BELAS KASIH TUHAN

2014-04-29

BELAS KASIH TUHAN

“Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah
mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu–sebab siapa
yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya.
(Zakaria 2:8)”

Salah satu bagian luar tubuh yang sangat peka adalah bagian mata. Jika kita
melihat bagian mata ada 3 bagian lain yang menarik di sekeliling mata, yakni
pertama alis mata, kedua bulu mata, lalu ada kelopak mata dan air mata. Anda
tahu apa fungsi dari keseluruhan bagian-bagian tersebut? Mereka bertugas secara
refleks untuk melindungi mata dari debu misalnya. Jika ada debu hendak masuk
ke dalam mata, maka bulu mata kelopak mata akan melindunginya secara refleks.
Jika akhirnya debu itu masuk juga ke dalam mata, maka air mata keluar mencuci
mata dari debu tersebut. Itu menjelaskan betapa berharganya mata sehingga ia
mendapatkan perlindungan yang ekstra ketat dari bagian tubuh lainnya.
Nabi Zakharia menjelaskan tentang kedudukan bangsa Israel di hadapan Tuhan
terhadap musuh-musuh atau para penjarahnya. Ia mengumpamakan mereka adalah
biji mataNya sendiri yang artinya jika kita melihat penjelasan di atas, Tuhan tidak
akan membiarka bangsa lain menyentuh mereka, dan akan dengan ekstra melindungi
mereka dari ancaman bahaya bangsa-bangsa yang hendak menyerang dan menjarah
mereka. Itu adalah ketetapan Tuhan tentang bangsa Israel.
Kitapun sama di hadapan Tuhan seperti bangsa Israel. Namun seringkali kita merasa
rentan terhadap serangan masalah-masalah dari sekeliling kita, seolah-olah Tuhan
membiarkan kita berjuang sendiri menghadapi kenyataan hidup ini yang terkadang
sangat keras. Padahal Tuhan sendiri melalui FirmanNya sudah berjanji bahwa Ia akan
menjaga kehidupan kita. Jika akhirnya ada orang yang bisa mencelakai kita pada
akhirnya, itu bukan Tuhan melainkan diri kita sendiri. Dan meskipun kita terluka,
pada akhirnya Tuhan tetap akan memberikan penghiburan dalam kehidupan kita. Ia
akan datang menguatkan kita dan membimbing kita menuju kehidupan yang lebih
baik. Itulah cinta dan perhatian Tuhan yang sesungguhnya dalam kehidupan kita. (AT)
Refleksi :
Kita berharga sebab Tuhan sudah menganggapnya demikian.

KESOMBONGAN AWAL KEHANCURAN

2014-04-27

KESOMBONGAN AWAL KEHANCURAN

Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati
mendahului kehormatan.
(Amsal 18:12)”

Bagi manusia yang berjiwa arogan mungkin agak sulit memahami ayat ini. Ah
masak sih? Bukankah kita harus menunjukkan diri kita agar kita lebih dihargai
oleh orang lain? Bukankah kebanyakan orang menghargai hanya pada kelebihan
orang lain? Misalnya pada kekayaan, kesuksesan, jabatan dan lain sebagainya.
Bukankah itu adalah prestasi yang harus dibanggakan? Untuk orang pahit hati dan
kurang berprestasi ayat ini bisa menjadi senjata untuk menghakimi orang lain.
Namun kedua-keduanya pemahaman di atas belum menyentuh esensi dari ayat di
atas.
Amsal adalah sebuah kitab hikmat yang dituliskan oleh orang yang paling berhikmat
di dunia pada jaman Perjanjian Lama yakni Raja Salomo. Namun diakhir perjalanan
hidupnya, justru hatinya menjauh dari Allah. Raja Salomo mencintai banyak
perempuan asing para perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het,
padahal dalam konteks jaman itu Allah melarang hal itu terjadi. Hati Salomo telah
terpaut kepada mereka dengan cinta. Ia mempunyai 700 isteri dari kaum bangsawan
dan 300 gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN. Tidak sampai
disitu ia mulai meninggalkan penyembahan kepada Allah dan mengikuti dewa-dewa
yang dibawa oleh para istrinya. Hukuman yang paling menghancurkan kehidupan
Salomo adalah bahwa Allah mencabut hak Salomo untuk membangun bait Allah.
Hidup ketika berada di atas, ketika kejayaan, kesuksesan menghampiri kita
dengan sangat luar biasa, bak kapal Titanic sebelum berlayar menuju laut Artic,
sang kapten berseru: “Kapal ini sangat besar, bahkan Tuhan tidak akan sanggup
untuk menenggelamkannya.” Nyata, sebuah gunung es kecil di permukaan laut
merobek buritan kapan dan menenggelamkannya. Sebaliknya melalui ayat ini Allah
mengajarkan sikap kerendahan hati, di mana melaluinya kita bisa tetap menjadi
mawas diri, dan tidak jatuh dalam kesombongan. Mungkin ada hal baik menjadi
sombong, agar orang lain tidak macam-macam dan lebih menghargai kita, selain kita
menghargai prestasi yang telah kita raih, namun itu justru menjadi boomerang dan
membuat kita tidak hati-hati dalam melangkah, seperti raja Salomo. (AT)
Refleksi :
Kesombongan seolah-olah membawa kita ke tempat yang tinggi, namun pada saat
yang sama sedang membawa kita meluncur ke bawah dengan sangat keras.

PANGGILAN MULIA

SELASA, 8 APRIL 2014

PANGGILAN MULIA

“Yesus mendekati mereka dan berkata: ”Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” (Matius 28:18-20)

Kita akan senang jika mendapat panggilan dari seseorang yang dianggap penting. Apalagi jika kita dipercaya untuk mendapatkan posisi yang penting juga. Presiden ketika akan melengkapi kabinetnya akan memanggil orang-orang yang dianggapnya layak untuk menempati posisi-posisi tertentu yang akan membantu kelancaran tugasnya. Biasanya setiap orang yang dipanggil oleh Presiden akan memberikan respon dengan cepat karena merasa mendapatkan kehormatan dan dipercaya untuk menempati jabatan penting di pemerintahan. Bagaimana dengan anak-anak Tuhan ketika mendapat panggilan dari Sang Pemimpin Agung? Setelah bangkit, Yesus menampakkan diri selama beberapa kali kepada murid-murid-Nya. Tiba saatnya untuk Yesus kembali ke surga. Yesus menyampaikan kata-kata perpisahan dengan murid-muridNya di bukit Galilea. Yesus menegaskan dalam nas hari ini bahwa Allah telah memberikan segala kuasa di sorga dan di bumi kepada- Nya. Dia memanggil murid-murid serta memberikan tugas penting kepada mereka untuk menjadi rekan kerja-Nya di dunia dengan menjadikan semua bangsa murid- Nya, membaptiskan dan mengajar untuk menanamkan ketetapan-ketetapan pada para pengikut-Nya. Yesus juga berjanji untuk menyertai murid-muridNya sampai akhir zaman ketika melaksanakan tugas yang dipercayakan kepada mereka. Panggilan mulia tersebut juga berlaku untuk kita sebagai umat-Nya yang telah menerima anugerah keselamatan untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang disekitar kita. Tanggung jawab yang penting sudah dipercayakan kepada kita untuk menjadi rekan kerja Allah di bumi untuk mengabarkan berita suka cita kepada banyak orang. Tidak cukup hanya memberitakan saja, tapi juga memuridkan mereka dan mengajar mereka untuk terus bertumbuh di dalam pengenalan akan Tuhan. Ini tugas mulia yang Yesus percayakan kepada kita sebagai umat-Nya. Tinggal bagaimana kita meresponi panggilan tersebut. Mari kita Laksanakan tugas mulia yang sudah Yesus percayakan, jangan berlambat-lambat.(RCM)

Refleksi : Sudahkah kita melaksanakan panggilan dari Yesus?

 

PANGGILAN MENGUSAHAKAN KEADILAN

Sabtu, 5 April 2014

PANGGILAN MENGUSAHAKAN KEADILAN

” Belajarlah berbuat baik, usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam, belalah hak anak-anak yatim, perjuangkan perkara janda-janda.”
(Yesaya 1:17)

 Keadilan, hari-hari belakangan ini seakan-akan menjadi barang langka. Kenapa barang langka? Keadilan sulit untuk dicari dan ditemukan. Lembaga-lembaga peradilan di negeri ini yang seharusnya menjadi tempat di mana orang dapat mencari dan mendapatkan keadilan, yang terjadi justru lembaga lembaga tersebut sebagai tempat maraknya terjadi ketidak-adilan. Bahkan baru-baru ini, pada saat renungan ini ditulis bangsa kita tengah digoncang (tanpa bermaksud mengabaikan azas praduga tidak bersalah) oleh kasus suap korupsi di Mahkamah Konstitusi(MK). Kasus di MK ini melibatkan langsung sang ketua MK yang tertangkap tangan menerima suap dari kasus pemilukada yang ditanganinya. Kenapa ketidak-adilan marak terjadi? Beberapa alasan dikemukakan sebagai penyebab ketidak-adilan, diantaranya semakin menguatnya sikap hidup masyarakat yang semakin individualistik dan konsumeristik, juga dikarenakan karena orang belum “dimerdekakan” secara rohani; atau belum mengalami pertobatan. Perikop Alkitab hari ini merupakan suara ajakan Allah kepada umat melalui Yesaya. Yesaya menyampaikan suara Tuhan kepada umat supaya umat bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Tuhan tidak menghendaki umat menjalani ibadahnya hanya secara seremonial dan formalitas. Tuhan menyatakan bahwa Ia benci terhadap persembahan-persembahan lembu jantan, dan terhadap korban-korban yang diberikan. Tuhan juga jijik terhadap persembahan kambing domba jantan. Yang diinginkan Tuhan adalah belajarlah berbuat baik, usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam, belalah hak anak-anak yatim dan perjuangkanlah perkara janda-janda. Persembahan yang benar adalah kehidupan yang memperjuangkan dan mempraktekkan keadilan dan kebenaran dalam kehidupan yang paling konkrit. Kita umat Tuhan dan sebagai warga kampus dipanggil untuk menjalani hidup yang benar dan adil. Tidak hidup dalam kepura-puraan dan kemunafikan. (AE)

Refleksi:
Sudahkah kita hidup Adil dengan Tuhan, diri sendiri dan sesama?

 

PANGGILAN UNTUK WASPADA

jumat, 4 april 2014

PANGGILAN UNTUK WASPADA

“ Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya.” (Matius 25:13 )

Ada ungkapan lama “sedialah payung sebelum hujan”. Ungkapan ini ingin menggambarkan sikap waspada atau antisipatif terhadap situasi yang akan dihadapi. Kenapa harus waspada dan antisipatif? Masa depan adalah sebuah misteri yang tidak bisa diprediksi dan tidak mungkin dapat dikenali secara akurat. Manusia, sebagai mahkluk yang diberi akal dan pengertian oleh Tuhan tentu saja memiliki kemampuan-kemampuan dalam mempersiapkan masa depan. Tapi tetap saja, manusia sebagai mahkluk yang terbatas dan sebagai mahkluk ciptaan tidak akan mampu melihat masa depan secara pasti dan karenanya perlu waspada dan berjaga-jaga. Berjaga-jaga dan waspada artinya, kita bersiap sedia ketika masa depan itu tiba. Kita tidak terlambat, kita tidak tertinggal, tapi kita bisa mengisi masa depan dengan baik. Bacaan Alkitab hari ini merupakan sebuah perumpamaan tentang Kerajaan Sorga. Hal kerajaan Sorga adalah masa depan yang tidak pernah seorangpun yang tahu kapan datangnya. Itu merupakan sesuatu yang misteri dan Tuhan sendirilah yang berwewenang untuk menentukannya. 5 gadis yang bijaksana dan 5 gadis yang bodoh, 5 gadis yang menyiapkan minyak dalam buli-buli dan yang tidak menyiapkan minyak, 5 gadis yang masuk dalam perjamuan kawin, dan ada 5 gadis yang tidak dikenal dan tidak memperoleh kesempatan masuk ke dalam ruang perjamuan. Perumpamaan ini menggambarkan kondisi umat yang berwaspada terhadap masa depan dan yang tidak berwaspada terhadap masa depan. Hidup adalah anugerah yang Tuhan berikan kepada kita, karena itu hidup adalah kesempatan bagi kita untuk mengisinya dengan hal hal yang baik, yang benar, yang jujur, yang adil, dan yang berkenan Tuhan. Berjaga-jaga artinya panggilan untuk berwaspada dalam mengisi dan menjalani hidup ini, yaitu sebagai hidup yang memberi kemuliaan bagi nama Tuhan. Bagaimana dengan kita selaku warga kampus, siapkah kita memenuhi panggilan berwaspada?(AE)

Refleksi : Apakah kita sudah berwaspada? Dan apakah kita sudah mengisi hidup dengan sikap dan tindakan yang memuliakan nama Tuhan?

 

PANGGILAN BERDAMAI

Kamis, 3 April 2014

PANGGILAN BERDAMAI

“Tinggalkanlah persembahanmu di atas mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” (Matius 5:24)

Hidup keberagamaan kita dipenuhi upacara-upacara ritual. Salahkah? Tentu saja tidak, karena memang dalam kehidupan keberagamaan tidak bisa dilepaskan dari kegiatan-kegiatan ritus keagaamaan. Dari jaman agama-agama purba, animisme, dinamisme sampai ke jaman agama politheisme dan monotheisme, upacara-upacara keagamaan merupakan kegiatan yang menyatu dengan agama itu sendiri. Termasuk kekristenan memiliki kekayaan tradisi ritus yang dimiliki oleh berbagai denominasi gereja. Namun hal terpenting yang perlu diingat dalam keberagamaan kita adalah jangan sampai upacara-upacara keberagamaan yang kita lakukan hanya sekedar formalitas, hanya sekedar kultis, bukan etis. Ibadah atau keberagamaan yang benar adalah ibadah yang terjadi dan berlaku dalam kehidupan sehari-hari dan berlaku dalam segala aspek kehidupan. Pada bagian bacaan Alkitab hari ini, penulis injil Matius menyatakan bahwa Yesus datang bukan untuk meniadakan Hukum Taurat, tapi Yesus datang justru untuk menggenapinya. Butir yang penting dari bacaan Alkitab ini adalah bahwa keberagamaan itu tidak boleh berhenti pada pengetahuan tentang hukum. Kekristenan tidak boleh stop pada pengetahuan dan ketaatan pada hukum Taurat. Kekristenan tidak stagnan pada persembahan di atas mezbah dengan membawa sembahan berupa kambing, lembu, dan sapi. Penting bagaimana kita berdamai dengan saudara kita, menciptakan suasana hidup yang ramah, sejahtera, harmonis dan kondusif. Itulah sebabnya dikatakan, orang yang membunuh akan dihukum, tapi orang yang marah kepada saudaranya juga harus dihukum. Karena itu pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Hidup kita sekarang ini memang semakin kompleks, banyak terjadi perbedaaan pandangan yang berpotensi terjadi konflik (termasuk di institusi kita UK.Maranatha), tapi sebagai pengikut Yesus kita selalu diingatkan bahwa sekalipun ada perbedaaan, kita harus bisa selesaikan secara damai.(AE)

Refleksi : Sudahkah kita hidup dalam perdamaian dengan orang di sekitar kita?

 

Jadwal Kegiatan

1. Sharing & Doa (Setaip Senin pk. 09.00 – 10.00)

2. Student Fellowship (Setiap Jumat pk. 11.00 – 12.30)

3. Maranatah Fellowship (Setiap Jumat pk. 11.00 – 12.30)

4. Persekutuan Doa (Setiap Selasa 14.30 – 15.30, Setiap Rabu 09.00)

5. Student Outreach (Setiap Jumat pk. 11.00 – 12.30)

HENDAKNYA TERANGMU BERCAHAYA

Wednesday, 02 Apr 2014

HENDAKNYA TERANGMU BERCAHAYA

“ Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di Sorga.” ( Matius 5:16 )

Tolok ukur suatu benda atau barang atau suatu produk tertentu dikatakan bagus/baik tentunya tidak hanya dilihat dari kulit atau kemasannya. Kemasan belum tentu memberi jaminan bahwa isinya itu baik dan bermanfaat. Banyak orang yang tertipu karena hanya melihak luarnya atau penampilannya saja. Memang dalam budaya masyarakat yang terlalu mengagungkan “Shame Culture” di mana status, popularitas, harga diri menjadi sangat ditonjolkan, maka dalam konteks budaya yang seperti ini yang dipentingkan adalah penilaian dari luar/dari orang lain, sehingga aspek penampilan atau kemasan menjadi berada di depan. Berbeda dengan masyarakat yang berpandangan budaya “Guilt Culture” yang mementingkan rasa bersalah dan tanggungjawab, yang terpenting adalah bukan penilaian dari orang, tapi penilaian dari diri sendiri secara objektif. Penulis Injil Matius mencatat ucapan Yesus dalam bacaan Alkitab hari ini yang mengingatkan kepada murid-muridnya dan kepada segenap pengikutNya, supaya hidup mereka seperti Garam dan seperti Terang. Hidup seperti garam dan terang maksudnya adalah hidup yang memberi faedah, hidup yang memberi dampak atau manfaat yang baik. Karena itulah dikatakan, jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Jadi, sekali lagi, yang dituntut oleh Yesus dari pengikutNya adalah memenuhi panggilan hidup yang memberi manfaat/faedah bagi sekitarnya atau bagi orang lain. Bukan sekedar status atau popularitas, bukan sekedar penampakan kulit. Harapan dan kerinduan Tuhan Yesus dari para pengikutNya (kita warga kampus sebagai bagian di dalamnya) dipanggil supaya hidup kita memberikan manfaat bagi lingkungan dan sesama, sesuai dengan FirmanNya supaya hendaknya terangmu bercahaya.(AE)

Refleksi : Sudahkah kita menjalani hidup yang bermanfaat? Kalau belum, apa hambatannya dan bagaimana tekad selanjutnya?

 

RESPONSIF TERHADAP PANGGILAN ALLAH

RESPONSIF TERHADAP PANGGILAN ALLAH

“ Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.” ( Matius 4:20 )

Gaya hidup masyarakat modern yang super sibuk menyita begitu banyak waktu dari subuh sampai malam. Bahkan ada sebagian orang yang mengatakan waktu 24 jam dalam sehari itu terasa tidak cukup untuk mengerjakan dan apalagi menyelesaikan segala pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk. Kesibukan dalam pekerjaan yang begitu luarbiasa terkadang membuat kita melupakan hal-hal yang penting dalam hidup, seperti waktu untuk istirahat, waktu untuk keluarga, bahkan waktu untuk Tuhan. Kita seringkali melupakan apa yang seharusnya menjadi tujuan dalam hidup ini, melupakan apa yang seharusnya menjadi prioritas dan yang perlu kita sikapi secara responsif. Melalui perikop pembacaan Alkitab hari ini, kita dapat belajar dari tokoh-tokoh yang diceritakan yaitu Simon yang disebut Petrus, Andreas, Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya. Kita dapat belajar bahwa mereka tentulah bukan orang-orang pengangguran yang tidak memiliki pekerjaan dan yang hidupnya hanya membuang-buang waktu. Kita harus menjauhkan pikiran kita dari pendapat yang seperti itu, karena kita mendapat catatan dari Alkitab bahwa walaupun pekerjaan yang mereka lakukan sangat sederhana yaitu sebagai nelayan, tapi ketika Yesus menjumpai dan memanggil mereka, mereka sedang bekerja. Namun hal penting yang menjadi pembelajaran bagi kita dari apa yang dilakukan oleh murid-murid Yesus ini adalah bahwa mereka menempatkan panggilan Yesus sebagai prioritas dan mereka responsif terhadap panggilan itu. Mereka tidak mencari-cari alasan untuk menghindari panggilan Tuhan, dan mereka tidak menunda-nunda waktu untuk menghindar. Semua orang diberikan waktu yang sama oleh Tuhan yaitu 24 jam dalam sehari, dan semua orang (termasuk kita sebagai warga kampus) diberikan tugas dan pekerjaan oleh Tuhan sesuai dengan talenta kita masing-masing. Tapi mari kita sikapi semua itu dengan bijak, supaya kita sadar mengenai apa yang menjadi prioritas dan kita responsif terhadap panggilan Tuhan.(AE)

Refleksi : Responsifkah kita terhadap panggilan Tuhan? Ataukah kita tak acuh?