SEMAUNYA SENDIRI

2015-06-09

SEMAUNYA SENDIRI

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah
kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan
dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan
yang lain oleh kasih.”
(Galatia 5:13)”

Pertanyaan yang selalu disampaikan kepada para mahasiswa semester satu
dalam kelas etika adalah apa arti kebebasan? Apalagi anda sekarang kuliah jauh
dari orang tua anda! Jawabannya begitu beragam, ada yang menjawab bebas
dari orang tua dapat melakukan aktivitas yang disenangi katakanlah main game
sesuka saya. Kemudian pertanyaan lanjutannya adalah apakah beda kebebasan
dengan kesewenangan atau semaunya sendiri? Jawabannya pun beragam dan
akhirnya terjadi diskusi yang meriah di kelas.
Paulus dalam suratnya kepada jemaat Galatia kurang lebih ingin menegaskan
kepada pembacanya bahwa mereka telah bebas merdeka dari ketentuan taurat yang
mengekang, namun kebebasan itu tidak digunakan untuk memuaskan kedagingan
dengan bertindak semaunya sendiri. Dalam jemaat Galatia juga ada pihak-pihak
yang menekankan pada keharusan menjalankan perintah-perintah taurat. Rasul
Paulus menegaskan pula kepada mereka yang sebenarnya berstatus sebagai orang
bebas/merdeka itu, agar masing-masing memperhambakan diri dalam ketaatan
dengan saling melayani seorang akan yang lainnya. Sehingga kebebasan yang
dimiliki tidak diartikan sebagai bebas untuk melakukan berbagai perbuatan dosa,
namun sebaliknya tetap hidup dalam ketaatan menjalankan hukum kasih.
Dengan demikian kemerdekaan memerlukan ketaatan. Kemerdekaan tanpa ketaatan
adalah kebebasan yang semaunya sendiri. Ketaatan mengendalikan kebebasan dan
sebaliknya kebebasan meninggikan ketaatan. Ketaatan tahu apa yang baik dan
melakukannya. Kebebasan berani berbuat dan menyerahkan kepada Allah akan
apa yang telah diperbuatnya. Ketaatan bagaikan orang buta yang mau mengikuti
begitu saja perintah, sedang kebebasan mempunyai mata terbuka. Ketaatan
berbuat tanpa bertanya dan kebebasan bertanya apa tujuannya. Ketaatan adalah
tangan yang terikat dan kebebasan adalah kreativitas. Dalam ketaatan orang setia
menjalankan hukum Tuhan dan dalam kebebasan orang sanggup menghayati dan
menginterpretasi hukum Tuhan tersebut dalam kehidupannya. (ITW)
Refleksi :
Kemerdekaan tanpa ketaatan adalah kebebasan yang semaunya sendiri!

FLEKSIBEL (Matius 12:1-8)

2015-06-08

FLEKSIBEL
(Matius 12:1-8)

“Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang kukehendaki ialah belas
kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak
bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
(Matius 12:7-8)”

“Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang kukehendaki ialah belas
kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak
bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
(Matius 12:7-8)
Refleksi :
“Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang kukehendaki ialah belas
kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak
bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
(Matius 12:7-8)

MENDUGA-DUGA (Pengkhotbah 11:1-8)

2015-06-07

MENDUGA-DUGA
(Pengkhotbah 11:1-8)

“Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa
melihat awan tidak akan menuai.”
(Pengkhotbah 11:4)”

Kurang lebih sekitar 8 tahun yang lalu Panitia Paskah Universitas Kristen
Maranatha ingin menyelenggarakan kegiatan bakti sosial di luar sekitar kampus,
dan diputuskanlah mengambil tempat di sebuah desa di wilayah Kabupaten
Bandung. Upaya sosialisasi awal dan perijinan kepada pemerintah setempat sudah
dilakukan dan mendapat ijin. Namun beredar kabar akan adanya penolakan terhadap
kegiatan tersebut. Panitia dalam beberapa kali kesempatan rapat merasa khawatir
dengan kondisi tersebut, sampai dibicarakan beberapa alternatif diantaranya
melepaskan atribut “˜kristen”™ dalam kegiatan tersebut. Usulan ini membuat rapat
menjadi alot sampai akhirnya beberapa orang menyerukan untuk membawakan
dalam doa dan akhirnya diputuskan untuk tetap menjalankan keputusan semula,
bakti sosial tetap mengatasnamakan Panitia Paskah Universitas Kristen Maranatha.
Sampai pada saat pelaksanaan berjalan lancar, aparat setempat mengawal bakti
sosial dan dugaan akan adanya penolakan tidak terjadi.
Dalam pengkhotbah 11:4, kondisi “…senantiasa melihat awan tidak akan menuai”
menggambarkan saat ini kita ada dalam dunia yang tidak pernah ada dalam kondisi
ideal untuk melakukan kegiatan “menabur”. Bila kita tetap menanti kondisi ideal
tersebut, kita hanya menunggu dan menunggu tanpa pernah melakukan apapun,
maka kita tidak akan pernah mendapatkan hasil apa-apa. Jadi yang diperlukan
dalam kondisi yang tidak menentu ini bukanlah menduga-duga kapan waktu yang
tepat untuk bekerja (menabur), namun yang diperlukan adalah tetap berupaya
dengan tekun sambil terus berdoa memohon pertolongan Tuhan. Seperti halnya
pengalaman Panitia Paskah di atas yang tetap menjalankan tugas walau dalam
kondisi tidak pasti. Demikianlah kita pun tetap mengerjakan bagian kita untuk terus
menyaksikan kasih Kristus dalam kondisi apapun dengan tetap beriman, bahwa
Tuhan pasti akan menolong.
Kebanyakan dari kita lebih banyak merencanakan, menimbang-nimbang, mendugaduga
ketimbang melakukan. Kesuksesan merupakan hasil dari kegigihan dalam
berupaya ditambah faktor iman yang memberi keyakinan kepada kita dalam
bertindak . (ITW)
Refleksi :
Kurang lebih sekitar 8 tahun yang lalu Panitia Paskah Universitas Kristen
Maranatha ingin menyelenggarakan kegiatan bakti sosial di luar sekitar kampus,
dan diputuskanlah mengambil tempat di sebuah desa di wilayah Kabupaten
Bandung. Upaya sosialisasi awal dan perijinan kepada pemerintah setempat sudah
dilakukan dan mendapat ijin. Namun beredar kabar akan adanya penolakan terhadap
kegiatan tersebut. Panitia dalam beberapa kali kesempatan rapat merasa khawatir
dengan kondisi tersebut, sampai dibicarakan beberapa alternatif diantaranya
melepaskan atribut “˜kristen”™ dalam kegiatan tersebut. Usulan ini membuat rapat
menjadi alot sampai akhirnya beberapa orang menyerukan untuk membawakan
dalam doa dan akhirnya diputuskan untuk tetap menjalankan keputusan semula,
bakti sosial tetap mengatasnamakan Panitia Paskah Universitas Kristen Maranatha.
Sampai pada saat pelaksanaan berjalan lancar, aparat setempat mengawal bakti
sosial dan dugaan akan adanya penolakan tidak terjadi.
Dalam pengkhotbah 11:4, kondisi “…senantiasa melihat awan tidak akan menuai”
menggambarkan saat ini kita ada dalam dunia yang tidak pernah ada dalam kondisi
ideal untuk melakukan kegiatan “menabur”. Bila kita tetap menanti kondisi ideal
tersebut, kita hanya menunggu dan menunggu tanpa pernah melakukan apapun,
maka kita tidak akan pernah mendapatkan hasil apa-apa. Jadi yang diperlukan
dalam kondisi yang tidak menentu ini bukanlah menduga-duga kapan waktu yang
tepat untuk bekerja (menabur), namun yang diperlukan adalah tetap berupaya
dengan tekun sambil terus berdoa memohon pertolongan Tuhan. Seperti halnya
pengalaman Panitia Paskah di atas yang tetap menjalankan tugas walau dalam
kondisi tidak pasti. Demikianlah kita pun tetap mengerjakan bagian kita untuk terus
menyaksikan kasih Kristus dalam kondisi apapun dengan tetap beriman, bahwa
Tuhan pasti akan menolong.
Kebanyakan dari kita lebih banyak merencanakan, menimbang-nimbang, mendugaduga
ketimbang melakukan. Kesuksesan merupakan hasil dari kegigihan dalam
berupaya ditambah faktor iman yang memberi keyakinan kepada kita dalam
bertindak . (ITW)

IMAN (Mazmur 23:1-8)

2015-06-06

IMAN
(Mazmur 23:1-8)

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku”
(Mazmur 23:1)”

Mungkin kebanyakan dari kita, kehidupan iman yang kita jalani saat ini
merupakan warisan dari orang tua kita, karena orang tua atau bahkan kakek
dan nenek kita adalah orang Kristen, maka orang tua saya dengan sendirinya
Kristen dan saya pun saat ini Kristen juga. Namun ketika kita ditanya Tuhan yang
semacam apakah yang kita imani saat ini? Jawaban-jawaban kita mungkin normatifnormatif
saja, merujuk pelajaran-pelajaran dari sekolah minggu atau kelas katekisasi.
Pertanyaan yang sama bila kita ajukan kepada Daud, Tuhan yang semacam apakah
yang Daud imani? Maka Daud dengan mantap menjawab dalam Mazmur 23:1-6,
“TUHAN adalah gembalaku”¦” Daud dalam penghayatan imannya menggunakan
metafora TUHAN sebagai gembala yang baik yang senantiasa memperhatikan dombadombanya.
Daud menghayati benar bahwa hanya Tuhan semata yang menghadapi
berbagai hambatan, rintangan, dan bahaya yang mengancam dalam kehidupannya.
Hal ini ditunjukkan dengan penempatan kata “Engkau” atau “MU” dalam syair yang
menggambarkan ancaman dalam kehidupannya. “Sekalipun aku berjalan dalam
lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan
tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku, Engkau menyediakan hidangan bagiku,
dihadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak.” Demikianlah
penghayatan iman Daud di dalam menghadapi berbagai ancaman, kesulitan dalam
kehidupannya, bahwa ada TUHAN yang selalu menopangnya.
Meskipun kita mengaku beriman kepada Tuhan. Namun, kita perlu kritis jangan
hanya beriman melalui konsep yang diwariskan oleh orang tua kita tanpa mengalami
Tuhan yang sejati. Atau mungkin kita selama ini beriman tanpa kesadaran,
menyadari segala kejadian yang menimpa diri kita sebagai sebuah kejadian yang
hanya kebetulan belaka dan secara rasional sanggup menghadapinya. Kesadaran
merupakan kata kunci kita menghayati iman kita. Kita diajak untuk menyadari
setiap realitas yang kita hadapi (seperti Daud), kesadaran akan realitas itulah yang
mengantarkan kita pada pengalaman rohani yang mendalam. Kesadaran ini pula
membawa iman kita pada iman yang benar yang senantiasa berserah kepada Tuhan.
(ITW)
Refleksi :
Segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, percayalah Tuhan akan selalu menolong
kita!

ANTUSIAS

2015-06-05

ANTUSIAS

“Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya…”
(Kejadian 12:4a)”

Dalam suatu seminar, nara sumber biasanya memberikan dorongan kepada
peserta untuk berpikir positif dan bersikap antusias. Ketika kita mendengar
kata Antusias sebenarnya ada sebuah makna yang mengajak kita untuk tetap
bersemangat kendati ada berbagai persoalan yang dihadapi. Persoalan akan tetap
ada sampai kita meninggalkan dunia ini kelak. Namun kita harus menyikapi lebih dari
itu bahwa penyertaan Tuhan selalu menopang kehidupan kita, jika Tuhan beserta
dengan kita, apa yang dapat kita lakukan ?
Ketika Allah berbicara kepada Abraham dan menyuruhnya berangkat beserta
keluarganya ke tanah yang tidak disebutkan lokasinya terlebih dahulu pastinya
membuat Abraham sempat bertanya dalam hati sebab ia tidak mengerti ke arah
mana dia harus berangkat dan kenapa Allah menyuruhnya untuk segera berangkat.
Hal ini pasti menjadi pergumulan pribadi dan kebingungan pada diri Abraham.
Namun tentunya Allah memiliki rencana yang besar untuk Abraham dan keluarganya
pada waktu itu. Abraham tidak bertanya lagi pada Allahnya sebab ia tahu siapa yang
menyuruhnya untuk berangkat. Abraham mempercayakan sepenuhnya perjalanan
hidupnya beserta keluarganya pada Allah. Ia sangat yakin dan antusias bahwa Allah
yang menolong dan menjamin seluruh kehidupannya sampai tiba di negeri yang di
janjikannya itu.
Jika Abraham memiliki hati yang antusias terhadap Allahnya, apakah masing-masing
kita juga khususnya sebagai warga kampus Maranatha termasuk orang yang memiliki
rasa antusias dan belajar percaya serta berpegang teguh pada kebenaran dalam
penyertaan Tuhan ketika menghadapi situasi yang sulit sekalipun? Lalu bagaimana
juga kita dalam menyikapi setiap persoalan hidup yang terkadang itupun memaksa
kita untuk tidak lagi berpengharapan pada Tuhan? Ingatlah Allah jauh melebihi dari
setiap persoalan yang sedang kita hadapi. (MW)
Refleksi :
Selama rasa Antusias itu ada pada kita maka hal itu memberikan kekuatan dan
ketabahan dalam menghadapai berbagai persoalan yang sesulit apapun

SABAR MENANTI

2015-06-04

SABAR MENANTI

Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu , supaya
kamu mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allahmu, yang membebaskan kamu dari
kerja paksa orang Mesir.
(Keluaran 6:6)”

Salah satu ciri dari di kehidupan era teknologi ini yaitu serba cepat atau instan.
Orang tidak sabar untuk mendapatkan segala sesuatu sehingga memunculkan
sikap pragmatis contohnya ingin cepat kaya dengan korupsi, ingin dapat gelar
membeli ijazah.
Gambaran ini juga terjadi terhadap bangsa Israel ketika mereka hidup di tanah
perbudakan. Israel sebagai bangsa perantau pada waktu itu dipelihara dan
diberkati Tuhan menjadikan Israel menjadi bangsa yang besar dan ditakuti serta
memiliki kekuatan yang luar biasa melebihi bangsa Mesir maupun bangsa-bangsa
lain. Oleh karena itu untuk menghambat laju kekuatan dari bangsa Israel maka
dibuatlah peraturan-peraturan yang menyulitkan dan menyengsarakan bangsa
Israel. Mereka dijadikan tenaga kerja paksa di bawah tekanan dan penguasa selama
ratusan tahun, namun Allah tidak tinggal diam dan tetap mengendalikan situasi
yang terjadi. Allah memakai hambaNya Musa untuk memimpin bangsa Israel keluar
dari tanah perbudakan tersebut. Ada umat yang merespon terhadap janji Tuhan
maka merekalah yang terjamin keamanan dan keselamatannya, tetapi tidak semua
bangsa Israel mendengar dan menuruti perintah Tuhan bahkan ada juga yang mulai
bersungut-sungut mengeluh sebab mereka berpikir Allah akan membunuh mereka
di padang gurun yang gersang. Bangsa Israel mulai merasa apatis terhadap keadaan
seolah janji Tuhan yang muluk-muluk itu tidak ditepati dan tidak sesuai dengan yang
mereka harapkan. Motivasi Allah untuk menyelamatkan bangsa Israel bukan untuk
menyuruh mereka bersantai santai menikmati berkatNya, melainkan ada suatu
rencana Agung yang Tuhan sudah siapkan di balik itu semua.
Bila dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari saja orang sudah merasa tidak sabar
apalagi menanti kepastian untuk kehidupan yang kekal, sesuatu hal yang sulit dan
menjadi cemoohan. Bagi kebanyakan orang hal “menanti” adalah sesuatu yang tidak
dapat dipastikan dan sehingga membuat hilang batas kesabaran kita. Sama halnya
dengan menanti penggenapan janji Allah terhadap hidup kita, sikap yang tidak sabar
akan berujung pada ketidakpercayaan manusia bahwa Allah pasti akan menggenapi
janji-janjiNya. bagaimana dengan kita hari ini apakah kita juga meragukan terhadap
janji Allah tersebut ? (MW)
Refleksi :
Ketika kita merasa tidak sabar maka sama halnya dengan kita menyerah dengan
keadaan (hopeless).

TABAH

2015-06-03

TABAH

” Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah
mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud seperti terjadi sekarang ini,
yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”
(Kejadian 50:20)”

Di era yang serba modern ini justru orang sering mengalami yang namanya
kehilangan akal sehat dalam menentukan arah kehidupannya, dalam bertindak
dan berpola pikir. Menghalalkan segala cara dalam mencapai sesuatu yang
diingini sudah menjadi bagian yang lumrah dan tidak asing lagi dapat kita jumpai
dalam kehidupan sehari-hari. Berita yang kita dengar, kita lihat dan kita baca di media
masa sebagian besar berkisar pada permasalahan moral dan etik dalam bentuk
penyalahgunaan kewenangan bagi kepentingan diri sendiri yang pada akhirnya
berujung pada penderitaan di balik jeruji besi. Seolah semua hilang menjadi sesuatu
yang tidak berarti. Itu membuktikan bahwa perjalanan hidup spiritual seseorang
tengah mengalami degradasi.
Dikisahkan dalam Kejadian 41 : 37 ““ 57 Yusuf dengan sabar menanggung segala
penderitaan yang dialami yang justru dari keluarganya sendiri, dia mempercayakan
seluruh hidupnya kepada Allah yang menolongnya. Sedikitnya selama tiga belas
tahun Yusuf mengalami penderitaan yang sangat getir, dengan status sebagai budak
di tanah Mesir. Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya, di khianati istri Potifar bahkan
dilupakan oleh juru minuman raja. Tetapi pengalaman itulah yang membantu
pembentukan pribadi Yusuf yang tangguh, rendah hati serta bergantung pada
Allahnya. Yusuf sangat mengerti tidak sedang mencari pujian bagi kepentingan diri
sendiri. Allah memakai Yusuf untuk kemuliaan-Nya, bahkan raja Firaun pun sangat
terkesan dengan penjelasan Yusuf mengenai tafsiran mimpinya itu dimana selama ini
belum ada orang yang dapat menjelaskan apa arti dari mimpi Firaun tersebut seperti
Yusuf. Jelas bahwa Allah ikut berperan menolong Yusuf dalam kemampuan membaca
peristiwa di masa mendatang yang dialami raja Firaun tersebut.Pengalaman pahit
yang dialami Yusuf pada masa lalu, Allah sanggup menggantikannya menjadi berkat
yang melimpah dalam kehidupannya.
Allah yang sama juga memberikan kemampuan kepada kita, sama seperti yan
dialami Yusuf. Lalu bagaimana dengan kehidupan kita saat ini, apakah kita juga dapat
dengan sabar dan tabah seperti Yusuf ketika Allah mengijinkan berbagai penderitaan
dan masalah datang menghampiri kita ? Memang tidak mudah dalam menjalaninya
tetapi Allah pasti sanggup menolong kita. (MW)
Refleksi :
Sabar dan tabahlah dalam menanggung segala sesuatu dan berserah senantiasa
pada Tuhan

MUDAH MENYERAH

2015-06-02

MUDAH MENYERAH

” Tuhan adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya “¦”
(Mazmur 28 : 7a)”

Pada suatu pagi saya sedang mengamati istri saya tengah membersihkan
tanaman di halaman rumah. Ada sebuah pohon yang daunnya hijau terus
dan selalu tampak segar mengkilap karena tidak terkena matahari secara
langsung. Daun itu terus tumbuh bahkan mulai melebar namun ada juga yang mulai
menguning dan berlubang-lubang karena hama namun daun tersebut terus tumbuh
karena masih melekat pada pohonnya. Hal ini menjadi suatu perenungan pribadi
yang sangat menarik dan seolah berbicara berkaitan dengan kehidupan iman kita.
Pertanyaannya bukankah perjalanan kehidupan iman kita juga sama seperti halnya
dengan dedaunan itu? ketika dedaunan itu mulai terlepas dari pohonnya maka
selesailah sudah hidup dedaunan itu. Selama kitapun melekat pada Kristus, kita
seperti daun yang bertumbuh dan mendapat makanan dari pohonnya tetapi ketika
menjauh dari-Nya sama seperti daun yang dipatahkan dan terlepas dari pohonnya
mungkin warnanya masih hijau namun tidak mungkin dapat bertumbuh kembali dan
pada akhirnya akan mati.
Seorang Raja yang memiliki kisah hidup spiritual yang begitu akrab bersama Tuhannya,
yaitu Daud tak pelak juga pernah beberapa kali mengalami kegagalan dalam
perjalanan hidup imannya. Namun Daud terus berusaha dan kembali melekatkan
dirinya kepada Tuhan, ketika ia mengalami hal yang sangat sulit yaitu ketika dirinya
dikejar oleh Saul dan pasukan yang memburunya dengan senjata lengkap hendak
membunuhnya. Daud mengerti betul bahwa status Dia sebagai raja pada waktu
itu tidak dapat menjamin apapun yang dapat menyelamatkan dirinya tetapi justru
kekuatan sejatinya hanya ada pada Tuhan. Daud mengakui hanya Tuhanlah yang
menjadi perisai satu-satunya, tanpa Tuhan Daud tidak dapat melakukan apa-apa.
Daud tidak mudah menyerah, dia berjuang terus sebab ia tahu kekuatannya hanya
dari Tuhan.
Bagaimana perjalanan kehidupan iman kita sehari-hari, ketika persoalan berat
bertubi-tubi datang menghampiri? Apa yang menjadi andalan dan kekuatan kita?
Apabila pada akhirnya kekayaan, kekuasaan, kesehatan dan pengaruh istimewa
lainnya yang terbatas sifatnya sudah tidak mampu lagi menolong kita, jangan mudah
menyerah. (MW)
Refleksi :
Kristus yang tidak menyerah menebus kita dengan nyawaNya supaya barang siapa
yang percaya kepadaNya menjadi orang yang tidak mudah menyerah.

NAIF VS BIJAK

2015-06-01

NAIF VS BIJAK

“Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya”.
(Amsal 14:15)”

Sikap naif dekat dengan anak-anak, dan ini bukanlah pilihan bagi mereka. Tuhan (PO)
Yesus melihat kebaikan ini, kepolosan anak-anak yang patut juga dimiliki orang
dewasa dalam hal beriman kepada Allah, agar bisa masuk ke dalam Kerajaan
Sorga. Namun, sikap naif juga memiliki sisi yang kurang baik, yang menyebabkan
seseorang yang tidak berpengalaman mengambil tindakan yang gegabah, karena
percaya segala sesuatu dan tidak waspada di tengah dunia yang sudah jatuh ini.
Kalau begitu, bagaimana sebaiknya kita bersikap?
Nats kita hari ini sepertinya memberikan pilihan kepada kita untuk menjadi orang
yang naif (tidak berpengalaman dan percaya kepada setiap perkataan) atau menjadi
orang bijak. Tentu saja orang bijak tidak selalu mengetahui segala hal dan tidak
harus berpengalaman, namun dia tidak percaya begitu saja kepada setiap perkataan
dan tetap memperhatikan langkahnya. Jelaslah di sini, bahwa yang menjadi fokus
adalah attitude, ada attitude untuk naif dan ada attitude untuk bersikap bijak. Bagi
orang dewasa, ini adalah suatu pilihan. Penulis Amsal pernah menuliskan, bahwa
Amsal ini dituliskan untuk orang yang tidak berpengalaman, supaya jangan jatuh
ke dalam hal-hal yang buruk. Jadi, sekalipun belum mengalami, dan memang tidak
harus mengalami sendiri lebih dulu baru menjadi bijak, kita bisa menjadi orang bijak
bila mentaati nasihat sehingga tidak jatuh ke dalam berbagai masalah.
Saya renungkan lebih jauh, sikap bijak juga bisa menyelamatkan diri maupun
orang lain. Sebaliknya sikap naif, sikap yang tidak waspada, bisa membahayakan
diri maupun orang lain di sekitar kita, di lingkungan kita, di lingkungan Universitas
Kristen Maranatha yang kita cintai ini. Semoga kita bisa menjaga sikap, seperti yang
diajarkan Tuhan melalui Raja Salomo, seorang raja dengan hikmat yang sebelum dan
sesudah dia, tidak ada yang melebihi.
Refleksi :
Jadilah orang bijak!

NAIF VS BIJAK

2015-06-01

NAIF VS BIJAK

“Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya”.
(Amsal 14:15)”

Sikap naif dekat dengan anak-anak, dan ini bukanlah pilihan bagi mereka. Tuhan (PO)
Yesus melihat kebaikan ini, kepolosan anak-anak yang patut juga dimiliki orang
dewasa dalam hal beriman kepada Allah, agar bisa masuk ke dalam Kerajaan
Sorga. Namun, sikap naif juga memiliki sisi yang kurang baik, yang menyebabkan
seseorang yang tidak berpengalaman mengambil tindakan yang gegabah, karena
percaya segala sesuatu dan tidak waspada di tengah dunia yang sudah jatuh ini.
Kalau begitu, bagaimana sebaiknya kita bersikap?
Nats kita hari ini sepertinya memberikan pilihan kepada kita untuk menjadi orang
yang naif (tidak berpengalaman dan percaya kepada setiap perkataan) atau menjadi
orang bijak. Tentu saja orang bijak tidak selalu mengetahui segala hal dan tidak
harus berpengalaman, namun dia tidak percaya begitu saja kepada setiap perkataan
dan tetap memperhatikan langkahnya. Jelaslah di sini, bahwa yang menjadi fokus
adalah attitude, ada attitude untuk naif dan ada attitude untuk bersikap bijak. Bagi
orang dewasa, ini adalah suatu pilihan. Penulis Amsal pernah menuliskan, bahwa
Amsal ini dituliskan untuk orang yang tidak berpengalaman, supaya jangan jatuh
ke dalam hal-hal yang buruk. Jadi, sekalipun belum mengalami, dan memang tidak
harus mengalami sendiri lebih dulu baru menjadi bijak, kita bisa menjadi orang bijak
bila mentaati nasihat sehingga tidak jatuh ke dalam berbagai masalah.
Saya renungkan lebih jauh, sikap bijak juga bisa menyelamatkan diri maupun
orang lain. Sebaliknya sikap naif, sikap yang tidak waspada, bisa membahayakan
diri maupun orang lain di sekitar kita, di lingkungan kita, di lingkungan Universitas
Kristen Maranatha yang kita cintai ini. Semoga kita bisa menjaga sikap, seperti yang
diajarkan Tuhan melalui Raja Salomo, seorang raja dengan hikmat yang sebelum dan
sesudah dia, tidak ada yang melebihi.
Refleksi :
Jadilah orang bijak!