BERSYUKUR ATAS KESATUAN=MERAYAKAN HIDUP PENUH DAMAI

Jumat, 28 November 2014

BERSYUKUR ATAS KESATUAN = MERAYAKAN HIDUP PENUH DAMAI

“ Ketika mereka, yang bersama-sama dengan Yesus, melihat apa yang terjadi, berkatalah mereka:” Tuhan, mestikah kami menyerang mereka dengan pedang?” Dan seorang dari mereka menyerang hamba imam besar sehingga putus telinga kanannya. Tetapi Yesus berkata:”sudahlah itu”. Lalu Ia menjamah telinga orang itu dan menyembuhkannya”.
(Lukas 22:49-51)

Sejak dulu sampai hari ini kelaziman yang seringkali dipraktekkan dalam
masyarakat adalah prinsip mata ganti mata, gigi ganti gigi. Seseorang akan
lebih suka dan lebih puas ketika kejahatan dibalas dengan kejahatan, kekerasan dibalas juga dengan kekerasan. Gengsi untuk membalas sulit untuk diturunkan dari tahta egoisme kita sehingga yang menguasai manusia adalah amarah dan hawa nafsu. Sejarah telah banyak mencatat betapa berdarah-darahnya dunia ini oleh darah segar umat manusia yang tertumpah akibat konflik dan kekerasan yang terjadi antar manusia. dalam situasi yang seperti ini manusia tidak lagi memposisikan dirinya sebagai sesama bagi yang lainnya, justru menjadi srigala atas sesamanya.

Dalam bacaan Alkitab kita hari ini disaksikan ketika Tuhan Yesus selesai berdoa di Taman Getsemani dan sedang berbicara dengan murid-muridNya, maka datang serombongan orang bersama dengan Yudas dengan membawa pedang dan pentungan untuk menangkap Yesus. Ciuman Yudas terhadap Yesus adalah ciuman pengkhianatan yang kemudian diikuti gerakan serombongan orang itu menangkap Yesus. Pedang dan pentungan tentulah kita tahu alat yang bisa digunakan untuk tindak kekekerasan yang bisa melukai bahkan membahayakan Yesus. Untuk melindungi gurunya, seorang dari murid Yesus merespon situasi seperti itu dengan menyerang hamba iman besar sehingga putus telinga kanannya. Di sini kita belajar dari Yesus menyikapi situasi yang terjadi. Ia tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, tapi ia merespon kekerasan dengan cinta kasih dan damai. Ia menjamah telinga orang itu dan menyembuhkannya.

Dunia tempat kita hidup sekarang ini dipenuhi dengan kekerasan, hampir setiap hari kita mendengar berita tentang kekerasan antar umat manusia yang amat mengerikan. Mari kita belajar dari Tuhan Yesus yang meneladankan kita untuk merayakan hidup yang penuh damai. (AE)

Refleksi:
Dunia saat ini membutuhkan cinta dan kasih, tiada yang lain.

BERSYUKUR ATAS KESATUAN=MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

Kamis, 27 November 2014

BERSYUKUR ATAS KESATUAN = MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA
Jawab Yesus kepadanya:” kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua yang sama dengan itu, ialah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37-39)

Manusia adalah mahkluk sosial. Sebagai mahkluk sosial ia tidak bisa hidup
seorang sendiri tetapi hidupnya saling bergantung dan saling membutuhkan
yang seorang terhadap yang lain. Dokter butuh pasien dan pasien butuh
dokter. Guru butuh murid dan murid butuh seorang guru. Pedagang butuh pembeli dan pembeli butuh pedagang. Dalam menjalankan dan mengisi kehidupan ini kita saling membutuhkan dan saling bergantung satu dengan yang lainnya. Diperlukan suatu kesatuan dan keterikatan diantara sesama manusia. Hanya sayangnya, kesadaran tentang hidup manusia yang saling bergantung dan saling membutuhkan ini sering dikalahkan oleh sikap egoisme manusia dan sikap pementingan diri-sendiri.

Ketika ada seseorang Ahli Thorat bertanya kepada Yesus tentang hukum yang terutama, maka dengan gamblang Yesus menjawab bahwa hukum yang terutama dalam hukum Thorat adalah hukum kasih. Yesus menegaskan bahwa hal mengasihi Allah dan mengasihi sesama adalah pusat dari hukum Tuhan. Oleh karena itu mengasihi Allah harus diwujudkan dalam kasih kepada sesama, dan kasih kepada sesama merupakan wujud kasih kepada Allah. Tidak mungkin ada seseorang yang berkata mengasihi Allah tetapi ia membenci sesamanya, maka orang yang seperti itu belum serius dalam mengasihi Allah. Mengasihi Allah dan mengasihi sesama adalah dua hal yang melengkapi dan keduanya tidak dapat dipisahkan. Melakukan hukum mengasihi Allah berarti juga sekaligus melakukan hukum mengasihi sesama, tidak boleh terpisah dan tidak boleh terlepaskan. Keduanya saling berkaitan. Hal berikut yang harus diperhatikan untuk dilakukan adalah kita harus melakukannya dengan segenap hati, jiwa dan akal-budi. Artinya kita harus melakukannya hukum kasih kepada Allah dan sesama dengan seluruh eksistensi kita.

Persoalannya, dalam menjalani hidup ini kita sering menjalaninya dengan sikap egoisme dan mementingkan diri sendiri. Melalui Firman Tuhan hari ini kita diingatkan tentang hukum kasih kepada Tuhan dan sesama dan sebagai warga kampus kita diajak untuk mengisi hidup ini dengan mempraktekkan ajaran kasih Kristus. (AE)

Refleksi:
Ibadah sejati adalah ibadah yang mengasihi sesama.

PEMIMPIN YANG KOMUNIKATIF

Rabu, 26 November 2014

PEMIMPIN YANG KOMUNIKATIF
“ Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasehat banyak, keselamatan ada” (Amsal 11:14)

Dalam makalahnya Jewangoe mengungkapkan bahwa kepemimpinan Kristen tidak dapat dijalankan secara otoriter, bersikap sebagai tuan dan mau menang sendiri, sebagaimana Yesus berkata, “Siapa yang mau besar, mesti kecil. Siapa yang mau menjadi tuan, mesti menjadi hamba.” Jewangoe berpandangan bahwa siapapun yang mengabdi kepada kebaikan umat Tuhan dan seluruh anak bangsa, pantas dianggap sebagai pemimpin Kristen. Kepemimpinan Kristen tidak bisa hanya dikaitkan pada kaum teolog saja. Lebih lanjut, kaum teolog harus memperluas wawasan kemasyarakatannya dan para pemimpin awam juga harus memperluas wawasan teologisnya. “Singkatnya, Bangsa Indonesia memerlukan pemimpin yang dilengkapi baik secara teologis maupun kemasyarakatan, memiliki pemahaman mendalam tentang berelasi, mampu mereinterpretasikan “Kabar Baik” kepada segala makhluk.

Pentingnya sebuah pimpinan, sebuah bimbingan, atau sebuah tuntunan. Jelas, tanpa pimpinan, kita hancur. Tanpa bimbingan, kita akan kocar-kacir. Tanpa tuntunan dan petunjuk, kita akan tersesat. Saat ini diperlukan figur pemimpin yang komunikatif, berintegritas, dan mampu bertindak sebagai problem solver, bukannya menjadi part of the problem. Sebuah pimpinan jelas datang dari pemimpin, orang yang memimpin, atau dengan kata lain orang yang memberi bimbingan dan petunjuk. Jika seorang pemimpin adalah seorang yang bebal, maka bimbingan yang kita dapat pun juga bebal. Dan jelas, itu bukanlah bimbingan yang benar. Jika pemimpin kita adalah orang
yang tidak kasih, maka jelas bimbingan yang keluar dari mulutnya pun juga tidak akan dilandasi oleh kasih. Lantas, siapakah pemimpin yang memberikan bimbingan yang benar, bimbingan yang penuh dengan kasih, yang jelas akan membawa kita pada jalur yang benar? Ya, Dialah Allah. Allahlah pemimpin yang sejati, yang penuh kasih. Tuntunan dan bimbingan-Nya membawa kita kepada ketenteraman ( Amsal 11:14 ). (AE)

Refleksi:
Marilah kita belajar dan meneladani Dia yang sudah memimpin dan membimbing kita dengan penuh kasih. Marilah kita belajar memimpin diri sendiri dan orang lain sebagai pemimpin yang komunikatif, berintegritas.

MENJALIN PERSAHABATAN

Selasa, 25 November 2014

MENJALIN PERSAHABATAN
“ Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran ” (Amsal 17:17)

Kita tidak dapat menambah waktu. Hanya tersedia 24 jam dalam sehari, atau 7 hari dalam seminggu. Seberapa pun kita berusaha, tidak dapat menambah hari ke 8 dalam setiap minggunya atau menambah 1 jam dalam 1 hari menjadi 25 jam. Jadi, masalahnya bukan bagaimana menambah waktu, tapi bagaimana menggunakan waktu tersedia secara bertanggungjawab. Bagaimana menggunakan 1,440 menit dalam sehari menentukan kualitas hidup.

Mari kita berhenti sejenak, dan merenungkan apa yang telah dilakukan sepanjang hari ini. Berapa banyak waktu yang digunakan untuk tidur, bekerja, dan olahraga ? Berapa banyak pula waktu yang kita gunakan untuk belajar, pelayanan ? Masih banyakkah waktu luang atau waktu kita untuk bersantai ? Pertanyaan berikut, adakah waktu yang disediakan untuk menjalin persahabatan ? Seorang penulis terkenal, Les Parrot III pernah menyatakan bahwa menyediakan waktu untuk menjalin persahabatan akan sangat bermanfaat. Ia mengatakan : ”mengabaikan persahabatan tidak hanya
menurunkan kualitas hidup Anda, tetapi juga menimbulkan gangguan kesehatan.” Amsal Salomo pun mendukung pernyataan tersebut, seorang sahabat dapat menjadi saudara, bahkan kasihnya melebihi seorang saudara. Ada banyak hal yang dapat diceritakan, bagaimana seorang sahabat bersedia melakukan apa saja untuk sahabatnya. Yesus menyebut dirinya sebagai sahabat. ”Aku tidak menyebut kamu lagi hamba … tetapi Aku menyebut kamu sahabat” (Yoh. 15:15). Dan ia rela mati untuk menebus dosa sahabat-sahabat-Nya.

Pasti ada waktu yang dapat dimanfaatkan di kampus ini untuk menjalin persahabatan dengan seorang teman atau dengan beberapa teman. Temukan dan dapatkan betapa indahnya persahabatan yang terjalin. (IH)

Refleksi :
Tak ada orang Kristen tinggal sendirian di pulau. Ada banyak orang yang akan
mengulurkan tangan untuk mulai menjalin persahabatan.

SALING MEMPERHATIKAN

Senin, 24 November 2014

SALING MEMPERHATIKAN
“ Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” (Ibrani 10:24)

Dalm suatu acara talk-show, dilakukan wawancara kepada beberapa mantan tawanan perang Amerika. Kepada mereka, ditanyakan metode efektif apakah yang pernah dilakukan musuh yang membuat mereka patah semangat. Penyiksaan secara fisik, perampasan harta benda bahkan ancaman dibunuh tidak membuat mereka terlalu patah semangat dibandingkan mereka disendirikan. Kesepian, dipisahkan sendirian dalam satu sel, disatukan dengan orang yang tidak dikenal atau sering dipindah-pindah justru membuat mereka cepat patah semangat. Lebih lanjut, dari pertanyaan yang diajukan, mantan tawanan perang itu mendapat kekuatan terbesar dari teman-temannya dalam satu unit sel yang kecil.

Pengalaman ini memberikan suatu wawasan kepada kita, mengapa orang Kristen perlu menjalin persekutuan dengan sesama orang Kristen untuk tetap setia kepada Tuhan. Persekutuan pribadi dengan Allah tetap penting, tetapi tidak cukup. Pendewasaan keimanan akan bertumbuh dalam persekutuan orang beriman. Dalam persekutuan kita dikuatkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Allah kehendaki.
Apa yang dapat kita lakukan dalam menumbuhkan kedewasaan rohani kita ? Ibrani 10:25 menyatakan : ”Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan –pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”

Terkadang kita merasa nyaman bersaat teduh secara pribadi, tetapi lewat pertemuanpertemuan ibadah yang dilaksanakan di kampus Universitas Kristen Maranatha Anda akan merasakan kekuatan dan hikmat dari Allah akan semakin mendewasakan kerohanian Anda tetapi juga mendewasakan kerohanian teman-teman Anda. (IH)

Refleksi :
Bersekutu bersama saudara seiman : menguatkan di saat kita lemah, menghibur di saat kita berduka dan menolong kita mencari kehendak Allah.

KESUNGGUHAN UNTUK DIPERSATUKAN

Jumat, 21 November 2014

KESUNGGUHAN UNTUK DIPERSATUKAN (Filipi 2:1-11)
yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan” (Filipi 2:6)

Ide ’pisah harta’ bagi pasangan suami – isteri dapat dikatakan ide cerdas menghadapi kemungkinan buruk di kemudian hari yang tidak terduga. Celakanya, ide ini juga menjadi dasar pemisahan diri gereja-gereja. Hal ini semakin menunjukkan kesungguhan –sebagai pasutri atau Gereja sebagai Tubuh Kristus- masih bersikap subyektif. Ketika sepasang kekasih berikrar sebagai suami isteri, masing-masing berikrar akan berbuat dan memberi banyak, kecuali diri sendiri apabila mereka juga membuat perjanjian ’pisah harta’. Demikian juga, ketika gereja memilih keluar dari Sinode dan membentuk Sinode yang baru ketika mereka dituntut lebih banyak,
padahal menurut mereka, sementara ini sudah terlalu banyak yang diberikan.

Mengobyektifkan kesungguhan subyektif berarti memberikan diri, memberikan keberadaan kita. Bukan sekedar memberikan perkataan, janji, ikrar, tenaga bahkan uang kita untuk suatu pernyataan kesatuan. Seperti Gereja yang bersedia mengikatkan diri dalam suatu Pengakuan Iman dan Tata Gereja, demikian hendaknya pasangan suami isteri bersedia mengikatkan diri dalam suatu perjanjian ’harta bersama’ sehingga kehidupan bersama ini menjadi available (tersedia) dan accountable (dapat dipertanggungjawabkan). Memang obyektivitas kesungguhan ini rawan menjadi subyektivitas. Pasangan mungkin perlu strategi jitu untuk mengamankan diri dari beban tanggungjawab yang dipikul pasangannya.

Tidak demikian dengan Tuhan Yesus, ia bersedia memikul tanggungjawab yang sebenarnya bukanlah beban tanggungjawabnya, tapi jalan itu ditempuh-Nya agar manusia dapat terpulihkan hubungannya dengan Allah, Penciptanya.

Jadi, bagaimana wujud nyata obyektivas kesungguhan dalam kehidupan seharihari ? Belajar dari Kristus, hanya ada satu cara : tidak menganggap ’kehormatan’ yang kita miliki sesuatu yang patut kita pertahankan. Dalam kehidupan seharihari, sikap rendah hati dan berbelas kasih menjadi tindakan keseharian kita dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab masing-masing. (IH)

Refleksi :
Supaya mereka semua menjadi satu…supaya dunia percaya.

TAKUT AKAN TUHAN

Kamis, 20 Nopember 2014

TAKUT AKAN TUHAN
Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.” (Pengkhotbah 12:13)

Sebuah tulisan “Hidup bukan karena hari tetapi hidup karena arti” merupakan gambaran betapa berharganya makna kehidupan ini. Tidak sedikit orang yang tidak tahu mengapa dan untuk apa ia hidup di dunia ini. Sebagai ciptaan sudah sepatutnya bertanya kepada Sang Khalik apa tujuan hidupku di dunia ini? Setiap orang seharusnya sadar bahwa ia bertanggung jawab di hadapan Tuhan.

Dalam kitab pengkhotbah, Salomo mulai dengan penilaian yang sinis tentang hidup sebagai sia-sia dan berakhir dengan nasihat serius tentang makna hidup. Pernyataan takut akan Tuhan dan memegang perintah-Nya merupakan sebuah kesatuan. Ini berarti senantiasa mengutamakan Tuhan dan melakukan hal-hal yang berkenan kepada-Nya adalah suatu keharusan bagi setiap pengikut Kristus. Takut akan Tuhan dan memelihara perintah-Nya merupakan penyataan hidup dengan Tuhan dan untuk Tuhan. Di dalam kesementaraan dan ketidaksempurnaan hidup, Solomo menyimpulkan bahwa hidup dengan dan untuk Tuhan merupakan satu-satunya cara dan alasan untuk hidup. Hidup kita di dunia ini akan bermakna bila kita menjalaninya dalam takut akan Allah. Allah akan menghakimi setiap perbuatan kita seturut keadilan dan kebenaran-Nya. Apakah gunanya kepuasan selama hidup yang singkat di dunia ini bila kelak kita menerima penghukuman kekal? Keinginan memaanfaatkan hidup dengan berdampak bagi kekalan menjadi gol dan gaya hidup bagi setiap anak-anak Tuhan. Karena itu, marilah kita menjalani hidup dengan senantiasa berfokus pada kekekalan.

Sebagai warga UKM, mari kita memprioritaskan hal-hal yang dapat menghasilkan sesuatu yang dapat menjadikan hidup kita hanya dan untuk Allah sehingga menghasilkan damai sejahtera hidup sekarang sampai Maranatha. (RAP)

Refleksi: 
Investasikan hidup yang singkat dengan takut akan Allah untuk kekekalan.

PERANAN ANGGOTA TUBUH

Rabu, 19 November 2014

PERANAN ANGGOTA TUBUH
“Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih”. (Efesus 4:16)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “peranan adalah bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan”. Tubuh memiliki berbagai anggota dan setiap anggota tubuh memiliki peran dan tugas yang berbeda-beda. Jika setiap anggota tubuh melakukan tugas yang sama maka peranan setiap tubuh tidak berfungsi dengan baik. Jadi sangatlah penting setiap anggota tubuh untuk menjalankan peranannya masing-masing.

Firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa setiap anggota memiliki kadar pekerjaan masing-masing. Setiap bagian dari tubuh Kristus, yaitu anggota jemaat Allah, mempunyai tugasnya masing-masing. Tubuh Kristus terbentuk oleh pelayanan semua bagian dari tubuh tersebut, bukan hanya pelayanan dari pendeta, penatua, diaken dan pengajar, tetapi semua orang yang menyebut dirinya jemaat Allah. Bagian dari tubuh Kristus mempunyai fungsinya sendiri-sendiri. Mereka adalah pelayan-pelayan Tuhan, mereka adalah pemain di dalam gereja Tuhan, bukan penonton. Banyak orang Kristen tidak menyadari hal ini, sehingga setiap bagian dari tubuh Kristus ini tidak berfungsi, dan kita menyebut diri kita hanya jemaat biasa atau hanya anggota
gereja, bukan pelayan Tuhan.

Mari kita muliakan Tuhan Allah melalui peran dan fungsi kita masing-masing sebagai satu kesatuan yang utuh sebagai Anggota Tubuh Kristus. Tidak ada kata-kata tidak mampu atau tidak dapat melakukannya sebelum dicoba. Sebab siapa yang tidak melaksanakan dan tidak mengerjakan fungsinya sebagai Tubuh Kristus maka sia sialah Kasih Allah dalam hidup kita. (RAP)

Refleksi:

Sudahkah peranan kita dilaksanakan?

SATU TUBUH, SATU ROH, SATU PANGGILAN

Selasa, 18 Nopember 2014

SATU TUBUH, SATU ROH, SATU PANGGILAN
“Ada satu tubuh dan satu Roh – seperti yang Anda dipanggil ke satu harapan yang dimiliki panggilan Anda.” (Efesus 4:4)

Slogan “Indonesia satu” sering dinyanyikan pada waktu kampanye pemilu caleg & presiden NKRI. Lagu “Indonesia satu” menyatakan bahwa keberadaan bangsa Indonesia yang majemuk dengan berbagai macam suku, agama, ras/etnis dan budaya tetapi menjadi satu kerinduan bersama dalam memajukan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Dalam nas hari ini orang-orang yang dipanggil dalam Kristus menjadi satu tubuh. Tubuh yang terdiri dari orang-orang yang Yahudi dan non Yahudi, disatukan untuk membentuk satu keluarga / gereja dan dikepalai oleh Yesus Kristus. Komunitas yang terdiri dari orang-orang percaya dari segala abad dalam mempercayai Yesus Kristus. Dasar persatuan kita semua adalah “satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua (Efesus 4:4-6). Kesatuan sebagai umat Tuhan bukan berarti semua orang harus memiliki pikiran dan
ide yang sama tetapi setiap individu dalam tubuh Kristus telah diberikan kapasitas tertentu dalam pelayanan. Bersenergi satu dengan yang lain dengan tujuan saling melengkapi harus menjadi bagian setiap anggota tubuh Kristus sehingga dapat mencapai sesuatu yang besar bagi kemuliaan-Nya.

Sebagai warga kampus yang juga sebagai anggota tubuh Kristus, Kristus adalah pemersatu kita dan kepala tubuh Kristus. Kesatuan yang indah yang sudah dilakukan oleh Allah, menjadi suatu kewajiban bagi orang-orang percaya untuk tetap bersatu dan memelihara kesatuan tubuh Kristus. Mari kita berperan sesuai degan kapasitas yang kita miliki.(RAP)

Refleksi:
Kasih menjadi dasar tubuh Kristus bersatu!

COLLECTIVE INTELLIGENCE

Senin, 17 Nopember 2014

Collective Intelligence
“Sebab pikiran bangsa ini sudah menjadi tumpul, telinga mereka sudah menjadi tuli dan mata mereka sudah dipejamkan. Ini terjadi supaya mata mereka jangan melihat, telinga mereka jangan mendengar, pikiran mereka jangan mengerti, dan jangan kembali kepada-Ku, lalu Aku akan menyembuhkan mereka.” (Kis 28:27 BIS)

Patrick J. McGovern Professor di MIT Sloan School of Managementdan pendiri MIT Center for Collective Intelligence mendefinisikan Collective Intelligence sebagai sekelompok individu yang mengerjakan sesuatu secara kolektif dan mereka terlihat cerdas. Dalam pengertian itu, Collective Intelligence sudah ada sejak lama. Menurut dia, kita menyaksikannya –paling tidak sesekali– dalam keluarga, perusahaan, dan negara. Hal baru adalah Collective Intelligence yang dimungkinkan oleh internet. Setiap hari kita menikmati hasil kerja mereka saat menggunakan aplikasi web berbasis crowdsourcing seperti google dan wikipedia. Dari semua individu yang
terlibat, kebanyakan tidak saling kenal, tidak pernah tatap muka, bahkan tidak tahu bahwa mereka bekerjasama, tetapi mereka bekerja dengan sangat efektif dan menghasilkan produk dan layanan yang luar biasa. Sebagai kesatuan mereka tampak sangat cerdas!

McGovern mengatakan, jika sekelompok orang bisa menjadi Collective Intelligence, mereka juga dapat menjadi Collective Stupidity!Meski agak kasar, sebutan ini terasa pas untuk menggambarkan organisasi yang kecerdasannya kelihatan tumpul. Misalnya, mengerjakan sesuatu secara redundan dan bertele-tele, membuat kesalahan yang sama berulang-ulang, dan orang-orangnya suka mengeluh. Padahal, di dalamnya banyak individu-individu cerdas yang potensial sebagai problem solver.Seperti Yesus, Paulus mengutip nubuat Yesaya untuk mengonfirmasikan penyebab utama manusia menolak pemulihan Allah. Itu adalah sikap bebal, degil, dan picik.
Perasaan sempurna membuat pikiran tertutup. Teguran dan tuntunan-Nya tak didengar, perbuatan dan karya-Nya luput dan perhatian. Gagal memahami rencana dan kehendak-Nya, manusia terperosok kepada kesia-siaan. Sikap serupa akan memasung kita dalam memenuhi panggilan sebagai satu tubuh dalam organisasi.

Kita mau UK Maranatha menjadi Collective Intelligence. Untuk itu, mari kita dengan kerendahan hati membuka pikiran, mengembangkan tenggang-rasa, juga membangun kolaborasi untuk merespon masalah dan tantangan organisasi. Saat yang sama, kita menyambut dan memanfaatkan peluang yang ada dalam meningkatkan seluruh aspek pelayanan Universitas secara optimal.(JS)

Refleksi :
Pikirkan satu peluang atau masalah di unit Anda. Unit mana yang Anda pikir dapat memberi nasihat dan menolong Anda untuk menyelesaikannya?