WASPADA DI KALA SENANG

“Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga
dan sadar.”
(1 Tesalonika 5:6)

Pada saat pertama kali Bapak Presiden Jokowi naik, meskipun melalui perjuangan yang sangat berat, kita sangat senang, bahwa pada akhirnya kepemimpinannya yang bersih melahirkan kemenangan-kemenangan pemimpin yang bersih lainnya di berbagai daerah. Ada banyak pengaruh gerakan-gerakan radikalisasi mengalami perlawanan, dan bahkan pembatasan-pembatasan yang membuat Indonesia menjadi lebih kondusif untuk melakukan pembangunan. Namun tanpa disangka-sangka, pada saat Pilkada Jakarta baru-baru ini muncul gerakan radikal yang sangat besar dan serentak, yang bahkan mampu “menggulingkan” kepemimpinan yang bersih untuk tujuan-tujuan politis kelompok lain yang ingin berkuasa.

Ayat di atas sangat menarik menjadi pembahasan renungan hari ini. Kata jangan tidur dalam teks ini tentu lebih bermakna kiasan, yang arti dari keseluruhannya adalah kewaspadaan. Pada saat itu berkembang menjadi latar kisah kedatangan Yesus yang semakin dekat, sehingga Rasul Paulus merasa pelu memberikan peringatan, tentang pentingnya memiliki sikap kewaspadaan dalam menyambut kedatanganNya, dengan tetap bertekun dalam pola kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan; Tidak menjadi lengah dengan pola hidup yang dipenuhi “kemabukan.” Paulus nampaknya cukup berpengalaman menangani jemaat-jemaat yang lengah, salah satunya adalah jemaat di Korintus yang bahkan meninggalkan pesan paling mendasar yakni pesan dari Salib Kritus itu sendiri.

Memahami pembahasan ini mengingatkan saya pada beberapa pepatah yang umum dikenal banyak orang di Indonesia, misalnya “sedia payung sebelum hujan”, atau yang lain “roda tidak selalu di atas.” Namun kesadaran seperti yang diungkapkan dalam slogan ini seringkali terlupakan dalam kehidupan kita, sebab alamiahnya di kala suka orang tidak ingat lagi duka, atau dikala berhasil orang tidak ingat dengan kondisi kegagalan, atau di kala sehat orang tidak ingat ketika sakit. Dan seringkali dalam keadaan yang baik, orang tidak mempersiapkan bahwa hal buruk bisa terjadi kapan saja, atau malah melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan keburukan bagi dirinya sendiri. Contoh yang paling kongkrit yang dialami banyak orang, di kala sehat orang tidak menjaga kesehatannya. Mereka makan apa saja, malas olah raga, mengkonsumsi zat adiktif yang merusak, dan ketika mengalami salah satu penyakit yang berbahaya seperti serangan jantung, barulah sadar berolahraga. Ironis bukan? (AA)
Refleksi:
Waspadalah justru di kala senang, supaya kedukaan yang kelak bisa terjadi tidak terlalu berat.

PEMIMPIN OUT OF THE BOX

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di
tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.” Matius pun
bangkit dan mengikut Dia.
(Matius 9:9)

Ada sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan cara berpikir orang dalam memahami realitas perubahan, “think out of the box” (Berpikir di luar kotak). Maksudnya jika metode ini digunakan untuk menghadapi permasalahan, seseorang tidak menyelesaikan masalah dengan cara yang biasa digunakan melainkan dengan cara yang berbeda sama sekali. Misalnya jaman dulu orang terpikirkan ada produk air minum botolan, dan ketika ada orang memulainya ditertawakan dan diragukan, “Masak jual air minum?” Air minum pada waktu itu di ambil dari sumur atau air kran yang direbus sebelum dikonsumsi, dan semua orang sudah biasa dan bisa melakukannya di rumah masing-masing. Namun seiring waktu ternyata perusahaan air minum menjadi perusahaan raksasa di Indonesia.

Ayat di atas menjelaskan bagaimana cara Yesus memilih pengikut atau muridmuridNya. Ia mengajak Matius mengikut atau menjadi muridNya. Yang aneh adalah jika kita melihat latar belakang Matius. Matius adalah petugas pajak, profesi yang dibenci banyak orang Yahudi sebab tugas mereka mengumpulkan pajak dari bangsa Yahudi dan diberikan kepada pemerintahan Romawi. Dalam proses ini seringkali orang seperti Matius menaikkan pajak yang kemudian selisihnya digunakan untuk dirinya sendiri. Tidak heran kebanyakan mereka menjadi kaya raya. Aneh sekali bukan jika Tuhan Yesus mencari murid dengan kualifikasi yang seperti Matius? Yang lain seperti Simon bersaudara malah cuman nelayan. Mengapa Yesus tidak merekrut saja orang-orang yang lebih qualified di bidang keagamaan misalnya, sebab Ia toh sedang menjalani sebuah gerakan spiritualitas di jamanNya? Kita tidak memahami apa yang dipikirkan Yesus sepenuhnya, hanya saja apa yang dilakukanNya cukup berhasil, sebab jika tidak maka tidak akan ada kekristenan dan kita seperti hari ini.

Seorang pemimpin yang out of the box mampu melihat apa yang sedang dikerjakannya dengan baik, dan apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan apa yang menjadi visinya di masa yang akan datang. Pemikiran-pemikiran mapan tidak salah dan terbukti menghasilkan hasil yang mapan. Namun untuk menghasilkan terobosan yang lebih besar dari yang pernah ada, diperlukan pola berpikir out of the box. Jika kita perhatikan, seluruh penemu-penemu dalam sejarah adalah orang-orang yang tidak puas dengan kata mapan, melainkan berkeinginan untuk melakukan hal-hal yang jauh lebih besar di jamannya. (AA)
Refleksi:
Kemapanan bukan terobosan. Keberanian menciptakan terobosan menuju jembatan kesuksesan yang lebih besar.

KEBENARAN YANG MEMBEBASKAN

…dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan
kamu.”
(Yohanes 8:32).

Ketika saya di bangku kuliah saya senang belajar khususnya apa yang saya tidak tahu, bukan yang saya sudah tahu dan yakini. Konsekuensinya pemahaman saya menjadi meluas. Saya memberikan keluasaan pada nalar saya untuk memahami hal-hal yang bahkan bertentangan dengan keyakinan saya, dan mencoba merangkumnya menjadi sebuah bentuk keyakinan yang lebih adaptif. Alhasil, apa yang saya pahami, misalnya dalam bidang teologi menjadi bertambah banyak, meskipun eksesnya lebih banyak yang kemudian tidak sepakat dengan pemikiran saya. Namun saya tidak berkecil hati sebab pada akhirnya saya mampu memberikan solusi-solusi jalan tengah dari mereka yang memperdebatkan dua realitas kiri dan kanan yang pada dasarnya memang berbeda.

Ayat di atas sangat menarik ketika Tuhan Yesus menyatakan hal tersebut kepada murid-muridNya, “…kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Konteks ayat ini, terjadi perdebatan antara Yesus dengan orang-orang Yahudi. Hal menarik antara Rabi Yahudi dan Yesus adalah, bahwa pemahaman mereka berbeda meskipun dari sumber agama yang sama yakni ajaran agama Yudaisme. Sehingga di dalam seluruh kitab Injil, kita bisa melihat bagaimana sulitnya orang-orang Yahudi ini memahami apa yang diajarkan oleh Yesus Kristus. Dan ayat ini sangat menarik ketika Yesus sendiri mengatakan bahwa yang membebaskan manusia adalah kebenaran avlh,qeia (Baca: aletheia), bukan keyakinan.

Bagi seseorang, semakin bertambah usia memang tidak mudah untuk menerima perubahan. Pemikiran menjadi baku dan merasa tidak nyaman digoncang oleh berbagai perubahan-perubahan yang memerlukan kapasitas dan enerji lebih besar untuk menampungnya. Namun demikian, ayat di atas mengingatkan kita hari ini bahwa bukanlah keyakinan kita yang penting, melainkan kebenaran itu sendiri. Ketika nalar kita menangkap sebuah realitas kebenaran, kebenaran itulah yang akan memerdekakan kita, bukan keyakinan yang justru seringkali menjadi penghambat dan tidak relevan dengan apa yang terjadi, terlebih dalam konteks dunia kekinian yang
berubah dengan sangat cepat. Jadi dalam strategi perubahan ke arah yang lebih baik, sangat disarankan bukan mendirikan basis-basis keyakinan yang anti terhadap kritik, melainkan keyakinan yang terbuka terhadap realitas kebenaran yang sesungguhnya. Sebab seperti sabda Yesus Kristus sendiri, “kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (AA).
Refleksi:
Jadikan kebenaran menjadi dasar menuju perubahan yang mampu meningkatkan produktivitas dalam kehidupanmu

MELAYANG-LAYANG

Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh
Allah melayang-layang di atas permukaan air.
(Kejadian 1:2).

Dalam sebuah diskusi teologi tentang sifat-sifat Tuhan, seorang dosen saya di sekolah teologi menggambarkan bagaimana Tuhan itu seperti benteng yang kokoh, tidak tergoyahkan, solid, padat, dan tidak bisa ditembus. Pemahaman teologinya sangat kaku dan mengikat hanya pada satu pengertian kebenaran saja, selebihnya adalah kesalahan atau bahkan dibidahkan. Sehingga bayangan saya yang lahir pada saat itu tentang Tuhan adalah sosok yang tidak kenal kompromi, keras, tegas, dan menghukum apapun yang tidak disukaiNya. Mungkin Anda juga pernah mengenal orang yang sedemikian, sehingga ia menjalani kehidupannya sama dengan apa yang dia pahaminya.

Ayat di atas sangat menarik. Di dalamnya terdapat eksistensi tentang realitas Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci yang justru berbeda sama sekali. Ini adalah realitas Tuhan di awal Kejadian. Ketika dunia ini belum berbentuk dan dalam kondisinya masih kosong, di mana-mana yang ada pada saat itu hanyalah permukaan air. Disini Tuhan menyatakan diriNya dalam frasa ini ~yhiêl{a/ tp,x,Þr:m. (Baca: ’ĕ·lō·hîm mə·ra·ḥe·p̄eṯ), di mana dalam teks ini elohim digambarkan sedang melayang-layang di atas permukaan air. Dalam pengertian yang lebih antromorfis (penggambaran Tuhan dalam perilaku manusia) dapat diterjemahkan seperti seseorang yang sedang berjalan santai, kondisi rileks, atau bahkan melenggang. Tidak ada kesan gambaran Tuhan yang kaku, keras, tak kenal kompromi dalam pengertian ayat ini seperti yang digambarkan di atas.

Maksud penjelasan yang kontras ini adalah seringkali dalam kehidupan ini kita masuk ke dalam pemahaman hidup yang kaku, dipaksakan, hingga dalam tahap membebani dan menimbulkan stres. Seolah-olah hanya itulah satu-satunya pilihan hidup yang harus dijalani. Padahal ada banyak pilihan lain dalam kehidupan ini yang bisa diambil yang membuat kehidupan yang kita miliki menjadi lebih baik, bermakna, dan tentu saja membuat kehidupan kita menjadi lebih bahagia. Dan yang seringkali bukan kehidupan itu sendiri, sebab memang dari sananya sudah begitu, tetapi pilihan-pilihan kita untuk memahaminya. Seperti pembahasan awal mengenai realitas Tuhan. Alkitab
tidak memberikan satu saja gambaran tentang Tuhan, namun jika kita maunya begitu, ya tidak ada yang melarang. (AA)
Refleksi:
Biarkan Tuhan “melayang-layang” di atas kehidupanmu membebaskanmu dari pilihan-pilihan yang membuat hidupmu terkungkung

5 + 2 = 5000?

“Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi
apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”
(Yohanes 6:9)

Problem sedang dialami oleh para murid saat itu. Ada 5.000 laki-laki, belum terhitung perempuan dan anak-anak yang hadir. Jumlah yang sangat besar. Ketika hari petang, problem konsumsi muncul. Bukan perkara kecil karena memberi makan massa dengan jumlah yang besar pasti membutuhkan dana dan sumber daya yang besar. Para Murid hanya melihat ketidak mampuan mereka. 200 dinar, jumlah uang tabungan Yesus yang dipegang oleh Yudas, dapat memberi makan 200 keluarga. Jika 1 keluarga terdiri dari 5 orang, maka yang dapat makan hanya 1000 orang. Berarti jatah makan 1 orang harus dibagi untuk 5 orang atau lebih. Pasti sangat tidak cukup.

Sumberdaya yang dimiliki hanyalah 5 roti dan 2 ikan. Siapa anak yang membawa 5 roti dan 2 ikan? Roti dan ikan sebanyak itu pasti bukan bekal untuk dirinya sendiri. Mungkin ia membawa bekal untuk seluruh keluarganya, orang tua dan saudaranya. Atau dia diutus orang tuanya memberi bingkisan kepada Andreas, yang sudah mengantar orang tuanya untuk bertemu Yesus.

Siapapun anak itu, bungkusan yang diserahkannya, menjadi awal karya luar biasa Yesus. Pemberian ini menjadi ungkapan syukur Yesus kepada BapaNya, sehingga dapat dibagikan secara berlimpah kepada semua orang dengan sisa 12 bakul. Tetapi kisah ini diakhiri dengan Yesus menyingkir dari orang banyak yang hendak mengangkatNya menjadi raja.

Allah dapat berkarya melalui apapun dan siapapun. Dalam kisah ini Ia menggunakan 5 roti, 2 ikan, dan seorang anak kecil. Siapa yang menyangka bahwa angka-angka yang kecil, sumberdaya yang terbatas dapat mencukupi massa yang besar? Itulah ketidak terbatasan Allah yang bekerja memelihara manusia. Ia memelihara kita dengan berbagai cara. Termasuk melalui pihak-pihak yang tidak dipandang dan dimarjinalkan oleh mayoritas. Sekarang maukah kita juga diberdayakan oleh Allah menjadi alat memelihara hidup sesama, menjadi sahabat bagi sesama? (AL)
Refleksi :
Mari menjadi bagian dari karya Allah yang tak terbatas dalam memelihara hidup

CARA-NYA YANG AJAIB

“Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak
pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia:
semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”
(1 Korintus 2 : 9)

Umat percaya sering keliru memahami “ke-maha kuasaan Tuhan.” Mereka menerapkannya dengan cara-cara yang serampangan. Mereka membatasi Allah “hanya” mampu bertindak dengan spektakuler dan melupakan hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah nyata ini terjadi pada akhir tahun 1800-an di Philadelphia. Seorang gadis kecil yang bernama Hattie May Wiatt berdiri terisak di dekat pintu masuk sebuah gereja yang tidak terlalu besar, ia tidak diperkenankan masuk ke gereja tersebut karena “sudah terlalu penuh”. Pdt. Russell H. Conwell segera menuntunnya masuk ke ruangan Sekolah Minggu dan ia mencarikan tempat duduk yang masih kosong untuk Hattie. Hattie bersama kedua orangtuanya tinggal di daerah kumuh karena mereka tergolong keluarga miskin. Hattie begitu tergugah perasaannya, iapun memikirkan anak-anak lain yang senasib dengan dirinya dan tidak mempunyai kesempatan untuk ikut Sekolah Minggu.

Dua tahun kemudian Hattie meninggal dan Pdt. Conwell yang memimpin acara pemakaman yang sangat sederhana. Setelah selesai ditemukan sebuah dompet usang dan dalam dompet tersebut terdapat uang receh sebesar 57 sen dan secarik kertas tulisan tangan Hattie “Uang ini untuk membantu pembangunan gereja kecil agar gereja tersebut bisa diperluas sehingga lebih banyak anak bisa menghadiri Sekolah Minggu.” Rupanya selama 2 tahun, semenjak ia tidak diperbolehkan masuk gereja itu, Hattie telah mengumpulkan dan menabung hingga terkumpul 57 sen untuk maksud yang sangat mulia itu.

Setelah membaca surat itu, para anggota jemaat pun dengan sukarela memberikan donasi, bola salju yang dimulai oleh seorang gadis kecil miskin ini pun terus bergulir dan dalam 5 tahun telah berhasil mengumpulkan dana sebesar 250.000 dollar, suatu jumlah yang fantastik pada saat itu karena dapat dipakai untuk membeli emas seberat 1 ton. Allah dapat bekerja melalui siapa saja dengan cara apapun. Jangan mencoba membatasi karya-Nya. Karena Ia selalu bekerja dengan penuh misteri dan keajaiban. (AL)
Refleksi :
Allah itu sanggup menggerakkan siapa saja dengan cara-Nya yang ajaib. Jangan membatasi Tuhan.

BATU YANG BERSORAK

“Beberapa orang Farisi yang turut dengan orang banyak itu berkata kepada Yesus:
“Guru, tegorlah murid-murid-Mu itu.” Jawab-Nya: “Aku berkata kepadamu: Jika
mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak.””
(Lukas 19:39-40)

Perbedaan model spiritualitas dapat menyebabkan jurang perbedaan apabila tidak dipahami dengan benar. Sering sekali dalam pertemuan lintas denominasi beberapa pihak menjadi “alergi” dan tidak nyaman menikmati suasana ibadah yang berbeda bahkan cenderung mencela. Kejadian-kejadian seperti ini yang menyebabkan adanya batas pemisah antara satu denominasi dengan denominasi yang lain. Dan mengakibatkan semangat ekumenis susah terwujud.

Kisah ini dimulai saat dua orang murid Yesus telah mempersiapkan keledai sebagaimana instruksi yang telah diberikan-Nya kepada mereka (Ay. 29-35). Kemudian Yesus mengendarai keledai itu menuju Yerusalem (Ay. 36). Melihat hal itu, orang banyak menghamparkan pakaian mereka di jalan, bagaikan karpet merah yang dibentangkan bagi tamu kehormatan pada zaman sekarang. Mereka juga memuji Dia karena segala karya ajaib yang telah Dia lakukan. Mereka memuliakan Dia sebagai Raja yang datang dalam nama Tuhan (Ay. 37-38). Tetapi bagi para pemimpin
agama, pujian terhadap Yesus terlalu berlebihan. Maka mereka meminta Dia untuk menghentikan pujian murid-murid-Nya (39). Namun Yesus, yang ingin memasuki Yerusalem dengan menyatakan diri sebagai Mesias, menolak permintaan mereka. Walaupun pengikut-Nya berhenti memuliakan Dia, batu-batu akan menggantikan mereka, berteriak mengagungkan Dia (Ay. 40) karena Ia datang sebagai Mesias, yang dari Allah. Maka terbagi dualah sikap orang pada saat itu, sebagian memuji Dia dan sebagian menjadi oposisi.

Jika kita tidak dapat menemukan esensi dari penyembahan sebagai upaya
memuliakan Tuhan, maka yang terjadi adalah “pembatasan metode.” Padahal Tuhan ingin dimuliakan dalam berbagai bentuk dan ekspresi iman umat-Nya. Dimulai dari hubungan internal umat Allah, Janganlah terjebak pada metode mana yang benar dan mana yang salah. Sehingga akhirnya ada pihak yang menjadi pengritik kelompok yang lain. Dalam kebersamaan dan persahabatan kita dapat memuliakan Allah dengan
harmonisasi dan kehindahan sesama sahabat. (AL)
Refleksi :
Sikap persahabatan dalam iman, harus dipupuk dari hal-hal yang kecil termasuk menyembah-Nya sebagai sahabat dalam keragaman spiritualitas.

YANG TAK TERBATAS

“Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi
bagi Allah segala sesuatu mungkin.””
(Matius 19:25)

Sifat Allah yang tidak terbatas berarti Allah berada di luar dan tidak terbatas oleh waktu atau ruang. Tidak terbatas berarti “tanpa batas”. Ketika kita merujuk Allah sebagai sesuatu yang “tidak terbatas,” secara garis besar kita menganggap Dia sebagai Mahatahu, Mahakuasa, dan Mahahadir.

Mahatahu berarti Allah mengetahui segala sesuatu; bahwa Ia memiliki pengetahuan yang tidak terbatas. Pengetahuan-Nya yang tidak terbatas menyatakan diri-Nya sebagai penguasa yang berdaulat dan hakim atas segala hal. Allah tidak hanya mengetahui segala hal yang akan terjadi, namun juga mengetahui segala hal yang dapat mungkin terjadi.

Mahakuasa berarti Allah itu penuh dengan segala kuasa. Ia memiliki kekuasaan tidak terbatas. Memiliki seluruh kekuasaan ini penting sebab hal itulah yang membentuk kemampuan Allah untuk mewujudkan kedaulatannya. Karena Allah itu

Mahakuasa dan memiliki kuasa tidak terbatas, tidak ada yang dapat menggagalkan ketetapan-Nya untuk terwujud. Termasuk, tidak ada yang dapat menghalangi atau menghindari tujuan ilahi-Nya untuk terpenuhi.

Mahahadir berarti Allah selalu ada. Tidak ada tempat bagi Saudara untuk bersembunyi dari kehadiran Allah. Allah tidak terbatas oleh waktu dan ruang. Ia hadir di setiap waktu dan ruang. Kehadiran Allah yang tidak terbatas ini sangat penting karena ini menjadikan Allah bersifat kekal. Ia tidak berawal dan tidak berakhir. Tidak pernah ada kesempatan dimana Ia tidak hadir. Tidak akan pernah ada kesempatan dimana Ia berhenti hadir.

Allah itu tidak terbatas, berarti Allah itu jauh di atas, melebihi kita semua dan
kemampuan kita untuk memahaminya. Karena ketidakterbatasan Allah itulah, maka manusia harus bijaksana dalam membangun konsep percaya. Kita harus tetap terbuka pada pekerjaan Allah yang misteri dan percaya bahwa Ia pun dapat memakai orangorang disekeliling kita. Dengan demikian kita dapat paham, bahwa setiap hal yang berada sekitar kita dapat menjadi instrumen yang digunakan Allah untuk mengasah hidup kita. (AL)
Refleksi :
Banyak orang berupaya membatasi Tuhan dengan konsep-konsep yang menyebabkan dirinya kehilangan kemampuan menikmati ketakterbatasan Tuhan.

KETIDAKTAHUAN JURANG PERSAHABATAN

“Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar,
murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah
orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang
tidak diperbolehkan pada hari Sabat.”
(Matius 12:1-2)

Ketidaktahuan dapat mengakibatkan pandangan hidup yang sempit. Hal inilah yang terjadi dengan orang Farisi pada teks hari ini. Kaum Farisi, tergantung dari waktunya, adalah sebuah partai politik, sebuah gerakan sosial, dan belakangan sebuah aliran pemikiran di antara orang-orang Yahudi yang berkembang pada masa Bait Suci Kedua (536 SM–70 M). Dalam gulungan naskah-naskah Laut Mati, kaum Farisi dikatakan sebagai kaum yang suka mencari dan memerhatikan halhal yang sangat kecil. Mereka menjadi pengamat pelaksanaan hukum yang sangat teliti, karena mereka memiliki kerangka berpikir bahwa Allah mencintai orang yang taat hukum dan menghukum yang tidak patuh.

Orang-orang Farisi mengajukan protes kepada Yesus terkait penghormatan terhadap hari sabat. Hukum Yahudi memang melarang penganutnya melakukan segala bentuk “kerja” pada hari Sabat. Yang dimaksudkan adalah “39 kategori aktivitas” yang dilarang oleh Talmud. Ke-39 kategori ini disimpulkan berdasarkan perbandingan terhadap ayat-ayat Alkitab yang sepadan dari jenis-jenis pekerjaan yang perlu untuk membangun Kemah Suci. Kejadian ini menunjukan kegagalan orang-orang Farisi dalam melihat esensi dari Sabat dan Hukum Tuhan yang lain sehingga mereka cenderung membatasi relasi yang humanitas atas nama hukum. Mereka terjebak menjadi kaum legalis yang kurang menghidupkan “seni beriman.” Itulah sebabnya Yesus menjawabnya dengan mengingatkan salah satu inti dari beriman yakni “…Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan,…” (Ay. 7).

Ketidak pahaman seperti ini mengakibatkan orang Farisi kehilangan hubungan dengan Kristus dan murid-Nya. Sempitnya cara pandang mereka mengakibatkan mereka menaruh jarak dan menempatkan Kristus sebagai lawan mereka. Dalam membangun persahabatan, marilah kita mengedepankan substansi bukan “bungkus.” Dan hal tersebut dapat terjadi apabila kita memiliki cakrawala berpikir yang luas. (AL)
Refleksi :
Orang yang memiliki cakrawala berpikir yang luas, adalah orang yang mampu bersahabat dengan siapa saja

PETRUS : KASIH MENEMBUS BATAS APAPUN (Kisah para Rasul 10:1-48)

“Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa
Allah tidak membedakan orang.”
(Kisah Para Rasul 10:34)

Sejak peristiwa dugaan peristiwa penodaan agama yang dilakukan oleh Ahok sampai hari ini (setelah pilkada DKI Jakarta selesai) masyarakat masih berdebat tentang isyu suku, agama, radikalisme dan golongan bahkan semakin liar dan hampir tidak terkendali.

Petrus sebagai orang Yahudi asli yang telah mengalami perjumpaan dan pembaruan hidup dalam Yesus Kristus, tidak serta merta menjadi pribadi yang sempurna. Sikap primordialisme Petrus masih melekat dalam dirinya, hal itu terlihat jelas dalam Kis 10 ini. Dalam ayat 18 -19 Petrus berkata kepada Kornelius dan anggota keluarganya: “Kamu tahu betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tahir. Itulah sebabnya aku tidak keberatan ketika aku dipanggil, dan datang kemari.” Tetapi, ketika ia diperlihatkan oleh Tuhan semua binatang haram untuk memakannya pada ayat 13-14 barulah ia sadar bahwa Tuhan menghendaki dia untuk bergaul dan memberitakan kasih Allah kepada orang-orang non Yahudi.

Pesan penting dari cerita Petrus dan Kornelius ini adalah: Pertama, Kita harus menyadari bahwa sadar atau tidak sering kita memiliki sikap primordialisme juga; merasa suku kita lebih hebat/ superior, agama kita lebih benar, pandangan kita lebih mumpuni dll, sedangkan yang lainnya, salah. Sikap demikian akan membuat tembok yang tebal dalam pergaulan dan dalam membangun relasi dengan orang lain maupun dengan masyarakat. Itulah sebabnya sikap yang demikian harus dibuang supaya kita bisa cair menerima dan memperlakukan orang lain secara terhormat sebagai ciptaan Tuhan. Kedua, Jika kita sudah merasakan dan mengalami bagaimana Tuhan Yesus mengasihi kita apa adanya, maka kita juga harus mengasihi mereka yang belum menerima cinta kasih Tuhan apa adanya juga, tanpa memandang latarbelakang suku, agama, status sosial dll. Sebab Kasih Yesus menembus, menjangkau semua manusia tanpa dibatasi oleh apapun. Kasih Yesus harus menjadi pondasi dalam pergaulan, persahabatan dan relasi kita dengan masyarakat di manapun kita berada. Ketiga, Konelius dan keluarga, orang-orang di luar sana dan dunia ini membutuhkan cinta kasih dari Yesus. Tugas dan panggilan kita adalah mengamalkan dan menularkan cinta dan kasih itu kepada mereka. (RS)
Refleksi:
Apakah cinta dan kasih Yesus menjadi pondasi dalam pergaulan, pertemanan dan persahabatan kita?