Ingin Menjadi Manusia

 

 

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:5-7)

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:5-7)

 

INGIN MENJADI MANUSIA

2015-04-30

INGIN MENJADI MANUSIA

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan
yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak
menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang
hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”
(Filipi 2:5-7)”

Dalam sejarah manusia ada banyak manusia yang ingin menjadi Tuhan. Salah
satunya adalah kaisar Nero yang memerintah kekaisaran Romawi. Beberapa
keyakinan ajaran atau aliran keagamaan juga menjelaskan beberapa proses
bagaimana manusia bisa menjadi Tuhan. Keyakinan dunia modern yang tiada
bertuhan secara agamis meletakkan manusia sendiri sebagai pusat, atau dengan kata
lain dirinya sendiri menggantikan peran Tuhan, atau dia adalah Tuhan bagi dirinya
sendiri. Semua orang ingin menjadi Tuhan jika dipahami secara mendalam adalah
menuju ke titik kesempurnaan pemahaman akan kebenaran, atau untuk menggapai
kekuasaan atau kendali baik bagi orang lain maupun terhadap dirinya sendiri.
Namun penjelasan di atas sangatlah berbeda dari yang ada kebanyakan. Jika
kebanyakan manusia ingin menjadi Tuhan, maka dalam ayat di atas adalah Tuhan
ingin menjadi manusia. Ada banyak sekali refleksi teologis dari pernyataan Tuhan
menjadi menjadi manusia, yang salah satunya sesuai dengan renungan hari ini adalah
keinginan Tuhan untuk melayani manusia di dalam diri Yesus Kristus. Dalam proses
menjadi manusia Yesus harus mengorosngkan diriNya, mengambil rupa seorang
hamba dan menjadi sama dengan mereka.
Jika Tuhan saja ingin menjadi manusia, mengapa manusia ingin menjadi Tuhan?
Jika manusia ingin menjadi Tuhan seringkali alasannya adalah kesombongan. Allah
menjadi manusia memberikan keteladanan tidak hanya tentang kerendahan hati
yang sangat luar biasa, namun juga keinginanNya untuk melayani manusia dengan
sempurna. Kita sebagai orang percaya tidak perlu menjadi Tuhan, sebab Tuhan
sudah mengangkat kita menjadi anak-anakNya. Yang paling penting sekarang adalah
bagaimana kita mengikuti teladan Yesus Kristus dalam kerendahan hatinya dan
keinginanNya melayani sesama dengan sempurna. (AT)
Refleksi :
Kerendahan hati dan keinginan untuk melayani adalah sifat Allah dalam Yesus
Kristus.

Belas Kasih Tuhan – 29 April 2015

BELAS KASIH TUHAN
“Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah
mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu–sebab siapa
yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya.
(Zakaria 2:8)

Salah satu bagian luar tubuh yang sangat peka adalah bagian mata. Jika kita
melihat bagian mata ada 3 bagian lain yang menarik di sekeliling mata, yakni
pertama alis mata, kedua bulu mata, lalu ada kelopak mata dan air mata. Anda
tahu apa fungsi dari keseluruhan bagian-bagian tersebut? Mereka bertugas secara
refleks untuk melindungi mata dari debu misalnya. Jika ada debu hendak masuk
ke dalam mata, maka bulu mata kelopak mata akan melindunginya secara refleks.
Jika akhirnya debu itu masuk juga ke dalam mata, maka air mata keluar mencuci
mata dari debu tersebut. Itu menjelaskan betapa berharganya mata sehingga ia
mendapatkan perlindungan yang ekstra ketat dari bagian tubuh lainnya.

Nabi Zakharia menjelaskan tentang kedudukan bangsa Israel di hadapan Tuhan
terhadap musuh-musuh atau para penjarahnya. Ia mengumpamakan mereka adalah
biji mataNya sendiri yang artinya jika kita melihat penjelasan di atas, Tuhan tidak
akan membiarka bangsa lain menyentuh mereka, dan akan dengan ekstra melindungi
mereka dari ancaman bahaya bangsa-bangsa yang hendak menyerang dan menjarah
mereka. Itu adalah ketetapan Tuhan tentang bangsa Israel.

Kitapun sama di hadapan Tuhan seperti bangsa Israel. Namun seringkali kita merasa
rentan terhadap serangan masalah-masalah dari sekeliling kita, seolah-olah Tuhan
membiarkan kita berjuang sendiri menghadapi kenyataan hidup ini yang terkadang
sangat keras. Padahal Tuhan sendiri melalui FirmanNya sudah berjanji bahwa Ia akan
menjaga kehidupan kita. Jika akhirnya ada orang yang bisa mencelakai kita pada
akhirnya, itu bukan Tuhan melainkan diri kita sendiri. Dan meskipun kita terluka,
pada akhirnya Tuhan tetap akan memberikan penghiburan dalam kehidupan kita. Ia
akan datang menguatkan kita dan membimbing kita menuju kehidupan yang lebih
baik. Itulah cinta dan perhatian Tuhan yang sesungguhnya dalam kehidupan kita. (AT)

Refleksi:
Kita berharga sebab Tuhan sudah menganggapnya demikian

Ulangan 32:10, DidapatiNya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. DikelilingiNya dia dan diawasiNya, dijagaNya sebagai biji mataNya.

.1660084f44a0e4b7a47d6c0c97fbbb65 ODB_050614

BELAS KASIH TUHAN

2015-04-29

BELAS KASIH TUHAN

“Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah
mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu–sebab siapa
yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya.
(Zakaria 2:8)”

Salah satu bagian luar tubuh yang sangat peka adalah bagian mata. Jika kita
melihat bagian mata ada 3 bagian lain yang menarik di sekeliling mata, yakni
pertama alis mata, kedua bulu mata, lalu ada kelopak mata dan air mata. Anda
tahu apa fungsi dari keseluruhan bagian-bagian tersebut? Mereka bertugas secara
refleks untuk melindungi mata dari debu misalnya. Jika ada debu hendak masuk
ke dalam mata, maka bulu mata kelopak mata akan melindunginya secara refleks.
Jika akhirnya debu itu masuk juga ke dalam mata, maka air mata keluar mencuci
mata dari debu tersebut. Itu menjelaskan betapa berharganya mata sehingga ia
mendapatkan perlindungan yang ekstra ketat dari bagian tubuh lainnya.
Nabi Zakharia menjelaskan tentang kedudukan bangsa Israel di hadapan Tuhan
terhadap musuh-musuh atau para penjarahnya. Ia mengumpamakan mereka adalah
biji mataNya sendiri yang artinya jika kita melihat penjelasan di atas, Tuhan tidak
akan membiarka bangsa lain menyentuh mereka, dan akan dengan ekstra melindungi
mereka dari ancaman bahaya bangsa-bangsa yang hendak menyerang dan menjarah
mereka. Itu adalah ketetapan Tuhan tentang bangsa Israel.
Kitapun sama di hadapan Tuhan seperti bangsa Israel. Namun seringkali kita merasa
rentan terhadap serangan masalah-masalah dari sekeliling kita, seolah-olah Tuhan
membiarkan kita berjuang sendiri menghadapi kenyataan hidup ini yang terkadang
sangat keras. Padahal Tuhan sendiri melalui FirmanNya sudah berjanji bahwa Ia akan
menjaga kehidupan kita. Jika akhirnya ada orang yang bisa mencelakai kita pada
akhirnya, itu bukan Tuhan melainkan diri kita sendiri. Dan meskipun kita terluka,
pada akhirnya Tuhan tetap akan memberikan penghiburan dalam kehidupan kita. Ia
akan datang menguatkan kita dan membimbing kita menuju kehidupan yang lebih
baik. Itulah cinta dan perhatian Tuhan yang sesungguhnya dalam kehidupan kita. (AT)
Refleksi :
Kita berharga sebab Tuhan sudah menganggapnya demikian.

HIDUP ADALAH ANUGERAH

2015-04-28

HIDUP ADALAH ANUGERAH

Karena bagiku hidup adalah Kristus i dan mati adalah keuntungan.
(Filipi 1:21)”

“Syukuri apa yang ada. Hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini.
Melakukan yang terbaik.” Ini adalah sepenggal lagu dengan judul “Jangan
Menyerah” dari sebuah grup band nasional d’Masiv. Lagu yang cukup
inspiratif ini sering digunakan di televisi sebagai musik background liputan tentang
bencana alam yang ketika itu banyak terjadi di Indonesia. Liriknya yang sanga dalam
tentang menjalani hidup bebatapun susahnya dengan sikap yang optimis, diharapkan
mampu memberi harapan, bahwa apapun yang diberikan oleh hidup tetap disyukuri,
sebab adanya hidup itu sendiri sudah menjadi anugerah bagi setiap orang.
Rasul Paulus adalah salah satu pendiri ajaran kekristenan yang kita yakini hingga
saat ini. Ia adalah orang besar yang dipilih Allah untuk meletakkan landasan ajaran
kekristenan yang saat ini dianut oleh 2 milyar pengikut lebih, di seluruh dunia.
Namun meskipun demikian Rasul Paulus bukan orang yang tidak pernah menghadapi
kesulitan, justru dalam pelayanannya ia mendapatkan hambatan, aniaya, usaha
pembunuhan dan bahkan salah satu surat pelayanannya yang menjadi bagian dari
Injil ditulis dalam keadaan sakit di dalam sebuah penjara. Rasul Paulus mengalami
banyak penderitaan dalam hidupnya, namun tidak menghentikannya untuk tetap
melayani, bahkan ia sudah siap menghadapi apapun juga yang adalam hidupnya
seperti yang tertera dalam ayat di atas.
Lalu bagaimana dengan kehidupan yang kita miliki? Apakah kita memiliki semangat
yang sama seperti yang sampaikan oleh Rasul Petrus atau oleh band d Masiv? Mudah
bagi kita untuk memahami anugerah Tuhan dalam kehidupan ini ketika semuanya
baik-baik saja. Namun sangat tidak mudah untuk menerimanya ketika hidup yang
kita jalani ini tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Padahal justru dalam kegagalan
kita bisa melihat hakikat hidup secara lebih mendalam. Kita bisa memahami bahwa
pada akhirnya hidup itu sendiri tanpa diembel-embeli macam-macam adalah
anugerah yang sangat luar biasa yang diberikan Tuhan dalam kehidupan ini. Dan
yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita menjalanina dan melakukan yang
terbaik baik bagi Tuhan, sesama, maupun diri kita sendiri. (AT)
Refleksi :
Jalani hidup ini dengan ucapan syukur dan melihat pada Kristus.

KESOMBONGAN AWAL KEHANCURAN

2015-04-27

KESOMBONGAN AWAL KEHANCURAN

Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati
mendahului kehormatan.
(Amsal 18:12)”

Bagi manusia yang berjiwa arogan mungkin agak sulit memahami ayat ini. Ah
masak sih? Bukankah kita harus menunjukkan diri kita agar kita lebih dihargai
oleh orang lain? Bukankah kebanyakan orang menghargai hanya pada kelebihan
orang lain? Misalnya pada kekayaan, kesuksesan, jabatan dan lain sebagainya.
Bukankah itu adalah prestasi yang harus dibanggakan? Untuk orang pahit hati dan
kurang berprestasi ayat ini bisa menjadi senjata untuk menghakimi orang lain.
Namun kedua-keduanya pemahaman di atas belum menyentuh esensi dari ayat di
atas.
Amsal adalah sebuah kitab hikmat yang dituliskan oleh orang yang paling berhikmat
di dunia pada jaman Perjanjian Lama yakni Raja Salomo. Namun diakhir perjalanan
hidupnya, justru hatinya menjauh dari Allah. Raja Salomo mencintai banyak
perempuan asing para perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het,
padahal dalam konteks jaman itu Allah melarang hal itu terjadi. Hati Salomo telah
terpaut kepada mereka dengan cinta. Ia mempunyai 700 isteri dari kaum bangsawan
dan 300 gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN. Tidak sampai
disitu ia mulai meninggalkan penyembahan kepada Allah dan mengikuti dewa-dewa
yang dibawa oleh para istrinya. Hukuman yang paling menghancurkan kehidupan
Salomo adalah bahwa Allah mencabut hak Salomo untuk membangun bait Allah.
Hidup ketika berada di atas, ketika kejayaan, kesuksesan menghampiri kita
dengan sangat luar biasa, bak kapal Titanic sebelum berlayar menuju laut Artic,
sang kapten berseru: “Kapal ini sangat besar, bahkan Tuhan tidak akan sanggup
untuk menenggelamkannya.” Nyata, sebuah gunung es kecil di permukaan laut
merobek buritan kapan dan menenggelamkannya. Sebaliknya melalui ayat ini Allah
mengajarkan sikap kerendahan hati, di mana melaluinya kita bisa tetap menjadi
mawas diri, dan tidak jatuh dalam kesombongan. Mungkin ada hal baik menjadi
sombong, agar orang lain tidak macam-macam dan lebih menghargai kita, selain kita
menghargai prestasi yang telah kita raih, namun itu justru menjadi boomerang dan
membuat kita tidak hati-hati dalam melangkah, seperti raja Salomo. (AT)
Refleksi :
Kesombongan seolah-olah membawa kita ke tempat yang tinggi, namun pada saat
yang sama sedang membawa kita meluncur ke bawah dengan sangat keras.

KESOMBONGAN AWAL KEHANCURAN

2015-04-27

KESOMBONGAN AWAL KEHANCURAN

Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati
mendahului kehormatan.
(Amsal 18:12)”

Bagi manusia yang berjiwa arogan mungkin agak sulit memahami ayat ini. Ah
masak sih? Bukankah kita harus menunjukkan diri kita agar kita lebih dihargai
oleh orang lain? Bukankah kebanyakan orang menghargai hanya pada kelebihan
orang lain? Misalnya pada kekayaan, kesuksesan, jabatan dan lain sebagainya.
Bukankah itu adalah prestasi yang harus dibanggakan? Untuk orang pahit hati dan
kurang berprestasi ayat ini bisa menjadi senjata untuk menghakimi orang lain.
Namun kedua-keduanya pemahaman di atas belum menyentuh esensi dari ayat di
atas.
Amsal adalah sebuah kitab hikmat yang dituliskan oleh orang yang paling berhikmat
di dunia pada jaman Perjanjian Lama yakni Raja Salomo. Namun diakhir perjalanan
hidupnya, justru hatinya menjauh dari Allah. Raja Salomo mencintai banyak
perempuan asing para perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het,
padahal dalam konteks jaman itu Allah melarang hal itu terjadi. Hati Salomo telah
terpaut kepada mereka dengan cinta. Ia mempunyai 700 isteri dari kaum bangsawan
dan 300 gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN. Tidak sampai
disitu ia mulai meninggalkan penyembahan kepada Allah dan mengikuti dewa-dewa
yang dibawa oleh para istrinya. Hukuman yang paling menghancurkan kehidupan
Salomo adalah bahwa Allah mencabut hak Salomo untuk membangun bait Allah.
Hidup ketika berada di atas, ketika kejayaan, kesuksesan menghampiri kita
dengan sangat luar biasa, bak kapal Titanic sebelum berlayar menuju laut Artic,
sang kapten berseru: “Kapal ini sangat besar, bahkan Tuhan tidak akan sanggup
untuk menenggelamkannya.” Nyata, sebuah gunung es kecil di permukaan laut
merobek buritan kapan dan menenggelamkannya. Sebaliknya melalui ayat ini Allah
mengajarkan sikap kerendahan hati, di mana melaluinya kita bisa tetap menjadi
mawas diri, dan tidak jatuh dalam kesombongan. Mungkin ada hal baik menjadi
sombong, agar orang lain tidak macam-macam dan lebih menghargai kita, selain kita
menghargai prestasi yang telah kita raih, namun itu justru menjadi boomerang dan
membuat kita tidak hati-hati dalam melangkah, seperti raja Salomo. (AT)
Refleksi :
Kesombongan seolah-olah membawa kita ke tempat yang tinggi, namun pada saat
yang sama sedang membawa kita meluncur ke bawah dengan sangat keras.

KETELANJANGAN MANUSIA

2015-04-26

KETELANJANGAN MANUSIA

Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah
engkau?” Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman
ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”
(Kejadian 3:9-10)”

Mari kita perhatikan sejenak, mengapa anak kecil tidak malu telanjang di
depan orang tuanya, atau bahkan di depan orang lain. Mereka berlarian
dengan riang tanpa celana, seolah-olah itu hal biasa saja. Namun seiring
dengan usia tentu saja mereka tidak terus melakukannya. Ada rasa malu atau bahkan
tidak lazim yang menahan mereka untuk tidak melakukan hal tersebut. Dan yang
terakhir manusia hanya tidak malu telanjang di depan pasangan (suami atau atau
istrinya). Artinya sebuah ketelanjangan tidak bisa dilakukan sembarangan kecuali
kepada pasangan intimasinya.
Ayat di atas menjelaskan sebuah kondisi ketika manusia jatuh ke dalam dosa.
Manusia jatuh ke dalam tipuan ular untuk makan buah pengetahuan, melawan
perintah Allah. Setelah makan buah itu manusia tersadar akan kondisi dirinya dan
menyebut dirinya telanjang. Itulah sebabnya ia bersembunyi ketika mengetahui
Allah sedang mencari mereka. “Di manakah engkau?” Ia menjawab: “Ketika aku
mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku
telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Padahal seharusnya hubungan Allah dengan
manusia adalah sebuah hubungan yang sangat dekat, sebab memang demikianlah
tujuan manusia diciptakan. Namun hal tersebut tidak lagi demikian. Manusia
berdosa dan kehilangan kedekatan dengan Allah dan mereka merasa malu dengan
kondisinya. Manusia merasa rendah diri, dan tidak layak.
Mungkin dalam kehidupan ini ketelanjangan itu bukan dalam artian harafiah, namun
seringkali kita tidak mampu lagi menghadap kepada Allah, kita kehilangan kedekatan
hubungan dengan Allah, sebab kita merasa tidak layak sebab kita melakukan banyak
kesalahan dalam kehidupan kita. Namun demikian meskipun kita tidak lagi mencari
Allah sebab keterbatasan itu, Allahlah yang berinisiatif pertama mencari manusia
sejak permulaannya. Dan lebih ekstrim lagi Allah turun ke dunia untuk mencari
mereka yang terhilang. (AT)
Refleksi :
Rasa rendah diri tidak membuat kita menjadi lebih dekat dengan Allah. Percaya
membuat kita menjadi anak-anakNya.

ANUGERAH ADALAH LANDASAN HIDUP “POSITIF”

2015-04-25

ANUGERAH ADALAH LANDASAN HIDUP “POSITIF” KITA

“.. kita dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah, oleh
karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman
kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah
…” (Roma 5: 1, 2)”

Berdamai adalah tindakan antar manusia yang tidak mudah, apalagi berdamai
dengan TUHAN Allah yang terhadapnya kita sudah memberontak, pasti tidak
mungkin terjadi. Ini menjadi pasti bisa terjadi hanya tatkala TUHAN Allah yang
mengambil inisiatif perdamaian, melalui jalan pendamaian-Nya dalam diri Yesus
Kristus ““ dan dari kita diperlukan iman/sikap percaya sungguh kepada Sang Jalan
itu, Yesus Kristus, inipun terjadi karena pertolongan Roh Kudus-Nya. Kita menjadi
“benar” karena iman kepada Sang Jalan, di hadapan TUHAN Allah Sang Kebenaran.
Namun, kita sering menganggap cukup, berhenti pada keadaan nyaman damai
sejahtera dengan Allah ““ dan pola hidup kita tidak menunjukkan sikap syukur atas
anugerah/kasih karunia TUHAN Allah, kita hidup seenak diri sendiri.
Dalam bagian Sabda TUHAN diatas, Paulus memberi pernyataan tentang apa
yang seharusnya terjadi setelah kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah,
yaitu “berdiri” di dalam anugerah/kasih karunia itu. Pola hidup yang berdiri dalam
anugerah TUHAN Allah dalam Yesus Kristus akan menghasilkan pola hidup yang
benar di hadapan TUHAN Allah, yang sesuai dengan kehendak TUHAN Allah seperti
yang dinyatakan dalam Kitab Suci. Akibatnya kita bisa bermegah, memperoleh
kepastian menerima kemuliaan Allah. Hidup yang berdiri di dalam anugerah,
kita akan memandang secara lain segala hal yang terjadi dalam hidup kita. Hidup
yang didirikan, dilandaskan di atas/di dalam anugerah, membuat kesengsaraan
membuahkan ketekunan, tidak berhenti meratapi kesengsaraan. Dan ketekunan
membuahkan tahan uji. Tahan uji (dokime, bhs. Yunani ““ “proven character”) artinya
“membuktikan dirinya benar (“true”)” (Roma 5: 3,4). Berdiri dalam anugerah Kristus,
kita bisa “tahu bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan
kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai
dengan rencana Allah” (Roma 8:28). Dan jika pola hidup ini terjadi ada dalam diri
seluruh warga kampus Universitas Kristen Maranatha, ini akan menjadi terang bagi
masyarakat sekitar kampus, bahkan bagi Bandung. (HW)
Refleksi :
Hidup “positif” kristiani sejati adalah hidup di dalam anugerah / kasih-karunia
TUHAN Allah dalam Yesus Kristus.

ANUGERAH YANG MERUBAH STATUS

2015-04-24

ANUGERAH YANG MERUBAH STATUS

“Dari Paulus, hamba Yesus Kristus yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan
untuk memberitakan Injil Allah .. Dengan perantaraan-Nya, kami menerima kasih
karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa supaya mereka percaya
dan taat kepada nama-Nya ..”
(Roma 1:1, 5)”

Saulus, orang muda yang hebat, ia sebagai bagian dari Mahkamah Agama
Yahudi (Kisah 7:58; 8:1a), ia terkenal dengan reputasinya sebagai penganiaya
Jemaat Kristus. Dari status sebagai bagian dari Mahkamah Agama, yang adalah
status sosial dimana seseorang merasa lebih tinggi, “bukan warga biasa”, lebih suci
karena merasa mampu mentaati Hukum Taurat, dan itu suatu kebanggaan bagi
orang Yahudi. Tugasnya sebagai “polisi rohani” adalah menyeret warga yang tidak
menjalankan Hukum Taurat ke Pengadilan Agama
Di dalam perjalanan mengejar para pengikut Kristus, ia dijumpai oleh Yesus Kristus,
tidak untuk dihukum tetapi diberi anugerah dan dijadikan sebagai hamba-Nya.
Anugerah dalam Yesus Kristus merubah status Saulus menjadi Paulus yang artinya “si
kecil” atau “si rendah hati”. Anugerah dalam Kristus merubah dirinya yang “arogan
spiritual” menjadi “rendah hati” dan ini dibuktikan dengan pernyataan dirinya
bahwa sebagai “hamba” Yesus Kristus, dan ia siap untuk melaksanakan kehendak
Sang Tuan yaitu memberitakan Kabar Sukacita dari Allah. Tugas yang tidak mudah di
jamannya dijalani dengan konsisten meski ia sering harus menderita, bukan pujian
tetapi cacian dan siksaan fisik, sampai akhir hidupnya.
Kita sudah mengalami anugerah keselamatan dalam TUHAN Yesus Kristus, apakah
kita juga menyadari bahwa status kita adalah “hamba” Yesus Krsitus? Status yang
jelas sebagai hamba yang dikuduskan, seharusnya membuat jelas apa yang harus
kita lakukan ““ yaitu melakukan apa yang dikendaki Sang Tuan, yaitu membawa berita
Injil-Nya. Pemberitaan Injil-Nya melalui perilaku, kerja, ucapan, dan pola hidup kita.
Khususnya, sebagai karyawan, seharusnya kerja kita adalah Injil untuk teman sekerja,
untuk atasan dan bawahan kita. Sebagai pemimpin, kepemimpinan kita diharapkan
menjadi Injil bagi seluruh warga kampus Universitas Kristen Maranatha ““ dan ini
akan menjadi Kabar Baik kepada masyarakat sekitar kampus, bahkan bagi Bandung.
(HW)
Refleksi :
Injil, Kabar Baik dari TUHAN Allah sudah menjadi bagian hidup kita, karenanya, kita
seharusnya menjadi Kabar Baik untuk banyak orang.