DIAMPUNI UNTUK MENGAMPUNI

Selasa, 21 Oktober 2014

DIAMPUNI UNTUK MENGAMPUNI (Roma 5:1-11)

“ Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5: 8)

Salah satu bentuk kepedulian adalah kita memulihkan hubungan dengan sesama kita dengan cara mengasihi dan mengampuni orang lain. Roswitha Ndraha & Julianto Simanjuntak menuliskan dalam buku ”Mencinta Hingga Terluka” bahwa ”Mencinta hingga terluka adalah sebuah cinta yang membuat sejarah. Cinta yang berkorban yang akan terus dikenang oleh yang menerimanya. Cinta yang akan diwariskan dari satu generasi ke generasi” (2009:xviii).

Teladan yang sempurna dari cinta yang berkorban adalah karya pengorbanan Kristus di kayu salib bagi Anda dan saya. Kita adalah orang berdosa yang layak dimurkai dan tidak berhak mendapat maaf dari Allah. Allahpun tidak memiliki suatu keharusan untuk memaafkan dan menghapus dosa kita. Namun karena kasih Allah yang sungguh amat besar, Allah mengutus Yesus Kristus untuk suatu misi ilahi yang sangat berat yaitu menanggung hukuman dosa yang seharusnya kita pikul. Yesus tidak berdosa dan tidak layak untuk dihukum. Namun Yesus dengan sukarela mau terluka, menderita, mencurahkan darahNya bahkan memberikan nyawaNya. Cinta Yesus diwujudkan lewat pengorbanan dan penderitaan yang luar biasa seperti disebutkan dalam Kitab Yesaya 53:5: ”Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya.” Yesus bersedia terluka secara fisik dan batin bagi kita orang durhaka yang tidak berdaya mencari jalan keselamatan seperti tertulis dalam Roma 5:6: ”Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah”.

Kasih Kristus itu akan dicurahkan ke dalam hati setiap orang yang mau percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Sumber kasih dan pengampunan yang sejati adalah dari Kristus. Jika kita merasa sulit untuk mengampuni diri sendiri atau orang lain, mari kita pastikan bahwa kita telah sungguh-sungguh percaya kepada Yesus dan menerima pengampunan dan kasihNya yang sanggup memulihkan hidup kita. (CA)

Refleksi :
Apakah saya telah sungguh percaya dan mengandalkan Yesus Kristus saja sebagai satu-satunya jalan keselamatan dan pengampunan saya?

PUASA DAN DOA MENYATAKAN KESUNGGUHAN KEPEDULIAN

Senin, 20 Oktober 2014

PUASA DAN DOA MENYATAKAN KESUNGGUHAN KEPEDULIAN

“ Ketika kudengar berita ini … Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit ….” (Nehemia 1:4)

Dalam Refleksi Mingguan Sinode GKI di Bulan Juli 2013, ada tulisan dari Pdt. Rasid R tentang arti kata puasa, yang cuplikannya sebagai berikut. Puasa berasal dari dua kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu: upa dan wasa. Upa, semacam perfiks yang berarti dekat. Wasa berarti Yang Maha Kuasa. Jadi upawasa, atau yang kemudian pengucapannya menjadi puasa, tidak lain daripada cara mendekatkan diri dengan Tuhan. Puasa adalah pelatihan mental dan spiritual yang bertujuan mengubah sikap dan kejiwaan manusia, melatih diri menjadi baru di dalam sikap. Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga mengontrol emosi, kata-kata, tindakan, pikiran, dan perilaku. Bahasa Yunani untuk puasa adalah nestuo, berasal dari dua kata ne dan esteia, artinya tidak makan. Sekalipun tampaknya hanya soal tidak makan, namun Yesus menekankan yang lebih daripada itu. “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik”(Mat 6:16). Artinya, puasa hati atau puasa batin, yakni pembaruan seluruh diri itulah yang ditekankan oleh Yesus. “Bapamu melihat yang tersembunyi” (Mat 6:18). Puasa menjadi sarana yang menyatakan kesungguhan hati di hadapan TUHAN, agar TUHAN membuat hamba-Nya berhasil mencapai tujuannya – Nehemia berhasil mendapat belas kasihan Raja Artahsasta untuk membangun Yerusalem (Neh. 2:6b).

Bagaimana dengan kita, pernahkah kita berpuasa dan berdoa untuk suatu situasi atau kondisi yang perlu secara serius dibangun untuk lebih memantapkan Universitas Kristen Maranatha sebagai jalan berita tentang kebaikan dan perbuatan besar Kristus TUHAN-nya? Berpuasa dan berdoa bagi upaya pengembangan diri semua orang yang ada di dalamnya, terutama sivitas akademiknya, agar nilai-nilai hidup kristiani tampak jelas melalui pikiran, dan perilaku mereka di seluruh segi kegiatan kampus,
sehingga nama Kristus diagungkan oleh masyarakat sekitarnya. (HW)

Refleksi :
TUHAN Yesus menolong kita untuk berpuasa dan berdoa bagi diri kita dan setiap orang yang sedang berjuang memantapkan nilai-nilai hidup kristiani di Universitas Kristen Maranatha.

“PERTANYAAN” MENUNJUKKAN KEPEDULIAN

Sabtu, 18 Oktober 2014

“PERTANYAAN” MENUNJUKKAN KEPEDULIAN

“ …. Aku menanyakan mereka tentang orang-orang Yahudi yang terluput , yang terhindar dari penawanan dan tentang Yerusalem. ” (Nehemia 1:2b)

“Hallo apa kabar?” Pertanyaan tentang kondisi orang yang kita ajak bicara,
menjadi sapaan umum, sering menjadi awalan pembicaraan “basabasi”meski di dalamnya mengandung kepedulian. Nehemia, menerima kunjungan Hanani dan para sahabat yang baru datang dari tanah Yehuda, Yerusalem. Nehemia mengawali pembicaraannya dengan menanyakan tentang keadaan saudara mereka, sisa orang Yahudi yang ada di Yerusalem dan tembok Yerusalem. Dan Hanani menceritakan bahwa keadaan orang-orang itu dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela – dan tembok benteng Yerusalem telah terbongkar dan
pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Pertanyaan Nehemia yang bukan sapaan basa-basi menunjukkan kepeduliannya pada nasib para saudaranya yang tinggal di Yerusalem – Jawaban dari Hanani menerbitkan kesedihannya dan akhirnya ia bertindak untuk membangun Yerusalem.

Banyak pertanyaan masuk ke Universitas Kristen Maranatha (UKM). Pertanyaan dari calon mahasiswa tentang kapan diselenggarakan ujian saringan masuk UKM, pertanyaan tentang berapa biaya yang diperlukan untuk masuk di jurusan yang dipilih, kapan keluar pengumuman ujian saringan masuk, pertanyaan dari orang tua mahasiswa tentang anaknya yang ada di UKM. Ada juga pertanyaan dari para alumni yang rindu pada kampus UKM, tentang kondisi laboratorium dimana mereka praktikum, pertanyaan dari mantan anggota pengurus yayasan, dari mantan pejabat
struktural, mantan dosen dan karyawan yang sudah pensiun dari UKM. Kepedulian terhadap UKM ditunjukkan oleh banyaknya pertanyaan yang di dalamnya berisi keingintahuan dan kerinduan. Kita seharusnya bergembira atas berbagai pertanyaan yang masuk ke kampus kita. Karena melalui aneka pertanyaan yang ditujukan ke UKM, kita bisa membaca besarnya kepedulian penanya pada UKM – kita perlu
mensyukurinya. (HW)

Refleksi :
Moga kita, warga Universitas Kristen Maranatha tidak ada yang mengabaikan pertanyaan yang masuk ke kampus kita.

 

 

 

 

 
Sabtu, 18 Oktober 2014

TANGISAN DAN PERKABUNGAN AWAL WUJUD KEPEDULIAN

“ Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung
selama beberapa hari….” (Nehemia 1: 4)

Nehemia, meski sebagai orang Yahudi yang ditawan oleh Raja Artahsasta, ia memiliki kedudukan yang menunjukkan “kepercayaan Raja”, yaitu sebagai Juru Minuman Raja. Dengan profesi ini, hidupnya dapat dikatakan sejahtera. Namun, kenyamanan dan kesejahteraan hidupnya, tidak membuat Nehemia lupa pada “bangsa dan tanah airnya”. Dia peduli pada bangsanya yang tinggal di Yerusalem mengalami kesukaran besar dan tercela. Berita buruk itu membuat Nehemia sangat terganggu sehingga ia menangis dan berkabung – inilah awal dari kepeduliannya yang menyebabkannya ia bertekad untuk menjalani “hidup sulit” membangun
kembali warga dan tembok Yerusalem.

Bagaimana dengan kita warga Universitas Kristen Maranatha (UKM)? Kenyamanan kerja dan kemapanan, serta kedudukan, jabatan struktural kita, menyebabkan kita tidak lagi bisa peduli terhadap kesukaran besar dan ketercelaan hidup kawan sekerja kita, para pekerja “outsourcing”di dalam kampus UKM, juga tidak peduli lagi ke masyarakat di sekitar kampus UKM. Kita sebagai bagian “hidup”, warga kerja UKM, tidak pernah menangis dan berkabung untuk kesukaran dan penderitaan mereka yang ada di dalam maupun di luar kampus UKM. Mata hati kita telah dibutakan oleh kenyamanan, kesibukan pribadi dan jabatan kita?

Padahal melalui tangisan dan perkabungan kita terhadap kesukaran dan ketercelaan sesama rekan kerja ataupun pekerja di kampus UKM, atau bahkan kesulitan yang dialami para mahasiswa/i, membuat kita memahami makna kerja kita, bahkan makna hidup kita – ini sayang kalau diabaikan! (HW)

Refleksi :
TUHAN Yesus kiranya menolong membuka mata hati kita, sehingga kita masih bisa menangis dan berkabung untuk aneka kesukaran dan penderitaan orang lain.

KERENDAHAN HATI, MEWUJUD DALAM KEPEDULIAN

Jumat, 17 Oktober 2014

KERENDAHAN HATI, MEWUJUD DALAM KEPEDULIAN

“… TUHAN telah menetapkan matahari di langit, tetapi IA memutuskan untuk diam dalam kekelaman. ” (1 Raja-raja 8:12)

Romo Mangunwijaya di masa hidupnya, sangat peduli dengan penderitaan dan kemiskinan masyarakat, khususnya di Jawa Tengah. Tindakan kepeduliannya antara lain tampak dalam upayanya menata kembali rumah kumuh di bantaran kali Code, dan ia tinggal juga disitu. Ia ikut serta dalam perjuangan masyarakat di daerah Kedung Ombo, menentang tindakan penguasa yang sewenang-wenang dalam pembangunan proyek waduk itu. Kepedulian Romo Mangun membawa akibat ia tidak diijinkan memasuki lokasi proyek itu oleh penguasa setempat. Namun, ia tetap berusaha masuk lokasi proyek dengan cara bersembunyi di dalam “bagasi mobil”, yang tentunya agak gelap dan tidak nyaman.

Setelah selesai membangun Bait Allah yang megah, Salomo tidak membanggakannya sebagai rumah yang layak untuk TUHAN-nya. Tetapi, Salomo mengungkapkan hal yang luar biasa tentang TUHAN-nya, yaitu TUHAN-nya yang adalah pencipta matahari sumber terang, justru “memutuskan” untuk diam dalam kekelaman, diam di dalam rumah yang didirikannya – meskipun Rumah itu dapat disebut sangat menggagumkan
tetapi dinyatakannya sebagai “kekelaman”, tetap tidak pantas untuk di diami-Nya. Kepedulian TUHAN, bukan hanya dinyatakan dalam berkat-Nya dari Sorga, tetapi juga menyebabkan IA “memutuskan” lahir ke dunia dalam diri Yesus Kristus, hidup di antara manusia yang berdosa – keputusan ini memperlihatkan karakter kerendahatian-Nya atau “pengosongan” diri-NYA – dan mati ganti kita (Filipi 2:6-8).

Kepedulian tidak bisa hanya dialirkan dari atas (dalam arti kita lebih makmur, lebih berlebih), tetapi kepedulian menuntut kerendah-hatian kita untuk memutuskan tinggal di tengah-tengah mereka yang menderita dan mengalami kesusahan. Inilah hal yang tidak mudah. Kita lebih senang peduli “yang mengambil jarak”, memberi uang, barang saja, kenyamanan, ketenangan kita tidak ingin diganggu – ini tidak sesuai dengan cara TUHAN Yesus memedulikan kita. (HW)

Refleksi :
Mohon kekuatan Roh Kudus sehingga cara kita peduli seturut dengan cara-Nya.

BELAS KASIHAN TUHAN ALLAH, AKAR DARI KEPEDULIAN

Kamis, 16 Oktober 2014

BELAS KASIHAN TUHAN ALLAH, AKAR DARI KEPEDULIAN

“Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya sebelum matahari terbenam, sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya … pakai apakah dia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab AKU ini PENGASIH ” (Keluaran 22:26-27)

Motto dari Pegadaian di Indonesia adalah: “menyelesaikan masalah tanpa
masalah”. Motto yang sangat indah bagi semua orang yang memiliki masalah keuangan, titipkan barang yang dia punyai, pegadaian memberi sejumlah uang tertentu senilai taksiran harga menurut pegadaian. Jika uang dikembalikan, maka barang dikembalikan.

Meskipun umat Israel, adalah umat Allah, ternyata TUHAN mengijinkan “kemiskinan”, kondisi “yatim/piatu dan janda” serta kesulitan hidup hadir dalam kehidupan beberapa orang. Dalam mengatasi kesulitan, mereka sering menggadaikan barangnya. Jadi, ternyata tiga ribu lima ratus tahun yang lalu, sudah ada model pinjam gadai antar pribadi. Ini dapat dibaca dari Sabda TUHAN diatas – TUHAN memberi aturan terhadap pinjam gadai yang barang gadainya “jubah tidur” (satusatunya jubah yang dimiliki orang miskin itu) – jubah itu harus dikembalikan sebelum matahari terbenam (meskipun si peminjam belum bisa mengembalikan apa yang dipinjamnya). Landasan aturan TUHAN Allah itu adalah AKU iniPENGASIH – Bukan kemampuan si peminjam mengembalikan pinjamannya, atau kemauan si kaya untuk membebaskan utang si peminjam. Istilah “pengasih” berpadanan dengan istilah dalam bahasa inggris “gracious”

Wujud kepedulian kita harus dilandaskan pada karakter TUHAN yang pengasih, penuh belas kasih – suatu aliran kasih yang dilandaskan pada kehendak-Nya, dilandaskan pada “grace”, kasih karunia-Nya, bukan dilandaskan pada kelayakan diri kita. Kemampuan peduli kita muncul dari dalam diri yang sudah dialiri oleh kepedulian-Nya yang berbentuk belaskasihan-Nya. Landasan peduli yang demikian menghadirkan aliran kepedulian yang terus mengalir, tidak membuat kita lelah. (HW)

Refleksi :
Jangan lupakan landasan yang benar kepedulian kita: TUHAN Allah yang PENGASIH.

“PERHATIAN” AWAL DARI KEPEDULIAN

Rabu, 15 Oktober 2014

“PERHATIAN” AWAL DARI KEPEDULIAN
“Apabila engkau melihat rebah keledai musuhmu karena berat bebannya, maka janganlah engkau enggan menolongnya. Haruslah engkau rela menolong dia dengan membongkar muatan keledainya ” (Keluaran 23:5)

Kita bekerja di suatu komunitas yang berisi sangat banyak orang. Paling tidak setiap hari di saat perkuliahan padat, pasti minimal ada ratusan orang. Pernahkah kita memperhatikan lingkungan sekitar kita dengan penuh perhatian? Di lingkungan kerja – belajar kita, pasti tidak ada “keledai yang rebah, karena berat bebannya”. Satu ayat Sabda TUHAN diatas, memperingatkan kita untuk mengambil perhatian terhadap permasalahan orang lain. Keledai yang rebah kelelahan yang dilihatnya, tidak berhenti pada keledai itu. Perhatian bukan hanya kepada teman, orang yang kita sukai, tetapi juga terhadap “musuh”, perhatian terhadap permasalahan “musuh” kita. Sabda TUHAN itu menjadi lebih jelas tatkala dikaitkan dengan Sabda TUHAN Yesus “kasihilah musuhmu”(Matius 5:44).

Wujud kepedulian diawali dengan perhatian, melalui perhatian terhadap keadaan keledai yang jatuh kelelahan karena beratnya beban. Kepedulian berawal dari mata yang terarah pada realitas sekitarnya, lalu menaruh apa yang kita lihat yang di hati kita – inilah per-“hati”-an.

Di jaman ini, kita sudah disibukkan oleh kerja, juga disibukkan oleh aneka pesan dan panggilan dari handphone dan gadget lainnya. Tidak ada lagi perhatian yang sungguh terhadap lingkungan sekitar kita. Semua sudah disibukkan oleh aneka urusan diri sendiri, kebutuhannya sendiri, rumah tangganya sendiri. Karenanya kita malas menolong orang lain, “membongkar muatan keledai orang lain/musuh” itu menyita tenaga dan bahkan mungkin menghabiskan waktu kita. Menolong tidak dengan kerelaan, asal-asalan.

Jadi bagaimana? Sabda TUHAN diatas tetap harus ditaati. Mari membuka mata terhadap sekitar kita, kita harus tetap sediakan tenaga, waktu yang kita miliki untuk menolong orang lain/musuh – Firman TUHAN tersebut dinyatakan kepada orang Israel di perjalanan keluar dari Mesir yang penuh kesulitan, bukan di masa tenang. (HW)

Refleksi :
Apapun kesibukan kita, tetaplah sediakan diri untuk memerhatikan lingkungan kita – karena TUHAN Yesus terus menerus memedulikan kita.

KELEMAHLEMBUTAN

Selasa, 14 Oktober 2014

KELEMAHLEMBUTAN (Galatia 5:16-26)
“…kelemahlembutan, penguasaan diri.Tidak ada hukumyang
menentang hal-hal itu.” (Galatia 5:23)

Suatu ketika dalam perjalanan menuju arah kota Sumedang, tiba-tiba saya harus mengurangi kecepatan kendaraan dan harus sabar mengantri sampai akhirnya saya tahu biang kemacetan tersebut adalah atraksi kuda renggong yang diarakarak warga. Kuda renggong tersebut menari-nari mengikuti irama tetabuhan, dan tampak seorang anak menunggang kuda tersebut dengan nyaman sambil dipandu pawang kuda tersebut. Bila kita membayangkan sosok seekor kuda yang hidup di alam bebas, kuda liar yang kuat dan tangguh itu ditangan pelatih menjadi kuda yang dapat dikendalikan dan menuruti instruksi pelatihnya.

Bagaikan kuda liar yang sudah jinak inilah yang digunakan untuk kata prautes (Yunani), kata kelemahlembutan dalam Galatia 5:23 ini. Kelemahlembutan merupakan salah satu karakter Kristen lainnya yang dinasihatkan Paulus kepada jemaat di Galatia, sebagai seorang yang telah diperbaharui di dalam Kristus. Kelemahlembutan dalam surat kepada Jemaat Galatia ini tidak diartikan sebagai suatu sikap yang lemah, tidak berani atau berarti menunjukan kelemahan lainnya, akan tetapi justru kekuasaan atau kekuatan di bawah kendali Allah sendiri. Karena kehidupannya dikuasai oleh Allah, maka orang yang memiliki kelemahlembutan ini sanggup juga untuk marah, namun hanya pada saat yang tepat dan tidak pernah marah pada saat yang tidak tepat. Mana kala orang tersebut diperlakukan dengan tidak adil, orang yang lembah lembut ini tidak lantas reaktif dan melakukan aksi balas. Justru meletakan semuanya itu dihadapan Allah dan tidak melakukan aksi membalas atas bentuk ketidakadilan itu, karena seperti Rasul Paulus katakan, “Pembalasan itu adalah hak-KU, Akulah yang akan menuntut pembalasan.”

Dengan demikian kelemahlembutan itu memberi diri kita untuk dikendalikan
sepenuhnya oleh Allah sendiri. Orang yang dikuasai oleh Allah, sanggup
menghadirkan kepedulian Allah kepada sesamanya manusia. Membawa damai, suka cita namun sanggup juga menegur dengan penuh kasih kepada sesama. Sanggup tidak menuntut balas atas bentuk-bentuk ketidakadilan yang dilakukan orang lain kepada dirinya. (ITW)

Refleksi :
Maukah kita dikuasai sepenuhnya oleh Allah?

KERENDAHAN HATI

Senin, 13 Oktober 2014

KERENDAHAN HATI (I Petrus 5:1-11)
“Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak,
tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (I Petrus 5: 5)

Dalam sebuah buku yang berjudul The Power of Full Engagement, dikisahkan seorang Manajer sebuah perusahaan yang memiliki konsep mengenai sebuah kesempurnaan dalam bekerja dan memimpin perusahaan. Ia menemui kesulitan-kesulitan dalam menjalankan kegiatannya. Konsepnya mengenai kesempurnaan itu membawanya pada tekanan dan pertentangan dengan kolega maupun bawahannya. Konsepnya ini telah membawa dirinya kepada suatu bentuk tirani yang angkuh dan menimbulkan konsekuensi energi yang merusak (dirinya dan orang lain juga).

Tidak demikian konsep kepemimpinan kristen yang diungkapkan dalam I Petrus 5:1-11 ini, justru Petrus menasihatkan kepada para pemimpin gereja mula-mula untuk dengan setia menjadi gembala bagi jemaatnya dan memberikan keteladanan yang baik, serta tidak mengambil keuntungan di dalam pelayanannya. Sikap yang penting dalam bagian nasihat Rasul Petrus kepada para pemimpin gereja mula-mula adalah kerendahan hati. Pada dasarnya kerendahan hati harus merupakan ciri semua orang percaya. Kerendahan hati sadar akan kelemahan diri, dan sikap mengakui peranan Allah dan orang lain atas segala keberhasilan yang telah dan sedang dicapai. Egkombousthai(Yunani) berarti kain atau celemek yang biasa dipakai para hamba, digunakan untuk merujuk kerendahan hati yang dimaksud. Kerendahan hati yang telah dicontohkan Yesus dengan menggunakan celemek membasuh kaki para muridnya yang Petrus maksudkan harus dimiliki para pemimpin.

Dengan sikap kerendahan hati yang sadar akan kelemahan diri, serta mengakui peran Allah dan orang lain dalam berbagai keberhasilannya, mengajak orang lain untuk selalu ikut serta dalam perjalanan pekerjaannya (apapun jabatannya). Kesalahan bukanlah kiamat, namun pengakuan diri akan segala kelemahan diri justru mendorong orang lain untuk tetap bersamanya serta lebih peduli dan menguatkan dirinya. (ITW)

Refleksi :
Kerendahan hati kunci mengajak teman-teman untuk peduli pada persoalan
kehidupan kita.

KEKUDUSAN ITU BERNAMA KEMURAHAN

Sabtu, 11 Oktober 2014

KEKUDUSAN ITU BERNAMA KEMURAHAN (Imamat 19:1-19)

“Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.” (Imamat 19:2)

Kudus berasal dari bahasa qadosydalam bahasa ibrani atau sacre dalam bahasa latin yang berarti terpisah secara khusus. Dengan demikian kudus secara harafiah diartikan sebagai dipisahkan atau dibedakan untuk maksud tertentu. Sedang dalam bahasa Inggris didefinisikan sebagai ”cut above” yang berarti di atas rata-rata. Tuhan menginginkan kita untuk hidup di atas rata-rata tersebut, tidak hidup biasa-biasa saja.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita dapat hidup kudus? Seperti dalam nats di atas “Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus”. Kecenderungan kita mengartikan kudus itu sebagai sebuah kesalehan pribadi atau dalam perjanjian lama, berkaitan dengan kebersihan ritual, korban yang benar, makanan yang halal haram dan segala hal lainnya. Namun nats pembacaan Alkitab saat ini, justru masalah kekudusan itu dalam Imamat 19 ini berkaitan dengan kemurahan hati kepada orang
miskin pada musim panen (ay 9), keadilan bagi para buruh (ay 13), kejujuran dalam proses peradilan (ay 15), sikap membantu orang lain, dan persoalan sosial lainnya. Masalah kekudusan berkaitan dengan hakikat Allah itu sendiri. Perintah dalam Imamat 19:2 ini sangat menggetarkan, kualitas kehidupan kita harus mencerminkan inti dari hakikat Allah itu sendiri.

Demikianlah kekudusan itu tidak (hanya) dinampakkan dalam aktivitas kesalehan hidup Kristen, seperti setia membaca Alkitab, berdoa puasa dan berbagai kegiatan ibadah lainnya. Justru yang Tuhan inginkan dari kita adalah mewujudkan kekudusan Allah itu melalui bentuk kemurahan hati. Yesus berpesan (dalam Matius 5:40-48), berilah pada orang yang meminta, jangan menolak orang yang mau meminjam, serta kasihilah musuhmu (tidak hanya kasihilah temanmu). Bahkan dalam bagian Matius 5:48 Yesus berpesan agar kita harus sempurna, sama seperti Bapa di sorga adalah sempurna. Pesan ini seolah menegaskan pesan Imamat 19:2 di atas, bahwa kekudusan hidup pada hakekatnya tidak dinampakan dalam aktivitas ritual semata, namun justru kekudusan yang berdampak bagi orang lainlah, yang Tuhan inginkan melalui sikap kemurahan hati. (ITW)

Refleksi :
Kemurahan hati adalah wujud kekudusan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 12 Oktober 2014

BERAWAL DARI BELAS KASIHAN (Matius 18:21-35)

“Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.” (Matius 18:27)

Dalam sebuah situs pemberitaan Waspada online baru-baru ini memasang
head line “Menanti Belas Kasihan Negara”.  Head line ini terkait dengan
terancamnya hukuman pancung seorang TKI, karena TKI tersebut dituduh
telah membunuh. Uang tebusan atau uang darah tersebut diminta oleh ahli waris sebesar Rp. 21 miliar. Dalam kaitan ini beberapa LSM aktivis pembela hak-hak buruh mengetuk suara hati pemerintah untuk berbelas kasihan pada masalah seorang TKI ini dan membebaskannya. Belas kasih dan kepedulian Pemerintah masih menjadi harapan bagi keluarga dan semua warga bangsa Indonesia.

Dalam konteks pembacaan Alkitab hari ini, Yesus mengajarkan melalui perumpamaan bagaimana pengampunan itu terjadi dengan diawali rasa belas kasihan raja kepada hamba yang berhutang yang tidak mungkin terbayar oleh hamba tersebut (10 ribu talenta). Bayangkan bila 1 talenta adalah 10.000 dinar, sedang 1 dinar merupakan upah buruh per hari, bila kita asumsikan 1 dinar = Rp. 50.000,– maka 1 talenta sebesar Rp. 500 juta rupiah. Jumlah yang sangat luar biasa besar Rp. 500 juta x 10.000 talenta, suatu jumlah yang tidak mungkin terbayarkan. Namun sekali lagi dari belas kasihan yang ditunjukan raja, hamba tersebut dibebaskan dari hutang
yang tidak mungkin terbayar tersebut.

Berawal dari belas kasihan TUHAN kepada kita, maka kita diampuni dari dosa-dosa yang tidak mungkin kita sendiri dapat melepaskan diri dari jeratan dosa tersebut. Maka sebagai umat yang telah dikaruniai pengampunan dan dilepaskan dari jeratan dosa, kita pun harus sanggup mengampuni saudara kita yang telah bersalah kepada kita. Belas kasihan yang berlanjut pada pemulihan hubungan dan kepedulian kepada orang yang telah melakukan kesalahan kepada kita, seperti yang Tuhan Yesus sendiri contohkan kepada Petrus yang telah menyangkal diri-Nya (Yohanes
21:15-19). Demikianlah kita pun memiliki belas kasihan yang sama dengan Kristus, yang sanggup peduli dan memulihkan hubungan dengan saudara kita.(ITW)

Refleksi :
Belas Kasihan yang berasal dari Kristus memberi kesanggupan kita untuk peduli dan sanggup memulihkan hubungan!

MENCARI DAN MENYELAMATKAN

Jumat, 10 Oktober 2014

MENCARI DAN MENYELAMATKAN
“Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” (Lukas 19:5)

Yesus masih terus-menerus berusaha untuk menyelamatkan yang hilang
hanya beberapa hari sebelum penyaliban-Nya; inilah tujuan kedatangan-Nya. Zakheus, seorang pemungut cukai, mencari nafkah dengan mengumpulkan pajak lebih banyak daripada yang seharusnya ia peroleh dari rakyat. Oleh karena itu, para pemungut cukai dipandang rendah oleh masyarakat. Perhatian Yesus terhadap Zakheus memperingatkan kita untuk membawa Injil kepada orang yang ditolak
masyarakat, karena semua orang sedang terhilang dan memerlukan keselamatan. Pertanyaannya adalah apa yang kita cari selama ini sepajang kita hidup sampai saat ini? Apakah kita mencari orang-orang yang terhilang, yang mungkin tidak dapat hitungan di dalam hati manusia, tetapi Tuhan Yesus mengasihi mereka. Berapa orang yang sudah kita cari dan temukan yang terhilang dan membawanya kepada Kristus?

Lukas disini mulai menceritakan hari-hari terakhir kehidupan Yesus. Seluruh bagian ini harus dipandang dari sudut kematian Kristus, sekalipun tidak seluruh isinya terkait langsung dengan peristiwa tersebut. “Yesus … melihat ke atas”. Orang biasa mungkin tidak akan melihat ke atas bila di sekitarnya ada banyak hal yang menarik atau yang mengganggu. Yesus sudah mengetahui kehadiran Zakheus, dan tertarik kepadanya. Segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu. Yesuslah yang berinisiatif memanggil orang berdosa untuk menyadari keberdosaannya dan bertobat. Inilah yang terjadi pada diri Zakheus. Respons Zakheus, dapat dipastikan bahwa Roh Kudus sudah bekerja lebih dahulu pada diri Zakheus. Itu sebabnya, ketika Yesus memanggil Zakheus dan menyatakan keharusan dan keinginan-Nya menumpang di rumahnya, Zakheus segera menerima dengan sukacita. Melalui responsnya terhadap tawaran Yesus, dapat dikatakan bahwa Zakheus sedang mengalami pertobatan sejati.

Mari kita ingat dan renungkan, mungkin masih banyak Zakheus yang ada di sekitar kita (UK. Maranatha?). Sudahkah kita mencari, menemukan serta menceritakan tentang Tuhan Yesus kepada mereka. Tahun ini akan segera berakhir, sudah berapa banyak orang yang Anda ceritakan tentang Tuhan Yesus, sehingga mereka mengalami pertobatan yang sejati. (cs)

Refleksi:
Carilah dan temukan serta ceritakan tentang Tuhan Yesus supaya mereka selamat.