BIARLAH KEADILAN DITEGAKKAN

Jumat, 29 Agustus 2014

BIARLAH KEADILAN DITEGAKKAN

“Hai manusia, telah diberitahukan apa yang baik kepadamu. Dan apakah yang dituntut Tuhan daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan…” (Mikha 6:8)

Keadilan berasal dari kata adil. Menurut W.J.S. Poerwodarminto kata adil berarti tidak berat sebelah, tidak sewenang-wenang dan tidak memihak. Aristoteles, seorang filosof yang pertama kali merumuskan arti keadilan mengatakan bahwa keadilan adalah memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya, “fiat jutitia bereat mundus”. Secara terminologis adil bermakna suatu sikap yang bebas dari diskriminasi, ketidakjujuran. Dengan demikian orang yang adil adalah orang yang sesuai dengan standar hukum baik hukum agama, hukum positif (hukum negara), maupun hukum sosial (hukum adat) yang berlaku. Dengan demikian, orang yang adil selalu bersikap imparsial, suatu sikap yang tidak memihak kecuali kepada kebenaran. Bukan berpihak karena pertemanan, persamaan suku, bangsa maupun agama.

Kenyataannya berbicara mengenai keadilan seperti panggang jauh dari api. Betapa sering kita mendengar dan menyaksikan praktek-praktek ketidak-adilan terjadi hampir di semua bidang kehidupan. Penegakan hukum yang yang terkesan “ tebang pilih “ dan praktek-praktek mafia hukum yang memperjual-belikan keadilan semakin menambah persoalan dalam penegakan hukum dan keadilan di masyarakat kita.

Akibatnya banyak orang menjadi frustasi dan tidak tahu lagi harus kemana ketika harus mencari keadilan. Namun, apapun kondisi dan kenyataannya keadilan tetap harus ditegakkan dan tentunya kita memulainya dari diri kita sendiri. kita dipanggil untuk berlaku adil, jujur, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Tuhan (Mikha 6:8).

Sebagai keluarga besar Universitas Kristen Maranatha kita menyadari di mana kampus ini didirikan dalam rangka perpanjangan tangan gereja untuk melakukan misi Tuhan di bidang pendidikan, maka seyogyanya slogan hidup kita adalah “Biarlah keadilan kutegakkan” dan bukannya menuntut “Tegakkan keadilan bagiku.” Menegakkan keadilan dan kebenaran adalah panggilan Tuhan kepada kita semua di kampus ini sebagai bagian dari upaya internalisasi NHK-ICE. (AE)

Refleksi: Hal-hal yang besar dapat terjadi bila kita berkata, “Di keluarga saya, di tengah masyarakat saya, di tempat kerja saya, dan dalam setiap hubungan saya dengan orang lain, biarlah keadilan saya tegakkan!”

BIARLAH KEADILAN DITEGAKKAN

Jumat, 29 Agustus 2014

BIARLAH KEADILAN DITEGAKKAN

“Hai manusia, telah diberitahukan apa yang baik kepadamu. Dan apakah yang dituntut Tuhan daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan…”
(Mikha 6:8)

Keadilan berasal dari kata adil. Menurut W.J.S. Poerwodarminto kata adil berarti tidak berat sebelah, tidak sewenang-wenang dan tidak memihak. Aristoteles, seorang filosof yang pertama kali merumuskan arti keadilan mengatakan bahwa keadilan adalah memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya, “fiat jutitia bereat mundus”. Secara terminologis adil bermakna suatu sikap yang bebas dari diskriminasi, ketidakjujuran. Dengan demikian orang yang adil adalah orang yang sesuai dengan standar hukum baik hukum agama, hukum positif (hukum negara), maupun hukum sosial (hukum adat) yang berlaku. Dengan demikian, orang yang adil selalu bersikap imparsial, suatu sikap yang tidak memihak kecuali kepada
kebenaran. Bukan berpihak karena pertemanan, persamaan suku, bangsa maupun agama.

Kenyataannya berbicara mengenai keadilan seperti panggang jauh dari api. Betapa sering kita mendengar dan menyaksikan praktek-praktek ketidak-adilan terjadi hampir di semua bidang kehidupan. Penegakan hukum yang yang terkesan “ tebang pilih “ dan praktek-praktek mafia hukum yang memperjual-belikan keadilan semakin menambah persoalan dalam penegakan hukum dan keadilan di masyarakat kita. Akibatnya banyak orang menjadi frustasi dan tidak tahu lagi harus kemana ketika harus mencari keadilan. Namun, apapun kondisi dan kenyataannya keadilan tetap harus ditegakkan dan tentunya kita memulainya dari diri kita sendiri. kita dipanggil
untuk berlaku adil, jujur, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Tuhan (Mikha 6:8 ).

Sebagai keluarga besar Universitas Kristen Maranatha kita menyadari di mana kampus ini didirikan dalam rangka perpanjangan tangan gereja untuk melakukan misi Tuhan di bidang pendidikan, maka seyogyanya slogan hidup kita adalah “Biarlah keadilan kutegakkan” dan bukannya menuntut “Tegakkan keadilan bagiku.” Menegakkan keadilan dan kebenaran adalah panggilan Tuhan kepada kita semua di kampus ini sebagai bagian dari upaya internalisasi NHK-ICE. (AE)

Refleksi:
Hal-hal yang besar dapat terjadi bila kita berkata, “Di keluarga saya, di tengah masyarakat saya, di tempat kerja saya, dan dalam setiap hubungan saya dengan orang lain, biarlah keadilan saya tegakkan!”

HIDUP DALAM KUASA DAN KEKUATAN ALLAH

Kamis, 28 Agustus 2014

HIDUP DALAM KUASA DAN KEKUATAN ALLAH

“Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan dandi dalam kekuatan kuasaNya” (Efesus 6 :10)

Kelicikan dan penipuan serta menghalalkan segala cara bukanlah cara yang patut digunakan oleh kita dalam mencapai tujuan. Ada kecenderungan seseorang ketika menerima dan memulai mengerjakan suatu tugas atau pekerjaan dilakukan dengan baik, tetapi berujung menjadi seolah-olah untuk mencari nama, menunjukkan kekuasaan atau untuk memperoleh kehormatan. Upaya menunjukkan kesuksesan untuk mendapatkan kehormatan dan pujian belaka.

Oleh sebab itu Rasul Paulus berkata: ”Hendaklah kamu kuat di dalam  Tuhan dan di dalam kekuatan kuasaNya”. Kita seharusnya berjuang dalam kekuatan kuasa Allah. Senjata perjuangan kita harus merupakan senjata rohani. Bukan berarti kita membuang semua ilmu untuk melakukan peran kita. Kita justru terpanggil untuk mengamalkan segenap ilmu yang kita peroleh bagi kesejahteraan bersama dengan menempatkannya di bawah terang Firman Allah. Bila kita diberi kepercayaan untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan, maka harus pula siap mempertanggungjawabkannya. Sebagai orang percaya, bila kita dibutuhkan hadir untuk turut serta dalam menyelesaikan kemelut yang terjadi di sekitar masyarakat kita. Peran yang harus kita jalankan adalah peduli, menggunakan etos kasih yang membebaskan demi kebenaran dan etos karsa dalam kebersamaan. Dengan demikian kita melakukan transformasi dalam tindakan etik yang membawa arah dan jalan baru bagi semua orang.

Alkitab menyaksikan bagaimana ketegasan Rasul Paulus. Paulus bermaksud mematahkan setiap siasat buruk dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Paulus siap sedia dengan tegas menghadapi segala bentuk kedurhakaan.

Sesuai dengan nasihatnya diharapkan kita dapat mencapai suatu kesempurnaan. Allah memerlukan orang-orang yang dapat bersikap rendah hati, sifat yang penuh kasih, yang tidak mementingkan diri sendiri atau selalu merasa diri benar. Mampu menjauhkan diri dari kebencian dan tidak memperkenankan orang yang diam-diam tetapi ingin membinasakan sesama manusia. Hanya di dalam Dia ada kekuatan yang sempurna.(RPA)

Refleksi :
Bila saat ini kita sadar ada banyak kekurangan dalam diri, belum terlambat untuk memperbaiki.

EVALUASI DIRI BAGIAN DARI HIDUP

Rabu, 27 Agustus 2014 2014

EVALUASI DIRI BAGIAN DARI HIDUP (1 Korintus 3:10-17)

“Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya” (1 Korintus 3:10 b)

Sudah menjadi hal yang biasa bila kita membaca di media massa perihal perilaku para pemimpin bangsa yang akhir-akhir ini menunjukkan adanya kemerosotan moral, seperti korupsi, manipulasi, kekerasan dan sejenisnya. Pada hakekatnya pemimpin seharusnya menjadi panutan. Namun, itulah yang terjadi. Sungguh memprihatinkan, bukan?

Dalam hal ini bukan bermaksud membongkar kebobrokan, menghakimi atau mendiskreditkan siapapun. Namun, bagaimana agar kita tidak terseret pada hal-hal tersebut. Sikap dan tindakan yang tidak terpuji, lebih mengutamakan kepentingan pribadi, menggerogoti hampir di semua lini kehidupan. Untuk mengatasinya diperlukan pengingatan sehingga timbul kesadaran etika moralitas yang dapat memilah mana perbuatan yang baik dan buruk, mana yang mulia dilakukan, mana yang tidak pantas dilakukan.

Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus menegur dan mengkritik jemaat di Korintus yang meskipun hidupnya penuh karunia illahi, tetapi masih melakukan sifat-sifat duniawi (1 Korintus 3). Kita juga melihat bagaimana kitab Injil mencatat Yesus memberikan evaluasi atas diri Petrus, Thomas, dan semua murid-Nya. Apabila di antara mereka ada yang kurang iman, Yesus jujur menilai bahwa mereka kurang iman bahkan jika ada yang masih lemah atau lainnya, Yesus tidak tanggung-tanggung mengevaluasi secara obyektif. Tak jarang Yesus menegur keras karena kebodohan-kebodohan para murid-Nya.

Bagaimana dengan kita sekarang? Bila kita mau menjadi baik entah itu sebagai pemimpin atau bawahan, dosen, mahasiswa atau karyawan harus mau menerima kritikan atau evaluasi bahkan mau mengevaluasi diri. Pembaharuan akan terjadi ketika ”sikap kritis” itu muncul. Dalam sejarah kekristenan, Martin Luther menjadi pembaharu Kristen karena ia bersikap kritis terhadap perkembangan yang ada. Lalu ia pun berani mengkritisi sampai pembaruan pun muncul.

Seringkali kita alami, kritik bukan sebuah proses evaluasi namun sarat dengan kepentingan ”bersifat politis” dan ”kapitalisme”, “menghalalkan segala cara”. Maka sesungguhnya evaluasi yang bersifat obyektif dapat menghindari tumbuh suburnya mental negatif. (RPA)

Refleksi :
Bersediakah kita menerima evaluasi demi kebaikan?

HIDUP YANG BERTUMBUH

Selasa, 26 Agustus 2014

HIDUP YANG BERTUMBUH

Karena itu, saudara-saudara yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!” (1 Korintus 15:58a)

Sebagai suatu kumpulan atau komunitas yang berada di lingkungan pendidikan seperti kampus kita ini, tentunya tidak luput dari perlunya hidup yang bertumbuh. Pertumbuhan yang baik bisa digambarkan seperti layaknya tanaman yang juga bertumbuh dengan baik. Ada akar yang kuat, batang yang sehat dan buah yang baik. Komunitas yang bertumbuh dengan baik ditandai dengan kualitas anggotanya yang juga bertumbuh dengan baik.

Kehidupan kampus yang bertumbuh baik diantaranya ditandai dengan adanya iman yang teguh dari para anggotanya, dapat mengendalikan diri dan giat bekerja. Tentunya di dalamnya ada Dia yang menjadi sumber pertumbuhan. Di samping itu Tuhan juga memakai anggota komunitas (misalnya ada yang menjadi pemimpin dan pengikut) untuk menumbuhkan lingkungannya. Agar bertumbuh dengan baik diharapkan para pemimpin yang mengelola kampus ini bekerja sesuai dengan Firman Tuhan. Ironisnya bila pemimpinnya sendiri tidak bertumbuh. Jika hal tersebut terjadi, maka merupakan hal yang mustahil pertumbuhan dalam komunitas akan
terjadi. Komunitas dengan pemimpin dan anggotanya yang sehat akan membawa pertumbuhan yang baik secara keseluruhan. Untuk bertumbuh Tuhan bisa saja memakai setiap orang yang berkenan di hadapanNya.

Bertumbuh sebagai pohon yang hidup. Pohon yang hidup adalah pohon yang memiliki akar, batang dan buah yang sehat. Tumbuh dan menghasilkan buahbuah yang manis dan indah. Dengan demikian, sebagai satu kesatuan yang utuh di kampus ini penting untuk membangun karakter yang berkenan di hadapan Tuhan, sehingga dapat menghantar pada pertumbuhan yang sehat dan menjadi pohon yang hidup. Supaya kokoh dan menghasilkan buah yang baik, pohon haruslah dijaga dan dipelihara sebaik-baikya, agar tidak diserang hama. Demikian pula dengan warga
kampus: harus selalu waspada terhadap penyakit yang sedang merajalela pada bangsa ini agar tidak menular, seperti korupsi, dehumanisasi, narkoba, kemerosotan moral dan lain lain.

Mari tumbuhkan kampus yang sehat dengan menjaganya bersama-sama. Kampus yang dapat menghasilkan buah-buah yang baik dan indah bagi masyarakat dan pujian kepada Tuhan. Ingatlah nasihat Paulus : Karena itu “berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan yang baik”. Jadikan kampus kita selalu bertumbuh ke arah yang lebih baik. (RPA)

Refleksi :
Sadarkah bahwa pertumbuhan kampus ini terletak pada diri kita?

HIDUP YANG MENGAMPUNI (Matius 18:21-35)

Senin, 25 Agustus 2014

HIDUP YANG MENGAMPUNI (Matius 18:21-35)

“Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali,  melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Matius 18 : 22)

Dalam pengalaman hidup sehari-hari mungkin kita berpikir dengan memberi  maaf atas kesalahan orang lain berarti kita telah memberi “sesuatu” kepada orang lain atau memberi hutang budi kepada orang lain. “Pengampunan” adalah sebutan bagi orang yang selalu sadar bahwa dirinya memerlukan pengampunan, yang sekaligus akan memampukan seseorang untuk mengampuni orang lain. Pengampunan bukan berarti mengabaikan kesalahan atau membiarkan seseorang tidak bertanggung jawab atas kesalahannya. Pengampunan menghapuskan catatan kesalahan masa lalu dan memulainya dengan lembaran baru. Kalau kita tidak mau mengampuni, alternatifnya adalah marah pada orang yang telah menyakiti kita. Orang yang marah akan semakin terobsesi untuk “membalas dendam”. Kemarahan, bila tidak ditanggulangi dengan benar, akan berkembang menjadi kepahitan. Sikap yang tidak sehat ini akan menjadi suatu pengaruh yang mengendalikan kehidupan seseorang, dan secara ilmiah terbukti sebagai penyebab berbagai masalah kesehatan yang serius. Sebaliknya bila orang mau mengampuni, bisa jadi hal itu sangat sulit.

Ada dua sisi pengampunan yang perlu diketahui oleh setiap orang. Selain mengampuni orang yang bersalah, seseorang juga harus meminta maaf atas kesalahan yang dilakukannya kepada orang lain. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui tindakan, perkataan atau pikiran yang salah. Namun, kepercayaan yang terbina karenanya akan merupakan upah yang sepadan dari tindakan itu. Orang–orang yang bersikap congkak, yang merasa dirinya tidak memerlukan pengampunan, cenderung lebih kritis dan menghakimi orang lain secara lebih keras. Untuk mempertahankan harga diri setinggi – tingginya, mereka berusaha menemukan kesalahan untuk merendahkan orang lain.

Hidup ini akan sangat berarti dan indah bila ada maaf di antara kita, karena: terkadang mata salah melihat, mulut salah berucap, kaki salah melangkah, hati salah menduga. Kesemuanya adalah pelajaran hidup untuk mencapai kedamaian dalam hati. (RPA)

Refleksi :Jadilah anak Tuhan yang “Pengampun”!

HIDUP YANG MENGAMPUNI

Senin, 25 Agustus 2014

HIDUP YANG MENGAMPUNI
“Yesus berkata kepadanya: “Bukan ! Aku berkata kepadamu: bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Matius 18 : 22)

Dalam pengalaman hidup sehari-hari mungkin kita berpikir dengan memberi maaf atas kesalahan orang lain berarti kita telah memberi “sesuatu” kepada orang lain atau memberi hutang budi kepada orang lain.

“Pengampunan” adalah sebutan bagi orang yang selalu sadar bahwa dirinya memerlukan pengampunan, yang sekaligus akan memampukan seseorang untuk mengampuni orang lain. Pengampunan bukan berarti mengabaikan kesalahan atau membiarkan seseorang tidak bertanggung jawab atas kesalahannya. Pengampunan menghapuskan catatan kesalahan masa lalu dan memulainya dengan lembaran baru.

Kalau kita tidak mau mengampuni, alternatifnya adalah marah pada orang yang telah menyakiti kita. Orang yang marah akan semakin terobsesi untuk “membalas dendam”. Kemarahan, bila tidak ditanggulangi dengan benar, akan berkembang menjadi kepahitan. Sikap yang tidak sehat ini akan menjadi suatu pengaruh yang mengendalikan kehidupan seseorang, dan secara ilmiah terbukti sebagai penyebab berbagai masalah kesehatan yang serius. Sebaliknya bila orang mau mengampuni, bisa jadi hal itu sangat sulit.

Ada dua sisi pengampunan yang perlu diketahui oleh setiap orang. Selain mengampuni orang yang bersalah, seseorang juga harus meminta maaf atas kesalahan yang dilakukannya kepada orang lain. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui tindakan, perkataan atau pikiran yang salah. Namun, kepercayaan yang terbina karenanya akan merupakan upah yang sepadan dari tindakan itu. Orang–orang yang bersikap congkak, yang merasa dirinya tidak memerlukan pengampunan, cenderung lebih kritis dan menghakimi orang lain secara lebih keras. Untuk mempertahankan harga diri setinggi – tingginya, mereka berusaha menemukan kesalahan untuk
merendahkan orang lain.

Hidup ini akan sangat berarti dan indah bila ada maaf di antara kita, karena: terkadang mata salah melihat, mulut salah berucap, kaki salah melangkah, hati salah menduga. Kesemuanya adalah pelajaran hidup untuk mencapai kedamaian dalam hati. (RPA)

Refleksi :
Jadilah anak Tuhan yang “Pengampun”!

JUJUR TERHADAP DIRI SENDIRI

Jumat, 22 Agustus 2014

JUJUR TERHADAP DIRI SENDIRI

“Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau” (Mazmur 25:21)

Saat membaca buku Character First yang diterbitkan pada tahun 1997 oleh
Character Trainning institute, saya sangat terkesan dengan sebuah cerita
mengenai Singa Afrika. Singa menyatakan kejujuran melalui beberapa anggota tubuhnya: ekor, telinga, dan bibir. Apabila singa mengangkat sebelah bibirnya menandakan bahwa singa hanya merasa gusar sedikit. Sedangkan kalau kedua bibirnya diangkat ke atas mulutnya dan mengerutkan hidungnya lalu memamerkan giginya yang besar dan tajam berarti singa bisa menyerang. Melalui panca inderanya singa memancarkan suasana hatinya. Singa jujur terhadap dirinya sendiri. Seekor singa tidak dapat berpura-pura mengangkat sebelah bibirnya pada saat hatinya panas dan sangat marah ingin menyerang.

Ilustrasi di atas menginspirasi penulis untuk kembali belajar jujur. Pelajaran yang dapat dipetik dalam pelajaran di atas adalah bagaimana kita dapat jujur terhadap diri sendiri. Bersikap sesuai dengan apa yang memang ada dalam suasana hati kita. Manusia seringkali tidak jujur. Jangankan terhadap orang lain, seringkali terhadap dirinya sendiri pun tidak dapat bersikap jujur. Pengingkaran diri sering dilakukan. Berpura-pura gembira padahal hati sedang bersedih, berpura-pura baik padahal sedang merencanakan suatu hal yang kurang baik.

Marilah kita sama-sama belajar untuk jujur. Pertama-tama kita belajar jujur
terhadap diri sendiri. Jujur terhadap diri sendiri dapat dilakukan dengan cara
menerima apa adanya atas apa yang terjadi dalam kehidupan kita. Melekat pada Pencipta kita, membuka hati kita di hadapan Tuhan agar Dia menyatakan kebenaran. Dialah Allah yang jujur sumber segala kebenaran. Suatu syair lagu yang begitu indah mengungkapkan “Jiwaku terbuka untukmu Tuhan, slidiki nyatakan segala perkara, singkapkan semua yang terselubung…”.

Mari Bapa selidiki hati kami, agar kami senantiasa dapat menjaga kejujuran
dihadapanMu. (LS)

Refleksi:
Berbuatlah jujur, jangan sampai luntur, itulah sikap yang luhur.

JANGAN ADA DUSTA DIANTARA KITA

Kamis, 21 Agustus 2014

JANGAN ADA DUSTA DIANTARA KITA
“ dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu”  (Titus 2:7)

Kejujuran berasal dari kata jujur. Jujur merupakan suatu kebiasaan / sifat yang selalu menyerukan kebenaran, mengatakan fakta yang sebenarnya, selalu melakukan yang benar, mengatakan yang sebenarnya dengan ketulusan. Kejujuran (truthfulness) berasal dari kata Inggris kuno treowe, sehingga lahir dari kata true(benar), trust(percaya), throth(adil). Kebenaran tidak akan berubah, kekal adanya namun fakta dapat berubah. Bunglon berwarna hijau ketika bertengger di atas sehelai daun, dan bunglon menjadi berwarna coklat ketika bertengger di ranting sebuah pohon. Faktanya bunglon akan berubah-ubah warna kulitnya sesuai dengan lingkungan di mana bunglon berada. Namun, prinsip bahwa bunglon memiliki sifat asli yang dapat berubah warna kulitnya merupakan kebenaran yang tidak dapat dipungkiri dan tidak dapat berubah.

Seorang pemimpin harus memegang prinsip kejujuran. Kejujuran tidak hanya tercermin dari kata-kata. Kata-kata dapat dengan mudah memperdaya. Kejujuran harus tercermin dari segenap aspek. Ketidakjujuran dapat dilakukan bukan hanya dengan berkata-kata, namun tidak berkata apa-apa pun dapat merupakan suatu sikap yang tidak jujur. Mengapa pemimpin harus jujur? Kejujuran akan membawa reputasi bagi seorang pemimpin. Kedudukan sebagai pemimpin memberikan kekuasaan untuk dipatuhi oleh bawahannya, namun karakter yang membuat seorang pemimpin dipercayai dan dikagumi.

Apabila kita ditempatkan Tuhan sebagai pemimpin, sudahkah kita terus menguji diri kita mempraktikkan kejujuran dalam kepemimpinan kita? Sudahkah kita memberikan teladan yang baik kepada lingkungan di tempat kita bekerja baik itu terhadap sesama rekan kerja, atasan, bawahan dan mahasiswa? (LS)

Refleksi :
Kejujuran adalah aturan terbaik – George Washington.

JANGAN MEMFITNAH

Rabu, 20 Agustus 2014

JANGAN MEMFITNAH
“Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya.” (Yakobus 4:11)

Fitnah, bisa terjadi pada siapa saja. Baik dari kalangan orang terdidik maupun yang tidak terdidik. Apakah seorang yang sudah orang percaya atau orang yang baru saja percaya. Dalam kenyataannya sering perselisihan timbul di tengah masyarakat atau jemaat sebagai akibat dari fitnah? Fitnah tidak hanya sekedar menyebarkan berita buruk, tetapi juga bisa mengadu domba dan memutar balikkan fakta. Karena itulah fitnah memang sangat berbahaya dan menyebabkan hal yang tidak baik.

Yakobus dalam nas ini mengingatkan Jemaat untuk tidak saling menghakimi dan saling menfitnah. Kata “fitnah” dapat berarti membicarakan hal-hal yang buruk tentang seseorang tanpa sepengetahuan orang tersebut. Hal yang disampaikan bisa saja benar, separuh benar, atau pun bohong. Memfitnah saudaranya dianggap mencela hukum maksudnya yaitu mencela orang (baik di depan maupun di belakang orang itu) karena ia tidak hidup sesuai dengan pandangan kita, padahal Kitab Suci tidak melarang tindakan orang itu. Jika seseorang dicela karena ia hidup tidak sesuai dengan Kitab Suci, maka itu tentu tidak apa-apa. Tetapi jika seseorang dicela karena ia tidak hidup sesuai pandangan kita yang tidak ada dalam Kitab Suci, maka itu adalah memfitnah yang dimaksudkan oleh Yakobus di sini.

Hari ini kita sebagai umat Allah diingatkan untuk tidak memfitnah atau saling
menghakimi satu dengan yang lainnya. Mengapa? Karena hanya Tuhan yang layak untuk menghakimi tiap perbuatan manusia dan akibat fitnah akan memecah belah hubungan dan merusak tatanan yang baik. Bukankah, sering terjadi, manusia menghakimi sesamanya tetapi menolak penghakiman orang lain atas dirinya. Sebagai warga kampus mari kita menciptakan suasana yang kondusif dengan tidak saling memfitnah.(RAP)

Refleksi:
Jangan mau menjadi pemecah belah.