KEPRIMAAN: MULAILAH DENGAN KERENDAHAN HATI DAN MENURUTI KEHENDAK TUHAN

2015-08-22

KEPRIMAAN: MULAILAH DENGAN KERENDAHAN HATI DAN
MENURUTI KEHENDAK TUHAN

” Tetapi jawabnya kepadaNya, Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan?
Ketahuilah, kaumku adalah adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan
akupun orang yang paling muda di antara kaum keluargaku. ”
( Hakim-Hakim 6:15 )”

Keberhasilan umat manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi
tentunya membawa dampak yang bermanfaat bagi manusia. Banyak bidangbidang
kehidupan yang memetik manfaat akibat dari kemajuan iptek misalnya,
bidang informasi dan komunikasi, bidang pengadaan pangan, bidang kedokteran
dll. Namun haruslah disadari pula bahwa kemajuan iptek tidak jarang membawa
dampak negative yang bukan mensejahterakan umat manusia, malah sebaliknya.
Kemajuan iptek menjadi titik pangkal egoisme dan kesombongan manusia yang pada
gilirannya menentang keberadaan Tuhan.
Hari ini kita belajar dari kisah seorang Gideon yang diangkat menjadi hakim atas
umat Israel pada jamannya. Pada masa itu umat Israel berada dalam tekanan dan
cengkeraman bangsa Midian, sehingga mereka berseru dan memohon kepada
Tuhan untuk mengutus seorang penyelamat bagi mereka. Dalam kisah ini ada
sesuatu yang sangat menarik yang dapat kita pelajari dari seorang Gideon dank arena
sikapnya itulah ia dipilih menjadi penyelamat atas umatNya. Sikap seperti apa yang
ditampilkan oleh Gideon? Sebagaimana dinyatakan dalam ayat 15 Gideon menjawab
perkataan Tuhan: “” Tetapi jawabnya kepadaNya, Ah Tuhanku, dengan apakah akan
kuselamatkan? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye
dan akupun orang yang paling muda di antara kaum keluargaku. ” Pada bagian ini
Gideon menunjukkan bahwa dirinya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa dan tidak
memiliki kekekuatan dan kemampuan apapun dalam melakukan pekerjaan Tuhan.
Itulah sebabnya ia berkata: ” Ah Tuhan, dengan apakah akan kuselamatkan”¦? Dia
mengatakan bahwa sukunya pun adalah suku yang paling kecil di antara suku-suku
yang ada di Israel dan Gideonpun menyadari bahwa dirinya masih sangat muda. Di
sini kita melihat bahwa Tuhan itu ketika menugaskan seseorang tidak memandang
muka dan tidak mengukur seseorang dari kehebatan dan kepintarannya, tapi Tuhan
melihat kerendahan-hatinya dan ketulusannya untuk menuruti kehendakNya.
Hari ini kita belajar dari Gideon bahwa untuk memulai membangun nilai keprimaan
sebagai “core Values” di dalam institusi Maranatha, kita harus memulainya dari
sikap rendah hati dan menuruti kehendak Tuhan. (AE)
Refleksi :
Sikap rendah hati artinya membuka diri dibentuk oleh Tuhan

MELIHAT KEKUATAN ALLAH

2015-08-21

MELIHAT KEKUATAN ALLAH

“Pada waktu itu Musa bersama-sama dengan orang Israel menyanyikan nyanyian
ini bagi TUHAN yang berbunyi: “Baiklah aku menyanyi bagi TUHAN, sebab Ia
tinggi luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut. TUHAN itu
kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Ia Allahku, kupuji Dia,
Ia Allah bapaku, kuluhurkan Dia.”
(Keluaran 15:1-2)”

Ketika bangsa Israel berhasil keluar dari Mesir dibawah pimpinan Musa, ternyata
Firaun tidak melepaskan mereka begitu saja. Firaun beserta pasukannya
mengejar mereka dengan kereta dan senjatanya. Dengan enam ratus kereta
terpilih lengkap dengan perwiranya, Firaun mengejar mereka. Firaun dan pasukannya
mendekati bangsa Israel yang sedang berkemah di tepi laut Teberau. Ketakutan
melanda bangsa Israel. Sepertinya tidak ada harapan bagi bangsa Israel karena di
depan mereka laut Teberau, di belakang mereka musuh yang siap menerkam dengan
senjata yang lengkap.
Ketika bangsa Israel melihat kekuatan Allah lebih besar dari pada kekuatan Firaun
dan pasukannya, bangsa Israel berharap kepada pertolongan Tuhan, bangsa Israel
memegang tangan Tuhan, maka kekuatan Tuhan yang melawan musuh, Tuhan yang
memberikan pertolongan, Tuhan yang menuntun bangsa Israel, sehingga mereka
terlepas dari terkaman musuh.
Sebuah lagu yang terkenal yang dinyanyikan oleh Sari Simorangkir, berkata bahwa
Tuhan menjadi kekuatanku, begini syairnya :
Bukan dengan kekuatanku, ku dapat jalani hidupku. Tanpa Tuhan yang disampingku,
ku tak mampu sendiri. Engkaulah kuatku, yang menopangku.
Ku pandang wajahMu dan berseru, pertolonganku datang dariMu. Peganglah
tanganku, jangan lepaskan, Kaulah harapan dalam hidupku.
Dalam kehidupan tidak selalu anda menghadapi jalan mulus dan lancar. Kadangkala
mungkin sering anda menghadapi jalan yang sukar, sulit, sepertinya tidak ada jalan
keluar, tidak ada yang dapat menolong, tamatlah riwayat kita. Bila anda mengalami
seperti ini, ingatlah peristiwa di atas yang dialami oleh Musa dan bangsa Israel.
Lihatlah kekuatan Allah yang lebih besar dari masalah hidup anda. (TMZ)
Refleksi :
Mintalah Tuhan membukakan mata anda, agar dapat melihat kekuatan Allah lebih
dari pada masalah hidup anda

SIAPA ANDALAN ANDA?

2015-08-20

SIAPA ANDALAN ANDA?

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada
TUHAN!”
(Yeremia 17:7)”

Truett Cathy, seorang pengusaha restoran chicken sandwich di Amerika dan
merupakan 40 orang terkaya di USA. Ketika mengalami kesulitan dalam
bisnisnya, ia meminta bantuan konsultan bisnis. Berikut nasehatnya : Minggu
harus buka, harga chicken sandwich harus dinaikkan, dan pensiunkan karyawan
lama. Setelah mendapat nasihat tersebut, Truett Cathy mengajak karyawannya
untuk retreat dan berdoa untuk meminta petunjuk Tuhan. Sungguh diluar dugaan,
ternyata petunjuk Tuhan berbeda dengan yang diberikan oleh konsultannya. Berikut
petunjuk Tuhan : Minggu tetap tutup, naikkan gaji karyawan, dan tidak ada pensiun
bagi karyawannya. Truett Cathy memutuskan untuk memilih petunjuk Tuhan.
Perusahaannya sukses ketika ia mengandalkan Tuhan. Chicken sandwich-nya yang
diberi-nama “Chick-fil-A” menjadi populer. Pada September 2013, “Chick-fil-A”
memiliki lebih dari 1.700 restoran di 39 negara bagian dan Washington, DC dan
membukukan penjualan lebih dari $ 4,6 miliar pada 2012.
Ketika mengandalkan Tuhan, maka Tuhan punya cara yang luar biasa untuk menolong
kita. Cara Tuhan sungguh unik; yang mungkin berbeda untuk setiap orang, namun
yang pasti seperti dalam Yeremia 17:7 Diberkatilah orang yang mengandalkan
TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
Nabi Yeremia, mempunyai pengalaman lebih 40 tahun dalam pemerintahan 5
raja Yehuda terakhir, yaitu raja Yosia, Yoahas, Yoyakim, Yoyakhin dan Zedekia.
Dia melihat berbagai peristiwa dalam kehidupannya, bagaimana tangan Tuhan
memberkati, menolong ketika seseorang yang mengandalkan, berharap, bergantung,
mempercayakan setiap keputusannya kepada Tuhan. Itu pun berlaku dalam
kehidupan kita semua. Ketika kita mengandalkan Tuhan dan menaruh harapanNya
kepada Tuhan, bukan kepada manusia atau kepandaiannya sendiri – diberkatilah
kita! (TMZ)
Refleksi :
Siapa andalan kita? Siapa “backing” kita? Siapa yang kita banggakan? Semoga
andalan kita adalah Tuhan yang hidup, Tuhan Yesus Kristus? God Bless.

HARI INI LEBIH DARI KEMARIN

2015-08-19

HARI INI LEBIH DARI KEMARIN

“Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan
raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.”
(Amsal 22:29)”

Budaya Kaizen telah mengubah Jepang menjadi lebih baik dibanding pada waktu
perang dunia ke-2. Kaizen adalah suatu filosofi Jepang yang memfokuskan
diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus/
berkesinambungan terutama dalam bisnis. Kaizen berasal dari Bahasa Jepang,
kai = perubahan dan zen = baik. Di Tiongkok, kaizen bernama gaishan di mana gai
berarti perubahan / perbaikan dan shan berarti baik / benefit. Jadi Kaizen dapat
diartikan sebagai perubahan menuju arah yang lebih baik. Kaizen atau Gaishan telah
menjadikan seseorang menjadi cakap dalam pekerjaannya.
Cakap dalam pekerjaan merupakan proses. Proses menjadi lebih baik dari
sebelumnya, proses berkesinambungan, proses diperbaharui terus menerus.
Orang yang cakap adalah yang memiliki keahlian, keterampilan, kompetensi dalam
melakukan suatu pekerjaan. Orang yang cakap, tidak mudah menyerah, berhenti
atau mundur di tengah jalan dari apa yang telah ia mulai lakukan. Orang yang cakap
tidak suka malas-malasan tapi rajin dalam bekerja. Orang ini gesit, cekatan, serius
dan punya mental pejuang. Ia tidak mudah mengeluh atas pekerjaan yang berat dan
banyak tetapi melihatnya sebagai tantangan untuk meningkat. Ia akan belajar dan
memberi hasil yang terbaik. Orang yang cakap juga tidak mencari-cari alasan apabila
keliru dalam melakukan sesuatu, sebaliknya mereka akan melakukan perbaikan
hingga menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
Salomo mengatakan bahwa orang cakap seperti ini menduduki posisi-posisi tinggi,
posisi terhormat, berdiri di hadapan raja-raja. Walau dalam realita, akan dijumpai
orang yang tidak cakap menduduki posisi tinggi; biasanya bukan karena kemampuan
dan kepantasan melainkan karena kolusi, koneksi atau nepotisme. (TMZ)
Refleksi :
Sudahkah anda memberikan yang terbaik dalam pelayanan, keluarga, pekerjaan,
karir, studi? Maukah anda terus melatih diri agar menjadi orang yang cakap,
menjadi lebih baik dari hari kemarin? Tuhan siap memperbesar kapasitas orang
seperti ini. Mintalah Tuhan mengubahkan kehidupan anda menjadi lebih baik, agar
menjadi berkat bagi banyak orang.

BIJAKSANA vs BIJAKSINI

2015-08-18

BIJAKSANA vs BIJAKSINI

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang
bijaksana.”
(Mazmur 90:12)”

Kata “bijaksana”, atau “hikmat” dalam bahasa Yunani adalah “sofia.” Mirip
seperti dalam kata filsafat (filo = cinta dan sofia), yang berarti cinta hikmat.
Andai anda diberi uang 86.400 dolar setiap hari, apa yang anda akan lakukan?
Anggaplah 1 dolar = Rp 13.000, jadi Rp.1.123.200.000 (kira-kira 1 milyar rupiah).
Syaratnya anda harus menghabiskan uang tersebut, bila ada sisa maka sisanya akan
diambil kembali. Kebanyakan orang akan membelanjakan uang tersebut sesuai
kebutuhannya, kebutuhan keluarganya, dan segala macam kebutuhan lainnya.
Dalam hal uang kita akan cepat sekali berpikir untuk menghitungnya, mengelolanya
dengan baik, mendaftarkan kebutuhan yang akan dibeli.
Angka 86.400, sebenarnya waktu yang Tuhan berikan setiap hari, terdiri dari 24 jam
x 60 menit x 60 detik = 86400 detik. Bila 1 detik = 1 dolar, maka betapa banyaknya
Tuhan memberikan waktu pada kita. Pepatah orang barat : “Time is money”. Waktu
adalah uang, betapa berharganya waktu. Pepatah orang Tionghoa : “Satu inci
waktu = satu inci emas, tetapi 1 inci emas TIDAK BISA menggantikan 1 inci waktu”.
Waktu sangat berharga seperti emas, bahkan tidak bisa digantikan dengan emas.
Tapi sesungguhnya, waktu jauh lebih berharga dari pada uang dan emas sekalipun.
Alkitab menegaskan bahwa waktu adalah hidup : “Time is life”.
Seorang bijaksana akan menghitung hari-harinya sebagai anugrah yang diberikan
oleh Tuhan. Setiap hari = 86.400 detik yang Tuhan berikan akan ia manfaatkan
dengan benar, dikelola dengan baik untuk kemuliaan Tuhan. Sebaliknya orang yang
“bijaksini”, akan memusatkan kepada kepentingan hidupnya sendiri. Waktu yang
diberikan oleh Tuhan, ia terima, namun penggunaannya terserah si “aku”. Apakah
dibuang, dipakai untuk tidur, santai, bermain. Pokoknya hidup itu mengalir saja,
tidak perlu punya tujuan. Pemazmur dalam Mazmur 90:12 mengetahui benar bahwa
hidup ini singkat dan harus dipertanggungjawabkan. Dalam doanya dia meminta
kepada Tuhan agar ia mampu menilai dan menghargai waktu atau kesempatan yang
dimilikinya. (TMZ)
Refleksi :
Sudahkah kita pintar mengelola 86.400 detik setiap harinya? Bila belum, sekarang
waktunya. Jangan tunggu, kesempatan tak pernah terulang.

KEPRIMAAN YESUS: YA SEBAGAI MANUSIA, YA SEBAGAI ALLAH

2015-08-17

KEPRIMAAN YESUS: YA SEBAGAI MANUSIA, YA SEBAGAI
ALLAH

“Sebab seluruh kepribadian Allah berdiam pada Yesus, yaitu pada kemanusiaan-
Nya..”
(Kolose 2:9)”

Siapakah Yesus? Ya sebagai Manusia, ya sebagai Allah. Yesus menjadi
Penyelamat manusia karena Ia adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguhsungguh
manusia. Sebab Yesus adalah Allah, Dia sudah ada sebelum dunia
ini diciptakan. Namun Ia rela menjelma menjadi manusia, karena mengasihi kita.
Pada saat waktunya genap, Ia memilih untuk dilahirkan ke dunia, Putera Tunggal
Allah yang tak terbatas, masuk ke dalam sejarah manusia. Hakikat ke-Allahan dan
kemanusiaan Yesus ini adalah ciri khas Yesus, yang membuat-Nya berbeda dari para
nabi ataupun orang kudus mana pun. Tidak dapat dimungkiri bahwa Yesus adalah
ya sungguh Allah dan ya sungguh manusia. Keprimaan Yesus telah teruji dengan
sempurna dalam posisinya sebagai manusia dan sebagai Allah. Sebagai Allah, Yesus
adalah Juru Selamat manusia yang telah menghapuskan dosa-dosa kita. Yesus adalah
Pengantara kita yang menghubungkan kita dengan Allah. Sebagai manusia, Yesus
dengan kehendak bebas-Nya mempersembahkan kurban penghapus dosa, yaitu diri-
Nya sendiri, dan karena Ia adalah Allah. Korban-Nya ini bernilai tak terbatas sehingga
sebagai Allah, Dia mampu menghapus semua dosa manusia di sepanjang sejarah.
Sebagai manusia, Yesus juga banyak menyatakan perasaan-Nya yang positif. Ia
memperlihatkan perasaan kasih sayang-Nya dengan memeluk anak kecil (Mrk.
9:36), menyatakan kekaguman dan keheranan-Nya atas iman seorang perwira di
Kapernaum (Mat. 8:10), dan kerap kali mengungkapkan belas kasihan lewat mujizat,
kata-kata, serta doa-Nya (Mat. 9:36; 14:14; Mrk. 8:2; Luk. 7:13; Yoh. 19:26;Yoh. 13:1).
Tidak hanya sekadar mengekspresikan perasaan-Nya, Yesus pun tidak jarang
menanggapi ungkapan perasaan orang lain dengan bahasa perasaan pula. Yesus
membiarkan, bahkan membela Maria yang meminyaki kaki-Nya dengan minyak
narwastu murni serta menyeka minyak yang mengalir dengan rambutnya (Yoh. 12:1-
8). Selain itu, Yesus juga tidak menolak Yohanes, murid yang Ia kasihi, bersandar
kepada-Nya (Yoh. 13:23). Keprimaan Yesus telah penuh, ya sebagai manusia, ya
sebagai Allah. (RTM)
Refleksi :
Keprimaan yang ideal dalam diri Yesus hendaknya kita implementasikan dalam
kehidupan kita.

KEPRIMAAN: IBARAT BUAH MANIS NAN NIKMAT

2015-08-16

KEPRIMAAN: IBARAT BUAH MANIS NAN NIKMAT

“Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu
bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah
hatimu melimpah dengan syukur.”
(Kolose 2:7)”

Pohon tumbuh besar dan menjadi kuat karena dimulai dari bawah, yaitu akar.
Karena akar menjadi alat pohon mencari makan untuk kelangsungan hidupnya.
Akar berada di bawah mencengkeram tanah karena di sanalah tempat untuk
tumbuh. Akarlah sebenarnya sumber kekuatan dari pohon agar tetap bisa tegak.
Akar hanyalah organ pendukung pohon menjadi satu organisme tumbuhan. Masih
ada organ lain yang menjamin kelangsungan hidup pohon tersebut, jika semuanya
berlangsung dengan baik, tumbuh baiklah pohon itu. Bila kita mau menebang pohon,
pohon itu akan punya daya untuk tumbuh kembali hingga memunculkan ranting,
dedaunan baru, untuk kembali tumbuh lagi. Sebuah pohon hanya dapat eksis bila
akar-akarnya terus merambat. Bayangkan apabila akar-akar pohon dari “pohon
mangga”, malas merambat, malas mencari air dan malas untuk mencari makanan.
Tunggulah, sehari, dua hari, tiga hari, dan seterusnya, pohon mangga tersebut bukan
bertambah subur dan hijau daunnya, atau menghasilkan buah-buah mangga yang
manis rasanya, pada musimnya; melainkan sebaliknya yang terjadi.
Demikian juga dengan kehidupan iman orang percaya. Tentu tidak akan mengalami
hidup yang penuh keprimaan. Tidak dapat menikmati buah manis nan nikmat jika
tidak berakar di dalam Kristus dan dibangun di atas nama-Nya. (RTM)
Refleksi :
Jika kita ingin menghasilkan buah manis nan nikmat, yaitu segala yang baik di dalam
Kristus, kita harus seperti akar pohon yang merambat di dalam Kristus sehingga kita
dapat membangun keprimaan.

BERMETAMORFOSIS UNTUK MENJADI PRIMA SECARA ROHANI

2015-08-15

BERMETAMORFOSIS UNTUK MENJADI PRIMA SECARA
ROHANI

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu,
supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang
kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah
kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan
budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang
baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
(Roma 12:1-2)”

Daur hidup kupu – kupu dimulai dari telur. Telur kupu-kupu biasanya berada
di permukaan daun. Telur kemudian menetas menjadi ulat. Ulat makan
selama berhari-hari, lama kelamaan ulat berhenti makan, ulat mulai berubah
menjadi kepompong. Masa kepompong berlangsung selama berhari-hari. Jika telah
sempurna, kupu – kupu keluar dari kepompong. Kupu-kupu dewasa berkembang biak
dengan bertelur. Dari telur itu, proses metamorfosis dimulai lagi. Dari metamorfosis
itu, kita belajar bagaimana ulat yang terus-menerus bekerja memakan makanannya
untuk dapat bertumbuh sehingga pada saatnya berubah menjadi kepompong dan
akhirnya dapat terbang seperti kupu-kupu. Inilah sebuah analogi pemahaman akan
perubahan seorang yang mencari Tuhan, dan ingin lebih lagi mengenal, hidup dan
diproses menjadi lebih lagi seperti Kristus. Dalam arti manusia menjadi mengalami
perubahan/metamorfosis sehingga secara rohani menjadi seperti Kristus.
Bermetamorfosis untuk menjadi prima secara rohani, itulah capaian akhir yang ingin
kita peroleh dari proses metamorfosis kita. Menjadi prima seperti Kristus merupakan
upaya yang kita tempuh seperti ulat yang terus-menerus meningkatkan energinya
melalui makanan yang dimakannya. Demikian juga, kita mengonsumsi firman
TUHAN sebagai makanan rohani kita untuk menumbuhkan rohani kita. Dalam proses
itu, kebutuhan dan kerinduan untuk terus belajar dan mengenal firman Tuhan harus
tetap dipertahankan. Seperti sabda Allah, berbahagialah orang yang melakukan
kehendak-Nya. (RTM)
Refleksi :
Kita harus berusaha memahami kehendak Tuhan dalam hidup kita. Bekerja sama
dengan-Nya dan menjadikan Dia sebagai subjek dalam hidup kita sehingga dengan
bimbingan dan penyertaan-Nya kita dapat prima secara rohani.

Membangun Karakter Prima ala Kristus

2015-08-14

Membangun Karakter Prima ala Kristus

“tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh
di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”
(Efesus 4:15)”

Pada era modern ini, kemajuan teknologi dan informasi tidak berbanding lurus
dengan kemajuan akhlak. Yang terjadi justru demoralisasi yang ditandai oleh
gejala (1) meningkatnya kekerasan pada kalangan remaja, (2) penggunaan
bahasa dan kata-kata yang memburuk, (3) pengaruh lingkungan pergaulan dalam
tindakan kekerasan, (4) meningkatnya perilaku merusak diri seperti penggunaan
narkoba, alkohol, dan seks bebas, (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan
buruk, (6) menurunnya etos kerja, (7) semakin rendahnya rasa hormat kepada
orang tua dan guru/dosen, (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga
negara, (9) membudayanya perilaku ketidakjujuran, (10) saling curiga dan kebencian
di antara sesama. Bagaimana kita umat Allah dapat bertahan terhadap segala
tantangan tersebut dan tidak mengalami demoralisasi? Kita perlu membangun
karakter prima ala Kristus sebagai pembentukan identitas kita sebagai seorang
Kristen, seperti pengikut Kristus. Alasan yang paling mendasar mengapa kita perlu
berkarakter ala Kristus karena kita adalah anak-anak Allah. Dengan demikian, kita
harus bertumbuh menjadi semakin serupa Dia. Dalam hal ini kita harus meneladani
Kristus, belajar berpikir dan bertindak seperti Kristus berpikir dan bertindak ketika
Dia berada di tengah dunia ini. Untuk itu, jika kita mau membangun karakter ala
Kristus, kita perlu belajar mengenal Tuhan lebih dalam lagi, mengenal pribadi-Nya,
pikiran-Nya, kehendak-Nya. Semuanya itu bisa kita lakukan ketika kita melakukan
pembacaan dan perenungan Firman Tuhan dalam hidup sehari-hari.
Peter Waterworf menjelaskan bahwa karakter prima yang kuat harus seperti bola
dan jangan seperti telur. Dalam pandangannya, membangun karakter harus bersifat
fleksibel dan resilience karena kita banyak menghadapi tekanan hidup yang begitu
sangat ketat dan berat. Bentuk nyata dari generasi yang memiliki ketahanan mental
dan kuat itu, tercermin dari karakter bola. Bola yang baik itu, adalah bola yang
mampu bergerak bebas, dan memantul kembali, kendati bola itu sudah jatuh ke
tanah. Karakter kita jangan mirip telur. Mungkin benar, telur itu lebih menarik untuk
dipilih dibandingkan dengan bola. Akan tetapi, telur tidak memiliki ketahanan mental
yang kuat dan kurang fleksibel. Pada saat dijatuhkan ke tanah, telur akan remuk,
pecah, dan hancur. Marilah, kita membangun karakter prima ala Kristus, dengan
bertumbuh di segala hal tetap terpusat kepada Kristus dan tahan seperti bola. (RTM)
Refleksi :
Bangunlah karakter prima yang kuat dan tahan.

KERENDAHAN HATI

2015-08-13

KERENDAHAN HATI

“”¦”¦dan menjadi hamba-Nya pun aku tidak layak.”
(Yohanes 1:27b)”

Rasul Yohanes adalah penulis injil Yohanes terpanggil untuk memberikan
kesaksian tentang Sang Mesias dan Allah memberikan kepada Yohanes
kuasa untuk membaptis, meski di dalam kuasa yang demikian besar, Yohanes
tetap sadar bahwa ia tidak lebih tinggi dari Yesus. Pertanyaan-pertanyaan yang
dilontarkan oleh mereka (ayat 19-21) dan jawaban Yohanes menunjukkan karakter
Yohanes yang jujur, tidak memanfaatkan kesempatan untuk meninggikan dirinya
atau memanfaatkan kesempatan untuk mencari ketenaran dalam dirinya. Yohanes
menjadi contoh nyata bagaimana seharusnya seorang hamba Tuhan, mempunyai
sikap kerendahan hati meskipun banyak peluang untuk menjadi tenar tetapi tetap
sadar akan jati dirinya yang berada di bawah otoritas Yesus. Berfokus kepada Kristus
yang menjadi Tuan dalam hidupnya bukan berfokus pada dirinya sendiri.
Suatu ketika ada hamba Tuhan diundang untuk mengusir roh jahat yang ada didalam
diri seorang ibu. Jarak antara rumah hamba Tuhan cukup jauh, dengan ibu itu. Ibu ini
mempunyai keyakinan jika yang datang hamba Tuhan dari jauh pasti berhasil. Hamba
Tuhan ini berkata bahwa bukan dia yang mempunyai kuasa atau kemampuan untuk
mengusirnya tetapi Kristus yang ada di dalam dirinya yang sanggup dan berkuasa
untuk mengusir roh-roh jahat. Bukan hamba Tuhan yang hebat tetapi Tuhan nya itu
yang hebat.
Sikap hamba Tuhan itu menunjukkan akan kesadaran dirinya jika tanpa Kristus tidak
akan dapat melakukan apapun meskipun hamba Tuhan ini mengetahui bahwa Kristus
sudah memberi kuasa dan perintah untuk melakukan itu. Tetap saja kemuliaan itu
hanya untuk Kristus. Hamba Tuhan ini belajar dari sikap rasul Yohanes untuk tidak
memanfaatkan kesempatan untuk meninggikan dirinya atau ingin menjadi terkenal
karena bisa mengusir roh-roh jahat.
Kesempatan selalu ada di dalam setiap orang untuk menjadi terkenal, berhasil dalam
segala sesuatu. Mungkin berhasil dalam bisnis, berhasil melaksanakan programprogram
dalam pekerjaan kantor atau mendapatkan nilai IPK yang memuaskan,
namun perlu ada kesadaran bahwa apa yang kita alami tidak terlepas dari ikut campur
tangan Kristus. Bila seseorang tidak melihat jati diri dalam kaitan dengan Kristus
Yesus, maka ia hanya bisa melihat kemampuannya, akhirnya timbul kesombongan
bukan kerendahan hati. (RDS)
Refleksi :
Sebab segala sesuatu berasal dari Allah. Segala sesuatu hidup oleh kuasa-Nya dan
segala sesuatu itu untuk kemuliaan-Nya. Bagi Dialah kemuliaan untuk selamalamanya
(Roma 11:36).