2x LIPAT

“Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” (1 Korintus 15:10 )

Coba Gooding, Jr adalah aktor yang terkenal memiliki karakter yang sangat kuat. Keluarganya pindah ke Los Angeles saat ia berusia 4 tahun, bahkan di kota inilah grup band ayahnya mendulang sukses besar yang berujung pada larinya sang ayah dari rumah. Sejak itu, ia berusaha mengasah kemampuannya dibidang break dance dan ekstrakulikuler cross country. Mulai dari audisi kecil ia tekuni hingga akhirnya dapat tampil dalam acara-acara besar bahkan berhasil menjadi aktor terkemuka di Hollywood. Baginya bekerja lebih keras takkan pernah sia-sia.

Kepada jemaat di Korintus, Paulus dengan berani menyatakan bahwa ia telah ”bekerja lebih keras dari mereka semua. Paulus berani mengungkapkan hal demikian karena (1) Ia menghadapi tantangan berat dalam pelayanannya; (2) Luasnya jangkauan pelayanan yang berhasil ia lakukan : 3x mengelilingi wilayah Kekaisaran Romawi ditambah 1x perjalanan panjang ke Kota Roma. Tapi melebihi alasan apapun juga, Paulus berani bekerja 2x lipat dari rasul yang lain karena ia telah menerima anugerah Allah dengan cuma-cuma. Pemberian cuma-cuma itu dibalas dengan dedikasi hidup yang maksimal dari hidupnya.

Bagi orang percaya, bekerja lebih keras, lebih berkualitas dan lebih produktif adalah keharusan. Dasarnya hanya satu, karena kasih karunia Allah yang berkenan membuat hidupnya excellent. Lagi pula, Tuhan adalah Pribadi yang enggan menerima sesuatu yang biasa-biasa saja. Ia hanya mau menerima persembahan hidup yang terbaik, suatu hasil terbaik, sesuatu yang dikerjakan dengan kualitas terbaik, termasuk didalamnya pekerjaan dan profesi kita. Jika saja setiap orang percaya sadar akan prinsip ini, maka ia tidak akan main-main dan menganggap remeh setiap pekerjaan
sekecil apapun itu. Bekerjalah dengan kualitas 2x lipat dari orang lain, karena kesadaran bahwa Allah hanya layak menerima yang terbaik. (AL)

Refleksi :
Jika Allah telah memberikan yang terbaik bagi hidup kita, layakkah kita menjalani hidup dan profesi kita dengan biasa-biasa saja?

LAKUKANLAH UNTUK TUHAN

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)

Seorang Ilmuwan yang bernama Blaise Pascal pernah menulis “Lakukanlah hal-hal kecil seolah-olah itu adalah hal-hal besar karena keagungan Tuhan Yesus Kristus, yang tinggal di dalam diri Anda; dan melakukan hal-hal besar seolah-olah itu adalah hal-hal kecil dan mudah, karena kemahakuasaan-Nya.” Sebuah pernyataan menunjukkan betapa besar Tuhan Yesus yang diimani oleh pengikutNya.

Tidak ada hal yang bisa menjadi penghalang untuk pengikut berkarya bagi kemuliaan Tuhan.Ayat di atas dengan jelas mengatakan apapun yang kita kerjakan adalah lakukan untuk Tuhan. Motivasi dasar dalam setiap tindakan dan pekerjaan adalah untuk Tuhan. Alasan ini mengambarkan bahwa Tuhan yang memiliki dan mengatur kehidupan ini. Tidak ada alasan untuk tidak serius dalam melakukan bagian yang Tuhan percayakan. Nasihat Paulus kepada orang Kristen yaitu untuk menganggap semua pekerjaan sebagai suatu pelayanan kepada Tuhan. Tidak ada pekerjaan yang remeh dan tidak berarti di hadapan Tuhan. Kita harus bekerja seolah-olah Kristus adalah majikan dan kita bekerja dengan pengabdian yang tulus. Apa yang kita
lakukan sebagai wujud syukur kepada Tuhan bukan karena rasa takut dalam dirinya. Bukan hanya bekerja untuk menyenangkan majikan karena ada yang mengatur dan mengawasi tetapi melakukan dengan ketulusan hati.

Sikap bahwa Kristus sebagai tuan atau majikan akan menolong setiap warga UK. Maranatha melakukan tugas dan tanggung jawab dengan baik. Upah sudah menjadi bagian bagi yang melakukan pekerjaan dan Tuhan sudah m. Tuhan yang akan menghakimi dengan adil dan jujur. Lakukan bagian kita dengan sungguh-sungguh  maka hidup karya kita menjadi berkat bagi siapapun. (RZA)

Refleksi:

Tidak ada yang sia-sia apapun yang kita lakukan di mata Tuhan.
Selasa, 20 Oktober 2015

TAAT KEPADA TUHAN

Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka: “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. (Kisah Para Rasul 4:19)

Taat merupakan karakter yang sangat didambakan para orang tua untuk anak-anaknya. Menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi setiap orang tua ketika anak-anaknya mulai terbawa arus dengan teman atau lingkungannya. Dalam keluarga saya, anak-anak mulai besar dan sudah bisa memberi argumentasi kepada kami sebagai orang tua. Terkadang kami harus mengajar dan melatih anak-anak kami dengan tegas bagaimana menjadi taat tanpa harus diperdebatkan.

Suatu hari murid-murid Yesus didatangi oleh imam-iman dan kepala pengawal Bait Allah, mereka ditangkap dan diserahkan ke dalam tahanan. Ketika diadakan sidang oleh pemimpin Yahudi dan tua-tua serta ahli Taurat, Petrus dan Yohanes diperiksa dengan beberapa pertanyaan yang mengarah untuk tidak memberitakan Yesus Kristus. Mereka dengan berani bersikap dan berkata: Taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebuah pernyataan iman yang diungkapkan secara tegas bahwa mereka lebih memilih untuk taat dan tunduk kepada Tuhan dibandingkan dengan manusia sekalipun memiliki jabatan tinggi. Sebagai seorang rasul Petrus dan Yohanes memberikan contoh keberanian dan ketegasan dalam menyatakan iman mereka.

Murid Kristus berarti murid yang mau meneladani dan menaati apa yang diperintahkan Tuhan dalam hidupnya. Dalam realita hidup ada banyak hal yang terkadang membutuhkan keberanian dan ketegasan dalam bersikap. Tidak ada kompromi dengan dosa atau hal yang tidak dikehendaki Allah. Hal ini akan teruji dengan perkara-perkara yang kecil. Setiap pribadi yang tahu bahwa hidupnya dikendalikan oleh Tuhan tidak ada ketakutan yang membuat ia tidak berani menyatakan suatu ketegasan kepada yang bertentangan dengan firman Tuhan. (RZA)

Refleksi:
Tunjukkan ketaatan kepada Tuhan melalui sikap dan tindakan

TETAP KONSISTEN

Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. (Daniel 6:11)

Sebuah peringatan dibuat untuk melarang tindakan yang tidak diperbolehkan. Peringatan dengan sanksi yang berat dapat membuat orang menjadi takut untuk melakukan tindakan-tindakan yang dilarang. Dalam ranah hukum ada konsekuensi bagi siapapun yang melanggar ketentuan yang diberlakukan. Seperti hukuman mati bagi setiap bandar dan pengendar narkoba. Hukuman bagi siapapun yang melanggar aturan adalah hal yang wajar tetapi jika peraturan/peringatan yang dibuat hanya bersifat politis atau hanya untuk kepentingan sebuah kelompok tertentu adalah hal yang tidak wajar dan patut dipertanyakan.

Daniel seorang yang taat kepada Tuhan dan menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan setia. Tidak ada suatu yang dilanggar dalam jabatannya dalam pemerintahan tetapi orang-orang di sekitarnya merasa tidak senang kepada Daniel. Mereka mencoba membuat aturan yang bisa menjerat Daniel. Akhirnya mereka berusaha membuat peraturan bahwa siapapun yang ada dalam pemerintah Raja, tidak ada seorang pun yang menyembah selain raja sendiri dan jika ada yang melanggar akan menerima hukuman mati. Demi didengar Daniel surat perintah dibuat maka ia tetap taat beribadah kepada Tuhan. Daniel lebih memilih taat kepada
TUHAN, Allah-nya dari pada aturan dan ketetapan manusia. Daniel tidak mencari aman dan nyaman untuk sementara menunda beribadah kepada TUHAN dan akhirnya ia ditangkap. Sebuah tindakan yang berani, Daniel tetap konsisten dengan ketaatannya kepada Tuhan. Daniel tidak terpengaruh dengan situasi dan kondisi di luar dirinya. Ia tetap menjalankan keyakinan dalam dirinya dan percaya akan Tuhan yang jauh lebih tahu dan mengerti situasi dalam hidupnya.

Sebagai pribadi yang mengenal Tuhan dalam dirinya adakah keyakinan yang teguh seperti Daniel untuk tidak terpengaruh dengan situasi dan kondisi, Sekalipun ada konsekuensi yang mengancam kehidupan kita. Tidak mudah dan sederhana untuk menjadi pribadi yang konsisten dalam mempertahankan keyakinan di tengah-tengah orang yang berbeda keyakinan. Tetapi Pribadi yang berintegritas dan prima akan selalu siap untuk menghadapi berbagai konsekuensi yang akan dihadapi termasuk
ancaman kematian. (RZA)

Refleksi :
Konsisten adalah ciri orang yang jujur dan prima.

IMAN DAN KEBERANIAN OBAJA

Obaja itu seorang yang sungguh-sungguh takut akan TUHAN. Karena pada waktu Izebel melenyapkan nabi-nabi TUHAN, Obaja mengambil seratus orang nabi, lalu menyembunyikan mereka lima puluh sekelompok dalam gua dan mengurus makanan dan minuman mereka. (1 Raja-raja 18:3b-4)

Seorang pejabat yang hanya mencari aman dan nyaman akan cenderung untuk tidak mengambil resiko dalam mengambil keputusan dan tindakan yang membahayakan dirinya. Hal yang paling umum jika setiap orang tidak mau diganggu dengan hal-hal yang merusak tatanan dalam kehidupannya. Biasanya orang seperti ini disebut status quo yaitu tidak mau ada perubahan apapun dan berharap tetap berjalan seperti biasanya.
Hal ini berbeda dengan Obaja sebagai kepala Istana, Ia berusaha menyembunyikan nabi-nabi Tuhan. Langkah yang diambil oleh Obaja adalah sebuah tindakan iman dan keberanian karena jika ketahuan akan berakibat fatal yaitu kematian dirinya.

Sebagai orang yang takut akan Tuhan, Obaja berani melakukan misi penyelamatan. Ia tidak menjalankan perintah Izebel untuk membunuh dan melenyapkan nabi-nabi. Obaja mengambil seratus orang nabi, lalu menyembunyikan mereka lima puluh, lima puluh sekelompok dalam gua dan mengurus makanan dan minuman mereka. Ia menunjukkan seorang yang lebih taat kepada Tuhan dengan tidak melakukan perintah manusia (Izebel) untuk membunuh para nabi.

Keberanian dalam diri setiap orang sangat diperlukan. Apapun tantangan yang dihadapi tetap harus memilih apa yang Tuhan kehendaki bukan apa yang manusia kehendaki. Seorang bijak pernah berkata,  “jika tantangan itu tiba, jangan berdoa untuk mendapatkan kemudahan tetapi berdoalah agar menjadi orang yang lebih kuat. Jangan berdoa agar tanggung jawab kita sama dengan kekuatan kita, tetapi berdoalah agar kekuatan kita sama dengan tanggung jawab kita.”   Setiap kita khususnya warga kampus UK. Maranatha harus berani menghadapi tantangan hidup, tidak ada kata menyerah bagi setiap orang beriman. Ia akan menunjukkan keberanian imannya walaupun harus menanggung berbagai konsekuensi yang akan
dialami oleh hidupnya. (RZA)

Refleksi:
Takut kepada Tuhan berarti berani untuk berbeda

SALOMO BERLAKU ADIL

Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja, maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.(1Raja-raja 3:28)

Terkadang di situ saya merasa sedih…sebuah ungkapan yang pernah menjadi trend pada beberapa waktu yang lalu. Keadaan seperti ini menggambarkan banyaknya orang merasa galau atau gelisah dengan kondisi yang dialaminya. Memang dalam kehidupan yang nyata terkadang ada hal-hal tidak adil dan tidak memihak kepada yang seharusnya. Seperti ketidakberpihakan kepada orang-orang yang lemah dan orang yang tidak memiliki jalur khusus kepada pihak yang berwenang. Ungkapan terkadang di situ saya merasa sedih…akan terus terdengar jika tidak ada upaya untuk menanggulangi masalah yang ada.

Dalam nas hari ini dikisahkan dua perempuan yang mengaku bayi yang masih hidup adalah anaknya. Tidak ada yang mau mengalah karena mereka merasa berhak memiliki anak mereka. Salah satu dari mereka bercerita bahwa aku melahirkan seorang anak lelaki dan temannya juga melahirkan anak lelaki. Pada suatu malam bayinya meninggal dan ketika aku tidur ia menaruh anaknya yang sudah mati di dekatku dan mengambil bayiku. Ketika aku terbangun dan melihat anak yang mati itu, aku tahu bahwa itu bukan anakku. Perempuan yang lain menjawab : Tidak! Anak aku yang hidup itu dan anak yang mati punya dia. Perempuan yang bercerita berkata: Bukan, anakku yang hidup. Keduanya bertengkar. Kemudian Raja Salomo memerintahkan kepada ajudannya: Ambilkan sebuah pedang dan ia berkata:

Penggallah bayi yang hidup itu menjadi dua dan berikan separuh kepada masing-masing perempuan ini. Jangan! Teriak Ibu yang sebenarnya dari bayi itu. Mohon jangan dibunuh bayi itu. Berikanlah kepadanya! Tapi perempuan yang lain berkata: Supaya adil jangan berikan kepada siapapun, penggallah bayi itu. Maka Salomo berkata: Jangan bunuh anak itu! Berikanlah kepada perempuan berteriak jangan. Dialah yang sebenarnya yang menjadi Ibu bayi yang hidup. Demikianlah hikmat
Salomo dalam menghadapi permasalahan yang terjadi.

Dalam kehidupan manusia banyak persoalan dan terkadang sulit untuk 
menyelesaikannya. Dalam mengambil keputusan yang penting dan mendesak diperlukan hikmat. Hikmat yang bukan untuk kepentingan sebagian orang tetapi hikmat dengan keputusan yang benar. Hikmat yang datang dari Tuhanlah yang akan menolong setiap orang dalam melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendakNya. Memohon hikmat Tuhan adalah sebuah keputusan yang tepat. (RZA)

Refleksi:
Bertindaklah adil kepada semua orang.

70 X 7 KALI

“Bukan ! Aku berkata kepadamu : Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Matius 18:22)

CS Lewis, seorang pengarang buku Kristen mengatakan bahwa  menjadi
Kristen artinya mengampuni yang tak bisa dimaafkan, karena TUHAN telah  mengampuni yang tidak terampuni dari diri kita.   Allah telah mengampuni kita dan rela mati di salib demi menebus manusia yang berdosa. Oleh karena itu kita juga harus berbuat hal yang sama kepada orang yang telah menyakiti kita. Jika dunia mengajarkan ‘mata ganti mata’, maka Yesus hadir dengan konsep yang sangat berbeda dari konsep dunia. Yesus menginginkan agar setiap orang yang percaya  kepada-Nya mempraktekkan kehidupan yang penuh dengan pengampunan. 

Mengampuni merupakan hadiah terbaik yang dapat kita berikan bagi diri kita sendiri. Sebelum kita melepaskan pengampunan, sejujurnya hati kita begitu tersiksa. Kita tidak lagi merasakan damai sejahtera; yang ada hanya perasaan yang dikuasai dengan dendam dan kebencian. Tapi saat kita bisa mengampuni orang lain, semua konflik hati yang sedang berkecamuk akan terlepas sehingga yang ada hanyalah kelegaan dan kedamaian.

Dalam Matius 18:21-35, Petrus seorang murid Yesus yang sangat ambisius bertanya “Tuhan, sampai berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?”.  Petrus menganggap bahwa memberi pengampunan 7 kali itu sudah sempurna. Tetapi anggapan ini ternyata tidak sesuai dengan apa yang Yesus pikirkan. Yesus menginginkan kita mengampuni tanpa batas. Tidak hanya satu kali saja melainkan berkali-kali. Ini berarti bahwa pengampunan yang kita berikan adalah pengampunan tanpa batas. Tidak peduli betapa dalam luka hati yang diakibatkan, tugas kita adalah mengampuni orang tersebut. (YS)
 
Refleksi :
Mengampuni sesungguhnya membebaskan seseorang dari penjara dan mendapati bahwa orang itu adalah diri Anda sendiri.

HOW GREAT THOU ART

“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasi kamu pada waktu kebodohanmu” ( I Petrus 1:14)

Carl Gustav Boberg adalah seorang Kristen ‘KTP’ yang melakukan aktivitas  ke gereja hanya sebatas sebuah rutinitas saja. Di suatu Minggu, beberapa teman mengajaknya bersenang-senang, tapi hatinya mendorongnya untuk harus ke gereja. Gustav pun akhirnya memilih untuk ke gereja. Benar saja, hari itu sungguh berbeda, firman Tuhan yang disampaikan ibarat surat khusus bagi Carl Gustav. Ia teringat akan dosa-dosanya dan memohon pengampunan Tuhan. Gustav akhirnya menerima keselamatan di usia 19 tahun setelah mengalami perjumpaan secara pribadi melalui Firman Tuhan yang disampaikan.

Saat usia 26 tahun, sepulang dari perjalanan dari sebuah desa, hujan badai turun dengan guruh dan kilat yang sambung menyambung disertai tiupan angin kencang. Setelah badai reda, ia membuka jendela rumahnya, ia melihat permukaan air laut di dekat kediamannya seperti kaca cermin bagi langit yang cerah. Dari dalam hutan di seberang rumahnya terdengar kicauan burung dan di gereja terdekat terdengar suara lonceng besar berdentang. Perpaduan keindah alam ini mendorong Carl Gustav Boberg menulis syair lagu yang memuji kebesaran Sang Pencipta., sehingga lahirlah lagu ‘How Great Thou Art’ yang masih terus dinyanyikan sampai sekarang. Andaikan Carl Gustav Boberg lebih memilih mengikuti ajakan dari teman-temannya, mungkin ia tidak akan mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang mengubahkan seluruh hidupnya.

Mungkin tanpa disadari perjalanan iman Kristen kita tidak jauh berbeda dengan kehidupan seorang Gustav Boberg sebelum mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh.  Tuhan memanggil kita untuk meninggalkan kehidupan iman yang suam-suam kuku dan masuk pada suatu dimensi kehidupan rohani yang lebih sungguh-sungguh. Mari kita meresponi panggilan Tuhan dalam kehidupan kita dengan hidup dalam ketaatan.(YS)

Refleksi :
Pengalaman perjumpaan pribadi dengan Tuhan merupakan titik balik kehidupan seseorang.

ATTENTION DEFICIT DISORDER

“Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu.” (Yesaya 1:19)

ADD atau  Attention Deficit Disorder   merupakan sebuah kelainan psikologis yang mempengaruhi beberapa anak. Gejala dari ADD antara lain; anak sukar berkonsentrasi, tidak bisa diam atau hiperaktif. Anak ADD akan segera melupakan apa yang sedanag dibicarakan. Ia bukannya tidak mendengar, ia mendengarnya namun entah mengapa walaupun kata-kata kita mungkin sempat terekam tapi tidak bertahan lama. Jika kita renungkan, hubungan manusia dengan Allah kadang-kadang juga seperti
itu. Dalam kisah Adam dan Hawa. Ketika Allah menempatkan Adam dan Hawa di taman Eden, Allah memerintahkan agar mereka jangan memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan buruk. Tapi apa yang terjadi ?  Mereka mendengar perintah itu dengan jelas, tapi melanggarnya.
Ketika Allah membawa bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan (Mesir), IA memberikan 10 perintah supaya mereka menaatinya.  Namun apa yang terjadi ?  Mereka mendengar perintah itu, tapi tidakmematuhinya. Perintah Allah tersebut terekam selama beberapa waktu, namun tidak bertahan lama. Mereka melanggarnya dan melakukan apa yang tidak berkenan di hadapan Allah.

Jika kita mau mengakui dengan sungguh-sungguh; mungkin kita pun seperti bangsa Israel  yang sering melanggar peraturan yang pernah kita dengarkan. Entah berapa banyak khotbah yang telah kita dengar atau renungan yang telah kita baca, namun kerap kali kita menjadi pribadi yang lamban untuk mengerti. Bahkan terkadang walaupun sudah diberitahu, masih saja melanggar. Allah dengan jelas mengatakan bahwa  “sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagianmu akan
terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti (Yesaya 48:18).”
Hari ini, marilah kita melatih diri  untuk memberi perhatian pada setiap kehendak Tuhan. Jangan abaikan apapun yang dikatakan Tuhan melalui Firman-Nya, sehingga kehidupan karir, study, dan pribadi kita tidak hanya berhasil, namun kita pun akan senantiasa dipenuhi damai sejahtera dan kebahagiaan yang melimpah. (YS)
Refleksi :
Pastikanlah diri kita tidak hanya mendengar apa yang Tuhan katakan namun juga mematuhi setiap perkataan-Nya.

I KNOW WHAT YOU DID !

“Demikianlah  sekarang tidak ada penghukuman  bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” (Roma 8:1)

Terkadang apa yang pernah kita lakukan di masa lalu bisa tiba-tiba muncul kembali dalam pikiran kita. Hal-hal yang menurut penilaian kita adalah suatu kegagalan, membuat kita merasa buruk, membuat kita merasa malu, dan perasaan negatif lainnya. Akibatnya kita akan meresponi masa kini dengan buruk, padahal kita seharusnya meresponi masa kini dengan baik.
Petrus adalah salah satu murid Yesus pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya. Saat perjamuan makan malam terakhir,  Petrus berjanji bahwa ia akan setia kepada Yesus walaupun ia harus mati (Matius 26:31-35). Ternyata hanya dengan tiga pertanyaan sederhana, Petrus menyangkali apa yang pernah dikatakannya. Di tengah kekacauan, Petrus  takut diketahui orang lain bahwa ia adalah salah satu murid Yesus.
Petrus tahu benar bahwa ia gagal. Imannya goncang saat melihat Yesus ditangkap. Namun setelah kebangkitan Yesus Kristus dan Roh Kudus dicurahkan; Petrus  menemukan kembali keberanian untuk memberitakan tentang Yesus Kristus secara terang-terangan kepada orang banyak. Melalui pelayanan Petrus sekitar 3000 orang menjadi percaya. Kegagalan Petrus sempat melumpuhkannya, tetapi kuasa kebangkitan Yesus membuatnya lebih dari seorang pemenang.Tuhan sanggup membuat apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Hanya anugerah dan kuasa Tuhan yang mampu mengubahkan hidup kita seluruhnya. Petrus dari seorang penakut menjadi seorang pemimpin yang radikal. Itu semua bisa terjadi hanya karena kuasa Tuhan. Iblis bisa saja menggunakan masa lalu kita yang gagal, kelam, dan buruk untuk mengintimidasi  dan melumpuhkan kita, namun ingatlah bahwa Tuhan adalah pemiliki masa depan kita. Tuhan menciptakan kita dan IA memiliki rencana bagi kehidupan setiap orang yang percaya pada-Nya.

 

Marilah kita hidup bukan sesuai dengan rencana dan penilaian kita, melainkan sesuai dengan rencana dan penilaian Allah. Sengat masa lalu tidak akan melumpuhkan kita karena Yesus telah membebaskan kita. Haleluya ! (YS)

Refleksi :
Hiduplah menurut penilaian dan rencana Tuhan, maka intimidasi masa lalu tidak akan mampu untuk melumpuhkan kita.