MAHLUK MULIA

Kamis, 29 Januari 2015

MAHLUK MULIA

“ Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah,dan telah
memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.” (Mazmur 8 :6)

Ada manusia yang tidak menyadari betapa mulia keberadaan dirinya
dibandingkan ciptaan Allah lainnya sehingga berperilaku melebihi binatang, seperti pembunuhan dengan cara memutilasi, pelecehan seksual kepada anak-anak sampai memakan korban puluhan orang, dan lain-lain.

Dalam ayat sebelumya pemazmur menyatakan, ”Jika aku melihat angit-Mu,
buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kau tempatkan.” Kemungkinan besar ungkapan ini lahir dari ingat-ingatan Daud semasa ia di padang penggembalaan pada siang hari dan juga malam hari saat ia memandang bintang-bintang di langit.Di bawah cakrawala luas pada siang dan malam hari tersebut, pemazmur menyadari di dalam batinnya betapa kecil dan tidak berdayanya ia. Selanjutnya, ia menyadari bahwa Allah lah yang lebih besar dan Pengontrol atas ciptaan yang sangat besar
ini. Di tengah-tengah cakwala yang luas dan ketidakberartian manusia, pemazmur sangat takjub karena Allah sanggup mengingat setiap manusia dan memberi perhatian secara individual, termasuk pada dirinya. Menakjubkan karena manusia dapat menjadi signifikan atau memiliki posisi sentral di tengah-tengah alam semesta yang sangat luas ini. Melalui kesadaran dari penyataan Allah, Daud menulis pada ayat 6, “Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah
memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.” Ada terjemahan yang memakai ungkapan hampir sama seperti Allah menjadi “malaikat.” Hal ini kemungkinan didorong oleh sikap moderat karena dianggap terlalu berlebihan jika mengklaim manusia hampir sama seperti Allah. Namun bagaimanapun juga, terjemahan dengan memakai Allah yang tepat, sebab ini sama dengan yang terdapat pada Kejadian 1-2 bahwa manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah, dimana Allah memberikan peran untuk mendominasi alam ciptaanNya kepada manusia.

Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya dan Ia memberikan mandat budaya untuk menguasai dan mengelola alam serta isinya. Mandat ini bertujuan agar manusia sebagai mahkota ciptaan menjadi raja atau penguasa atas ciptaan yang lebih rendah sehingga membawa semuanya untuk memuliakan Allah. Sejak awal manusia diciptakan, kemuliaan dan hormat sudah Allah berikan. Marilah kita hidup dalam kemuliaan dan hormat yang Allah berikan. (RCM)

Refleksi :
Hiduplah sesuai dengan kemuliaan dan hormat yang sudah Allah dianugerahkan

INTELEKTUALITAS

Rabu, 28 Januari 2015

INTELEKTUALITAS

“ Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutandan segala burung di udara.Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhlukyang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan,”
(Kejadian 2:19-20a)

Otak manusia adalah struktur pusat pengaturan yang memiliki volume
sekitar 1.350cc dan terdiri atas 100 juta sel saraf atau neuron. Otak mengatur dan mengkordinir sebagian besar gerakan, perilaku dan fungsi
tubuh homeostasisseperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak manusia bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh badan dan pemikiran manusia. Oleh karena itu terdapat kaitan erat antara otak dan pemikiran. Otak dan sel saraf didalamnya dipercayai dapat memengaruhi kognisi manusia. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi, ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya. Kalau manusia bisa menciptakan komputer atau chip yang bisa memuat beribu2 atau berjuta2 giga, bagaimana dengan otak manusia sendiri?John von Naeumann (ilmuwan, matematikawan, insinyur, birokrat) asal Universitas Yale, pada 1956 telah memperkirakan kapasitas otak manusia adalah 35 exabyte (1 exa = 1000 peta = 1 juta tera = 1 milyar giga) Kapasitas ini bisa di upgrade sesuai kemauan dan kemampuan manusianya. (sumber : wikipedia)

Manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah memiliki kemampuan intelektualitas yang sangat tinggi. Manusia pertama ketika memberi nama kepada setiap mahluk hidup tentu saja berdasarkan pemikiran dia. Hal ini membuktikan bahwa sejak awal Allah ingin agar manusia menggunakan kapasitas yang sudah diberikan kepada manusia. Menurut anggapan kuno, nama menentukan kodrat sesuatu, kedudukan serta fungsinya di alam yang tercipta. Bahwa manusia menentukan nama-nama mahluk lain-lainnya, berarti bahwa manusia oleh Allah ditempatkan diatas mahluk-mahluk itu termasuk dari segi intelektualitas.

Di dunia ini tidak ada manusia yang bodoh, yang ada adalah manusia yang malas dan yang rajin. Allah sudah memberikan kepada manusia otak yang dapat berfungsi dengan sangat luar biasa. Sudahkah kita gunakan secara maksimal untuk kemuliaan Allah? (RCM)

Refleksi :
Maksimalkan intelektualitas kita sesuai kehendak Allah

KUASA DARI ALLAH

Selasa, 27 Januari 2015

KUASA DARI ALLAH

“ Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ”Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:28)

Pada masa pemilihan Presiden RI, masyarakat dapat melihat bagaimana orang orang di elit politik berebut kekuasaan. Ada persaingan kekuasaan dan strategi politik yang dilakukan oleh dua “kubu besar” yakni di bawah bendera Koalisi Indonesia Hebat yang diusung oleh PDIP selaku pemenang pileg 2014 dan sekaligus pengusung Presiden terpilih Joko Widodo. Sedangkan yang “kubu besar” lainnya bergabung di dalam koalisi yang bernama “Merah Putih” yang diusung oleh barisan partai pendukung calon presiden Prabowo Subianto. Kita dapat melihat orangorang yang haus kekuasaan. Kekuasaan yang besar tidak lepas dari tanggung jawab yang besar pula. Seringkali orang hanya menginginkan kekuasaan tetapi menolak tanggung jawabnya.

Allah memberikan kepada manusia kuasa atas semua ciptaan-Nya. Sebagai gambar dan rupa Allah, manusia adalah wakil Allah di dunia. Karena itu, Allah menempatkan manusia lebih tinggi dari pada segala ciptaan lainnya dan memberinya kuasa untuk menaklukkan segala ciptaan tersebut. Manusia patut mengucap syukur atas segala kemuliaan yang telah Allah anugerahkan. Manusia perlu menyadari bahwa kemuliaan
yang Allah anugerahkan disertai dengan tanggung jawab. Kuasa atas segala ciptaan yang Allah anugerahkan harus senantiasa dipergunakan dalam takut akan Allah. Harus mempergunakannya dengan bertanggung jawab dan demi kemuliaan Allah. Allah mengizinkan manusia memanfaatkan segala ciptaan lainnya. Akan tetapi, Ia juga menghendaki agar manusia mengelolanya. Sebagai contoh, Allah memberikan
taman Eden kepada Adam, tetapi Ia juga memerintahkan agar Adam mengusahakan serta memelihara taman itu (Kej 2:15).

Kita harus senantiasa menyadari bahwa Allah sudah memberikan kepada kita kekuasaan dan tugas yang besar beserta tanggung jawab kita untuk mengelola ciptaan Allah dalam rasa syukur atas kemuliaan yang telah Allah berikan kepada kita. Akhirnya, marilah kita mengucap syukur atas segala kemuliaan yang telah Allah anugerahkan kepada kita sebagai gambar dan rupa-Nya. Marilah kita mengerjakan tugas dan tanggung jawab yang telah Allah percayakan kepada kita dalam ketundukan penuh kepada-Nya. (RCM)

Refleksi :
Manusia diberikan kuasa untuk digunakan dengan penuh tanggung jawab

LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Senin, 26 Januari 2015

LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

“ Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya,menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” (Kejadian 1:27)

Pergerakan gay dan lesbian di Indonesia adalah salah satu yang terbesar dan tertua di Asia Tenggara. Aktivisme hak-hak gay di Indonesia dimulai sejak 1982 ketika kelompok kepentingan hak-hak gay didirikan di Indonesia. “ Lambda Indonesia” dan organisasi serupa lainnya muncul di akhir 1980-an dan 1990-an. Saat ini, ada beberapa kelompok utama LGBT di negara ini termasuk “Gaya Nusantara” dan “Arus Pelangi”. Sekarang ada lebih dari tiga puluh LGBT kelompok di Indonesia.(sumber: wikipedia).

Alkitab menuliskan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya hanya laki-laki dan perempuan. Tidak ada jenis kelamin yang lainnya. Gambar Allah merupakan ungkapan yang menempatkan manusia dalam hubungannya yang khusus dengan Allah. Penciptaan manusia, sebagai laki-laki dan perempuan, merupakan suatu bagian integral (bulat dan utuh) dari keputusan Allah Tritunggal (lebih dari satu pribadi) untuk menciptakan manusia. Tidak ada indikasi dalam ayat-ayat yang dibahas yang menyatakan bahwa ada jenis kelamin yang lain, atau salah satu jenis kelamin lebih rendah daripada yang lainnya karena laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan segambar dengan Allah. Jika ada yang lain artinya
ada penyimpangan dan tidak sesuai dengan rancangan Allah. Allah menciptakan laki laki dan perempuan secara sempurna. Implikasinya, manusia dapat berhubungan sempurna, baik dengan Allah maupun dengan sesamanya. Persamaan derajat atau status antara laki-laki dan perempuan dibuktikan dengan adanya persamaan mereka sebagai ahli waris, baik atas gambar Allah maupun atas kekuasaan di bumi, baik dalam hubungannya dengan Allah maupun dalam tanggung jawabnya terhadap pengelolaan bumi. Bahkan berkat dan tugas pun tidak terbatas hanya kepada laki-laki
atau perempuan saja tetapi tanggung jawab itu ditempatkan di pundak keduanya.

Tak seorang pun dapat mengetahui tujuan sesungguhnya dari diciptakannya laki laki dan perempuan menurut gambar Allah sampai mereka mengetahui bahwa laki-laki dan perempuan adalah teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan. Oleh karena itu tinggallah di dalam kebenaran-kebenaran ini: Allah menciptakan kita menurut gambar-Nya; dan Allah menciptakan laki-laki dan perempuan agar kita dapat secara total, secara radikal dan secara unik melayani Tuhan serta memancarkan kemuliaan Allah. (RCM)

Refleksi :
Laki-laki dan perempuan diciptakan menurut gambar dan rupa Allah

BALAS KEJAHATAN DENGAN KEBAIKAN

Kamis, 22 Januari 2015

BALAS KEJAHATAN DENGAN KEBAIKAN

“Kalau orang berbuat jahat kepadamu, janganlah membalasnya dengan kejahatan. Buatlah apa yang dianggap baik oleh semua orang.”
(Roma 12:17)

Waktu masih sangat muda, sepertinya lebih mudah bagi saya untuk
memaafkan jika ada orang yang berbuat jahat atau melakukan kesalahan
kepada saya, namun ketika saya menjadi semakin tua, nampaknya lebih
mudah bagi saya untuk melupakan dari pada memaafkan jika orang lain melakukan hal buruk kepada kita. Maka dari itu tidak heran, dulu waktu saya muda saya mengamati orang tua saya berkelahi dengan kakaknya, dan akibat dari pertengkaran itu mereka bawa hingga ke liang kubur. Sedangkan anak-anak, hari ini bertengkar, esok mereka sudah jalan bersama kembali, seolah-olah semua kemarahan, kebencian atau hal buruk yang dilakukan sang teman hilang begitu saja.

Ayat di atas sangatlah menarik. Rasul Paulus dalam perikop nasehatnya menjelaskan tentang hidup dalam kasih. Pertanyaannya kasih yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus? Jika kita perhatikan kembali ayat di atas maka kasih yang dimaksudkan oleh Paulus jelas bukan kasih yang terjadi karena kita merasa cocok dengan orang, atau mengasihi orang yang melakukan banyak kebaikan kepada kita, namun sebaliknya ia mengatakan hal yang sangat ekstrim yakni mengasihi orang lain yang melakukan kejahatan kepada kita dengan cara tidak membalas kejahatan
tersebut dengan kejahatan. Pada bagian tidak membalas saja sebenarnya sudah susah, nasehat selanjutnya adalah dengan melakukan apa yang dianggap baik oleh semua orang.

Sebagai manusia yang hidup pada suatu kelompok, kita tidak luput dari adanya gesekan antara yang satu dengan yang lain. Konflik kepentingan, perbedaan budaya, prinsip, nilai, karakter dan lain sebagainya bisa jadi menjadi sumber-sumber pertengkaran dan bahkan menjadi permusuhan. Di dalam Gereja hal yang sama juga seringkali terjadi antar jemat, jemaat dengan majelis, majelis dengan pendeta, dan masih banyak hal terjadi. Pertanyaannya apa yang kita semestinya lakukan ketika hal itu terjadi? Sepertinya nasihat ayat di atas sangat jelas, bahwa kita harus mampu melakukan yang baik. (AT)

Refleksi:
Membalas kejahatan dengan kebaikan mengajarkan kita arti yang sebenarnya tentang mengasihi sesama.

INJIL KABAR BAIK

Rabu, 21 Januari 2015

INJIL KABAR BAIK

Inilah Kabar Baik tentang Yesus Kristus, Anak Allah. (Markus 1:1)

Injil Markus adalah kitab yang ditulis, berisikan tentang kisah kehidupan Yesus Kristus, yang menurut perkiraan dan menurut catatan Gereja mula-mula ditulis dari penuturan langsung Rasul Petrus. Injil ini ditulis ditujukan untuk menjangkau masyarakat Yunani, atau bangsa-bangsa lain yang menggunakan bahasa Yunani pada saat itu, agar mereka bisa mengenal tentang berita tentang Yesus Kristus Anak Allah tersebut.
Sangat menarik bahwa pada awal kitab tersebut ditulis pada ayat pertama,
menjelaskan bahwa Yesus Kristus Anak Allah adalah euaggelionatau kabar
baik. Sebelumnya kita telah membahas bagaimana Allah menciptakan dunia ini dalam keadaan baik. Namun sayang dalam kisah selanjutnya hal tersebut dirusak keseluruhannya oleh dosa. Dosa memisahkan manusia dengan Allah. Rasul Paulus dalam suratnya pada jemaat di Roma menjelaskan betapa pesimisnya manusia yang hidup di dalam dosa. Mereka akan berakhir dengan kebinasaan sebab tidak ada satu dari mereka mencari Allah. Namun Injil itu mengatakan hal yang sangat menggugah
yakni dalam Yesus Kristus, Anak Allah itulah kabar baik.

Pertanyaan sekarang, seberapa jauh kita memahami bahwa Yesus adalah kabar baik? Atau bagaimana kita bisa mengintegrasikan hal tentang Yesus Anak Allah sebagai kabar baik dalam kehidupan kita atau kehidupan umat manusia?

Paling tidak ada dua hal penting yang dapat kita integrasikan, pertama Yesus sebagai jalan keselamatan yang diberikan Allah sebagai Anugerah, sesuatu yang diberikan, yang hanya Allah saja yang berkehendak; yakni sebagai suatu kekuatan Allah yang merubahkan kehidupan kita menjadi manusia yang lebih baik, berorientasi pada Injil Kerajaan Allah, yakni sebuah semangat pembaharuan hidup dari dalam menuju kepada sesama. Yang kedua adalah melihat keteladanan hidup Yesus selama Ia ada di
dunia ini dalam pengajaran dan pelayananNya, bagaimana Ia telah mendedikasikan seluruh hidupNya, setia hingga kesudahannya. Dan melalui kebenaran Firman hal tersebut diperhitungkan Allah sebagai kabar baik. (AT)

Refleksi:
Jika Yesus adalah benar kabar baik, hal baik apa yang sudah Anda terima dan bagikan kepada orang lain?

BAIK MENURUT FIRMAN ALLAH

Selasa, 20 Januari 2015

BAIK MENURUT FIRMAN ALLAH

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”
(II Timotius 3;16-17)

Kata “baik” di dalam bahasa Ibrani adalah tov yang artinya menyenangkan,
menggembirakan, ramah, terutama menandakan sesuatu yg memberi
kebahagiaan atau kepuasan yg mendampakkan kepuasan estetika atau moral. Kemudian LXX atau Alkitab dalam bahasa Yunani menerjemahkan tov dengan agathos, kata Yunani biasa untuk menerangkan gagasan yg ‘baik’ sebagai kualitas jasmani atau moral, dan kadang-kadang menerjemahkannya dengan kalos harfiah cantik; Jadi baik dalam bahasa Yunani klasik maupun dlm Alkitab kata “baik” artinya adalah mulia, yang terhormat, mengagumkan, atau patut.

Seperti ayat di atas Firman Allah diberikan kepada manusia agar manusia dapat melakukan perbuatan baik. Dan baik menurut pengertian keseluruhan Alkitab adalah yang terkait dengan arti kata yang dijelaskan oleh kata dalam bahasa Ibrani tov atau agathos dalam bahasa Yunani. Allah sendiri dalam renungan sebelumnya dijelaskan dalam kitab Kejadian bahwa Ia menciptakan dunia ini dalam kondisi baik yang membuatNya berkenan.

Jadi dalam kehidupan kita di dunia ini, bekerja untuk menciptakan hal yang baik adalah tugas atau tanggung jawab kita seperti yang diamanahkan oleh tujuan Firman Allah diberikan dalam kehidupan manusia. Kita bisa melakukannya dalam profesi atau kapasitas kita, misalnya sebagai Dosen mengajar dengan baik untuk menghasilkan sebuah proses belajar yang baik bagi muridnya, atau sebagai orang tua bekerja secara bertanggung jawab untuk merawat dan menafkahi keluarganya, atau dalam peran, profesi atau jabatan yang lainnya. Sebaliknya menjadi manusia yang menciptakan kerusakan yang membawa dampak buruk dan ketidakbaikan dalam kehidupan manusia adalah hal yang bertentangan dengan Firman Allah. Melalui Firman Allah kita diajar agar kita bisa hidup dengan lebih baik, yang artinya pada saat yang sama kita sedang melawan hal-hal yang merusak dalam kehidupan kita. (AT )

Refleksi:
Hidup dan memberi pengaruh yang baik adalah tanggung jawab manusia yang sesuai dengan kebenaran Firman Allah.

ALLAH MENYEMBUHKAN DUNIA

Senin, 19 Januari 2015

ALLAH MENYEMBUHKAN DUNIA

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.(Yohanes 3:16)

Antibiotik adalah obat yang seringkali diberikan dokter kepada pasien pada
berbagai macam jenis penyakit. Antibiotik sendiri adalah sebuah senyawa,
yang tersedia secara alami maupun yang dibuat secara sintetik, yang memiliki manfaat untuk menekan atau menghentikan proses biokimia di dalam organisme, khususnya pada proses infeksi oleh bakteri. Dan seringkali antibiotik ini bekerja sangat mujarab menghindarkan kita pada kondisi yang lebih buruk.

Ketika dunia semakin tenggelam di dalam dosa, demikian yang dituliskan Rasul Paulus, seolah-olah tidak ada lagi harapan muncul bagi kebaikan hidup manusia, lalu Allah melakukan sebuah tindakan yang sangat luar biasa seperti yang tertulis dalam ayat di atas. Dikatakan karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, di mana kata yang digunakan adalah dalam bahasa aslinya adalah cosmos,yang artinya seluruh tatanan atau sistem yang ada di dunia ini, sedang menerima kabar baik dari Allah.Jadi salah jika kita mengatakan bahwa Allah mengasihi manusia, yang benar adalah Allah mengasihi seluruh ciptaanNya, dan melalui Yesus Allah memberikan harapan bagi dunia yang menuju kerusakan dan tenggelam di dalam dosa.

Hal itu kemudian memberikan pilihan kepada kita sebagai orang percaya, bukan hanya dalam artian tentang kehidupan kekal saja, namun juga dalam hal apakah kita mau memperbaiki dunia ini bersama dengan Allah, atau kita hidup di dalam kerusakan yang terjadi. Tentu saja itu adalah sebuah pilihan yang diberikan Allah kepada kita secara bebas. Kita bisa menggunakan hidup kita untuk kemuliaan Allah, membangun peradaban manusia yang lebih baik, melawan dosa dan kejahatan menjadi “pasukan antibiotik,” atau sebaliknya kita tenggelam ke dalam dosa dan kerusakan dunia dan turut merusaknya, yang celakanya seluruh kerusakan yang kita akibatkan terhadap alam misalnya justru membahayakan kehidupan manusia yang lain. (AT)

Refleksi:
Apakah kehidupanmu sudah kamu tujukan untuk membangun kehidupan atau malah merusak yang baik?

ALLAH DAN ALAM SEMESTA

Jumat, 16 Januari 2015

ALLAH DAN ALAM SEMESTA

Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam. (Kejadian 1:31).

Dari dulu hingga saat ini, dunia dibanjiri oleh penemuan-penemuan yang
merubah sejarah kehidupan manusia. Misalnya penemuan lampu pijar Thomas Alfa Edison (1847 – 1931) yang membawa kemajuan pada kehidupan manusia. Bayangkan gelapnya dunia ini di malam hari jika penemuan itu tidak terjadi. Lalu ada penemuan pesawat terbang oleh Wright bersaudara (Wright brothers) yakni Orville (1871 – 1948) dan (1912,Wilbur 1867) - yang membuat perjalanan di dunia ini menjadi semakin singkat dan dekat. Orang tidak perlu lagi menempuh waktu berharihari atau berbulan-bulan. Kita melihat bagaimana para penemu ini menemukan halhal yang baik dan sangat luar biasa manfaatnya bagi kehidupan manusia.

Pada kitab Kejadian pertama, kita menemukan bagaimana selama 6 hari Allah menciptakan seluruh dunia ini beserta isinya. Pada hari pertama: langit dan bumi diciptakan dan “Jadilah terang”. Hari kedua: Allah menciptakan cakrawala. Pada hari ketiga daratan dipisahkan dengan lautan; tumbuh-tumbuhan diciptakan. Hari keempat Matahari, bulan dan bintang diciptakan. Hari kelima: Binatang di lautan dan burung di udara dan pada hari yang keenam: Binatang dibumi, ternak dan binatang melata, Manusia pertama diciptakan yakni Adam dan Hawa. Dan di dalam keseluruhan tersebut sekaligus Allah menciptakan hukum alam dan hukum atau aturan sosial bagaimana alam berjalan misalnya melalui hukum gravitasi atau bagaimana manusia seharusnya hidup. Allah menyimpulkan bagi kita di dalam pengamatannya bahwa segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik.

Kita sungguh bersyukur bahwa melalui kemurahan Allah seluruh dunia ini telah diciptakan bagi kita manusia dan segala makhluk yang hidup di dalamNya. Tidak salah jika kemudian Raja Daud atau Rasul Paulus kemudian mengatakan bahwa kita bisa melihat kemuliaan Allah melalui ciptaan Allah atau alam semesta ini. Kita semakin sadar bahwa di balik kebesaran semesta atau jagad raya yang sangat dahsyat ini mencipta ada Allah yang Mahakuasa yang menciptakanNya. (AT)

Refleksi:
Sudahkah kita memperhatikan kedahsyatan alam semesta ini dan memahami bahwa Allahlah yang menciptakannya?

MEMANDANG DARI PERSPEKTIF ORANG LAIN

Kamis, 15 Januari 2015

MEMANDANG DARI PERSPEKTIF ORANG LAIN

“Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut  dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hambahamba Kristusyang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan. Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.“ ( Efesus 6:5-9 )

Tak dapat dipungkiri, apa yang kita pikirkan, apa yang kita lihat, dan apa yang kita pandang berangkat dari cara pandang atau perspektif diri kita sendiri. Kita pasti akan protes, jengkel, marah manakala hak dan kepentingan kita terganggu atau bahkan direbut oleh orang lain. Kita menjadi sangat peka ketika itu berkaitan dengan kepentingan dan hak kita. Tapi sebaliknya, masa bodoh terhadap hak dan kepentingan orang lain. Bahkan konflik pasti akan terjadi manakala ada dua fihak atau lebih yang masing-masing mempertahankan hak dan kepentingan. Misalnya, seorang anak akan merasa jengkel kepada orangtuanya saat kepentingannya ( soal kebebasannya) dibatasi oleh orangtuanya. Sebaliknya, orangtua marah kepada anaknya ketika hak wewenangnya merasa diabaikan oleh anaknya. Demikian juga antara karyawan dan pimpinan. Persoalan hak dan kepentingan seringkali menjadi sumber persoalan.

Dalam bacaan Alkitab kita hari ini dijelaskan tentang model hubungan antara hamba dan tuan. Hamba-hamba diminta untuk mentaati tuannya dengan takut, gentar, dan tulus hati seperti kepada Kristus. Demikian juga kepada tuan-tuan, perbuatlah juga demikian kepada mereka, ingatlah bahwa Tuhan kamu dan mereka ada di Sorga dan tidak memandang muka. Jadi prinsip hubungan yang sehat antara tuan dan hamba adalah masing-masing melakukannya sama seperti kepada Kristus. Pedoman ini ingin menekankan hubungan antara pimpinan dan karyawan adalah hubungan timbal balik, hubungan yang berpusat pada Kristus, dan kemampuan menilai, melihat, dan memandang dari perspektif orang lain.Karyawan bekerja secara maksimal dan profesional, dan pimpinan (majikan) memberi upah sesuai dengan kemampuan dan profesionalitas karyawannya. (AE)

Refleksi:
Mari kita belajar melihat dan memandang dari perspektif orang lain.