PENGAKUAN DOSA

2015-02-18

PENGAKUAN DOSA

Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa
yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih
dalam penghukuman-Mu.
(Mazmur 51:6)”

Berbagai kasus korupsi yang seringkali terjadi adalah pada saat seseorang
memiliki posisi dan kenyamanan dalam hidupnya. Secara sadar atau tidak
kedudukan dan kenyamanan bisa menjadi salah satu godaan seseorang untuk
melakukan korupsi. Menurut wikipedia korupsi dari bahasa latin corruptiodari kata
kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik,
menyogok adalah tindakan pejabat publik, baik politisimaupun pegawai negeri,
serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak
legalmenyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk
mendapatkan keuntungan sepihak. Konsep bagi orang Israel, dosa yang dilakukan
kepada sesama manusia dipercaya sebagai dosa yang menentang Allah.
Mazmur ini merupakan pengakuan dosa Daud. Dalam kondisi yang nyaman sebagai
seorang raja, Daud lupa diri sehingga dia menyuruh orang untuk mengambil Batsyeba,
istri Uria dan berhubungan seks dengan wanita itu sehingga hamil. Dosa raja Daud
bukan hanya melakukan perzinahan, tetapi juga merancang pembunuhan Uria, suami
Batsyeba untuk menutupi dosanya. Kebusukan Daud ini tidak bisa disembunyikan
di hadapan Tuhan. Tuhan mengetahui seluruh pikiran dan perbuatan Daud sehingga
Tuhan mengutus nabi Natan untuk menegur Daud. Setelah mendengar teguran
Tuhan melalui nabi Natan, Daud menyesal, bertobat, dan mengaku dosa di hadapan
Tuhan.
Dalam kurun waktu tertentu usaha seseorang untuk menutupi kebusukan di depan
manusia mungkin bisa dilakukan tetapi kebusukan itu tidak akan bertahan lama dan
yang pasti tidak bisa disembunyikan di hadapan Tuhan. Tuhan mengenali seluruh
pikiran dan perbuatan kita yang berdosa. Yang perlu kita lakukan adalah mengakui
semua dosa kita, memohon supaya Tuhan memperbaharui hati dan pikiran kita.
Dengan hati yang terus menerus diperbaharui akan menolong setiap kita sebagai
warga kampus untuk tidak melakukan perbuatan yang jahat dan tidak berusaha
senantiasa menyembunyikan sesuatu yang busuk. (RZA
Refleksi :
Pengakuan dosa adalah langkah awal bagi kita untuk dipulihkan oleh Allah.

PERTANGGUNGAN JAWAB

2015-02-17

PERTANGGUNGAN JAWAB

” Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab
tentang dirinya sendiri kepada Allah.”
(Roma 14:12)”

Ketika kita dipercayakan untuk melaksanakan suatu tugas maka setelah kita
menyelesaikan tugas tersebut kita akan mempertanggungjawabkan tugas
tersebut kepada si pemberi tugas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi
apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb).
Paulus mengutip Yesaya 45:23 untuk menunjukkan bahwa manusia harus
menghadap penghakiman Allah, lalu Paulus mengatakan, “Setiap orang di antara
kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.”
Pertanggungan jawab yang akan kita berikan adalah tentang diri sendiri. Paulus
cukup mengetahui kebutuhan orang-orang percaya di Roma. Jangkauan dari
nasihat-nasihat itu menakjubkan. Nasihat-nasihat itu menyentuh nyaris setiap
segi kehidupan. Cara hidup Kristen adalah benar-benar menjadi orang Kristen dan
bertindak sebagaimana seharusnya orang Kristen di setiap bidang kehidupan. Di
dalam bagian ini Paulus membahas berbagai sikap yang dimiliki oleh dua kelompok
orang Kristen satu terhadap yang lain. Mengenai masalah-masalah yang ditetapkan
oleh agama – soal makanan, soal memperhatikan hari-hari tertentu – orangorang Kristen yang lebih dewasa pada zaman Paulus menganggap hal-hal ini tidak
penting. Orang Kristen yang lebih lemah, yang belum memiliki standar yang kokoh
bagi nuraninya dan masih mencari-cari jalan, merasa sangat terganggu oleh sikap
saudara-saudaranya yang lebih kuat. Akhirnya Paulus mengatakan bahwa tiap orang
akan memberikan pertanggungjawaban masing-masing pada saat bertemu Tuhan.
Kita sebagai Pengikut Kristus, pribadi lepas pribadi bertanggung jawab penuh atas
diri kita sendiri dan segala perbuatan kita; serta sesuatu yang kita peroleh dari Tuhan,
yaitu Anugerah, Kasih Karunia dan Keselamatan. Tanggung jawab adalah respon
positif dan nyata terhadap tugas dan pekerjaan yang diemban, dalam hal ini kita
sebagai orang Kristen terpanggil dan bertanggung jawab atas kehidupan kita sebagai
gambar Allah untuk ambil bagian dalam rencana-rencana Allah yang luar biasa. (RCM
Refleksi :
Hiduplah sebagai anak-anak Tuhan yang mengerti tanggung jawab dan fungsi
sebagai orang-orang Kristen serta mengerti makna kekristenan melalui tingkah laku,
kata-kata dan cara hidup yang benar

TAHU YANG BAIK DAN YANG JAHAT

2015-02-16

TAHU YANG BAIK DAN YANG JAHAT

” Berfirmanlah TUHAN Allah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah
satu dari Kita,tahu tentang yang baik dan yang jahat”
(Kejadian 3:22a)”

Sejak kecil manusia punya naluri ingin tahu yang amat besar. Anak-anak yang baru
bisa bicara akan memberikan pertanyaan apa ini, apa itu, buat apa, mengapa
dan pertanyaan lainnya. Hal ini seringkali membuat cukup repot para orang tua
untuk menjawabnya. Ketika anak bertumbuh semakin besar mereka mulai memiliki
pengetahuan yang makin banyak dan makin luas serta tahu apa yang baik serta apa
yang jahat yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat yang ada disekitarnya
Tuhan meletakkan pokok pengetahuan tentang yang baik dan jahat di taman Eden
untuk memberikan Adam dan Hawa pilihan untuk mentaati atau tidak mentaatiNya. Adam dan Hawa memilih tidak taat pada perintah Allah dan telah memutuskan
untuk menyejajarkan diri mereka dengan Allah dan menentukan sendiri normanorma mereka. Karena kejatuhan, manusia dalam arti tertentu terlepas dari Allah
dan mulai membedakan sendiri antara yang baik dan jahat. Tetapi waktu manusia
mengetahui apa yang jahat, maka semua kejahatan, bencana, ketidaknyamanan,
tekanan, kesedihan, penderitaan, kesakitan dan kemampuan untuk berbuat salah
itu terjadi dalam hidupnya. Dengan kata lain, ketidaksempurnaan ada dalam hidup
manusia. Tetapi sebenarnya, jika manusia tidak mengetahui apa yang baik pun, ia
tetap dapat melakukan apa yang baik, karena itulah yang Allah perintahkan. Justru
dengan tidak mengetahui apa yang baik dan yang jahat sebenarnya manusia hanya
mengetahui apa yang baik saja. Pengetahuan akan yang baik itu tidak didapatkan dari
akal budinya sendiri (berasal dari manusia), tetapi berasal dari Allah yang memang
merancangkan yang baik untuk manusia.
Potensi moral manusia diberikan oleh Allah. Semula, manusia diciptakan sebagai
makhluk yang bermoral supaya manusia dapat memancarkan kesucian Allah. Allah
memberikan potensi moral sebagai suatu hak, suatu esensi dalam hakikat sebagai
manusia. Moralitas manusia sangat dibutuhkan dalam hubungannya dengan diri
sendiri, dengan sesama, dan juga dalam hubungannya dengan alam semesta. Bagi
kita manusia yang mengenal siapa Allah kita, patokan baik dan jahat adalah sesuai
dengan firman Allah. Berdasarkan firman Allah, kita tahu bahwa pencapaian terbaik
adalah jika kita mencapai tujuan yang Allah berikan dalam hidup kita.(RCM
Refleksi :
Pengetahuan yang baik dan jahat berdasarkan terang firman Tuhan

LEBIH DARI MAHLUK HIDUP LAINNYA

2015-02-15

LEBIH DARI MAHLUK HIDUP LAINNYA

” Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan
tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makanoleh Bapamu yang
di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?”
(Matius 6:26)”

Apakah Anda pernah melihat burung mengalami nervous breakdownatau
kekuatiran? Tentu saja tidak, burung-burung tidak pernah merasa kuatir .
Mereka menjalani kehidupan apa adanya dan Allah memelihara burungburung itu. “Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?”. Benar, kita jauh
lebih berharga dari banyak burung. Kita jauh lebih berharga dari pada tumbuhtumbuhan, binatang, dan segala ciptaan lainnya. Allah telah memberi kita nilai dan
kemuliaan yang tak dimiliki oleh ciptaan lainnya.
Dalam nas ini Tuhan Yesus menguatkan lagi kepercayaan akan Bapa di Sorga dengan
jalan menunjuk kepada burung-burung. Walaupun burung itu tidak menjalankan
pekerjaan petani (menabur, menuai, lalu mengumpulkan dalam lumbung), namun
binatang itu menerima makanan dari Tuhan. Kalau Tuhan memelihara binatang itu,
apalagi anak-anak-Nya. Ia pasti memelihara mereka. Orang-orang itu telah menjadi
anak-anak Allah, sebab kepercayaannya/ keimanannya mempunyai tempat yang
lebih penting daripada burung-burung. Tuhan Yesus di sini tidak menganjurkan
supaya kita tidak bekerja. Sebab burung-burung juga “bekerja” dalam mencari
makanan. Tuhan Yesus hanya mau menghilangkan kekuatiran dan kegelisahan kita
dan menggantikan itu dengan kepercayaan. Kuatir adalah dosa! Ini adalah sebuah
kebenaran yang nyata, oleh sebab itu Alkitab berkali-kali memerintahkan, “Jangan
kuatir!” Kekuatiran tidak mengerjakan kebaikan sedikitpun.
Ketika kita berjalan dekat dengan Yesus hari demi hari, kita menemukan istirahat
dan ketenangan. Tapi ketenangan batin tidak kita dapatkan ketika kita berjalan ke
sana-kemari, menghabiskan waktu untuk mengejar hal-hal duniawi. Sebaliknya,
dunia justru dapat menghancurkan kita dengan banyak masalah dan membuat kita
takut. Surat-surat kabar tidak memberi kita kabar baik! Tapi Tuhan berkata, “Jangan
takut!” Ketika kita menghadapi hari kita, jangan pernah melewatkan sumber berkat
yaitu Tuhan. Tuhan sangat mengasihi kita dan tahu kebutuhan kita yang sebenarnya,
apakah itu kebutuhan fisik, sosial atau keuangan juga kebutuhan-kebutuhan lainya.
Jadi datanglah kepada Tuhan dalam iman, berikanlah beban kita kepada-Nya, carilah
wajah-Nya, dan pujilah nama-Nya! (RCM)
Refleksi :
Hidup kita lebih berharga dari pada ciptaan Allah yang lainnya

KASIH

2015-02-14

KASIH

” Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi,sebab kasih itu
berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal
Allah.”
(1 Yohanes 4:7) ”

Tanggal 14 Februari dikatakan sebagai “˜Hari Kasih Sayang”™. Banyak orang
ikut-ikutan dengan tradisi untuk menyampaikan rasa kasih pada momen ini,
Bukankah kasih itu harus dipraktekkan setiap saat sebagai anak-anak Allah?
Allah adalah sumber kasih dan kasih adalah natur Allah (ayat 8). Barangsiapa yang
menyatakan bahwa ia lahir dari Allah atau bahwa ia mengenal Allah, ia harus
mengasihi saudara-saudara seiman sebagai sesama anggota tubuh Kristus. Yohanes
dengan tegas mengatakan, jika tidak ada kasih kepada umat Allah di dalam hati
kita, jangan pernah menyatakan bahwa kita mengenal Allah. Meski kasih itu belum
sempurna, harus tetap dinyatakan dan harus tetap bertumbuh. Kasih tak bersyarat,
seharusnya dimiliki oleh semua orang dan ditujukan untuk siapapun. Walaupun kasih
merupakan suatu aspek dari buah Roh dan bukti kelahiran baru, kasih juga adalah
sesuatu yang harus kita kembangkan. Oleh karena itu, Yohanes menasihati kita untuk
saling mengasihi, memperhatikan sesama dan berusaha memajukan kesejahteraan
mereka. Yohanes tidak berbicara mengenai itikad baik, tetapi mengenai keputusan
dan sikap untuk menolong orang lain.
Karena kita adalah anak-anak Allah dan kita mengalami kehadiran-Nya di dalam hidup
kita, maka seharusnya kita merefleksikan karakter Bapa yang adalah kasih. Orang
yang mengasihi membuktikan bahwa ia telah lahir dari Allah. Kita harus berusaha
untuk mengasihi ketika tiap syaraf di dalam tubuh kita berdenyut di dalam kebencian
dan keinginan membalas dendam. Jika kita ingin lebih mengasihi, kita perlu belajar
lebih dekat dengan Allah. Sebaliknya, kita tidak dapat bertumbuh dalam pengalaman
kita dengan Allah tanpa mengasihi satu sama lain. Jika kita sudah mampu mengasihi,
kita mesti bersyukur pada Allah. Namun jika kita merasa kurang mengasihi, kita harus
berdoa, meminta Allah mengubah hati kita. Dengan kasih, kita akan menemukan
sukacita yang lebih besar di dalam hidup. Kasih adalah kekhasan anak-anak Allah,
oleh karena kasih adalah kekhasan Allah. Ada pepatah yang mengatakan, “Buah
jatuh tak jauh dari pohonnya”. Pepatah tersebut ingin mengatakan bahwa karakter
seorang anak tidak jauh berbeda dibandingkan dengan orangtuanya. Marilah kita
mengasihi sesama di setiap waktu karena kita adalah anak-anak Allah. (RCM
Refleksi :
Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri

TAHU BERTERIMA KASIH

2015-02-13

TAHU BERTERIMA KASIH

” Aku bersyukur kepada-Muoleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa
yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.”
(Mazmur 139:14)”

Kata “terima kasih” merupakan kata yang penting, tapi seringkali diabaikan
dalam kehidupan kita. Ingat ketika masih kecil, kita diajarkan oleh orang tua
kita untuk mengucapkan terima kasih. Ungkapan terima kasih bisa dinyatakan
juga dengan cara bersyukur. Bersyukur bukan berarti melihat bukti-bukti yang telah
kita alami dalam hidup ini. Bersyukur lebih dari melihat apa yang kita alami, dan
merasakan anugerah Tuhan yang seharusnya tidak patut kita terima, tetapi kita telah
menerimanya. Bersyukur adalah hati yang berserah pada Tuhan meski hidup kita
mengalami banyak persoalan tetapi kita percaya bahwa Tuhan akan menolong kita.
Mazmur ini menguraikan berbagai aspek dari sifat-sifat Allah, khususnya
kemahahadiran dan kemahatahuan-Nya sejauh sifat ini terkait dengan pemeliharaan
umat-Nya. Betapa pemazmur sangat diberkati saat mengakui pengaruh Allah dalam
kehidupannya yang luar biasa. Rasa syukur kepada Bapa di Surga memperluas persepsi
dan memperjelas pemahaman pemazmur akan keberadaan Allah. Pemazmur
bersyukur karena menyadari bahwa kejadiannya dahsyat dan ajaib. Itu mengilhami
kerendahan hati dan mengembangkan empati terhadap sesama manusia dan semua
ciptaan Allah yang lainnya dan melihat dirinya sebagai bagian dari ciptaan Allah yang
luar biasa dan sudah sepatutnya dinyatakan dalam ungkapan syukur.
Bersyukur adalah senantiasa memandang kepada Tuhan ketika kita mengalami
persoalan hidup. Bukannya mengeluh, menuduh atau marah kepada Tuhan, atas apa
yang telah kita alami. Belajar semakin rendah hati untuk mengerti maksud Tuhan
dibalik masalah tersebut.
Bersyukur tidaklah mudah dipraktekkan. Bersyukur adalah proses belajar dalam
hidup kita. Seberapa seringkah kita bersyukur, dibanding dengan berapa banyak kita
marah, tidak puas, mengeluh dan lain sebagainya? Bukan itu saja, seberapa seringkah
kita bersyukur ketika kita menikmati berkat Tuhan ? Betapa kecil ataupun betapa
besar hal-hal yang kita nikmati dalam hidup ini, adalah berkat yang dicurahkan
dan diambil dari tangan Tuhan. Inilah mengapa ucapan syukur, merupakan elemen
penting dari hidup kita. Ucapan syukur adalah tanda terima kasih kita. Bersyukur
tidak harus selalu mempersembahkan uang, tenaga, pikiran atau waktu. Tetapi yang
terpenting adalah rasa syukur yang tulus dari dalam hati. (RCM
Refleksi :
Rasa syukur yang tulus merupakan ungkapan terima kasih kepada Allah

HOLISTIK

2015-02-12

HOLISTIK

” Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu
dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”
(Markus 12:30)”

Manusia adalah makhluk holistik. Ini memiliki makna bahwa manusia adalah
makhluk yang utuh atau menyeluruh yang terdiri atas unsur biologis,
psikologis, sosial dan spiritual.
Di dalam hukum kasih pada nas hari ini ada satu kata yang diulang 4 kali, yaitu
kata “segenap”. Kata “segenap” hanya digunakan untuk mengasihi Tuhan, tidak
digunakan untuk mengasihi sesama atau sesuatu. Artinya, kasih kita kepada Tuhan
harus lebih besar dari pada kasih kepada seseorang atau kepada sesuatu. Dalam
bahasa Ibrani, kata ini berasal dari kata “holos” “Holos” paling tidak memiliki tiga
makna yang sangat mendalam yaitu :
Pertama, berarti lengkap atau keseluruhan. Mengasihi Tuhan dengan keseluruhan
hati, keseluruhan jiwa, keseluruhan akal budi, dan keseluruhan kekuatan. Jika hati,
jiwa, akal budi, dan kekuatan masih terbagi-bagi untuk mengasihi dunia ini, mengasihi
kedagingan, mengasihi harta, dan semua hal selain Tuhan, maka sesungguhnya kita
belum melakukan hukum yang terutama ini. Menegaskan perkataan Yesus agar
kita mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi, itu berarti
pada diri manusia terkandung aspek lahirian dan non lahiriah; aspek material dan
non-material dalam satu kesatuan. Hati biasanya dianggap sebagai pusat kehidupan
dalam diri manusia, tempat pertimbangan, perasaan, dan sikap, juga kehendak.
Jiwa, biasanya diartikan sebagai perasaan. Kekuatan terkait dengan fisik, jasmani,
penginderaan, sistem syaraf dan endokrin. Akal budi merupakan komponen yang
membuat manusia mengerti dan memahami.
Kedua, menyatakan tentang sempurna atau menyeluruh, yang dimaksudkan adalah
dalam hal kuantitas, waktu, tingkatan, atau kadar sesuatu. Kualitas dan kuantitas
kasih kepada Tuhan harus sempurna dalam hati, dalam jiwa, dalam akal budi, dan
dalam kekuatan.
Ketiga, mengungkapkan makna yang dalam tentang hal-hal kecil. Saat kita menyatakan
mengasihi Tuhan, maka kita harus menghidupi kasih itu sampai kepada hal-hal kecil
yang kita lakukan dalam hidup kita. Tidak bisa kita mengasihi Tuhan di gereja, tetapi
tidak mengasihi-Nya di pekerjaan kita. Adalah munafik jika kita mengasihi Tuhan di
hari Minggu, tetapi di hari lainnya kehidupan kita tidak menunjukkan kasih kepada
Dia. Mengasihi Tuhan harus kita tunjukkan sampai kepada hal-hal kecil dalam hidup
kita.(RCM
Refleksi :
Kita harus mengasihi Allah secara holistik

MENGUJI SEGALA SESUATU

2015-02-11

MENGUJI SEGALA SESUATU

” Ujilah segala sesuatudan peganglah yang baik.”
(1 Tesalonika 5:21)”

Emas yang dijual terkadang bilangan karat yang dimilikinya tidak menunjukan
kadar emas yang seharusnya. Untuk mencegah hal ini ada cara sederhana yang
dapat digunakan untuk menguji kemurnian emas dengan cara : gosoklah batang
emas pada kaca atau gelas, jika emas yang diuji mampu menggores kaca atau gelas
maka itu bukan emas atau emas yang memiliki kemurnian sangat rendah. Tukang
emas biasanya memiliki alat-alat khusus untuk menguji kadar emas.
Rasul Paulus dalam nas ini menganjurkan kepada setiap orang Kristen bak tukang
emas yang harus menguji segala sesuatu dalam hidupnya. Paulus berkata : Ujilah
segala sesuatu! Paulus ingin mengingatkan bahwa menjelang hari Tuhan ada banyak
pengajar palsu dan nubuat palsu. Umat Tuhan jangan sembarang percaya tetapi
harus menguji segala sesuatu. Segala sesuatu terutama mengacu kepada perkataanperkataan yang bersifat nubuat. Ucapan-ucapan semacam itu tidak boleh diterima
dengan mentah tetapi harus senantiasa diuji dengan penyataan yang lebih objektif
yaitu dengan Alkitab.
Kita diminta kritis dalam segala hal. Misalnya dalam hal-hal yang telah diterima
oleh dunia sebagai hal yang wajar. Contohnya pornografi, kissing, juga merokok,
clubbingdan yang lainnya. Hal-hal tersebut mungkin diterima sebagai hal yang
biasa dilakukan oleh banyak orang, namun sebagai orang Kristen harus kritis dan
menguji apakah hal-hal tersebut baik atau tidak, benar atau tidak dan apakah halhal tersebut dapat menjadi batu sandungan bagi orang lain atau tidak. Alkitab
adalah hukum dan pedoman tertinggi yang dimiliki oleh orang Kristen karena berisi
apa yang Allah kehendaki bagi kita. Kalau begitu bagaimana apabila berhubungan
dengan hal-hal yang tidak disebutkan secara gamblang di dalam Alkitab? Alkitab
memuat prinsip-prinsip dasar untuk kita hidup. Kita perlu memahami Alkitab secara
luas dan tentu saja dengan pemahaman yang benar. Ketika Allah memerintahkan
kita untuk menguji segala sesuatu, Ia mau agar kita lebih setia, taat, dan mencintai
Allah dan kebenaran-Nya. Orang Kristen yang semakin mencintai Allah, seharusnya
makin berwaspada dan menguji segala sesuatu dari perspektif Allah, karena ia hanya
mau menyenangkan Allah. Allah melalui firman-Nya memerintahkan kita untuk
menguji segala sesuatu. (RCM)
Refleksi :
Ujilah segala sesuatu dengan kebenaran firman Allah

BERHARGA DAN MULIA

2015-02-10

BERHARGA DAN MULIA

” Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi
engkau.” (Yesaya 43:4a)”

Cukup banyak kasus bunuh diri yang terjadi dikarenakan perasaan tidak
berharga. Perasaan tidak berharga karena gagal dan di tolak oleh orang-orang
disekitarnya kemudian dihantui oleh ketakutan yang tidak jelas dan tanpa
sebab sampai akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dan berpikir bahwa
bunuh diri adalah jalan keluar yang terbaik. Orang yang seperti ini memiliki pikiran
yang sempit dalam menilai dirinya sendiri
Manusia yang diciptakan Tuhan memiliki nilai, mutu dan kualitas, karena manusia
diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia adalah satu-satunya yang
diciptakan oleh tangan Allah sendiri. Berbeda dengan makhluk ciptaan Allah yang
lainnya. Allah menciptakan manusia dengan tangan-Nya sendiri, yang dibentuk dari
debu tanah, kemudian memberikan nafas hidup kepadanya, demikian manusia itu
menjdi makhluk hidup; “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari
debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah
manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kejadian 2:7). Lain halnya dengan
makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya. Allah menciptakan (selain manusia) dengan
cara berfirman, lalu jadi seperti firman Allah. Oleh karena manusia diciptakan dan
buatan tangan Allah sendiri, Maka manusia adalah milik Allah, dan kalau manusia
milik Allah, berarti manusia memiliki nilai, mutu dan kualitas (berharga). Sebagai
harta milik Allah yang sangat berharga, Allah mau supaya manusia tetap berada di
dalam Dia. Dan Allah tidak mau manusia dirampas oleh siapapun juga dari tanganNya. Bangsa Israel berada tawanan bangsa Koresy. Allah mau supaya bangsa itu
mengembalikan bangsa atau umat milik-Nya itu kepada-Nya. Sebab Bangsa Israel
adalah umat kesayangan Allah.
Kita harus belajar untuk menilai diri kita sebagaimana Allah menilai kita dan jikalau
Allah sangat menghargai dan menganggap kita begitu istimewa maka kita harus juga
melihat diri kita demikian adanya. Karena itu janganlah kita menjadi orang yang
rendah diri hanya karena wajah tidak secantik dan setampan orang lain, karena kulit
tidak seterang orang lain, rambut tidak selurus orang lain, otak tidak sepintar orang
lain., karena nama tidak setenar orang lain, dan lain-lain. Rendah diri menunjukkan
bahwa kita kurang menghargai diri kita sendiri sebagaimana Allah menghargainya.
(RCM)
Refleksi :
Kita berharga dan mulia di mata Allah

ASPEK KEHIDUPAN

Senin, 9 Februari 2015

ASPEK KEHIDUPAN

“ Anak itu bertambah besardan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.” (Lukas 2:40)

Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Terdapat berbagai
macam aspek kehidupan yang ada dalam diri manusia. Pengembangan
aspek-aspek yang dimiliki manusia melahirkan berbagai kecerdasan.
Howard Gardner (1983) mendefinisikan kecerdasan manusia yang tak berbatas, yang diantaranya dapat dikelompokkan menjadi delapan kecerdasan dan disebut sebagai kecerdasan majemuk yaitu kecerdasan linguistik (bahasa), kecerdasan logika-matematika, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan gerak tubuh, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Belakangan Gardner menambahkan satu kecerdasan tambahan, yaitu
kecerdasan spiritual.

Yesus sebagai manusia yang memiliki gambar Allah yang sempurna. Yesus bertumbuh dalam fisiknya, dalam hikmatnya, dalam spiritual dan dalam aspek sosialnya. Pada waktu usia 12 tahun Yesus di bawa ke Bait Allah. Yesus sudah bertambah besar secara fisik maupun intelektual. Penuh hikmat dan semakin kuat roh-Nya. KebijaksanaanNya tampak dalam dialog-Nya dengan para guru Yahudi di Bait Allah. Walaupun Yesus Kristus adalah Tuhan, Ia mengalami pergumulan manusiawi sama seperti kita, tetapi Ia tidak berbuat dosa. Ia bertumbuh secara fisik, mental, maupun rohani, sehingga Ia menjadi penuh hikmat dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. Ada upaya, kerja keras, komitmen, dan kesungguhan saat Ia menjalani kodrat manusiawi-Nya. Ia belajar Taurat dengan setia. Perhatikan frasa ”Tiap-tiap tahun” di ayat selanjutnya yang menggambarkan bahwa Tuhan Yesus secara rutin dibawa ke Yerusalem untuk merayakan hari raya Paskah. Tidak mengherankan bahwa saat berumur 12 tahun, Ia sudah begitu cerdas bersoal jawab dengan alim ulama yang ada di dalam Bait Allah. Yesus berkembang secara religius dan sosial. Ia tidak muncul sebagai pribadi yang langsung jadi. Apa upaya yang dilakukan untuk mengembangkan seluruh aspek dalam hidupnya sebagai manusia dan menjalaninya secara alamiah.

Kalau mau bertumbuh dalam keutuhan, maka kita harus mengaktifkan semua aspek dalam hidup kita. Melatihnya dan mengembangkan seluruh aspek kehidupan kita untuk kemuliaan Allah. (RCM)

Refleksi :
Kembangkanlah seluruh aspek kehidupan yang sudah Allah anugerahkan