MEMILIKI DAYA TARIK SEPERTI KRISTUS

2015-07-21

MEMILIKI DAYA TARIK SEPERTI KRISTUS

“Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut
Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus.”
(Yohanes 1: 40)”

Seringkali kita melihat orang yang berupaya sangat keras supaya keberadaannya
bisa diterima orang lain. Sepertinya ada perasaan tidak puas jika belum bisa
bergaul dengan anggota dalam komunitas tertentu. Sampai-sampai agar bisa
diterima, maka orang menghalalkan segala cara, melakukan berbagai tindakan
yang dilandasi motivasi tertentu. Tapi, seseorang yang memiliki sikap, karakter, dan
kepribadian yang istimewa pasti memiliki daya tarik yang kuat. Coba kita perhatikan,
sebuah magnet yang besar mampu menarik besi-besi yang ada di sekitarnya. Dalam
bacaan hari ini, kita temukan ucapan Yohanes tentang kedatangan Mesias yaitu
Yesus. Namun, ucapan Yohanes tidak secara otomatis menyebabkan dua murid
Yohanes mengikuti Yesus. Kedua murid Yohanes ini menjadi pengikut Yesus karena
ada sesuatu yang istimewa yang mereka temukan dalam diri Yesus. Keistimewaan
Yesus terlihat dari kerendahan hatinya serta bagaimana Yesus telah mengenal calon
murid-Nya jauh sebelum mereka menemukan Yesus. Inilah daya tarik yang Yesus
miliki.
Kisah ini adalah bukti bahwa manusia dapat datang kepada Yesus bukan karena
kekuatannya sendiri. Bukan manusia yang memulai terlebih dahulu untuk mencari
Allah. Tetapi sejak semula, adalah inisiatif Bapa sendiri untuk mengambil langkah,
membuka jalan, dan juga kesempatan bagi kita untuk bertemu dengan Yesus. Ketika
Yesus mengambil langkah untuk mengangkat murid-murid-Nya yang pertama,
ditambah dengan “keistimewaan” pribadi-Nya, maka daya tarik itu akan bekerja
dengan sendirinya. Andreas membawa Simon, saudaranya, kepada Yesus. Filipus
membawa Natanael kepada Yesus. Kedua peristiwa ini menunjukkan bahwa orang
yang “ditarik” Yesus akan memiliki daya tarik yang sama dengan Yesus, sehingga Ia
pun akan menarik orang lain untuk datang kepada Yesus. Kasih Allah Bapa dalam
diri Yesus yang juga tanpa kepalsuan, membuat banyak orang tertarik mengikut Dia.
Sama halnya dengan hidup kita yang harus selalu menjadi “magnet-magnet” Kristus.
Usahakanlah untuk memiliki sikap, karakter dan kepribadian seperti Yesus, tanpa
kepura-puraan dan kepalsuan, sehingga kita memiliki daya tarik untuk membuat
orang lain di sekitar semakin mengenal Yesus dan akhirnya diselamatkan. (RPA)
Refleksi :
Daya tarik kita ditentukan oleh sikap, karakter, dan kepribadian yang kita miliki.

AMAN BERSAMA ALLAH

2015-07-20

AMAN BERSAMA ALLAH

“Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya
Engkaulah, ya Tuhan, yang membiarkan aku diam dengan aman.”
(Mazmur 4:9)”

Dalam suatu lomba lukisan bertema “Aman”, ada dua lukisan yang masuk
nominasi untuk menang. Lukisan pertama adalah lukisan pemandangan
pelabuhan dengan air yang tenang, bahkan tanpa riak sedikitpun. Lukisan
lainnya adalah lukisan seekor induk burung yang sedang menutupi anak-anaknya di
dalam sebuah sarang di bawah atap sebuah rumah tua yang rusak, di tengah hujan
badai. Kira-kira lukisan mana yang menggambarkan ketenangan dan rasa aman yang
sesungguhnya?
Dalam Alkitab Allah secara eksplisit dinyatakan bahwa kehidupan yang fana di
dalam dunia ini bukanlah kehidupan yang mudah. Dia menjanjikan penyertaan
dan pemeliharaan-Nya. Lagipula, keadaan manakah yang memberikan ketenangan
dan rasa aman, keadaan tanpa badai tetapi dengan hati yang gelisah ataukah
keadaan nyata penuh pergumulan namun dengan hati yang memegang janji Allah?
Ya, kita menghadapi 2 realitas, yang pertama adalah dunia yang telah jatuh dan
penuh ketidaknyamanan, dan yang kedua adalah keberadaan Allah dan kepastian
penyertaan-Nya. Adalah sebuah tantangan bagi kita untuk tetap berada di dalam
Dia dan menikmati damai sejahtera yang menjadi hak kita. Manakah yang menjadi
pilihan Anda?
Kehidupan di kampus kita bukanlah kehidupan dengan berbagai aktivitas yang bebas
dari berbagai masalah, godaan, dan daya tarik duniawi, yang menantang nama
“Kristen” seperti tercetak nyata di dalam nama kampus ini. Sejumlah orang tua
mahasiswa mempercayakan anak-anaknya untuk dididik di kampus ini karena nama
tersebut. Bukankah di tempat seperti ini, justru banyak godaan? Penyertaan Allah
dan respons kita sebagai anak-anak-Nya untuk berjalan di dalam rencana-Nya harus
menjadi realitas di sisi lain. Kita, masing-masing pun menghadapi tantangan demi
tantangan, juga kesempatan untuk menguji iman kita maupun janji-janji-Nya. Rasa
aman kita tidak terletak pada perkara-perkara fana, melainkan pada penyertaan
Allah, sesuai realitas dunia dan realitas janji Allah. (PO)
Refleksi :
Di manakah kita meletakan iman kita, rasa aman kita?

JANGAN KUATIR

2015-07-19

JANGAN KUATIR

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai
kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari”
(Matius 6:34)”

Kekuatiran merupakan salah satu bentuk respons mahluk hidup (termasuk
berbagai jenis hewan) ketika menghadapi kemungkinan adanya hal-hal yang
mengancam; hadir sebagai hasil interaksi input dari berbagai indera dan
pengalaman yang diolah oleh otak, selanjutnya diteruskan menjadi berbagai respons
biologik dan dimanifestasikan dalam bentuk ketegangan otot, produksi asam
lambung, stres psikis, dll. Apabila tidak dapat diantisipasi dengan baik secara fisik,
psikis, maupun rohani, kekuatiran dapat menyebabkan berbagai gangguan fungsi
dalam ketiga ranah tersebut. Memahami sepenuhnya akan dunia yang memang
penuh kesusahan ini, Tuhan Yesus mengajarkan umat-Nya untuk tidak kuatir.
Mungkin sebagian dari kita sudah bosan dengan ungkapan yang menjadi judul
renungan ini. Mengapa? Karena, ungkapan itu terkesan klise atau hanya basa-basi,
atau mungkin saja kita cenderung lebih dikuasai realitas saat ini daripada oleh dasar
iman kita. Kekuatiran atau ketakutan memang memiliki aspek positif, karena dari
dalam ia bekerja mempersiapkan kita untuk mengantisipasi hal-hal buruk yang bisa
terjadi di masa yang akan datang. Hal yang menjadi masalah adalah kekuatiran yang
tidak pada tempatnya, kekuatiran yang tidak perlu, atau kekuatiran yang berlebihan.
Ketiga kekuatiran tersebut dapat berakar dari sikap tidak beriman. Pesan inti dari
ayat ini sebenarnya kita harus beriman; iman hanya dimiliki orang yang mengenal
Allah. Karena itu, kekuatiran seyogyanya wajar bagi mereka yang tidak mengenal
Allah. Mengapa kita masih juga kuatir akan hari esok? Karena kita kurang beriman.
Selain itu, kekuatiran juga bisa hadir ketika kita tidak melakukan tugas atau hal
yang menjadi tanggung jawab kita. Dalam kasus ini, kita harus secepat mungkin
melaksanakan tanggung jawab itu.
Kekuatiran selalu hadir di hati kita, atau setidak-tidaknya menggoda kita untuk
mengikuti langkahnya. Cobalah menganalisis apakah kekuatiran itu pantas atau
tidak. Bila pantas, ambillah langkah-langkah yang diperlukan sebagai langkah
antisipatif. Bila tidak pantas tidak perlu kuatir. Kedua tindakan tersebut adalah sikap
anak Tuhan yang sepatutnya. (PO)
Refleksi :
Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta
saja pada jalan hidupnya?

TANGGUNG JAWAB ATAS IMAN

2015-07-18

TANGGUNG JAWAB ATAS IMAN

TANGGUNG JAWAB ATAS IMAN”

Apakah pertanggungjawaban iman hanyalah sebatas bisa menjelaskan Injil
kepada orang-orang di sekitar kita? Ada sejumlah kesaksian iman yang
tidak diwartakan secara langsung/verbal lewat hikmat berkhotbah ataupun
keterampilan interpersonal dalam menjelaskan Injil, yang telah dirumuskan dalam
beberapa pilihan metode itu (metode jembatan, metode Evangelism Explosion, dll).
Malahan, saya sendiri menemukan ada beberapa pengajar metode penginjilan yang
cenderung arogan, baik dalam bersikap terhadap rekan sekerjanya maupun atas
metode penginjilan yang diajarkannya. Kesaksian hidup atas iman yang dihidupi
justru telah memenangkan jiwa-jiwa.
Ayat di atas diawali dengan perintah untuk memiliki sikap yang benar terhadap Tuhan,
yakni menjadikan Dia Tuhan. Ya, kepada Dia sajalah kita mempertanggungjawabkan
segenap aspek kehidupan kita, termasuk pikiran, perkataan, maupun perbuatan
kita. Seyogyanya pertanggungjawaban iman adalah pertanggungjawaban atas
segenap aspek kehidupan kita, bukan hanya bisa menjelaskan kenapa kita menerima
Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita. Bila hidup kita tidak mencerminkan sikap
menjadikan Dia Tuhan, yaitu Tuan Besar kita, bagaimanakah kita bersaksi bagi dunia?
Pertanggungjawaban iman kita kepada dunia menjadi nol.
Kita adalah anak-anak Tuhan yang berperan sebagai mahasiswa, orang tua
mahasiswa, pejabat struktural, tenaga administrasi, tenaga pendidik, dll., Setiap saat
kita diawasi dan dituntut untuk mempertanggung-jawabkan iman kita sebagai anakanak
terang, bukan diminta untuk menjelaskan Injil melainkan untuk membuktikan
kebenaran iman kita melalui kehidupan praktis sehari-hari; harus siap setiap waktu.
(PO)
Refleksi :
Apakah pertanggungjawaban iman hanyalah sebatas bisa menjelaskan Injil
kepada orang-orang di sekitar kita? Ada sejumlah kesaksian iman yang
tidak diwartakan secara langsung/verbal lewat hikmat berkhotbah ataupun
keterampilan interpersonal dalam menjelaskan Injil, yang telah dirumuskan dalam
beberapa pilihan metode itu (metode jembatan, metode Evangelism Explosion, dll).
Malahan, saya sendiri menemukan ada beberapa pengajar metode penginjilan yang
cenderung arogan, baik dalam bersikap terhadap rekan sekerjanya maupun atas
metode penginjilan yang diajarkannya. Kesaksian hidup atas iman yang dihidupi
justru telah memenangkan jiwa-jiwa.
Ayat di atas diawali dengan perintah untuk memiliki sikap yang benar terhadap Tuhan,
yakni menjadikan Dia Tuhan. Ya, kepada Dia sajalah kita mempertanggungjawabkan
segenap aspek kehidupan kita, termasuk pikiran, perkataan, maupun perbuatan
kita. Seyogyanya pertanggungjawaban iman adalah pertanggungjawaban atas
segenap aspek kehidupan kita, bukan hanya bisa menjelaskan kenapa kita menerima
Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita. Bila hidup kita tidak mencerminkan sikap
menjadikan Dia Tuhan, yaitu Tuan Besar kita, bagaimanakah kita bersaksi bagi dunia?
Pertanggungjawaban iman kita kepada dunia menjadi nol.
Kita adalah anak-anak Tuhan yang berperan sebagai mahasiswa, orang tua
mahasiswa, pejabat struktural, tenaga administrasi, tenaga pendidik, dll., Setiap saat
kita diawasi dan dituntut untuk mempertanggung-jawabkan iman kita sebagai anakanak
terang, bukan diminta untuk menjelaskan Injil melainkan untuk membuktikan
kebenaran iman kita melalui kehidupan praktis sehari-hari; harus siap setiap waktu.
(PO)

DIPERCAYA (BANYAK) =DITUNTUT (BANYAK)

2015-07-17

DIPERCAYA (BANYAK) =DITUNTUT (BANYAK)

“”¦Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut,
dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi
dituntut”
(Lukas 12:48b)”

Hampir semua orang berambisi untuk mendapat lebih dan lebih banyak, lebih
baik daripada orang lain, tanpa menyadari bahwa di balik itu seimbang pula
yang dituntut darinya”¦ dan biasanya tuntutan ini tidak dipenuhi. Ingin dapat
gaji tinggi tetapi tidak mau bekerja dengan baik. Ingin menjadi pejabat tetapi maunya
tidur saja. Ingin menjadi kaya raya tetapi tidak mau bekerja keras.
Sadarkah, bahwa ada ayat 48a dari ayat di atas, yang bunyinya : “Tetapi barangsiapa
tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan
pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan”¦”. Saya kira itu hanya pada awalnya,
kalau kesalahan terus dilakukan, saya percaya hukuman yang harus diterimanya
akan semakin berat, dan hukuman juga seimbang dengan beratnya tanggung jawab
yang diterima. Dunia ini dibuat penuh ketidakadilan. Pengadilan dipermainkan,
kebenaran menjadi relatif dan mudah diputarbalikkan, tetapi siapa dapat melarikan
diri dan tanggung jawabnya dari Tuhan? Mereka yang tidak peduli keberadaan
Tuhan dan hukum pun pasti akan berhadapan dengan hukum-Nya. Karena setiap
orang harus berhadapan dengan pengadilan Allah secara pribadi, maka seharusnya
tanggung jawab dan keadilan menjadi bagian dari integritas diri setiap orang.
Artinya, seseorang tidak perlu melihat dan dilihat orang lain untuk menjalani hidup
yang bertanggung jawab penuh.
Sebagai civitas academica Universitas Kristen Maranatha, kita semua dituntut lebih
banyak oleh masyarakat, terutama dari aspek ICE (integrity, care, excellence). Di
luar besar atau kecilnya penghasilan yang diterima oleh karyawan di semua jenjang/
formasi, ada tuntutan lain sebagai anak-anak Tuhan, bahwa bila perbuatan kita tidak
lebih baik daripada perbuatan dunia (tentu dalam lingkup tanggung jawab masingmasing),
maka kita tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. (PO)
Refleksi :
Seberapa besarpun yang dipercayakan kepada masing-masing kita, mari kita
melakukan tugas dan tanggung jawab kita untuk Tuhan.

HIDUP BERDAYAGUNA

2015-07-16

HIDUP BERDAYAGUNA

“Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu
rumah rohani, bagi suatu imamat kudus , untuk mempersembahkan persembahan
rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.”
(1 Petrus 2:5)”

“Da”¦aku mah, apa atuh!” Kata-kata ini sudah sangat sering kita dengan
dalam percakapan sehari-hari di kalangan anak-anak remaja. Katakata
ini menggambarkan cermin diri yang merendah dan tidak memiliki
potensi yang dapat dibanggakan. Kata-kata ini sering dilontarkan anak-anak remaja.
manakala mereka diminta untuk lebih berperan lagi dan mengambil peranan yang
penting dalam suatu kegiatan. Kadang kita pun sering menganggap remeh diri
kita, namun sebenarnya di dalam Tuhan tidak ada yang rendah atau pun yang tidak
berguna, semuanya dapat menjadi penting dan berguna.
Kita semua (tidak memandang siapa kita) adalah batu-batu hidup yang dipilih Allah
dengan cermat untuk pembangunan Gereja-Nya yang kudus. Siapa pun kita, Allah
mengetahui potensi kita dan ingin agar kita “˜ditanamkan”™ di dalam pembangunan
gereja-Nya. Allah tidak mementingkan siapa kita, dari latar belakang pendidikan
apa, atau dari keluarga mana kita berasal. Seperti halnya Yesus membangun
seorang Simon menjadi Petrus, Ia menghapus masa lalunya yang suram gara-gara
menyangkal-Nya. Yesus membangun Petrus sedemikan rupa bagi pembangunan
gereja-Nya, demikian juga dengan kita bisa dipakai oleh Tuhan untuk pekerjaanpekerjaan
yang baik.
Kita ini serupa batu-batu kecil yang kelihatannya tidak berguna, namun ditangan
Tuhan batu yang kelihatannya tidak berguna tersebut dipakai-Nya. Kita akan dipakai
oleh Tuhan menjadi alat yang berguna bagi kemuliaan-Nya. Jadi seberapa pun
peranan kita dalam UK. Maranatha, percayalah bahwa peranan yang kita jalankan
tersebut berguna bagi institusi secara keseluruhan. Melalui tangan sang Arsitek
Agung batu-batu kecil yang seperti tidak ada gunanya tersebut disusun menjadi
sebuah mozaik yang indah dan kokoh di dalam UK. Maranatha. (ITW)
Refleksi :
Seberapa pun peran kita percayalah itu sangat bermanfaat bagi pembangunan UK.
Maranatha

SEGALA SESUATU SIA-SIA?

2015-07-15

SEGALA SESUATU SIA-SIA?

“Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang
membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal
berjaga-jaga.”
(Mazmur 127:1)”

Suatu kali saat saya pulang bekerja hingga malam hari, saya disapa oleh petugas
Satpam dan berkata, “Wah Pak buat apa pulang kalau besok kesini lagi.” Saya
hanya tersenyum saja sambil mendengarkan segala keluh kesah Pak Satpam
mulai dari mengeluhkan soal motornya yang boros, rutinitas pekerjaan yang
membosankan, hingga penghasilannya yang ia rasa kurang memadai. Setiba di
rumah menjelang tengah malam saya kemudian merenungkan kembali ucapan bapak
satpam tadi dan teringat apa yang diucapkan oleh Pengkhotbah “Aku melihat lagi
kesia-siaan di bawah matahari.” Kemudian berpikir apakah apa yang telah dilakukan
merupakan suatu hal yang sia-sia belaka bagaikan sebuah upaya menjaring angin?
Mazmur 127 merupakan mazmur ziarah. Hidup berkeluarga menurut pemazmur
merupakan suatu perjalanan ziarah untuk bertemu dengan Allah. Menurut pemazmur
kehidupan keluarga yang dijalani dengan susah payah disadari dan diterima sebagai
pemberian Allah semata. Pemazmur tidak memandang rendah usaha manusia
yang telah bekerja keras, melainkan pemazmur mengalihkan kepada sumber yang
sebenarnya yaitu Allah merupakan sumber segala sesuatu yang diperlukan manusia.
Dengan kata lain hidup kita senantiasa harus selalu terpaut dengan sumber tersebut
(bdk. Yoh 15:1-8), Yesus adalah pokok anggur dan kita adalah rantingnya. Ranting
tidak mungkin menghasilkan, bila tidak selalu terpaut dengan pokoknya dan hanyalah
sebuah kesia-siaan hidup tanpa terpaut dengan sang pokok anggur tersebut.
Jadi bagaimana, apakah kehidupan kita ini sia-sia? Bangun pagi terus bekerja
kemudian pulang malam dan demikian seterusnya berulang-ulang. Maka maknailah
Mazmur 127 tadi: (I) kehidupan kita merupakan sebuah perjalanan ziarah untuk
berjumpa dengan Allah, jadi sebenarnya tidak ada yang sia-sia bila seluruh aktivitas
kita dimaknai sebagai sebuah perjalanan ziarah berjumpa dengan Allah; (II) Hidup
kita harus selalu terpaut dengan sang sumber kehidupan yaitu Yesus, sehingga
kehidupan kita tidak sia-sia dan akan berbuah. (ITW)
Refleksi :
Tidak ada yang sia-sia bila kita berpaut selalu pada Allah.

TEPAT WAKTU —- WAKTUNYA YANG TEPAT

2015-07-14

TEPAT WAKTU —- WAKTUNYA YANG TEPAT

Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan
kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku
pasti tidak mati.”
(Yohanes 11:32)”

Selama kita hidup di dunia ini, kita berada dalam ruang dan waktu. Keberadaan
kita tidak dapat dilepaskan dengan ruang dan waktu tersebut. Waktu yang
akan datang merupakan suatu misteri, suatu lorong yang tidak kita ketahui.
Pergumulan mengenai waktu ini pun menjadi pergumulan Agustinus seorang filsuf
sekaligus Bapa Gereja di abad permulaan. Agustinus mengatakan “Bila tidak ada
orang yang bertanya kepadaku (tentang apakah waktu) aku tahu. Bila ada yang
bertanya dan aku mencoba menjelaskan, aku justru tidak tahu.” Aliran waktu ada
dalam wilayah pengalaman kita inilah yang Agustinus yakini, dengan demikian
walaupun aliran waktu tersebut ada bagi kita sebagai manusia, namun bukan suatu
realitas bagi Tuhan.
Hal ini pulalah yang dialami oleh Marta dan Maria. Aliran waktu yang mereka
lalui ada dalam wilayah pengalaman mereka. Seandainya Tuhan Yesus berada
ditengah-tengah mereka, Lazarus pastilah tidak akan mati. Yesus menegaskan
bahwa penundaan-Nya bukan karena kurang kasih-Nya, tetapi semata-mata demi
kemuliaan Allah (Yoh 11:4) serta kita dapat belajar mengenai kebaikan kekal yang
Allah tunjukkan bagi semua yang percaya (Yoh 11:15).
Melalui peristiwa ini kita sebagai orang percaya belajar memahami waktu sebagai
kronos dan kairos. Sebagai kronos, waktu-waktu yang dilewati sebagai realitas dalam
hidup kita (kemarin, sekarang, pagi, dst), “Tuhan seandainya kemarin (waktu sbg
kronos) Engkau ada, mungkin Saudaraku tidak akan mati!” Namun seperti Agustinus
katakan, waktu bukan suatu realitas bagi Tuhan, waktu-Nya bukan waktu kita, itulah
waktu kairos. Yesus sang pemilik waktu, memiliki waktu yang tepat bagi Marta
dan Maria, demikian juga IA memiliki waktu yang tepat untuk kita semata-mata
demi maksud dan tujuan Allah. Sekarang tinggal bagaimana kita menghargai dan
memaknai waktu. Sebagai kronos tidak menyia-nyiakan waktu yang ada, misalnya
memulai rapat tepat waktu, mengajar tepat waktu. Sebagai Kairos, kita tetap sabar
berpengharapan dan tekun mengerjakan tugas panggilan kita, dan kesempatan
untuk terus berkarya. Jadi yakinlah pengharapan kita akan terwujud sesuai waktu-
Nya yang tepat, bukan waktunya kita! (ITW)
Refleksi :
Menghargai waktu sebagai kesempatan terus berkarya

LÉLÉT (Kejadian 19:1-29)

2015-07-13

LÉLÉT (Kejadian 19:1-29)

“Ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan isteri dan tangan kedua
anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu
kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana.”
(Kejadian 19:16)”

Ada ungkapan sudah duduk lupa berdiri. Ungkapan tersebut menggambarkan
bagaimana nyamannya duduk di sebuah kursi empuk, busa tebal, dan lebarnya
kursi seakan menenggelamkan seseorang yang duduk di atasnya, sehingga
lupa segala realitas yang ada. Kenyamanan rupanya dapat menjadi sarana ampuh
bagi perusahaan dalam menangani keluhan-keluhan pelanggannya. Penempatan
sofa yang nyaman, ruang ber-AC, WIFI, TV, serta lemari minuman dingin menjadi
sarana yang cukup ampuh untuk ditempatkan di ruang-ruang tunggu pengaduan
keluhan pelanggan. Seseorang dapat melupakan sementara waktu segala kekesalan
dan keluhan yang sebenarnya menjadi masalah utamanya terpinggirkan dengan
kenyamanan sesaat.
Kenikmatan, kesenangan, kenyamanan, dan berbagai kemujuran lain itulah yang
dirasakan Lot sekeluarga, berat untuk meninggalkan kota besar Sodom. Begitu cepat
dia harus meninggalkan kota yang dipilihnya, kota yang memberikan kehidupan
yang lebih dari cukup. Rupanya Lot betah sekali di sana. Tetapi perintah Tuhah,
“Lari, segera selamatkalah nyawamu, cepat engkau lari, sebab segera kota ini akan
dihukum!” Maka tidak heran ketika dalam pelariannya tersebut, Lot masih berusaha
berlambat-lambat. Walau pun sudah berusaha untuk dipegang atau lebih tepatnya
ditarik oleh dua orang utusan Allah, tetapi tetap saja istri Lot berusaha untuk
menoleh melihat segala kekayaan dan kenyamanannya yang harus ia tinggalkan.
Dan seperti yang kita ketahui dari teks bacaan Alkitab di atas istri Lot menjadi tiang
garam. Kenikmatan dan kenyamanan memberatkan dan membuat Lot sekeluarga
“lélét”!
Adakah segala kesenangan, kenikmatan dan kenyamanan yang membuat kita
lélét atau berlambat-lambat untuk pergi “˜keluar”™? Padahal tangan Tuhan sudah
menarik kita untuk segera keluar menyelamatkan kita dari kesenangan atau
kebahagiaan yang sebenarnya membahayakan kita, misalnya terlena dengan hobby,
berselingkuh, menyalahgunakan wewenang, dan lainnya. Sulit sekali untuk keluar
karena kesenangan dan kebahagiaan semu di dalamnya. (ITW)
Refleksi :
“Ayo segera, tangan Tuhan sudah menarikmu!”

BOLEHKAH ORANG KRISTEN BERTENGKAR MENGENAI ALKITAB?

2015-07-12

BOLEHKAH ORANG KRISTEN BERTENGKAR MENGENAI
ALKITAB?

Tetapi hindarilah persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh,
persoalan silsilah, percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena
semua itu tidak berguna dan sia-sia belaka.
(Titus 3:9)”

Saya pernah menjadi anggota di sebuah gereja di mana terjadi percekcokan
dan pertengkaran. Sekali pun mulainya “˜adem,”™ tetapi kemudian “˜memanas”™
menjadi perbedaan opini mengenai beberapa doktrin, yang akhirnya membawa
akibat hampir separuh jemaat itu pindah dan mendirikan gereja sendiri dengan
salah seorang diakon dari gereja itu sebagai pemimpinnya. Saya teringat bagaimana
ayah, yang juga adalah seorang diakon di gereja itu, pulang pada malam itu dari
rapat diakon di gereja dan menangis. Ternyata perbedaan pendapat akan Alkitab
meningkat menjadi “percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat.” Ayah
saya, seorang pria yang sangat lembut dan penuh perhatian terhadap jiwa-jiwa
yang terhilang. Ia merasa dihina oleh pihak yang lain, yang menyuruhnya mengajar
sekolah minggu saja oleh karena pihak yang lain tidak setuju bahwa Injil diberitakan
dalam khotbah. Ayahku menangis bukan karena merasa terluka oleh kata-kata
penghinaan tetapi karena beberapa diakon mulai kehilangan fokus akan penginjilan.
Ternyata perkara yang ayahku hadapi terjadi pula masa abad pertama. Dengan
didirikannya gereja-gereja di kota-kota yang diinjili oleh rasul Paulus di abad pertama,
gereja perlu diingatkan dan diperingatkan agar menghindari “”¦ percekcokan dan
pertengkaran mengenai hukum Taurat.” Kenapa? Semuanya itu “tidak berguna dan
sia-sia belaka.” Dengan berdebat pada perbedaan pendapat, orang-orang Kristen
menghilangkan fokus utamanya pada hal-hal yang dipegang bersama dari Firman
Tuhan, yaitu persatuan dan persaudaraan karena anugerah Tuhan yang membawa
keselamatan.
Kita perlu berhati-hati agar tidak menjadikan suatu doktrin ayat-ayat Alkitab yang
terbuka untuk diinterpretasi dan diaplikasikan secara berbeda. Sebagai contoh,
jangan sampai pendapat yang berbeda tentang cara memuji membuat kita
bertengkar dan kehilangan kasih kepada saudara seiman. (CG)
Refleksi :
Di lingkungan kampus kita berasal dari berbagai denominasi. Mari kita hindari
percekcokan dan pertengkaran tentang penafsiran ayat Alkitab