MENGUSAHAKAN PERDAMAIAN

 MENGUSAHAKAN PERDAMAIAN

“ Pada keesokan harinya ia muncul pula ketika dua orang Israel sedang berkelahi, lalu ia berusaha mendamaikan mereka, katanya: Saudara-saudara! Bukankah kamu ini bersaudara? Mengapakah kamu saling menganiaya?” (Kisah 7:26)

Kehidupan  yang  semakin  modern  menyebabkan  tingkat individualistis  yang semakin  tinggi.  Kebanyakan  orang  asyik  dengan  dunianya  sendiri  dan  tidak peduli dengan kondisi di sekitarnya. Ketika ada orang yang sedang bermusuhan atau sedang mengalami konflik, ada kecenderungan orang-orang terdekatnya tidak
mau peduli dengan alasan tidak ingin ikut campur urusan orang lain. Alasan lainnya karena tidak mau direpotkan oleh masalah orang lain dan kesulitan hidup  sendiri juga sudah banyak jadi untuk apa mengurus masalah orang lain.

Pembelaan  Stefanus  dihadapan  Imam  Besar  memberikan  kesempatan  kepada Stefanus  untuk  menyampaikan  kesaksian  karya  Allah  dalam  kehidupan  manusia. Bagian  ini  merupakan  kisah  tentang  Musa.  Kepedulian  Musa  kepada  dua  orang Israel yang berkelahi dan berusaha agar mereka berdamai sebagai sesama saudara merupakan suatu tindakan yang berani. Walaupun usaha Musa menerima penolakan tetapi apa yang Musa lakukan untuk menolong mereka berdamai.

Setiap kita pasti pernah mengalami konflik dengan sesama. Konflik terjadi karena setiap orang unik dan berbeda. Ada banyak konflik terjadi di muka bumi ini. Konflik antara orang tua dengan anak, konflik dengan saudara, konflik suami dengan isteri, konflik mertua dengan menantu, konflik dengan rekan kerja, konflik atasan dengan bawahan,  konflik  antar  bangsa,  dan  masih  banyak  konflik-konflk  lainnya.  Lalu
bagaimana menyelesaikan konflik yang ada? Apa yang akan Anda lakukan jika orangorang  terdekat  Anda  sedang  mengalami  konflik?  Kalau  kemudian  anda  berusaha ikut  menyelesaikan  persoalan  mereka  dan  mendamaikannya,  bagaimana  jika mereka menolak seperti pengalaman Musa dan berakibat buruk untuk diri sendiri?
Akhirnya orang cenderung untuk tidak peduli terhadap orang disekitarnya. Anak-anak Tuhan tidak seharusnya membiarkan mereka. Kita perlu peduli dan menolong serta mengupayakan perdamaian. Pasti tidak mudah untuk melakukan hal tersebut tetapi bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan. Perlu ketulusan hati kita untuk menolong orang lain dan juga hikmat dari Allah.(RCM)

Refleksi :
Usahakanlah perdamaian di sekitar kita.

BERDAMAI DENGAN MUSUH

BERDAMAI DENGAN MUSUH

“ Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu , berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;” (Lukas 6:27)

Semua  orang  pasti  pernah  punya  pengalaman  memandang  seseorang sebagai  musuh.  Mungkin  saat  inipun  anda  masih  memiliki  daftar  panjang berisi  orang-orang  yang  anda  anggap sebagai  musuh.  Ada  banyak  alasan menjadikan  orang  sebagai  musuh.  Misalnya,  orang  tersebut  pernah  menyakiti kita, mengkhianati  kita,  menipu  dan  lain  sebagainya.  Permusuhan  seringkali berjalan beriringan dengan sakit hati. Orang yang menganggap seseorang sebagai musuh akan selalu ingin membalas perbuatan jahat. Dendam dan kebencian tidak lagi  dapat  dihindarkan,  dan  semakin  lama  rasa  ini  akan  semakin  dalam,  hingga kita  sering  mendengar  ucapan:  ”tidak  akan  saya  maafkan  hingga  tujuh  turunan!”

Dalam hidup kita tidak bisa menghindari benturan dengan orang lain. Ada kalanya kita akan merasa disakiti. Itu wajar karena manusia adalah mahluk yang tidak luput dari kekeliruan. Yesus  memberitahukan  bagaimana  harus  hidup  bersama  orang  lain.  Kasih merupakan inti ajaran Juruselamat, sebab kasih merupakan hakikat dari watak Allah.
Tuhan Yesus mengajarkan sebuah ajaran yang baru dihadapan murid-muridNya dan orang banyak. Tidak ada prinsip mata ganti mata, melainkan ajakan untuk mengasihi musuh.  Bagaimana  caranya?  Dengan  tidak  membalas  perbuatan  buruk  mereka bahkan berdoa bagi mereka. Mengapa kita harus mengasihi musuh kita? Bukankah
kita disakiti atau dikecewakan? Kita melakukan hal itu karena kita adalah anak-anak Allah.  Bukankah  dari  Bapa  yang  sempurna,  kita  anak-anakNya  juga  harus  mampu mencerminkan  hal  itu  ketika  orang  dunia  juga  mampu  mengasihi  atau  memberi salam?  Bukankah  orang-orang  dunia  juga  mampu  mengampuni?  Apa  jadinya  jika kita yang mengaku anak-anak Allah malah sulit untuk mengampuni atau mengasihi musuh?

Siapakah musuh anda saat ini? Saudara kandung atau keluarga yang tidak membantu anda?  Teman  sekantor  atau  teman  sekelas  yang  mengecewakan  anda?  Tetangga yang  sinis?  Orang  tua  yang  tidak  pernah  menghargai  keberadaan  anda?  Atau  diri anda  sendiri?  Berdamailah.  Sadarkan  mereka  dengan  tindakan  mengasihi  dan
doakanlah terus. Sebagai anak-anak Allah, kita harus mampu keluar dari permusuhan dan menunjukkan kasih melalui doa dan perbuatan.(RCM)

Refleksi :
Kasihilah musuhmu dan berdoalah untuk orang yang menganiaya kamu.

BERDAMAI DENGAN PASANGAN

BERDAMAI DENGAN PASANGAN

” Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau         berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya. ”(1 Korintus 7:11)

Pernikahan dan keluarga Kristen mempunyai tujuan yang jelas karena memang untuk  maksud  itulah  Allah  menciptakan  lembaga pernikahan.  Bahkan Allah  menetapkan  bahwa  lembaga  pernikahan  dan  keluarga  menjadi  pusat kehidupan  manusia  seutuhnya.  Melalui  pernikahan  dan  keluarga  Kristen,  orang Kristen  dipersiapkan  untuk  betul-betul  menjadi  manusia  yang  seutuhnya.  Sangat mengherankan, bahwa bukan gereja dan bukan pula sekolah yang ditetapkan Allah untuk  membentuk  manusia  menjadi  manusia  seutuhnya,  tetapi  keluarga.  Melalui pernikahan  dan  pembentukan  keluarga,  orang  percaya  dipanggil  untuk  masuk  ke dalam proses pendidikan yang paling efektif.

Paulus  mengakui  bahwa  Allah  ingin  agar  pernikahan  itu  bersifat  langgeng.  Akan tetapi,  ia  juga  menyadari  bahwa  kadang  kala suatu  hubungan  pernikahan  dapat menjadi tak tertahankan lagi sehingga perceraian dari pasangan nikah pun terjadi. Sebab itu, di sini Paulus tidak berbicara mengenai perceraian yang diizinkan oleh Allah karena  alasan  perzinahan.  Nasihat  Paulus  selanjutnya  menyangkut  pemeliharaan atau pemutusan ikatan pernikahan, di dalam pernikahan antar orang percaya dan pernikahan campuran. Bagi orang-orang percaya peraturannya adalah, tidak boleh cerai,  yang  didukung  oleh  sudut  pandang  Tuhan,  (bukan  aku,  tetapi  Tuhan)  Jika terjadi perceraian yang tidak dibenarkan, Paulus mengemukakan dua kemungkinan.

Pihak  istri  harus  hidup  tanpa  suami.  Atau,  dia  dapat  berdamai  dengan  suaminya, tanpa ada perceraian lagi sesudahnya.Membangun kehidupan berumah tangga yang damai dan penuh sukacita memang
menjadi dambaan setiap orang. Mereka yang sudah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan  oleh  manusia.  Itu  sebabnya  pernikahan  menjadi  keputusan  terpenting kedua setelah seseorang menerima Kristus dalam hidupnya. Ada banyak persoalan di  dalam  kehidupan  keluarga  tetapi  bukan  berarti  tidak  ada  kedamaian.  Apapun yang terjadi dalam kehidupan keluarga Anda, tetaplah hidup dalam perdamaian.(RCM)

Refleksi :
Hiduplah dalam perdamaian dengan pasangan.

BERDAMAI DENGAN LAWAN

BERDAMAI DENGAN LAWAN
Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.”(Matius 5:25)
Permusuhan  antara  Israel  dengan  Palestina  selalu  menjadi  berita.  Perdamaian antara  Israel  dengan  Palestina  sepertinya  menjadi  sesuatu  hal  yang  mustahil terjadi. Kedua negara tersebut akan selalu menjadi seteru. Konflik Palestina – Israel  menurut  sejarah  sudah  47  tahun  ketika  pada  tahun  1967  Israel  menyerang Mesir,  Yordania  dan  Syria  dan  berhasil  merebut  Sinai  dan  Jalur  Gaza  (Mesir),
dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania). Sampai sekarang perdamaian sepertinya jauh dari harapan. Ditambah lagi terjadi ketidaksepakatan tentang masa depan Palestina dan hubungannya dengan Israel di antara faksi-faksi di Palestina sendiri.
Firman  Tuhan  hari  ini  kembali  mengingatkan  kita  untuk  berdamai  dengan  lawan supaya tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk lagi. Seseorang bisa saja menyerahkan masalah  kepada  hakim  dan  memenjarakan  orang  yang  dianggapnya  sebagai lawannya.
Salah  satu  akibat  penting  dari  peristiwa  kematian  Tuhan  Yesus  di  kayu salib  ialah didamaikan-Nya kita kembali dengan Allah. Paulus menyatakan bahwa pendamaian tersebut  dapat  terjadi  oleh  “darah  salib  Kristus”.  Dengan  demikian,  melalui pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib itu hubungan baik kita dengan Allah, yang sebelumnya  telah  rusak  karena  dosa-dosa  sehingga  menimbulkan  permusuhan
dengan-Nya,  dipulihkan  kembali.  Dan  oleh  pemulihan  tersebut,  kemanusiaan  kita yang  lama,  yang  dikuasai  oleh  dosa  sehingga  pasti  akan  menerima  hukuman  dari Allah, diganti dengan kemanusiaan yang baru, yang bersedia menempatkan diri di bawah  kuasa  Allah  dan  kehendak-Nya.  Itulah  makna  dari  ungkapan  “didamaikan dengan  Allah”.  Dengan  demikian,  membina  dan  melaksanakan  hidup  yang  damai atau rukun dengan sesama, merupakan hal yang tidak boleh kita remehkan, karena hal itu sangat penting dan serius bagi kita orang-orang percaya. Hubungan yang baik dengan sesama, meski mungkin hal itu berarti harus disertai pengorbanan, termasuk korban perasaan, menjadi tanda atau bukti dari hubungan yang baik dengan Allah.
Sebaliknya,  hubungan  dengan  sesama  yang  tidak  beres,  itu  menjadi  bukti  dari
hubungan dengan Allah yang juga tidak beres.(RCM)
Refleksi :
Berdamailah dengan semua lawanmu.

BERDAMAI DENGAN SAUDARA

                           BERDAMAI DENGAN SAUDARA
“ Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu”

                                          (Matius.5 : 23-24)

Ajaran inti Kristen adalah kasih. Kita sudah dikasihi oleh Allah maka kita juga mengasihi Allah dan sesama. Seorang yang mengatakan dirinya mengasihi Allah tetapi membenci saudaranya dianggap sebagai pendusta. Karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang di lihatnya tidak mungkin dapat mengasihi Allah yang tidak dilihatnya.
Yesus mengingatkan bahwa jika seseorang akan mempersembahkan persembahan di  atas  mezbah  kepada  Allah  dan  ada  masalah  dengan  saudaranya  maka  orang tersebut wajib menyelesaikan persoalan dan berdamai dahulu dengan saudaranya.

Ini berarti jika ada seseorang yang terluka oleh karena tingkah laku atau perkataan kita,  sepatutnya  kita  datangi  dahulu  orang  itu  dan  membereskan  masalah dengannya.  Jangan  menutup-tutupi  persoalan  kita  dengan  aktivitas  pelayanan, dengan ibadah, dan lain-lain. Bagi Tuhan Yesus, ibadah itu berpusat di hati. Tidak boleh kita mengenakan topeng sepertinya tidak terjadi apa-apa. Jangan menunda
tetapi  selesaikanlah  dengan  segera.  Tuhan  Yesus  mau  berkata  selesaikanlah persoalanmu itu secara personal. Yesus sendiri telah meminta agar jangan menunda untuk berdamai dengan orang sebelum berdoa.

Dendam  melahirkan  kepahitan,  benci,  amarah,  iri,  dan  tidak  mau  memaafkan; yang  akan  dipakai  iblis  untuk  mendatangkan  perbuatan  jahat,  seperti  kekerasan, penyimpangan, bahkan terjadinya peperangan. Untuk itu, “berusahalah hidup damai dengan  semua  orang  dan  berusahalah  menjadi  kudus”.  “Apabila  kamu  menjadi
marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu”. Tuhan ingin kita bisa mengampuni dengan tulus kepada semua orang dan Tuhan ingin kita menjaga hubungan yang baik dengan siapapun juga. Harus ada pemulihan dengan sesama kita jika kita mau hidup berkenan dan diberkati Tuhan.
Obati semua sakit hati dan luka yang ada di hati kita dan ganti dengan pengampunan yang tulus.(RCM)

Refleksi :
Hubungan yang baik dengan sesama cerminan hubungan kita dengan Allah.

CARILAH PERDAMAIAN

                                CARILAH PERDAMAIAN

jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik,carilah perdamaian dan
berusahalah mendapatkannya!” (Mazmur 34:15)
Hayati Eka Lakshmi, berasal dari Badung, Bali adalah keluarga korban bom Bali. Suaminya jadi korban ledakan bom. Dia mempertanyakan, ”Kenapa ada bom di Bali, siapa yang mau meledakkan bom di pulau yang terkenal cinta damai dan penuh solidaritas itu, serta bagaimana nasib suaminya?” Akhirnya setelah tujuh hari pencarian, Eka berhasil menemukan jenasah suaminya, Himawan, di ruang jenazah RS Sanglah, Denpasar. Tak ada yang bisa dikenali dari jasad suaminya, kecuali ciri fisik dan sisa pakaian karena suaminya anggota satuan pemadam kebakaran di bandara Ngurah Rai. Eka bersyukur tahun 2006 mendapat kesempatan bekerja sebagai guru sebuah sekolah menengah di Badung. Eka tidak ingin menyimpan dendam, justru
sebagai  guru  memberinya  kesempatan  menyebarkan  pesan  damai   dan  menolak kekerasan pada anak didik.

Mazmur  Daud  ini  berisi  pujian  kepada  Tuhan  untuk  suatu  kelepasan  ajaib  dari kesulitan besar. Kesaksiannya memberikan semangat kepada semua orang percaya yang  tertindas  untuk  percaya  bahwa  mereka  juga  dapat  mengalami  kebaikan Tuhan.  Daud  mengingatkan  agar  menjauhi  yang  jahat  dan  melakukan  yang  baik pada saat sedang mengalami ketidak-adilan. Daud juga menghimbau agar mencari perdamaian  dan  berusaha  untuk  mendapatkannya  justru  pada  saat  Daud  sedang dalam perseteruan. Daud yakin bahwa Allah yang jadi tempat perlindungannya pada saat menghadapi masalah.

Apapun yang terjadi dalam hidup umat Allah, kita harus memiliki keyakinan seperti Daud bahwa Allah akan menolong dan menjadi tempat perlindungan kita. Mungkin ada  orang-orang  di  sekitar  kita  yang  ingin  menjatuhkan  kita,  yang  ingin  berbuat hal-hal yang jahat kepada kita atau ada yang sedang berselisih dengan kita. Jangan
membalas  kejahatan  dengan  kejahatan.  Balaslah  kejahatan  dengan  kebaikan  dan usahakanlah perdamaian. Kita sudah mendapatkan banyak kebaikan dari Allah dan hidup  kita  juga  sudah  diperdamaikan  dengan  Allah  oleh  pengorbanan  Kristus  di kayu salib. Kasih dan anugerah yang besar dari Allah sudah kita dapatkan. Tugas kita adalah tetap melakukan kebaikan dan hidup berdamai dengan semua orang sebagai ungkapan syukur kita kepada Allah.(RCM)

Refleksi :
Apakah Anda sudah mencari dan mengupayakan perdamaian?

BERDAMPAK BAGI SESAMA

BERDAMPAK BAGI SESAMA

“ Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.” (Markus 9:50)

Pertanyaan  terpenting  untuk  kita  renungkan,  bagaimana  kita  bisa  menjadi pribadi yang berdampak bagi hidup orang lain? Ada beberapa cara sederhana yang bisa kita lakukan. Misalnya, secara sengaja, usahakan diri kita bisa menjadi bagian  penting  bagi  hidup  orang  lain.  Ini  semua  bisa  dimulai  dari  apa  yang  kita miliki. Kita bisa memulainya dari hal yang paling sederhana, seperti menyapa orang lain  terlebih  dahulu  atau  berbagi  ilmu  dan  pengalaman.  Selain  itu,  kita  bisa  juga menolong  meringankan  pekerjaan  rekan  kerja  di kantor  atau  membantu  sesama mahasiswa  yang  mengalami kesulitan  dalam  belajar.  Hal  lain  yang  juga  bisa  kita lakukan adalah menjadi teladan. Terutama menjadi teladan bagi setiap perubahan
yang ingin kita lihat terjadi di masa mendatang. Mahatma Gandhi mengatakan, “Be the change you wish to see in the world.”Jika kita ingin melihat negeri ini bebas dari korupsi, kita sendiri harus bebas dari praktek korupsi terlebih dahulu. JIka kita ingin ada perdamaian maka kita juga harus bisa hidup berdamai dengan orang lain.
Yesus  dalam  nats  hari  ini  mengatakan  bahwa  para  pengikut-Nya  harus  seperti garam,  membiarkan  pengaruh  mereka  dirasakan  oleh  dunia.  Garam  berfungsi untuk  mencegah  kebusukan  dan  memberikan  rasa.  Untuk  menjadi  pengaruh yang  baik,  mereka  sendiri  harus  memiliki  kebaikan  itu.  Hal  lain  yang  juga  Yesus
perintahkan adalah selalu hidup berdamai dengan orang lain. Hidup berdampingan dan penuh kasih. Kedua perintah ini memakai bentuk waktu sekarang, yang artinya memerintahkan untuk dilaksanakan terus-menerus.
Kehidupan  yang  berdampak  kepada  sesama  tidak  mudah.  Harus  mulai  dari  diri sendiri. Hidup sebagai garam dan hidup berdamai dengan semua orang yang harus terus  menerus  dilakukan  oleh  setiap  anak-anak  Allah.  Siapapun  itu  ketika  Tuhan panggil kita dan memilih kita maka kita harus menjadi orang yang berdampak bagi
jiwa-jiwa.  Janganlah  menjadi  orang  yang  eksklusif  tetapi  jalinlah  suatu  hubungan yang  indah  yang  menimbulkan  suatu  kepercayaan  yang  baik  dan  positif  sehingga menimbulkan suatu kepercayaan yang kuat dan membuahkan hasil maksimal yang berdampak positif kepada sesama serta hidup dalam perdamaian.(RCM)

Refleksi :
Apakah hidup kita sudah berdampak baik bagi orang lain?

PEMBAWA DAMAI

“Berbahagialah orang yang membawa damai , karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9)

Prof. Dr. KRH I.W Mertha Sutedja Mulyadiningrat, S.IP, SH merupakan salah satu tokoh perdamaian dunia dari Indonesia yang konsisten melakukan berbagai upaya perdamaian. Dia seorang pembawa damai. Keluwesan sikapnya dalam pergaulan menyebabkan dia diterima oleh semua kalangan. Sifatnya yang santun namun tegas dan memiliki prinsip yang kuat menjadikan dirinya sebagai figur panutan yang disegani banyak orang. Hidupnya dibaktikan untuk perdamaian dunia dengan mengumandangkan falsafah Hindu Bali terutama dalam rangka mempertahankan Bali sebagai pulau wisata budaya. Perjuangan panjang yang tak kenal lelah dan pantang menyerah yang mengantarkan keberhasilannya sebagai tokoh perdamaian dunia. Tak terhitung banyaknya pernghargaan internasional yang diterimanya. Diantaranya Broze Medal Award for Peace dari Albert-Einstein, International Academy Foundation Founded Missoury USA, Merit Cross Award dari Non Governmental Organization/ NGO PBB Bidang Perdamaian Dunia selaku Educator of Worldpeace. Pada Tahun 2005 mendapatkan penghargaan Internasional Man of The Year 2005 dari American Biographical Institute yg juga menganugerahkan hadiah Nobel karena dinilai sebagai sorang tokoh perdamaian dunia yang sangat konsisten (sumber : Bali Post).
Yesus mengatakan bahwa ”Yang membawa damai” adalah orang-orang yang telah diperdamaikan dengan Allah dan disebut sebagai anak-anak Allah. Damai dengan Allah membawa damai pada manusia dengan sesamanya. Kristus adalah ”Raja Damai”, demikian pula pembawa damai akan dikenal sebagai orang yang memiliki sifat dasar Allah.
Anak-anak Allah sebagai pembawa damai akan berusaha melalui kesaksian dan kehidupannya untuk menuntun orang lain, termasuk musuh-musuhnya, agar berdamai dengan Allah. Anak-anak Allah hidup dalam perdamaian dengan semua orang, tetapi juga akan berusaha memperdamaikan orang yang sedang dalam perselisihan atau permusuhan. Kita sebagai umat yang percaya kepada Kristus dan sudah mengalami pendamaian dengan Allah oleh Kristus hendaknya menjadi orang-orang yang membawa damai. Ketika kita menjadi pembawa damai, kehadiran kita akan membawa terang Allah di tengah-tengah dunia.(RCM)

Refleksi: Jadilah pembawa damai

BERDAMAI DENGAN KEBERHASILAN HIDUP & AMBISI PRIBADI

BERDAMAI DENGAN KEBERHASILAN HIDUP & AMBISI PRIBADI

Kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia (Efesus 4:15). Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita (Galatia 5:1).

Ada dua konsep yang menentukan kemenangan dan kehidupan Kristen yang berbuah. Yang pertama adalah kedewasaan. Paulus menuliskan: “Kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah kepala… kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Ef. 5:15, 13). Allah telah memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk bertumbuh ke arah kedewasaan dalam Kristus. Kita harus mengalami kemenangan melawan sisi gelap sebelum kita mencapai kedewasaan penuh. Konsep kedua dari kehidupan Kristen yang berhasil adalah kebebasan. Paulus menyatakan: “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita; karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan” (Galatia 5:1). Ayat ini bukan hanya memberikan jaminan kepada kita bahwa Allah ingin kita bebas, tetapi juga mengingatkan bahwa kita bisa kehilangan kebebasan dengan kembali kepada hukum Taurat. Sebelum kita menerima Kristus, kita adalah hamba dosa. Tetapi karena karya Kristus di kayu salib, kuasa dosa atas kita telah dipatahkan. Iblis tidak lagi memiliki otoritas atas diri kita. Dia adalah musuh yang telah dikalahkan, tetapi dia selalu berusaha untuk memengaruhi kita supaya kita tidak menyadarinya. Dia tahu bahwa dia dapat mencegah kita untuk hidup efektif sebagai orang Kristen ketika ia berhasil mengelabui kita dengan mengatakan bahwa Anda adalah produk masa lalu, hamba dosa, cenderung gagal, dan dikendalikan oleh kebiasaan-kebiasaan. Selama ia dapat membingungkan Anda dan membutakan mata Anda dengan kebohongan-kebohongan yang gelap, Anda tidak akan bisa melihat bahwa rantai yang dulu membelenggu Anda telah diputuskan. Anda bebas di dalam Kristus, namun jika Iblis dapat menipu Anda dengan mengatakan sebaliknya, Anda tidak akan mengalami kebebasan yang adalah warisan Anda.(RR)

Refleksi:
Tidak ada kedewasaan yang bersifat instan, yang ada adalah kebebasan dari dosa oleh Salib Kristus. Sekali Anda menerima kebebasan, maka Anda akan dapat bertumbuh kepada kedewasaan rohani yang menjadi ukuran keberhasilan hidup orang percaya.

BERDAMAI DENGAN JATIDIRI PRIBADI

BERDAMAI DENGAN JATIDIRI PRIBADI
”Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.”
(Roma 8:14)
Jika ada orang yang bertanya kepada Anda, “Siapakan Anda?”, apakah jawaban Anda?  Kedengarannya  seperti  pertanyaan  yang  sederhana  dan  membutuhkan jawaban sederhana pula, namun kenyataannya tidak. Misalnya, waktu seseorang bertanya  kepada  saya,  “Siapakah  Anda?”  Saya  mungkin  menjawab  dengan menyebutkan nama saya. “Bukan, itu nama Anda. Siapakah Anda? Mungkin, saya akan  menyebutkan  kewarganegaraan  saya.  Misalnya,  “Saya  orang  Indonesia.”
Saya juga mungkin bisa bilang bahwa tinggi badan saya sekitar 170 cm dan berat badan sekitar 70 kg. Tetapi dimensi dan tampilan fisik bukanlah saya juga. Jika Anda memotong tangan dan kaki saya apakah saya tetap saya? Jika Anda mencangkokkan jantung, ginjal, dan hati kepada saya apakah saya tetap saya? Tentu saja! Sekarang
kalau Anda mengambil bagian tubuh saya yang lain saya tetap ada karena saya ada di  suatu  tempat  disini.  Tetapi  siapa  saya  jauh  lebih  dari  apa  yang  bisa  Anda  lihat dari luar. Mungkin seperti halnya Rasul Paulus, kita dapat mengatakan bahwa kita “memandang  manusia  bukan  berdasarkan  hal-hal  lahiriah.”  Namun  demikian  kita
cenderung memandang diri kita dan orang lain berdasarkan tampilan fisik (tinggi, pendek,  kekar,  gemulai)  atau  pada  apa  yang  dilakukan  (tukang  ledeng,  tukang kayu,  dosen,  insinyur,  pegawai  tata  usaha).  Lebih  jauh  lagi,  waktu  diminta  untuk menceritakan  tentang  keyakinan  kita,  biasanya  kita  berbicara  tentang  posisi  kita
secara doktrinal (saya seorang Pentakosta, Injili, pengikut Calvin, orang karismatik), atau  denominasi  (Baptis,  Presbyterian,  Metodis,  Independen),  atau  peran  kita  di gereja (Guru Sekolah Minggu, anggota paduan suara, penatua, dll) Tetapi  apakah,  siapakah   Anda  ditentukan  oleh  apa  yang  Anda  lakukan,  atau  apa yang  Anda  lakukan  ditentukan  oleh  siapa  Anda?  Ini  adalah  pertanyaan  yang
penting,  khususnya  berhubungan  dengan  kedewasaan  Kristen.   Kita  percaya bahwa pengharapan kita akan pertumbuhan rohani, makna hidup, dan pemenuhan kebutuhan sebagai seorang Kristen didasarkan pada pemahaman mengenai siapa diri kita – khususnya berhubungan dengan identitas atau jati diri kita sebagai anak Allah.
Pemahaman Anda mengenai siapa Anda di dalam Kristus akan sangat menentukan bagaimana Anda menghidupi kehidupan Anda.(RR)

Refleksi:
Jangan biarkan aku kembali kepada atribut-atribut kedagingan atau lahiriah.