CARILAH KERAJAAN ALLAH

2015-08-31

CARILAH KERAJAAN ALLAH

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan
ditambahkan kepadamu.
(Matius 6:33)”

Orang jahat juga bisa kaya. Misalnya Bapak Mafia Don Corleone. Sebaliknya
banyak orang beriman hidupnya miskin? Pertanyaannya ini jawabannya
memang agak rumit, apalagi jika kita percaya bahwa salah satu tanda penting
orang beriman adalah hidupnya yang makmur. Kemakmuran materi memang
diperlukan, namun sebenarnya bukan patokan umum bagi kondisi keterberkatan
orang beriman. Bahkan Rasul Paulus atau Tuhan Yesus sendiri bukanlah orang kaya
hingga akhir hidupnya, meski bukan juga orang miskin hingga tidak memiliki apa-apa,
dan mengharapkan bantuan kiri kanan. Namun saat ini kita akan melihat sejenak apa
makna ayat di atas yang terkait secara langsung dengan kemakmuran hidup.
Untuk membahas ayat di atas, selain menggunakan kata-kata dengan pengertian
rohani alkitabiah, kita bisa juga menggunakan perbandingan dengan kata-kata non
rohani lain yang tepat. Misalnya Barnes Commentary menyatakan carilah Kerajaan
Allah dan kebenarannya, sebagai true doctrine atau suatu konsep ajaran yang benar,
secara dimensional dalam pengertian lain kata kerajaan Allah dan kebenarannya
bisa kita terjemahkan sebagai wujud dari keutamaan, dan jika hal tersebut dikaitkan
dengan etos kerja, maka hal itu terkait dengan konsep kerja keras, disiplin dan
ketekunan serta fokus pada kemakmuran hidup, sebagai true doctrine kehidupan
yang sukses seperti yang dimaksud Barnes.
Jadi jika kita bertanya kenapa orang jahat bisa kaya? Sebab mereka sudah menemukan
dasar keutamaan untuk menjadi kaya. Jadi kaya bukan hanya hal yang terkait dengan
berkat Tuhan, melainkan sebuah sistem nilai etos kerja yang dilaksanakan dengan
baik, itulah yang menjadikan seseorang menjadi kaya. Sebaliknya orang Kristen
yang tidak bisa kaya sebab hanya menemukan kerajaan Allah yang artifisial, tidak
larut dalam prinsip-prinsip nilai hidup yang sanggup memberikan pengaruh dan
perubahan bagi kehidupan mereka. (AT)
Refleksi :
Jika orang jahat bisa kaya, mestinya anak Tuhan bisa juga jika mengaplikasikan
pesan Alkitab ke dalam nilai-nilai hidup yang lebih aplikatif.

MENGUCURKAN AIR MATA

2015-08-30

MENGUCURKAN AIR MATA

Orang pergi menabur benih di ladangnya, sambil bercucuran air mata. Ia pulang
dengan menyanyi gembira membawa berkas-berkas panenannya.
(Mazmur 126:6)”

Saya sering menemani istri saya bekerja hingga larut malam; sebagai seorang
asesor dari sebuah biro psikologi di Jakarta, ia sering dikejar-kejar deadline
pekerjaan yang menumpuk di mejanya. Kadang ia mengeluh dan hampir
menangis, ketika pekerjaan itu nampaknya terlalu banyak untuk dikerjakan, dengan
dirasakan kurang memadainya waktu yang tersedia. Pekerjaan yang seharusnya
menyenangkan menjadi sangat berat dan melelahkan, meskipun pada akhirnya
semuanya selesai juga. Dan ketika semua selesai tentu saja kami bisa bersenangsenang
kembali, sebelum tugas lain menanti.
Membaca ayat di atas saya merasakan sebuah persamaan yang menarik, melihat
bagaimana orang menabur benih di ladangnya, sambil bercucuran air mata. Artinya
ayat tersebut mencoba menjelaskan betapa susah payahnya ia bekerja menanam
benih di ladangnya. Waktu kecil saya sering ikut pergi ke sawah tetangga saya,
dan ikutan menanam benih padi, sangat menyenangkan sebab mungkin saya
hanya main-maiin saja. Intinya bekerja sampai menangis, bukanlah pekerjaan yang
dilakukan dengan santai-santai, namun bekerja dengan sangat keras. Dan bagian
ayat selanjutnya menjelaskan sebuah kondisi yang menarik bagi mereka yang sudah
bekerja keras: “Ia pulang dengan menyanyi gembira membawa berkas-berkas
panenannya.”
Bekerja keras adalah salah satu bentuk penjabaran Alkitabiah nilai keprimaan
(excellence) dalam statuta terkait dengan NHK ICE. Dan Kitab Mazmur memberikan
sebuah penjelasan yang menarik, bahwa mereka yang bekerja keras akan menikmati
hasilnya dengan bergembira. Saya bukan pekerja keras, sehingga tidak banyak hasil
yang saya terima yang membuat saya sangat bergembira. Saya tidak pernah bekerja
hingga mencucurkan air mata. Namun saya kenal baik beberapa rekan yang bekerja
keras, bahkan membuat saya mencucurkan air mata mendengar kisahnya, dan
mereka adalah orang-orang yang sangat sukses dalam kehidupannya. Ada sebuah
kata-kata menarik dalam bahasa Inggris: “No pain, no gain.” (Tidak ada derita, tidak
ada hasil). (AT)
Refleksi :
Sudahkah Anda bekerja hingga mencucurkan air mata?

BERJUANG SEGENAP HATI

2015-08-29

BERJUANG SEGENAP HATI

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk
Tuhan dan bukan untuk manusia.
(Kolose 3:23)”

Sir William Wallace adalah seorang patriot pada abad ke-13 di Skotlandia. Kisah
kepahlawanannya difilmkan dengan judul “The Braveheart” yang dibintangi
aktor asal Australia Mel Gibson. Dalam kisahnya digambarkan bagaimana ia
berjuang sampai titik darah penghabisannya, berjuang demi tanah kelahirannya, agar
tidak dijajah oleh bangsa Inggris, hingga dihukum mati. Namun dalam film di atas,
di balik kisah patriotis tersebut tersirat kisah romantis, bagaimana ia sebenarnya
berjuang atas nama mendiang istrinya, yang dibunuh dalam sebuah penyerbuan
di desa di mana William tinggal. Ia melakukan seluruh perjuangannya tersebut atas
dedikasi kepada istrinya, hingga pisau guillotine memisahkan kepala dari tubuhnya.
Ayat di atas yang ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat Kolose, memiliki
pesan yang sangat menarik terkait dengan sikap dalam bekerja atau berkarya.
Wycliffe memberikan tafsiran sebagai berikut: “Para hamba harus “terus bekerja
bukan hanya ketika diawasi atasannya dan memiliki motivasi ingin dipuji, tetapi
hendaklah mereka bekerja dengan tulus hati, yaitu dengan sikap pengabdian yang
tulus. Seluruh pekerjaan, bagi orang Kristen, adalah terutama untuk Tuhan, yang
menghakimi dengan segenap kejujuran dan keadilan.” Artinya bisa juga bagaimana
kita menghargai pekerjaan kita dengan nilai tertinggi dalam kehidupan kita, sehingga
dengan demikian akan mengeluarkan daya terbaik dalam kehidupan kita bagi
pekerjaan tersebut.
Namun seringkali dalam kehidupan ini, kita tidak memiliki sikap yang baik dalam
bekerja. Ada banyak alasan mungkin rasa malas, merasa tidak digaji sesuai dengan
apa yang dikerjakan, bersikap main-main saja; Dan celakanya jika kita tidak serius,
hasil yang kita peroleh dari pekerjaan itu seburuk yang kita telah keluarkan. Justru
ketika kita mampu mengeluarkan daya terbaik dalam kehidupan kita, maka hal yang
paling baik akan mengikuti sebagai hasilnya. (AT)
Refleksi :
Bekerjalah menurut nilai yang tertinggi untuk berkarya dalam kehidupan kamu.

MEMBAYAR HAK ORANG

2015-08-28

MEMBAYAR HAK ORANG

Bukankah Kitab Suci berkata: “Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang
sedang mengirik,” dan lagi “seorang pekerja patut mendapat upahnya.”
(I Timotius 5:18)”

Untuk menumbuhkan sikap keprimaan diperlukan sebuah lingkungan yang
kondusif, salah satunya adalah dengan memperhatikan hak-hak orang yang
sudah menampilkan pekerjaannya secara prima. Bagaimana menurut Anda
jika ada orang tua menuntut nilai yang tinggi kepada anak-anaknya, dan ketika anakanaknya
sudah berjuang keras untuk mendapatkan nilai yang tinggi dari sekolahnya,
orang tua tersebut kemudian cuek-cuek saja. Ia bahkan tidak memberikan pujian
apalagi penghargaan. Ia hanya menekankan bahwa anak-anaknya harus berprestasi
dan mendapatkan nilai yang baik.
John Gill”™s Exposition Bible menjelaskan ayat di atas dengan istilah ox & labor, atau
sapi dan kerja kerasnya. Meskipun ayat tersebut ditujukan pada konteks pekerja
pelayanan atau pemberita Injil. Ia menyatakan bahwa hak-hak mereka seharusnya
dipenuhi. Sedangkan Barnes Commentary lebih menekankan pada pemeliharaan
(provision) untuk memenuhi kebutuhan. Hukum Firman Allah ini juga menjadi salah
satu dasar nilai tentang hak dan upah, dari perkembangan etos kerja Protestanisme
di Eropa Barat, yang membawa kemajuan benua tersebut hingga saat ini.
Ketika bekerja di antara para expatriates asing dari berbagai Negara pada saat
Tsunami di Banda Aceh tahun 2004 lalu, hampir seluruh daya, usaha, kreativitas,
inovasi jasa yang saya kerjakan mendapatkan upah yang layak. Namun ketika tahun
2008 saya pindah ke kota Banda Aceh, hampir seluruh pekerjaan yang sama tidak
mendapatkan penghargaan yang selayaknya. Saya bahkan bisa mendengar sloganslogan
ini bertebaran di dunia bisnis atau profesi di negeri kita tercinta ini: “Kalau
bisa gratis kenapa mesti bayar?” Saya pernah membina komunitas grup fotografi
dan talent fotomodel Indonesia yang kebingungan bagaimana menentukan tarif
terhadap daya dan kreativitas mereka, sebab semuanya ingin barang atau jasa
gratisan, atau upah yang sangat tidak layak. (AT)
Refleksi :
Bisakah keprimaan lahir di suatu tempat yang tidak memberikan penghargaan yang
layak pada hasil karya atau pekerjaan seseorang?

SUMBER NILAI KESEMPURNAAN IMAN

2015-08-27

SUMBER NILAI KESEMPURNAAN IMAN

Tetapi buah Roh ialah: Kasih, Suka cita, Damai sejahtera, Kesabaran, Kemurahan,
Kebaikan, Kesetiaan, Kelemahlembutan, Penguasaan diri. Tidak ada hukum yang
menentang hal-hal itu.
(Galatia 5:22-23)”

Dalam tradisi budaya Jepang ada yang dikenal dengan istilah Bushido (kanji:
武士道 “tatacara ksatria”), yakni sebuah kode etik tentang keksatriaan dari
kelompok Samurai era feodalisme bangsa Jepang di masa lalu. Bushido
sendiri adalah sebuah tradisi yang berakar pada nilai-nilai moral samurai, yang
seringkali menekankan pada beberapa kombinasi nilai yang paling mendasar yakni
kesederhanaan, kesetiaan, penguasaan seni bela diri, dan kehormatan sampai
mati. Jadi jika kita melihat bagaimana sikap bangsa Jepang menjunjung tinggi
kehormatannya, bahkan sampai pada tindakan ekstrim hara-kiri (bunuh diri) dari
pada hidup dengan menanggung rasa malu. Bangsa Jepang bersikap dan bertindak
sesuai dengan nilai yang menjadi sumber bagi sikap hidup mereka.
Kepada jemaat di Galatia Rasul Paulus menuliskan sebuah surat yang menjelaskan
nilai-nilai yang kita kenal dengan istilah buah-buah Roh seperti yang tertera di atas.
Paling tidak ada Sembilan nilai mendasar, yang seharusnya mencerminkan nilai-nilai
yang menjadi sumber bagi orang percaya untuk bersikap sebagai bagian dari karya
Roh Kudus. Dan tentu saja ini adalah sebuah karakter yang universal, seperti yang
ditegaskan oleh Rasul Paulus Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
Namun pertanyaannya adalah, apakah dalam kehidupan kita sebagai orang percaya,
kita mempergunakan nilai-nilai tersebut sebagai landasan bagi kita untuk bersikap?
Atau realitasnya kita malah menggunakan nilai-nilai lain, yang belum tentu jelas
nilai-nilai kekristenannya? Hal ini sangat penting, sebab kita tahu bahwa dalam
kehidupan ini ternyata ada banyak orang yang secara identitas menyebut dirinya
Kristen, namun ternyata dalam realitasnya ia tidak memiliki landasan nilai-nilai
kekristenan yang menjadi sumber bagi pengambilan sikap atau keputusan dalam
kehidupannya. Alhasil kehidupannya seharusnya mencerminkan Kristus, justru
menjadi sebuah kemasan dengan isi yang berbeda. (AT)
Refleksi :
Sudahkah Anda menjalani kehidupan ini sesuai dengan nilai-nilai kekristenan?

PRIMA BERARTI MAU MENCUKUPKAN DIRI

2015-08-26

PRIMA BERARTI MAU MENCUKUPKAN DIRI

“Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis v dan mereka bertanya
kepadanya: “Guru, apakah yang harus kami perbuat?”Jawabnya: “Jangan menagih
lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.Dan prajurit-prajurit bertanya
juga kepadanya: “Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?” Jawab Yohanes
kepada mereka: “Jangan merampas dan jangan memeras x dan cukupkanlah dirimu
dengan gajimu.”
(Lukas 3:12-14)”

Ada ajaran seorang guru kehidupan tentang mencukupkan diri. Ia mengatakan
jika anda memiliki setengah gelas air putih untuk diminum, maka lihatlah
setengah ke bawah yang terisi air. Jangan melihat ke atas yang kosong supaya
anda dapat bersyukur atasnya. Perasaan bahagia itu tidak ditentukan oleh seberapa
banyak harta benda yang dimiliki seseorang. Banyak contoh yang membuktikan
bahwa orang yang banyak memiliki uang belum tentu ia memiliki kebahagiaan.
Salah-satu penentu kebahagiaan adalah mencukupkan diri. Seseorang yang
hidupnya mampu mencukupkan diri dengan apa yang ada padanya, maka ia akan
mampu mengucap-syukur kepada Tuhan dan terhindar dari tindakan-tindakan yang
dapat merugikan pihak lain.
Pekerjaan pemungut cukai dan prajurit pada jaman Yohanes dikenal sebagai
pekerjaan yang suka memeras dan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya
bagi keuntungan diri sendiri. Pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang sangat dibenci
karena memiskinkan masyarakat. Sebelum bertobat para pemungut cukai dan
prajurit selalu serakah dan menuntut lebih banyak dari yang seharusnya, sehingga
mereka memeras dan merampas. Namun setelah pertobatan itu terjadi, mereka
tidak lagi serakah dan memeras, tetapi justru mereka mencukupkan diri dengan apa
yang ada pada mereka. Mencukupkan diri dengan penghasilan dan gaji yang mereka
terima. Mereka tidak lagi memeras dan memiskinkan pihak lain. Setelah mengalami
pertobatan mereka tidak lagi serakah, tetapi terjadi transformasi yang disebabkan
oleh anugerah Tuhan yakni mereka hidup dengan pola mencukupkan diri dengan
apa yang ada pada mereka.
Hidup dalam pertobatan yang diarahkan oleh anugerah Tuhan dengan cara
mencukupkan diri akan menghindarkan kita dari sikap materialistic, konsumeristik,
dan hedonistik. Kita akan dimampukan untuk mengembangkan sikap bersyukur dan
membangun pola kerja yang maksimal.(AE)
Refleksi :
Hidup yang sehat adalah hidup yang senantiasa bersyukur.

BEKERJA EXCELLENCE

2015-08-25

BEKERJA EXCELLENCE

” Maka Rut, perempuan Moab itu, berkata kepada Naomi, biarlah aku pergi ke
ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku, Dan
sahut Naomi kepadanya, pergilah anakku. Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan
memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik
Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh.”
( Rut 2:2-3 )”

Tidak bisa dihindari atau dipungkiri hal bekerja berkaitan dengan upah. Berapa
gaji atau honor yang diterima menjadi ukuran. Tapi pertanyaan mendasarnya,
apakah hal bekerja itu melulu soal upah saja? Dalam pandangan iman Kristen
bekerja tidak hanya soal upah, tapi bekerja adalah panggilan Tuhan bagi seluruh
umat. Selain itu, ada pandangan dalam masyarakat yang melihat bekerja sebagai
” prestise “. Pekerjaan tertentu dilihat sebagai yang memposisikan seorang dalan
status sosial tertentu. Akibatnya seseorang memilih mengejar jabatan tertentu
walau harus menyingkirkan dan menyakitkan sesama, bahkan sebaliknya, ada yang
tidak melakukan apapun karena memandang sebuah pekerjaan itu hina.
Dalam hukum Perjanjian Lama ( Hukum Thorat ) terdapat peraturan para pemiiik
ladang atau kebon harus meninggalkan bulir-bulir gandum tersisa yang diperuntukkan
bagi orang-orang miskin. ( Imamat 19:10 ). Orang-orang miskin dapat memungut
bulir-bulir gandum yang tersisa di ladang atau di kebon setelah masa panen. Dan
Rut memungut gandum tersisa di kebun dan di ladang. Hal yang bisa kita pelajari
dari Rut adalah nilai kesetiaan dan kasih kepada Naomi melebihi segala-galanya.
Ia rela bekerja memungut bulir-bulir gandum yang diperuntukan bagi orang-orang
miskin dan orang-orang asing. Semua pekerjaan itu ia lakukan karena kasih dan
kesetiaannya. Ia menanggalkan gengsi dan prestisenya dan menggantikannya
dengan kesetiaan dan kasihnya kepada Naomi dan Allahnya.
Banyak orang tidak melakukan apapun dalam pekerjaan karena gengsi, atau bahkan
menyingkirkan dan menindas sesama karena egoisme. Padahal dalam pandangan
iman Kristen semua pekerjaan adalah kudus di hadapan Allah dan semua pekerjaan
yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan serius adalah ibadah kepada Tuhan.
Bekerja excellence artinya melakoni pekerjaan dengan kasih dan kesetiaan kepada
Tuhan sang pemilik pekerjaan dan berkat dari Allah akan tercurah bagi kita yang
melakukan pekerjaannya dengan excellence ( jujur, ulet, bersemangat, dan
berdedikasi). (AE)
Refleksi :
Hujan berkat kan tercurak bagi yang setia dalam bekerja

BUKAN NEKAT, TAPI BERANI MENGAMBIL RISIKO

2015-08-24

BUKAN NEKAT, TAPI BERANI MENGAMBIL RISIKO

” Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang
baik lagi benar. Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. ia berasal
dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah. Ia pergi
menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Dan sesudah ia menurunkan mayat
itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur
yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat.”
( Lukas 23:50-53 )”

Nekat adalah tindakan gegabah tanpa perhitungan dan tindakan yang tidak
didasari oleh pertimbangan yang matang. Sedangkan berani mengambil risiko
adalah sebuah keputusan dan tindakan yang dipilih atas dasar pertimbangan
yang kuat, walaupun ada konsekwensi atau risiko yang harus ditanggung.
Seorang yang bernama Yusuf berasal dari sebuah kota di Yahudi yang bernama
Arimetea pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Dalam posisinya
sebagai anggota Majelis Besar tentu tindakannya meminta mayat Yesus adalah
sebuah tindakan yang penuh risiko. Mengapa berisiko? Karena selain ia bisa saja
dilengserkan dari kedudukannya sebagai Majelis besar, tapi bisa saja lebih dari itu,
ia bisa dituding sebagai antek-antek Yesus dan dianggap sebagai kelompok makar.
Namun bagi Yusuf Arimatea, statusnya sebagai Majelis Besar dan tantangan risiko
yang akan dialamainya tidak menyurutkan langkahnya untuk menurunkan jenasah
Yesus dan meletakkannya di dalam kuburan yang masih baru yang ia gali sendiri.
Tindakannya ini ia lakukan karena ia mencintai Yesus sebagai seorang murid dan
kerinduannya yang berkobar untuk memberitakan Kerajaan Allah. Sikap seorang
murid yang “tidak terkenal” tapi nyata dalam tindakan. Sikap berbeda justru
ditunjukkan oleh murid-murid lainnya yang selama itu menunjukkan ” kedekatannya
” dengan Yesus tapi tidak melakukan apapun karena ketakutan. Rasa takut sering
mematikan semangat dan membuat seseorang tidak melakukan sesuatu apapun.
Hidup kita di dunia ini sering digambarkan seperti kapal di laut lepas. Banyak hujan
dan badai yang siap menerpa. Kita seringkali merasa takut, terlebih dalam status kita
selaku murid Kristus. ( baca: lembaga Kristen ) Akankah kita berdiam diri dan tidak
melakukan sesuatu apapun? Tentu tidak, kita perlu belajar dari Yusuf Arimatea yang
berani mengambil risiko untuk sebuah misi. (AE)
Refleksi :
Aksi kecil lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.

KEPRIMAAN: MEMBANGUN KETEGUHAN HATI

2015-08-23

KEPRIMAAN: MEMBANGUN KETEGUHAN HATI

” Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan
giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan
dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”.
( 1 Korintus 15:58 )”

Pada saat kesulitan datang menerpa seringkali kita berfikir bahwa Tuhan tidak
mengasihi kita. Kita berfikir Tuhan berada begitu jauh dan tidak mampu
mendengar jeritan permintaan tolong yang kita sampaikan, bahkan kita
beranggapan barangkali Tuhan sudah tidak ada. Pada masa-masa kesukaran itu
datang menimpa acapkali kita juga merasa bahwa Tuhan telah berbuat tidak adil.
Orang lain hidupnya mudah dan enak-enak saja, sedangkan kita hidup dengan penuh
kesulitan dan kesukaran. Kita menganggap bahwa Tuhan telah berlaku tidak adil dan
menganak-tirikan kita. Pertanyaannya, benarkah Tuhan itu tidak mengasihi kita?
Benarkan Tuhan itu tidak adil? Benarkah Tuhan itu menganak-tirikan kita?
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut tentunya tidak benar. Sebab
memang Tuhan mengasihi umatNya. Bukti kasihNya itu jelas dan fakta sebagaimana
yang dinyatakan di dalam Yesus Kristus. Melalui perikop pembacaan Alkitab hari
ini disaksikan Yesus Kristus sudah mengalahkan maut bagi kita, “maut telah ditelan
dalam kemenangan, hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah
sengatmu? “¦” Selanjutnya Rasul Paulus menyatakan supaya kita bersyukur
kepada Allah yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus
Tuhan kita. Jadi, jelas bahwa Tuhan Yesus sangat mengasihi kita, dan jelas juga
bahwa Tuhan Yesus berlaku adil terhadap kita umatNya. Oleh karena itu ketika
umat diperhadapkan dengan kesulitan dan kesukaran, bukan karena Tuhan tidak
mengasihi dan tidak adil, tapi kesulitan dan kesukaran perlu dilihat sebagai proses
pendidikan yang mendewasakan. Seperti besi dan baja di tangan seorang pandai
besi yang dibakar dan dipukul untuk menghasilkan pedang yang tajam.
Tuhan butuhkan dari kita kesediaan dan kerelaan untuk setia dan teguh dalam proses
yang sedang Tuhan lakukan atas kita. Karena itu untuk mencapai sebuah keprimaan
dibutuhkan sikap berdiri teguh, jangan goyah, dan giat selalu dalam pekerjaan
Tuhan. Karena dengan itu semua jerih payah kita tidak menjadi sia-sia. (AE)
Refleksi :
kegagalan bukan akhir dari segala-segalanya, tapi justru dijadikan tonggak awal
sebuah keberhasilan