BERKAT ROHANI

BERKAT ROHANI

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” (Efesus 1:3-4)

Pada saat ini ada anggapan bahwa orang yang diberkati Tuhan adalah orang yang sukses, memiliki rumah yang besar, mobil yang mewah, dan hal-hal lainnya yang bersifat materi. Bahkan ada juga gereja yang memberikan pengajaran yang salah soal berkat Tuhan yang mengukurnya berdasarkan hal-hal lahiriah. Berkat Tuhan bukan hanya bicara soal materi atau yang bersifat lahiriah. Berkat Tuhan lebih dari itu. Salah satu berkat terbesar dari Allah adalah keselamatan dalam Yesus Kristus. Berkat terbesar itu diberikan ketika kita percaya kepada Kristus dan memiliki
hubungan yang intim dengan-Nya.

Di dalam surat Efesus, Paulus menuliskan bahwa kita dipanggil untuk memuji Allah yang sebelumnya sudah memberkati kita. Tentu saja Allah memberkati kita melalui segala yang telah dilakukan-Nya untuk kita. Kita memuji Dia dengan kata-kata. Dia adalah Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.Pernyataan ini mengidentifikasi Dia sebagai satu-satunya Allah yang sejati, bukan allah yang palsu atau khayal. Satusatunya cara untuk mengenal Dia adalah melalui Yesus Kristus. Yang dimaksudkan segala berkat rohani di dalam sorga ialah suasana dari hubungan kita dengan Kristus walaupun kita belum sungguh-sungguh di surga; tetapi panggilan kita sifatnya surgawi; kuasa yang ada pada kita untuk hidup setiap hari sifatnya surgawi; pemeliharaan Allah sifatnya surgawi. Hanya di dalam Kristus saja kita berkesempatan menerima semua berkat ini. Orang percaya dilihat sebagai penerima dari segala berkat rohani.Karena itu orang percaya tidak perlu mencari berkat tambahan dari Allah. Malah dia harus memanfaatkan semua berkat yang telah disediakan. Ketiga Oknum Tritunggal ikut ambil bagian dalam menyediakan berkat-berkat rohani tersebut.
Hidup yang diberkati Tuhan adalah hidup yang beroleh anugerah keselamatan. Ketika kita tidak sanggup menyelamatkan diri sendiri, Allah turun tangan menyelamatkan kita. Allah bahkan sudah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Allah membenarkan kita yang berdosa dan menguduskan kita. (RCM)

Refleksi :
Berkat rohani diperoleh ketika kita hidup bersama Kristus

GOD WILL MAKE AWAY

GOD WILL MAKE A WAY

Akulah TUHAN, Yang Mahakudus, Allahmu, Rajamu, yang menciptakan
Israel Beginilah firman TUHAN, yang telah membuat jalan melalui laut dan melalui air yang hebat.(Yesaya 43:15-16)

Pernahkah anda melewati jalan buntu? Saya pernah mengendarai kendaraan, mencoba menghindari kemacetan dan mencoba jalan baru. Namun akhirnya saya tersesat dan menemui jalan buntu. Namun itu tidak terlalu masalah, karena saya dapat bertanya pada orang sekitar. Hal lain, yang luar biasa dialami bangsa Israel, berbeda jauh dengan yang saya alami. Ketika mereka keluar dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian, mereka menemui jalan buntu. Di depan mereka adalah lautan yang luas, di belakang mereka tentara Mesir mengejar dengan pasukan berkuda lengkap dengan senjata. Kearah kiri dan kanan tidak ada jalan juga. Saat tiada jalan, sepertinya tiada harapan, ingatlah dalam Yesaya: Akulah TUHAN, Yang Mahakudus, Allahmu, Rajamu. Artinya masih ada harapan di dalam Tuhan yang menjadi Allah kita, menjadi Raja kita.

TUHAN yang tidak mungkin membiarkan anak anaknya terlantar ditengah kepungan musuh. Kalau hanya melihat dengan mata jasmani, tidak mungkin sesuatu dilakukan, tidak ada jalan keluar, sepertinya kita terjepit tanpa ada yang menolong, namun bila kita melihat dengan mata rohani, kita masih memiliki TUHAN yang Mahakudus, Allah kita, Raja kita. Dia sanggup membuat jalan keluar.

Dia sanggup menyelesaikan persoalan. Dia sanggup menolong kita
sebagai umat yang dikasihiNya. Laut yang dipenuhi air, dapat dikeringkan seketika, sehingga bangsa Israel dapat melewati laut yang kering sementara.  Beginilah firman TUHAN, yang telah membuat jalan melalui laut dan melalui air yang hebat. Pertolongan TUHAN tidak hanya itu, ternyata pertolongannya sepanjang masa. Ketika bangsa Israel berhasil lepas dari kejaran tentara Mesir, mereka harus berjalan di padang gurun dan padang belantara. Jarang ada kehidupan disana, selain panas terik matahari yang membakar, perbedaan suhu antara siang dan malam, sangat ekstrim. Saat berjalan di padang pasir, bukit-bukit pasir mudah berpindah karena tiupan angin, sehingga mustahil untuk membuat rute jalan. Namun TUHAN sanggup membuat sesuatu yang luar biasa, seperti dalam Yesaya 43:19. Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. (TMZ)

Refleksi :
Berharaplah kepadaNya.

PERTOBATAN

PERTOBATAN

Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat. “
(Lukas 19:8)

Kata koruptor sudah biasa di telinga kita, yaitu orang yang melakukan
korupsi. Setiap waktu, ada saja koruptor yang tertangkap oleh KPK (Komisi
Pemberantasan Korupsi). Namun jarang diberitakan, seorang koruptor yang bertobat atau seorang koruptor sadar akan kejahatannya. Itulah realita yang terjadi di negeri ini. Prihatin sekali!

Namun ada yang menarik, seorang koruptor kelas kakap berubah 180 derajat ketika bertemu dengan Tuhan Yesus. Namanya sudah dikenal oleh orang banyak bukan karena kebaikannya namun karena keberdosaannya. Zakheus bekerja sebagai kepala pemungut cukai di kota Yerikho, seorang yang kaya dan memiliki ukuran badan yang khas. Selain bekerja untuk pemerintah Roma, dia memperkaya dirinya dari pajak yang diambil dari bangsa Israel. Jelas orang banyak tidak suka dia dan menyebutnya
si pendosa (koruptor dalam zaman ini). Keinginannya bertemu Tuhan Yesus sangat tinggi. Walau halangan merintangi tuan Zakheus karena orang banyak tidak memberi jalan kepadanya dan badannya di bawah rata-rata orang, dia tidak kehabisan akal, dipanjatnya salah satu pohon ara. Keinginan untuk melihat Tuhan Yesus, rupanya terkabul. Perhatikan sikap Tuhan Yesus yang berbeda dengan kebanyakan orang disana. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus,
segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”  Sambutan Tuhan Yesus sungguh luarbiasa, sehingga mengubah hatinya dalam sekejap sehingga kehidupan tuan Zakheus berubah 180 derajat. Perubahan tuan Zakheus dari seorang koruptor menjadi seorang yang berbelas kasihan. Dia sadar akan dosanya, dia mau berbagi kepada sesama, bukan hanya itu dia mau mengembalikan 4x lipat bila ada
orang yang diperasnya. Padahal zaman itu , pengembalian biasanya hanya 2x lipat. Pada ayat 8, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat”.

Fakta bahwa UK. Maranatha menarik sejumlah orang untuk bekerja dan studi di tempat ini. Karena itu kesempatan ini harus dipakai oleh lembaga agar mereka mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus. (TMZ)

Refleksi :
Perjumpaan dengan Yesus membawa perubahan hidup.

BEBAS DARI HUKUMAN

BEBAS DARI HUKUMAN

Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. (Yohanes 3:18)

Sebuah berita mengejutkan mengenai TKI, “246 WNI di Luar Negeri Terancam Dihukum Mati, Apa Respons Pemerintah?” di VivaNews 30 Maret 2014. Seseorang yang telah dijatuhi hukuman mati ketika vonis hakim diputuskan, maka secara hukum yang bersangkutan ‘sudah mati’, walau eksekusi hukuman mati belum dilaksanakan. Apakah putusan hakim bisa diubah? Pada kenyataannya beberapa putusan bisa diubah dengan membayar uang tebusan. Dan pemerintah Indonesia membayar uang tebusan untuk beberapa TKI, seperti kasus pembebasan Darsem.

Tuhan Yesus mengatakan dalam Yohanes 3:18, seseorang yang tidak percaya kepadaNya, telah berada di bawah hukuman. Hukuman apa? Yaitu hukuman mati artinya terpisah dari Allah sebagai sumber hidup. Memang sejak manusia jatuh dalam dosa, maka semua keturunannya sudah berada di bawah hukuman mati, termasuk saya dan anda, lihat Rm 5:12 Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
Kita terancam hukuman mati, karena dosa-dosa kita. Kita tinggal tunggu waktu eksekusi saja. Namun karena anugrahNya, Yesus Kristus mau membela kita sebelum eksekusi kematian/maut itu menimpa kita. Inilah kepedulian Allah kepada manusia yang sudah berdosa dan sudah berada di bawah hukuman. Tuhan Yesus mengatakan “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum” artinya putusan hukuman dapat diganti, karena ada yang membayar tebusan. Ketika kita percaya kepada Yesus, Anak Tunggal Allah, maka Allah sendiri yang membayar uang tebusan bagi kita. Kita merdeka, bebas dari hukuman tersebut.(TMZ)

Refleksi :
Oleh anugrahNya kita dibebaskan dari hukuman. Sudahkah kita merespon
anugrahNya?

TURUT MEMBERI DORONGAN SEMANGAT

TURUT MEMBERI DORONGAN SEMANGAT

“Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri, dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingan sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Filipi 2: 3b-4)

Sebuah baut kecil bersama ribuan baut seukurannya dipasang untuk menahan lempengan-lempengan baja di lambung sebuah kapal besar. Saat melintasi samudera Hindia yang ganas, baut kecil itu terancam lepas. Hal itu membuat ribuan baut lain terancam lepas pula. Baut-baut kecil lain berteriak menguatkan, “Awas! Berpeganglah erat-erat! Jika kamu lepas kami juga akan lepas!” Teriakan itu didengar oleh lempengan-lempengan baja yang membuat mereka menyerukan
hal yang sama. Bahkan seluruh bagian kapal turut memberi dorongan semangat pada satu baut kecil itu untuk bertahan. Mereka mengingatkan bahwa baut kecil itu sangat penting bagi keselamatan kapal. Jika ia menyerah dan melepaskan pegangannya, seluruh isi kapal akan tenggelam. Dukungan itu membuat baut kecil kembali menemukan arti penting dirinya di antara komponen kapal lainnya. Dengan sekuat tenaga, ia pun berusaha tetap bertahan demi keselamatan seisi kapal.

Ketika menulis surat kepada jemaat di Filipi ini Paulus sedang berada di dalam penjara. Meskipun ia menghadapai masa-masa yang sulit, Paulus mengingatkan kepada jemaat di Filipi supaya mereka tetap setia kepada Injil Kristus. Paulus mengingatkan kepada jemaat mungkin saja mereka juga akan menghadapi penderitaan seperti yang ia alami, tapi mereka tidak boleh takut, justru mereka harus bersatu, menganggap
yang lain lebih utama dan tidak hanya memperhatikan kepentingan sendiri saja, tapi kepentingan orang lain juga.

Menciptakan suasana yang kondusif dan relasi dalam pekerjaan yang saling menguatkan, menopang dan memberi semangat adalah modal yang teramat penting dalam menjaga keutuhan dan kesatuan sebagai satu tim Sehingga pada akhirnya dengan bermodalkan saling menyemangati dan kesatuan tim kita bersama dapat mencapai cita-cita dan impian yang diharapkan bersama.(AE)

Refleksi:
Sebagaimana ilustrasi baut-baut yang saling menopang dan menyemangati demi keselamatan kapal, demikian dengan kita di Maranatha perlu saling menopang dan menyemangati.

BERBAGI SUKACITA

BERBAGI SUKACITA

“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu” (Matius 13:44)

Masa kecil kurang bahagia. Itulah ungkapan yang sering dikenakan bagi
seorang dewasa yang melakukan hal yang biasa dilakukan anak-anak.
Melakukan permainan yang sering dilakukan anak-anak –petak-umpet-
misalnya. Tanpa menghakimi mereka, keadaan kurang bahagia dapat berbahaya, ketika mereka marah, mendendam pada sekelilingnya serta merasa diri kurang berharga. Kemudian tidak jarang mereka melakukan hal yang dapat mencelakakan dirinya. Dalam hubungan dengan orang-orang yang dekat dengan dirinya -menurut ilmu psikologis- ”mereka yang tidak cukup bahagia di masa kecilnya, biasanya ia sulit
membahagiakan orang lain.”

Adalah baik, apabila perjalanan hidup kita diwarnai hanya dengan kebahagiaan, Tetapi, bagaimana kalau selama ini, kehidupan kita begitu kelam. Masa kecil, masih menyisakan trauma yang mendalam ? Tidak bisa tidak, sukacita itu harus ditemukan!

Bacaan kita mengisahkan seorang yang menemukan harta yang terpendan di suatu ladang. Oleh karena sukacitanya, ia menjual seluruh miliknya untuk membeli ladang tadi. Atau, cerita selanjutnya, ketika seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah dan menemukan mutiara yang sangat berharga, ia pun menjual seluruh miliknya untuk membeli mutiara itu. Mengapa mereka menjual seluruh miliknya ?
Mereka menemukan sesuatu yang sangat berharga yang membuat mereka sangat sukacita. Kerajaan Sorga adalah sesuatu yang sungguh akan membuat kita sukacita. Keselamatan dalam Yesus Kristus akan membawa kita kehidupan kekal dalam Kerajaan Sorga. Itu benar-benar suatu kebahagiaan, untuk dibagikan kepada orang lain.Banyak orang bermimpi tentang kebahagiaan yang tidak pernah dialaminya. Ini adalah kesempatan berbagi sukacita yang kita alami. (IH)

Refleksi :
Sedari dulu orang menyalahkan keadaan. Saya tidak percaya pada keadaan. Orang yang maju di dunia ini adalah orang yang bangun dan mencari keadaan yang mereka inginkan –George Bernard Shaw
Kamis, 3 Juli 2014

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
4
PELITA MARANATHA
TURUT MEMBERI DORONGAN SEMANGAT
“Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama
daripada dirinya sendiri, dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan
kepentingan sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga”
(Filipi 2: 3b-4)
S
ebuah baut kecil bersama ribuan baut seukurannya dipasang untuk menahan
lempengan-lempengan baja di lambung sebuah kapal besar. Saat melintasi
samudera Hindia yang ganas, baut kecil itu terancam lepas. Hal itu membuat
ribuan baut lain terancam lepas pula. Baut-baut kecil lain berteriak menguatkan,
“Awas! Berpeganglah erat-erat! Jika kamu lepas kami juga akan lepas!” Teriakan
itu didengar oleh lempengan-lempengan baja yang membuat mereka menyerukan
hal yang sama. Bahkan seluruh bagian kapal turut memberi dorongan semangat
pada satu baut kecil itu untuk bertahan. Mereka mengingatkan bahwa baut kecil
itu sangat penting bagi keselamatan kapal. Jika ia menyerah dan melepaskan
pegangannya, seluruh isi kapal akan tenggelam. Dukungan itu membuat baut kecil
kembali menemukan arti penting dirinya di antara komponen kapal lainnya. Dengan
sekuat tenaga, ia pun berusaha tetap bertahan demi keselamatan seisi kapal.
Ketika menulis surat kepada jemaat di Filipi ini Paulus sedang berada di dalam penjara.
Meskipun ia menghadapai masa-masa yang sulit, Paulus mengingatkan kepada
jemaat di Filipi supaya mereka tetap setia kepada Injil Kristus. Paulus mengingatkan
kepada jemaat mungkin saja mereka juga akan menghadapi penderitaan seperti yang
ia alami, tapi mereka tidak boleh takut, justru mereka harus bersatu, menganggap
yang lain lebih utama dan tidak hanya memperhatikan kepentingan sendiri saja, tapi
kepentingan orang lain juga.
Menciptakan suasana yang kondusif dan relasi dalam pekerjaan yang saling
menguatkan, menopang dan memberi semangat adalah modal yang teramat penting
dalam menjaga keutuhan dan kesatuan sebagai satu tim Sehingga pada akhirnya
dengan bermodalkan saling menyemangati dan kesatuan tim kita bersama dapat
mencapai cita-cita dan impian yang diharapkan bersama.(AE)
Refleksi:
Sebagaimana ilustrasi baut-baut yang saling menopang dan menyemangati demi
keselamatan kapal, demikian dengan kita di Maranatha perlu saling menopang dan
menyemangati.
Jumat, 4 Juli 2014

SUKACITA YANG BERPENGHARAPAN

SUKACITA YANG BERPENGHARAPAN

     “ Harapan orang benar akan menjadi sukacita.”(Amsal 10:28a)

Tentunya ada banyak alasan yang membuat seseorang bersukacita. Ada yang bersukacita karena berulang-tahun, lulus ujian, naik pangkat, jabatan baru, rumah baru, mobil baru, dll. Namun sukacita yang berpengharapan bukan sekedar sukacita yang disebabkan oleh hal-hal di atas, karena semua itu bersifat sementara. Sukacita yang sejati adalah sukacita yang didasarkan pada harapan orang benar. Ketika seorang petani mengolah sawah, menabur benih, memberi pupuk, menyiapkan sistem pengairan yang baik, menjaga tanamannya dari hama, maka yang dilakukan petani karena ia memiliki pengharapan bahwa pada saatnya panen ia akan memetik hasil yang banyak.

Pertama: pengharapan yang membawa sukacita adalah pengharapan yang memiliki dasar(Amsal 10:28a). Petani memiliki pengharapan kelak akan memetik hasil panen karena ia memiliki dasar bahwa benih yang ia tabur akan bertumbuh dan berbuah.Kedua: pengharapan yang membawa sukacita adalah pengharapan yang diikuti dengan suatu tindakan nyata. Petani tidak berdiam diri menunggu hasil benih yang
ditanamnya. Ia melakukan tindakan memberi pupuk, menjaga sistem irigasinya, menjaga tanamannya dari hama, menyianginya. Semua ini dilakukan petani demi suatu harapan memetik hasil panen yang banyak dan hasil panen yang banyak akan menggembirakannya. Ketiga: pengharapan yang membawa sukacita adalah pengharapan yang realistis. Petani harus bersikap realistis terhadap benih yang ditanamnya dikaitkan dengan hasil panen yang akan diraihnya.

Bagi sebuah lembaga pendidikan sebagaimana Maranatha yang telah melewati sejarah panjang sehingga mencapai kemajuan-kemajuan seperti sekarang ini, tentunya kemajuan-kemajuan yang dicapai memiliki dasar yaitu pimpinan Tuhan dan kehadiran Tuhan yang terus menerus bersama Maranatha, yang diikuti tindakan nyata semua orang yang terlibat di dalamnya. Ada pimpinan Tuhan, ada aksi yang kita lakukan. Nah, pimpinan Tuhan tentu kita yakini sebagai pimpinan yang tidak akan pernah berhenti, lalu bagaimana dengan aksi kita?(AE)

Refleksi:
Sukacita yang berperharapan adalah sukacita yang disertai aksi nyata!

PENTINGNYA KETULUSAN

                              PENTINGNYA KETULUSAN

“ Ia memerintahkan mereka, kamu harus bertindak dengan takut akan Tuhan, dengan setia dan dengan tulus hati. “(2 Tawarikh 19:9)

Hampir setiap hari kita disuguhi berita-berita tentang kejahatan korupsi yang dilakukan oleh pejabat dari berbagai kalangan baik di pusat maupun di daerah. Bahkan bukan saja lembaga-lembaga pemerintahan yang “terserang” virus korupsi, di lembaga-lembaga pendidikan pun mengalami hal serupa. Korupsi dan plagiat dilakukan oleh orang-orang yang berada di dalam Perguruan Tinggi yang seharusnya memperjuangan kejujuran dan ketulusan.

Tulus, apakah arti sebenarnya dari kata itu? Bila kita merujuk ke kamus bahasa Indonesia, arti kata tulus adalah “sungguh dan bersih hati (benar-benar keluar dari hati yg suci); jujur; tidak pura-pura; tidak serong; tulus hati; tulus ikhlas”. Tulus adalah suatu sifat yang amat mulia. Pertanyaannya, apakah kita sudah tulus dalam melaksanakan sesuatu? Baik itu dalam beribadah dan bekerja ? Dalam 2 Tawarikh
19:9 Yosafat sedang memilih jabatan para hakim untuk ditugaskan di semua kota yang berada di bawah pemerintahan Yehuda. Sebagai pemimpin dia menegaskan satu hal yang sangat penting dan mendasar, yaitu: “ … bertindak dengan takut akan Tuhan..”.
Dalam hal bertindak dengan takut akan Tuhan tidak dikenal yang disebut dengan kecurangan, memihak, curang, suap, serakah, culas dll. Bagi Yosafat hal ini perlu diingatkan terus kepada dirinya dan juga kepada pejabat-pejabat yang diangkatnya supaya mereka terus menjaga kesetiaan dan ketulusan dalam menunaikan tugas dan
tanggungjawabnya sebagai pejabat yang takut ( baca=respek) kepada Tuhan.

Bagaimana dengan kita di Maranatha? Masing-masing kita tentunya sudah menerima tugas dan tanggungjawab kita sesuai dengan kapasitasnya. Baik sebagai Yayasan, pimpinan Universitas, Pimpinan Fakultas/prodi, kepala bagian, kepala Biro, bahkan sebagai mahasiswa. Mari kita merenungkannya, apakah selama kita melakukan tugas-tugas yang dipercayakan kepada kita tersebut kita telah berlaku curang, tidak jujur dan memihak. Jika itu yang masih terjadi kita dipanggil untuk segera berbalik dan kembali kepada prinsip ketulusan dan takut akan Tuhan. (AE)

Refleksi:
Seorang profesional adalah seorang yang memiliki skill kompetensi dan takut akan Tuhan.