SANG PEMBUAT TENDA

“Dan karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama
dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang
kemah.” (Kisah para Rasul 18:3)

Sebagai seorang Rasul, Paulus pergi memberitakan Injil dan mengajarkan Firman
Tuhan di banyak tempat. Paulus juga seorang pengusaha yang memproduksi
dan menjual kemah atau tenda. Rasul Paulus melayani orang-orang Yunani. Dia
mulai datang ke suatu tempat untuk menginjili dan mengajari mereka bagaimana
menjadi murid Yesus sejati. Alasan, mengapa Paulus menjadi tukang tenda di
samping sebagai seorang penginjil karena dia harus menghidupi dirinya sendiri tanpa
menjadi beban bagi orang lain atau jemaatnya yang ada di Korintus.
Lalu bagaimana hubungannya Paulus sang pembuat tenda di atas dengan kita
sebagai warga kampus Maranatha ? Mungkin kita beranggapan “pekerjaan ini bukan
bagian saya” atau “tugas itu seharusnya saya yang menangani” dan banyak lagi
permasalahan yang dapat kita jumpai sehari-hari dalam dunia kerja, yang harus
kita sadari bahwa apapun yang kita kerjakan kesemuanya itu adalah anugerah
dari Tuhan yang dipercayakan untuk kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Kita juga
dapat menjadi pembuat “tenda” melalui pemikiran, saran, ide-ide atau usaha lain
dalam memberikan sumbangsih demi kemajuan bersama warga kampus Maranatha.
Bisa jadi saat ini posisi kita sebagai Pejabat Struktural, tenaga Pengajar, pimpinan ,
Mahasiswa, Pegawai atau tenaga pekarya; siapapun atau apapun profesi kita, lakukan
saja tugas yang menjadi bagian kita dengan sebaik-baiknya.Pasti akan jauh lebih baik
hasilnya ketimbang kita sangat sibuk dengan urusan-urusan yang sebenarnya sangat
tidak penting yang bukan harus kita kerjakan. Jangan sampai kita tidak mengerti
tugas dan tanggungjawabnya masing-masing. (MW)
Refleksi :
Kita mungkin tidak dapat mengerti “tenda” kita/pertolongan kita sangatlah kecil
tetapi tanpa kita sadari ada banyak orang yang tertolong dengan tenda kecil kita
itu, bersyukurlah !!!.

BAGAIKAN PETANI YANG TEKUN

“Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil
usahanya”
(2 Timotius 2 : 6)

Kita tinggal di Indonesia yang merupakan sebuah Negara agraris. Kehidupan
seorang petani sangat melekat dalam pengetahuan kita karena sebagian besar
rakyat Indonesia hidup dalam bidang pertanian. Seorang petani bekerja dengan
tekun mengolah tanah dan menanaminya dengan bibit tanaman yang terbaik
sehingga pada waktu panen mendatangkan hasil yang baik. Kegigihan seorang
petani sangat dibutuhkan dalam pemeliharaan tanaman supaya mendapatkan hasil
yang baik. Ada satu harapan besar yang terbersit dalam hatinya bahwa suatu hari dia
akan menuai yang terbaik, hasil dari kerja kerasnya membanting tulang dan sabar
menantikan hasilnya. Ia akan membawa berkas-berkasnya dengan penuh sukacita
dan sorak-sorai, karena itu kata Rasul Paulus “Seorang petani haruslah yang pertama
menikmati hasil usahanya.”

 
Demikian halnya ketika kita menjalani kehidupan pekerjaan. Diperlukan ketekunan,
kerja keras serta kesabaran. Oleh karena itu marilah kita belajar untuk bersabar
seperti seorang petani yang dengan tekun menantikan dari hasil tuaiannya. Jangan
biarkan kepahitan hati, kekuatiran, ketakutan, kekecewaan, ketidaksabaran,
keegoisan selalu menguasai hati kita. Berharaplah senantiasa pada pertolongan
Tuhan dalam menghadapi masalah-masalah dan kesukaran yang selalu menghadang
di depan.

 
Ladang telah menguning dan siap untuk dituai, banyak jiwa-jiwa yang sedang hilang
pengharapannya. Bersiaplah menghadapi waktu tuaian Tuhan untuk membawa
jiwa-jiwa ke ladangnya Tuhan. (MW)

 
Refleksi :
Ajarku ya Tuhan untuk bersabar dalam menantikan waktu tuaian besar itu, akupun
percaya jerih lelahku tidak akan berlalu dengan sia-sia di dalam Engkau.

LEBIH BERHARGA

“ Sebab itu janganlah kamu takut karena kamu lebih berharga daripada banyak
burung pipit.”
(Matius 10 : 31)

Hampir setiap pagi hari ketika saya beranjak dari tempat tidur dan membuka
jendela kamar selalu disambut oleh kicauan burung-burung yang sedang
bertengger di pohon-pohon, di antena televisi atau di pagar rumah kita. Kicauan
burung menandakan dimulainya hari yang baru. Sambil bercengkrama dengan teman
yang lainnya, mereka mematuk-matuk makanan yang ada disekitarnya. Nampaknya
mereka sangat bersukacita, walaupun tidak bekerja seperti layaknya manusia,
mereka tetap dapat menikmati berkat bagi mereka masing-masing setiap hari.
Lalu bagaimana kaitannya dengan seekor cacing? Cacing merupakan binatang yang
sangat lemah, tidak memiliki penglihatan. Bergerak hanya berdasarkan penginderaan
saja bahkan tubuh mereka sangat lentur tidak memiliki tulang. Sekalipun demikian
cacing dapat berjalan kemana saja tanpa salah arah. Survey sudah membuktikan
bahwa keberadaan cacing-cacing ini sangat dibutuhkan karena ketika mereka
membongkar tanah maka hasilnya dapat membantu menyuburkan tanah.
Firman Tuhan mengingatkan kepada kita dalam Matius 10:31 untuk tidak perlu takut
dalam menjalani kehidupan ini. Bukankah kita ini lebih berharga daripada burung
pipit di udara. Tuhan sudah menjamin hidup kita termasuk masalah pekerjaan. Jadi
apa lagi yang perlu dikhawatirkan? Pada kenyataannya, manusia yang sering merasa
tidak puas dan kuatir. Kecenderungan tersebut juga dipicu karena himpitan ekonomi
dan sulitnya hidup yang harus dijalani serta ketidakpedulian dari orang-orang di
sekitarnya. Dalam hal berbagi seolah mereka dijadikan kaum yang terpinggirkan. Di
jaman yang serba instan ini manusia seringkali berpikir dengan falsafahnya “KALAU
ENGGAK CEPET MANA BISA DAPET.” Seolah-olah sudah tidak ada lagi tangan Tuhan
yang dapat menolong dan memelihara kehidupan mereka, sehingga kalau perlu,
halalkan segala cara.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita supaya kita tidak menjadi takut, kuatir dan
gelisah dalam menjalani kehidupan ini. Mengapa kita tidak perlu takut kuatir dan
gelisah? Karena kita lebih berharga dari burung pipit. (MW)
Refleksi :
Jika Tuhan saja memelihara burung pipit yang tidak bekerja Apalagi kita sebagai
anakNya sudah barang tentu pasti diberkatiNya berkelimpahan?

PERGILAH KEPADA SEMUT

“ Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikan lakunya dan jadilah bijak;“
(Amsal 6 :6)

Suatu hari di pagi yang cerah bersamaan dengan hari libur saya berkesempatan
untuk memasak makanan di dapur. Tiba-tiba pandangan saya terhenti dan
tertuju pada suatu barisan hitam, ternyata setelah saya amati itu merupakan
barisan semut-semut yang sedang lalu lalang membawa sisa-sisa makanan ke dalam
lumbung mereka. Ada hal yang menarik dari kejadian tersebut, semut tersebut
tidak hanya membawa makanan yang ukurannya lebih kecil dari tubuhnya tetapi
juga yang ukurannya puluhan kali lebih besar pun mereka sanggup membawanya
dengan cara memotongnya menjadi ukuran-ukuran yang lebih kecil lagi. Bahkan
seekor kalajengking berbisa yang biasanya menjadi predator mereka pun tidak luput
menjadi santapan semut-semut.
Perenungan hari ini mengajak kita untuk belajar tentang etos kerja dari seekor
semut; bahwa mereka walaupun tanpa seorang pemimpin dapat melakukan
tugas dan tanggungjawabnya sesuai dengan kapasitasnya tanpa harus diperintahperintah.
Rajin, tekun, dan pantang menyerah serta peduli terhadap teman-teman,
bekerja dan bekerja terus. Tidak ada dalam kamus mereka untuk bersantai ria bila
i tujuan mereka belum tercapai. Firman Tuhan memberikan penekanan kepada
kita bahwa semut tercatat sebagai binatang yang memiliki inisiatif dan integritas
tinggi. Walaupun bukan musim menuai mereka tetap melakukan antisipasi dengan
mencari sumber makanan baru manakala sumber makanan tersebut sudah tidak
dapat mereka temukan lagi. Itulah energi satu-satunya yang dimiliki semut sehingga
membuat mereka tetap bertahan dalam menjalani kehidupannya.
Sama halnya dengan dunia pekerjaan kita. Setiap bidang pekerjaan yang kita lakukan
adalah profesi yang diberikan Tuhan kepada kita. Namun setiap bidang pekerjaan
memiliki persoalan dan tantangannya sendiri. Dari sini kita bisa belajar dari semut
yang rajin, tekun dan pantang menyerah serta peduli terhadap teman-teman mereka.
Manusia adalah satu-satunya ciptaan Tuhan yang mulia serta memiliki akal budi dan
hikmat namun harus banyak belajar tentang etos kerja kepada seekor semut. (MW)
Refleksi :
Jika seekor semut saja sudah membuktikan Integritasnya dalam bekerja, lalu
bagaimana dengan kita selaku anak-anak-Nya?

JADILAH TELADAN

“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah x karena engkau muda. Jadilah
teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu,
dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu z dan dalam kesucianmu”.
( 1 Timotius 4:12 )

Dalam kamus bahasa Indonesia kata teladan berarti seseuatu yang dapat ditiru
atau sesuatu yang dapat dijadikan contoh ( misalnya dalam hal perkataan
dan perbuatan). Dengan kata lain menjadi teladan itu berarti menjadi “roll
model “ yang dapat dijadikan standar atau ukuran terutama berkaitan dengan
karakter. Pertanyaannya, mudahkah menjadi seorang teladan atau roll model itu?
Dalam realitasnya terdapat banyak tantangan dan hambatan yang harus dihadapi
ketika seseorang ingin menjadi teladan. Tantangan dunia modern, adalah ketika
manusia lebih mengandalkan kekuatannya sendiri ( humanism ) dan mengandalkan
kemampuan otaknya ( rasionalisme). Manusia menjadi sangat bersikap subjektif
dan relatif Tidak ada lagi ukuran kebenaran yang sejati; semua menjadi sangat
subjektif dan relatif.
Rasul Paulus menegaskan, “ janganlah seorangpun menganggap engkau rendah
karena engkau muda. Jadilah teladan…”. Paulus ingin menegaskan bahwa pemuda
merupakan tulang punggung bangsa dan masyarakat. Pemjda yang kuat dan
berkarakter merupakan masa depan bangsa. Kepada Timotius Paulus mengajak
supaya Timotius menunjukkan keteladanan sebagai pemuda yang juga pimpinan
jemaat supaya menunjukkan keteladanan melalui perkataan, tingkah-laku, dalam
kasih, dalam kesetiaan, dan dalam kesucian. Menunjukkan keteladanan itu sangat
efektif dalam mendidik dan memberikan pengaruh terhadap orang-orang yang ada di
sekitar kita. Terlebih-lebih saat itu, Timotius dan umat Tuhan sedang diperhadapkan
oleh pengajar-pengajar sesat yang mengajarkan ajaran sesat mereka. Umat dan
masyarakat sangat membutuhkan figur yang bisa dijadikan sebagai teladan. Karena
dengan teladan, roll model, contoh yang ditunjukkan maka nilai kehidupan yang baik
akan semakin terbangun.
Menjadi excellence berarti kita semua dipanggil untuk mewujudkan teladan secara
holistik dalam perkataan, perbuatan, kasih, kesetiaan, dan dalam kesucian. Semoga.
(AE)
Refleksi:
Carilah teladan dari generasi masa lalu, dan jadilah teladan bagi generasi masa
depan.

PRIMA BERARTI HANDAL

“lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnyalah sebuah
batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga
batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke
tanah. Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin 1 itu dengan umban j dan
batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan.” (1 Samuel 17:49-50)

Sesorang membawa sebongkah batu penuh cacat kepada seorang pemahat
terkenal bernama Donatello. Tapi Donatello menolak untuk memahat batu
itu karena terlalu banyak cacatnya. Lalu orang tersebut membawa batu penuh
cacat itu kepada pemahat lain bernama Michaelangelo. Michaelangelopun melihat
batu yang penuh cacat tersebut, tapi ia menerima batu tersebut untuk ia pahat. Ia
berfikir keras bagaimana memahat batu yang penuh cacat ini agar bisa menghasilkan
sebuah karya seni yang baik. Berbulan-bulan ia memikirkan dan mengerjakan
memahat batu itu. Michaelangelo memandang semua itu sebagai sebuah tantangan,
hingga akhirnya batu marmer penuh cacat itu berubah menjadi patung raja Daud
yang sangat indah dan termasyur. Dari kisah ini kita dapat mengatakan bahwa
Michaelangelo tidak saja ahli dalam memahat, tapi ia juga memiliki kehandalan.
Handal berarti pantang menyerah dan berhenti di tengah jalan, tapi mengerjakan
tugas sampai tuntas apapun risikonya.

Daud juga seorang yang memiliki kehandalan. Daud bukan hanya seorang yang ahli
dalam strategi berperang. Sebagaimana Michaelangelo, Daud adalah seorang yang
berani menerima tantangan. Ada banyak pahlawan yang hebat dan mumpuni dalam
strategi perang di Israel ketika itu, tapi tak satu pun yang berani menghadapi seorang
Goliat-pemimpin bangsa Filistin yang bertubuh raksasa. Mereka tidak memiliki
kehandalan karena sudah kalah sebelum berperang. Tapi lain halnya dengan
Daud, dia handal dan tidak menyerah sebelum bertempur Ia berani bertempur
melawan Goliat dengan keahliannya menggunakan umban dan Daud memenangkan
pertempuran melawan Goliat.

Orang yang handal adalah seorang yang bekerja dengan sepenuh hati dan selalu
siap mengerjakan pekerjaan sampai tuntas. Orang yang handal adalah seorang yang
dapat dipercaya dan mampu menjawab kepercayaan yang diberikan kepadanya
dengan baik. Dia mampu mempertanggungjawabkan segala tugas yang diberikan
baik. (AE)

Refleksi:
Handal berarti melalukan tugas sampai tuntas dan berjuang mencapai hasil yang
maksimal.

KEPRIMAAN BERARTI SELALU ADA PENGHARAPAN DALAM KESETIAAN

“Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di
dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan
menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga
dalam kesengsaraan kita , karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan
ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan”.
(Roma 5:2-4)

Kata pengharapan selalu dikaitkan dengan penderitaan. Mengapa? Karena dalam
setiap penderitaan seseorang membutuhkan pengharapan. Tanpa pengharapan
seseorang yang sedang menghadapi penderitaan akan mudah jatuh ke dalam
rasa frustasi dan putus-asa. Seorang nelayan yang terombang –ambing di tengah
lautan karena perahunya terhantam badai, tanpa minum dapat bertahan hanya 2
hari, tanpa makan dapat bertahan dalam beberapa hari. Tapi tanpa pengharapan
ia akan segera melepaskan pegangannya dari sepotong papan di tengah lautan dan
ia akan segera tenggelam dan mati. Ibarat pohon tidak bisa hidup tanpa tanah dan
seperti ikan tidak bisa hidup tanpa air, demikian dengan manusia tidak bisa hidup
tanpa pengharapan.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma memberi nasehat supaya
jemaat senantiasa memelihara pengharapan mereka. Di tengah-tengah penderitaan
dan kesesakan yang mereka alami sebagai akibat dari kepercayaan dan iman mereka
kepada Yesus Kristus, Paulus menasehatkan mereka supaya tetap memiliki iman.
Pengharapan menjadi sebuah kata yang sangat penting bagi orang-orang yang
tengah berada dalam kesesakan. Penderitaan dan kesesakan oleh karena ketidakteguhan menjadikan pengharapan itu hilang dan sirna. Itulah sebabnya dalam surat
Roma rasul Paulus mengkaitkan antara pengharapan dengan pergumulan. Kata yang
dipakai adalah kata iman sebagai jalan masuk kepada kasih karunia untuk menerima
kemuliaan Allah. Jadi dasar yang menguatkan dalam menghadapi pergumulan adalah
bahwa umat akan menerima anugerah kemuliaan Allah. Anugerah untuk menerima
kemuliaan Allah yang mendasari umat memiliki kesetiaan dalam pengharapan.
Anugerah kemuliaan seperti apa yang akan diterima umat? Jawabnya jelas, anugerah
kemulliaan hidup yang kekal.
Berbagai hal yang kita alami dalam hidup ini baik suka-duka, sehat-sakit, berhasilgagal
perlu kita pandang sebagai latihan supaya kita terus bertumbuh dalam
ketekunan dan kesetiaan. Dalam ketekunan dan kesetiaan selalu ada pengharapan.
(AE)
Refleksi:
Latihan selalu diperlukan supaya mencapai hasil yang maksimal, dan pergumulan
hidup adalah latihan bagi kita supaya menjadi semakin dewasa.

PRIMA = MAMPU MENGUASAI DIRI

“ Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk
menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,
dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan
kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara,
dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.”
(2 Petrus 1:5-7)

Penawaran berbagai produk barang dan jasa dapat kita temukan di mana saja,
baik di media elektronik dan media sosial lainnya maupun di tempat-tempat
umum lainnya. Masyarakat diserbu oleh berbagai macam penawaran barang
dan jasa. Karena itu, kita harus mampu menguasai diri supaya tidak jatuh pada
sikap konsumtif dan materialistik. Agar bisa menguasai diri kita harus mampu
membedakan antara keinginan dan manfaat. Seringkali kita terjebak membeli
sesuatu hanya didorong oleh rasa keinginan dengan tidak mempertimbangkan
manfaatnya bagi kita. Demikian juga terhadap hal-hal yang lainnya, tindakan yang
kita lakukan seringkali tidak didasarkan pada azas manfaat tetapi hanya sekedar
keinginan yang dapat berujung pada tindakan-tindakan yang melanggar moral, etik,
dan susila.

Dalam suratnya penulis 2 Petrus menasehatkan pembacanya untuk sungguhsungguh
berusaha mengembangkan iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri,
ketekunan, dan kesalehan dalam kasih terhadap semua orang. Penulis menasehatkan
sebagai komunitas orang beriman sangatlah penting membangun sikap yang mampu
mengendalikan diri agar umat tetap kuat dan berdiri teguh di tengah godaan yang
terus-menerus datang menerpa. Pengendalian diri penting supaya umat tidak
terhanyut oleh arus dunia, tapi terus dimampukan untuk menjadi garam dan terang
atas dunia ini. Penulis Petrus mengingatkan juga bahwa menguasai diri bukan berarti
menghapus dan menghilangkan keinginan dan segala kebutuhan hidup. Kebutuhan
hidup tetap harus dipenuhi, tetapi yang terpenting adalah bagaimana umat mampu
memegang kendali ( baca: mampu menguasai diri ) sehingga terhindar dari bahaya
konsumtif, materialistik, dan hedonisti.

Supaya kita memiliki keprimaan dalam hidup maka hal memiliki sikap penguasaan
diri merupakan syarat pokok yang harus dimiliki. Penguasaan diri akan menjadi
alarm bagi kita yang mengingatkan kita terhadap arah, fokus, dan tujuan hidup kita.
Alarm akan berbunyi saat kita tidak fokus, kehilangan arah, dan menyimpang dari
tujuan. Inilah pentingnya penguasaan diri. (AE)

Refleksi:
Pasanglah alarm penguasaan diri supaya kita tetap fokus pada tujuan.

BEKERJA DENGAN PRIMA

“Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan
kerja paksa” (Amsal 12: 24)

Seorang mahasiswa bernama Nia berhasil mendapat nilai tertinggi dalam ujian
akhir semester pada bulan Agustus 2014. Suatu prestasi yang baik diantara
teman teman seangkatannya. Teman Nia, mahasiswa yang paling pintar yang
selalu mendapat nilai tertinggi setiap kali ujian, harus menerima kenyataan bahwa
untuk ujian kali ini, nilainya jauh dibawah nilai Nia. Ternyata menjelang ujian akhir
semester tersebut, Nia rajin belajar, membaca semua bahan kuliah yang telah
diberikan oleh dosennya, sedangkan teman teman yang lainnya hanya sibuk dengan
keluhan-keluhan dan protes karena bahan ujian yang begitu banyak.
Keberhasilan dan kesuksesan hanya bisa dicapai ketika kita mau bekerja keras dan
bertindak prima. Melakukan sesuatu dengan baik dan benar. Setiap orang pasti
memiliki keinginan untuk meraih keberhasilan dan kesuksesan. Seringkali untuk
meraihnya harus menghadapi bermacam-macam tantangan baik dari dalam diri
sendiri maupun dari luar diri kita. Dan tidak mudah untuk mengatasi kendala ini.
Namun jika kita mengimani bahwa Tuhan akan selalu menolong kita, percayalah
keberhasilan ada ditangan kita, asal kita mau bekerja dan bertindak prima.
Tahun 2015 ini Universitas Kristen Maranatha genap berusia 50 tahun. Diawali dengan
sekelompok kecil mahasiswa dengan sarana yang sangat terbatas, menumpang
dibeberapa tempat dengan tempaan berbagai hambatan. Namun karunia dan
perbuatan tangan Tuhan Allah diwujudkan melalui para pendiri, cendekiawan Kristen
dan tokoh-tokoh Gereja -GKI dan GKP-, Universitas Kristen Maranatha berkembang
menjadi seperti sekarang ini.
Keberhasilan ini tidak luput dari hasil kerja prima dari mahasiswa, karyawan, dosen,
pejabat struktural dan yayasan. Saatnya kita bekerja lebih baik lagi di lingkungannya
masing-masing. Apapun status kita, sekecil apapun talenta yang kita miliki akan
sangat berguna dalam pelayanan kita untuk membangun UK. Maranatha ke arah
yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Saatnya kita mengambil keputusan
untuk meninggalkan segala kemalasan dan mulai bekerja keras.
Mari kita berkarya untuk Maranatha dengan mengingat nasihat Amsal di atas
sehingga semua pekerjaan dilakukan dengan segenap hati dan dengan tindakan
yang prima dilingkup kerja masing masing. (HK)

Refleksi :
Membiasakan diri dengan bertindak prima.

BERKARYA SAMPAI MARANATHA

“Sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya:”Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu, Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”
(Lukas 10:40-42)

Mungkin Sebagian orang menganggap botol-botol bekas adalah sampah
yang tidak berguna. Namun bagi Ratna Miranti botol bekas adalah barang
yang sangat berarti. Ratna mengawali karirnya sejak tahun 2009. Bisnisnya
dimulai dari sebuah kesalahan. Ia sebelumnya berprofesi sebagai perajin
batik. Ratna dulunya suka membatik. Tapi batik makin kesini makin banyak dan
persaingan makin ketat. “Akhirnya saya vakum 2 tahun karena mengurus anak,” tutur
Ratna. Ratna memutuskan untuk memulai usahanya lagi. Namun, pada saat ingin
membeli bahan baku cat untuk batik, ia malah membeli cat untuk kaca. Ia pun isengiseng,
mencoba melukis di atas kaca. “Saya salah beli, Malah beli untuk cat kaca. Tapi
saya coba untuk buat di botol, di gelas. Ternyata temen-temen suka,” tutur Ratna.
Barulah pada tahun 2010, genap setelah usahanya berusia 1 tahun, dia mendapat
kesempatan untuk mengikuti pameran Inacraft di Jakarta. Disitulah kesempatan besar
bagi Ratna untuk memperkenalkan produknya. Untuk mengembangkan usahanya
itu dia mendapatkan suntikan modal dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM)
melalui programnya yaitu Unit Layanan Mikro Madani sebesar Rp 50 juta. Sampai
saat ini, omzet yang didapat Ratna dengan produknya yang dinamai ‘Meerakatja’ ini
mencapai Rp 30 juta/bulan. Ratna adalah contoh seorang yang meraih keberhasilan
karena ia fokus pada pekerjaan yang dilakukannya.
Dalam banyak kotbah dari nats di atas sering disebutkan pilihan Maria yang duduk
dekat kaki Yesus sebagai pilihan yang lebih benar daripada pilihan Marta. Sebenarnya
pilihan Marta tidak keliru, malah dalam tradisi Yahudi melayani dan menyambut
tamu dengan baik sama dengan menyambut Tuhan. Hanya yang menjadi persoalan
Marta tidak fokus pada pilihannya. Marta terlalu merepotkan diri dengan urusan
orang lain sehingga ia tidak melakukan yang terbaik atas pilihan yang diambilnya.
Dalam berkarya atau bekerja seringkali kita memaksakan pilihan kita terhadap orang
lain dan merasa pekerjaan kita yang paling benar. Berkarya sampai Maranatha
berarti bekerja yang menghadirkan Tuhan sehingga dalam bekerja kita fokus dan
maksimal. (AE)
Refleksi:
Fokus akan membawa seseorang tiba pada tujuan yang diinginkan