MEMBUAT BERJALAN YANG LUMPUH

Rabu, 3 Desember 2014

MEMBUAT BERJALAN YANG LUMPUH (Markus 2:1-12)

“ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang ” (Markus 2:3)

Bagaimana kita memandang rekan kita yang cacat ? Apakah begitu jijiknya kita seperti melihat orang yang penuh dosa, atau mengasihi mereka dengan segala kekurangan mereka.

Bacaan kita hari ini menyaksikan 4 (empat) orang yang mengasihi temannya yang lumpuh. Kasih mereka adalah ekspresi iman mereka yang mendorong Tuhan Yesus untuk menyatakan bahwa dosa orang lumpuh itu sudah terampuni.

Di lain pihak, kita menyaksikan beberapa ahli Taurat yang menyangsikan ’ketuhanan’ dari Yesus, yang berkuasa mengampuni dosa. Baru ketika mereka menyaksikan bahwa Yesus pun berkuasa membuat berjalan mereka yang lumpuh, mereka semua takjub lalu memuliakan Allah (ayat 12)

Hari ini kita memperingati hari Penderita Cacat. Menghina para penderita cacat dapat berakibat dendam dan kemarahan, bahkan dapat membuat para penderita cacat itu berputus asa dan ingin mengakhiri hidupnya. Tindakan 4 orang yang mengasihi temannya mengajarkan kita bagaimana memperlakukan rekan-rekan yang mengalami ketidak sempurnaan fisik. Perlakuan kita kepada mereka memang tidak dapat membuat mereka yang lumpuh dapat berjalan, mereka yang buta dapat melihat, tapi menghina mereka dapat membuat mereka binasa. Binasa bersama dosa-dosa mereka.

Kasih kita kepada mereka dapat membuat mereka yang buta dapat melihat Kasih Allah dalam diri mereka. Kasih kita kepada mereka dapat membuat mereka yang lumpuh mampu menjalani kehidupan ini dengan tegar karena mereka merasakan Kasih Allah yang mengampuni dosa-dosa mereka. Mengasihi mereka yang cacat adalah ekspresi iman yang dapat memberi semangat kepada mereka untuk tetap menjalani kehidupan ini, sehingga dalam kecacatan ini mereka pun mengalami pengampunan dosa-dosa mereka dan mujizat dari Allah. (IH)

Refleksi :
Ketika Anda tidak pernah mengalami mujizat. Pandanglah diri Anda dan kasihilah orang-orang di sekeliling Anda, maka Anda akan melihat mujizat itu.

KUTUK BAGI MEREKA YANG SERAKAH

Selasa, 2 Desember 2014

KUTUK BAGI MEREKA YANG SERAKAH (2 Petrus 2:1-22)

“Hati mereka telah terlatih dalam keserakahan.Mereka adalah orang-orang
terkutuk” (2 Petrus 2:14b)

Hari ini merupakan hari konvensi ikan Paus. Menurut penelitian, satu diantara tiga ikan Paus berada di perairan Indonesia. Kita patut bersyukur untuk kekayaan alam negeri kita, tetapi juga sekaligus prihatin untuk perburuan yang dilakukan mereka yang serakah sehingga menyebabkan populasi ikan Paus terancam punah.

Dalam bacaan kita hari ini, guru-guru palsu disebut sebagai orang-orang yang serakah disamakan dengan hewan yang tidak berakal, yang akan dibinasakan oleh karena perbuatan jahat mereka sendiri (ayat 12). Nabi-nabi palsu, guru-guru palsu dan para pengikutnya mengajarkan hal-hal yang membawa kebinasaan. Bahkan mereka menyangkal keberadaan Allah yang telah menebus mereka. Apa yang mereka ajarkan hanyalah demi keuntungan pribadi semata memenuhi hasrat keserakahan mereka. Allah tidak menyayangkan mereka. Dalam sejarah penyelamatan manusia, Allah menghancurkan Sodom dan Gomora tapi menyelamatkan Lot; Allah menenggelamkan dunia dan hanya menyelamatkan Nuh sekeluarga. Hal ini menjadi peringatan bagi orang-orang serakah di kemudian hari.

Lalu, apa hubungan perburuan ikan paus dengan keserakahan guru-guru palsu. Telah nyata bahwa keserakahan dalam perburuan ikan paus berakibat pada kelangkaan. Di pihak lain, keserakahan guru-guru palsu yang mengajarkan hal sesat berujung pada kebinasaan. Kedua hal ini mengajarkan sekaligus menegur kita semua yang berada dalam dunia pendidikan, jangan serakah dalam menjalankan profesi kita. Seperti perburuan ikan paus yang semena-semena berakibat hancurnya habitat, demikian juga pengajaran yang asal-asalan –hanya demi kepentingan pribadi- berakibat semakin suramnya dunia pendidikan. Apalagi jika dunia pendidikan hanya mengajarkan hal-hal yang berujung kebinasaan dan menyangkal keberadaan Allah yang menebus manusia. Allah tidak menyayangkan Universitas Kristen Maranatha mengalami kehancuran kalau berlaku hal-hal yang tidak Allah kehendaki di kampus ini. (IH)

Refleksi :
Segalanya Tuhan sediakan bagi kita, keserakahan membuatnya tidak tersedia,
bahkan berujung pada ketiadaan sama sekali.

HARAPAN UNTUK PEMAKNAAN HIDUP

Senin, 1 Desember 2014

HARAPAN UNTUK PEMAKNAAN HIDUP

“Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah” (1 Korintus 9:22)

Menjalani kehidupan dari hari ke hari, boleh jadi kita hanya bersikap menerima kehidupan dan tidak merasa perlu memikirkannya. Menjalaninya saja cukup susah, apalagi memikirkannya. Tetapi sesekali perlu pula memikirkannya. Di hari AIDS ini mari kita merenungkan kehidupan kita, kehidupan kerabat kita, kehidupan orang lain, yang mungkin kita kenal atau mungkin juga tidak kita kenal.

Pada saat menghadapi fenomena AIDS kita berhadapan dengan kehidupan. Kehidupan terjadi ketika masih ada sel hidup, dan virus mencoba merusak sel-sel hidup ini. Dunia pengobatan berusaha berperang melawan virus yang merusak kehidupan ini. Setiap fakta yang menunjukkan keberhasilan menjadi hiburan bagi yang menderita dan melegakan bagi siapa pun yang menghargai kehidupan. Sayangnya, jawaban tuntas untuk sindroma HIV/AIDS ini belum ditemukan.

Masalahnya, AIDS yang semula ranah biologis sekarang telah menjadi ranah sosial. Bagaimana subjek yang disebut ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) dan OHIDA (Orang yang Hidup Dengan AIDS) sebaiknya berperilaku dan bagaimana orangorang memperlakukan mereka. Tindakan diskriminatif terhadap ODHA dan OHIDA merupakan suatu kekejaman. Demikian pula, bagi ODHA atau OHIDA ada pilihan menghancurkan kehidupan ini dengan berputus asa, dendam dan marah, atau berusaha memberi pemaknaan akan hidup karena ketika masih ada sel hidup masih tersisa harapan.

Rasul Paulus memberi teladan bagaimana memperlakukan orang lemah, yaitu bersikap empati terhadap mereka. Dengan demikian orang-orang lemah ini dapat dimenangkan karena mereka masih memiliki pengharapan.
Di sekitar kita, masih banyak orang-orang lemah fisik mau pun rohani. Sikap menjauhi mereka akan mendekatkan mereka pada kebinasaan. Ketika kita mau bersama berbagi tentang kehidupan dengan mereka, ada harapan mereka mengalami kekuatan dan kita pun dapat belajar bagaimana mereka mengatasi kelemahan mereka. (IH)

Refleksi:
Memikirkan kehidupan bersama yang lebih baik dimulai dengan memahami apa yang dialami orang lain.