MENGAKU DOSA

2015-02-28

MENGAKU DOSA

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan
mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”
(1 Yohanes 1:9)”

Pengakuan seorang yang merasa berdosa akan membuat dirinya lebih baik
daripada sebelumnya. Seperti pengakuan petobat dari “banci” yang bersaksi
bahwa hidupku jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku merasakan telah terjadi
suatu kebebasan dalam hidupku dari rasa ketakutan diketahui siapa diri aku oleh
orang lain termasuk keluarga. Pengakuan dosa adalah ungkapan kesadaran bahwa
kita berada di posisi yang salah di hadapan Tuhan.
Surat Yohanes dituliskan secara khusus untuk orang-orang Kristen yang sudah
bertobat dan menerima Kristus. Ayat di atas dalam bahasa Inggris He will forgive
our sins and cleanse us from all unrighteousness, artinya Tuhan akan mengampuni
semua pikiran, perasaan dan perbuatan yang tidak sesuai dengan ketetapanNya. Hal
ini sesuai dengan sifat Tuhan yang adil dan setia. Tuhan masih mau mengampuni,
tidak lagi mengingat-ingat pelanggaran kita apabila kita mengakui dosa kita di
hadapanNya. Bukan hanya itu, diri kita pun akan dibersihkan atau disucikan kembali.
Dalam ayat selanjutnya Yohanes mengatakan: “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan
kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa,
kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan
Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi
juga untuk dosa seluruh dunia.”
Sebagai ciptaan baru (excellence) seharusnya kita tidak lagi berbuat dosa. Tetapi
kalaupun kita kembali terjatuh, ingatlah bahwa kita punya Kristus yang akan bertindak
sebagai perantara atau pembela buat kita di hadapan Allah. Bersyukur, karena pintu
pengampunan masih dibuka lebar-lebar bagi anak-anakNya yang terperangkap dosa.
Namun yang perlu kita lakukan adalah mengakui dosa dengan jujur dan terbuka
kepada Tuhan, maka janji Tuhan akan mengampuni dosa dan menyucikan kita. (RZA)
Refleksi :
Mengakui dosa awal menerima pengampunan dosa.

TIDAK BERJUANG SECARA DUNIAWI

2015-02-27

TIDAK BERJUANG SECARA DUNIAWI

“Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang
secara duniawi.”
(2 Korintus 10:3)”

Slogan hidup adalah perjuangan bukanlah mimpi tetapi sebuah realita yang
dialami semua orang. Seorang ayah atau ibu yang bekerja untuk mencari
nafkah, seorang anak yang belajar untuk memperoleh nilai yang baik, seorang
olahragawan yang berlatih supaya menjadi juara. Perjuangan secara fisik seperti
mendapatkan uang, nilai atau piala lebih mudah dibandingkan perjuangan melawan
pikiran dalam diri seseorang.
Dalam nas hari ini Paulus mengajak jemaat di Korintus untuk tidak hanya melihat
hal-hal yang duniawi tetapi memperhatikan hal-hal yang rohani. Perjuangan rohani
dimulai dengan pola pikir di dalam Kristus. Orang yang hidup dalam Kristus memiliki
perjuangan yang sama yaitu melawan pikiran-pikiran yang bukan milik Kristus. Dalam
bagian ini Paulus mengajarkan seseorang dapat mengontrol pikiran yang datang
ke pikirannya. Ia tidak harus menjadi korban tak berdaya dari pikiran, perkataan,
spekulasi atau khayalan sia-sia yang menyerang pikiran kita. Setiap siasat orang
dibangun untuk keangkuhan manusia harus dipatahkan dan dirubuhkan, sebaliknya
pikiran kita ditaklukkan kepada Kristus (ay 5). Bagi Paulus, satu-satunya kekuatan
yang pada akhirnya dapat menundukkan seluruh hidup orang pada ketuhanan
Kristus adalah senjata rohani yang dilengkapi dengan kuasa Allah!
Sebuah realita yang tidak bisa dihindari bahwa setiap kita sebagai umat Tuhan
untuk terus berjuang melawan pikiran yang tidak sesuai dengan Kristus. Jika visi UK.
Maranatha “…berdasarkan kasih dan keteladanan Yesus Kristus” menjadi landasan
bagi setiap warga kampus untuk senantiasa mengerjakan apa yang sudah Yesus
lakukan di dunia ini dan khususnya tugas panggilan kita di dunia pendidikan untuk
melawan pikiran-pikiran yang duniawi atau pikiran yang bertentangan dengan
pikiran Kristus. (RZA)
Refleksi :
Perjuanganku adalah melawan pikiran yang bukan berasal dari Kristus.

SEMUA ORANG BERDOSA

2015-02-26

SEMUA ORANG BERDOSA

Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah
(Roma 3:23)”

Ada dua macam orang yang merasa dirinya benar, yaitu orang yang tidak
sadar bahwa dirinya berdosa dan orang yang merasa dirinya benar karena
menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain. Orang Yahudi umumnya
menganggap diri mereka benar karena mereka memiliki hukum Taurat dan mereka
telah berusaha sekuat tenaga untuk menaati tuntutan hukum Taurat. Jika setiap
orang di dunia ini menganggap diri benar, hal itu disebabkan karena mereka
menentukan sendiri apa yang benar dan apa yang tidak benar. Ditinjau dari ukuran
Allah, maka tidak ada seorang pun yang memenuhi standar, sehingga tidak ada
seorang pun yang benar!
Rasul Paulus menjelaskan semua telah berbuat dosa dan hilang kemuliaan Allah.
“kehilangan kemuliaan Allah” maksudnya tidak mencapai sasaran atau tidak mencapai
standar Allah. Kata-kata Paulus ini dapat dipahami berdasarkan pemahaman bahwa
dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang yaitu Adam yang mengakibatkan
semua orang menjadi berdosa. Hakekat manusia yang berada di bawah kuasa dosa
(ay 10) bahwa tidak ada yang benar seorang pun tidak. Mereka telah berdosa di
dalam spiritual, watak, pikiran, perkataan, tingkah laku, dan perbuatannya. Dosa
telah merasuk begitu dalam dan merusak sendi-sendi kehidupan manusia sehingga
kecenderungan manusia hanya untuk berbuat dosa dan menolak kembali kepada
Tuhan.
Suatu fakta krusial semua orang telah berbuat dosa menurut Alkitab. Namun Alkitab
juga menyatakan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan Cuma-cuma karena
penebusan dalam Yesus Kristus. Selagi ada kesempatan maka kita harus sadar dan
percaya kepada Yesus Kristus yang menjadi jalan pendamaian kita dengan Allah. (RZA)
Refleksi :
Hanya oleh penebusan Yesus Kristus kita dibenarkan.

APANYA YANG SULIT

2015-02-25

APANYA YANG SULIT

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai
kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”
(Matius 6:34)”

Sebuah pepatah berkata “sulit bukan berarti tidak mungkin”, tidak mungkin
untuk berubah, tidak mungkin untuk berkembang, tidak mungkin untuk
berjuang, tidak mungkin…dst. Yang menjadi masalah adalah apakah dengan
adanya kesulitan membuat seseorang stagnan. Kesulitan bersifat relatif karena
setiap kesulitan memiliki kadar yang berbeda misalnya kesulitan saya berbeda
dengan kesulitan orang lain. Penyebab utama adalah pikiran yang dibayangi dan
dibatasi oleh kekuatiran. Ada yang berpikir dengan hidup masa lalunya yang penuh
penderitaan atau yang berpikir hidup dengan masa depannya yang membuatnya
stress dan terbeban.
Dalam nas hari ini dikatakan kesusahan sehari cukuplah untuk sehari, menyatakan
bahwa kesusahan atau kesulitan yang dihadapi janganlah membuat seseorang kuatir
akan kehidupan ini. Pola pikir sangat memberi pengaruh dalam sikap dan tindakan
seseorang. Tuhan mengajak untuk setiap orang tidak kuatir dengan apapun karena
Allah yang mencukupkan segala kebutuhan manusia. Jika burung-burung dilangit,
yang tidak menabur dan tidak menuai diberi makan, apalagi kita yang dijadikan
segambar dan serupa dengan Allah.
Kesulitan adalah bagian dari pergumulan kehidupan manusia sampai akhir hidupnya.
Yang menjadi persoalan adalah berapa kuatirnya hidup kita dengan kesulitan yang
dihadapi. Di tengah-tengah situasi dan kondisi yang tidak menguntungkan dalam
masalah ekonomi, keluarga dan pekerjaan, Tuhan mengajarkan untuk tidak kuatir.
Tidak ada kesulitan apapun yang dapat menahan pemeliharaan Tuhan atas ciptaanNya termasuk UK. Maranatha jika ada di dalam tangan Tuhan.(RZA)
Refleksi :
Kesulitan apapun bisa ditangani di dalam tangan Tuhan.

HIDUP YANG DIKENDALIKAN

2015-02-24

HIDUP YANG DIKENDALIKAN

“Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana,
supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.”
(Roma 6:12)”

Makanan yang kita sukai kadang-kadang membuat kita tidak bisa
mengendalikan diri. Peristiwa ini terjadi saat saya melihat seorang anak kecil
yang sedang makan makanan kesukaannya sampai tidak mempedulikan
orang lain. Hal ini mengingatkan saya tentang keinginan yang harus dapat
dikendalikan. Keinginan yang dimaksud bukan hanya soal makan dan minum. Dalam
hidup manusia ada keinginan yang bersifat baik dan jahat. Setiap keinginan dalam
diri kita seharusnya mampu dikendalikan, akan tetapi realitanya seringkali keinginan
yang mengendalikan hidup manusia, akibatnya banyak persoalan yang muncul.
Dalam ayat 11 dikatakan bahwa kamu telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah
menjadi dasar bagi kita untuk menolak dosa dan tidak tunduk kepada kuasa dosa.
Ayat 12 berkata hendaklah dosa jangan berkuasa lagi, mengingatkan kita untuk tidak
membiarkan dosa berkuasa atas diri kita meskipun manusia memiliki tubuh yang
fana dan kesempatan untuk berbuat dosa tetapi seharusnya kita berani menolak
keinginan untuk berdosa. Sebagai orang yang sudah dikuasai oleh Roh Allah hidupnya
tidak dikuasai dosa tetapi ia percaya bahwa Allah akan memberikan kemampuan
untuk tidak melakukan berbagai keinginan jahat di dalam dirinya. Bukan sebaliknya
dosa masih berkuasa dan kita turut akan segala keinginan yang bertentangan dengan
firman Tuhan. Memang seringkali dosa berusaha memerintah terutama melalui
keinginan-keinginan tubuh, maka keinginan ini harus dilawan dengan iman kepada
Kristus. Hal yang bisa kita lakukan adalah bahwa hidup ini harus dikendalikan oleh
Allah yang hadir dalam hidup kita dan bukan sebaliknya dikendalikan oleh keinginan
dosa.
Sebagai warga kampus yang sudah mengenal Yesus Kristus secara pribadi maka
hidup yang dikendalikan menjadi sebuah keharusan dan diperlukan sikap serius bagi
setiap kita untuk melawan kecenderungan berdosa dan memohon pertolongan Roh
Allah untuk bisa menghadapinya. (RZA)
Refleksi :
Lebih baik mengendalikan keinginan dan bukan dikendalikan

KEINGINAN BERUJUNG MAUT

2015-02-23

KEINGINAN BERUJUNG MAUT

Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa;dan apabila dosa itu
sudah matang, ia melahirkan maut.
(Yakobus 1:15)
”

Keinginan tidak selalu merupakan dosa. Kalau kita mempunyai keinginan untuk
mentaati Tuhan, melayani Tuhan dan sesama itu merupakan keinginan yang
baik. Bahkan kalau kita mempunyai keinginan untuk tidur, makan, dsb (selama
dalam batas yang wajar), maka itu jelas bukan dosa. Tetapi ada banyak keinginan
yang bersifat dosa, seperti ingin barang orang lain (iri hati), ingin berzinah, ingin
membalas kejahatan dengan kejahatan dsb. Semua keinginan yang berdosa ini
akhirnya berujung kepada maut.
Dalam ayat ini Yakobus hendak memberitahu bahwa keinginan berdosa saja sudah
merupakan dosa apalagi jika keinginan itu dituruti, maka dosanya menjadi kelihatan.
Kata “˜Melahirkan dosa”™ artinya dosanya menjadi kelihatan. Jika sebelum keinginan
itu dibuahi, itu sudah merupakan dosa, tetapi dosa itu “˜masih dalam kandungan”™,
artinya dosa itu belum kelihatan. Tetapi pada waktu keinginan itu dibuahi, maka
dosanya “˜lahir”™ / menjadi kelihatan. Seringkali manusia menyerah terhadap tipu daya
keinginan seperti dalam ayat 14 dikatakan tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya
sendiri. Di dalam kehidupan kita sehari-hari, kita harus melalui berbagai pencobaan,
ada yang besar, ada pula yang kecil, ada yang terlihat nyata, ada pula yang
tersamarkan. Dan jika kita terus diseret dan dipikat oleh keinginan untuk berbuat
dosa maka ujungnya mendatangkan maut.
Karena itu, jika kita mempunyai keinginan berdosa, kitalah yang salah dan bukan
siapa-siapa! Yang harus kita lakukan adalah memohon ampun kepada Tuhan. Kita
harus bertobat! Sebagai warga kampus UK. Maranatha banyak pencobaan yang akan
kita hadapi, kita harus siap untuk bertahan menghadapi pencobaan dalam bentuk
apapun. Segala keinginan yang berhubungan dengan dosa harus ditolak dan bukan
melemparkan tanggung jawab kepada Tuhan. (RZA)
Refleksi :
Jangan selalu mencari kambing hitam dalam setiap dosa yang kita lakukan

DIBENARKAN DIHADAPAN ALLAH

2015-02-22

DIBENARKAN DIHADAPAN ALLAH

Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan
hukum Taurat adalah jelas, karena: “Orang yang benar
akan hidup oleh iman.”
(Galatia 3:11)”

Sebuah berita menyatakan bahwa Mahkamah Agung (MA) mengubah hukuman
penjara seumur hidup menjadi hukuman mati bagi Wawan, pembunuh sadis
Sisca Yofie. Vonis ini dijatuhkan oleh trio hakim agung Gayus Lumbuun-Artidjo
Alkostar-Margono. “Vonis mati ini sesungguhnya tidak hanya ditujukan kepada
terdakwa tetapi juga warningkepada masyarakat agar jangan sampai meniru
melakukan pembunuhan seperti itu,” kata komisioner Imam Anshori Saleh saat
berbincang dengan detikcom, Rabu (12/11/2014). Respon terhadap putusan hakim
tentunya beragam karena dari pihak keluarga terbunuh mungkin setuju tetapi pihak
keluarga yang menjalani vonis mungkin merasa tidak adil. Apapun respon yang
terjadi, kita belajar bahwa pernyataan benar atau salah adalah sebuah fakta yang
tidak bisa dipungkiri.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan setiap orang yang ingin dibenarkan di hadapan
Allah adalah ia hidup oleh iman. Seorang yang benar di hadapan Allah bukan karena
ia telah melakukan hukum taurat tetapi hidup oleh iman di dalam Yesus Kristus. Jika
hidup orang itu dibenarkan oleh hukum, maka hidupnya ditentukan dengan tindakan
dan hukum yang berlaku. Hukum Taurat yang diberikan oleh Allah sebagai penuntun
bagi kita sampai Kristus datang supaya kita dibenarkan. Jadi Allah menerima kita
sebagai orang benar bukan karena kita melakukan hukum taurat tetapi karena Allah
memandang kita dalam Kristus Yesus.
Hal yang penting dalam kehidupan manusia adalah dibenarkan oleh Allah bukan
karena merasa benar atau dibenarkan oleh teman, kerabat atau pimpinan kita.
Orang yang sudah dibenarkan oleh Allah tentunya akan melakukan hal-hal yang
benar bukan karena tidak mau dipersalahkan atau dianggap orang yang benar. (RZA)
Refleksi :
Manusia dibenarkan oleh Allah, bukan karena perbuatannya

MENYALIBKAN DAGING

2015-02-21

MENYALIBKAN DAGING

“Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan
segala hawa nafsu dan keinginannya.
(Galatia 5:24)”

Banyak orang Kristen menyukai aksesoris salib, karena salib adalah lambang
orang yang percaya Kristus. Salib bukan hanya di gereja tetapi juga banyak
dipajang di rumah orang Kristen. Bagi orang Kristen salib merupakan sesuatu
yang sangat penting karena tanpa salib tidak ada kematian Kristus dan tidak
ada pengampunan bagi orang berdosa. Pengorbanan Kristus di kayu salib yang
memberikan kemenangan bagi manusia harus di respon dengan melakukan ketaatan
kepada-Nya.
Nas hari ini mengatakan bahwa seorang yang menjadi milik Kristus telah menyalibkan
daging. Ayat 19 dikatakan perbuatan daging telah nyata yaitu percabulan, kecemaran,
hawa nafsu, penyembaan berhala, sihir, perselisihan, kedengkian dsb harus
dikalahkan. Orang yang menjadi milik Kristus hidupnya dikendalikan dan dipimpin
oleh Roh Allah bukan sebaliknya dipimpin oleh segala hawa nafsu dan keinginan
berdosa. Meski diakui bahwa keinginan daging selalu mendominasi hidup kita tetapi
firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa bagi siapapun yang hidupnya masih
dikuasai oleh keinginan daging tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
Dengan kata lain orang ini tidak mau menyalibkan keinginan daging dengan hawa
nafsunya. Jika ia hidup oleh Roh maka ia tidak akan menuruti keinginan daging.
Sebagai warga kerajaan Allah, sudah seharusnya kita menyalibkan daging dengan
segala hawa nafunya. Melawan keinginan daging merupakan proses pembentukan
karakter dalam diri kita yang harus dilakukan terus menerus. Hal ini tidak mudah
karena perlu perjuangan dan pengorbanan diri tetapi dengan pertolongan Roh Allah
yang hadir dalam setiap orang yang dimiliki oleh Kristus maka kita dimampukan
menyalibkan keinginan daging. (RZA
Refleksi :
Sudahkah kita menjadi milik Kristus, dengan menyalibkan hawa nafsu kita?

SEGALA SESUATU DIPERBOLEHKAN

2015-02-20

SEGALA SESUATU DIPERBOLEHKAN

Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala
sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan
segala sesuatu membangun.
(1 Korintus 10:23)
”

Pembenaran terhadap kegiatan yang tidak secara tegas dilarang dalam Alkitab
seperti narkoba, merokok, tato atau pria beranting seringkali membuat
seseorang merasa boleh karena itu adalah hak pribadi dan tidak merusak
keberadaan orang lain. Seringkali orang ini menganggap bahwa yang penting apa
yang saya lakukan itu tidak menganggu atau merugikan orang lain. Prinsip ini menjadi
dasar pembenaran atas apa yang hendak mereka lakukan tanpa mempertimbangkan
keberadaan orang lain.
Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus bahwa segala sesuatu diperbolehkan
tetapi bukan segala sesuatu berguna dan membangun. Berguna bukan hanya bagi
diri sendiri tetapi bagi orang lain. Apapun yang dilakukannya bisa memberi manfaat
bagi orang lain dan bahkan hidupnya membangun orang lain. Paulus mengajak setiap
orang untuk tidak mencari keuntungannya sendiri tetapi keuntungan orang lain.
Bukan sebaliknya memiliki sikap yang merasa benar dan tidak peduli keberadaan
orang lain. Menganggap itu boleh karena itu adalah kesukaan dan hak pribadi tanpa
mempertimbangkan apakah itu berguna dan membangun orang lain, sikap seperti
ini tentunya tidak dikehendaki oleh Tuhan.
Sebagai orang yang mengenal Tuhan, apakah kita sering berpikir dan bertanya dalam
diri kita bahwa tindakan kita hanya berguna untuk kepentingan pribadi tetapi orang
lain tidak? Orang yang mengenal Tuhan akan bertindak bijaksana, Ia akan berusaha
untuk memuliakan Tuhan dengan segala hal yang dilakukannya dan berguna bagi
orang lain. Kehidupan seseorang yang sudah mengalami pembaharuan hidup maka
segala tindakan yang ia lakukan meskipun boleh tetapi akan bertanya apakah ini
berguna dan membangun bagi diri sendiri dan sorang-orang di sekitarnya khususnya
di lingkungan kampus UK. Mararatha. (RZA)
Refleksi :
Berusaha menjadi pribadi yang menjadi contoh teladan.

BERASAL DARI ALLAH

2015-02-19

BERASAL DARI ALLAH

Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa;
tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya,
dan si jahat tidak dapat menjamahnya.
(1 Yohanes 5:18)”

Salah satu ciri khas masyarakat Indonesia adalah semangat gotong royong. Hal
ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan rasa tanggung jawab bersama. Baik
dalam lingkungan keluarga maupun dalam lingkungan masyarakat, banyak orang
asing terkesan dengan masyarakat Indonesia yang ramah dan memiliki semangat
gotong royong. Semangat ini bisa dilihat dari kehidupan masyarakat pedesaan
seperti menuai padi, acara pernikahan, membangun rumah dan sebagainya. Bagi
bangsa Indonesia semangat gotong royong harus diwariskan dari generasi ke
generasi karena itu adalah warisan leluhur.
Nas hari ini mengatakan bahwa setiap orang yang lahir dari Allah atau berasal dari
Allah akan mewarisi sifat Allah yaitu “tidak berbuat dosa.” Maksudnya orang yang
berasal dari Allah akan menjauhkan diri dari perilaku dosa. Ia tidak akan mencurahkan
pikiran dan energi untuk hal-hal yang berbau dosa. Ia tidak mau menjadi hamba
dari dosa. Versi bahasa Inggris dalam bentuk present continousyang berarti setiap
orang yang berasal dari Allah tidak memiliki kebiasaanuntuk berbuat dosa. Dengan
kata lain bahwa kondisi sebagai orang yang berasal dari Allah tidaklah cocok untuk
melakukan dosa apapun. Selain itu Allah berjanji akan melindungi setiap orang yang
berasal dari Allah dan Iblis tidak dapat menjamahnya. Sebuah jaminan istimewa
yang diberikan bagi seseorang yang lahir dari Allah.
Setiap kita yang merasa berasal dari Allah, tidak boleh tunduk kepada kejahatan
dan membiasakan diri dengan berbuat dosa. Berbagai tantangan hidup seperti
kemakmuran, kenikmatan, kepentingan pribadi akan menghancurkan seseorang
jika ia tidak berpegang teguh dalam identitasnya yaitu berasal dari Allah. Sebagai
warga kampus yang sudah mengenal Allah dan mengerti identitas dirinya berasal
dari Allah, maka ia tidak akan terbiasa untuk melakukan hal-hal yang berbau dosa
dan menjerumuskan dirinya kepada dosa. (RZA)
Refleksi :
Orang yang berasal dari Allah tidak terbiasa berbuat dosa