji dalam upacara pelantikan, tidakkah ada yang juga bertanya perihal ada atau tidaknya keterpaksaan dalam melakukannya? Adakah yang bersangkutan sadar penuh akan janji itu dan juga segala konsekuensinya? Bahwa ketika ia melayani mahasiswa, melayani dosen-dosen dan melakukan fungsinya, ia seharusnya tidak melakukannya demi penghargaan apapun karena itu adalah konsekuensi dari janjinya. Bahwa ia bebas merdeka ketika mengucap janji itu dan bebas  merdeka melakukan konsekuensinya, tanpa pamrih dan dengan ketulusan.

Saya pikir, ini adalah isu besar kepemimpinan di lingkungan Universitas Kristen Maranatha yang perlu direnungkan; bukan berarti bahwa pemimpin-pemimpin di lingkungan Universitas Kristen Maranatha tidak punya kualitas itu, namun pemimpin-pemimpin ini perlu selalu sadar akan sikap hidupnya dalam seluruh kesehariannya sebagai pemimpin di lingkungan Universitas Kristen Maranatha. Tulisan ini akan menggali generator utama yang mendorong kesadaran akan fungsi dan tugas masing-masing pemimpin di lingkungan Universitas Kristen Maranatha terkait dengan janji jabatan yang diucapkannya.

 

Belajar dari Shakiyr

                Secara etimologis, kata “hamba” dalam Kitab Suci merujuk pada lima istilah; empat diantaranya dalam bahasa Ibrani yaitu “Abad”, “Ebed”, “Sharath” dan “Shakiyr”;  dan satu lagi dalam bahasa Yunani yang sering kali kita dengar yaitu “Doulos”.  Terkait dengan isu di atas, saya akan membahas satu saja yaitu “Shakiyr”.

Apa itu “Shakiyr”? Ulangan 15:12-18 menuliskan sebuah tradisi Yahudi tentang perhambaan. “Apabila seorang saudaramu menjual dirinya kepadamu, baik seorang laki-laki Ibrani ataupun seorang perempuan Ibrani, maka ia akan bekerja padamu enam tahun lamanya, tetapi pada tahun yang ketujuh engkau harus melepaskan dia sebagai orang merdeka. Dan apabila engkau melepaskan dia sebagai orang merdeka, maka janganlah engkau melepaskan dia dengan tangan hampa, engkau harus dengan limpahnya memberi bekal kepadanya dari kambing dombamu, dari tempat pengirikanmu dan dari tempat pemerasanmu, sesuai dengan berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kauberikan kepadanya. Haruslah kauingat, bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau ditebus TUHAN, Allahmu; itulah sebabnya aku memberi perintah itu kepadamu pada hari ini. Tetapi apabila dia berkata kepadamu: Aku tidak mau keluar meninggalkan engkau, karena ia mengasihi engkau dan keluargamu, sebab baik keadaannya padamu, maka engkau harus mengambil sebuah penusuk dan menindik telinganya pada pintu, sehingga ia menjadi budakmu untuk selama-lamanya. Demikian juga kauperbuat kepada budakmu perempuan. Janganlah merasa susah, apabila engkau melepaskan dia sebagai orang merdeka, sebab enam tahun lamanya ia telah bekerja padamu dengan jasa dua kali upah seorang pekerja harian. Maka TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala sesuatu yang kaukerjakan.”

                Pemahaman bebas dari Shakiyr berdasarkan penggalan perikop di atas adalah seorang hamba yang dengan bebas merdeka memperhambakan dirinya pada seorang tuan karena ia dikasihi tuannya dan baik keadaannya, sehingga iapun mengasihi tuannya dan keluarganya. Itulah seorang “Shakiyr”.  Seorang yang seharusnya merdeka dalam pengertian tidak lagi menghamba pada seorang tuan, tapi menggunakan kemerdekaannya untuk memilih menjadi hamba. Keputusan yang dia ambil untuk terus menghamba adalah keputusan sadar yang ia buat sebagai orang merdeka. Ia berhak memilih untuk keluar sebagai orang merdeka, namun ia pun berhak memilih untuk tinggal. Ini adalah keputusan besar yang menentukan kehidupannya.

                Yang menarik adalah motif yang membuat ia mengambil keputusan itu. Motifnya semata-mata adalah “cinta”. Cinta yang ia terima selama ia melayani tuannya membuat ia berani dengan kesadaran mengambil keputusan menghamba selama-lamanya. Keputusan itu adalah keputusan bebas; sebuah keputusan yang diambil tanpa paksaan.

                Cinta memang sesuatu yang seharusnya membawa kebebasan/kemerdekaan. Keputusan yang diambil atas motif “cinta” adalah keputusan bebas yang membawa seseorang masuk dalam kesadaran penuh akan keputusannya dan konsekuensinya juga. Meskipun tampak dari luar bahwa keputusan itu menjadikan dia tidak bebas merdeka, namun sesungguhnya itulah kemerdekaan yang sejati.

 

 

Kemerdekaan Cinta dan Cinta Kemerdekaan

                Ketika seorang pria mempersunting seorang wanita menjadi istrinya dan mereka berdua berdiri di depan altar untuk mengucap janji setia, janji yang diucapkan adalah janji untuk mencintai pasangannya dalam susah maupun senang, dalam sakit maupun sehat, dalam miskin maupun kaya. Singkatnya dalam segala keadaan saling mencintai satu sama lain. Janji itu harus diucapkan tanpa paksaan dan perlu disadari juga bahwa janji itu membawa konsekuensi. Janji saling mencintai ini akan menjadi janji dengan konsekuensi yang sangat berat jika janji ini dilakukan terpaksa dan tidak sungguh-sungguh didasari cinta. Namun setika mereka sungguh-sungguh saling mencintai, dan melakukan janji itu dengan sadar tanpa paksaan, maka konsekuensi itu tidak lagi akan terasa berat.

                Yesus berkata dalam Injil Yohanes 8:31-32:“Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

                Yesus berkata bahwa “kebenaran” itu akan memerdekakan. Yang Ia maksud dengan kebenaran tidak lain adalah cinta Tuhan yang sempurna, yang mau membawa manusia kembali dekat dengan Dia; cinta yang menebus dan menyelamatkan; cinta yang membawa kegembiraan.   Cinta pada hakikatnya memerdekakan. Cinta Tuhan kepada kitapun adalah cinta yang memerdekakan. Cinta Tuhan membuat manusia yang awalnya kehilangan kemuliaan Allah dan terpisah dari Allah karena dosa, kemudian bisa kembali berelasi dengan Allah. Cinta Tuhan membuat manusia yang awalnya hidup dalam kekuatiran dan ketakutan, menjadi hidup dalam kasih karunia, damai sejahtera dan sukacita. Kemerdekaan manusia adalah konsekuensi dari cinta Tuhan yang diterimanya.

                Ketika cinta Tuhan yang diterimanya itu kemudian berkonsekuensi membuat manusia jadi tidak bisa hidup seenaknya dan harus hidup sesuai dengan standard hidup murid-murid Kristus, itu bukan lagi dilihat sebegai belenggu. Itu akan menjadi bagian dari kehidupan cinta yang dipilihnya secara  merdeka.            Mereka yang menyadari akan kemerdekaan yang ia peroleh karena cinta Tuhan yang ia terima, akan juga mencintai kemerdekaan itu dengan tidak membelenggu sesamanya.

                Seorang pemuda yang sungguh-sungguh mencintai kekasihnya, saya yakin tidak akan pernah memaksa kekasihnya untuk melakukan hubungan seksual dengan dia sebelum mereka menikah. Seorang jendral yang sungguh-sungguh mencintai anak buahnya, saya yakin tidak akan pernah mengorbankan keselamatan anak buahnya demi keselamatan dirinya. Seorang pemimpin yang sungguh-sungguh mencintai institusi yang ia pimpin, saya yakin tidak akan pernah melakukan tindakan yang akan menciderai institusi yang ia pimpin. Seorang dosen yang mencintai profesinya, saya yakin tidak akan pernah memberi contoh yang tidak baik pada mahasiswanya. Orang yang dimerdekakan oleh cinta akan juga cinta akan kemerdekaan orang-orang disekitarnya.

 

 

 

Cinta yang Memerdekakan di Universitas Kristen Maranatha

Universitas Kristen Maranatha dicintai dan diberkati Tuhan luar biasa dengan perkembangan yang begitu pesat. Semua jajaran dari pimpinan universitas hingga tenaga kependidikan diisi oleh orang-orang yang handal. Persoalannya adalah apakah mereka sudah sungguh menerima cinta Kristus yang memerdekakan? Atau mungkin jika pertanyaan ini terlalu sukar untuk dijawab karena terlalu personal dan subyektif, kita bisa berefleksi dan bertanya pada diri kita sendiri: apakah dalam keseharian kehidupan di Universitas Kristen Maranatha kita bisa melihat dan merasakan tindakan-tindakan yang didorong oleh cinta dan ketulusan?

Ini isu yang sangat serius mengingat “care” adalah salah satu dari 3 nilai hidup yang menjadi karakter seluruh civitas akademika Universitas Kristen Maranatha. Kita bisa bertanya pada diri kita sendiri: sadarkah kita bahwa cinta Kristus sudah memerdekakan kita? Lalu apa konsekuensi cari cinta yang kita terima? Sudahkah kita melakukannya sehingga kitapun memerdekakan orang lain?

Untuk pimpinan universitas dan fakultas : Apakah sebagai pimpinan anda sudah melakukan segala upaya untuk membawa bawahan anda bekerja dengan cinta dan kemerdekaan? Atau justru bawahan anda dibelenggu dengan harus melakukan apa yang anda mau? Adakah bawahan anda merasa terpaksa melakukan perintah-perintah anda? Adakah anda melakukan suatu tindakan yang menciderai institusi dan bawahan anda? Jika itu benar terjadi, maka cinta Kristus yang memerdekakan anda belum berdampak memerdekakan orang lain.

Untuk dosen dan karyawan: Apakah sebagai dosen dan karyawan anda sudah memberikan pelayanan kepada mahasiswa dengan sebaik-baiknya tanpa paksaan? Apakah anda sudah berusaha menjadi teladan yang baik untuk mahasiswa dengan hadir tepat waktu, terus belajar dan bekerja dengan giat serta saling memperhatikan satu sama lain? Jika belum, maka cinta Kristus yang memerdekakan anda belum berdampak memerdekakan orang lain.

Untuk mahasiswa: Apakah sebagai mahasiswa anda merasa terpaksa dalam belajar? Apakah anda merasa kuliah anda, tugas-tugas dan ujian-ujian membelenggu anda dan membuat anda tidak bisa bebas? Jika benar demikian, maka anda belum jadi manusia merdeka meskipun Kristus sudah memberikan cintaNya untuk anda.

Jika anda sudah melakukan semua hal yang baik dengan penuh cinta dan kemerdekaan, maka andapun tidak boleh berbesar hati, karena itu adalah konsekuensi dari cinta yang anda terima dari Kristus.

 

Penutup

Seseorang yang sungguh menerima cinta Kristus akan melakukan semua yang baik dengan ketulusan sebagai orang yang merdeka. Dan apa yang ia lakukan juga akan memberi kemerdekaan untuk orang yang ada di sekitarnya. Semoga semua orang di Universitas Kristen Maranatha sadar akan cinta dan kemerdekaan ini. Tuhan memberkati.

 

 

Krismanto Kusbiantoro, MT.

Pembelajaran Dari Kisah Daniel

Oleh: Hendra Tjahyadi

 

Pengantar

Tembok Besar China (the Great Wall) dibangun dengan tujuan membendung musuh agar tidak bisa masuk menyerang China. Sejarah mencatat tembok yang kokoh itu memang tidak bisa ditembus oleh musuh-musuh secara langsung, tetapi ternyata musuh-musuh masih bisa masuk menyusup dengan jalan menyuap para penjaga tembok, sehingga bisa memporakporandakan apa yang seharusnya terlindung di balik tembok. Hal ini menunjukkan kesalahan yang dilakukan oleh pemerintahan di China saat itu dengan bersandar pada kekuatan tembok dan bukan pada kekuatan karakter manusianya yaitu integritas dari penjaga-penjaga tembok.

 

Kisah di atas menunjukkan bahwa orang-orang yang berintegritas menjadi kebutuhan yang vital dalam membangun sebuah bangsa. Kebutuhan yang sama juga nyata bahkan di dalam sebuah universitas, walaupun  universitas merupakan lembaga pembentuk karakter yang seharusnya tidak kekurangan orang-orang yang berintegritas. Kebutuhan itu semakin terasa terutama pada saat-saat ini dimana nilai-nilai dan karakter yang baik sepertinya bukan menjadi sesuatu yang dipentingkan seperti kutipan yang disampaikan oleh Noel Coward “It is discouraging how many people are shocked by honesty and how few by deceit” Yang interpretasinya berarti kejujuran merupakan sesuatu yang langka sehingga banyak orang terkejut saat menemukan orang yang jujur sedangkan ketidakjujuran sudah merupakan hal yang lumrah dan diterima di masyarakat.

 

Bagaimana dengan Universitas Kristen Maranatha (UKM)? Apakah orang-orang di UKM terkejut dengan kejujuran atau integritas, dan memandang biasa ketidakjujuran dan ketiadaan integritas? Apakah UKM di dalam pencapaian visi dan misinya akan meniru kesalahan pemerintahan China pada masa lalu dengan  bersandar pada kekuatan tembok yang tinggi atau bangunan yang kuat dan megah?  Ataukah sebaliknya akan lebih mementingkan pembentukan karakter orang-orang yang berada di dalamnya?

 

Walaupun dalam implementasi kebijakan jelas terlihat UKM masih mementingkan pembangunan sarana fisik terutama dalam bentuk bangunan, secara normatif UKM menyatakan diri lebih mementingkan pembentukan karakter. Hal ini dinyatakan dari namanya yang jelas-jelas menyebutkan kata Kristen, dari visinya yang menyatakan meneladani Yesus Kristus dan dari nilai-nilai yang dianutnya yaitu Integrity, Care dan Excellence (ICE).

 

Agar lebih baik dalam implementasinya tentu saja pemahaman yang tepat akan visi serta setiap arti dari nilai-nilai yang dianut menjadi sangat penting. Hal itu penting agar upaya pencapaian visi dan misi universitas berjalan dengan efisien dan selaras dengan iman Kristen yang menjadi keyakinan UKM.

Berbicara mengenai pemahaman yang tepat, penulis teringat akan percakapan dengan seseorang yang menjabat posisi yang sangat penting di lingkungan UKM. Saat itu penulis bertanya mengenai bagaimana integritas di lingkungan UKM, beliau menjawab bahwa integritas di lingkungan UKM adalah sekitar 85%. Saat penulis menimpali dengan mengatakan bukankah integritas itu harus 100%, percakapanpun terhenti sampai di situ.

 

Berefleksi pada percakapan tersebut, penulis semakin meyakini pentingnya pemahaman yang benar akan arti dari nilai-nilai yang dianut di UKM, sebab nyata bahwa masih banyak yang tidak mengerti secara benar, bahkan pribadi-pribadi yang menduduki posisi sangat strategis di UKM. Atas dasar itulah tulisan ini disusun dengan harapan bisa berkontribusi dalam memberikan pengertian yang benar akan salah satu nilai-nilai di UKM yaitu integritas.

 

Definisi dari Integritas

Integritas berasal dari kata integrity yang menurut kamus bahasa Inggris berarti: (i) the quality of being honest and morally upright, (ii) the state of being whole or unified. Yang bisa diartikan sebagai kualitas moral yang baik dan jujur atau adanya keutuhan (wholeness /fullness) yaitu keadaan yang utuh dalam seluruh aspek kehidupan dimana ada keterkaitan (keterpaduan) yang menyatakan keutuhan  antara bagian-bagian yang berbeda dalam kehidupan seseorang, misalnya ada kesatuan antara apa yang di dalam dan di luar, antara nilai-nilai yang dipegang dan apa yang diperbuat, dan antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan.

 

Wujud Integritas

Dari definisi tersebut, integritas terimplementasikan dalam adanya konsistensi berikut:

  • Konsistensi kehidupan pribadi/privat (private) dan kehidupan publik, artinya sistem nilai yang dibentuk sejalan pada kehidupan sehari-hari saat sendiri dan saat di depan publik. Konsistensi itu tetap di dalam situasi apapun baik diketahui oleh orang lain ataupun tidak diketahui orang lain. Orang yang berintegritas adalah orang yang sama baik saat sendirian di rumah, di hotel atau dimanapun dengan saat di depan publik misalnya di kantor, di gereja atau di tempat umum lainnya.
  • Konsistensi antara motivasi hati dengan perkataan. Artinya orang yang memiliki integritas tidak  bermulut manis dan mencari muka untuk kepentingan sendiri. Orang Farisi mengakui Yesus sebagai orang berintegritas, karena Yesus tidak takut mengajarkan kebenaran walaupun terdengar keras dan Ia tidak pernah  berusaha untuk bermulut manis.
  • Konsistensi antara perkataan dan perbuatan. Orang yang berintegritas melakukan apa yang dikatakannya. Masalah integritas berkaitan dengan bisa dipercayanya (trustworthy) seseorang. Berbicara mengenai integritas  berarti berbicara tentang siapa kita sebenarnya bukan apa yang kita lakukan, bukan berbicara mengenai citra (image) yang merupakan persepsi dari orang tentang kita. Akan tetapi sayang sekali ada banyak orang yang bekerja keras untuk memoles citranya bukan untuk menjaga integritasnya, mencari popularitas sampai mengorbankan integritasnya.

Integritas Menurut Alkitab

Allah memanggil kita untuk menjadi orang yang berintegritas. Banyak ayat di Alkitab yang meminta atau menuntut kita untuk hidup berintegritas. Walaupun tidak secara eksplisit menyebutkan kata integritas Alkitab secara tegas menyatakan bahwa Allah berkenan kepada orang-orang yang berintegritas. Berikut ini adalah beberapa bagian dari Alkitab yang berbicara mengenai integritas:

  • Kejadian 17:1 Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka Tuhan menampakan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah dihadapan-Ku dengan tidak  bercela.”
  • Ulangan 18:13 Haruslah engkau hidup dengan tidak bercela di hadapan Tuhan Allahmu.
  • I Tawarikh 29: 17, Allah menguji hati dan berkenan kepada keiklasan (integritas).
  • Amsal 11:20 “Orang yang serong hatinya adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi orang yang tak bercela, jalannya dikenan-Nya.”
  • Amsal 28:6 “Lebih baik orang miskin yang bersih kelakuannya dari pada orang yang berliku-liku jalannya, sekalipun ia kaya.”
  • Amsal 29:27 “Orang bodoh adalah kekejian bagi orang benar, orang yang jujur jalannya adalah kekejian bagi orang fasik.”

Ayat-ayat tersebut menunjukkan Allah ingin kita hidup utuh tidak bercacat atau bercela. Allah menguji hati kita dan Allah berkenan pada orang-orang yang berintegritas, tapi orang fasik tidak menyukai orang yang berintegritas. Alkitab juga mununjukkan beberapa ciri dari orang yang berintegritas diantaranya adalah:

  • Mulutnya tidak menipu atau berbohong. I Petrus 2:22 “ Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada  dalam mulut-Nya.”
  • Hidupnya transparant sehingga  berani dinilai orang lain dan tidak malu mengakui kelemahannya. Paulus berani hidupnya dinilai bahkan diuji oleh orang lain, dan ia berani meminta orang lain untuk meneladani hidupnya, karena ia meneladani Kristus.

Ada banyak contoh tokoh Alkitab yang bisa menjadi teladan bagaimana hidup berintegritas. Salah satunya adalah Daniel. Berikut ini adalah kisah dari Daniel.

 

Contoh dari Daniel (Daniel 6:1-29)

Pada perikop ini, Daniel sudah bekerja di pemerintahan sekuler sebagai negarawan atau politikus  selama sekitar enam-puluh  tahun dan saat itu ia berumur sekitar delapan-puluh tahun. Ia telah melayani dalam pemerintahan empat raja dan tetap dikenal dan tidak disingkirkan, bahkan Raja memilih dia untuk menjaga kepentingannya sebagai orang kepercayaannya. Daniel bisa bekerja sekitar enam  decade dan punya reputasi yang baik dan tidak bercacat  pastilah ditopang oleh karakter dan hidup yang benar dan bukan hanya oleh kemampuan bekerja  (skill) yang baik. Hal ini sesuai dengan dua kutipan berikut: “Ability will enable a man to get to the top, but it takes character to keep him there.” dan “If I take care of my character my reputation will take care of itself.”

Karakter Daniel

  • Setia dan jujur dalam menjalankan tugas pekerjaannya. Ia tidak saja memiliki kejujuran dalam bekerja, tetapi juga disiplin dalam bekerja sehingga tidak bisa didapati kesalahannya tidak ada kelalaian yang bisa ditemukan. Sekalipun sebagai pejabat tinggi tidak ada orang yang mengawasinya,  tetapi ia tetap bekerja dengan baik. Dalam kesendirian, saat tidak ada siapapun yang mengawasi kita dan tidak ada seorangpun yang tahu apa yang kita lakukan disitulah integritas kita diuji.
  • Memelihara kesucian kehidupan pribadinya. Walaupun hal ini dijadikan alasan untuk menyalahkan Daniel, tapi Daniel menunjukkan konsistensi dalam kehidupan privat dan publiknya. Integritasnya bukan dipoles dari luar tapi dari dalam dirinya. Ia bisa setia dan jujur dalam bekerja karena punya relasi yang dekat dengan Allah, tidak ada kemunafikan. Integritas sejati tidak mungkin dibangun tanpa relasi yang dekat dengan Allah.
  • Tidak mengorbankan atau mengkompromikan imannya walau dalam krisis. Ia konsisten dalam imannya walau dalam keadaan krisis dengan tetap memelihara kehidupan doanya. Dalam tantangan dan kontroversi, disitulah integritas diukur bukan dalam keadaan biasa-biasa atau keadaan nyaman.

 

Hasil atau Buah Dari Integritas

Ada dua hal yang dapat dipelajari sebagai buah dari integritas yang ditunjukan dalam kisah Daniel yaitu:

  • Ada berkat bagi orang yang berintegritas yang datang dari Tuhan sendiri. Ada banyak orang mengorbankan integritas karena takut rugi, tapi Daniel tidak peduli dengan ongkos atau resiko yang harus dibayar untuk tetap mempertahankan integritasnya.  Daniel yakin bahwa Tuhan akan menjaga dia kalau dia menjaga integritasnya, seperti yang dikatakan dalam Amsal 2: 7 “Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya.”
  • Ada peringatan bagi orang yang tidak menjaga integritasnya. Kejadian-kejadian akhir-akhir ini yang menimpa mantan Presiden Partai Kesejahteraan Rakyat (PKS) dan mantan Ketua Umum Partai Demokrat menunjukkan adalah sangat mudah bagi Allah untuk membuka kesalahan orang kalau Dia berkenan membongkarnya. Amsal 5:21” Whoever walks in integrity walks securely, but whoever takes crooked paths will be found.

 

Penutup

Di tahun yang dicanangkan sebagai tahun integritas sudah sepatutnya UKM memperhatikan pembinaan karakter orang-orang di UKM terutama para pemimpinnya. Marilah belajar dari kisah Daniel dan ada baiknya kita memperhatikan peringatan Fred Smith seorang ahli kepemimpinan yang mengatakan “ Sangat disayangkan banyak orang yang sulit mengakui kekurangan karakter dibandingkan mengakui kekurangan skill, padahal 80% kegagalan kepemimpinan  adalah kegagalan karakter. “

Membangun Budaya Maranatha

Ketika seorang kerabat atau sahabat meminta nasihat Anda tentang rencananya bersekolah atau bekerja di UK Maranatha, apa saran Anda? Apakah Anda akan mendorong bahkan membujuknya untuk bergabung? No comment, atau dengan tegas menyarankan dia mencari alternatif? Beragam pertimbangan bisa Anda berikan. Namun, hal yang kita alami dan rasakan dalam kehidupan organisasi menjadi dasar utama dalam memberi rekomendasi seperti itu. Pengalaman itu umumnya menggambarkan budaya organisasi, yang negatif maupun positif.

Melihat keadaan kita hari-hari ini, apa budaya UK Maranatha yang paling Anda suka dan banggakan? Apakah ada yang sebaliknya? Bagaimana budaya tersebut memberi dampak bagi kehidupan individu dan pencapaian organisasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat?

Kita adalah institusi yang memiliki tekad mulia membangun manusia dan peradaban dengan mengisi dan mengembangkan seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi berdasarkan kasih dan keteladan Yesus Kristus. Kita meyakini akan bergerak kepada tujuan tersebut hanya ketika kita mendasarkan perjalanan pada nilai-nilai pengajaran Sang Kepala Gereja yang mengutus gereja-Nya bersaksi dan melayani melalui pendidikan tinggi. Nilai tersebut sesungguhnya mendasari pendirian awal Maranatha, terukir dalam hati para pendiri dan menjadi penggerak utama dalam melewati hambatan dan mengatasi tantangan di masa lalu. Lebih dari satu dekade ketika secara formal kita merumuskan Integrity-Care-Excellence (ICE) sebagai nilai institusi dengan tujuan agar nilai Kristiani semakin dihidupi dan berkembang, hingga membentuk budaya Maranatha.

Tantangan Menghidupi Nilai

Merumuskan ICE sebagai nilai institusi adalah suatu komitmen. Kita berjanji menjadikannya penuntun utama dalam menjalani keseharian dan memilih arah ke masa depan. Kita harus mengakui bahwa komitmen itu membuahkan hasil di sana sini. Saat yang sama, kita juga sadar akan lebarnya jurang antara yang kita harapkan dan alami. Bagaimana kita meresponnya? Kita semua menginginkan kemajuan dan merindukan manfaat dari implementasi nilai, sehingga seyogianya kita menjadikan implementasi nilai sebagai tanggung jawab pribadi. Benarkah demikian? Tanpa disadari, kita bersikap kontra produktif, di antaranya mengabaikan tanggungjawab, merasa sebagai korban keadaan, dan apatis. Kita berkomitmen, tetapi gagal berpartisipasi.

Sebagai seorang aktifis gereja dan terlibat dalam berbagai persekutuan, kita rentan bersikap mengabaikan tanggung jawab. Seringkali kita begitu ‘yakin’ bahwa dengan sendirinya kita adalah orang yang pikiran dan tindakannya selalu selaras dengan nilai integritas, kepedulian, dan keprimaan. Pikiran semacam ini cenderung membuat kita mengingkari keadaan dan malah menghakimi. Ketika merasa senantiasa berintegritas, orang yang peduli, selalu perfek, kita benar-benar percaya bahwa urusan kita sudah selesai. Persoalan ada dalam diri orang lain dan organisasi. Padahal, setiap kita bertanggungjawab dalam mencari dan menemukan ruang untuk menyatakan dan semakin meningkatkan ICE dalam aktifitas dan relasi. Sebenarnya, orang yang merasa sempurna tak berguna dalam inisiatif ini. Tetapi, mereka yang selalu berkomitmen menjadi lebih baik adalah katalis yang memungkinkan implementasi nilai terus bergerak melewati batas sebelumnya.

Terkadang kita juga merasa sebagai korban keadaan. Kita sedih mengetahui praktek organisasi yang nyata-nyata bertentangan dengan nilai yang kita perjuangkan. Apalagi ketika suatu kasus menyeruak menjadi konsumsi publik, kita merasa malu bahkan untuk sekedar membicarakannya. Kita mengeluh dan kehilangan harapan. Sesungguhnya, kita berpeluang memaknai kejadian serupa sebagai kesempatan memperjelas dan memperteguh nilai kita. Tanpa komitmen kepada nilai, sangat mungkin isu serupa akan disembunyikan dan menjadi rahasia segelintir orang. Jika bukan karena memegang integritas, sangat mungkin kita akan menutupi kasus yang potensial merusak citra institusi, berapapun biayanya. Tanpa integritas, kita mungkin akan menjaga ‘kepentingan’ kolega atau sahabat di atas penegakan etika.

Di antara kita juga bisa bersikap apatis. Sebagian kita menganggap urusan nilai adalah tugas Pendeta Universitas, Badan Pelayanan Kerohanian, MKU, Rektorat/Dekanat, dan Yayasan. Ada pula yang mengira bahwa hanya orang Kristen saja yang bisa dan perlu terlibat dalam mewujudkannya. Tidak terpikir cara untuk menjembatani situasi saat ini dengan keadaan yang didambakan, membuat kita tidak percaya bahwa implementasi ICE akan berhasil. Akhirnya, kita bersikap skeptis dan masa bodoh.

Panduan Implementasi Nilai

Sadar bahwa implementasi nilai bukanlah pekerjaan mudah dan pembangunan budaya adalah perjalanan panjang, beberapa tahun lalu kita menyusun suatu panduan implementasi nilai. Berupa framework, alat bantu tersebut menolong kita memahami kompleksitas implementasi nilai dan saat yang sama melihat proses menghidupi yang realistis.

Framework disusun dengan suatu keyakinan bahwa civitas akademika UK Maranatha adalah individu pembelajar dan berpotensi melakukan kebaikan dan menjadi lebih baik. Terdiri atas 3 (tiga) strategi, framework tersebut bertujuan memastikan implementasi nilai fokus pada hal yang bermakna, melibatkan semua pemangku kepentingan, efektif, serta dibangun dan dikembangkan secara berkelanjutan.

Mengaitkan dengan Tujuan dan Sasaran Organisasi

Kita perlu mendukung dan memfasilitasi setiap warga Maranatha dalam menguji dan memurnikan nilai yang dipegangnya melalui pikiran dan tindakan yang nyata-nyata terkait dengan tujuan dan misi UK Maranatha. Dengan mengaitkan ke visi, tujuan, objektif strategis, bahkan sasaran praktis jangka pendek, implementasi nilai menjadi relevan dan bermakna, bukan hanya untuk masa depan, tetapi juga pada konteks dan situasi saat ini. Implementasi nilai, secara khusus ICE, harus terutama terkait dengan tujuan belajar-mengajar, hakikat layanan, panggilan profesi, serta kehidupan dan pergumulan warga kampus terkait panggilan tri-dharma perguruan tinggi. Sebagai contoh, mendorong mahasiswa kedokteran menemukan dan menghayati panggilannya untuk menjadi seorang dokter jelas lebih bertanggungjawab ketimbang mengarahkan mereka menjadi seorang pendeta atau evangelis. Kita membutuhkan beberapa worship leader yang cakap memimpin persekutuan, tetapi kita memerlukan semua warga Maranatha yang cekatan menyatakan kepedulian melalui tugas kesehariannya.

Dengan demikian, implementasi nilai akan memacu peningkatan kinerja dan kemajuan implementasi nilai akan tercermin di dalam peningkatan kualitas setiap hasil dan layanan organisasi. Strategi ini juga memungkinkan setiap warga Maranatha -apapun latar belakang dan keyakinannya- terlibat dan berpatisipasi aktif dalam implementasi ICE melalui keberadaan dan karyanya.

Memfasilitasi Pertumbuhan di Semua Aras dan Tingkat

Kita menyadari bahwa setiap warga Maranatha memiliki nilai pribadi dan masing-masing menjalani pertumbuhannya. Ada keberagaman nilai dan variasi kedalaman internalisasi nilai antar individu, ada perbedaan antara nilai individu dengan nilai yang menjadi aspirasi organisasi, dan ada pula kesenjangan antara nilai aspirasi ICE dengan praktek-praktek organisasi saat ini. Semuanya tidak bisa diubah serta merta. Untuk itu, kita harus berusaha melayani dan memenuhi kebutuhan di semua tingkat pertumbuhan dan di semua aras. Kita menjadikan nilai sebagai prioritas utama dengan memfasilitasi dialog untuk pendalaman, pematangan, dan pendewasaan, secara khusus dalam setiap pengambilan keputusan. Proses ini diinisiasi dan dijaga oleh simpul, semakin diselaraskan dan kemudian diperluas dan disosialisasi. Simpul adalah satu atau lebih individu yang memiliki pengalaman iman, siap mengambil peran kepemimpinan, memahami filosofi dan tujuan inti pendidikan Kristen, berorientasi pada pengembangan orang lain, dan mampu melakukan penggembalaan atau coaching.

Melebur dalam Program, Projek, dan Proses

Sebagai program jangka panjang, implementasi nilai harus direncanakan, dijalankan, dan dievaluasi dalam rangka continuous improvement. Agar kebutuhan proses manajemen yang signifikan ini tidak menjadi beban tambahan, maka implementasi nilai harus direncanakan, dijalankan, dan dievaluasi bersama agenda, program, projek, proses, dan kegiatan. Pada saat mengelola semua itu, kita juga mengelola implementasi ICE.

Untuk itu, kita menghindari segala bentuk implementasi dekoratif dan miskin makna. Kita percaya bahwa ibadah ritual sangat diperlukan dalam memberikan penyadaran tentang nilai-nilai kekal. Tetapi, ibadah ritual saja, betapapun intensnya, mustahil membentuk dan mengubah perilaku organisasi. Pendalaman dalam diskusi kelompok atau rapat manajemenlah yang memungkinkan suatu gagasan ‑misalnya kepedulian- dibangun menjadi inisiatif operasional berupa peningkatan tingkat layanan di kelas atau loket daftar ulang. Tetapi itupun belum lengkap. Setelah suatu gagasan dan inisiatif dirancang di atas kerjas, kita memerlukan orang-orang dengan kecakapan dan kompetensi terkait untuk menggulirkannya. Kita melihat bahwa implementasi nilai dalam organisasi tidak bisa parsial, tetapi menyeluruh diawali dari nilai dasar yang sering kali abstrak, menjadi nilai operasional, menjadi tindakan, dan akhirnya menjadi kinerja.

Kita harus secara kreatif mencari ruang implementasi nilai di setiap kegiatan yang maknanya menjadi motivasi intrinsik bagi setiap orang yang terlibat. Setiap kemajuan harus diidentifikasi dan diapresiasi. Teladan-teladan nyata harus dirayakan dan disebarluaskan. Pada saatnya, indikator keberhasilan implementasi ICE akan terlihat di dalam karya organisasi, baik bagi individu dan masyarakat.

Kemajuan-kemajuan Kecil

Elemen implementasi nilai institusi adalah implementasi nilai oleh setiap warga kampus, dan implementasi nilai individu adalah tentang pembaruan hidup. Intinya adalah melatih jiwa dan menguatkan karakter pribadi. Jika Anda terpanggil menggerakkan dan mengembangkan implementasi ICE di lingkup kecil Anda, ambillah peran menjadi simpul. Ajak kolega dan sahabat dalam membincangkan nilai, mendalami, menerjemahkannya, hingga merencanakan penyelarasan dalam aktifitas sehari-hari. Prioritaskan percakapan nilai dalam rapat-rapat manajemen. Sering melakukannya akan membuat Kelompok/Tim Anda makin kompak dan diberdayakan. Ketika kita menghasilkan kemajuan-kemajuan kecil, itu tanda pembangunan budaya Maranatha sedang berlangsung. Pada saatnya, dengan yakin kita menjawab pertanyaan saudara dan teman di awal tulisan ini dengan memberi mereka rekomendasi positif. Alasannya jelas, kita percaya bahwa dalam budaya Maranatha yang kita cita-citakan mereka akan menjadi cendekiawan yang meraih keluhuran dan kekayaan hidup.

Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar. Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau (1Tim 4:12b-16)n