EXCELLENT IN GIVING:GIVE AND RECEIVE

“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu
senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam
pelbagai kebajikan.”
(2 Korintus 9:8)
Ada dua jenis orang dalam hal memberi: orang yang memberi bukan dengan
kasih, dan yang memberi dengan kasih. Orang yang memberi bukan dengan
kasih biasanya ditemui ketika ada seorang peminta-minta, lalu orang itu
memberi dengan cepat tanpa pikir panjang dengan maksud “saya kasih tapi jangan
ganggu saya.” Sedangkan tipe yang kedua adalah ketika ia dimintai uang, ia akan
berpikir dan merasakan bagaimana jika dirinya adalah peminta-minta itu, lalu ia
akan bertanya kepada peminta-minta itu: ”Apakah kamu sudah makan?”. Dan kalau
didapati peminta-minta itu belum makan, ia akan meluangkan waktu untuk membeli
makanan bahkan mengobrol dengannya.
Mungkin Saudara sering mendengar: “Alangkah lebih baik memberi daripada
menerima”. Firman Tuhan berkata: “Berbahagialah orang yang murah hatinya,
karena mereka akan beroleh kemurahan” (Matius 5:7). Persoalannya, seringkali kita
memberi tapi tidak dengan sikap hati yang benar sesuai dengan firman-Nya. Padahal
dalam hal memberi, Allah melihat hati, bukan melihat besarnya uang atau hal yang
kita berikan.
Bahan bacaan pada hari ini mengingatkan kita, bahwa dalam memberi janganlah kita
ingin dilihat orang, ingin pujian dari orang, apalagi menuntut balas. Bahkan Tuhan
sendiri mengatakan hal ini sebagai sesuatu yang munafik.
Dalam hal memberi, sikap hati kita pun harus sempurna. Allah yang melihat hati
manusia. Dia tahu kedalaman hati kita, apa motivasi kita ketika kita memberi.
Apakah kita memberi karena ketulusan? Karena ingin dilihat orang? Ingin pujian?
Bahkan memberi supaya menerima balasan?  Sebagaimana kisah seorang janda
miskin yang mempersembahkan seluruh nafkahnya yaitu sebesar dua peser uang,
demikian pula kita dalam hal memberi. Hendaknya kita memberi dengan sukacita
dan dengan sikap hati yang benar. Karena tidak ada yang tersembunyi bagi Allah
Bapa di Sorga. Ketika kita memberi dengan hati yang benar, maka Bapa di sorga pun
akan melimpahkan kasih karunia-Nya kepada kita. Bahkan janji-Nya jelas, yaitu: kita
akan diberikan kecukupan dalam segala sesuatu dan malah berkelimpahan dalam
pelbagai kebajikan. Maukah Saudara memberi dengan sikap hati yang benar? (AV)
Refleksi :
Memberi itu masalah sikap hati. Memberi dengan sukacita akan mendatangkan
hidup yang berkelimpahan.

EXCELLENT IN FORGIVENESS: UNLIMITED FORGIVENESS

“Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila
kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu
dengan segenap hatimu.”
(Matius 18:35)
S
eorang sahabat bercerita kepada saya bagaimana kehidupan keluarganya. Dia
datang dari keluarga broken home. Ayahnya adalah seorang pemabuk dan suka
main perempuan. Sahabat saya itu berkata bahwa dia mengalami kepahitan
akibat perbuatan ayahnya sehingga ia sangat sulit mengampuni ayahnya. Namun
ia juga bercerita bagaimana ibunya tetap mengasihi ayahnya meskipun ayahnya
kerap menyakiti hati ibunya. Bahkan sampai ayahnya meninggal, ibunya tetap
mendampingi dan merawatnya dengan kasih. Sahabat saya belajar bagaimana
ibunya menjadi saksi “kasih” yang luar biasa, sehingga pada akhirnya sahabat saya
pun mampu mengampuni ayahnya. Setiap orang pernah mengalami sakit hati akibat
perbuatan, tingkah laku, atau perkataan orang lain. Apalagi jika yang menyakiti hati
kita adalah orang-orang yang dekat dan kenal betul dengan kita. Tentu hal itu akan
membuat kita kecewa. Namun, jika kekecewaan itu dipelihara dan tidak diselesaikan
maka akan menimbulkan akar pahit. Akar pahit inilah yang membuat hidup kita tidak
memiliki damai sejahtera.
Kita perlu menyadari bahwa manusia berada dalam natur dosa. Akibatnya, manusia
selalu bertendensi melakukan dosa terhadap Allah dan menyakiti hati sesama. Tapi
kita perlu ingat, bahwa kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar (1 Korintus
6:20). Jadi kita bukan milik kita lagi, tetapi milik Allah. Oleh karena Allah sendiri telah
mengampuni kita karena karya pengorbanan yang sempurna yaitu Yesus yang tidak
berdosa di kayu salib, maka kita sebagai anak Allah pun harus dapat mengampuni
orang lain. Pengampunan merupakan bagian dari kasih. Firman Allah berkata: “kasih
itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal
Allah” (1 Yohanes 4:7-8).
Bacaan Alkitab hari ini mengingatkan bahwa mengampuni adalah hal yang harus
selalu dapat kita lakukan secara tak terbatas (unlimited). Tidak perlu mengingat
kesalahan orang lain, tidak perlu mengingat siapa yang melakukan kesalahan
kepada kita, tapi ingatlah bahwa Tuhan lebih dulu mengampuni kita. Jadi kita pun
harus mampu mengampuni orang lain. Dengan demikian Bapa di sorga yang akan
memuliakan engkau. (AV)
Refleksi :
Ampuni karena Bapa terlebih dulu mengampuni

EXCELLENT IN SPEAKING

“Dengan  lidah  kita  memuji  Tuhan,  Bapa  kita;  dan  dengan  lidah  kita  mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah” (Yakobus 3:9)

Mulutmu harimaumu. Pasti kita sudah pernah mendengarkan pepatah ini.
Dalam kalimat tersebut tersirat arti bahwa jika salah berucap maka hal yang telah terucapkan itu akan menjadi bumerang bagi yang mengucapkannya. Jauh sebelum pepatah ini ada, Alkitab telah mencatat bahwa lidah adalah api (Yakobus 3:6). Bahkan di ayat ke-8 dikatakan bahwa lidah itu buas, tidak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan sehingga tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah. Lidah itu kecil (ayat 5) tapi sanggup membuat perkara besar yang dapat menentukan nasib manusia (ayat 4).

Di dalam perkataan ada berkat dan juga kutuk. Raja Salomo mengatakan dalam kitab Amsal 18:21,  “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya akan memakan buahnya.” Begitu kerasnya Firman ini dalam mengingatkan kita akan “bahaya” jika menggunakan lidah dengan semena-semena.

Sebagai seorang yang mengaku Kristen, kita harus berhati-hati dalam berbicara dan berucap kepada orang lain. Ucapan yang salah (termasuk berbohong, bergosip) tentu akan menyinggung perasaan dan akhirnya menyakiti hati orang lain. Banyak orang-orang yang menderita sengsara karena “lidah”.  Verbal abuse merupakan tindakan yang menyiksa dan menyakiti dengan kata-kata. Hal ini termasuk juga perkataan fitnah, kata-kata merendahkan. Verbal abuse bisa terjadi di mana-mana dan pelakunya bisa siapa saja, bahkan orang yang terpelajar sekalipun. Contoh daripada  verbal abuse: “Kamu tidak berguna!”, “Kamu bodoh!”, “Dia itu payah!”, “Seleranya rendah!”, dll. Kata-kata seperti  ini sebetulnya hanya menggambarkan satu sikap hati, yaitu “kesombongan” dan dalam hal ini jelas Allah membencinya (1 Petrus 5:5).

Jika saat ini kita masih tidak bisa mengendalikan lidah kita, bertobatlah dan mintalah pertolongan Roh Kudus. Hanya karena pertolongan Tuhan saja kita mampu
mengendalikan lidah kita sehingga perkataan kita menjadi berkat bagi orang lain dan bukan menjadi kutuk. Ingat, bahwa saat kita sedang dicobai untuk mengatakan sesuatu yang tidak benar tentang orang lain, atau justru memperkatakan kesombongan, kita harus cepat meminta tolong kepada Roh Kudus supaya kita tidak jatuh dalam dosa sehingga lewat mulut kita, kita memuliakan nama-Nya.(AV)
Refleksi :
Jadilah orang yang sempurna dalam perkataan, sehingga nama-Nya
dipermuliakan.

BANGUN PEMUDI PEMUDA

Hiasan orang muda ialah kekuatannya (Amsal 20:29a)

Pak Siman, begitu ia bisa dipanggil. Namanya terukir sebagai pencipta lagu nasional  ‘Bangun Pemudi Pemuda’. Judul lagu itu tampaknya selalu menjadi obsesi pria Batak ini. Hal itu setidaknya tercermin dari makalahnya yang berjudul ‘Membangun Manusia Pembangunan’, saat menerima gelar Doctor Honoris Causa atas pengabdiannya selama 60 tahun di bidang pendidikan dari Saint John University, 10 Februari 2001 lalu di Jakarta.

Saat menulis lagu  ‘Bangun Pemuda-Pemudi’  di tahun 1943,  ia baru berusia 23 tahun dan bekerja sebagai guru Sekolah Rakyat Sempurna Indonesia di Semarang. Sebuah sekolah dengan dasar jiwa patriotisme yang didirikan oleh sejumlah tokoh nasionalis seperti Dr. Bahder Djohan, Mr. Wongsonegoro, dan Parada Harahap. Obsesi kemerdekaan negeri dan membangun pemuda-pemudi Indonesia itu terus memenuhi benaknya hingga suatu kali saat ia sedang mandi, ia terinspirasi menulis syair lagu itu.
 
Lagu  ‘Bangun Pemudi Pemuda’  itu digubahnya dalam suasana batin seorang anak muda yang gundah di negeri yang sedang terjajah. “Rasa ingin merdeka kuat sekali di kalangan anak muda saat itu. Kalau ketemu kawan, kami saling berucap salam merdeka!” tuturnya di rumahnya di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan. Bahkan menurut pengakuannya, lagu tersebut nyaris mengancam jiwanya. Lantaran lagu yang dinilai sangat patriotik itu, namanya masuk daftar orang yang dicari Kempetai, polisi militer Jepang. Hingga saat ini, lagu itu masih tetap dikumandangkan pada upacara kenegaraan  termasuk perayaan Kemerdekaan RI 17 Agustus, Peringatan Sumpah Pemuda, Hari Kebangkitan Nasional dan sebagainya .  Bahkan Grup Band Cokelat pada album Untukmu Indonesia-ku juga merilis lagu itu.

Amsa 20 : 29 a menyatakan bahwa kepemudaan identik dengan semangat dan kekuatannya. Jika seorang pemuda tidak memiliki semangat ia tidak layak disebut pemuda. Sebaliknya seseorang yang usianya tidak muda lagi tapi masih tetap bersemangat untuk berkarya bagi bangsa dan negaranya, ia masih pantas disebut pemuda ( bdk Kaleb pada waktu memasuki Tanah Perjanjian berusia 85 tahun dan ia masih disebut pemuda). (IH)
 
Refleksi :
Usia bertambah tua, itu pasti tapi memiliki semangat muda itu pilihan

APA YANG BAIK?

Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki. “ (Matius 26:39)

Memahami apa yang baik itu agak rumit jika mesti disimpulkan menuju satu jawaban bukan? Apa yang baik bagi setiap orang berbeda-beda. Kadang apa yang baik bagi orang yang satu, buruk bagi yang lain. Ada seorang debater yang pandai menjebak dengan sebuah pertanyaan. Pertama ia mengajukan pertanyaan definisi, “baik itu apa?” Kemudian saya menjawab: “banyak maknanya. Minimal aman.” Dia bertanya lagi: “Aman bagi siapa?” Saya menjawab: “Aman bagi semua.” Lalu dia bertanya lagi: “Apakah aman bagi seekor harimau, aman juga bagi rusa yang dimangsanya?” Rumit bukan untuk menjawabnya?

Dalam nats di atas mengisahkan bagaimana Tuhan Yesus diperhadapkan pada sebuah kondisi, di mana Ia harus melewati penderitaan yang ditunjukkan Bapa kepada diriNya. Ia memohon sekiranya hal itu tidak terjadi pada diriNya. Jika ada seorang konselor pada saat itu, mungkin mereka akan memberikan nasehat supaya Yesus menghindarinya, atau jika ada psikolog akan menyatakan sang Rabbi sedang mengalami delusi, atau paling tidak di jamannya sudah ada muridNya sendiri yang mengangkat pedang membelaNya. Namun Yesus nyatanya memiliki ketetapan untuk berjalan menurut kehendak Allah Bapa.

Artinya, sebenarnya ada banyak hal dalam kehidupan ini, apa yang baik itu sudah ada di dalam diri kita, dan hanya kita sendiri yang tahu tentang apa yang baik, yang membuat kehidupan kita menjadi bermakna. Bisa jadi apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran orang-orang yang ada di sekeliling kita atau yang paling dekat dengan kita. Bahkan ketika apa yang kita yakini tersebut nampaknya konyol, dan kelihatan kurang bergengsi atau tidak berharga. Namun pada akhirnya adalah kita sendiri yang memutuskan apa yang terbaik dalam kehidupan kita, dan yang terbaik itulah yang akan membuat kehidupan yang kita jalani ini berarti. (AT)

Refleksi:
Sudahkah Anda menemukan kehendak Bapa sebagai jalan terbaik yang harus engkau tempuh?

MENCIPTAKAN YANG BAIK

Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. (Kejadian 1:9-10)
Di sebuah forum diskusi, seseorang mengajukan sebuah pertanyaan yang menarik: “Mana yang lebih penting, menjadi baik atau menjadi benar?” Saya tertarik dengan sebuah respon jawaban yang diajukan oleh salah satu peserta lainnya: “menjadi baik itu untuk sebuah karya pak, menjadi benar itu ketika menjalankan perintah agama.” Pikiran saya langsung terkait pada kisah Penciptaan Allah atas alam semesta ini. Sungguh kedahsyatan alam semesta di luar batas kemampuan pikiran manusia untuk mencernanya, dan bahkan sainspun terus meraba-raba untuk membuka satu demi satu kotak Pandora, menyingkap kemahabesaran Tuhan pencipta semesta alam.

Dalam bahasa asli kata yang digunakan menjelaskan kata baik adalah  towb,  yang perluasan makna katanya bisa indah, menyenangkan, sesuatu yang disepakati. Jadi jika kita ingin tahu bagaimana dunia ini awal diciptakannya di mata Allah? Maka dunia ini adalah tempat yang baik, indah, menyenangkan, seperti yang digambarkan dalam keindahan di Taman Firdaus. Sisi lain yang bisa kita pelajari adalah bahwa Allah menciptakan sesuatu bukan asal-asalan, sehingga kita sebagai ciptaan Allah yang memiliki gambar Allah (Imago Dei), seharusnya mengikuti teladan Allah dalam penciptaan ketika kita berkarya menghasilkan sesuatu dalam kehidupan kita.

Namun, yang seringkali terjadi adalah kita tidak menyediakan waktu yang cukup untuk bekerja secara serius menghasilkan hasil pekerjaan yang prima. Mungkin ada banyak alasan mengapa kita tidak bisa mencapai hasil terbaik dalam pekerjaan kita, namun menghasilkan pekerjaan yang kurang baik, dampaknya juga akan kembali kepada diri kita. Reputasi kita menjadi buruk. Itulah sebabnya kita harus meneladani Allah dalam penciptaan, artinya kita berusaha untuk menghasilkan karya-karya terbaik melalui kehidupan yang kita miliki. (AT)

Refleksi:
Sudahkah anda menghasilkan karya yang top dalam kehidupan dan karier Anda?

KERJA KERAS DAN CERDAS

“Janganlah terlalu fasik, janganlah bodoh! Mengapa engkau mau mati sebelum waktumu?” (Pengkhotbah 7:17)

Frederick Taylor merupakan seseorang yang memperhatikan pekerja di suatu tambang batu bara. Ia melihat pekerja itu menyekop batu bara dengan sekop berukuran besar dan terlihat para pekerja begitu kelelahan. Perhatikanlah : pekerja tambang bekerja keras dengan sekop berukuran besar. Setelah Frederick Taylor melakukan penelitian, ternyata ukuran sekop tersebut terlalu besar sehingga tidak ergonomis bagi pekerja di tambang batu bara untuk menggunakannya. Ingat : kerja keras tetapi tidak kerja cerdas tidak selalu produktif! Setelah penelitian selesai, maka ia berhasil menentukan ukuran sekop ideal bagi para pekerja di tambang batu bara tersebut. Hasilnya : kelelahan berkurang, produktivitas bertambah.

Orang bekerja keras itu memiliki kemungkinan besar memang sukses, tapi lelah. Jadi perlu bekerja keras dengan porsi yang semestinya, tapi terutama kita perlu bekerja dengan cerdas. Tidak ada ’kan yang mau disebut bodoh? Bahkan akibatnya adalah mati sebelum waktunya. Mati sebelum waktunya juga mengandung 2 arti yakni : (1) Karena bekerja terlalu keras hingga tidak menghiraukan istirahat hingga akhirnya bermacam-macam penyakit hinggap dan akhirnya mati lebih cepat. (2) Tidak Produktif. Orang bekerja keras itu mungkin lelah tapi tidak produktif.

Selain itu, Kerja Keras dan Cerdas juga meliputi ”Sinergi”. Kemampuan bekerja sama sebagai Tim dan kesatuan. Sama seperti pada hari ini, sebagai peringatan Hari Ulang Tahun PGI, yang mengingatkan orang percaya di Indonesia mengenai Sinergi dan Kesatuan. Mengapa penting? Karena dengan kesatuan dan sinergi ”… tidak ada yang tidak dapat terlaksana”  (Kejadian 11:6c)

Kita perlu menggunakan segala pengetahuan, pengalaman, dan keahlian untuk usaha dan bekerja. Tanpa itu relatif sulit bagi kita untuk sukses. Pengeahuan dan keahlian merupakan aspek natural. Tetapi diatas aspek natural adalah aspek ”supra” yakni menyerahkan hidup kepada Tuhan. Ya, kerja keras dibantu kerja cerdas, baik yang melibatkan aspek ”natural” maupun aspek ”supra” inilah kunci sukses yang penuh hikmat. (AL)

Refleksi :
Siap untuk sukses? Bekerjalah dengan keras dan cerdas!

KESUKARAN DAN LANGKAH MAJU

“Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu”
(Amsal 24:10)

Sebuah kata bijak menyebutkan ”Tidak ada Kemuliaan Tanpa Penderitaan”. Maksudnya adalah kesukaran dapat membuat kita mampu berinovasi demi sebuah kemajuan. Jika kita mengingat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB, bahasa inggris : United Nations, disingkat UN merupakan sebuah organisasi internasional yang didirikan pada tanggal 24 Oktober 1945 untuk mendorong kerjasama internasional didirikan setelah Perang Dunia II untuk mencegah terjadinya konflik serupa. Lihat’kan? Inovasi ini muncul setelah dunia mengalami kesukarann besar dengan peperangan. Begitu juga dengan Dokter (dari bahasa latin yang berarti “guru”) merupakan seseorang yang karena keilmuannya berusaha menyembuhkan orang-orang yang sakit. Tidak semua orang yang menyembuhkan penyakit bisa disebut dokter. Untuk menjadi dokter biasanya diperlukan pendidikan dan pelatihan khusus yang panjang dan berat barulah mempunyai gelar dalam bidang kedokteran.

Negeri Belanda telah membuktikan bahwa kesukaran menghasilkan inovasi. Jika ditanya, ”apa yang anda ketahui tentang inovasi dari Belanda?” Jawabannya hanya satu : ”Kincir Angin dan Bendungan.” Mengapa inovasi ini muncul? Karena Belanda merupakan sebuah negara dengan banjir/air bah sebagai masalah utama. Negeri Belanda berhasil mengubah air sebagai sumber bencana menjadi sumber pangan, kehidupan dan pariwisata.

Penulis Amsal menasihatkan orang percaya bahwa kesesakan, tantangan dan masalah dalam hidup dan pekerjaan jangan dijadikan sebagai alasan untuk galau dan patah semangat. Tetapi jadikanlah itu sebagai proses pendidikan untuk meningkatkan ketrampilan kita dalam menghadapi kehidupan.  CareerBuilding mencatat bahwa kemampuan mengolah masalah  atau manajemen problem merupakan salah satu keterampilan yang diharapkan dimiliki oleh seorang karyawan profesional pada abad
21. Mau tampil prima dalam hidup? Ubah masalah menjadi terobosan. (AL)

Refleksi :
Sedang mengalami kesukaran? Jangan Galau! Kesukaran adalah Pintu Masuk kepada Inovasi dan Kemajuan.

FOKUS…FOKUS….FOKUS

“Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka” (Amsal 4:25)

Dalam sebuah perlombaan lari marathon, ada seorang atlet asal Tanzania yang megalami cidera otot sehingga dokter menyuruhnya untuk tidak meneruskan pertandingan, tetapi atlet itu tetap saja terus berlari dengan menahan rasa sakit. Atlet itu tidak menang, bahkan saat tiba di stadion, semua orang siap-siap untuk pulang. Ketika wartawan melihatnya tiba di garis finish, wartawan itu  bertanya mengapa ia tetap berlari walau tahu bahwa ia telah kalah bahkan harus menahan rasa sakit sepanjang perjalanan. Sang Atlet pun berkata kepada sang wartawan : ”Aku diutus negaraku bukan hanya untuk memulai pertandingan tetapi juga untuk mengakhirinya.” Mengapa ia tetap berlari? Karena ia fokus pada tugasnya yakni Mengakhiri Pertandingan dan Mencapai Garis Finish.

Kehilangan fokus  hampir bisa dipastikan pernah dialami setiap orang. Di tengah kita sedang mengerjakan sesuatu, kita tergoda untuk mengerjakan atau memikirkan hal yang lain. Saat bekerja dikantor ada saja gangguan yang bisa membuyarkan fokus kerja kita, bahkan saat kita tengah berusaha untuk sungguh-sungguh melakukan kehendak Tuhan, ada saja hal yang bisa membuyarkan fokus kita, sehingga akhirnya seluruh proyek dan pekerjaan kita terbengkalai dan tidak dapat diselesaikan dengan baik.

Bila kita ingin tetap fokus, seringkali diperlukan keberanian dan tekad yang teguh untuk berani berkata ”tidak” kepada hal-hal yang bisa membuyarkan fokus kita. Apa yang menghalangi fokus kita hari-hari ini? Ambillah keputusan yang tegas untuk segera mematikannnya dan menyingkirkan! Singkirkan  dan matikanlah hal-hal yang membuyarkan fokus anda. (AL)

Refleksi :
Fokus adalah jalan utama untuk menghasilkan kinerja yang prima dalam hidup setiap hari.

EMAS ATAU RUMPUT?

“Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami” (1 Korintus 3:12)

Seorang pengusaha property sedang mengalami kesulitan finansial dan sulit untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Temannya yang kaya mendengar tentang kesulitan itu, memberinya sejumlah uang dan mengatakan, „Saya ingin anda membangun rumah untuk saya. Saya sangat sibuk dan tidak akan sempat memeriksa kemajuan pembangunan yang saya percayakan padamu. Di tanah inilah anda akan membangun.” Sang kontraktor sangat gembira. Ia kemudian berpikir bagaimana mendapatkan keuntungan tambahan dengan memotong beberapa sudut dan menggunakan bahan bangunan yang lebih murah serta tidak mudah diperiksa. Setelah rumah itu selesai, temannya yang kaya datang melihat. Temannya terkesan dan sangat senang dengan hasil kerjanya. Dia kemudian mengatakan kepada sang kontraktor, “Saya tidak perlu rumah ini. Saya melakukan ini untuk membantu Anda. Saya sudah memiliki sebuah rumah yang indah. Saya akan memberikan rumah ini kepada anda!” Mendengar hal ini, sang kontraktor hampir pingsan! Ia berpikir, ”Oh, betapa bodohnya saya! Jika saya tahu, aku tidak akan menipunya dan justru akan menggunakan bahan terbaik dan membangun sebuah rumah yang lebih baik.” 
Keprimaan seseorang dalam bekerja diukur dari kualitas hidupnya. Hal itu sangat jelas diungkapkan oleh Paulus saat ia membandingkan emas, perak, batu permata dengan kayu,, rumput kering dan jerami. Kualitas itu dibuktikan dengan ujian. Siapa yang tahan uji akan memperoleh reward yang pantas. Setidaknya ada 3 komponen uji kualitas kerja seseeorang : (1) Motivasi Harus Benar. Motivasi utama seseorang haruslah mengisi hidup dengan keprimaan karena Tuhan telah memberikan segala sesuatu dengan prima. (2) Cara Kerja Harus Benar. (3) Hasilnya harus terbaik. Berat bukan?

Justru karena berat itulah maka tidak ada alasan bagi setiap orang percaya untuk main-main dengan hidup dan profesinya. Mau kualitas emas atau rumput? Pilihan ditangan kita. (AL)
Refleksi :
Semakin sulit pekerjaannya, semakin besar keberhasilannya (Thomas Paine).