JADILAH BIJAK

2015-07-31

JADILAH BIJAK

“Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulutNya datang pengetahuan
dan kepandaian”
(Amsal 2 : 6)”

Mengenali dan menghindari kata-kata, tindakan, dan sikap yang menimbulkan
konsekuensi yang tidak diinginkan adalah pengertian arif/bijak. Sebaliknya
Pemazmur mengatakan orang-orang yang dengan sadar mengeraskan
kepala tidak mau percaya kepada Allah, merekalah orang orang “bebal”. Eka
Darmaputera dalam salah satu bukunya mengartikan “bebal” adalah bodoh plus
keras kepala. Bodoh tetapi merasa diri tahu semua. Bijaksana adalah salah satu
karakter dari sekian karakter yang terus digali dan dipelajari. Banyak sumber yang
dapat dijadikan inspirasi. Salah satu contoh transformasi karakter terkait dengan
karakter bijak adalah kisah Sarah A.Pollard. Seorang anak perempuan yang sering
membantah orangtua dan keras kepala. Di sekolah ia dijuluki kepala batu dan sering
melawan gurunya. Ia menjadi anak perempuan paling bandel di kelas. Siapapun yang
memberi masukan, nasihat, teguran, bujukan, dan perintah ia tidak mau dengar.
Bahkan saking bandelnya ia membuang nama yang diberikan orangtuanya dan secara
legal mengganti nama pilihannya sendiri menjadi Adelaide A. Pollard. Mungkin sulit
dipercaya ketika di kemudian hari Pollard tertarik untuk menjadi seorang utusan Injil
ke Afrika. Walaupun pada akhirnya ia tidak jadi berangkat karena mengidap penyakit
diabetes sehingga harus berobat terus menerus. Sempat merasa kecewa, merasa
tertekan. Ia menderita depresi. Sampai suatu hari sayup-sayup ia mendengar doa
seorang nenek “Tuhan, tidak jadi soal apa yang Tuhan hendak lakukan dalam hidup
kami; jadilah kehendak-Mu.” Pollard terus memikirkan doa itu dan saat ia membaca
Yeremia 18 : 1 -6 tentang tukang periuk yang dengan jari jarinya membentuk tanah
liat menjadi bejana. Pada ayat 6, Yeremia menulis “Seperti tanah liat di tangan
tukang periuk, demikianlah kamu di Tangan-Ku.”
Pollard merasa ibarat bejana dan ia pun siap dibentuk ulang oleh Tuhan. Dalam
perenungannya itu kemudian Ia menulis puisi yang kemudian digubah menjadi
lagu. Lagu tersebut seperti yang bisa kita baca dalam NKB dan PKJ. Jadilah, Tuhan,
kehendak-Mu; “˜ku tanah liat di tangan-Mu, Bentuklah aku sesuka-Mu, Aku nantikan
sentuhan-Mu. Pengalaman Pollard merupakan salah satu kisah nyata bahwa
transformasi karakter dapat dilakukan oleh setiap orang, selama ada kesadaran,
kemauan untuk berubah mengikuti teladan Yesus Kristus Sang Firman Allah. (SG)
Refleksi :
Marilah terus berbenah, berubah mengikuti teladan Yesus Kristus.

DEMORALISASI

2015-07-30

DEMORALISASI

“untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan
kejujuran”
(Amsal 1 : 3)”

Kehidupan, sejatinya adalah perubahan. Hidup yang berkualitas (berkarakter)
sepadan dengan citra dan gambaran Allah dan menjadi pribadi yang utuh.
Namun bila menyimak apa yang digambarkan dalam sebuah tulisan sungguh jauh
dari harapan. Tulisan tersebut mengatakan bahwa saat ini bangsa Indonesia sedang
mengalami demoralisasi hampir pada semua segmen kehidupan, terutama dalam
bidang hukum, politik, sosial dan budaya yang berpengaruh pada pranata sosial.
Dalam kamus Sosiologi istilah karakter (charactera) adalah ciri khusus struktur dasar
kepribadian seseorang. Sementara itu dalam terminologi hukum, character evidance
yaitu nilai moral seseorang dalam masyarakat berdasarkan reputasinya sehari-hari
yang erat hubungannya dengan pendidikan karakter. Rendahnya penghormatan
terhadap hukum dan nilai-nilai kemanusiaan pertanda merosotnya etika dan moral
kebangsaan yang dapat menjadi pemicu munculnya ketidakpercayaan rakyat
terhadap pemerintah termasuk kepada pemuka agama.
Ironisnya, ketika budaya paternalistik menjadi ciri bangsa Indonesia namun didapati
banyak para pimpinan, pemuka agama, pendidik yang sudah tidak dapat lagi dijadian
acuan atau teladan. Rakyat seolah kehilangan figur, bingung tidak tahu membedakan
mana yang benar dan mana yang salah. Semua orang meneriakkan kebenaran
namun perilakunya jauh dari benar. Ini menjadi tantangan bagi anak-anak Tuhan
yang menjadi bagian dari bangsa ini. Adakah kita juga kehilangan identitas? Larutkah
kita di dalamnya? Atau kita masih bisa menunjukkan ciri yang khas dan jelas di tengah
terjadinya demoralisasi. Alkitab memang telah mengingatkan agar setiap anak Tuhan
tidak menjadikan seseorang sebagai panutan sebab…”semua orang telah berdosa”.
Bila seseorang dijadikan acuan maka kita akan kecewa. Salah satu lirik lagu Rohani
menggambarkan hal tersebut. Berikut ini liriknya : pandang terus pada-Nya, jangan
menoleh ke belakang, jangan memandang salah orang lain, pandang saja Yesus. Lagu
ini mengingatkan agar setiap kita menjadikan Yesus sebagai acuan, standar dalam
bersikap dan berperilaku. Biarlah Tuhan dimuliakan melalui sikap dan perilaku kita.
(SG)
Refleksi :
Apakah penilaian yang kita berikan kepada seseorang lebih didasarkan pada
kedudukan, kekayaan, atau pada sikap dan perilakunya sehari hari?

JUJUR ATAU DUSTA

2015-07-29

JUJUR ATAU DUSTA

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.
Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”
(Matius 5: 37)”

Kejujuran adalah hal yang penting dalam segala hal. Baik dalam hal yang kecil
maupun dalam hal yang besar. Jujur berarti tidak berbohong, tidak berdusta,
mengatakan kebenaran. Jujur berarti tulus hati, tidak curang (baik terhadap
diri sendiri maupun terhadap orang lain). Misalnya, sebagai mahasiswa i tidak
menitip tanda tangan sewaktu kuliah, tidak menyontek sewaktu mengerjakan tugas
dan ujian, tidak melakukan joki dalam ujian, dan sebagainya. Sebagai karyawan,
bagaimana mengerjakan tugas-tugas dengan jujur. Sebagai dosen apakah kita jujur
dalam mengoreksi skripsi mahasiswa (membaca dengan teliti dan mengoreksi
dengan segala kemampuan yang sudah Tuhan berikan dalam hidup kita) atau kita
asal-asalan melakukannya? Bagaimana dengan lembar ujian mahasiswa, apakah kita
jujur mengoreksinya atau asal-asalan. Yang penting, ada nilai yang akan diumumkan.
Kejujuran adalah hal penting dalam kehidupan kita. Misalnya ada orang yang
bercerita kepada Saudara mengenai kehidupan atau pergumulannya dan meminta
Saudara untuk mendukungnya dalam doa Saudara dan tidak menceritakannya
kepada orang lain. Sering sekali kita tidak tahan dan menceritakan juga kepada
orang lain. Tidak hanya bercerita tentang apa yang sudah diceritakan kepada kita,
tetapi kita mulai menambahkan hal-hal lain dan menganggap hal tersebut adalah
hal yang biasa, bukan masalah, dan kemudian Saudara tidak mendoakannya.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan seseorang yang mengaku murid Yesus harus
jujur. Ya (atau tidak) yang diucapkan hendaknya sesuai dengan maksud dalam
hati. Mengapa orang sering berdusta? Mungkin karena lebih takut pada manusia
daripada kepada Tuhan, karena lebih menguntungkan (sementara) daripada berkata
jujur. Sebuah tabiat yang sudah mendarah daging.
Hal-hal apa yang akan diperoleh orang yang belajar untuk hidup jujur? Ingat bahwa
ini adalah yang Allah kehendaki. Ini menjadi latihan bagi kita yang belajar hidup
didalam Tuhan (sekalipun sulit tapi terus berusaha untuk mengatakan kebenaran
dan hidup jujur), Tidak ada kehidupan yang aman, tentram dan bahagia tanpa
kejujuran. (cs)
Refleksi :
Belajar hidup jujur! Jujur pada diri sendiri, orang lain, jujur pada pekerjaan, dan jujur
pada keluarga adalah implikasi hidup benar di hadapan Tuhan.

HEMAT PANGKAL MISKIN, BOROS PANGKAL KAYA

2015-07-28

HEMAT PANGKAL MISKIN, BOROS PANGKAL KAYA

“Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya. Ada yang menghemat secara
luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi
kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. Siapa menahan
gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual
gandum”
(Amsal 11:24-26)”

Sebuah peribahasa yang saya ingat sewaktu saya Sekolah Dasar (SD) mengatakan
hemat pangkal kaya, boros pangkal miskin. Renungan kita hari ini terbalik dari
hal ini. Peribahasa yang saya dengar sewaktu saya SD, saya coba balik bahwa
hemat pangkal miskin, boros pangkal kaya. Kok bisa? Mungkin pertanyaan ini hadir
dalam pikiran kita. Mari kita lihat apa yang disampaikan oleh Amsal dalam perikop
kita hari ini.
Kitab Amsal ini mengatakan kepada kita bahwa bangsa Israel diminta oleh Tuhan
mempersembahkan hasil panen pertama mereka kepada Tuhan sebagai pengakuan
bahwa Dialah pemilik tanah yang mereka kelola. Kita juga harus memberikan hasil
pertama dari pendapatan kita kepada Allah supaya menghormati Dia sebagai Tuhan
atas kehidupan dan harta milik kita. Bukan hanya hasil pertama tetapi semua yang
kita miliki adalah milik Allah. Setiap bagian yang kita miliki harus secara sengaja
kita berikan kepada Allah, lewat berbagai pelayanan dan sebagainya. Dalam ayat
ini tentunya kita lihat Allah tidak mendukung pemborosan, buktinya bahwa Tuhan
menyuruh bangsa Israel untuk mengambil manna secukupnya bukan berlebihan. Yang
dimaksud dengan “menyebar harta” bukan berarti kita menghambur-hamburkan
uang begitu saja tanpa tujuan dan perencanaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kita diharapkan berbaik hati dan murah hati dengan motif yang jelas, tujuan
jelas dan perencanaan yang matang. Kalau begitu apa yang dimaksud dengan hemat?
Hemat adalah kesanggupan kita mengelola harta (uang, waktu, hidup) yang Tuhan
percayakan kepada kita secara benar untuk hal-hal yang berguna sesuai dengan
kebutuhan dan kehendakNya. Hemat berarti bisa memakai milikNya dengan tepat
untuk segala kebutuhan dan bisa mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan, baik
uang, waktu, hidup, kesempatan dan lain-lain. (cs)
Refleksi :
Mari jangan berhemat kepada Allah karena Dia yang memiliki semua yang kita
miliki, dan berhematlah terhadap dirimu, hidupmu dan waktumu!

CEROBOH ATAU CERMAT

2015-07-27

CEROBOH ATAU CERMAT

“Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap
orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan”
(Amsal 21:5)”

Kapan kita sering ceroboh dan cermat? Saat saya di Sekolah Dasar, saya beberapa
kali mengikuti lomba cerdas cermat yang dilakukan antar SD sekecamatan di
daerah saya. Saya biasanya ditugasi guru untuk mengerjakan soal-soal yang
berhubungan dengan matematika. Dalam beberapa kali pertandingan, tim kami
mendapatkan kemenangan Suatu saat kami ikut berlomba kembali, dan sudah
masuk dalam tahap final (tinggal 3 kelompok pada saat itu), dan seperti biasa
saya ditugaskan untuk menyelesaikan soal matematika. Tetapi pada saat saya
mengerjakan dan memberi jawaban kepada dewan juri kebanyakan jawaban
saya adalah salah, akhirnya tim kami pun kalah. Saat evaluasi kami dengan guru
pada keesokan harinya, saya ingat guru mengatakan bahwa jawaban yang saya
sampaikan sering sekali kurang sedikit, dan tidak jarang terbalik angkanya. Hal ini
terjadi karena kecerobohan saya. Mengapa kita sering ceroboh? Mungkin karena
kita merasa pekerjaan tersebut sudahh sering kita kerjakan, atau pekerjaan tersebut
adalah pekerjaan biasa bagi kita, atau pekerjaan tersebut adalah pekerjaan mudah
bagi kita.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk jangan ceroboh. Belajar untuk
cermat, semua rencanakan dengan baik jangan tergesa-gesa. Kerajinan bukan
hanya menolong menjaga apa yang telah kita milki tapi juga menambahkan apa
yang sudah kita miliki. Jika malas, kita bahkan tidak bisa mempertahankan apa yang
sudah kita miliki. Ceroboh adalah sikap hidup bukan hanya pada bidang tertentu
saja. Ceroboh bisa terjadi dalam banyak hal, mulai dalam hal-hal kecil sampai kepada
hal-hal yang besar. Misalnya mengetik surat, skripsi, dan lain-lain. Ketikan yang
keliru bisa membuat dampak yang besar apalagi hal tersebut menyangkut tentang
surat keputusan, peraturan perusahaan dan sebagainya. Dimanakah Saudara sering
ceroboh dalam pekerjaan Saudara? . (cs)
Refleksi :
Mari belajar untuk cermat bukan ceroboh. Hati-hati! Sedikit ceroboh saja dapat
merusak banyak hal!

JANGAN MENJADI SEPERTI AHLI-AHLI TAURAT DAN ORANG-ORANG FARISI

2015-07-26

JANGAN MENJADI SEPERTI AHLI-AHLI TAURAT
DAN ORANG-ORANG FARISI

“Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud untuk dilihat orang…”
(Matius 23:5a)”

Tuhan Yesus sering mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi pada
jamannya. Dalam Matius 23:3 Tuhan Yesus memperingatkan kita: “Turutilah
dan lakukan segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah
kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka.” Mengapa Tuhan Yesus memperingatkan
kita untuk berhati-hati terhadap ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi? Bukan
karena mereka tidak mengerti kehendak Tuhan. Bukan karena mereka tidak tahu
Firman Tuhan. Bukan karena mereka tidak tahu apa yang benar dan yang salah di
mata Tuhan. Dari sisi pengetahuan, mereka memiliki pengetahuan yang baik tentang
Tuhan dan kehendak Tuhan.
Penekanan Tuhan Yesus adalah pada sikap dan perbuatan mereka. Mereka ingin
dipandang orang sebagai orang yang hebat dan terpandang (Mat 23:5-7). Semua
pekerjaan dan perbuatan mereka adalah agar keinginan mereka ini bisa dicapai,
mereka duduk di tempat-tempat terpandang, mereka senang jika orang menghormati
mereka, dan mereka suka dipanggil sebagai Rabi.
Disini kita diingatkan, bukan pengetahuan saja yang perlu kita kejar tapi juga ketaatan
kepada Firman Tuhan. Mengetahui apa yang Tuhan kehendaki adalah hanya sebatas
pengetahuan. Seperti kalau kita membaca koran tentang bencana alam di suatu
tempat. Kita hanya mengetahui saja ada berita itu.
Seorang kritisi agama yang atheis, Bill Maher, mengecam “Apabila Anda tahu tentang
ajaran Yesus tetapi tidak mau melakukannya, Anda bukan orang Kristen, Anda hanya
seorang yang sedang mengaudit ajaran Yesus. Anda bukan pengikut Kristus, Anda
hanya penggemar Kristus!”
Kita bekerja pada institusi Kristen. Nilai-nilai yang dianut oleh perusahaan adalah
nilai-nilai dari Firman Tuhan. Apakah kita memiliki sikap yang seharusnya sebagai
karyawan Kristen? Apakah kita bersikap dan berperilaku sesuai dengan teladan
Yesus Kristus atau kita hanya tahu sebatas pengetahuan saja? (AS)
Refleksi :
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk
menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang
dalam kebenaran.” (2 Timotius 03 : 16)

HATI YANG TULUS

2015-07-25

HATI YANG TULUS

” …kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan
Allah yang menguji hati kita?”
(1 Tesalonika 2:4b)”

Tuhan menghendaki agar kita memiliki hati yang tulus “Yesus menghendaki
kita semua menghadap Allah dengan hati yang tulus” (Ibrani 10:22). Apa yang
dimaksud dengan hati yang tulus?
Kalau kita mencari orang yang tulus hatinya di Alkitab, mungkin kita akan teringat
kepada Yusuf: “Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau
mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya
dengan diam-diam” (Matius 1:19). Mendengar Maria hamil sebelum mereka
melakukan hubungan suami istri, Yusuf tidak terbawa emosi dan menceraikan
Maria, akan tetapi dia melihat kepentingan Maria dan menolak melakukan tindakan
yang akan mempermalukan Maria. Setelah Yusuf mendapatkan firman bahwa
Maria mengandung dari Roh Kudus, Yusuf menerima firman Tuhan tersebut dan
mentaatinya (Matius 1:19-24). Kita juga bisa teringat kepada Paulus dalam tulisannya
di 1 Tesalonika 2:1-16. Dalam tulisannya Paulus menjelaskan ketulusan motivasinya
dalam mengabarkan injil.
Dari kedua tulisan di Alkitab itu bisa kita simpulkan pengertian tulus hati:
1. Seorang yang tulus artinya melihat kedaulatan Tuhan dalam hidupnya dan
menerima Firman Tuhan sebagai sesuatu yang harus dia taati.
2. Seorang yang tulus hatinya artinya orang tersebut tidak mementingkan
kepentingan pribadi, tetapi melihat kepentingan orang lain dan peduli akan
pengaruh tindakannya terhadap orang lain.
3. Seorang yang tulus artinya orang tersebut tidak bermulut manis dan tidak
memiliki maksud loba yang tersembunyi.
4. Seorang yang tulus artinya orang tersebut tidak mencari pujian dari manusia
walaupun orang tersebut sebenarnya memiliki kemampuan yang patut dipuji.
Dalam kehidupan kita sehari-hari apakah kita sudah memiliki hati yang tulus?
Menerima firman Tuhan dan mentaatinya? Tidak mementingkan kepentingan
pribadi? Peduli terhadap pengaruh kata-kata atau tindakan kita kepada orang
lain? Tidak mengeluarkan kata-kata yang merugikan atau melakukan tindakan
yang merugikan orang lain? Tidak bermulut manis dan tidak memiliki maksud yang
tersembunyi? Tidak mencari pujian dari orang lain?. (AS)
Refleksi :
“Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang
baik.” (Roma 12:9

JANGAN SAKITI SESAMAMU JIKA TIDAK INGIN DISAKITI

2015-07-24

JANGAN SAKITI SESAMAMU JIKA TIDAK INGIN DISAKITI

“”¦Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan?
Mengapakah kamu tidak lebih suka dirugikan?”
(I Korintus 6:7b)”

Adakah diantara kita yang senang diperlakukan tidak adil, atau dirugikan oleh
orang lain? Pasti kita akan menjawab secara spontan: Tidak! Sebaliknya
pernahkah kita memperlakukan orang tidak adil dan membuat mereka
menderita?. Mungkin jawabannya: “Pernah.”
Suatu ketika di salah satu SMA Negeri di Jakarta terjadi tawuran. Para pelaku
dikumpulkan oleh pimpinan sekolah untuk ditanyakan apa penyebab tawuran
yang membuat suasana menjadi tegang. Pimpinan dan para guru sepakat akan
memberikan sanksi kepada pelaku tawuran. Setelah melampaui pemeriksaan,
ternyata sanksi hanya dijatuhkan kepada salah seorang saja, sedangkan pelaku
lainnya tidak. Apakah karena dia anak paling nakal? Yang jelas anak itu merasa
telah diperlakukan tidak adil. Betapa sakit hati dan menderitanya anak itu akibat
perlakuan diskriminatif.
Masih banyak contoh ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita. Sekarang tempatkan
posisi seandainya Saudara adalah orang yang melakukan ketidakadilan. Saudara
adalah orang yang telah membuat orang lain menderita dan dirugikan. Tentunya
bila kita tidak mau diperlakukan tidak adil, tidak mau disakiti janganlah kita berbuat
demikian kepada orang lain. Kita bisa merasakannya sebagai sesuatu yang tidak
nyaman, bukan?
Dalam bacaan hari ini diungkapkan bahwa ada jemaat di Korintus yang telah
diperdaya bahwa jika melakukan tipu daya, berlaku tidak adil, hidup dalam kebejatan
dan menyangkal Tuhan, tetap mendapat tempat di rumah Allah. Akibat pemahaman
tersebut, mereka yang berbuat jahat tidak akan merasa bersalah, bahkan dalam
bentuk apapun mereka tetap menikmati hasil kejahatannya. Namun rasul Paulus
mengingatkan kembali bahwa orang”“orang yang tidak adil, yang suka merugikan
orang lain (ayat 9) dan yang berbuat dosa tidak akan mendapat bagian dalam
Kerajaan Allah. (RPA)
Refleksi :
Maukah Saudara lebih peka terhadap orang lain? Bertindak dengan menempatkan
diri seandainya kita di posisi mereka?

SPEED AND PROPER

2015-07-23

SPEED AND PROPER

“Lalu Ishak menjawab Esau katanya: ” Sesungguhnya telah kuangkat dia menjadi
tuan atas engkau, dan segala saudaranya telah kuberikan kepadanya menjadi
hambanya”¦”
Kejadian 27: 37a”

Speed and proper (Cepat dan Tepat) ““ adalah motto yang digunakan oleh suatu
perusahaan di London untuk menyatakan bagaimana pelayanan harus dilakukan
oleh perusahaan tersebut kepada para pelanggannya. Motto ini bisa diartikan:
jika mau mendapatkan yang terbaik, maka segala tindakan harus dilakukan dengan
cepat dan tepat. Seringkali kita terbuai oleh berbagai kesibukan, sehingga tidak
mempedulikan keadaan di sekeliling kita, termasuk ancaman yang dekat dengan
kita. Akibatnya tujuan pun urung tercapai.
Dalam Kejadian 27:40b, “Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha
sungguh-sungguh, maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu.”
Perhatikan, ayat itu merupakan kalimat aktif. Terdapat dua kata “engkau” dan satu
kata “mu”. Kata “engkau” dan “mu” ditujukan kepada Esau oleh ayahnya, Ishak.
Kapan? Ketika Esau, yang merasa telah terperdaya oleh Yakub, meminta berkat yang
tersisa dari ayahnya. Penting pula diperhatikan bahwa Allah tidak menyingkirkan
berkat Esau begitu saja, meskipun Esau menyerahkan hak kesulungannya kepada
Yakub ketika dia pulang dari berburu dan merasa lapar. Kita tentu ingat bagaimana
kisah Esau menukarkan masakan kacang merah dengan hak kesulungannya. Esau
setuju dengan mengatakan: “Sebentar lagi aku akan mati, apakah gunanya bagiku
hak kesulungan itu?”. Bahkan pada Kejadian 25:34, dikatakan: “Esau memandang
ringan hak kesulungan itu”. Apa yang dilakukan Esau jelas menggambarkan sikap
yang cepat tapi tidak tepat. Disinilah kita belajar bagaimana Esau bersikap masa
bodoh akan hak sulung yang dimilikinya. Berbeda dengan pribadi Yakub yang lebih
tenang. Ia lebih suka tinggal di kemah sehingga bila dibandingkan dengan Esau, ia
lebih lemah dalam kekuatan dan kemampuan. Disinilah juga kita belajar bahwa
Allah tidak meninggikan atau memberi berkat sebagaimana cara pandang manusia.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa Allah telah mengaruniakan anugerahNya pada
kita di dalam pribadi Yesus, tapi apabila kita menjual anugerah itu untuk sesuatu
yang bersifat sementara, maka kita membuka pintu bagi orang lain untuk merampas
anugerah itu. Atas segala anugerah yang telah diberikan-Nya kepada kita secara
cuma-cuma, kita harus takut akan Tuhan (taat), bersyukur, dan setia. Janganlah
kita bersikap masa bodoh dan “menjual” anugerah yang diberikan-Nya hanya untuk
kesenangan sesaat.(RPA)
Refleksi :
Jangan bersikap masa bodoh atas anugerah yang telah diberikan-Nya secara cumacuma.

HILANGKANLAH KELUHAN-KELUHAN

2015-07-22

HILANGKANLAH KELUHAN-KELUHAN

“Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan beberapa orang dari
mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.”
(1 Korintus 10: 10)”

Beberapa perkara kecil dapat menyebabkan suasana menjadi tidak nyaman.
Sebuah paku kecil cukup membuat ban kempes, sehingga kendaraan tidak
dapat berjalan. Sebuah kesalahan kecil pada mesin dapat membuat pesawat
udara raksasa jatuh dan hancur. Salah pengertian dapat menyebabkan pecahnya
perang. Sepatah kata kemarahan dapat mengakibatkan penembakan. Hal yang kecil
saja, jika tidak direspon dengan benar akan menyebabkan akibat yang lebih besar.
Seringkali ketika mengalami kesulitan sedikit saja, kita mudah sekali menggerutu
dan mengeluh. Tapi tahukah Saudara, menggerutu adalah lawan dari ucapan ucapan
syukur; suatu keluhan adalah lawan dari percaya; suatu sungutan terhadap teman
sekerja ketika mengerjakan tugas bersama adalah lawan dari penerimaan dengan
kasih. Keluhan diartikan sama dengan tuduhan. Dengan keluhan dan menggerutu,
sebenarnya kita sedang menuduh bahwa Allah telah berbuat salah dalam detil hidup
kita, padahal kita ini adalah milik-Nya.
Dalam ayat di atas, Paulus berkata tentang sikap orang Isreal dalam pengembaraan
mereka dari Mesir menuju negeri perjanjian. Apakah yang sudah mereka lakukan
dan apakah akibatnya?: “Bangsa-bangsa itu bersungut-sungut di hadapan Tuhan,
tentang nasib buruk mereka, dan ketika Tuhan mendengarnya bangkitlah murkaNya,
kemudian menyalalah api Tuhan diantara mereka dan merajalela di tepi tempat
perkemahan.”(Bilangan 11:1). Paulus menulis surat kepada orang”“orang di Filipi:
“Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantah,
supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tiada
bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga
kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia..”(Filipi 2: 14-16
dan 3:1).
Marilah kita berhenti bersungut-sungut dan mulai mengucap syukur serta memuji
Tuhan untuk tiap hal yang kita hadapi, baik itu buruk maupun baik. (RPA)
Refleksi
Refleksi :
Kita harus belajar meresponi kesulitan hidup dengan benar sesuai dengan kehendak-
Nya.