ALLAH YANG RAHMAT

2015-03-31

ALLAH YANG RAHMAT

Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang
dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan
Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita–oleh kasih karunia
kamu diselamatkan.
(Efesus 2:4-5)”

Orang-orang Eskimo di kutub utara mempunyai suatu cara yang unik dalam
berburu serigala. Mereka mencelupkan mata pisau ke dalam darah dan
dibiarkan membeku berulang-ulang kali sampai mata pisau tersebut
menyerupai es krim yang terbuat dari darah. Kemudian pisau tersebut ditaruh di
atas salju dengan bagian yang tajam menghadap ke atas. Ketika serigala datang
menjilati darah tersebut, tanpa disadarinya lidahnya terluka oleh mata pisau dan
berdarah. Tetapi, serigala malah menganggap darahnya sendiri sebagai darah yang
segar dan serigala itu terus menerus menjilati pisau tersebut hingga akhirnya mati
kehabisan darah di atas salju. Ilustrasi ini menggambarkan kondisi kita di masa lalu:
terikat kepada dosa dan tanpa harapan.
Alkitab menggambarkan bahwa kita adalah budak dosa (Ef. 2:1-3). Kita menjadi
budak dari dunia ini. Kita hidup mengikuti cara-cara dunia ini dan kita menjadi budak
dari iblis, mengikuti roh-roh jahat, mengikuti kedagingan kita sendiri. Kita telah
menjadi anak-anak durhaka. Kita tidak dapat melakukan hal-hal baik yang sebetulnya
sangat mungkin untuk kita lakukan, kita menjadi lemah, tidak berdaya. Alkitab
memberitahukan pada kita bahwa di masa lalu, kita tidak ada harapan dan kita
semua telah dikalahkan dan pada dasarnya manusia sudah mati dan harus dimurkai.
Namun bersyukur dalam ayat 4 diawali kata “tetapi”¦”mengubah seluruh situasi dan
kondisi sebelumnya. Dahulu kita tanpa harapan tetapi sekarang ada pengharapan.
Karena rahmat kasih-Nya kita diselamatkan dan di dalam Kristus kita dihidupkan. Di
dalam Kristus, kita kembali menjadi anak-anak Allah dan Ia menunjukkan kepada kita
kekayaan kasih karunia-nya yang melimpah-limpah.
Sebagai warga kampus yang sadar bahwa hidupnya sebenarnya tidak layak menerima
anugerah Allah, tentu hidupnya akan dipenuhi ucapan syukur dan memiliki kerinduan
melayani Tuhan dengan lebih baik apabila mendapatkan anugerah keselamatan.
Kesadaran untuk tidak bermain-main dengan tugas dan tanggung jawab yang Tuhan
percayakan dalam hidupn kita. (RZA)
Refleksi :
Setiap kita yang menerima rahmat Tuhan akan memiliki kerendahan hati dan
tanggung jawab

ANUGERAH ALLAH BUKANLAH MURAHAN

2015-03-30

ANUGERAH ALLAH BUKANLAH MURAHAN

“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang
kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula
dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus
yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.”
(1 Petrus 1:18-19)”

Bonhoeffer (tokoh Teolog Jerman) berkata : Anugerah yang murahan adalah
pengampunan tanpa pertobatan, baptisan tanpa disiplin gereja, perjamuan
tanpa pengakuan, pengampunan dosa tanpa pengakuan pribadi. Anugerah
murahan adalah anugerah tanpa pemuridan, anugerah tanpa salib, anugerah tanpa
Yesus Kristus yang hidup dan berinkarnasi. Sebuah pernyataan yang sangat jelas dan
tegas.
Alkitab mengajarkan anugerah yang diberikan kepada kita dikerjakan dengan
pembayaran harga yang paling mahal yaitu darah Anak Tunggal Allah sendiri.
Harga penebusan yang dibayar bukan dengan emas dan perak tetapi dibayar dengan
darah anak domba yang tak bernoda dan bercacat. Anugerah yang Allah berikan
merupakan ungkapan cinta kasih yang tidak ada ukurannya di seluruh dunia.
Anugerah Allah bukan sekedar kata-kata tetapi sudah terbukti dengan pengorbanan
Kristus di kayu salib.
Banyak orang berpikir jika anugerah itu diberikan cuma-cuma itu berarti barang yang
tidak ada harganya. Ini adalah salah. Memang dunia penuh dengan orang egois yang
tidak mau memberikan barang yang bagus untuk orang lain . Tetapi berbeda dengan
Tuhan. Tuhan memberi anugerah yang paling besar. Darah Kristus yang menebus
memiliki harga yang mahal karena kematian Kristus di kayu salib.
Jika kita telah menikmati anugerah Allah yang sangat mahal dan berharga. Tidak ada
alasan apapun untuk tidak mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan seluruh
keberadaan kita. Panggilan Tuhan kepada kita sebagai warga kampus UK. Maranatha,
akan memotivasi kita untuk memberikan yang terbaik dari seluruh kemampuan kita
untuk kemuliaan Tuhan. (RZA
Refleksi :
Kasihilah Tuhan Allahmu yang telah menebus dosamu.

MENJADI TERANG BAGI KEGELEPAN

2015-03-29

MENJADI TERANG BAGI KEGELEPAN

“Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan
hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah
membutakan matanya.”
(I Yohanes 2:11).”

Di kebun kelapa ada dua toko yang menyediakan berbagai stiker, poster, kalender
dan sebagainya. Dulu saya bersama istri saya sering berbelanja poster dan
stiker dan menjualnya kembali. Karena berdekatan saya suka membandingkan
harga antara toko yang satu dan yang lainnya. Namun setiap kali bertemu dengan
pemilik toko itu, mereka seperti bersaing dan saling menjatuhkan. Misalnya pemilik
toko yang satu berkata: “Jangan beli di sana. Barangnya jelek.” Atau sebaliknya
pemilik toko yang lainnya berkata: “Ah ngapain belanja di situ. Harganya suka nipu.”
Ternyata dua pemilik toko yang berbeda ini adalah kakak dan adik kandung.
Yohanes adalah seorang Rasul yang sangat peka terhadap berita tentang kasih. Itu
menjadi berita yang sangat utama dalam kitab Injil yang ditulisnya dan juga suratsuratNya. Dalam teks di atas ia menjelaskan kebencian itu sama seperti tinggal dalam
kegelapan, dan orang yang tinggal dalam kegelapan tentu saja tidak tahu ia sedang
menuju ke mana. Celakanya jalan yang ditempuh dalam kegelapan bagi siapapun
yang melakukannya bisa berakhir menuju pada kebinasaan. Itulah sebabnya kita
dihimbau menjadi terang bagi sesama, sebab Yesus Kristus sendiri adalah terang
Allah, yang menunjukkan pesan utamanya melalui berita kasih.
Dunia ini, larut dalam kebencian. Kebencian antar ras, golongan, tingkat keberadaan
sosial, atau berbagai latar belakang lainnya. Mereka tidak hanya mencaci maki,
melainkan juga terlibat dalam percideraan, dan jika memungkinkan saling
menghancurkan antara yang satu dengan yang lain. Bagi mereka yang tinggal dalam
kegelapan ini matanya telah menjadi buta. Justru disitulah peranan keimanan kita di
dunia ini. Allah telah memberikan terang melalui Kristus, dan menjadikan kita bagian
dari terang tersebut. Jadi celakalah dunia ini jika terang itu tidak memberikan arah,
atau seperti yang Yesus katakan meletakkannya di dalam gantang. Yang baik kumpul
dengan yang baik dan yang jahat berkumpul dengan yang jahat sampai kebencian
menghancurkan mereka semua. (AT)
Refleksi :
Jadilah terang bagi sesamamu yang ada dalam kegelapan, bukan menerangi yang
sudah terang.

MEMBANGUN KENANGAN BAIK

2015-03-28

MEMBANGUN KENANGAN BAIK

Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik
menjadi busuk.
(Amsal 10:7)”

Banyak politisi besar di negeri ini mengira bisa menghapus apa yang ditorehkannya
di masa lalu, dan dengan percaya diri mengikuti Pilpres dengan biaya yang
tidak sedikit. Alhasil mereka yang gagal terpilih itu terganjal oleh hal-hal yang
entah benar atau tidak namun sudah membentuk perspepsi tertentu di masyarakat.
Misalnya kandidat Prabowo Subianto yang dikaitkan dengan isu pelanggaran HAM,
atau kandidat Aburizal Bakrie yang dikaitkan dengan kasus Lapindo. Salah satu
kegagalan mereka adalah nama mereka tidak dikenal sebagai sesuatu yang baik
di mata masyarakat, bahkan menimbulkan kekuatiran atau bahkan ketakutan.
Kandidat Jokowi yang memang belum memiliki track recordmasa lalu yang buruk
memenangkan pemilihan. Mungkin tahun 2019 Jokowi memilikirecordyang tidak
disukai masyarakat dengan kebijakannya sepertti menaikkan harga BBM bersubsidi
apapun alasannya.
Amsal Salomo menuliskan sebuah kata nasihat yang sangat menarik pada ayat di
atas. Salah satu bagian masa lalu yang hidup di masa kini adalah kenangan, dan
kenangan itu bisa mendatangkan berkat seperti dikatakan Salomo ketika ia berfokus
pada orang-orang yang menjalani hidupnya dengan benar. Sebaliknya nama yang
sudah buruk atau orang fasik menjadi busuk. Seperti makanan busuk tidak lagi bisa
dimakan, selain dibuang ke tempat sampah, atau tidak lagi diingat-ingat.
Jadi sangat penting bagi kita untuk membangun kehidupan yang baik. Mungkin saja
kita manusia yang penuh dengan kelemahan dan tidak selalu bisa membangun halhal baik dalam kehidupan kita. Namun agar kita nama kita dikenang orang di masa
yang akan datang dan mendatangkan berkat, kita perlu untuk hidup secara benar,
jujur, dan bertanggung jawab. Hal ini kita lakukan sebagai bagian untuk menjadi
berkat di masa yang akan datang. Dan setiap orang yang mengingat hal baik yang
kita lakukan saat ini, pasti akan membalas hal yang baik juga bagi kita. Ini adalah
sebuah hukum kehidupan yang berlaku pasti. (AT)
Refleksi :
Mulai membangun nama baikmu hari ini menjadi kenangan yang mendatangkan
berkat di masa yang akan datang.

MELAWAN WAKTU KEBODOHAN

2015-03-27

MELAWAN WAKTU KEBODOHAN

Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai
kamu pada waktu kebodohanmu.
(I Petrus 1:14)”

Anda tentu memahami makna khilaf. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
kata khilaf dijelaskan sebagai melakukan kesalahan yang tidak disengaja.
Dalam definisi asumsi keseharian kata tidak sengaja juga dimaknai tidak
disadari. Ada banyak kasus-kasus kejahatan seperti pembunuhan, pemerkosaan,
atau tindak kejahatan korupsi yang dalam fakta persidangan kemudian muncul
pengakuan kata khilaf dari pelaku. Pelaku merasa dibutakan oleh keinginan yang
sangat kuat atau oleh kemarahan, dan melakukan sesuatu tanpa ia sendiri sadar apa
yang dilakukannya, meskipun bisa jadi pengakuan itu hanya sebuah alasan saja.
Rasul Petrus memiliki pengalaman yang sangat menarik dalam kehidupannya.
Ketika ia dikuasai kemarahan dan memotong telinga Kayafas dengan pedang demi
membela gurunya, atau sebaliknya ketika ia malah menyangkali Yesus saat berada
di sekitar di mana Gurunya tersebut mengalami aniaya. Dalam teks di atas tertulis
hawa nafsu atau dalam bahasa aslinya epithumiam yang artinya keinginan terhadap
hal-hal yang dilarang, biasanya memang tidak sejalan dengan nalar atau akal sehat
kita. Pikiran kita tahu apa yang baik tapi hawa nafsu membimbing kita ke jalan yang
lain, dan itulah yang disebut oleh Rasul Petrus dengan “waktu kebodohan” atau
sebuah waktu di mana kita tidak menuruti akal sehat selain kesenangan diri kita
sendiri saja, tanpa menghitung akibatnya.
Banyak pendeta-pendeta yang sangat besar pengaruhnya, kita sebut saja salah
satunya Jimmy Swaggart, yang memiliki pelayanan yang sangat luar biasa: tampil
di depan publik, seorang pendeta, pemusik, pembicara terkenal dengan pelayanan
penginjilan media yang sangat besar. Kemudian ia jatuh dalam kebodohannya
dengan melakukan hubungan tidak resmi dengan seorang perempuan sekretarisnya.
Di Alkitab ada dua kisah menarik antara Yusuf dan Samson. Mereka memberikan
respon yang berbeda pada saat kebodohan datang menghampiri mereka. Samson
menyambut hawa nafsunya bersama Delilah, sedang Yusuf menolak bahkan lari dari
cengkeraman istri Potifar.
Refleksi :
Sanggup melawan musuh dalam diri kita pada masa kebodohan datang menghampiri
kita adalah sebuah kemenangan yang sangat besar.

MERDEKALAH KAMU

2015-03-26

MERDEKALAH KAMU

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena
itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”
(Galatia 5:1)”

Ada sebuah kisah alegori dari seorang filsuf bernama Plato yang seringkali
diceritakan dalam kelas filsafat yang berjudul “the cave man”atau manusia
gua. Kira-kira begini jika diceritakan secara bebas. Ada seorang manusia yang
terikat rantai selama bertahun-tahun kehidupannya dalam sebuah gua yang sangat
gelap. Lalu pada suatu hari rantai yang membelenggu tangannya itu terlepas, orang
ini segera berjalan keluar gua menyambut kebebasannya. Namun apa yang terjadi?
Ia bingung melihat apa yang di sekelilingnya. Deru angin membuatnya takut. Sinar
matahari terlalu terang di matanya dan menyengat kulitnya. Tak tahan dengan
perubahan itu, manusia gua ini kembali ke dalam gua meskipun tangannya tidak lagi
terikat.
Dalam jemaat di Galatia ada sebuah perdebatan seru antara keimanan yang
berdasarkan pada Kristus Yesus, dan tradisi perjanjian sunat bangsa Yahudi. Seperti
dalam teks di atas Rasul Paulus menyatakan bahwa mereka yang ada di dalam
Kristus adalah orang-orang yang benar-benar merdeka, dan ia menghimbau agar
dalam keimanan itu mereka tidak lagi terikat atau diperhambakan dengan tradisitradisi yang justru bisa menggantikan kebenaran tentang kemerdekaan hidup di
dalam Kristus sendiri. Bangsa Yahudi merasa keimanan mereka di dalam Kristus tidak
sempurna jika tidak melakukan tradisi mereka yang sudah turun temurun ribuan
tahun tersebut.
Dalam kehidupan ini, kita seringkali diperhadapkan pada hal yang sama. Kita memiliki
keimanan di dalam Yesus Kristus, namun nyatanya kita tidak merasa lengkap
tanpa melakukan hal-hal yang justru di luar dasar-dasar keselamatan itu sendiri.
Tentu saja tidak salah menjalankan tradisi dalam kehidupan kita, namun tradisi itu
hanyalah sebuah penghayatan terhadap nilai-nilai dalam kehidupan ini, bukan terus
menggantikan kebenaran yakni kemerdekaan yang diberikan oleh Yesus Kristus.
Justru di dalam Yesus Kristus kita memiliki kebebasan baru dalam mengenal Allah.
Kita tidak memiliki tradisi apapun dalam kekristenan yang melebihi dari kebenaran
Yesus Kristus sendiri.
Refleksi :
Adakah tradisi atau cara hidupmu yang mengikat dirimu bahkan melampui hal
keimananmu di dalam Yesus?

MELINDUNGI YANG LEMAH

2015-03-25

MELINDUNGI YANG LEMAH

“Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan
kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari
kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.”
(Roma 15:1-2)”

Salah satu dasar pengertian hukum evolusi ada pada kalimat berikut “survival
of the fittest”yang artinya yang paling kuatlah yang unggul atau menang. Itu
memang sudah menjadi dasar dari hukum alam yang bergerak selama ribuan
bahkan jutaan tahun silam. Selanjutnya masih dalam konteks teori evolusi ada yang
disebut dengan istilah food of chainatau rantai makanan. Kita melihat bagaimana
sebuah proses saling memangsa yang berada di rantai lebih rendah/ sederhana, dan
yang kuat siap untuk memangsanya. Ini realitas kehidupan yang tidak bisa disangkali
dalam kehidupan ini.
Namun ayat yang disebutkan di atas oleh Rasul Paulus justru memberikan muatan
pesan yang berbeda bahkan berlawanan dari apa yang terjadi di dunia ini. Tidak
disebutkan yang kuat “memangsa” yang lemah melainkan mereka diwajibkan
untuk menanggung yang lemah, bahkan lebih jauh disampaikan agar mereka tidak
mencari kesenangannya sendiri, melainkan kesenangan sesama demi kebaikan dan
untuk membangunnya. Hal yang disampaikan oleh Rasul Paulus ini tentu saja sangat
berlawanan dengan realitas kehidupan yang ada.
Kita hidup dalam sebuah sistem dan sifat keduniawian. Secara tidak sadar atau yang
terburuk dalam keadaan sadar, seringkali kita menunjukkan kekuatan kita, tanpa
memperdulikan perasaan orang-orang yang lemah yang ada di sekeliling kita. Contoh
yang sangat sederhana, misalnya ketika kita sedang asyik ngobrol dengan temanteman tentang bagaimana mudahnya membeli gadgetmenghabiskan uang ratusan
ribu atau jutaan rupiah, atau merencanakan membeli mobil atau rumah, di sebuah
kumpulan di mana kita tidak tahu bahwa di dalam kumpulan itu ada orang yang
sedang bergumul untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja susah. Melalui
ayat di atas, Rasul Paulus mencoba mengingatkan kita untuk lebih peka terhadap
kelemahan orang lain, dan bahkan melindungi mereka dari hal-hal yang bisa
mencederai perasaan atau kehidupan mereka, dan itu adalah sebuah kewajiban. (AT)
Refleksi :
Diperlukan kepekaan terhadap orang-orang yang lemah untuk bisa memberikan
simpati kepada mereka.

ONLY BY GRACE

2015-03-24

ONLY BY GRACE

“Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak
dikaruniakan kepadanya dari sorga”
(Yohanes 3:27)”

Charlie Wedemeyer adalah seorang motivator sekaligus pemain rugby. Sebagai
seorang pembicara; ia hanya mampu menggerakkan mata serta mulutnya tanpa
suara. Charlie menderita Lou Gehrigyaitu, penyakit yang menyerang sel syaraf
pada otak dan tulang belakang. Penderita Lou Gehrigakan mengalami kesulitan
dalam mengendalikan pergerakan otot atau mengalami kelumpuhan. Keadaan
ini membuat isterinya, Lucy yang menjadi penerjemahnya. Yang menakjubkan,
ia tetap menjadi motivator dan melakukan perjalanan yang jauh, meskipun hal
ini merupakan sesuatu yang sulit, namun Charlie secara teratur berbicara kepada
orang-orang di sekolah, kantor, penjara, dan gereja. Barangkali dialah satu-satunya
pembicara di Amerika yang tak dapat bicara. Charlie mampu melayani dan berkarya
dengan luar biasa, semua itu bukan semata-mata karena dia memiliki daya juang
dan semangat yang tinggi, tetapi karena kasih karunia Allah yang besar, yang bekerja
dalam hidupnya.
Pernahkan kita merenungkan, betapa banyak kekurangan yang kita miliki; mungkin
kemampuan kita minim, terlalu tua sehingga sering dianggap tidak bisa bekerja
terlalu berat, terlalu muda sehingga sering dianggap belum mampu, mempunyai
kelemahan tubuh, tidak kreatif, tidak mudah bergaul, dan lainnya. Namun demikian
diantara banyaknya kekurangan-kekuarangan tersebut; kita tetap bisa bekerja dan
menghasilkan uang. Kita tetap diberkati baik secara jasmani maupun rohani. Kita
memiliki orang-orang yang menyayangi dan bangga dengan keadaan kita, bahkan
kita masih diberikan kemampuan untuk melayani Tuhan. Kita mulai berpikir bahwa
apa yang saya nikmati memang sudah semestinya karena kerja keras saya. Saudara,
jika Anda berpikir demikian, maka Anda sedang terjebak dalam sebuah pemikiran
yang keliru. Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa “tidak ada seorang pun
yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya
dari sorga.”Jikalau hari ini kita bisa menikmati segala yang baik, itu semua karena
anugerah dan campur tangan Allah. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk memegahkan
diri. Sebaliknya, bersyukurlah untuk anugerah Allah yang luar biasa dalam hidup kita.
(YG
Refleksi :
Tanpa Anugerah Allah kita bukanlah apa-apa.

BUKAN SEJARAH BIASA

2015-03-23

BUKAN SEJARAH BIASA

“Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya”
(Matius 27:45-50)”

Peristiwa kematian yang dialami oleh umat manusia sebenarnya sesuatu yang
sangat alamiah. Sejak awal kehidupan dan peradabannya, umat manusia telah
mengenal peristiwa kematian sebagai bagian yang sangat integral dari kehidupan
ini. Kita semua telah mengalami kelahiran, proses pertumbuhan dan perjuangan, lalu
kita satu demi satu akan mengakhiri kehidupan ini dengan peristiwa kematian. Karena
itu semua tokoh sejarah tanpa terkecuali telah mengalami peristiwa kematian, baik
penakluk dunia yang monumental seperti raja Nebukadnezar dari Babel, Aleksander
Agung dari Yunani; maupun para tokoh ternama dunia seperti Albert Eistein, Thomas
Alfa Edision, Charles Dickens, dan sebagainya. Akan tetapi dari sekian banyak
kematian; hanya ada satu kematian yang luar biasa yaitu kematian Yesus Kristus.
Firman Tuhan mencatat, ketika Yesus Kristus menghembuskan nafas terakhirnya di
kayu salib, seketika itu juga kegelapan pekat menyelimuti bumi selama tiga jam.
Tidak hanya itu, Injil Matius mencatat “… lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari
atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah,
dan kuburan-kuburan terbuka…” (Matius 27:51-52).
Kisah ini sangat menggemparkan surga mau pun bumi, sebab karya agung Allah Bapa
telah digenapi Kristus Yesus pada hari itu. Kematian Yesus 2000 tahun lalu adalah
peristiwa sejarah yang sungguh-sungguh terjadi, bukan rekayasa atau dongeng
pengantar tidur. Bahkan kehidupan Kristus, khususnya tentang penyaliban Yesus,
sebelumnya sudah dinubuatkan Nabi Yesaya, “Ia dihina dan dihindari orang, seorang
yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan”¦” (Yesaya 53:3).
Peristiwa Golgota ini adalah peristiwa yang mengubah kehidupan manusia, sebab
kematian Yesus adalah kematian yang mengerjakan keselamatan, penyembuhan,
pemulihan, dan harapan baru. Di atas Kalvari Yesus telah membayar harga bagi dosadosa kita. IA yang benar, sempurna dan tanpa dosa rela dikutuk, dituduh, difitnah,
menderita dan mencurahkan darah-Nya seperti domba sembelihan, supaya kita
dapat dibebaskan dan diselamatkan. Yesus hidup bukan untuk diri-Nya sendiri tetapi
untuk menjadi pengganti bagi kita. Kristus telah mengambi alih semua yang harus
kita tanggung karena dosa-dosa kita. Bukti kasih dan ketaatan Kristus menyebabkan
setiap manusia memperoleh kesempatan untuk hidup dalam keselamatan kekal.
Hargailah karya agung Kristus, janganlah sis-siakan hidup kita, namun bekerja dan
berkaryalah bagi kemuliaan Kristus. (YG
Refleksi :
Kematian Kristus bukanlah sejarah biasa, karena kematian-Nya memberi
kehidupan!

FORMULA K.U.A.T

2015-03-22

FORMULA K.U.A.T

“Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam
kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika
aku lemah, maka aku kuat.”
(2 Korintus 12:10)”

Rasul Paulus minta kepada Tuhan berkali-kali, agar kelemahan dalam tubuhnya
diangkat, namun Tuhan berkata cukuplah kasih karunia-Ku. Paulus mengerti
apa yang Tuhan mau dalam hidupnya, makanya dia mengatakan aku lemah,
namun aku kuat. Kuat berarti memiliki tenaga, mampu mengangkat beban berat,
tidak mudah goyah, tahan banting, tidak mudah rusak. Apa yang membuat Paulus
kuat. Ini formulanya : K.U.A.T.
K=Kasih karunia dalam Kristus Yesus. 2 Timotius 2:1 Sebab itu, hai anakku, jadilah
kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus. Kasih karunia memberikan kekuatan
luarbiasa, sehingga dapat menanggung penderitaan, kesulitan, kelemahan. Kasih
karunia ini yang telah menyelamatkan kehidupan Paulus dari hamba dosa menjadi
hamba Kristus.
U=Utamakan Tuhan.Ketika kita mengutamakan Tuhan, Tuhan akan memberikan
kekuatan ekstra bagi kita, seperti dalam Filipi 4:13 Segala perkara dapat kutanggung
di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.
A=Alkitab/Firman Tuhan sebagai pelita hidup. Yosua 1:8 Janganlah engkau lupa
memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya
engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab
dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Firman
ini menjadi sumber kehidupan kita, menjadi makanan rohani kita, menjadi pedoman
akan kita agar bertindak hati-hati. Firman menjadikan kita kuat menghadapi cobaan
dan godaan dunia ini.
T=Tebarkan Injil/ Beritakan Injil ke seluruh dunia. 1 Korintus 9:16, Karena jika aku
memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu
adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. Paulus
memiliki keinginan kuat untuk memberitakan Injil keselamatan kepada semua
orang, karena keselamatan hanya ada dalam Yesus Tuhan. Tuhan Yesus yang lahir,
mati dikayu salib, dikuburkan, dan bangkit pada hari yang ketiga, naik ke surga dan
akan datang kembali. (TMZ)

Refleksi :
Kasih Karunia-Nya telah terbukti dari dahulu sampai sekarang. Apakah kita sudah
menerimanya? Sudahkah kita memberitakan-Nya?