MENGHORMATI PARA UTUSAN ALLAH

2015-06-19

MENGHORMATI PARA UTUSAN ALLAH

“Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka
yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang
menegor kamu;”¦”
(1 Tesalonika 5:12)”

Ketika kami dalam pelayanan di Ambon, pernah bertemu dengan seseorang
yang pekerjaannya hampir tiap hari nongkrong di kedai minuman, khususnya
minuman yang memabukkan. Tiba-tiba dia menghampiri kami dan bersalaman
mengucapkan “Selamat pagi pak Pdt…bu..maaf..(sambil menyembunyikan
minumannya).
Dalam surat rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di Tesalonika, mereka
diperingatkan supaya hidup secara teratur dan dengan damai, aktif berbuat baik.
Salah satunya menghormati yang bekerja keras, yang memimpin dalam Tuhan dan
yang menegor, artinya akuilah mereka secara praktis dan menundukkan diri kepada
pimpinan mereka. Istilah proistamenoi (“˜mereka yang di atas kamu; “˜pemimpin’),
hamba Tuhan yang memperkenalkan keselamatan, kebenaran dan yang memimpin
kita di dalam Tuhan. Mereka diutus oleh Allah untuk mewakili-Nya supaya bisa
mengarahkan hidup benar, mengerti aturan-aturan yang berlaku. Mereka patut
untuk kita hormati.
Dalam perikop ini menekankan suatu karakter seseorang untuk bisa saling
menghormati kepada orang yang telah membina kita, mendidik kita, bahkan yang
berani menegor. Perubahan karakter yang dialami oleh seseorang yang dulunya
tidak bisa menghargai orang lain, tidak menghormati dan tidak mempunyai rasa
terima kasih terhadap orang yang pernah menolongnya, ternyata terjadi sebaliknya,
ada perubahan. Berarti perubahan itu di dasari oleh rasa penyerahan total kepada
kedaulatan Kristus.
Gelar atau jabatan bukan berarti tidak penting, tapi yang lebih penting adalah
karakter yang mau diubahkan oleh Kristus. (RDS)
Refleksi :
Sudahkah kita sebagai jemaat, staf, bawahan maupun mahasiswa menghormati
mereka yang di utus oleh-Nya/di beri kepercayaan untuk memimpin kita?

KARAKTEER KASIH KRISTUS

2015-06-18

KARAKTEER KASIH KRISTUS

“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan
saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
(Efesus 4:32)”

Suatu ketika seorang ibu mengantar barang dagangannya yaitu sebuah mainan
anak yang dapat berbunyi bahasa Inggris jika gambarnya ditekan. Dipesan
seminggu yang lalu oleh orang yang berinsial “A” di sebuah komplek perumahan.
Sang penjual tetap ramah meskipun barangnya tidak jadi dibeli.
Rasul Paulus dalam perikop ini dari ayat 17 sampai 32 memusatkan perhatiannya
pada akibat yang terdalam dari penyembahan berhala dan perbuatan-perbuatan
jahat yang membuat hidup menjadi kacau, karakter yang rusak. Ditegaskan lagi
supaya jangan hidup lagi sama dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Perlu
adanya perubahan yaitu hidup baru. Ketika mengenal dan percaya kepada Kristus
berarti mempunyai kehidupan yang baru (karakter yang baru), yang lama harus
ditinggalkan. Sifat-sifat yang merugikan orang lain, egois, mementingkan dirinya
sendiri adalah perbuatan kehidupan lama perlu ditanggalkan.
Orang Kristen harus berusaha ramah (bahasa Yunani: chrestos) sesuai dengan
karakter Kristus yang penuh kasih dan mengampuni. ” Dia yang tidak mengenal dosa
telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh
Allah” (2 Kor. 5:21). Menjadi suatu kewajiban sebagai orang yang sudah ditebus oleh
Kristus untuk melakukan hal-hal yang mencerminkan kasih-Nya. Meskipun dengan
harga yang harus kita bayar, dengan mengendalikan emosi, tetap sabar dan ramah
juga bisa mengampuni jika bertemu dengan orang-orang yang menyakiti, merugikan
bahkan membuat kita menderita. Orang Kristen harus berbeda dengan orang
duniawi, berarti harus dapat meninggalkan tabiat-tabiat lama. “Janganlah menahan
kebaikan daripada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu
melakukannya” (Amsal 3:27). Karakter yang lama yang sudah mendarah daging
dalam diri seseorang dapat diubahkan dan digantikan dengan karakter kasih Kristus
asalkan kita mau mempercayai-Nya. (RDS)
Refleksi :
Apakah kita masih bisa mencerminkan karakter Kasih Kristus meskipun harus bayar
harga? Pasti bisa! Dengan Kristus segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi
mungkin.Apakah kita masih bisa mencerminkan karakter Kasih Kristus meskipun harus bayar
harga? Pasti bisa! Dengan Kristus segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi
mungkin.

TIDAK TAHU TERIMAKASIH & TAHU BERTERIMAKASIH

2015-06-17

TIDAK TAHU TERIMAKASIH & TAHU BERTERIMAKASIH

“Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani
engkau?”
(Matius 18:33)”

Berterimakasih adalah salah satu bagian yang sangat penting dalam kehidupan
ini. Berterimakasih memiliki arti penting, pertama bahwa seseorang menyadari
kehidupannya berjalan dengan baik sebab ada kebaikan orang lain terhadap
dirinya. Berterimakasih pada saat yang sama memberi penghargaan pada orang yang
sudah melakukan kebaikan tersebut. Bayangkan jika kedua arti tersebut dilanggar
apa yang akan terjadi pada seseorang? Ia mungkin menjadi orang yang merasa tidak
membutuhkan bantuan orang lain, lalu ia menjadi orang yang arogan, atau tidak
menghargai apa yang sudah orang lain lakukan dirinya.
Dalam Matius 18:23-35 menjelaskan sebuah kisah yang sangat menarik untuk kita
simak. Kira-kira beginilah kisah tersebut: “Ada seorang yang berhutang sangat
besar kepada Raja. Karena ia tidak sanggup membayar hutang tersebut, Raja
berniat menghukumnya. Namun orang tersebut mohon penangguhan dan sang
Raja tergerak oleh belas kasihan. Lalu Raja itu membebaskan orang tersebut dari
hutang. Pulang dengan gembira ia bertemu dengan temannya yang berhutang pada
dirinya jauh lebih kecil dari pada hutangnya pada sang Raja. Namun orang ini malah
mengancam temannya jika tidak mau membayar hutangnya. Bahkan ia tidak segansegan
menjebloskan temannya itu ke dalam penjara. Mendengar hal itu sang Raja
sangat marah. Ia kembali menangkap orang itu dan memaksanya untuk membayar
hutang.”
Apa permasalahan sebenarnya orang itu? Ia tidak merasa bahwa kebaikan sang Raja
adalah sebuah hal yang perlu diperhitungkan. Mungkin ia pikir sang Raja membebaskan
dirinya karena kelihaiannya berdiplomasi. Sebab jika ia tahu berterimakasih maka
ia akan merasakan dengan sungguh-sungguh kebaikan sang Raja, dan kebaikan itu
akan muncul dengan sendirinya ketika ia berada di posisi sebaliknya, memberi maaf
misalnya. Seringkali dalam kehidupan ini kita malah menjadi orang itu, yang tidak
menyadari bahwa kehidupan kita saat ini ada sebab kebaikan dari banyak orang
mulai dari orang tua, keluarga, sahabat, teman kita dan yang terlebih adalah karena
kebaikan Tuhan. Percayalah sekuat apapun kita menghadapi kehidupan ini seorang
diri, kita tidak mungkin ada tanpa bantuan orang lain. (AT)
Refleksi :
Berterimakasilah kepada mereka yang telah membuat kehidupanmu ada seperti
saat ini Anda ada.

PERANGAI YANG KASAR VS SIKAP YANG LEMAH LEMBUT

2015-06-16

PERANGAI YANG KASAR VS SIKAP YANG LEMAH LEMBUT

“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.”
(Matius 5:5)”

Ada masanya ketika dunia dikuasai oleh orang-orang yang kasar seperti Adolf
Hitler, Benigto Musolini, Sadam Hussein, dan masih banyak lagi mereka yang
menggunakan kekerasan untuk menundukkan baik bangsanya sendiri maupun
bangsa-bangsa lain. Namun jaman terus beralih, dan kekuatan itu tidak lagi ada pada
benteng-benteng yang kokoh, atau tentara yang kuat, atau senjata yang mematikan.
Kekuatan itu berubah menajdi sebuah pena kecil namun mampu menundukkan
bangsa-bangsa yang dulunya kuat, yakni kekuatan diplomasi. Baru-baru ini bangsa
kita dihadapkan pada pemilihan Presiden dengan dua karakter kandidat yang
berseberangan, yang satu figur yang rendah hati dan yang lain figur dengan latar
belakang militer yang tegas. Ternyata bangsa ini menjatuhkan pilihannya pada
Presiden yang lemah lembut, sederhana dan merakyat.
Injil Matius mencatat ketika Yesus berkotbah di atas bukit, bagian pertama yang
disampaikannya adalah ucapan berbahagia, atau blessed atau diberkati (Yunani
= makarios), kemudian diikuti dengan sikap-sikap atau tindakan yang dikehendaki
Allah, yang salah satunya adalah kata yang dalam bahasa aslinya adalah praus yang
diterjemahkan lemah lembut, atau bisa juga menjelaskan kata humble atau rendah
hati. Yesus mengatakan bahwa mereka dengan sikap-sikap yang salah satunya
rendah hati atau lemah lembut itu itu adalah orang-orang yang akan memiliki bumi
(dalam bahasa aslinya kleronomeo) diterjemahkan inherit atau mewarisi.
Lemah lembut bukan berarti pendirian Anda bisa diombang-ambingkan. Sikap
lemah lembut atau rendah hati yang dimaksud tentu adalah bagaimana kita
memperlakukan sesama. Jika kita tidak memiliki pandangan bahwa sosok orang lain
juga memiliki perasaan yang sama dengan kita, maka dengan mudah kita menjadi
orang yang berperilaku kasar bahkan kepada orang yang paling dekat dengan kita
sekalipun. Namun ketika kita memahami bahwa manusia lain adalah sama seperti
kita, bahkan kita menganggap mereka juga adalah ciptaan Tuhan maka kita akan
mulai belajar memiliki sikap yang lemah lembut dan rendah hati terhadap sesama
kita. Dan mereka memang pantas untuk mewarisi dunia ini. (AT)
Refleksi :
Mari kita hargai setiap insan manusia sebab mereka juga adalah ciptaan Tuhan.

ORANG KIKIR VS MURAH HATI

2015-06-15

ORANG KIKIR VS MURAH HATI

Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya , ada yang menghemat secara
luar biasa, namun selalu berkekurangan.
(Amsal 11:24)”

Menjengkelkan sekali melihat perilaku orang kikir. Mungkin Anda pernah
melihat dari perilaku seorang rekan atau keluarga Anda yang kikir. Misalnya
ketika makan bareng, ia tidak mau ikut bayar, alasannya selalu ingin
memberi kesempatan orang lain berbuat baik. Atau kalau ke gereja, sebelum ibadah
dimulai disiapkannya dulu selembar uang 5 ribu rupiah, padahal di dompetnya ada
uang pecahan limapuluh ribuan cukup banyak. Dan ini kisah nyata nenek istri saya.
Ia membeli sepotong rendang dan memakannya hingga seminggu lebih dengan
mencolek bumbunya saja. Masih ada banyak lagi contoh perangai orang kikir yang
membuat kita geleng-geleng kepala.
Amsal Salomo memberikan sebuah hikmat pengajaran yang menarik dari ayat di
atas. Pertama adalah tentang orang yang bertambah kaya, kedua tentang orang
yang selalu berkekurangan. Yang pertama ia menjadi kaya sebab ia menyebarkan
hartanya, yang kedua yang selalu berkekurangan justru adalah orang yang
menghemat secara luar biasa. Bukankah seharusnya mereka yang menghemat luar
biasa yang bisa menjadi kaya? Saya kenal beberapa orang kaya yang punya sifat
kikir, yang membuat saya berkesimpulan, “O makanya dia kaya.” Namun yang unik
ketika diperhatikan lebih seksama ternyata orang-orang ini malah merasa hidupnya
selalu miskin dan kekurangan. Jadi bisa jadi yang dimaksudkan Amsal Salomo orang
yang menghemat luar biasa bisa saja kaya, tetapi jiwa, sikap dan perangainya seperti
orang miskin.
Pertanyaannya adalah mengapa orang kikir yang memiliki harta banyak namun tetap
merasa miskin dan kekurangan? Jawabannya adalah sebab ia tidak melihat apa yang
dimilikinya dan bersyukur, melainkan selalu pada kekurangannya sehingga ia merasa
perlu menyimpan apa yang dimilikinya, meskipun untuk itu ia harus mengorbankan
jangankan orang lain, kebahagiaan dirinya sendiripun tidak ia pedulikan. (AT)
Refleksi :
Milikilah sikap hati orang yang murah hati sebab engkau akan menjadi jauh lebih
“kaya” dari pada orang kaya yang kikir.

KACANG LUPA KULITNYA

” Aku membesarkan anak-anak dan mengasuhnya,
tetapi mereka memberontak terhadap Aku.”
(Yesaya 1 : 2b)

Sebutir kacang atau biji perlu yang namanya kulit kacang atau kulit biji, karena
kulit ini berfungsi sebagai pelindung terutama pada saat kacang atau biji tadi
dalam masa pertumbuhan. Istilah kacang lupa kulitnya, sering kali di gambarkan
pula sebagai tingkah laku seseorang yang sudah banyak dibantu, sudah banyak
ditolong, diangkat dari ketidak-mampuannya, sehingga ia menjadi seorang yang
berhasil dan sukses. Mempunyai kedudukan atau posisi yang tinggi, yang menaikkan
martabatnya, namun disaat dalam posisi sukses, dia melupakan darimana asalnya
dia, siapa yang membantu, dan siapa yang telah membesarkannya. Dia tidak tahu
berterima kasih untuk apa yang sudah dia peroleh dan pada siapa yang telah
membantunya.
Dalam bacaan hari ini, diperlihatkan bahwa bangsa Israel dengan mudahnya
melupakan dan meninggalkan Tuhan. Dalam ayat 3 dikatakan : “Lembu mengenal
pemiliknya, tetapi Israel tidak, keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya,
tetapi umat-Ku tidak memahaminya” Bangsa yang berdosa, anak-anak yang berlaku
buruk. Mereka meninggalkan Tuhan, menista Yang Mahakudus, Allah Israel dan
berpaling membelakangi Dia.
Mari kita lihat pada diri kita, apakah kita luput dari tingkah seperti itu? Ataukah kita
pun sama, seringkali melakukannya? Pada saat ada seseorang yang bersalah pada
kita, apakah kita mau mengampuni orang tersebut? Padahal dosa dan kesalahan
kita sudah Tuhan ampuni. Pada saat kita melupakan orang-orang yang telah banyak
membantu kita, maka kita pun dapat dikatakan sebagai kacang yang lupa kulitnya.
Kita sebagai warga kampus Maranatha, apakah kita merasa dibesarkan di Maranatha
ini atau tidak? Kalau kita merasa Maranatha telah banyak menolong, membantu dan
membesarkan kita, pernahkah kita mengucap syukur kalau kita telah menjadi bagian
dari Maranatha? Lalu apa yang sudah kita berikan untuk kampus Maranatha kita ini?
Apakah kita sebagai kacang yang lupa kulitnya? Ataukah kita mau menjadi orangorang
yang senantiasa mengucap syukur kalau kita boleh menjadi warga kampus
Maranatha? (AG).

Refleksi:

Sudahkah hari ini kita mengucap syukur?

KARENA AKU MURAH HATI (Matius 20 : 1 – 16)

2015-06-13

KARENA AKU MURAH HATI
(Matius 20 : 1 – 16)

” Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri
hatikah engkau, karena aku murah hati?”
(Matius 20 : 15)”

Adalah seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar rumah mencari pekerjapekerja
untuk kebun anggurnya. Kemudian pada pukul sembilan pagi, kembali
dia keluar rumah dan menemui orang-orang yang menganggur di pasar dan
tuan ini mengajak mereka juga untuk bekerja di kebun anggurnya. Tengah hari dan
sore hari tuan ini kembali keluar rumah dan melakukan hal yang sama. Pada kira-kira
pukul lima petang, kembali ia mendapati orang lain yang sedang menganggur, serta
mengajak mereka bekerja di kebun anggurnya. Malam hari tuan ini memanggil para
pekerja di kebun anggurnya dan memberi upah yang sama pada setiap pekerja, baik
yang masuk di awal yaitu pagi hari maupun kepada pekerja terakhir yang masuk
petang hari.
Dari perumpamaan diatas, walau ada ketidaksetujuan dari pekerja yang sudah
mulai bekerja dari pagi hari, karena mereka merasa diperlakukan pengupahan yang
tidak adil dengan orang yang hanya bekerja sebentar saja, namun pemilik kebun
anggur itu menegaskan bahwa ia bukan berlaku tidak adil tapi karena memang dari
awal sudah ada kesepakatan untuk besaran upah tersebut, dan karena kemurahan
hatinyalah sehingga pemilik kebun anggur mau memberikan upah yang sama pada
pekerja yang masuk terakhir.
Dalam Alkitab di jelaskan bahwa Allah menerbitkan matahari atau menurunkan
hujan tidak hanya untuk orang yang benar saja tapi matahari di terbitkan dan hujan
di turunkan bagi semua orang tanpa kecuali, termasuk orang yang tidak benar
juga karena sifat Allah yang murah hati. Karena kasihNya Allah bermurah hati
terhadap ciptaanNya. Jika Allah telah begitu bermurah hati terhadap ciptaanNya,
seharusnyalah umatNya pun dapat menerapkan hal yang sama yaitu kemurahan hati
ini di dalam kehidupannya sehari-hari, dalam setiap tingkah laku dan perbuatannya.
Karena dengan demikian umatNya dapat menyatakan kemurahan Tuhan melalui
perbuatan kita. (AG)
Refleksi :
Mari kita pancarkan kemurahan Tuhan pada orang-orang di sekitar kita.

KIKIR (2 Korintus 8 : 1 – 7)

2015-06-12

KIKIR
(2 Korintus 8 : 1 – 7)

“Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap
dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.”
(2 Korintus 8:2)”

Kikir atau pelit, artinya seseorang yang cenderung mau menerima banyak
dan bila mungkin sebanyak-banyaknya, namun sulit untuk berbagi atau sulit
mengeluarkan dan melepas apa yang sudah digenggamnya. Sifat kikir ini
biasa dibarengi juga dengan kecenderungan untuk bernafsu rakus, semua diingini,
semua dia kumpulkan untuk dirinya sendiri walau baginya hal tersebut belum tentu
diperlukan, dan dia enggan bahkan sedapat mungkin tidak memberikan apa yang dia
punya itu bagi orang yang sedang sangat memerlukan.
Dalam bacaan hari ini, kita melihat bagaimana jemaat-jemaat Makedonia mengalami
beratnya pelbagai pencobaan dan mereka sangat miskin, namun mereka mempunyai
kekayaan dalam hal kemurahan hati. Kemurahan hati tidaklah bergantung pada
seberapa banyak harta yang kita miliki, yang namanya orang kaya ataupun orang
miskin ada yang kikir atau pelit, bahkan kadang semakin dia kaya maka semakin pula
dia menjadi pelit. Namun dibalik itu ada juga orang yang kaya dan miskin yang samasama
mempunyai kemurahan hati. Semuanya itu terletak pada hati kita, apakah kita
dipenuhi dengan rasa cukup? Atau kah hati kita selalu merasa kurang? Sehingga
yang kita lakukan adalah mau berbagi atau kita terus mencari.
Mari kita lihat dengan sejujurnya, apakah selama di kampus Maranatha ini, kita selalu
merasa berkekurangan ataukah kita sudah merasa cukup? Atau bahkan berlebih?
Karena pada saat kita selalu merasa terus berkekurangan, maka kita sulit untuk
berbagi dan menjadi semakin kikir untuk berbagi, tangan kita tidak mau terbuka ke
bawah, tapi selalu terbuka ke atas, menengadah dan selalu minta dikasihani. Namun
pada saat kita merasa berkecukupan walau kita miskin sekali pun, kita senantiasa
bersukacita, tangan kita selalu terbuka untuk memberi. (AG)
Refleksi :
Mari kita perhatikan, apakah kita orang yang kikir atau murah hati?

PENDENDAM

2015-06-11

PENDENDAM

“Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap
orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu
sendiri; Akulah TUHAN.”
(Imamat 19:18)”

Beberapa waktu yang lalu sebuah tayangan talkshow “Mata Najwa” mengundang
para nara sumber dari sanak keluarga dan orang tua korban pembunuhan.
Mereka dimintai informasi, pendapat dan harapan tentang proses pengadilan
yang berlangsung terhadap para terdakwa yang telah membunuh keluarga mereka.
Salah satu nara sumber itu diantaranya orang tua almarhumah Ade Sarah yang
dalam pemberitaan beberapa waktu lalu menyatakan memaafkan tindakan dua
terdakwa yang membunuh anaknya. Pernyataan tersebut sangat mengundang
simpati dan kagum atas ketegaran hati kedua orang tua almarhumah Ade Sarah
ini, yang menurut banyak orang akan sangat wajar kalau kedua orang tua ini sangat
marah, dendam dan menuntut pihak yang berwajib untuk menghukum dengan
seberat-beratnya. Kebetulan memang keluarga Ade Sarah adalah pengikut Kristus
yang aktif berjemaat di gerejanya.
Sebagai pengikut Kristus memang tidak seharus menaruh dendam kepada siapa
pun yang bersalah kepada kita. Dalam Imamat 19:18 di bawah judul perikop
“kudusnya hidup”, bahwa kekudusan hidup kita juga ternyata tidak hanya melulu
pada keharusan rajin berbakti, memberikan persembahan dan ritual ibadah-ibadah
lainnya. Namun, justru kekudusan hidup ini didasari atas kasih terhadap sesama
manusia, kasih yang tidak menuntut balas dan menuntut dendam atas kesalahan
orang lain kepada kita. Pengadilan bukan suatu tempat dan kesempatan kita untuk
membalas dendam kepada si terdakwa karena perbuatan-perbuatannya. Namun
makna kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri itu memiliki makna
memperlakukan orang lain secara adil sama seperti dia sendiri mau diperlakukan.
Dengan demikian sikap dendam tidak membawa manfaat apapun buat kita, selain
kita terus menderita dan sikap ingin terus melampiaskan dendam yang tidak
akan pernah ada habisnya kepada orang yang telah merugikan diri kita. Sikap
mengasihi sesama manusia inilah yang dikehendaki oleh Kristus, yang Kristus sendiri
memberikan bobot yang sama dengan mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati
dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi. (ITW)
Refleksi :
Mengasihi Tuhan ““ mengasihi sesama, lebih sungguh!

PEMAAF

2015-06-10

PEMAAF

“Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan
pelanggaran.”
(Amsal 19:11)”

Pernahkah anda mengalami kemarahan yang sangat memuncak? Apa yang anda
rasakan? Ketika emosi meluap-luap, anda orang yang sanggup memuntahkan
dengan rentetan kata-kata yang tidak terkendali, seperti layaknya senapan
mesin memuntahkan peluru. Namun ada juga yang melampiaskan emosinya
dengan memukul, melempar atau apapun terhadap suatu benda yang ada di
dekatnya. Sebuah tindakan destruktif yang tidak masuk akal bukan! Namun, setelah
kemarahan itu mereda. Apa yang anda rasakan? Capek, jantung berdebar-debar
yang seketika juga membuat anda lemas, dan ujung-ujungnya membuat seluruh
agenda kegiatan hari itu berantakan dibuatnya. Lalu, bila kemarahan itu tidak
menguntungkan mengapa Anda harus marah? Tidakkah memaafkan itu lebih baik?
Kemudian bagaimana cara mengatasi kemarahan dan agar sanggup memaafkan?
Menurut Amsal 19:11, kebijaksanaan yang dimiliki seseorang membuatnya susah
terbawa amarah dan kemuliaannya mampu mempertimbangkan akibat yang
ditimbulkan oleh kemarahan tersebut. Ini mencerminkan kedewasaan emosi
seseorang, diperlihatkan bagaimana akal budi lebih menguasai dirinya ketimbang
emosi sesaat. Pertimbangan akal budi yang sanggup bernalar disaat situasi yang
tidak menguntungkan (emosi), berdampak pada pertimbangan dan keputusan etis
yang tepat, dan pada akhirnya sanggup bersabar dan memaafkan, sanggup melihat
keutuhan persaudaraan lebih penting ketimbang luapan amarah.
Memang saat marah terkadang sulit untuk mengendalikan diri, akibatnya seseorang
akan bertindak diluar kewajarannya yang dapat merugikan dirinya sendiri atau pun
orang lain. Ada cara praktis mengatasi hal tersebut secara populer orang menamainya
dengan tips 30 detik saat marah. Saat marah jangan biarkan diri dikendalikan
oleh emosi, maka yang perlu dilakukan adalah menarik nafas dalam selama 5-10
detik, kemudian coba beralih terlebih dahulu misalnya pindah ke ruang lain atau
ke luar ruangan dan kemudian pikirkan solusi singkatnya, maka kemarahan anda
akan mereda. Tips ini memberi kesempatan otak anda untuk berpikir secara jernih
mengevaluasi hal-hal yang terjadi, sehingga Anda tidak serta merta dikendalikan
oleh emosi anda. (ITW)
Refleksi :
Orang yang terbawa amarah akan berakhir buruk!