LEMON TREE

Minggu, 2 November 2014

LEMON TREE
“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah
adalah kasih” (I Yohanes 4:8)

Mereka yang kecewa terhadap kasih mungkin setuju dengan syair lagu “Lemon Tree”yang dinyanyikan kelompok musik Peter, Paul, and Mary. Salah satu syair pada lagu ini mengatakan “Jangan berharap kepada kasih, anakku,”
kata Ayah kepadaku, “aku khawatir kau akan mendapati bahwa kasih itu seperti pohon jeruk nipis yang menawan.”Pohon jeruk nipis sangatlah cantik dan bunganya indah, namun buahnya terlalu masam untuk dimakan. Banyak orang merasa demikian. “Kasih itu masam bahkan menyakitkan, karena kasih telah dimanfaatkan atau disalahgunakan.” Mereka mencari kasih di tempat-tempat yang keliru dan dengan cara yang tidak tepat. Mereka tidak menyadari bahwa ada satu kasih yang indah dan manis yaitu “Kasih Allah.”

Ada segudang cerita tentang cinta kasih yang ada di dunia ini, namun semuanya itu tidak bisa dibandingkan dengan kasih Allah. Kasih Allah adalah kasih yang ‘tak berubah, tak bersyarat, dan sempurna.’ Kasih manusia bersifat sementara, mudah sekali berubah, sangat bergantung pada situasi dan kondisi; tetapi kasih Tuhan tidak berubah dan tidak dapat dipengaruhi oleh apa pun, termasuk dengan perbuatanperbuatan baik kita. Manusia mengasihi dengan menentukan syarat siapa yang akan dijadikan objek kasihnya. Seringkali kita hanya mau mengasihi orang-orang yang mengasihi kita, jika tidak, kita pun tidak lagi mau mengasihi. Namun Tuhan memiliki kasih yang berbeda. IA mengasihi tanpa syarat. Siapapun kita dan dari latar belakang apapun; kaya maupun miskin; berpendidikan tinggi dan bergelar maupun seorang lulusan sekolah dasar; bos maupun karyawan; semua dikasihi Tuhan. Tuhan tidak mengasihi karena kita layak mendapatkan kasih-Nya. DIA mengasihi, apa pun keadaan kita. Kasih Tuhan lengkap, utuh, dan sempurna. Jika saat ini kita sedang mencari kasih yang utuh dan sempurna, kita hanya dapat menemukannya dalam Pribadi Yesus Kristus. Jangan mencari kasih yang berasal dari dunia ini, karena kasih yang ditawarkan dunia akan berakhir seperti lagu ‘lemon tree.’ Hanya kasih Kristus yang sanggup mengubah hidup kita dan menyempurnakannya melalui berbagai cara yang luar biasa. (YG)

Refleksi :
Kasih yang utuh dan sempurna hanya ditemukan dalam Kristus!

TOLAK LUPA

Jumat, 1 Nopember 2014

TOLAK LUPA

“Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan” (II Petrus 1:8-9)

Dalam sebuah perjalanan melintasi rel kereta api di Bandung, mata saya tiba tiba tertuju pada sebuah tulisan di tembok yang berbunyi ‘tolak lupa’. Rasa penasaran saya akhirnya terjawab setelah saya membaca bagian lain pada tembok tersebut yang berisi uraian singkat tentang berbagai peristiwa kelam yang pernah dialami oleh bangsa Indonesia. Ternyata itulah cara si penulis untuk tidak melupakan apa yang pernah terjadi atas bangsa ini, sekaligus mengingatkan setiap orang yang melintasi jalan tersebut agar tidak melupakan sejarah penting yang pernah dialami oleh bangsa Indonesia.

Penyakit ‘lupa’ pasti pernah dialami oleh semua orang. Lupa dengan nama seseorang, lupa mengerjakan sesuatu, lupa dimana meletakkan barang, bahkan lu pa akan jasajasa orang yang pernah me nolong kita. Namun penyakit lupa yang paling parah dan harus dihindari adalah ‘lupa’ akan kasih Kristus. Ketika kita lupa akan kasih Kristus, maka niscaya kita juga akan lupa dengan perbuatan-perbuatan yang ajaib-Nya dalam hidup kita.

Dalam Perjanjian Lama, kita menemukan bahwa berulang kali Tuhan meng  ingat kan bangsa Israel akan besarnya kasih Tuhan bagi mereka. Tuhan mengingatkan akan status mereka dulu, yaitu sebagai bu dak-budak di Mesir dan hanya Tuhanlah yang empunya langit dan bumi; Allah Abraham, Ishak, dan Yakub yang telah mem  bebaskan me  reka. Tuhan ingin agar mereka mengasihi dan me  ngan dal kan-Nya serta tidak berpaling kepada ilah-ilah lain. Namun yang terjadi adalah 10 kali umat-Nya mencobai dan meragukan kasih Tuhan (Bilangan 14). Bangsa Israel lupaakan kasih
dan perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan yang telah mereka alami.

Tuhan tidak menginginkan kita melupakan kasih-Nya yang luar biasa. Kasih Tuhanlah yang menggerakkan Tuhan bekerja di tengah-tengah manusia. Hanya karena kasih, maka Yesus menjelma sebagai manusia dan menyelamatkan kita (Yohanes 3:16). Salib adalah bukti nyata betapa sempurnanya kasih Tuhan kepada kita. “…betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,” (Efesus 3:18).Dengan selalu mengingat akan kasih Kristus, maka kita pun akan senantiasa ingat
akan pengorbanan-Nya. (YG)

Refleksi :
Janganlah melupakan kasih Kristus dalam hidupmu!

AMPUNILAH KAMI, SEPERTI KAMI JUGA MENGAMPUNI

Kamis, 30 Oktober 2014

AMPUNILAH KAMI, SEPERTI KAMI JUGA MENGAMPUNI

“dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami,” (Matius 6:12)

”Saya bukan Allah, sehingga saya tidak bisa mengampuni seperti Allah
mengampuni, tidak bisa sebaik Allah dalam mengampuni”. Mungkin kita
berdalih seperti itu, ketika kita mendengar ayat tersebut, setidak-tidaknya
saya sendiri seringkali berdalih demikian.

Saya kira bukan tingkat kesempurnaan atau kemampuan mengampuni kita yang harus sekualitas pengampunan Allah, melainkan mengikuti teladan Allah untuk mengampuni, karena kita adalah gambar atau citra Allah. Karena status kita itulah, maka kita juga sebenarnya sudah diperlengkapi untuk menjadi seperti Allah, walaupun tentu tidak sesempurna Allah. Kalau kita harus sempurna dalam mengampuni, barulah Allah mengampuni, artinya kita sudah sempurna. Karena kita tidaklah sempurna dalam mengampuni, memangnya Allah tidak akan mengampuni dengan sempurna juga? Apakah karya Kristus di kayu salib ada tingkatannya, sesuai dengan tingkat kemampuan dan kesempurnaan kita dalam mengampuni?? Tentu tidak.

Karena kita adalah anak-anak Allah, di kampus ini kita pun harus menunjukkan hal ini, bahwa kita meneladani Allah, Sang Bapa kita. Marilah kita juga saling mengampuni. (PO)

Refleksi :
Sudahkah kita mengampuni, seperti Allah sudah mengampuni?

MANFAAT MENGAMPUNI

Rabu, 29 Oktober 2014

MANFAAT MENGAMPUNI

“Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati,dan orang bebal dimatikan oleh iri hati.” (Ayub 5:2)

Kerugian sakit hati adalah : tidak bisa menikmati saat-saat indah, konsentrasi kerja terganggu, kadar adrenalin meningkat sehingga denyut nadi lebih cepat (meningkatkan risiko gangguan kesehatan), dijauhi sesama karena ekspresi wajah yang tegang dan kurang bersahabat. Pada akhirnya, perasaan negatif ini mempengaruhi fisiologi/fungsi tubuh, melemahkan sistem imun, dan menimbulkan berbagai penyakit fisik pada para pengidap sakit hati. Ya, bisa-bisa mereka benar benar terbunuh secara fisik.

Kita bisa untuk menjadi tidak bodoh alias bisa menjadi berhikmat. Kita juga bisa untuk menjauhi sakit hati, misalnya dengan memandang dari sisi positifnya (bukan hal negatif dipandang atau dibuat-buat menjadi positif secara buta). Kalau tidak bisa demikian, kita serahkan kepada Allah yang mengetahui segala sesuatu, yang punya hak tunggal untuk melakukan pembalasan, lalu tinggalkan sakit hati itu. Memang tidak semudah membalik telapak tangan, tapi layak untuk diperjuangkan.

Adakah orang di kampus ini yang kepadanya Saudara/i merasa sakit hati? Mungkin dia pernah berupaya menggagalkan kemajuan Saudara/i, pernah merebut pacar, atau memiliki perangai buruk, atau apapun? Marilah menjadi orang berhikmat seperti yang Tuhan kehendaki dengan mengampuni mereka. Sakit hati adalah beban hidup yang Tuhan tidak mau kita menanggungnya. (PO)

Refleksi :
Sakit hati adalah beban yang harus dilepaskan.

SABAR

Selasa, 28 Oktober 2014

SABAR

“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
(Kolose 3:13)

Seseorang yang menaruh dendam terhadap kita, apalagi jika orang itu tidak
kita ketahui, sungguh merupakan duri dalam daging yang memiliki potensi
mencelakakan kita atau orang-orang yang kita kasihi, sewaktu-waktu. Itulah
sebabnya Allah memerintahkan kita untuk sabar terhadap mereka, dan mengampuni mereka. Bagaimana kita menghadapi hal seperti ini?

Pertama-tama, Allah tidak ingin kita mendendam kepada siapapun. Kita tahu,
bahwa mendendam itu menyebabkan banyak kerugian, terutama dan pertama
pada si pendendam itu sendiri, sebelum akhirnya pihak yang didendami atau
bahkan yang turut kena getah pembalasan yang membabi buta. Kedua, kita harus menerima pengajaran Firman ini, bahwa kita harus sabar dan mengampuni orang yang menaruh dendam kepada kita. Jadi, Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk bersikap mengampuni.

Sekarang, apakah kita menyadari atau tidak menyadari ada yang mendendam
kepada kita, atau kepada orang lain. Bersiaplah untuk mentaati Firman Tuhan dalam menghadapi mereka, yaitu dengan bersabar dan mengampuni, jangan ikut menaruh dendam kepada mereka yang menaruh dendam. Seandainya kita diberi karunia untuk memberi nasihat, lakukanlah dengan kasih. (PO)

Refleksi :
Adakah pengampunan dan kesabaran dalam hidup kita?

DIPULIHKAN UNTUK MEMULIHKAN

Senin, 27 Oktober 2014

DIPULIHKAN UNTUK MEMULIHKAN

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28)

Saat berjalan memasuki pintu-pintu besi di Lembaga Pemasyarakatan khusus wanita di kota Oregon, Stormie Omartian sempat merasa gentar dan ragu-ragu apakah berbagi kisah hidupnya dengan para wanita yang menjadi warga binaan LP adalah keputusan yang benar. Dengan kekuatan dari Tuhan, akhirnya Stormie memantapkan hatinya untuk berbicara dengan para wanita yang telah berkumpul di suatu ruangan lalu mulai bercerita tentang masa kecilnya yang kelam akibat penganiayaan fisik dan verbal dari ibunya. Hidupnya sebagai anak yang tertolak dan tidak dikasihi, lalu jatuh dalam berbagai dosa, kecanduan obat, melakukan aborsi, mencoba bunuh diri sehingga hidupnya hancur berantakan. Ketika mengenal Yesus, ia mulai mengalami pemulihan dan damai yang sejati karena Yesuslah Penebus yang sanggup memulihkan segala macam luka dan kepedihan bahkan mengubahnya menjadi sesuatu yang berarti. Yesuslah yang memampukan Stormie untuk memaafkan dan berdamai dengan keluarganya. Di akhir pembicaraan, Stormie menutup matanya dan melantukan sebuah lagu yang Tuhan nyatakan baginya. Saat ia membuka mata, nampak hampir semua wanita yang hadir meneteskan air mata. Tuhan menyatakan kuasaNya, Tuhan melembutkan hati mereka dan menjadi jawaban atas kebutuhan mereka. Tuhan sanggup memulihkan hidup yang hancur dan memakai orang-orang yang telah dipulihkan untuk menjadi berkat bagi orang lain sekalipun lewat proses panjang. Itulah kisah dari bab terakhir yang tertulis dalam buku ”Stormie: A Story of Forgiveness and Healing”(1986).

Allah rindu untuk memakai orang-orang yang telah dipulihkan untuk menjadi instrumen kasih Allah bagi orang lain. Orang yang telah mengalami pemulihan dari kesedihan, penderitaan, kepedihan dan luka hati adalah orang-orang yang tepat untuk menolong, menghibur, menguatkan dan mengangkat orang lain yang mengalami hal yang serupa. Segala yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita tidak akan menjadi sia-sia karena Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Kiranya Tuhan menolong kita untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain. (CA)

Refleksi :
Apakah yang dapat kita lakukan untuk menjadi berkat bagi orang lain?

PENGAMPUNAN DALAM KELUARGA

Sabtu, 25 Oktober 2014

PENGAMPUNAN DALAM KELUARGA (Kejadian 50:15-21)

“ Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya. ” (1 Yohanes 2 : 11)

Gianna Jessen adalah seorang penulis, penyanyi, dan pembicara yang lahir tahun 1977 di Los Angeles. Secara ajaib Tuhan memberi anugerah kehidupan baginya walaupun ibunya adalah seorang gadis muda tanpa ayah yang sedang menjalani proses aborsi di sebuah klinik. Sang ibu sangat terkejut karena ternyata terdengar suara tangisan dari bayi yang ia gugurkan. Allah berdaulat sepenuhnya dalam setiap situasi kehidupan dan tidak ada yang dapat menggagalkan rencanaNya. Sang bayi mungil yang tidak diharapkan justru tumbuh menjadi wanita yang dipulihkan dan dipakai oleh Allah. Kisah hidupnya dipaparkan dalam buku ”Gianna: Aborted and Lived to Tell about It” (1999) dan menginspirasi film ”October Baby” (2011). Setelah mengalami kasih Tuhan dan menerima pengampunanNya, akhirnya Gianna diberi kekuatan untuk mengampuni dan bertemu langsung dengan ibu kandungnya.

Terkadang dalam hidup ini ada berbagai kekecewaan dan penolakan yang berasal dari orang-orang terdekat atau keluarga kita. Kisah kehidupan Yusuf memberikan teladan tentang kasih dan pengampunan. Oleh kekuatan Tuhan, Yusuf dimampukan untuk berhadapan kembali dengan kakak-kakaknya dan mengampuni mereka. Yusuf tidak menaruh kebencian kepada mereka bahkan ia berinisiatif untuk memulihkan
hubungan dengan mereka. Allah berdaulat penuh atas segala jalan hidup Yusuf. JIka Yusuf hidup dalam kebencian barangkali ia akan hidup dalam kegelapan dan tidak akan menyadari ada campur tangan Tuhan dalam setiap langkah hidupnya. Yusuf telah mengalami kesembuhan emosi dan suatu petualangan iman bersama dengan Tuhan sehingga ia dapat berkata: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakan nya untuk kebaikan”(20-21).

Allah rindu agar di tengah keluarga, hubungan orang tua, anak, saudara-saudara, suami dan isteri dapat mengalami pemulihan. Ingatlah: “Pengampunan dan kesembuhan emosi tidaklah sama. Kesembuhan emosi memang membutuhkan waktu, namun semua dimulai dengan tindakan mengampuni, suatu keputusan secara sadar pada suatu titik tertentu” (John Nieder & Thomas M. Thompson). (CA)

Refleksi :
Apakah kasih dan pengampunan telah nyata di keluarga kita?

 

KASIH DAN PENGAMPUNAN (1 Korintus 13: 1-13)

“…Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.”
(1 Korintus 13: 5)

Ada sebuah lagu dari Maria Shandi dan Jason yang berjudul “Mengampuni”, yang petikan liriknya seperti berikut:

                             KETIKA HATIKU T’LAH DISAKITI
                       AJARKU MEMBERI HATI MENGAMPUNI
                           KETIKA HIDUPKU T’LAH DIHAKIMI
                         AJARKU MEMBERI HATI MENGASIHI
                          SEPERTI HATI BAPA MENGAMPUNI
                                MENGASIHI TIADA PAMRIH

Allah Bapa telah terlebih dahulu mengasihi dan mengampuni kita. Dalam bacaan hari ini, Paulus memaparkan berbagai contoh perwujudan kasih yang perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sumber kasih sejati adalah Kristus sendiri. Kita tidak dapat mengasihi sesama dengan kekuatan kita sendiri. Setelah kita percaya dan mengenal Kristus, maka kasih Allah akan dicurahkan dalam hidup kita. Kasih Allah bukanlah kasih yang bersyarat; dalam arti Allah mengasihi kita ukan KARENA kita layak dikasihi tetapi Allah mengasihi kita WALAUPUN kita tidak layak dikasihi. Kristus telah menunjukkan kasih kepada kita walaupun kita berdosa dan memberontak kepada Allah. Demikian pula, Allah rindu agar kita mengasihi sesama bukan karena hubungan timbal balik atau karena sesuatu alasan atau tujuan tertentu. Allah rindu agar kita belajar mengasihi sesama walaupun orang tersebut nampaknya tidak layak kita kasihi.

Salah satu bentuk dari kasih adalah “tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain”(ayat 5). Saat kita tidak menyimpan kesalahan orang lain berarti kita rela untuk memberikan pengampunan kepada orang tersebut walaupun orang tersebut barangkali menurut kita tidak pantas dimaafkan. Namun, saat memandang salib Kristus dan kasihNya, sesungguhNya kita juga termasuk orang yang tidak layak dikasihi dan diampuni oleh karena segala dosa dan kejahatan kita. Jika kita telah
menerima kasih dan mengalami pengampunan Allah, mari kita belajar untuk berbagi kasih kepada sesama kita. (CA)

Refleksi :
Maukah kita memiliki hati yang mengasihi dan mengampuni?

SENYUM, SALAM DAN SAPA

Jumat, 24 Oktober 2014

SENYUM, SALAM DAN SAPA (Efesus 4: 17-32)

“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Efesus 4:32)
Pernahkah Anda mengantri di bank dan di kantor pos? Apakah Anda menjumpai perbedaan suasana? Dalam bukunya “The Five Languages of Apology” (2006), sang penulis menceritakan perbedaan situasi yang ia temui dan perbedaan respon yang ia rasakan. Petugas bank selalu menyatakan maaf padanya karena sebagai nasabah bank ia harus menunggu beberapa menit sebelum akhirnya mendapat giliran untuk dilayani. Sementara, petugas di kantor pos tidak pernah menyatakan maaf padanya walaupun ia sebagai pengguna jas pos harus mengantri cukup lama. Memang, barangkali ucapan maaf dari petugas bank sekedar suatu formalitas. Namun, sang penulis tetap menghargai ungkapan yang demikian berkaitan dengan kualitas jasa pelayanan.

Apakah Allah ingin Anda meningkatkan kualitas pelayanan kerja Anda dengan cara lebih bersikap ramah dan menunjukkan kasih? Barangkali di tempat kerja, ada sesama rekan kerja, pimpinan, atasan, dosen, mahasiswa, orang tua atau tamu yang kadang menjengkelkan kita. Atau terkadang ada situasi dan tuntutan pekerjaan yang membuat kita menjadi lelah, jenuh, dan tidak sabar sehingga kita kurang peduli terhadap dampak ucapan dan sikap kita kepada orang-orang di sekitar kita.

Dalam bacaan hari ini, kita diingatkan agar sebagai manusia baru di dalam Kristus, kita terus menerus berproses untuk memperbaharui hidup kita termasuk mewujudkan kasih di lingkungan kerja kita. Allah ingin agar ”segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (ayat 31-32). Kita bisa mulai dengam hal-hal sederhana seperti memberikan senyuman, berinisiatif untuk memberi salam, ucapan terima kasih atau meminta maaf terlebih dahulu. Kiranya Allah menolong kita untuk menyatakan kepedulian bagi orang-orang di lingkungan kerja kita. (CA)

Refleksi :
Bagaimanakah kita dapat menghadirkan kasih Tuhan di lingkungan kerja?

DAMPAK PENGAMPUNAN

Kamis, 23 Oktober 2014

DAMPAK PENGAMPUNAN (2 Korintus 2:10-11)

“ Sebab barangsiapa yang kamu ampuni kesalahannya, aku mengampuninya juga. Sebab jika aku mengampuni,- seandainya ada yang harus kuampuni –, maka hal itu kubuat oleh karena kamu di hadapan Kristus,” (2 Korintus 2:10)

Dalam suatu seminar bagi para guru dan pengajar, seorang pembicara
menceritakan suatu kisah yang dialami oleh rekannya sesama pengajar. Ada seorang murid yang mengalami kesulitan dalam satu mata pelajaran dan mendapatkan nilai yang buruk. Suatu hari, sang guru berbincang-bincang dengan murid itu. Sang murid mengatakan bahwa ia tidak menyukai pelajaran itu dan hanya berusaha menghafal untuk sesaat lalu segera melupakannya. Sang guru menggali lebih dalam lagi, apa yang menyebabkan sang murid membenci pelajaran tersebut. Akhirnya sang murid bercerita bahwa ia pernah dipermalukan oleh seorang guru di hadapan teman-temannya saat ia masih di bangku sekolah dasar karena ia tidak bisa mengerjakan soal. Hal itu membekas dalam hatinya dan sejak saat itu ia membenci mata pelajaran tersebut. Lewat cerita itu, sang guru mengetahui bahwa akar permasalahannya adalah kebencian sang murid kepada gurunya. Sang guru lalu memberi masukan kepada sang murid bahwa jika ia ingin berhasil dalam mata pelajaran ini maka hal yang perlu dilakukan adalah mengampuni guru yang pernah melukai hatinya. Sang murid lalu pulang dan mulai memikirkan hal itu. Selang beberapa waktu, murid tersebut memutuskan untuk memaafkan gurunya. Sedikit demi sedikit, nilainya untuk mata pelajaran ini mulai meningkat dan akhirnya ia bisa memperoleh hasil yang maksimal di akhir tahun.

Menahan pengampunan bagi orang lain akan membawa dampak bagi hidup kita. Jika kita memberi pengampunan maka kita tidak membuka celah bagi iblis untuk mengganggu dengan pikiran dan emosi yang negatif. Alkitab menyatakan: “Sebab jika aku mengampuni,–seandainya ada yang harus kuampuni–,maka hal itu kubuat oleh karena kamu di hadapan Kristus, supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya”(10-11). Saat kita mengampuni berarti kita: “menaruh masalah itu di tangan Allah, setuju dengan Dia bahwa setiap pembalasan
adalah hakNya, bukan hak kita; tidak membiarkan diri kita memberi respon negatif & berdosa, dan menutup celah untuk membangun kepahitan” (John Nieder & Thomas M. Thompson). Janganlah kita tunda apa yang Tuhan ingin kita lakukan pada hari ini. (CA)

Refleksi :
Masih adakah pengampunan yang tertunda untuk diberikan pada orang lain?

PILIHAN DAN KEPUTUSAN

Rabu, 22 Oktober 2014

PILIHAN DAN KEPUTUSAN (Lukas 22: 39-47)

“ Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”
(Lukas 22: 42)

Bacaan hari ini menggambarkan pergumulan Yesus di Taman Getsemani sebelum Ia ditangkap dan disalibkan di Golgota. Yesus memberi teladan suatu ketaatan yang sejati walaupun hal itu berarti merelakan diri untuk terluka, menderita dan menanggung siksaan yang seharusnya tidak layak Yesus terima. Yesus menyerahkan hakNya untuk menolak jalan penderitaan dan justru bersedia menerima kehendak Bapa yang sesungguhnya bukan suatu keputusan yang membuat dirinya nyaman
dan tenang. Yesus sudah dapat membayangkan betapa sakit dan pedihnya segala cambukan, pukulan, hinaan dan cercaan yang akan Ia terima sehingga Alkitab menyatakan bahwa ”Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah”(22:44). Namun, Yesus tidak membiarkan segala gejolak emosi dan jiwa secara manusiawi tersebut menghentikan langkahNya menuju ke Kalvari.

Pernahkah perasaan galau, marah, kecewa, pedih, gengsi dan rasa dendam menghentikan langkah kita untuk mengampuni orang lain? Dalam buku ”Mengampuni dan Mengasihi Kembali”, disebutkan bahwa pengampunan adalah: ”Keputusan sepenuh hati untuk membebaskan orang yang melukai Anda dari utang yang timbul ketika Anda disakiti” (John Nieder & Thomas M. Thompson, 2007). Dalam buku tersebut juga dijelaskan bahwa di Alkitab ada banyak gambaran kata yang berbeda tentang pengampunan, misalnya: Mengampuni berarti mengetuk palu di ruang pengadilan dan menyatakan ’Tidak bersalah!’; mengampuni berarti
menganugerahkan maaf yang utuh kepada orang jahat yang bersalah; mengampuni berarti memasukkan semua sampah ke dalam karung, mengikatnya lalu membuangnya, dan yang ada tinggallah rumah yang bersih dan segar.

Sebagai manusia, tindakan mengampuni bukanlah suatu pilihan yang menyenangkan dan bukan hal yang kita sukai. Yesus sudah pernah mengalami pergumulan serupa dan Yesus sangat mengerti dan peduli pada kita. Kiranya kasih Yesus memampukan kita untuk mengambil keputusan yang menyenangkan hati Bapa. (CA)

Refleksi :
Mengampuni itu ”mulia dan meneladani Kristus” ((John Nieder & Thomas M. Thompson). Hal apa yang Tuhan nyatakan pada saya tentang pengampunan?