PERAN KOMPLEMENTER

Sabtu, 15 Nopember 2014

Peran Komplementer
“Sebagaimana tubuh kita mempunyai banyak anggota, demikian jugalah tubuh Kristus. Kita semua adalah bagian-bagian tubuh itu dan kita masing-masing dibutuhkan untuk menyempurnakan tubuh itu, karena tugas kita berlain-lainan. Jadi, kita merupakan kesatuan dan saling membutuhkan.”
(Roma 12:4 FAYH)

Paulus menggunakan analogi tubuh manusia untuk menekankan peran unik
dari setiap kita sebagai anggota tubuh Kristus. Mengingat kembali pelajaran
di sekolah menengah tentang bagaimana tubuh bekerja, kita lebih merasakan makna perbandingan tersebut. Tubuh yang terdiri atas triliunan sel, terorganisir dengan sangat sempurna dalam wujud jaringan, organ, dan sistem organ. Sebuah tayangan TedEdmenggambarkan cara kerja sistem imun yang sangat memesona. Dalam kompleksitas yang luar biasa, beragam sel -masing-masing dengan peran spesifik- berkoordinasi sempurna dalam melawan mikroorganisme yang menyerbu tubuh. Wujud kerja mereka kebanyakan tak terlihat karena terselubung di bawah kulit, tetapi mereka setia dengan perannya.

Sebagai civitas akademika, keberadaan setiap kita adalah untuk bersama-sama mengerjakan misi UK Maranatha. Memikirkan cara kerja sel tubuh, terbayang bahwa kita semua akan bekerjasama sempurna dengan sendirinya. Namun, seperti yang dihadapi Paulus pada jamannya, merealisasikan sekumpulan orang berkarya untuk tujuan bersama adalah hal pelik. Paulus menyorot isu kepelbagaian peran yang menggoda orang menonjolkan kelebihan dirinya dan merendahkan yang lain. Padahal semua perlu. Tanpa peran dari bagian yang kita anggap paling ‘remeh’ sekalipun, kita tidak akan berhasil mencapai tujuan bersama.

Di zaman ini, kita menghadapi isu keanekaragaman yang makin kompleks dan menantang. Datang dari bermacam latar belakang, setiap orang memiliki nilai, motivasi, ide, dan mimpi yang berbeda. Mengasumsikan bahwa penanganan masalah ini menjadi tugas pemimpin semata, tak lagi masuk akal. Setiap kita terpanggil untuk mengusahakannya. Karena itu, mari mengenal individu-individu yang perannya komplementer dengan kita. Saatnya kita mengakui kontribusi mereka, sekecil apapun itu. Cobalah dengan jujur mengungkapkan rasa terimakasih atas peran spesifik mereka dalam memenuhi kebutuhan Anda, khususnya dalam memenuhi misi organisasi. Bikin mereka percaya dan merasakan bahwa mereka penting dan dibutuhkan. Saat yang sama, sesungguhnya kita sedang meredam nafsu untuk menyombongkan diri dan pencapaian kita. Terbiasa dalam lingkungan saling memperhatikan seperti ini, kita semua akan lebih saling percaya dan terdorong untuk melakukan tugas dengan sebaik-baiknya.(JS)

Refleksi :
Di luar orang-orang yang se-tim dengan Anda, siapa yang memungkinkan pekerjaan Anda selesai sehingga hasilnya dirasakan oleh pengguna akhir? Apa peran mereka?

 

Minggu, 16 Nopember 2014
Menyelesaikan Isu dan Konflik
“Maka Paulus dan Barnabas bertengkar keras sehingga akhirnya mereka berpisah.” (Kis 15:39a)

Sebagai anggota Pengurus, saya senang dan bersyukur bahwa Rekan-rekan di Universitas tak segan memberi masukan kepada Yayasan. Meski tidak resmi, komunikasi ini sangat bermanfaat dalam melengkapi yang formal. Ada nasihat yang memperkaya wawasan dan pertimbangan, ada pula saran yang membantu kami dalam perencanaan dan memutuskan kebijakan. Tak sedikit di antaranya adalah keluhan mengenai hambatan, kinerja buruk, dan ketidakselarasan baik di lingkup unit, universitas, hingga yayasan. Dalam usaha memahami situasi, biasanya
kami menanyakan apakah masalah tersebut sudah dibicarakan dengan yang berkepentingan di lingkup yang lebih kecil, umumnya dijawab “Belum!”

Eskalasi masalah seperti di atas -tanpa mengatasinya lebih dulu- menandakan perlunya mengembangkan kemampuan dalam menangani isu. Mungkin karena risi dengan konfrontasi yang berkonotasi negatif, masalahpun tak muncul dalam agenda manajemen maupun laporan kepada atasan. Lama kelamaan isu menjadi konflik tak terurus. Dampaknya makin terasa tetapi akar masalah makin tersembunyi. Langkah yang diharap mengatasi masalah malah memperbesar dan memperluasnya. Kesan yang kemudian timbul adalah keinginan agar ranah yang lebih tinggi menggunakan otoritas dan segera membereskan masalah yang ada. Tentu bukan harapan yang bijak.

Nats di atas adalah akhir ekstrim dari penanganan isu oleh dua rekan sekerja. Dengan tetap fokus pada tujuan pokok, mereka sepakat untuk tidak sepakat. Terbukti, solusi tersebut efektif dan dipakai Allah bagi kehendak-Nya.

Kita perlu melatih dan membiasakan diri mengelola dan menyelesaikan isu dan konflik. Pembicaraan terbuka dan jujur memungkinkan semua pihak memahami isu secara objektif serta mengidentifikasi dampaknya bagi organisasi. Dalam saling pengertian dan hubungan yang baik, pencarian akar masalah menjadi lebih mudah. Ketika semua pihak termotivasi untuk berpartisipasi, negosiasi jadi menyenangkan dan akhirnya mendapat jalan keluar terbaik di antara alternatif yang tersedia. Solusi tak selalu harus ekstrim seperti kasus Paulus dan Barnabas. Biasanya hanya perbaikan
proses, pengembangan SDM, atau penyediaan alat bantu. Hal yang tak sulit untuk kita kerjakan! Sesungguhnya, menangani masalah dan mengelola konflik secara konstruktif adalah jalan untuk membangun organisasi dan individu di dalamnya. Mari latih dan biasakan di lingkup masing-masing, kita akan menuai hasilnya.(JS)

Refleksi :
Apa isu yang paling menghambat kinerja Anda saat ini? Bagaimana Anda
menanganinya secara konstruktif?

SALING MENAJAMKAN

Jumat, 14 Nopember 2014

SALING MENAJAMKAN
“Sebagaimana baja mengasah baja, begitu pula manusia belajar dari sesamanya.” (Amsal 27:17 BIS)

Pepatah Salomo ini menegaskan bahwa manusia bertumbuh melalui interaksi yang saling menajamkan. “Contohnya belajar di kelas,” mungkin itu yang terlintas dalam pikiran kita. Ada pihak yang mengajar dan ada pula yang belajar. Alkitab Firman Allah Yang Hidup (FAYH) menerjemahkan bagian akhir sebagai “demikian pula orang saling menajamkan pikiran dalam pembicaraan yang akrab.” Ya, pembicaraan merupakan interaksi utama dalam keseharian kita. Oleh sebab itu, efektifitasnya akan menentukan pertumbuhan kita dan mereka yang kita jumpai. Bagaimana realitanya?

Mengeluarkan ribuan kata dalam sehari, 9 dari 10 pembicaraan tidak kena sasaran. Sedikit sekali yang menghasilkan hal penting karena kita enggan membicarakan hal substansial, menghentikan percakapan yang alot, saling potong, mengotot sebagai yang paling benar, dan tak mendengarkan. Begitu kata Judith E. Glaser penulis Conversational Intelligence. Ketidakefektifan itu terjadi karena percakapan bersifat transaksional dan posisional. Tujuan utamanya hanya untuk menegaskan dan mempertahankan hal yang kita tahu. Agar produktif, percakapan harus diarahkan untuk menggali dan menemukan hal yang tidak kita tahu.

Melewati batas-batas senioritas, gelar dan jabatan akademik/struktur, disiplin ilmu, dan bidang pekerjaan, saling mengasah dapat terjadi antar siapapun. Tak ada prasyarat kompetensi untuk memulainya. Kita bisa belajar dari mereka yang lingkup tugasnya jauh lebih kecil atau jenis tugasnya sangat berbeda. Yang perlu kita lakukan adalah menghilangkan asumsi bahwa belajar hanya dari yang ‘lebih pintar.’ Karena, dari mereka yang menggeluti urusan yang berbeda, kita akan menemukan hal baru
dan penting untuk menguatkan bagian diri kita yang selama ini kurang tersentuh.Sebagai satu keluarga, mari tunjukkan kepedulian kepada sesama warga UK Maranatha dengan mengembangkan dan mengusahakan percakapan yang bermakna. Percakapan yang mendalam dan membuat masing-masing kita bertumbuh. Kita bersyukur BPK menggulirkan acara Bincang Nilai Hidup yang memfasilitasi dan mendorong kita untuk lebih mengenal satu dengan lain. Berkesempatan mengikutinya beberapa kali, saya merasa dikuatkan dan disegarkan melalui sharing pengalaman hidup Rekan-rekan yang hadir. Mari kita perluas dan persering inisiatif tersebut di lingkup masing-masing dan pada kesempatan-kesempatan yang tersedia. Kiranya melalui usaha tersebut, setiap kita warga UK Maranatha terus bertumbuh dan semakin sehat.(JS)

Refleksi :
Kapan terakhir kali Anda merasa dibangun dalam perbincangan? Apa yang menginspirasi dan menggerakkan Anda?

MENGESAMPINGKAN STEREOTIP

Kamis, 13 Nopember 2014

MENGESAMPINGKAN STEREOTIP
“Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” (Yohanes 7:24)

Dalam bukunya Manusia Indonesia, Mochtar Lubis menyebut 12 ciri orang
Indonesia, di antaranya hipokritalias munafik, lebih suka tidak bekerja keras
kecuali terpaksa, dan tukang tirualias plagiator! Hampir 4 dekade berlalu, tak pasti apakah generalisasi ini masih absah. Yang nyata, sebagai orang Indonesia kita tidak suka mendapat stereotip seperti ini.

Saat berbaur dalam pekerjaan maupun pertemanan, kadang kita membumbuinya dengan canda stereotip. Teman bicara diledek atau disindir dengan menonjolkan keunikan suku dan budaya. Meski umumnya mengangkat sisi negatif, lelucon seperti ini tak membuat orang tersinggung atau merasa diserang. Namun, bukan tanpa dampak. Sebenarnya kita sedang mengaktifasi dan menguatkan stereotip negatif dalam pikiran. Kita menghakimi sekelompok orang dan individu tanpa melakukan pengenalan yang mendalam. Di kemudian hari, itu akan mempengaruhi kita dalam memahami dan memperlakukan orang dengan budaya yang sama. Itu juga
berpotensi mendatangkan ketidakpercayaan dan melorotkan kinerja. Di sisi lain, kita jarang menggali kekuatan dan kelebihan mereka yang berbeda, apalagi mengakui dan mempromosikannya.

Yesus menegur pemimpin Yahudi yang menolak diri-Nya karena mereka tak mau mendalami dan memahami makna karya-Nya. Larangan-Nya juga bagi kita agar tidak menilai orang lain hanya dengan memperhatikan penampilan luar atau label yang ditempelkan pada mereka. Sebaliknya kita harus menggunakan pikiran dan hati dalam membedakan dan menguji yang otentik dan benar. Hanya dengan demikian kita mampu melihat talenta dan potensi yang Tuhan karuniakan dalam diri kolega, teman, dan warga kampus lain.

Di UK. Maranatha yang kaya akan keberagaman, kita berkesempatan untuk menggali dan mempelajari keunikan suku, perspektif budaya, wawasan antar generasi, dan pengalaman spiritual dengan mengesampingkan stereotip negatif. Bukan hanya etnis, tetapi juga pelabelan kelompok atau lapis jabatan yang seringkali menghambat kita dalam membangun relasi produktif. Saatnya bagi kita mengembangkan keingintahuan yang otentik atas mereka. Dengan kerendahan hati, mari perbanyak bertanya dan mendengarkan terutama orang-orang yang berbeda dengan kita. Ketika keistimewaan dikenali, dihargai, dan diberi kesempatan, jalan pemberdayaan menjadi terbuka.(JS)

Refleksi :
Stereotip negatif apa yang pernah Anda tempelkan pada seseorang di Maranatha? Sekarang, coba pikirkan dan temukan hal positif dalam diri mereka.

KELUARGA BESAR

Rabu, 12 Nopember 2014

KELUARGA BESAR
“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:28)

Dua tahun lalu saya mendaftar sebagai peserta projek Genographic, studi
antropologi kepunyaan National Geographic Society. Dengan menganalisis
contoh DNA orang-orang dari seluruh dunia, mereka memetakan pola migrasi nenek moyang kita. Rasa kagum bangkit mengetahui leluhur Ibu saya berasal dari Afrika Timur 67.000 tahun lalu dan leluhur Bapak dari Afrika 75.000 tahun silam. Dalam peta yang terus diperbaharui, saya jadi tahu jalur migrasi nenek moyang saya hingga ke Asia Tenggara. Lintasan di Indonesia belum terlihat secara rinci karena peserta dari tanah air masih sedikit. Menarik sekali mengetahui secara ilmiah bahwa orang yang kini tersebar di seluruh dunia adalah turunan dari nenek moyang yang sama: sedarah dari Afrika! Sungguh besar Allah Pencipta dengan hikmat dan
kehendak-Nya menyertai dan menuntun umat-Nya sebagai satu keluarga besar dalam perjalanan yang penuh makna dan misteri dengan kasih yang melampaui segala pengetahuan.

Sebagai warga Maranatha, sehari-hari kita menjalankan tugas dan tanggungjawab, baik terkait struktur ataupun fungsi Universitas. Berfokus pada tatanan resmi yang mengatur peran, koordinasi, dan komunikasi, membuat kita sering tak sadar bahwa kita adalah sebuah keluarga. Meski diingatkan dalam acara-acara kebersamaan, semangat ini mudah kempis dalam pola relasi yang didominasi oleh hubungan kerja resmi. Belum lagi akibat bawaan ‘manusia lama’ kita yang cenderung membedakan dan memisahkan seperti yang disorot oleh Paulus. Sebagai manusia baru di dalam Kristus, kita mesti menanggalkan sikap diskriminatif. Kita hendaknya menerima semua orang -tanpa memandang gender, etnis, agama, pendidikan, status sosial, jabatan- sebagai bapak, ibu, kakak, atau adik. Kita semuanya adalah satu keluarga di dalam Kristus Yesus.

Ketika pola relasi yang informal seperti ini diintegrasikan dengan yang resmi, kita berpeluang mencapai tujuan organisasi secara efektif dan saat yang sama menjaga nilai organisasi. Sebagai contoh, tak terbayang struktur formal yang ampuh untuk memastikan kurang lebih sepuluh ribu mahasiswa yang menjalani pendidikan hingga lulus dan tak satupun yang terabaikan. Tetapi, ketika dosen-mahasiswa dan antar mahasiswa-misalnya yang sekelas, sekos, satu tim saling memperhatikan dan peduli
hingga membuahkan kontrol dan sokongan sosial timbal balik, tujuan di atas menjadi lebih realistis untuk dicapai.(JS)

Refleksi :
Bagaimana Anda mengintegrasikan pemahaman satu keluarga ke dalam tugas dan tanggungjawab formal Anda?

KESATUAN STRATEGIS

Selasa, 11 Nopember 2014

KESATUAN STRATEGIS

“…hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.”
(Filipi 2:2b)

Dalam bukunya Silos, Politics, and Turf Wars, Patrick Lencioni mengatakan bahwa Silos merupakan isu struktural yang merusak dan menghancurkan efektifitas organisasi. Sekat-sekat yang muncul antar bagian atau departemen dan antar tingkat manajerial membuat yang satu dengan yang lain tidak menyadari bahwa mereka yang seharusnya memastikan tercapainya agenda bersama ternyata berjalan sendiri-sendiri. Dari sekedar absen berkomunikasi, lama kelamaan kehilangan rasa saling percaya hingga memuncak jadi politik kantor yang mubazir bahkan destruktif.
Menurut Lencioni, umumnya silosterjadi karena orang-orang gagal menempatkan diri dalam konteks organisasi mereka.

Spesialiasi ilmu, keahlian, maupun tugas membuat organisasi seperti UK. Maranatha rentan pada isu ini. Memusatkan perhatian pada disiplin tertentu membuat sebuah fakultas kehilangan rasa keterkaitan dengan yang lain. Keberhasilan yang satu tak membuat yang lain senang, serta kesulitan dan kegagalan yang lain dianggap bukan urusannya. Bidang sendiri dianggap paling penting dan hebat, sementara bidang lain diremehkan. Masing-masing menjadi begitu kukuh memperjuangkan kepentingannya hingga suatu saat memasuki pertarungan yang mustahil ada pemenangnya! Sebagai satu keluarga, mereka sendirilah yang pasti kalah.

Mengetahui jemaat Filipi berpotensi terjerumus pada persaingan dan perpecahan, Paulus mengadvokasi mereka agar mengusahakan harmoni dalam kasih yang sama, jiwa yang sama, dan tujuan yang sama. Mereka diminta tidak menonjolkan ego tetapi kasih Kristus. Bukan menyombongkan diri tetapi memuliakan Allah. Mereka didorong untuk mengerjakan tujuan bersama yaitu menyatakan misi kasih-Nya.Sebagai Yayasan, Universitas, Fakultas, Program Studi, Biro, Lembaga, lapis manajemen, dan kelompok dosen-tenaga kependidikan-mahasiswa, masing-masing kita memiliki tujuan tersendiri. Memusatkan pikiran dan energi kepada tujuan tersebut adalah keniscayaan. Namun, kita juga perlu terus melihat dan menyadarinya dalam konteks Universitas Kristen Maranatha. Dalam kesatuan strategis, sebagai satu tubuh kita dipanggil untuk meneladani Kristus serta melayankan kasih-Nya melalui pengembangan insan yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan kesejahteraan umat manusia. (JS)

Refleksi :
Bagaimana penilaian Anda mengenai keterkaitan tujuan pribadi dengan tujuan Unit Anda dan tujuan Unit dengan tujuan UK. Maranatha?

KASIH ITU SEPERTI TIPP EX

Sabtu, 8 Nopember 2014

KASIH ITU SEPERTI TIPP EX

“Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutup banyak sekali dosa” (I Petrus 4:8)

Kita semua pasti mengenal cairan berwarna putih yang cepat sekali kering,
dioleskan di atas tulisan atau coretan yang salah atau harus dibuang, dibuat
tidak terlihat, tidak dianggap ada lagi. Itulah cairan yang memiliki merek ”Tipp Ex” pada mulanya, sekarang sudah ada berbagai merek, tapi masyarakat pengguna masih saja menyebutnya ”tip ex” (padahal ini hanya merek dagang), apapun mereknya.

Mencermati sifat dari cairan penghapus tersebut dan membandingkannya dengan pengakuan Yohanes Pembaptis ”Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia”, terdapat kemiripan, bahwa sekali kesalahan atau dosa ditutup, siapapun tidak pernah lagi bisa membaca atau melihat kesalahan yang pernah ada sebelumnya. Demikianlah Allah memperlakukan segala dosa pelanggaran dan ketidaksempurnaan
kita melalui darah Yesus Kristus. Seringkali kita sulit melakukan hal ini yang sekalipun sudah memaafkan, tetap saja kenangan buruk yang pernah kita alami meninggalkan trauma, atau ’pelajaran’. Berpikir secara positif, sebenarnya hal tersebut tidak sepenuhnya salah. Allah berfirman, bahwa Dia ”tidak mengingat-ingat pelanggaran kita”, karena itu marilah kita belajar dari Dia tentang hal yang sulit ini.

Siapakah kiranya rekan kerja di sekitar kita atau di lingkungan kampus ini yang saat ini masih hadir di pikiran dan hati kita sebagai orang yang bersalah kepada kita? Di dalam Kristus, sudahkah kita mengasihi orang itu? Kalau belum, kita harus mulai mengasihinya; kalau sudah, berarti kita harus menutup kesalahannya kepada kita. (PO)

Refleksi :
Seberapa efektifkah kasih kita kepada sesama dalam menutupi dosanya kepada kita?

 

 

 

Minggu, 9 November 2014

LOVE THAT UNITES

“Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang
mempersatukan dan menyempurnakan.” (Kolose 3:14)

Pemersatu adalah faktor yang memungkinkan sekumpulan orang yang
kelihatannya beragam bisa bersatu atau berkumpul. Pemersatu biasanya
merupakan kesamaan yang disadari bersama dan dipakai sebagai alasan
bersatunya sejumlah orang, untuk mencapai tujuan yang sama. Seandainya tidak ada kesamaan melainkan adanya tekanan kekuasaan, urusannya lain lagi.

Di dunia ini ada ratusan denominasi gereja yang menunjukkan adanya berbagai faktor yang menyebabkan warga jemaat lebih merasa nyaman bila berada bersama warga jemaat lain yang memiliki penekanan doktrin, suku, bahasa, maupun hal-hal lain yang sama. Meskipun demikian, tubuh Kristus yang senantiasa satu, am, memang terdiri atas berbagai anggota yang berbeda-beda. Apakah yang mempersatukan berbagai bagian yang berbeda itu? Adanya ayat tersebut merupakan himbauan, bahkan perintah agar para anak Tuhan memiliki kembali apa yang merupakan ciri khas mereka, yang merupakan hukum yang terutama, inti ajaran Tuhan Yesus, yaitu kasih.

Sivitas akademika Universitas Kristen Maranatha merupakan komunitas yang sangat heterogen. Apa gerangan yang mengumpulkan semua menjadi satu, apakah kepentingan masing-masing, ataukah kasih? Kasih yang mana? Kalau kasih persaudaraan, bisa-bisa terbatas dan diskriminatif. Hanya kasih ilahi yang merupakan pengikat sejati. (PO)

Refleksi :
Sudahkah kasih hadir di hati kita semua? Kasih jenis yang mana?

DIMANA KUTEMUKAN DAMAI SEJAHTERA ?

Jumat, 7 Nopember 2014

DIMANA KUTEMUKAN DAMAI SEJAHTERA ?

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” (Yohanes 14:27)

Banyak orang berpikir bahwa damai sejahtera dapat diperoleh ketika ia memiliki harta melimpah, jabatan atau kedudukan yang tinggi atau meraih kesuksesan tertentu dalam hidup ini, sehingga mereka berusaha sedemikian rupa agar harapan untuk merasakan damai sejahtera itu benar-benar terwujud. Mereka berpikir asal punya uang yang cukup, apa saja yang diinginkan pasti akan terlaksana, lalu mereka pergi menghibur diri ke tempat-tempat hiburan malam, hang outsampai pagi. Mungkin saja di tempat itu mereka bisa tertawa lepas sepanjang malam, tapi bukan berarti mendapatkan damai sejahtera sejati. Itulah damai sejahtera sesaat yang ditawarkan dunia, di mana banyak orang Kristen terjerat di dalamnya. Di
manakah kita menemukan damai sejahtera sejati? Tidak ada yang lain selain hanya dalam Yesus Kristus. Dunia boleh menjanjikan apa pun, tapi semuanya itu hanya bersifat sesaat dan berujung kepada kebinasaan kekal.

Kunci utama agar kita menikmati damai sejahera adalah selalu tinggal dan melekat dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus yang kita percayai adalah Raja Damai. Yesus disebut Raja Damai karena DIA lahir dengan membawa misi besar yaitu memperdamaikan hubungan Allah dengan manusia, yang sudah terputus oleh karena dosa. Kedatangan Yesus untuk memulihkan hubungan yang sudah terputus melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Sejak itu damai sejahtera kembali bertahta dalam hati manusia, dan menjadi milik orang yang berkenan kepadaNya. Yesus datang membawa
perdamaian, bukan hanya antara manusia dengan Allah, tetapi juga manusia dengan sesamanya. Perjanjian Lama menggunakan kata “Shalom” untuk menggambarkan damai sejahtera. “Shalom” berarti sejahtera rohani dan jasmani. Sedangkan dalam Perjanjian Baru, damai sejahtera menggunakan kata “Eirene” yang mengandung arti kesatuan, keharmonisan. Inilah yang dicari semua manusia. Baik sejahtera secara
rohani dan jasmani, kesatuan dan keharmonisan. Semuanya bisa kita peroleh dalam Yesus Kristus karena Ia adalah sumber damai sejahtera. Jika kita ingin hidup dalam damai sejahtera, datang kepada sumbernya yaitu Tuhan Yesus Kristus. (YG)

Refleksi :
Damai sejahtera hanya dapat ditemukan dalam Yesus Kristus.

BAPA SENTUH HATIKU

Kamis, 6 Nopember 2014

BAPA SENTUH HATIKU ! (Lukas 19:1-10)

“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Lukas 19:10)

Charles Wesley adalah seorang pejabat pajak di Inggris yang sangat terkenal. Namun pada kenyataannya ia tidak memiliki kekayaan apapun. Setelah mendengar laporan keuangan Charles Wesley tahun 1776, pejabat-pejabat Inggris tidak mempercayainya. Mereka yakin bahwa banyak harta kekayaan Wesley yang belum dilaporkan secara teratur. Ternyata ada hal yang tidak mereka ketahui. Pada saat Wesley disentuh hatinya oleh Tuhan, kehidupannya berubah 180 derajat. Ia menjadi orang yang lebih memperhatikan orang lain daripada dirinya sendiri. Saat menerima gaji 30 pound ia memberikan 2 pound untuk dibagikan. Tahun berikutnya, gajinya menjadi 60 pound, namun untuk dirinya sendiri ia cukupkan hanya dengan 28
pound. Sisanya dia berikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Tahun ketiga, gajinya 1400 pound ia hanya menggunakan 30 pound untuknya sedangkan sisanya untuk orang-orang yang membutuhkan.

Saat Tuhan menyentuh hidup kita, maka akan terjadi perubahan besar. Bahkan Zakheus seorang pemungut pajak yang kaya raya dengan memeras bangsanya sendiri, dipulihkan saat berjumpa dengan Yesus. Zakheus melakukan perubahan yang luar biasa dan mengambil komitmen yang besar, dimana ia memberikan setengah dari milikinya kepada orang-orang miskin dan kepada orang-orang yang diperasnya dikembalikan empat kali lipat. Perjumpaan Zakheus dengan Yesus merupakan ‘turning point’bagi kelanjutan hidup Zakheus.

Saat Tuhan menyentuh hidupmu pasti ada banyak hal yang Tuhan kerjakan melalui hidupmu untuk kemuliaan-Nya. Kasih Tuhan sanggup mengubah seorang pendosa menjadi orang benar. Hari ini ambillah keputusan untuk memberi hatimu dan ijinkan Yesus bekerja dalam hidupmu. (YG)

Refleksi :
Hanya Yesus yang sanggup mengubah hidupmu!

MEMBERI HIDUP

Rabu, 5 Nopember 2014

MEMBERI HIDUP
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)

Setelah rezim komunis ambruk di Rusia, maka untuk pertama kalinya diadakanlah perayaan Natal. Dalam suasana sukacita Natal itu, datanglah seorang anak kecil membawakan 2 boneka bayi untuk diletakkan dalam palungan. Dalam sekejap semua mata tertuju pada apa yang dilakukan oleh anak kecil tersebut. Salah seorang ibu kemudian bertanya kepada anak kecil ini, “Mengapa kamu meletakkan dua bayi di palungan ini? Bukankah seharusnya hanya ada bayi Yesus saja?”Anak kecil ini dengan lugu menjelaskan, “Saya ingin memberikan hadiah buat Yesus. Tapi saya
tidak memiliki apa-apa. Saya tidak mempunyai uang untuk membeli kado. Saya tidak mempunyai mainan. Saya tidak memiliki apa pun. Tapi saya bisa menemani-Nya. Saya rasa Yesus tidak akan keberatan jika saya bersama-Nya dalam satu palungan untuk menemani-Nya karena hanya itu yang bisa saya berikan.”Setelah mendengar jawaban si anak kecil tersebut, banyak orang menitikkan air mata karena terharu melihat ketulusan seorang anak kecil mempersembahkan sesuatu bagi Tuhan.

Perayaan Natal bagi kita kadangkala tidak lebih dari sebuah pesta tahunan yang sarat dengan kemewahan. Kita sibuk dengan persiapan-persiapan Natal seperti dekorasi yang mahal, mempersiapkan drama yang menarik, pohon Natal yang indah, kostum yang serasi dan kita melupakan makna Natal yang sesungguhnya. Esensi Natal yang sesungguhnya berbicara tentang ‘memberi hidup.’ Yesus yang menjelma sebagai manusia dan dilahirkan dalam segala kesederhanaan, datang ke dunia dengan tujuan memberi hidup sebagai tebusan umat manusia. Ia mempersembahkan hidup-Nya agar setiap orang yang percaya dan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat memiliki hidup dan memilikinya dalam segala kelimpahan.

Perayaan Natal harusnya menyentuh relung hati kita dengan pertanyaan sederhana, “Apa yang sudah saya persembahkan bagi Tuhan?.” Persembahan kepada Tuhan bukan semata-mata berbicara tentang uang. Apa gunanya kita menjadi donatur dengan sejumlah nilai sumbangan yang membuat orang kagum, namun hidup kita tidak menyenangkan Tuhan dan penuh dengan kemunafikan? Akan lebih menyenangkan hati Tuhan, jika kita mempersembahkan hidup kepada-Nya, karena tidak ada persembahan yang indah selain memberi hidup kita sendiri bagi kemuliaan Tuhan. (YG)

Refleksi :
Persembahkanlah hidupmu sebagai persembahan yang berkenan kepada Allah !

THE GREATEST THING IN THE WORLD

Selasa, 4 Nopember 2014

THE GREATEST THING IN THE WORLD
“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” ( I Korintus 13:13)

Ilmuwan dan penulis terkenal Henry Drummond (1857-1897) melakukan penelitian geologi tentang Afrika Selatan dan menuliskan karya yang sangat berguna mengenai daerah tropis Afrika. Namun, orang lebih mengingatnya karena buku yang ditulisnya mengenai kasih, The Greatest Thing In The World. Drummond menulis, “Apabila Anda merunut masa lampau, melebihi semua kesenangan hidup yang fana, Anda akan menemukan momen-momen penting ketika Anda dimampukan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang tidak terlihat kepada orang-orang di sekeliling Anda, hal-hal yang terlalu remeh untuk dibicarakan …. Dan hal-hal ini tampaknya menjadi sesuatu, satu-satunya dari keseluruhan hidup seseorang yang tetap tinggal.”

Paulus mengingatkan bahwa berbagai karunia menakjubkan dan perbuatan besar mungkin tak lebih dari suara kosong (I Korintus 13:1). Usaha-usaha terbaik kita, jika tanpa kasih tak ada gunanya. “Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, … tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku”( I Korintus 13:3 ). Justru sebuah tindakan kasih yang tampaknya kecil dapat berarti penting dalam kekekalan. Entah berapa umur kita atau bagaimana status kita, kita semua dapat berusaha mengasihi orang lain seperti Allah mengasihi mereka. Kita bisa meraih hal-hal yang besar memperoleh ketenaran dan kekayaan tetapi yang terbesar adalah mengasihi. Karena dari semua yang telah kita lakukan, atau akan kita lakukan, hanya kasih yang bertahan.

Melalui pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib, tanpa syarat dan berlaku selamanya adalah bukti nyata dan mau tidak mau harus diteladani oleh seluruh umat Kristiani. Jangan pernah berbangga diri menjadi anggota paduan suara di gereja, selalu berkhotbah tentang kasih ketika membawakan renungan di persekutuan dan lain sebagainya, namun dalam kehidupan keseharian tidak mencerminkan Kasih Allah di dalam lingkungan terkecil seperti keluarga sendiri. Cara terbaik agar tidak menjadi Kristen yang munafik adalah membuka hati supaya dapat mendengarkan Kasih Tuhan yang sesungguhnya dan sekaligus berusaha untuk MELAKUKANNYA dalam kehidupan nyata! (YG)

Refleksi :
Berusahalah mengasihi bukan dengan perkataan namun dengan perbuatan dalam kebenaran.