BAHAYA KETAMAKAN

Selasa, 19 Agustus 2014

BAHAYA KETAMAKAN
“Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” (Lukas 12 : 15)

Di salah satu daerah dekat California ada seorang tuan tanah yang ingin
membagi-bagikan tanahnya kepada masyarakat sekitar. Dalam hal pembagian tanah tidak diukur atau diundi siapa yang layak menerima dan mendapat tanah tersebut, tetapi tuan tanah ini menggunakan cara lain untuk membagi tanahnya. Ia memberikan perintah kepada peserta bahwa tanah yang akan didapat oleh peserta tergantung sekuat berapa jauh ia berlari, dimana peserta kalau berhenti lari itulah yang menjadi bagiannya. Perlombaan tersebut berlangsung, dan diantara peserta ada seorang anak muda ia begitu kuat untuk berlari, dan sudah beberapa hektar ia lewati, namun dalam hati anak muda tersebut masih belum cukup apa yang sudah dia tempuh, ia berkata saya akan berlari lagi dan berlari lagi. Akhirnya apa yang di dapat oleh anak muda tersebut, ia telah berhasil meraih beberapa puluh hektar tanah dari tuan tanah tersebut, ia sukses. Tapi karena ketamakannya apa yang terjadi setelah ia langsung berhenti dan tidak kuat lagi berlari ia jatuh dan langsung meninggal. Sikap tamak dalam hidup seseorang akan membuatnya lupa diri dan akibatnya bisa fatal.

Nas hari ini Yesus menjelaskan bagaimana orang kaya setelah terpenuhi segala keinginannya, melihat bahwa hasil dari semua itu hanya karena kekuatannya sendiri, tanpa campur tangan Tuhan. Orang kaya ini memikirkan lagi bagaimana ia lebih mendapatkan kepuasan dan kesenangan terhadap dirinya . ia menciptakan tempat untuk menyimpan harta miliknya. Orang kaya ini hanya menunjukkan kesenangannya sendiri. Ia tidak sadar bahwa kesenangan tersebut telah membawa kedalam keegoisan dalam diri sendiri. Ia telah terbutakan oleh hasil dari tanahnya.
Ia tidak mengucap syukur untuk kekayaan yang dia terima, dan dia mengabaikan sesamanya yang membutuhkan. Karena keegoisannya ia telah kehilangan akan Allahnya dan sesamanya.

Dengan ketamakan, biasanya akan membuat kita kehilangan apa yang baik yang selama ini kita sudah miliki. Apakah kita tetap hidup dalam ketamakan atau keserakahan atau kita akan mengatakan, aku mengucap syukur atas perbuatanMu dan karyaMu dalam hidup ini? Tuhan Yesus menghendaki kita sadar dan meninggalkan ketamakan yang ada dalam setiap diri kita. (RAP)

Refleksi:
Terus belajar untuk mengubah pusat perhatian dalam hidup kita dari diri sendiri menjadi Allah.

MENANG DARI KEBIASAAN BURUK (2)

MENANG DARI KEBIASAAN BURUK (2)

“Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.”
(Roma 6:6)

Mandi adalah salah satu upaya manusia membersihkan badannya dari kotoran atau bau badan yang tidak enak dan menyegarkan badan. Ada kajian juga bahwa mandi mempunyai peranan dalam meningkatkan sistem ketahanan dan mencegah penyakit kulit. Nas hari ini menyatakan bahwa jangan mau lagi menjadi hamba dosa. Kata tahu berarti kesadaran iman: bahwa manusia lama kita turut disalibkan. Pandangan Alkitab manusia lama kita dihukum dan mati di kayu salib bersama Kristus. Manusia lama itu tidak boleh lagi hidup. Dalam kematian Kristus tubuh dosa itu telah hilang kuasanya, tak berdaya lagi. Manusia lama telah disalibkan dengan Kristus sehingga tubuh tidak lagi dikuasai oleh dosa. Kata “Hilang kuasanya” bukan berarti dihilangkan tetapi dilumpuhkan, dihilangkan pengaruhnya. Namun demikian perlu diakui dosa selalu ingin menjadi tuan. Dosa adalah tuan yang mengerikan, dan tubuh manusia selalu ingin menjadi hamba dosa. Dosa mendapatkan tempat berpijak pada tabiat manusia yang lama dan melalui tabiat lama itu dosa berusaha untuk menguasai anggota-anggota tubuh. Tetapi di dalam Yesus Kristus, kita mati bagi dosa, dan tabiat lama kita disalibkan sehingga hidup lama dimatikan. Paulus memberikan fakta bahwa Kristus mati di salib dan orang percaya mati dengan Dia bebas dari dosa (ay 7) “sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.”Dosa dan maut tidak berkuasa atas Kristus; dan kita yang ada di dalam Kristus tidak dikuasai oleh dosa. Sebagai warga kampus, apakah kita masih mau dikendalikan oleh kebiasaan-kebiasaan buruk? Kebiasaan buruk yang tidak membangun sesama akan mengakibatkan hal yang tidak baik dan merusak tatanan yang ada. (RAP)

Refleksi:
Memohon pertolongan Roh Allah yang dapat mengikis kebiasaan buruk manusia.

BERTOBATLAH DARI KEJAHATANMU

Rabu, 6 Agustus 2014

BERTOBATLAH DARI KEJAHATANMU

“Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini; sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan.”  (Kisah 8:22-23)

Pada tahun 1904 di kota Wales (Welsh) Eropa tercatat dalam sejarah gereja terjadi apa yang disebut kebangunan rohani yang luar biasa. Surat kabar setempat sempat menuliskan berita ”Pengolok-pengolok bertobat, pemabuk, penjudi, pencuri bertobat setelah mengalami jamahan Tuhan dalam hidup mereka secara luar biasa. Beribu-ribu orang diubahkan menjadi warga negara yang terhormat, pengakuan dosa dilakukan dari orang-orang tersebut tanpa ada yang berkotbah untuk itu. Selain itu toko-toko yang menjual bir dan minuman keras mengalami
penurunan jumlah pembeli, bahkan ada yang diubah sebagai tempat ibadah.”

Peristiwa di Welsh bukanlah hal yang aneh karena pada zaman kisah para rasul pernah terjadi hal yang demikian, bagaimana terjadi gelombang pertobatan pada orang-orang membuat hidup mereka berubah secara drastis. Bagaimana dengan hari ini, apakah kuasa Tuhan berhenti bekerja? Tentu saja tidak, kuasaNya tetap bekerja dengan cara yang berbeda untuk membuat sebanyak mungkin orang menyadari pentingnya meninggalkan kejahatannya dan bertobat untuk tidak melakukannya lagi. Hati yang mengalami kepahitan dan terjerat dalam kejahatan membuat banyak
orang tidak mudah melepaskan diri dari ikatan ini. Selain harus berdoa kepada Tuhan perlu juga ada orang-orang yang membantu mendoakan agar mereka mengalami pemulihan kesadaran akan keberadaan mereka yang seharusnya mulia dihadapan Tuhan. (AK)

Refleksi :
Kejahatan timbul dari hati yang pahit seperti empedu. Adakah kepahitan, kegeraman, dendam dalam hati Saudara sekecil apapun yang belum terselesaikan? Segera selesaikan itu dengan mulai datang dihadapan Tuhan untuk meminta petunjukNya.

MENANGGALKAN BEBAN DAN DOSA

MENANGGALKAN BEBAN DAN DOSA

“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” (Ibrani 12:1)

Suatu kapal yang terombang-ambing ombak besar dan hampir tenggelam harus menurunkan beban-beban berat yang dapat membuat kapal tersebut karam. Prinsipnya adalah agar kapal dapat terus berlayar dalam kondisi yang lebih ringan tanpa beban berat yang dapat mengakibatkan kapal mudah tenggelam, sehingga satu-satunya jalan adalah membuang barang-barang berat ke laut.

Ketika kita hidup dan berjalan dalam kebenaran seringkali tanpa sadar kita juga membawa beban dosa yaitu kebiasaan-kebiasaan buruk yang membuat kita tidak dapat melakukan dengan sempurna apa yang baik yang Tuhan kehendaki. Beban dosa memberikan tekanan kepada jiwa kita sehingga kita mengalami kemalasan untuk melakukan kebenaran, diintimidasi dengan perasaan bersalah.

Firman Tuhan jelas mengingatkan kita bahwa suatu saat sesegera mungkin beban itu harus kita lepaskan sehingga tidak ada sesuatu yang merintangi dan membebani kita pada saat berjalan dalam kebenaran. Semakin lama jalan yang kita lalui akan semakin sempit yang membuat kita harus mengambil keputusan untuk terus melanjutkan atau berhenti karena beban tersebut tidak dapat dibawa terus berjalan. Kebiasaankebiasaan buruk kita adalah beban yang harus segera kita buang karena hal tersebut membuat kita tidak dapat berlari dengan cepat kepada panggilan Tuhan dalam hidup
kita dan membuat apa yang kita kerjakan untuk Tuhan menjadi terhambat. Kita tidak akan pernah sampai kepada tujuan mulia yang Tuhan tetapkan karena beban itu sangat mengintimidasi jiwa kita atau bahkan mengeraskan hati kita sehingga kita menjadi bebal. (AK)

Refleksi :
Bagaimana dengan hidup Saudara saat ini, adakah hal-hal yang tidak benar terusmenerus menjerat hidup saudara, sehingga kita selalu merasa tidak layak di hadapan Tuhan? Mengapa Saudara tidak menanggalkan saja beban dan dosa tersebut? Cepat atau lambat Saudara harus segera memutuskan untuk menanggalkannya karena Kerajaan Allah tidak akan berkompromi dengan kejahatan.