ORIENTASI PROSES

Rabu, 14 Januari 2015

ORIENTASI PROSES

“Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. (Matius 25:20-21)

Suatu pekerjaan seringkali diukur dengan hasilnya. Ukurannya bisa menggunakan prosentasi, nilai, atau ukuran-ukuran lainnya. Suatu pekerjaan bisa dipandang berhasil jika mencapai angka-angka dalam target tertentu.

Tapi ukuran yang dipakai oleh Tuhan Yesus dalam menilai suatu pekerjaan tidak melulu menggunakan ukuran hasil. Hal ini bisa kita lihat dalam perumpamaan yang menjadi bacaan Alkitab kita hari ini. Dikisahkan ada seorang tuan yang sebelum bepergian jauh mempercayakan sejumlah telenta kepada hamba-hambanya. Hamba yang pertama menerima lima dan membawa laba lima talenta. Hamba yang kedua menerima dua dan mendapatkan laba dua telanta. Sepintas terkesan melalui cerita ini pekerjaan diukur dari hasilnya, ada yang lima dan ada yang dua. Sebenarnya yang mendapatkan penekanan di sini bukan pada hasilnya, tapi komitmennya. Sikap tanggungjawab terhadap pekerjaan yang dipercayakan kepadanya, itulah yang terpenting. Karena itulah Tuhan Yesus menegaskan kepada hamba yang pertama dan kedua dengan mengatakan: “ hambaku yang baik dan setia”, bukan mengatakan:” hambaku yang berhasil…” Tapi terhadap hamba yang ketiga, Yesus mengatakan: “ hambaku yang bodoh…”.

Karena itu, aspek terpenting dari sebuah pekerjaan bukan semata-mata terletak pada hasilnya, namun sangat penting juga diperhatikan aspek komitmen, tanggungjawab, kesetiaan, kejujuran, dan keadilan. Seseorang yang melakukan pekerjaan tidak baik jika hanya terpaku pada hasil, apalagi hasil dicapai dengan cara yang tidak jujur dan tidak adil. Tentunya suatu keniscayaan dalam suatu pekerjaan ingin mendapatkan hasil yang baik, yang sempurna. Tapi hasil yang baik dan sempurna, tidak boleh mengabaikan kejujuran dan keadilan. (AE)

Refleksi:
Orientasi hasil tidak boleh abai terhadap orientasi proses.

POLA KERJA CENDEKIAWAN

Selasa, 13 Januari 2015

POLA KERJA CENDEKIAWAN

“ Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. MuridmuridNya bertanya kepadaNya: “ Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”. Jawab Yesus:” bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang, akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.”
( Yohanes 9:1-4 )

Kaum cendekiawan atau kaum intelegensia sering disebut sebagai kaum
terpelajar. Tentu sebutan ini tidak salah apalagi jika dikaitkan dengan dunia
pendidikan, karena sekolah-sekolah dan perguruan tinggi adalah tempat
berkumpulnya civitas akademika yang melakukan proses bejajar mengajar. Tapi sebutan kaum cendekiawan juga tidak identik dengan sekedar gelar, misalnya: strata 1, strata 2, strata 3, bahkan profesor. Demikiaan juga sebutan cendekiawan tidak selalu identik dengan orang-orang yang ketika berbicara suka menggunakan istilah istilah asing yang “ngejelimet” yang sulit dimengerti oleh orang lain supaya terkesan pintar. Kaum cendekiawan adalah orang yang memiliki ketajaman pikiran dalam memahami masalah dan memiliki kecakapan dalam mencarikan solusi dan jalan keluar. Inilah yang dinamakan: cendekiawan atau intelegensia.

Tentang pola kerja cendekiawan, kita bisa belajar dari Tuhan Yesus. Dalam perikop bacaan Alkitab kita ini dijelaskan, ketika Yesus sedang lewat di suatu tempat Ia melihat ada seorang yang buta sejak lahirnya. Lalu muridnya bertanya kepadaNya: “ Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang itu sendiri atau orangtuanya…”. Terhadap pertanyaan murid-muridnya itu Yesus memberikan jawaban, bukan dia dan bukan orangtuanya. Yesus tidak terjebak pada hal-hal yang memojokkan terhadap orang orang yang lemah dan tidak berguna. Yang terpenting bukan persoalan dosa siapa,
tetapi berfikir secara jernih dan mencarikan solusi terhadap persoalan yang terjadi. Itulah yang dilakukan oleh Yesus dan Ia menyembuhkan orang buta tersebut. Yesuspun memerintahkan kepada murid-muridnya untuk berbuat seperti seorang cendekiawan. Berfikir jernih terhadap persoalan dan mencarikan solusi.

Di dunia kampus, terlebih kita selaku warga kampus yang menyandang nama kristen kita wajib menjadi cendekiawan, seperti Yesus. (AE)

Refleksi:
Sudahkah Maranatha menjadi kampus kaum cendekiawan ?

PROSES MENJADI DEWASA

Senin, 12 Januari 2015

PROSES MENJADI DEWASA

“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya,karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.
Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan.aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan
sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Karena itu marilah kita, yang sempurna,berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.“ (Filipi 3:12-15).

Kapan seseorang disebut dewasa? Ada yang mengatakan setelah berumur 17 tahun, memiliki KTP, sudah bekerja dan memperoleh nafkah sendiri, bahkan ada yang mengatakan ketiika sudah menikah. Tapi aspek kedewasaan seseorang tidak melulu diukur oleh umur dan status. Hal-hal terpenting dalam mengukur kedewasan seseorang adalah menyangkut: perasaan, sikap, perilaku, pandangan, dan orientasinya. Pertama: orang yang dewasa adalah orang yang mampu mengenali dan menerima diri sendiri. Mengenali dan menerima kelemahan diri tanpa harus menjadi rendah diri dan menerima kekuatan diri tanpa harus menjadi sombong.
Kedua: orang dewasa adalah orang yang mampu mengenali orang lain. sebagai mahkluk sosial ia menyadari hidup bersama dengan orang-orang yang lainnya. Ketiga: orang dewasa adalah orang yang mampu mengarahkan hidupnya kepada orang lain. Bersikap peduli, perhatian, dan empati kepada orang lain. keempat: orang yang dewasa adalah orang mampu bertindak mandiri. Memiliki inisiatif, kreatif dan bertanggungjawab.

Rasul Paulus dalam bacaan kita menyatakan bahwa kedewasaan itu bukan
sesuatu yang sudah dia capai atau sudah selesai. Tapi kedewasaan bagi Paulus merupakan suatu “proses” menuju kearah yang lebih baik dan lebih sempurna. Karena itu ia berkata: “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna,  melainkan aku mengejarnya…” Bagi paulus menjadi dewasa adalah upaya terus-menerus sampai ia memperoleh hadiah yaitu panggilan sorgawi. Menjadi dewasa adalah sebuah proses, yaitu suatu proses yang tidak pernah berhenti. Kemandegan menjadi dewasa membuat kita tidak mampu mengenali dan menerima diri-sendiri, mengenali orang lain, dan bertindak mandiri. Karena itu, bertumbuhlah menjadi dewasa. (AE)

Refleksi:
Proses menjadi dewasa penting, demi membangun diri dan institusi

HIDUP DENGAN BIJAK

Jumat, 9 Januari 2015

HIDUP DENGAN BIJAK
“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Kembalilah, ya TUHAN–berapa lama lagi? –dan sayangilah hamba hamba-Mu! Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami. ( Mazmur 90:12-15)

Memento mori, sebuah ungkapan dalam bahasa Latin yang mengingatkan
seseorang tentang kematian. Bagi siapapun tentunya kematian adalah
sebuah kepastian. Hanya persoalannya, seringkali banyak orang tidak
mau tahu atau bahkan berpura-pura soal kematian. Banyak orang begitu takut membicarakan kematian, seolah-olah kematian itu adalah hal yang tabu untuk dipercakapkan. Padahal kematian itu ada di hadapan kita dan ia sedang menunggu kita. Ungkapan Latin memento mori, yang mengingatkan manusia mengenai kematian tentu tidak bermaksud mengajak kita “pasrah” menanti kematian. Justru dengan mengingat peristiwa kematian yang akan dialami oleh setiap orang, mengajak dan mendorong kita untuk menjalani dan mengisi hidup dengan bijaksana.

Pemazmur mengajak kita untuk menghitung hari-hari, artinya memang hidup kita ini terus berjalan seiring dengan putaran waktu. 10 tahun, 30 tahun, 50 tahun, 70 tahun dstnya., hidup kita berjalan menurut putaran kronosnya. Tetapi hidup kita tentu tidak sekedar jumlah tahun, tetapi bagaimana kita juga memperoleh hati yang bijaksana. Memaknai hidup sebagai kairos atau kesempatan memdapatkan hati yang bijaksana. Pemazmur menempatkan memento mori sebagai ungkapan permohonan, yakni permohonan kepada Tuhan supaya ia dapat menghitung harihari dengan bijaksana.

Menghitung hari-hari itu berarti memang hari-hari kita itu terbatas. Karena keterbatasan hari-hari hidup kita itulah maka pemazmur meminta supaya ia bisa belajar mengisinya dengan bijaksana. Inilah sikap pemazmur terhadap
kematian: ia tidak menjauhkan diri, dan juga tidak mendekatkan diri terhadap kematian. Yang dilakukannya adalah menjalani hidup dengan bijaksana.

Bagi kita, memento mori harus kita maknai bukan untuk mengintimidasi atau menakut-nakuti. Tapi, kita harus menjalani hari-hari dengan bijak dengan menjalankan dan melaksanakan tugas kita masing-masing semaksimal mungkin. (AE)

Refleksi:
Bijaksana artinya, kita BIJAK dalam menjalani hidup.

ALLAH ADALAH PUSAT

Kamis, 8 Januari 2015

ALLAH ADALAH PUSAT
Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di Sorga dan yang ada di Bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” ( Kolose 1:16 )

Suatu peristiwa yang berkesan yang terjadi dalam kehidupan kita biasanya mudah sekali untuk kita ingat. Apalagi peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang sangat monumental, misalnya peristiwa wisuda, perkawinan, dan kelahiran seorang anak di tengah-tengah keluarga kita. Peristiwa-peristiwa seperti ini akan menjadi peristiwa yang selalu kita ingat dan menjadi moment bersejarah dalam hidup kita. Namun, seringkali terjadi kita mengingat peristiwa-peristiwa yang berkesan dalam hidup kita, tapi kita melupakan Tuhan sebagai Pencipta. Ada banyak faktor yang menyebabkan mengapa kita sering melupakan Tuhan. Salah satu penyebabnya kita melupakan dan mengabaikan kehadiran Tuhan dalam setiap perkara kehidupan kita.

Kita merasa bahwa keberhasilan, kesuksesan, dan kelancaran yang kita raih semata-mata adalah jerih payah dan kerja kita sendiri. Akibat dari sikap yang seperti ini kita mengabaikan peran Tuhan dalam hidup kita dan memposisikan Tuhan berada di garis luar dari kehidupan kita.Hari ini melalui bacaan Alkitab, kita diingatkan bahwa Allahlah pencipta segala sesuatu, baik yang ada di Sorga maupun yang ada di Bumi, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, kekuasaan, kedudukan, pekerjaan, keluarga dllnya semuanya ada karena Allah dan semuanya untuk Allah. Teks Alkitab ini mengajak kepada kita untuk menempatkan Allah sebagai “ centre“ dari segala apapun yang umat pikirkan, katakan, dan lakukan. Sehingga kita terhindarkan dari sikap yang memposisikan dan menempatkan Allah berada di wilayah luar kehidupan kita. Tapi Allah menjadi pusat dalam hidup kita.

Menjadikan Allah pencipta sebagai pusat dalam kehidupan kita adalah cita-cita dan harapan yang terus ingin kita kejar dan konteks kehidupan kita selaku pribadi dan sekaligus kita sebagai warga UK. Maranatha. Allah sebagai pusat berarti kita mau dan siap menerapkan nilai-nilai kerajaan Allah dalam hidup pribadi kita dan dalam berbagai kebijakan di kampus ini. (AE)

Refleksi:
Janganlah kita menjadi seperti kacang yang lupa pada kulitnya!