HIDUP BERBEDA

Jumat, 25 Juli 2014

HIDUP BERBEDA

Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang  sia-sia.

(Efesus 4:17)

Pada waktu manusia menghadapi masalah dalam hidupnya, tentu respon yang pertama adalah kesal, mengeluh dan marah kepada diri sendiri atau orang lain. Pernahkah kita berpikir bahwa masalah itu adalah hal baik bagi siapapun dan berguna dalam menolong hidup manusia semakin lebih baik. Sikap hidup yang seperti ini adalah salah satu perbedaan orang yang sudah mengenal Allah, mengapa demikian? Karena ia sadar dan mengerti bahwa ia adalah manusia baru.

Paulus menasihati orang-orang Efesus yang telah menjadi Kristen tetapi sedikit yang menjalankan kekristenannya, bahkan masih banyak yang melakukan kejahatan (hidup lama). Paulus mengingatkan bahwa kendala yang selalu muncul dan menjadi penghambat bagi pertumbuhan tubuh Kristus adalah masih adanya “tabiat hidup lama” dalam kehidupan jemaat Tuhan. Hal ini yang menjadi kendala dalam pertumbuhan iman orang Kristen. Sebagai orang yang sudah mengenal Tuhan seharusnya menyadari bahwa mereka telah menjadi anggota tubuh Kristus, sehingga mereka tidak boleh memakai cara berpikir dan perilaku orang yang tidak mengenal Allah. Frase “Sebab itu” memberikan ketegaskan bahwa mereka yang telah berada di dalam Kristus tidak sepatutnya hidup sama seperti orang yang berada di luar Kristus. Apa alasannya? Paulus menjelaskan bahwa mereka yang berada di luar Kristus hidup menuruti hawa nafsu dan segala macam kecemaran; sehingga mereka cenderung hanya mengikuti nafsunya. Tentunya tidak demikian bagi yang sudah mengenal Tuhan.

Sebagai warga kampus yang sudah mengenal Allah maka hidupnya akan seperti Kristus. Ia sadar tidak akan membiarkan tabiat lama menghambat pertumbuhan rohani dan ia memiliki kemauan untuk meninggalkan tabiat lama. Sikap dan cara hidup orang yang mengenal Allah akan berbeda dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah. (RAP)

Refleksi : Sudahkah, kita menanggalkan tabiat lama dengan hidup dalam Kristus dan dipimpin oleh Roh Kudus.

 

 

 

MENGUASAI DIRI

Kamis, 24 Juli 2014

MENGUASAI DIRI

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.”

(Amsal 16:32)

 

Pada saat ini sebagian anggota masyarakat Indonesia tak mampu menguasai diri, sehingga dengan mudahnya terprovokasi oleh berbagai isu. Tindakan main hakim sendiri dengan memukuli, merusak dan menghancurkan milik orang lain tanpa menanti proses hukum yang berlaku. Keadaan seperti ini harus segera diatasi oleh aparat keamanan dan lembaga keadilan supaya tidak menimbulkan banyak kerugian.

Nas hari ini menyatakan bahwa orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota. Keunggulan seorang pahlawan bukan terletak pada kemahiran menggunakan senjata atau keberanian dalam menyerang musuh, melainkan pada kesabaran menantikan waktu yang tepat untuk memberikan perlawanan dan memenangkan pertempuran. Orang yang menguasai diri mengetahui batas kemampuan dan kelemahan lawan, sehingga ia akan bertindak pada waktu yang tepat. Arti dari penguasaan diri juga adalah sikap kehidupan yang tegas, baik terhadap orang luar maupun terhadap diri sendiri dan juga terhadap keinginan-keinginan duniawi. Ketika kita tahu sesuatu itu salah, kita harus tegas terhadap diri sendiri dan berkata: tidak! Maka keunggulan manusia bukan terletak pada kekuatan fisiknya melainkan pada penguasaan diri.

Kemampuan seseorang dalam menguasai diri perlu melakukan latihan dari hal-hal kecil. Ada orang berkata lebih sukar menguasai diri daripada menjinakkan binatang buas karena menguasai diri berkaitan dengan hawa nafsu. Jika seseorang tidak mampu menguasai dirinya cenderung orang itu akan melakukan tindakan-tindakan apapun untuk memperoleh keinginannya. Tantangan bagi setiap warga kampus yang diberikan kepercayaan dan tanggung jawab, apakah tetap mampu menguasai diri untuk tidak menghalalkan segala cara untuk kepentingannya dan tetap sabar dalam memperjuangkan nilai-nilai hidup kristiani. Dengan memohon pertolongan Tuhan kita percaya akan diberi kemampuan untuk bisa menahan dan mengendalikan diri agar ketika bereaksi, berbicara, berpikir dan bertindak sesuai dengan firman Tuhan. (RAP)

 

Refleksi:

Penguasaan diri adalah langkah memperoleh kemenangan.

MENGUASAI DIRI

Kamis, 24 Juli 2014

MENGUASAI DIRI

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” (Amsal 16:32)

Pada saat ini sebagian anggota masyarakat Indonesia tak mampu menguasai diri, sehingga dengan mudahnya terprovokasi oleh berbagai isu. Tindakan main hakim sendiri dengan memukuli, merusak dan menghancurkan milik orang lain tanpa menanti proses hukum yang berlaku. Keadaan seperti ini harus segera diatasi oleh aparat keamanan dan lembaga keadilan supaya tidak menimbulkan banyak kerugian.

Nas hari ini menyatakan bahwa orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota. Keunggulan seorang pahlawan bukan terletak pada kemahiran menggunakan senjata atau keberanian dalam menyerang musuh, melainkan pada kesabaran menantikan waktu yang tepat untuk memberikan perlawanan dan memenangkan pertempuran. Orang yang menguasai diri mengetahui batas kemampuan dan kelemahan lawan, sehingga ia akan bertindak pada waktu yang tepat. Arti dari penguasaan diri juga adalah sikap kehidupan yang tegas, baik terhadap orang luar maupun terhadap diri sendiri dan juga terhadap keinginan-keinginan duniawi. Ketika kita tahu sesuatu itu salah, kita harus tegas terhadap diri sendiri dan berkata: tidak! Maka keunggulan manusia bukan terletak pada kekuatan fisiknya melainkan pada penguasaan diri.

Kemampuan seseorang dalam menguasai diri perlu melakukan latihan dari hal-hal kecil. Ada orang berkata lebih sukar menguasai diri daripada menjinakkan binatang buas karena menguasai diri berkaitan dengan hawa nafsu. Jika seseorang tidak mampu menguasai dirinya cenderung orang itu akan melakukan tindakan-tindakan apapun untuk memperoleh keinginannya. Tantangan bagi setiap warga kampus yang diberikan kepercayaan dan tanggung jawab, apakah tetap mampu menguasai diri untuk tidak menghalalkan segala cara untuk kepentingannya dan tetap sabar dalam memperjuangkan nilai-nilai hidup kristiani. Dengan memohon pertolongan Tuhan kita percaya akan diberi kemampuan untuk bisa menahan dan mengendalikan diri agar ketika bereaksi, berbicara, berpikir dan bertindak sesuai dengan firman Tuhan. (RAP)

Refleksi: Penguasaan diri adalah langkah memperoleh kemenangan.

Hati-hati dengan Dosa!

Rabu, 23 Juli 2014

Hati-hati dengan Dosa!

“Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda  engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” (Kejadian 4:7)

Semua orang pasti pernah berbuat dosa. Sejak manusia pertama jatuh dalam dosa maka tidak ada seorangpun yang lahir di dunia ini tanpa benih dosa. Dosa sedang mengintip untuk menguasai siapa saja yang membuka hati terhadap dosa. Memang manusia tahu mana yang baik dan yang jahat, tetapi karena dikuasai dosa maka kecenderungannya lebih memilih dosa.

Firman Tuhan hari ini tentang Kain yang iri dan marah kepada Habel karena persembahannya tidak diindahkan Tuhan. Ia juga merasa malu sebagaimana ayat 6 dikatakan ”muka muram” yang dalam bahasa aslinya diterjemahkan “wajahnya jatuh” (berarti tak punya muka). Tak punya muka berarti malu. Oleh karena itu, Kain melampiaskan kemarahan dan rasa malu serta iri hatinya kepada Habel, adiknya dengan memukul dan membunuh Habel. Walapun Tuhan sudah memperingatkan Kain, agar “berkuasa atas dosa yang sudah mengintip di depan pintu” (ayat 7). Namun, agaknya kuasa dosa yang mengintip di pintu hati Kain yang marah dan malu itu terlalu besar untuk dapat ia kuasai. Akibatnya tragis: Darah Habel tercurah ke tanah akibat pembunuhan yang dilakukan oleh kakak kandungnya.

Sebuah contoh nyata bahwa ketika seseorang tidak berbuat baik, ada dosa yang mengintip di depan pintu bagaikan binatang buas yang siap menerkam mangsa. Dosa menanti siapapun untuk membuka pintu dan mengijinkannya masuk untuk mengobrak-abrik hidupnya. Bukankah seringkali bila kita sedang mengalami kejadian-kejadian yang membuat kita marah, panas hati, kesal, cemburu dan sebagainya, dosa sudah mengintip di depan pintu kita. Dosa hanya menunggu waktu saja sampai kita menyerah dan membukakan pintu untuk dosa masuk. Tetapi bila kita berada di situasi seperti itu, ingatlah akan firman Tuhan ini, bahwa kita harus berkuasa atasnya, yakni agar kita memiliki penguasaan diri dan tidak berserah kepada amarah, cemburu, kesal atau dosa. Dengan memohon pertolongan Tuhan kita yakin dimampukan untuk menghindari dosa dan berkuasa atas dosa yang sudah siap masuk ke dalam hidup kita. (RAP)

 

Refleksi:

Jangan memberi kesempatan terhadap dosa.

KITA SEMUA BERHARGA

KITA SEMUA BERHARGA”

“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulahkamu telah dipanggil menjadi satu tubuh”

(Kolose 3:15)

 Ada kecenderungan dalam diri manusia untuk memberikan penghargaan dan penghormatan bagi orang-orang yang dianggap berjasa. Sebaliknya orang yang melakukan perkara kecil sering disepelekan, tidak dianggap keberadaannya. Kondisi ini membuat ada saja orang yang menilai negatif tentang dirinya. Merasa tidak memiliki apa-apa, tidak bisa melakukan apa-apa, tidak dibutuhkan dan tidak dipedulikan oleh orang lain. Perasaan ini bisa berkembang menjadi kompleks inferior atau rasa rendah diri.

Rasul Paulus mengibaratkan komunitas seperti tubuh. Ada yang jadi kepala. Ada yang jadi tangan dan ada yang jadi kaki. Perumpamaan talenta juga memberi gambaran bagi kita bahwa Allah memberikan talenta yang berbeda jumlahnya. Namun bukan berarti kita berbeda nilainya di mata Allah. Keragaman kemampuan yang dimiliki justru akan saling memperlengkapi. Saling membuat kita merasa membutuhkan. Saling ketergantungan. Justru dengan kemampuan yang beragam, Allah ingin agar kita terus mengembangkan dan menekuninya. Setia pada perkara kecil.

Alkitab mencatat bahwa Raja Saul semula adalah petani yang membajak dengan lembu (1 Samuel 11 : 5). Begitu juga dengan raja Daud semula adalah penjaga ternak (1 Samuel 17 : 15). Bila setiap kita merefleksi siapa diri kita dan bagaimana perjalanan hidup yang kita jalani akan mengantar kepada suatu simpulan bahwa sungguh kita berharga. Keadaan kita tidak akan berubah kalau kita sendiri tidak mau keluar dari zona aman. Perkembangan anak sekolah dapat menjadi contoh bahwa setiap kali akan naik kelas maupun naik ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi mereka harus berproses. Bagian dari proses bertumbuh dan menjadi. Belajar dengan tekun. Mengikuti semua aturan dan ketentuan yang berlaku di sekolahnya.

Hidup kitapun demikian adanya. Kita berharga, bukan berarti tinggal diam. Justru karena kita berharga maka kita menghormati diri sendiri saat kita melakukan peran, tugas dan fungsi kita masing-masing. Tubuh tidak bisa melakukan sesuatu dengan baik tanpa bantuan tangan. Tubuh tidak bisa berjalan dengan baik tanpa adanya kaki. (SG)

 Refleksi : Sudahkah kita merasa berharga?

BEKERJA : PANGGILAN TUHAN

Sabtu, 19 Juli 2014

BEKERJA : PANGGILAN TUHAN

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kejadian 1:1)

 Masih banyak perdebatan tentang pekerjaan. Sebagian orang menganggap bahwa karier itu panggilan namun sebagian lainnya menganggap bahwa kerja adalah pilihan. Pemikiran dan pandangan bahwa pekerjaan adalah pilihan sering mendorong orang untuk menyatakan ketidakpuasan terhadap tempat bekerja dengan mengambil sikap pindah tempat kerja. Pindah tempat kerja dilakukan setiap kali tidak menemukan kepuasaan atau tidak sesuai dengan harapan. Sikap tidak puas ini tidak dibarengi dengan upaya bagaimana mengubah agar situasi di tempat kerja menjadi lebih baik. Bukan saja untuk diri sendiri tetapi juga bagi rekan kerja lainnya. Sebaliknya sikap dan pandangan bahwa pekerjaan adalah panggilan akan mendorong seseorang untuk melakukan berbagai upaya untuk menjadikan segala sesuatunya menjadi lebih baik. Upaya yang pertama adalah melakukan intropeksi dan koreksi akan diri sendiri, mendiskusikan dan mencoba mencarikan solusinya. Namun ketika pekerjaan belum seperti harapan, ingatlah Allah menempatkan kita di tempat tersebut dengan suatu rencana dan rancangan yang indah, dan Dia ingin kita menggali dan menemukan rancanganNya tersebut bagi setiap kita. Bukankah bagian awal Alkitab menunjukkan bahwa Allah bekerja dengan sungguh-sungguh.

 Lee Hardy mengungkapkan bahwa : para Filsuf Renaisans, menyatakan bahwa Allah secara khas disebut “Allah yang Ilahi” Pencipta yang Agung” atau Ahli yang maha Kuasa”. Menurut para pemikir Renaisans, manusia harus menyerupai allah bukan hanya dengan cara berpikir, tetapi melalui kegiatan produktif. Dicipta dalam citra Allah bukan saja berarti memiliki intelek, tetapi juga tangan sehingga apa yang dibayangkan oleh akal budi dapat dibawa ke dalam kenyataan. Dalam kitab Kejadian kita bisa membaca bagaimana Allah bekerja. Digambarkan Allah hadir di dalam kebun dan memulai semua pekerjaannya. Tidak semua Dia lakukan hanya dengan berfirman namun ada bagian-bagian dari pekerjaan tersebut yang Dia lakukan dengan menggunakan tangan, menyingsingkan lengan baju. Ketika menciptakan manusia bukankah Dia mengambil tanah, membentuk, menghembuskan nafas kehidupan dan seterusnya. Dia menciptakan manusia segambar dan serupa artinya ada kreativitas, ada kerja keras, ada evaluasi . “ Maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik (Kejadian 1 : 31)” Allah tidak pernah berhenti bekerja dalam kitab Wahyu (Wahyu 21 dan 22) Allah digambarkan membuat sebuah kota. (SG)

 Refleksi :

Mari mewujudkan pekerjaan sebagai panggilan.

SIKAP HIDUP

SIKAP HIDUP

Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga akau akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21)

Sikap hidup merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan. Sikap hidup akan menuntun setiap orang menuju ketangguhan hidup. Sikap hidup tidak dipengaruhi oleh berapa besar persoalan yang dihadapi, tidak dipengaruhi oleh sikap atau penilain orang lain. Sikap hidup akan mendorong orang untuk menjalani hidup secara seimbang. Ada kepedulian, ada kasih, objektif dalam memberi penilaian, tidak memanfaatkan situasi untuk kepentingan dirinya, berbicara apa adanya dan tidak membesar-besarkan persoalan. Kehadirannya membuat orang disekitarnya merasa nyaman, tenang dan merasa dihargai sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Bukankah berita sukacita itu harus terpancar dari setiap pengikutNya. Sikap
hidup diawali dengan kedekatan kehidupan pribadi seseorang yang dibangun secara intensif dengan Tuhan. Kedekatan dan hubungan yang intensif dengan Tuhan menjadi cikal bakal dalam membentuk sikap hidup. Sikap hidup akan menuntun kepada kehidupan yang tegar, tidak cengeng, tidak menyalahkan orang lain, tidak menyalahkan keadaan dan tidak cepat menyerah. Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa hidup kita akan selalu berjalan baik, mulus, tanpa ada hambatan, tantangan. Namun Dia berjanji akan terus menyertai dan tidak akan pernah meninggalkan orang yang berserah padanya.

Kisah Ayub mengingatkan kita betapa besar kekecewaan yang dialami oleh Ayub. Bagaimana tidak dia harus kehilangan segala harta bendanya termasuk anak-anak yang dikasihinya. Firman Tuhan mengingatkan “berdirilah sebagai laki-laki” Padahal kondisi Ayub saat itu sedang terpuruk, kecewa, sedih dan sakit, jangankan untuk berdiri untuk duduk saja susah. Firman Tuhan menunjuk dan mengarahkan agar Ayub mengambil sikap berserah penuh pada Allah, percaya padaNya, tidak bimbang dan menyadari bahwa semua yang ada adalah milikNya.

Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Kalau Tuhan izinkan sesuatu terjadi, Dia tahu orang yang mengalami pasti kuat dan sanggup untuk menjalaninya. Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang percaya padaNya dan pertolonganNya selalu tepat pada waktunya. Sikap hidup seperti inilah yang Allah kehendaki dari setiap orang yang percaya. Jalani hidup dengan penuh syukur dan tanggung jawab. (SG)

Refleksi :
Mari menghadirkan Tuhan dalam hidup kita

TITIK BUTA

TITIK BUTA
“Jika kita mengaku dosa kita, maka IA adalah setia dan adil, sehingga IA akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”(I Yohanes 1:9)

Titik Buta (blind spot)mungkin sangat familiar bagi mereka yang sedang belajar mengemudikan mobil. Titik buta didefinisikan sebagai daerah yang tidak bisa dijangkau oleh penglihatan kita pada saat-saat tertentu. Oleh karena itu seorang yang mengemudikan mobil tidak cukup hanya dilihat ke kaca spion tapi ia juga perlu menengokkan kepala ke arah dimana ia akan berbelok untuk menghindari tabrakan kalau ada kendaraan lain di daerah blind spotdari mata kita. Dalam kehidupan kekristenan kita, mungkin saja ada blind spotyang hampir-hampir tidak terlihat oleh orang lain bahkan tidak disadari oleh kita. Ketika kita mengabaikan blind spotkehidupan rohani kita, maka tabrakan atau kegagalan dalam ujian kehidupan mungkin sekali terjadi.

Daud adalah raja Israel yang berkenan dimata Tuhan, namun jika kita membaca dengan teliti, maka kita akan menemukan blind spotdari Daud. Blind Spotbesar Daud adalah perzinahannya dengan Batsyeba. Daud ditegur oleh nabi Natan setelah anak hasil perzinahannya dengan Batsyeba lahir. Usia kelahiran bayi diperkirakan sekitar 38-40 minggu (II Samuel 12:15; II Samuel 24:8). Selama periode tersebut, Daud tidak sadar akan dosanya dan tidak bertobat hingga nabi Natan datang memberikan ganjaran Tuhan atas Daud. Ini merupakan blind spot terbesar Daud.
Daud yang dijuluki ‘a man after God’s own heart’ ternyata bisa mempunyai blind spot besar selama berbulan-bulan, bagaimana dengan kita? Mungkin saat ini kita memiliki blind spot-blind spot dalam hidup yang kita sembunyikan dengan baik dan tidak ada seorangpun mengetahuinya, namun ingatlah bahwa Allah mengetahuinya.

Sangat mungkin bagi kita untuk memerintahkan otak kita mengabaikan dosa yang kita anggap biasa karena orang dunia juga menganggapnya sebagai hal yang lumrah. Hari ini bukanlah suatu kebetulan jika kita membaca renungan ini. Tuhan sedang menyadarkan kita untuk melihat blind spot hidup rohani kita dan mau meninggalkan serta berbalik kepada Tuhan. Jangan abaikan dosa yang Anda lakukan karena akan berakhir dengan tabrakan/kehancuran. Berdoalah agar Tuhan menyingkapkan blind
spot Anda dan bertobatlah. (YG)

Refleksi :
Milikilah kepekaan akan blind spot kehidupan rohani Anda, maka anda akan terhindar dari kegagalan dan kehancuran.

KEKAYAAN SEJATI

KEKAYAAN SEJATI

Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal.”
(Yohanes 6:27a)

Dunia memiliki cara tersendiri dalam mengukur seberapa kayakah seseorang. Ada yang menilai dari berapa besar penghasilan yang dimiliki seseorang, ada juga yang menghitung seluruh aset yang dimiliki seseorang, bahkan ada yang melihat dari barang-barang bermerk yang dipakai oleh seseorang. Jika kekayaan diukur hanya melalui hal-hal itu saja, maka kita mulai saat ini harus merubah pemahaman tersebut. Kekayaan tidak hanya dihitung serta merta berdasarkan aset yang dimiliki. Jika kita mau mengambil waktu sesaat saja untuk merenung, maka kita akan menemukan bahwa kita memiliki sesutu yang tidak akan pernah bisa dibeli
dengan uang seperti rumah tangga yang harmonis, komunikasi dan hubungan yang baik dengan anggota keluarga, sahabat-sahabat yang baik, pekerjaan yang baik, kesempatan untuk melayani, kesempatan berkuliah, kesehatan, damai sejahtera, sukacita, dan jaminan keselamatan dalam Yesus Kristus.

Sayangnya banyak orang terjebak dengan mengejar kekayaan yang semu seperti uang, kedudukan, status, karir dan mengorbankan hubungan rumah tangganya, keluarga, sahabat, bahkan mengorbankan hubungannya dengan Tuhan. Hari ini kita disadarkan bahwa kita harus mencari kekayaan yang sejati, bukan kekayaan yang semu. Ubah cara pandang kita kepada sesuatu yang bernilai kekal bukan fana. Cara pandang yang berbeda dalam menilai kekayaan akan membuat kita berhasil dalam pekerjaan dan juga membuat kita berhasil dalam keluarga. Kita boleh saja disibukkan
dengan urusan pekerjaan namun tetap saja kita memiliki waktu-waktu berkualitas dengan keluarga bahkan waktu-waktu khusus dalam membangun hubungan dengan Tuhan. Milikilah Yesus maka kita memiliki segalanya.(YG)

Refleksi :
Kekayaan sejati sebenarnya sudah ada dihadapan kita. Pertanyaannya : “apakah kita menyadari kekayaan yang telah diberikan Tuhan kepada kita?”

13 YEARS A SLAVE

13 YEARS A SLAVE

“Memang kamu telah mereka-reka yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekanya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” (Kejadian 50:20)

Beberapa waktu lalu, di bioskop-bioskop ditayangkan sebuah film berjudul
“12 Years a Slave.”Film ini berhasil meraih piala Oscar untuk kategori best
picture. Film “12 Years a Slave”adalah sebuah film drama yang mengisahkan tentang seorang berkulit hitam merdeka yang diakali oleh penjual budak kemudian dijual sebagai budak untuk bekerja di perkebunan kapas selama 12 tahun sebelum akhirnya dibebaskan. Film ini merupakan kisah nyata yang mengharukan mengenai perjuangan dan pengharapan yang gigih akan kebebasan.

Alkitab juga mencatat tentang kisah yang lebih seru tentang seorang anak muda berumur 17 tahun yang dijual sebagai budak. Ia adalah anak bungsu yang dijual oleh saudara-saudaranya karena ia, anak kesayangan sang ayah. Sungguh diluar dugaan dan tak pernah terbayangkan oleh Yusuf. Perasaan dikhianati dan terbuang, perasaan takut akan masa depannya selama dalam perjalanan menuju Mesir. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya, selain akan menjadi budak yang harus bekerja keras. Kehidupannya berubah drastis dari seorang anak kesayangan yang terbiasa hidup nyaman harus menjalani hidup sebagai seorang budak. Dalam keadaan tak ada harapan dan pertolongan dari pihak manapun, maka Allah Sang Pemegang Kendali atas hidup manusia membalikkan keadaan Yusuf dari seorang narapidana menjadi orang paling berkuasa setelah Firaun di Mesir. Yusuf berumur 30 tahun ketika menjadi orang kedua di Mesir. Ini berarti selama 13 tahun ia telah menjadi budak.

Perlu 13 tahun untuk seorang Yusuf mampu mengucapkan “Memang kamu telah mereka-reka yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekanya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Yusuf berhasil melewati proses panjang dalam hidupnya. Pembentukan Allah atas kehidupan Yusuf membuat ia menjadi pribadi yang lebih baik. Proses bertujuan agar kita menjadi pribadi yang lebih baik. Kebanyakan orang percaya hanya menginginkan promosi, berkat, dan kesuksesan, namun tidak ingin melewati proses. Dari hidup Yusuf, maka kita belajar untuk menikmati proses dan tetap mempercayai Allah sebagai Sang Pemegang
Kendali atas Segala Sesuatu. (YG)

Refleksi :
Proses dalam kehidupan bertujuan untuk mejadikan kita pribadi yang lebih baik.