PELAKU FIRMAN

2015-05-21

PELAKU FIRMAN

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja;
sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. ”
(Yakobus 1 : 22)”

Beberapa waktu yang lalu tanpa sengaja mobil kami menabrak mobil yang ada di
depan kami persis pada saat akan membayar tol di pintu tol Pasteur. Bayangan
saya saat itu pasti pengendara mobil yang ditabrak akan marah. Dugaan saya
meleset, seorang anak muda yang gagah keluar dari mobil lengkap dengan senyuman
dan mengangguk ke arah kami. Sejenak kemudian dia memeriksa bagian belakang
dari mobilnya dan berkata tidak apa apa yang kena hanya bempernya saja. Dengan
mengacungkan jempol dia kemudian berlalu dari hadapan kami. Peristiwa ini bagi
saya berkesan. Berkesan bukan karena peristiwa tabrak belakang tapi sikap anak
muda itu. Begitu santun. Saya membayangkan orang tua, guru dan orang-orang yang
telah mendidiknya. Mereka berhasil.
Fulghum menulis bahwa semua yang perlu kita ketahui telah kita pelajari di
taman kanak-kanak, mengenai bagaimana menjalani hidup, apa serta bagaimana
melakukannya. Fulghum merangkum bahwa butir butir kearifan tersebut adalah;
tidak serakah, bermain dengan jujur, menjalani kehidupan secara seimbang, jangan
memukul dan melukai orang lain, jangan mencuri, ucapkan maaf bila menyakiti
orang lain …dst.
Singkatnya setiap kita telah mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana kita
harusnya bersikap dalam menjalani hidup. Sayangnya hal-hal baik tersebut hanya
sampai di tataran kognitif belum tampak secara tindakan.
Alangkah indahnya bila hidup setiap orang menjadi pelaku dari hal-hal baik yang
telah diketahuinya. (SG)
Refleksi :
Mari menetapkan satu sikap yang ingin kita ubah.

PRIORITAS

2015-05-20

PRIORITAS

“Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya, ia sama dengan
orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.”
(Matius 7:24)”

Pada dasarnya semua orang menginginkan agar segala sesuatu yang diharapkan
dapat berjalan dengan baik. Tidak ada halangan, tidak ada rintangan. Kehidupan
yang demikian disebut sebagai kondisi ideal. Segala sesuatu berjalan dengan
baik, serasi, dan seimbang. Kenyataanya tidak mungkin semua keinginan dan
harapan dapat terlaksana. Manusia harus memilih. Harus menentukan prioritas.
Mana yang harus segera dilakukan dan mana yang masih bisa ditunda. Penentuan
prioritas akan menolong setiap orang untuk menyusun skala prioritas berdasarkan
urutan kepentingannya.
Penentuan prioritas harus dibarengi dengan kesungguhan dalam melakukan
implementasinya. Prioritas di atas kertas atau hanya niat, tidak ada gunanya.
Bertindaklah sesuai dengan apa yang Anda tulis dan ucapkan. Dalam implementasi
pasti ada tantangan. Berani mengatakan tidak pada saat godaan untuk melakukan
sesuatu hal, padahal hal tersebut bukan prioritas. Implementasi membutuhkan
ketegasan, keteguhan hati. Tegas memiliki banyak konsekuensi. Tegas mengatakan
tidak untuk hal hal yang sifatnya tidak membangun. Misalnya waktu santai (malas)
harus segera diganti dengan yang seharusnya.
Tegas akan menjadi acuan bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Tegas bukan berarti
tidak peduli terhadap lingkungan, terhadap orang orang dekat. Tegas hanya sebagai
salah satu benteng agar tidak melakukan suatu kegiatan pada saat yang tidak tepat.
Dalam satu kesempatan seorang Pendeta mengatakan bahwa banyak Ibu yang
tidak bisa tegas pada diri sendiri. Alasan hanya window shooping tapi pada akhirnya
belanja. Padahal barang-barang yang dibeli tidak atau belum dibutuhkan untuk saat
ini.
Banyak godaan di sekitar kita dengan berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk tawaran
yang menarik seperti diskon, tawaran berinvestasi dengan bunga yang menggiurkan
namun karena yang mengajak adalah teman dekat maka sungkan untuk menolaknya,
di kemudian hari ada rasa penyesalan. Karena itu kita perlu menetapkan prioritas
dengan baik. (SG)
Refleksi :
Sikap tegas perlu pada saat yang tepat.

KREATIVITAS

2015-05-19

KREATIVITAS

“Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang
mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita
beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.”
(Ibrani 12:10)”

Menurut teori aerodinamika, seperti yang ditunjukkan melalui percobaan
terowongan angin maka seharusnya lebah madu tidak bisa terbang. Sebab
tidak adanya keseimbangan antara ukuran, berat, dan bentuk tubuhnya
dengan panjang sayap yang terentang. Faktanya lebah madu terus melaju, terbang
ke mana mana, dan membuat madu setiap hari.
Keluhan akan naiknya harga kebutuhan pokok semakin sering terdengar. Tidak saja
dikeluhkan oleh para ibu rumah tangga tetapi juga dikeluhkan oleh para pelajar dan
mahasiswa sebab kenaikan harga pokok berimbas pula dengan terbatasnya daya
beli yang mereka miliki. Kondisi ini seakan sangat parah dan tidak akan ada jalan
keluarnya. Sehingga demo di beberapa tempat mulai dilakukan oleh sebagian orang.
Namun Kondisi yang sama dapat disikapi dengan cara berbeda.
Sebagian orang menyikapinya dengan tenang. Menerimanya sebagai bagian dari
realitas kehidupan yang harus dijalani. Sebagian lagi menghadapinya dengan penuh
ketakutan dan kecemasan. Mereka yang menghadapinya dengan ketenangan malah
mendapatkan beberapa tips terkait dengan berbagai tindakan dan strategi yang
dapat diambil. Penghematan pada beberapa sektor kehidupan. Kedengarannya klise
namun bila ditelusuri apa yang mereka lakukan, maka kita akan berdecak kagum dan
sependapat bahwa hal tersebut adalah bagian dari kreativitas. Sikap kreatif tersebut
tampak dalam mengelola waktu. Mengatur pengeluaran sedemikian rupa. Waktu
luang yang dimiliki digunakan untuk membuat berbagai keterampilan yang memiliki
nilai jual. Kebiasaan membeli makanan matang diubah menjadi masak sendiri.
Berangkat ketempat kerja dengan menggunakan mobil secara bersama-sama
(tentunya yang rumahnya searah). Menggunakan motor secara bersama (gantian
menjemput). Bahkan beberapa di antara pegawai wanita bergantian memasak
dengan menu sederhana untuk kemudian disantap bersama pada saat jam makan
siang. Itu sebabnya John Maxwell mengatakan betapa pentingnya sikap seseorang
dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan. Sikap adalah ekspresi perasaan
terdalam yang diungkapkan melalui tingkah laku. Keluhan tidak memberi solusi
terhadap masalah yang dihadapi. (SG)
Refleksi :
Sikap yang kreatif akan menolong diri sendiri dan orang lain untuk tetap bersyukur.

SANTUN

2015-05-18

SANTUN

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang
terdapat juga dalam Kristus Yesus.”
(Filipi 2 : 5)”

Kata santun merujuk pada sikap yang mengerti dan menaati aturan, norma yang
berlaku di masyarakat. Sikap santun akan mewujud dalam tata krama dalam
bergaul. Santun juga memiliki arti dapat bersikap dan bertutur tepat sesuai
dengan tempat dan waktu. Kristus memberi teladan yang sempurna untuk diikuti.
John Maxwell mengatakan bahwa standar yang tinggi bukan untuk membuat kita
frustasi, melainkan untuk menguak sisi-sisi hidup kita yang perlu diperbaiki. Sikap
kita dibentuk oleh pengalaman pengalaman kita dan cara kita menanggapinya.
Sikap santun tidak terbentuk dengan sendirinya, perlu proses. Teguran dari orang di
sekitar kita dapat menolong untuk terus membangun sikap.
Dosa tertua manusia adalah kesombongan. Kesombongan dapat berwujud dalam
berbagai rupa. Baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Kesombongan yang
tidak kelihatan adalah pada saat seseorang ingin mengendalikan masa depannya,
mengendalikan orang orang yang ada di sekitarnya. Seolah mengetahui masa
depan dan dapat merancang masa depan. Kesombongan yang tidak tampak adalah
kesombongan dalam pikiran. Pikiran yang mengacu kepada pandangan, sebagai
orang yang paling benar, paling pintar dan paling baik. Sadar atau tidak, apa yang
dipikirkan akan terwujud dalam sikap dan perkataan. Pikiran yang berpusat kepada
Kristus seperti yang tertuang dalam Filipi 2 menempatkan indikator sikap yang
rendah hati, tidak mementingkan diri sendiri.
Kita sebagai surat Kristus, santun seharusnya menjadi bagian dari setiap anak
anakNya. Melalui kesantunan, semakin banyak orang yang akan tahu dan mengenal
Kristus. Ada satu bacaan yang mengatakan bahwa saat ini sulit sekali membedakan
mana yang pengikut Kristus dan mana yang bukan. Perilaku dan tutur katanya “sama
saja”. Tapi itulah kondisi saat ini. Sudah saatnya kita kembali melakukan evaluasi dan
bertanya ulang “sudahkan kita memiliki sifat Kristus dalam diri kita? (SG)
Refleksi :
Tidak ada kata terlambat untuk memulai lagi.

SEBENTAR LAGI

2015-05-17

SEBENTAR LAGI

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa
tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”
(Amsal 22 : 6)”

Sebentar lagi adalah kata yang paling sering kita dengar atau bahkan kita gunakan
untuk diri sendiri. Sebentar lagi yang sering kita ucapkan, ditiru pula oleh orang
orang yang ada di sekitar kita, khususnya anak-anak. Sebentar lagi seolah
menjadi hal yang biasa. Anak anak kemudian menjadikan pula kata sebentar lagi
menjadi bagian dirinya dalam melakukan berbagai kegiatan. Proses kata sebentar
lagi bahkan juga bisa berkembang menjadi nanti dulu, besok, lusa dan masih ada
waktu. Menunda sesuatu pasti pernah dilakukan oleh setiap orang dalam hidupnya.
Kata sebentar lagi dilakukan dengan alasan masih ada hal lain yang harus dilakukan.
Masih ada waktu atau belum ada mood. Sadar atau tidak kebiasaan ini ternyata
berdampak buruk dalam kehidupan kita. Kebiasaan menunda mengakibatkan
pekerjaan menjadi menumpuk sehingga dapat menimbulkan kebingungan. Mana
dulu yang harus dikerjakan. Sikap menunda juga dapat mengakibatkan mengerjakan
secara asal. Yang penting cepat. Yang penting selesai. Urusan kualitas bagaimana
nanti.
Bacaan hari ini menggugah dan mengingatkan setiap kita untuk tidak menunda.
Lakukan apa yang bisa dikerjakan hari ini. Buat daftar setiap pagi terkait dengan
agenda yang akan dilakukan sepanjang hari ini. Malam harinya lakukan evaluasi
mana yang sudah dilakukan, mana yang belum dan mana yang segera memerlukan
tindak lanjut. Sikap menunda tidak jarang juga dapat menimbulkan depresi sebab
beberapa pekerjaan harus diselesaikan dalam waktu yang bersamaan. Sementara
kapasitas kita terbatas. Kalaupun akhirnya dipaksakan juga dapat menimbulkan
kelelahan fisik yang berujung pada jatuh sakit. Apa yang ditulis dalam Penghotbah
bahkan mengingatkan kita bahwa sikap menunda dapat mendatangkan kemiskinan.
Sikap menunda juga membuat hidup menjadi tidak adil. Saat bekerja justru dilakukan
untuk melakukan hal lain. Saat makan dilakukan untuk menggarap pekerjaan, begitu
seterusnya. Padahal idealnya sebagaimana yang tertulis dalam Alkitab, semua ada
waktunya. Allah menciptkan kita sebagai makhluk yang paling sempurna. Biarlah
dalam kesempurnaan yang diberikan kepada setiap kita akan mewujud pula dalam
tugas, pekerjaan dan pelayanan yang kita lakukan, di manapun kita berada. (SG)
Refleksi :
Marilah kita mulai untuk melakukannya.

ORANG BIJAK BERHATI-HATI DAN MENJAUHI KEJAHATAN

2015-05-16

ORANG BIJAK BERHATI-HATI DAN MENJAUHI KEJAHATAN

“Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan, tetapi orang bebal melampiaskan
nafsunya dan merasa aman.”
(Amsal 14:16)”

Menurut catatan suatu harian terkemuka, paling tidak sudah 4 profesor
yang ditangkap KPK karena terlibat dengan masalah korupsi. Masyarakat
pada umumnya tidak menyangka bahwa para guru besar yang seharusnya
menjadi teladan tetapi tertangkap dalam kejahatan mereka. Mungkin saja mereka
adalah orang yang baik sebelumnya, tetapi jabatan membuat mereka terjatuh dalam
kejahatan
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa orang bijak adalah orang yang
berhati-hati dan menjauhi kejahatan. Berhati-hati dalam mengambil keputusan
berarti mengandalkan Tuhan dalam setiap keputusan yang harus diambil. Berhatihati
berarti menyadari bahwa kita manusia terbatas dan mempunyai kelemahan
dalam mengambil keputusan dan memerlukan Tuhan sebagai Penasehat Ajaib
agar keputusan kita benar. Kita harus berhati-hati karena kita membawa nama
baik Kerajaan Allah di muka bumi ini, kita bukan bekerja bagi diri kita sendiri, tetapi
segala sesuatu kita lakukan karena Tuhan yang memimpin kita. Berhati-hari bukan
berarti berlama-lama memikirkan dan tidak mengambil keputusan dengan segera.
Ketika Yusuf diperhadapkan dengan godaan istri Potifar maka sikap hati-hati dia
ditunjukkan dengan menolak ajakannya dan menjauhi kejahatan (Yusuf lari dari istri
Potifar). Yusuf tahu bahwa dia adalah manusia normal yang memiliki kelemahan,
untuk itu sebagai langkah bijaksana dia harus melarikan diri dari kejahatan, karena
dia menyadari bahwa bila tidak menjauh dia akan terperangkap dalam dosa yang
akan merusak nama Tuhan. Jadi berhati-hatilah dalam mengambil keputusan kerena
kita hidup untuk Tuhan dan memberkati orang di sekitar kita. (AK)
Refleksi :
Sudahkah kita memiliki sikap hati-hati dalam arti bahwa segala keputusan yang
akan kita buat merupakan hasil perenungan kita dengan Tuhan?

KEPANIKAN YANG MELANGGAR ATURAN

2015-05-15

KEPANIKAN YANG MELANGGAR ATURAN

“Ia menunggu tujuh hari lamanya sampai waktu yang ditentukan Samuel. Tetapi
ketika Samuel tidak datang ke Gilgal, mulailah rakyat itu
berserak-serak meninggalkan dia. Sebab itu Saul berkata:
“Bawalah kepadaku korban bakaran dan korban keselamatan itu.”
Lalu ia mempersembahkan korban bakaran.”
(1 Samuel 13:8-9)”

Pernahkah Saudara mengalami waktu dimana harus terburu-buru mengemudikan
kendaraan. Apa yang terjadi ketika dalam kondisi tersebut kita harus mengurangi
kecepatan dan menghentikan kendaraan karena ketika melewati perempatan
lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Ada suatu kecenderungan dalam hati
kita untuk mengabaikan aturan demi diri kita tidak terlambat menghadiri suatu
acara, kalau perlu lampu merah dilanggar sehingga dapat mempercepat perjalanan
kita.
Dalam 1 Samuel 13 di atas menceritakan tentang Saul yang terburu-buru sehingga
mendatangkan kerugian bagi dirinya sendiri. Saul mulai takut dan panik, ketika
menghadapi tentara Filistin yang sudah semakin mendekat. Sebelum melakukan
peperangan, bangsa Israel berencana akan mempersembahkan korban terlebih
dahulu sebagai permohonan penyertaan TUHAN kepada mereka. Samuel sebagai
nabi dan imam memiliki wewenang untuk melakukannya. Samuel telah berjanji akan
datang pada waktu yang telah ditentukan. Pada hari yang ditentukan, Saul mulai
panik karena Samuel tidak kunjung datang. Saul menjadi panik karena pasukan mulai
meninggalkannya. Sesuai hukum Taurat, yang bertugas mempersembahkan korban
adalah imam sementara raja tidak boleh melakukan hal itu. Akibat kepanikannya
Saul mengambil tindakan terburu-buru, yaitu mempersembahkan korban bakaran
kepada TUHAN. Tidak ada yang berdosa dengan mempersembahkan korban
bakaran. Menjadi persoalan adalah Raja Saul panik dan mengambil keputusan
dengan mengabaikan apa yang Tuhan tetapkan. (AK)
Refleksi :
Bagaimana dengan Saudara saat terburu-buru, bisakah kita mengendalikan diri
agar tetap tenang dan berpikir jernih sehingga dalam kondisi buru-buru tersebut
kita tidak melanggar aturan?

KETIDAKPEDULIAN MENGINGKARI KARAKTER ILAHI

2015-05-14

KETIDAKPEDULIAN MENGINGKARI KARAKTER ILAHI

“Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia
melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu;
ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.”
(Lukas 10:31-32)”

Menurut penelitian yang dilakukan di University of Exeter Medical School,
Inggris, kerja sosial diasosiasikan dengan tingkat depresi yang lebih rendah
serta menurunnya resiko penyakit. Menurut para peneliti di University of
Michigan, hal ini bisa jadi disebabkan oleh interaksi sosial yang membantu tubuh
memproduksi hormon oxytocin, yaitu hormon yang tak hanya membuat Anda lebih
peduli pada orang lain, tapi juga membantu Anda menghadapi stres dengan lebih
baik.
Ketidakpedulian mengingkari karakter Ilahi yang ada dalam hidup kita dan merusakkan
diri kita sendiri, perikop diatas adalah bagian dari kisah yang diceritakan oleh Yesus
mengenai ketidakpedulian atau sikap masa bodoh yang ditunjukkan oleh seorang
imam dan orang Lewi yang melihat seorang Yahudi yang terluka karena dipukul
oleh perampok. Seorang imam merupakan orang yang paham mengenai kebaikan
dan kejahatan sudah seharusnya menunjukkan kepeduliannya terhadap orang yang
mengalami kejahatan. Seorang Lewi adalah keturunan orang-orang yang dipakai
Tuhan untuk melayani di Bait Allah. Kedua orang ini jelas tidak memanifestasikan
keberadaan mereka ketika menghadapi orang Yahudi yang menderita dan
membutuhkan pertolongan. Ketidakpedulian mereka mengingkari karakter ilahi
yang seharusnya mereka manifestasikan kepada siapapun yang membutuhkan.
Tuhan menciptakan kita sedemikian rupa sehingga kita membutuhkan satu sama
lain. Tidak ada orang yang bisa hidup sendiri dan mengacuhkan orang lain. Tubuh kita
bereaksi positif terhadap tindakan kepedulian kita terhadap orang lain, sebaliknya
tubuh akan bereaksi negatif ketika kita menjadi acuh terhadap orang lain dan terlalu
memikirkan diri sendiri sehingga akhirnya mengalami depresi. (AK)
Refleksi :
Bagaimana dengan hidup Saudara? Apakah Saudara terlalu memikirkan hidup
saudara sendiri sehingga menjadi semakin acuh terhadap orang yang membutuhkan
bantuan kita?

KEPEDULIAN TERHADAP YANG MEMBUTUHKAN

2015-05-13

KEPEDULIAN TERHADAP YANG MEMBUTUHKAN

“Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu
Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!”. Sambil menghampiri usungan itu Ia
menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda,
Aku berkata kepadamu, bangkitlah!”
(Lukas 7:13-14)”

Pada tanggal 8 Desember 1948, Bunda Teresa memulai pekerjaan misionarisnya
bersama orang miskin, meninggalkan jubah tradisional Loreto (jubah biarawati)
dengan sari katun sederhana berwarna putih dihiasi dengan pinggiran biru.
Bunda Teresa mengadopsi kewarganegaraan India, menghabiskan beberapa bulan
di Patna untuk menerima pelatihan dasar medis di Rumah Sakit Keluarga Kudus dan
kemudian memberanikan diri ke daerah kumuh. Ia mengawali sebuah sekolah di
Motijhil (Kalkuta); kemudian ia segera membantu orang miskin dan kelaparan. Pada
awal tahun 1949, ia bergabung dalam usahanya dengan sekelompok perempuan
muda dan meletakkan dasar untuk menciptakan sebuah komunitas religius baru
untuk membantu orang-orang “termiskin di antara kaum miskin”.
Belas kasihan Tuhan Yesus kepada Janda adalah teladan kepedulian Tuhan Yesus
kepada orang-orang yang membutuhkan perhatian, kepedulian inilah yang membuat
mujizat terjadi dan janda beserta orang-orang yang menyertainya mengalami sukacita
yang luar biasa karena anak tunggalnya yang mati menjadi hidup kembali. Orangorang
disekitar kita membutuhkan kepedulian kita untuk mereka mengalami janji
Tuhan dalam hidup mereka. Bunda Teresa memahami panggilan itu dalam hidupnya,
orang-orang miskin yang terlantar dan ditolak oleh banyak orang mengalami
penerimaan dan perhatian karena seorang Bunda Teresa yang memanifestasikan
kepedulian Kristus kepada dunia.
Kita tidak harus menjadi seperti Bunda Teresa yang mendapat panggilan khusus, tapi
kita seharusnya menyadari bahwa belas kasihan adalah karakter Allah yang harus
nyata dalam kehidupan kita dan dirasakan oleh orang-orang yang membutuhkan di
sekitar kita. (AK)
Refleksi :
Apakah kita peduli dan merasakan belas kasihan Tuhan terhadap orang-orang
disekitar kita dimanapun kita ditempatkan? Apakah yang menjadi kebutuhan
mereka? Berdoalah supaya Saudara menjadi jawaban atas kebutuhan mereka.

KETIDAKPUASAN MEMIMPIN KEPADA KESERAKAHAN

2015-05-12

KETIDAKPUASAN MEMIMPIN KEPADA KESERAKAHAN

“…Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun
seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada
kekayaannya itu.”
(Lukas 12:15)”

Berita atau iklan mengenai jenis usaha yang dapat menghasilkan keuntungan
yang berlipat dalam setiap bulannya tidak pernah habis. Dari waktu ke waktu
berita mengenai sekelompok orang yang demo menuntut uangnya dikembalikan
karena janji keuntungan yang berlipat tidak dapat dipenuhi masih saja terjadi di
masyarakat kita. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat kita telah
menjadi tamak karena menginginkan keuntungan yang “tidak masuk akal” dengan
usaha sesedikit mungkin. Tidak ada yang salah dengan investasi dan keuntungan yang
didapatkan dari hasil investasi, tetapi persoalannya adalah ketamakan membuat
seseorang menjadi tidak “berlogika”, apapun akan dicoba karena hal tersebut dapat
memperbanyak uangnya dalam waktu yang singkat, apalagi jika tidak perlu bekerja
keras untuk mendapatkannya, cukup menantikan setiap bulan akan ditransfer
keuntungannya.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan bahaya keserakahan atau ketamakan.
Salah satu motivasi ketamakan adalah kebergantungan seseorang kepada uang
atau materi untuk keamanan dan kebahagiaan dirinya. Mereka beranggapan bahwa
dengan memiliki sebanyak mungkin uang atau materi mereka akan yakin mengenai
keamanan dan kebahagiaan masa depannya. Ketika kita sangat bergantung kepada
benda atau seseorang maka kita sedang membuat berhala dan jatuh kedalam
pemujaan berhala. Sebagai contoh jika kita mengharapkan keamanan dari uang
maka kita sudah membuat uang menjadi berhala, sebab hanya Tuhan yang dapat
memberikan keamanan.
Hidup kita tidak tergantung dari seberapa banyak uang yang kita punya. Itu hukum
yang Tuhan sudah tetapkan dan terbukti dari generasi ke generasi, jadi waspadalah
dengan ketamakan. (AK)
Refleksi :
Bagaimana dengan hidup Saudara saat ini, adakah ide-ide yang datang dari
ketidakpuasan dan yang memimpin kepada ketamakan mulai masuk dalam hati dan
pikiran Saudara? Bagaimana Saudara dapat mewaspadai ketamakan yang mungkin
saja mulai masuk dalam pikiran kita.