ANUGERAH YANG MERUBAH ARAH IBADAH

2015-04-23

ANUGERAH YANG MERUBAH ARAH IBADAH

“Sekrang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Akhirnya
berkatalah Naaman: ” … hambamu ini tidak lagi akan mempersembahkan korban
bakaran atau korban sembelihan kepada allah lain kecuali kepada TUHAN ..”
(2 Raja-raja 5: 15, 17)”

Nasehat para pegawainya kepada Naaman, bahwa dia harus melakukan instruksi
Elisa (mandi membenamkan diri tujuh kali) agar ia sembuh adalah tidak sukar.
Setelah instruksi itu dilaksanakan, Naaman sembuh, bahkan kulitnya menjadi
seperti kulit anak-anak. Anugerah TUHAN Allah memang bukan perkara sukar, karena
bukan hasil usaha dan kelayakan manusia ““ itu hanya pemberian TUHAN Allah.
Naaman sangat bersukacita , dan itu membuat dia (bersama dengan pasukannya)
kembali ke Elisa, membawa pemberian untuk Elisa. Meskipun bertahun-tahun
Naaman yang telah ditolong oleh TUHAN dalam memenangkan peperangan, ia
masih tidak mampu melihat TUHAN penolongnya. Tatkala ia sembuh dari sakitnya
dengan cara gampang, mata hatinya terbuka melihat TUHAN yang mengalirkan
anugerah-Nya lewat Elisa ““ ini dibuktikan dengan “pernyataan iman” yang luar
biasa bahwa tidak ada Allah kecuali di Israel dan janjinya bahwa ia ini tidak lagi
akan mempersembahkan korban bakaran atau korban sembelihan kepada allah
lain kecuali kepada TUHAN. Anugerah TUHAN Allah membuatnya merubah arah
ibadahnya, arah penyembahannya hanya kepada TUHAN Allah Israel.
Bagaimana dengan kita yang sudah mengalami anugerah keselamatan dalam TUHAN
Yesus Kristus? Seharusnya kita makin mantap bahwa sesungguhnya tidak ada allah
lain, selain TUHAN Allah yang sudah menyelamatkan kita dalam TUHAN Yesus ““ dan
TUHAN Allah inilah satu-satunya TUHAN yang kita sembah.
Bagaimana itu mewujud dalam perilaku kita sebagi karyawan, sebagai pejabat atau
pemimpin di Universitas Kristen Maranatha?. Apakah di lembaga kita, ada karyawan,
pejabat atau pemimpin yang sedang mengangkat diri menjadi allah lain? ““ sehingga
mengganggu dan menghalangi aliran anugerah TUHAN Allah. (HW)
Refleksi :
Pengalaman menerima anugerah TUHAN Allah dalam Yesus Kristus, dan tuntunan
Roh Kudus, kiranya memantapkan iman kita.

ANUGERAH ITU BUKAN PERKARA YANG SUKAR

2015-04-22

ANUGERAH ITU BUKAN PERKARA YANG SUKAR

” Tetapi pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepadanya: “Bapak,
seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan
melakukan? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau
akan menjadi tahir.”
(2 Raja-raja 5: 13)”

Naaman menghargai cerita gadis muda Israel, pelayan istrinya ““ cerita tentang
nabi yang akan menyembuhkan sakit kustanya ““ itu dibuktikan dengan
ia berangkat langsung menjumpai Raja Israel, sambil membawa surat
rekomendasi Rajanya disertai pemberian yang tidak ternilai besarnya.
Ia akhirnya sampai di rumah Elisa, nabi yang diceritakan oleh gadis Israel pelayannya.
Elisa memberi instruksi lewat bujangnya agar Naaman mandi membenamkan diri
tujuh kali dalam sungai Yordan agar sembuh dari sakit kustanya. Instruksi yang menjadi
jalan pernyataan kasih-karunia, anugerah-Nya untuk sembuh ini ternyata dipandang
tidak masuk akal, skenario yang dipikirkannya adalah Elisa akan menyembuhkannya
dengan “mantra dan ritual memanggil nama TUHAN Allahnya”. Namun, pegawaipegawainya
yang bijaksana menasihatinya agar instruksi mandi membenamkan diri
7x di sungai Yordan itu, yang bukan hal yang sukar untuk dilakukan oleh Naaman,
mereka minta Naaman melakukannya. Akhirnya ia melakukannya, dan sembuh dari
kustanya.
Kita sering juga berpikir seperti Naaman, yaitu mengandalkan logika pikir, nalar
logis. Apa yang tidak logis, kita tolak. Apalagi di jaman sekarang, kita sudah sulit
percaya bahwa masih ada anugerah, kasih-karunia TUHAN Allah. Kita sulit percaya
campur tangan TUHAN Allah bahwa orang bisa disembuhkan dari penyakitnya yang
tak mungkin disembuhkan. Kita sulit percaya bahwa pertolongan TUHAN Allah tetap
hadir dan kasih-karunia TUHAN tetap ada dalam kondisi sulit manusia,. Karenanya,
kita cenderung membuat skenario sendiri, yang kita yakini lebih bisa mengatasi
masalah kita ““ dan skenario bunuh diri menjadi jalan pintas yang dianggap baik.
Apalagi dalam hal keselamatan jiwa, bebas dari hukuman TUHAN Allah, banyak
upaya ritual yang melelahkan (sampai menyiksa diri) yang dilakukannya, yang
dengan itu ia yakin bahwa dirinya pasti selamat. Tidak mungkin ini ada anugerah
… itu terlalu mudah, kita lupa bahwa hidup kita semata-mata hanya tersusun dari
anugerah-anugerah TUHAN Allah dan ini membuat hidup bukan perkara sukar. (HW)
Refleksi :
Anugerah memang bukan “perkara yang sukar” ““ karena anugerah semata-mata
dari TUHAN Allah, bukan karena kelayakan dan usaha kita.

ANUGERAH BISA DATANG MELALUI CERITA SEORANG PELAYAN

2015-04-21

ANUGERAH BISA DATANG MELALUI CERITA SEORANG
PELAYAN

” Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang
di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.”
(2 Raja-raja 5: 3)”

Naaman adalah panglima raja Aram, terpandang dan disayangi oleh rajanya
sebab melalui Naaman, TUHAN memberi kemenangan kepada orang Aram.
Tetapi dia sakit kusta, yang “najis” dan tidak dapat disembuhkan di jaman itu.
Namun, TUHAN yang sudah menjadikan Naaman pahlawan, DIA kembali menyediakan
“kasih karunia-Nya”, menunjukkan informasi jalan penyembuhan lewat omongan/
cerita seorang anak perempuan warga Israel, yang dibawa (ditawan) oleh Naaman
dan dijadikan sebagai pelayan bagi istrinya. Cerita tentang ada nabi yang akan
menyembuhkan Naaman tersebut bisa dibaca dalam bagian Sabda TUHAN diatas (2
Raja-raja 5:3).
Apa yang dapat kita pelajari dari peristiwa itu?. Pertama, Naaman tidak meremehkan
informasi/cerita itu, meski dikatakan oleh seorang pelayan kecil. Kedua, keseriusan
Naaman ditunjukan dengan cara menyampaikan informasi itu ke Rajanya, Naaman
menyebutkan sumber informasinya dari “gadis Israel” dan ini tidak dipandang remeh
oleh Raja. Rajanya juga memandang serius informasi itu sehingga ia akan menyurati
Raja Israel. Ketiga, keseriusan Naaman, ditunjukkan dengan ia sendirilah yang
menyampaikan surat itu disertai dengan aneka pemberian yang besar nilainya ke
Raja Israel. Ia tidak gengsi untuk minta tolong pada pihak lain. Meski oleh Raja Israel,
kasus ini dipandangnya sebagai jalan untuk mengajak berperang.
Dalam realita hidup kita, kita sering meremehkan informasi atau keterangan yang
dikatakan oleh rekan yang lebih muda, apalagi anak kecil. Informasi atau cerita
mereka dianggap sebagai “dongeng”, karangan belaka. Kita juga sering memandang
rendah, tidak menghargai informasi yang datang dari “orang kecil”, pelayan.
Seharusnya kita mencontoh Naaman, yang sangat menghargai cerita dari seorang
gadis Israel, pelayan istrinya ““ meski isi cerita itu tidak mudah untuk dipercayai (ada
nabi yang akan menyembuhkan dia). Karena, bisa saja TUHAN Allah menggunakan
“orang kecil”, siapa saja yang dikehendaki-Nya, untuk menjadi jalan anugerah, kasihkaruniaNya.
(HW)
Refleksi :
Minta TUHAN Allah tolong kita untuk mampu peka mendengar cerita kasihkaruniaNya
lewat siapapun

UNGKAPAN TERIMA KASIH SUDAH CUKUP

2015-04-20

UNGKAPAN TERIMA KASIH SUDAH CUKUP

Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita
mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-
Nya, dengan hormat dan takut.
(Ibrani 12:28)”

Suatu kali, seorang pendeta melakukan perjalanan misi ke China. Setiap kali
melakukan perjalanan, dia suka membeli barang untuk diberikan kepada anakanak
dan istrinya. Kali ini dia membeli headphone yang harganya sangat murah
jika dibandingkan dengan harga di Amerika. Jadi dia membeli lima buah: satu untuk
istrinya, tiga untuk tiga anak tertua mereka, dan satu untuknya sendiri. Seluruh
keluarga tentu saja sangat senang dan mengungkapkan bahwa ini adalah hadiah
terbaik yang pernah mereka terima.
Suatu hari, salah seorang anak mereka pergi ke sekolah dan meletakkan headphone
di dalam tas ranselnya. Hari itu dia ada permainan sepakbola. Dia meletakkan
tas ranselnya di pinggir lapangan. Ketika selesai bermain, dia menemukan bahwa
headphone-nya sudah raib entah kemana. Dia merasa terpukul dan kecewa karena
kehilangan barang yang sangat berharga baginya.
Suatu malam, anaknya datang kepada Pak Pendeta untuk menanyakan jika dia
punya cukup tabungan apakah dia bisa membeli headphone milik ayahnya. Dia
menganggap bahwa dirinya tidak patut untuk mendapatkan hadiah lagi, karena
dia tidak bertanggungjawab atas hadiah yang diberikan ayahnya. Pak Pendeta
sebenarnya sangat suka dengan headphone miliknya. Dia juga ingin memberi
pelajaran buat anaknya supaya lain kali lebih berhati-hati. Pada waktu itu, dia juga
sedang mempersiapkan khotbah mengenai anugerah.
Pada saat khotbah, Pak Pendeta memanggil anaknya ke mimbar, lalu menjelaskan
kepada jemaat mengenai peristiwa hilangnya headphone milik anaknya. Lalu dia
memberikan sebuah kotak berisi headphone miliknya, yang kebetulan warnanya
sama dengan milik anaknya. Meskipun anaknya sadar bahwa dia tidak berhak atas
hadiah headphone lagi dari ayahnya, tetapi sebagai ayah yang mengasihi anaknya, Pak
Pendeta merelakan milikinya untuk diberikan kepada anak yang sangat dikasihnya.
Dengan menangis terharu, anaknya memeluk sang ayah dan mengucapkan: “Terima
kasih, Ayah” (ROR)
Refleksi :
Apakah kita sudah mengucapkan terima kasih kepada Tuhan atas segala hal yang
kita terima daripadaNya?

ANUGERAH BAGI ANAK RAJA

2015-04-19

ANUGERAH BAGI ANAK RAJA

“Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: “Apakah hambamu ini, sehingga engkau
menghiraukan anjing mati seperti aku?”
(2 Samuel 9:8)”

Jamie George mengisahkan mengenai seorang pangeran yang hidup pada zaman
dahulu kala. Dia menceritakan kisah ini dengan sederhana namun sangat menarik.
Sang pangeran adalah cucu dari seorang raja yang sangat berkuasa. Sang raja dan
anaknya, yaitu ayah dari sang pangeran tewas pada suatu pertempuran. Kemudian
kerajaan dipimpin oleh seorang raja baru.
Karena perubahan politik dalam kerajaan, pengasuh sang pangeran mengambil
inisiatif menyelamatkan sang pangeran dan melarikan diri keluar istana. Namun,
terjadi kecelakaan sehingga mengakibatkan sang pangeran menjadi cacat ke dua
kakinya. Sang pengasuh berteriak dan membawa sang pangeran lari ke padang gurun
dan tinggal di sebuah pondok sederhana. Disana ia membesarkan sang pangeran dan
berusaha menjauhkan dia dari penguasa baru. Sang pangeran bertumbuh menjadi
seorang yang pemalu dan hidup dalam ketakutan. Dia kehilangan harga diri dan
status sebagai anak raja. Dia tidak bisa berjalan, tidak bisa berlari, dan menunggang
kuda. Dia merasa dirinya tidak berarti. Dia tidak bisa lagi menikmati kehidupan istana
apalagi memberikan kontribusi kepada masyarakat. Dia bagaikan sebuah wadah
yang tidak memiliki jiwa, hanya menunggu saatnya untuk mati.
Pada suatu hari ada seseorang yang mengenal ayahnya datang dan menyampaikan
bahwa raja ingin sekali bertemu dengan sang pangeran. Dilanda oleh ketakutan yang
luar biasa, sang pangeran menuruti perintah untuk menghadap raja ke istana. Dia
terkejut luar biasa ketika sang raja menyambutnya dengan baik dan ramah. Raja
itu mengatakan sesuatu yang sulit dipercaya ketika dia datang dengan tunduk di
hadapan raja. Sang raja mengatakan bahwa beliau akan memberikan kekayaan
yang diperlukan, juga mempersilahkan sang pangeran untuk makan bersama
keluarga kerajaan; dia akan diperlakukan sebagaimana anggota kerajaan lainnya.
Dia bertanya-tanya mengapa dia mendapatkan anugerah yang begitu luar biasa? Dia
menganggap dirinya bagaikan anjing yang tidak layak mendapatkan semuanya itu.
Sang raja kemudian berbisik bahwa ayahnya dan raja adalah sahabat karib. Sang raja
ingin mengangkat dia menjadi anaknya sebagaimana janjinya kepada sahabatnya
untuk merawat keluarga dari sahabatnya. (ROR)
Refleksi :
Sama seperti sang pangeran, kita menerima anugerah yang tidak layak kita terima.
Kita adalah anak raja. Tidak ada alasan lagi bagi kita untuk menganggap diri kita
tidak berarti.

KARUNIA UNTUK MENGHASIHI

2015-04-18

KARUNIA UNTUK MENGHASIHI

Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.
(1 Yohanes 4:19)”

Penyunting buku Spiritual Classics, Richard J. Foster memberikan refleksi tentang
kehidupan seorang penulis yang hidp di abad ke 13, bernama Hadewijch dari
Antwerp, yang banyak menulis mengenai kasih ilahi.
Kita mungkin banyak membicarakan mengenai kasih, melakukan tindakan-tindakan
kasih. Tapi bagi Hadewijch kasih adalah permulaan dan akhir, tinggi dan dalamnya
kehidupan. Kita memahami bahwa kasih adalah sebuah gagasan atau buah
pemikiran, barangkali sebuah tindakan. Tetapi baginya, Kasih melingkupi segalanya,
segala kerinduan, segala hormat, segala hasrat, segala pengaharapan ““ semua dalam
segalanya. Kita melihat kasih SEBAGAI sesuatu yang lembut. Bagi Hadewijch, Kasih
itu ADALAH ““ realitas dimana kita harus hidup dan melaluinya kita melayani orang
lain.
Hadewijch berbicara tentang Kasih Allah. Secara ringkas tulisan Hadewijch
mendorong kita untuk melakukan lima hal yang menunjukkan ungkapan syukur kita
atas kasih dan karunia Tuhan yang besar. Yang pertama, berikan segalanya untuk
segalanya. Segala pengalaman termasuk kegagalan dalam hidup kita persembahkan
kepada Tuhan dan untuk menyatakan kasihNya. Yang kedua, lakukan segala sesuatu
untuk menghormati Allah. Jangan biarkan apapun mengganggu damai sejahtera
yang Tuhan berikan. Lakukan yang terbaik baik dalam segala situasi. Yang ketiga,
jadikan Tuhan yang terutama dalam hidup dan panggilannya menjadi prioritas
utama. Jangan mengabaikan panggilanNya untuk sesuatu yang kurang penting.
Tidak ada yang lebih memuaskan daripada melakukan tugas panggilan Tuhan. Yang
keempat, layani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Jangan menginginkan yang lain,
jangan takut akan apapun, dan biarkan kasih Tuhan bekerja dalam hidupmu. Jangan
biarkan keragu-raguan menguasai dirimu. Yang kelima, menyangkal diri bagi Tuhan.
Dalm rangka menghargai kasih Allah, kita harus menyangkal diri kita sehingga dapat
memenuhi panggilanNya, benar-benar taat dan menguduskan diri, melakukan yang
terbaik hanya untuk Allah. Bahkan ketika mencapai suatu keberhasilan, tetaplah
rendah hati, tidak meninggikan diri karena pencapaian tersebut, melainkan secara
bijaksana dan murah hati menggunakannya untuk memuliakan Tuhan dan kebaikan
bagi umat manusia dan ciptaan Tuhan di bumi. (ROR)
Refleksi :
Marilah kita dengan rendah hati mengakui bahwa Kasih Allah adalah permulaan dan
akhir dari segala sesuatu, lalu menghidupi kehidupan kita di dalam kasih tersebut.

MENJADI INSTRUMEN DI TANGAN ALLAH

2015-04-17

MENJADI INSTRUMEN DI TANGAN ALLAH

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia
diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. ”
(Matius 5:13)”

St. Francis pernah berdoa, “Tuhan, jadikanlah aku instrumen badi perdamaianMu!”
Kita pun seringkali berdoa untuk sesuatu, bahkan banyak hal. Kita berdoa bagi
orang-orang yang kita kasihi, untuk orang sakit, untuk kesehatan, untuk uang
banyak yang kita perlukan, untuk keberhasilan dalam menghadapi ujian, untuk negara
dan bangsa, bahkan untuk perdamaian dunia. Kita juga berdoa untuk pengampunan
dosa-dosa kita, untuk kemenangan melawan dosa, untuk menghadapi situasi yang
mengancam atau membuat kita takut, dan sebagainya. Namun seringkali ketika
berdoa kita jatuh ke dalam suasana dan sikap hati yang mengasihani diri sendiri dan
kurang menggambarkan keyakinan atau iman. Kita lupa bahwa kita adalah murid
Kristus yang sudah ditebus dan dijamin hidupnya. Oleh karena itu ktai tidak perlu lagi
kuatir tentang hal apa pun juga.
Kita bukanlah penerima pasif melainkan instrumen yang aktif di tangan Allah. Bukan
berarti kita tidak boleh berdoa untuk diri kita sendiri, tetapi kita harus mengingat
bahwa kita meminta semuanya itu supaya kita bisa menjadi alat bagi kemuliaan
Tuhan. Kita berdoa untuk tubuh yang sehat supaya kita bisa melayani Tuhan dan
sesama. Kita meminta berkat yang melimpah sehingga kita bisa menyalurkannya
kepada orang lain yang membutuhkannya. Kita berdoa supaya Tuhan berikan
kekuatan dalam menghadapi pergumulan supaya kita pun bisa menolong orang lain
yang mengalami pergumulan yang sama. Pada akhirnya, kita akan menceritakan
pertolongan Tuhan dalam menghadapi pergumulan tersebut.
Tidak seorangpun yang terlalu lemah untuk menjadi instrumen bagi kemuliaan
Tuhan. Tidak seorangpun yang terlalu tidak penting untuk menjadi alat bagi
kemuliaanNya. Sama halnya seperti Musa yang dipakai oleh Allah untuk menghadapi
Firaun. Kelemahan Musa menjadi alat bagi pernyataan kemuliaan Tuhan. Yohanes
Pembaptis, yang dianggap nabi oleh orang Yahudi, dengan jelas mengakui bahwa
Yesus lebih berkuasa dari dirinya. Kita semua juga punya kelemahan, tetapi Tuhan
bisa menggunakan kelemahan tersebut untuk menjadi alat bagi kemuliaanNya. (ROR)
Refleksi :
Menyadari kelemahan diri kita, marilah kita menyerahkannya kepada Tuhan, dan
menyatakan kesediaan untuk dipakai sebagai instrumen bagi kemuliaanNya.

IMAN YANG TERLALU PERCAYA DIRI

2015-04-16

IMAN YANG TERLALU PERCAYA DIRI

“Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum,
tetapi aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur… Jawab Petrus:
Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau”
(Lukas 22:31-34)”

Pelajaran penting dari episode ketika Petrus dengan sangat percaya diri
menyatakan tekadnya untuk mati bersama Yesus. Dia masuk ke dalam situasi
yang tidak bisa dikendalikannya, dan ternyata kemudian dia menyangkal
Yesus, seperti telah diprediksi oleh Yesus. Yesus sudah memperingatkan Petrus
mengenai pentingnya mensyukuri kasih karunia Tuhan dan supaya dia tidak terlalu
mengandalkan kekuatannya sendiri. Petrus belajar dari pengalaman kegagalan
“membela” Yesus yang membuatnya lebih rendah hati dan mengandalkan kekuatan
Allah.
Demikian pula yang dialami oleh Vickie L. Hess, seorang Yahudi yang bertobat ketika
dia kuliah di perguruan tinggi. Dia mengalami penolakan dan rekasi negatif lainnya
ketika dia menceritakan pertobatannya kepada keluarganya. Meskipun demikian
kasihnya semakin besar kepada keluarganya. Baginya, keluarganya sangat berarti
bagi kehidupannya. Dengan pertimbangannya sendiri, dia memutuskan untuk
melindungi keluarganya dan tidak membuat mereka tersinggung. Caranya, dia
pergi ke gereja secara diam-diam, berbohong mengenai teman-teman Kristennya,
dan bahkan menyangkali bahwa dia sudah sebenarnya sudah dibaptis. Dia merasa
dengan hikmatnya sendiri, dia bisa mengatasi permasalah dengan keluarganya. Dia
merasa malu dengan kenyataan itu. Dia mencoba menghadapi persoalan itus sendiri
tanpa melibatkan Tuhan.
Beberapa orang teman menasehati supaya dia belajar menyerahkannya kepada
kedaulatan Tuhan. Pelajaran dari pengalaman Petrus memberikan pemahaman baru
baginya. Ketika dia menyerahkan segala persoalan kepada Tuhan dan mengakui
kelemahannya, mengandalkan kekuatanNya, Tuhan bisa membereskannya. Dengan
demikian Tuhanlah yang dimuliakan, bukan dia. (ROR)
Refleksi :
Maukah kita mohon pengampunan dari Tuhan karena seringkali kita tidak
menganggap cukup kasih karunia Tuhan bagi kita; kita masih mengandalkan
kekuatan kita, tidak mengakui kelemahan kita, dan tidak mengandalkan Tuhan
dalam menghadapi pergumulan hidup kita.

ANUGERAH MELALUI SENTUHAN PRIBADI

2015-04-15

ANUGERAH MELALUI SENTUHAN PRIBADI

“Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi
mereka datang kepadaKu; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya
kerajaan Sorga.”
(Matius 19:14)”

Kita tidak pernah menyangka betapa pendekatan atau sentuhan pribadi sangat
besar dampaknya dalam kehidupan seseorang. Bahkan pengalaman menerima
sentuhan pribadi dapat mengubahkan seseorang menjadi pemimpin yang
luar biasa. Itulah yang dicontohkan oleh Yesus melalui pelayananNya selama tiga
setengah tahun. Anugerah sentuhan pribadi diberikanNya kepada semua orang
tidak memandang usia, latar belakang jender, maupun suku bangsa, karena Yesus
mengasihi semua orang.
Anugerah sentuhan pribadi ini juga yang mengubahkan seorang anak muda yang
kemudian menjadi presiden dari Pepperdine University di California, AS bernama
Andrew K. Benton. Pada usia 19 tahun, dia sedang kuliah tahun pertama di sebuah
universitas yang cukup besar di daerah Kansas, dimana dia dibesarkan. Namun,
dia merasa tidak bahagia, semua terasa monoton, sama, dan tidak menantang.
Dia ingin ada perubahan. Lalu dia memutuskan untuk pindah ke perguruan tinggi
yang lebih kecil, yang berafiliasi dengan gereja. Namun di tempat itupun dia tidak
merasa bahagia, dan berencana untuk kembali ke tempat asalnya. Beberapa orang
mahasiswa menangkap kegelisahaan dan ketidakbahagiaan yang dirasakan oleh
Andrew. Mereka menawarkan sesuatu yang tidak pernah didapatkan Andrew
sebelumnya: persahabatan yang tulus. Itu merupakan hadian terpenting yang
mengubah hidupnya. Selanjutnya, Andrew menamatkan kuliah di tempat itu,
menemukan pasangan hidupnya juga di sekolah itu, dan bahkan karirnya di
perguruan tinggi dimulai dari sekolah tersebut. Sekarang dia menjadi presiden
dari sebuah universitas. Dia sangat memahami pentingnya memberikan anugerah
sentuhan pribadi sangat efektif dalam mengubahkan hidup seseorang. Dia belajar
bahwa kebahagiaan adalah pilihan; persahabatan yang tulus memberikan dampak
yang luar biasa dalam mengubahkan hidup seseorang. (ROR)
Refleksi :
Maukah kita memberikan anugerah sentuhan pribadi kepada rekan mahassiswa,
sejawat, kolega melalui persahabatan yang tulus?

ALLAH MEMENUHI

2015-04-14

ALLAH MEMENUHI

“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya
dalam kristus Yesus.”
(Filipi 4:19)”

Diterima di perguruan tinggi tentu saja sangat menyenangkan, walaupun
tak selalu mudah ketika melaluinya, tak terkecuali bagi David J. Gyertson.
Kuliah di perguruan tinggi membutuhkan bukan hanya kemampuan untuk
menyesuaikan diri, tetapi juga kemampuan untuk bekerja keras, dan pergumulan
iman untuk kecukupan dana untuk membiayai kuliah hingga selesai. Sebagai seorang
mahasiswa asing, David tidak bisa mendapatkan bea siswa dan pinjaman yang bisa
diperoleh oleh mahasiswa lain yang menjadi warga negara Amerika. Oleh karena
itu David memulai kuliah di perguruan tinggi dengan dua hal: cukup uang untuk
semester pertama dan iman sederhana bahwa Tuhan akan mencukupkan.
David mendapatkan pelajaran penting mengenai iman dan bekerja sepanjang
kehidupan di perguruan tinggi dan perjalanan karir. Dia memiliki keyakinan yang
kuat bahwa dia sedang mengikut bimbingan Tuhan untuk persiapan melayani Kristus
dan KerajaanNya. Namun keyakinan yang kuat tidak berarti dia menjalani kehidupan
yang mudah. Dia harus bekerja sepenuh waktu sambil menyelesaikan tugas-tugas
sekolah. Sebagai mahasiswa asing, tidaklah mudah untuk mendapatkan pekerjaan
penuh waktu. Oleh karena itu, apa saja pekerjaan yang tersedia di kampus, termasuk
bagian pemeliharaan dan kebersihan kampus, dia kerjakan. Pendapatannya pada
semester pertama ditambah sedikit bea siswa dan donasi pribadi yang diperoleh
cukup untuk membayar biaya kuliah untuk semester kedua. Tapi, pada akhir
semester kedua, seluruh tabungannya habis bahkan dia harus membayar pinjaman
untuk mendaftar ulang kuliah tahun kedua.
Seorang profesor yang juga pensiunan misionari menolong David untuk bertahan
pada tahun pertama. Beliau mendorong David untuk tetap bekerja keras, melakukan
tanggung jawab, dan percaya kepada pertolongan Tuhan. Pertolongan Tuhan datang
melalui seorang dosen, yang sedang mendoakan apa yang akan dia lakukan dengan
kelebihan pendapatan yang diterimanya tahun itu. Dia yakin David lah orang yang
tepat untuk menerimanya. Ketika David menerima cek, ternyata jumlah yang tertera
sama persis dengan jumlah yang dibutuhkannya. (ROR)
Refleksi :
Tuhan mengetahui apa yang kita butuhkan. Kita hanya perlu untuk mengembangkan
sikap hati yang bekerja keras, rajin dan percaya akan pemeliharaan Tuhan.