IBU: PAHLAWAN BAGI SEMUA ORANG

“Anak-anaknya bangun dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia “ (Amsal  31:28)

Komunikasi adalah penyampaian dan pemahaman pesan yang bermakna. Ketikakata ‘wanita’ menggantikan kata ‘perempuan’, hal ini dapat mengakibatkanmakna yang terkandung dalam kata perempuan kehilangan makna. Padahal,makna kata perempuan sangat dalam. Disebut perempuan karena ialah yang‘empunya’ manusia. Sekaligus seorang perempuan adalah ‘empu’, seorang yang pantas disebut sebagai pakar dalam berbagai hal.

Henry H. Heinz,  pemilik distributor makanan yang terkenal dalam surat wasiatnyamembuat pengakuan demikian: “Pada awal surat wasiat ini saya ingin bersaksibahwa Kristus adalah Juruselamat saya. Saya juga ingin bersaksi bahwa sepanjanghidup saya, baik dalam suka mau pun duka, secara ajaib saya memperoleh kekuatandari iman saya kepada Kristus. Semua ini diwariskan kepada saya oleh ibu saya,seorang perempuan yang beriman teguh, dan kepadanyalah saya persembahkan semua keberhasilan yang telah saya capai.” Demikian juga yang disampaikan Thomas Edison, penemu bola lampu listrik: “Ibu saya tidak berumur panjang, tetapi ia menanamkan pengaruh kuat sepanjang hidup saya. Didikannya tidak pernah saya lupakan. Jika bukan karena penghargaan dandukungannya, saya tidak pernah akan jadi penemu. Saya adalah anak yang ceroboh,sebaliknya Ibu adalah seorang yang selalu rapi dan teliti. Keteguhan dan kebaikannya
memberi kekuatan untuk saya tetap bertahan. Ibulah yang membentuk kepribadian saya.”

Meskipun kadangkala seorang perempuan dipandang lemah, padahal ia adalah ‘pemilik’ segala.  Ia adalah perempuan yang mempunyai hak terbesar menjadiseorang Ibu. Ia adalah seorang yang membuat seorang manusia terlahir, bertumbuh dan memiliki segalanya. (IH)
Refleksi : 
Hak terbesar bagi yang dimiliki seorang perempuan adalah menjadi Ibu.. Perempuan adalah yang ‘empunya’ (memiliki) dan juga seorang ‘empu”(ahli). Hormatilah Ibu –bapamu, merekalah pahlawan bagi dirimu

MENJADI ORANG LURUS DI ANGKATAN YANG BENGKOK

“Perhatikanlah orang yang tulus dan lihatlah kepada orang yang  jujur sebab pada orang yang suka damai akan ada masa depan “ (Mazmur 37:37)

Siapa orang paling jujur menurut Bung Karno? Jawabnya: Johannes Leimena! Ini yang dikatakan Bung Karno,  “…saat bertemu dengannya aku merasakan rangsangan indra keenam, dan bila gelombang intuisi dari hati nurani yang begitu keras seperti itu menguasai diriku, aku tidak pernah salah. Aku merasakan dia adalah seorang yang paling jujur yang pernah kutemui.”

Johannes Leimena yang akrab disapa Om Jo (1905-1977) lahir dalam keluarga guru di Ambon. Ayah dan ibunya guru SD. Leimena lulus dari sekolah kedokteran di Jakarta pada tahun 1930 dan langsung bekerja di RSCM (dulunya disebut CBZ) Jakarta. Pernah pula beliau  menjadi dokter di RS Immanuel Bandung. Ketika ia menjadi dokter di RS Bayu Asih Purwakarta, ia ditangkap oleh tentara Jepang. Setelah dibebaskan, ia
ditempatkan di RS Tangerang. Ia juga pernah menjadi direktur RS PGI Tjikini Jakarta. Keprihatinan Dr. J. Leimena atas   kurangnya   kepedulian   sosial   umat Kristen terhadap nasib bangsa merupakan hal utama yang mendorong niatnya untuk aktif pada “Gerakan Oikumene”. Pada tahun 1926, Leimena ditugaskan untuk mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di  Bandung. Konferensi ini adalah perwujudan pertama Organisasi Oikumene di kalangan pemuda Kristen.  Dengan keaktifannya di Jong
Ambon, ia ikut mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia tanggal 28 Oktober 1928 yang menghasilkan SUMPAH PEMUDA.

Belum lagi proklamasi kemerdekaan Indonesia berumur setahun, Leimena diangkat menjadi menteri kesehatan. Sejak itu jalan Leimena adalah dunia politik. Dengan sistem pemerintahan saat itu, kabinet sering berganti, bahkan dua kali setahun. Hampir selalu Leimena dipilih sebagai menteri. Perdana menterinya berganti-ganti antara PNI dan Masyumi, namun Leimena tetap dipakai sebagai menteri, sehingga ada ucapan “Siapapun perdana menterinya, menterinya Leimena.” Bukan hanya sebagai menteri kesehatan dan menteri sosial, Leimena pun lima kali menjadi wakil
perdana menteri. Secara keseluruhan ia 18 kali menjadi menteri dalam rentang waktu 20 tahun. Lagi pula Leimena pernah sampai tujuh kali memegang fungsi Pejabat Presiden RI.

Apa yang membuat Leimena dipercaya baik oleh kalangan Nasionalis, Kristen,  Islam, dan Komunis? Berbagai nara sumber menyebut karakter Leimena yang menonjol ialah  sederhana, jujur, dan tenang. (IH)

Refleksi : 
Leimena, adalah sosok yang disegani oleh semua orang dan patut diteladani oleh  orang Kristen yang masih berkarya saaat ini.

JANGAN PADAMKAN OBOR YANG MENERANGI ASIA

“…supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1).

Pendeta ini berpenampilan unik. Ia kurus kecil. Rambutnya pendek dan selalu terurai di dahi. Mukanya pucat dan selalu menunduk. Ia selalu berpakaian kemeja putih sederhana model Tiongkok kuno. Ia tidak suka tersenyum sana-sini atau berbasa-basi. Tapi kalau berkotbah, tiba-tiba ia menjelma menjadi nabi yang berapi-api. Orang datang berduyun-duyun sampai gedung gereja melimpah ruah. Itulah Dr. John Sung dari Tiongkok yang membuat ratusan ribu orang Indonesia pada tahun 1935-1939 menerima Injil Kristus.

Di sekolah teologi Sung membuat keputusan untuk mengkristalkan pergumulan spiritualitasnya dalam bentuk meninggalkan ilmu kimia lalu menyerahkan jari tangan dan kaki, serta kedua telinga, mata, tangan dan kakinya untuk memperkenalkan Injil di Asia.

Pada tahun 1939, ia beberapa kali datang ke Indonesia. Acara pemberitaan Injil ini disebut “Serie Meeting” yang terdiri dari 22 pemahaman Alkitab atau khotbah tiap pagi, petang, dan malam selama tujuh hari. “Serie Meeting” ini diadakan di Surabaya, Madiun, Solo, Magelang, Purworejo, Yogyakarta, Cirebon, Bandung, Bogor, Jakarta,
Makasar, Ambon, dan Medan. Khotbahnya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Pokok pembahasannnya bersambung. Cara penyampaiannya jelas, sederhana, dan memikat. Ia sering menggunakan papan tulis dan alat peraga. Sasarannya adalah orang-orang yang belum pernah mendengar berita Injil. Hasilnya memang luar biasa. Ribuan orang dengan setia mengikuti 22 pertemuan itu. Pada tiap pertemuan ribuan Alkitab, nyanyian rohani, dan buku renungan terjual habis. Di tiap kota, gereja-gereja membentuk komite tindak lanjut karena ribuan orang
mendaftar untuk mengikuti katekisasi..

Watak Sung sejak masa kecilnya tetap tampak. Ia serba cepat dan tidak sabar. Ketika memasuki ruang yang gaduh ia langsung menggebrak meja sambil berteriak, “Apa ini ruang ibadah atau gedung komedi?” Di tempat ia menginap, dituntutnya suasana sunyi. Ia meminta seisi rumah itu bangun pukul 4 pagi dan berdoa untuk pertemuan “Serie Meeting” hari itu.
Kekuatan tubuh Sung semakin rapuh. Perang dunia dan kemiskinan yang melanda Tiongkok menekan dia. Berkali-kali ia masuk rumah sakit untuk pengobatan dan pembedahan. Pada tahun 1944 dalam usia 42 tahun Sung meninggal dunia. (IH)
Refleksi :
Masihkah ada kerinduan kita untuk mengabarkan Injil, Kabar Baik?

PENGETAHUAN, KEPANDAIAN DAN HIKMAT DARI TUHAN

“Karena TUHANlah yang memberi hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan
kepandaian .” (Amsal 2:6)

Generasi masa kini  mungkin tidak mengenal John Sung.  Padahal  banyak di antara kita merupakan buah dari benih Injil yang ditaburkan Sung kepada generasi-generasi pendahulu kita. Siapakah John Sung? Ia lahir dengan nama Sung Siong Geh pada tahun 1901 di sebuah desa miskin di propinsi Fukien di Tiongkok Tenggara. Ayahnya pendeta
Gereja Metodis. Ibunya buruh tani. Sejak kecil Sung sudah berwatak unik. Ia gesit dalam segala hal. Ia keras kepala dan tidak bisa sabar. Sung tampak lebih unik lagi di sekolah. Kecerdasannya melewati batas wajar. Ia bisa mengingat tiap kata dari tiap buku yang dibacanya. Ia sudah hafal kitab Mazmur, Amsal, dan kitab kitab Injil.. Ia suka ikut ayahnya melayani kebaktian di desa desa lain. Kalau ayahnya sakit, Sung yang baru berusia 12 tahun menggantikan ayahnya menjelaskan Alkitab dari atas mimbar.

Pada usia 18 tahun Sung berlayar ke Amerika karena mendapat beasiswa bintang pelajar di seluruh provinsi. Ia belajar kimia di Wesleyan University di Ohio. Ia lulus sebagai mahasiswa nomor satu. Surat kabar di Amerika dan Eropa melaporkan prestasi jenius ini. Studi Sung berjalan terus. Ia diterima di Ohio State University. Program Master of Science ditempuhnya hanya dalam sembilan bulan, padahal ia bersekolah sambil bekerja sebagai pemotong rumput di jalan dan aktif dalam gerakan
mahasiswa menentang diskriminasi rasial. Sesudah itu Sung mengambil program doktor. Persyaratan bahasa Prancis dan Jerman dipenuhinya dengan belajar sendiri cukup dalam satu bulan. Ia lulus dengan gemilang dan menjadi doktor ilmu kimia hanya dalam tiga semester. Semua surat kabar Amerika dan Eropa mencatat rekor jenius ini.  Lalu ia masuk sekolah teologi. Program tiga tahun di Union Theological Seminary di New York ditempuhnya dalam waktu satu tahun.Ia sempat mengalami
gangguan mental. Selama 193 hari di rumah sakit itu ia menelaah 1.189 pasal Alkitab dari Kejadian 1 sampai Wahyu 22 sebanyak 40 kali dengan 40 sudut eksegese yang berbeda. Ia keluar rumah sakit sambil membawa 40 naskah eksegese dalam bahasa Inggris dan Mandarin.

Di kalangan akademik ia dikenang sebagai kimiawan jenius calon pemenang hadiah Nobel untuk ilmu kimia. Namun, di hati banyak orang Indonesia , ia dikenang sebagai pembawa berita Injil. (IH)

Refleksi :
Tuhanlah yang memampukan kita untuk mendapatkan kepandaian, pengetahuan dan hikmat. Jangan takabur !

BEKERJA KERAS UNTUK MEWUJUDKAN NILAI LUHUR

“Orang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah.”(Amsal 18:14)

Doktor Ratulangi merupakan pribadi yang haus akan ilmu pengetahuan. Ia
rela membanting tulang demi membiayai pendidikannya. Sebagai tokoh
yang lahir dan hidup di zaman penjajahan, ia merasakan bahwa penjajahan itu penghalang perwujudan nilai-nilai kemanusiaan. Gerungan Saul Samuel Jacob (GSSJ) Ratulangi, lahir di Tondano, Sulawesi Utara pada tanggal 5 November 1890. Ayahnya, Jozias Ratulangi adalah guru Hoofden School. Dalam masyarakat, sekolah setingkat SMP itu sering disebut “Sekolah Raja”. Di sekolah yang sama pulalah GSSJ Ratulangi menuntut ilmu. Setelah menamatkan pendidikannya di Hoofden School, ia
kemudian meninggalkan tanah kelahirannya untuk belajar di Indische Artsenschool (Sekolah Dokter Hindia) di Jakarta. Namun, setibanya di Jakarta, ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke sekolah dokter dan lebih memilih untuk belajar di Koningin Wilhelmina School (Sekolah Tehnik) pada tahun 1904. Empat tahun kemudian ia pun berhasil menamatkan pendidikannya dengan nilai gemilang. Latar belakang pendidikan itu membuka kesempatan baginya untuk bekerja sebagai ahli tehnik mesin di daerah Priangan Selatan.

Ratulangi sangat bahagia serta menikmati pekerjaannya saat itu. Namun,
kebahagiaan itu sirna seketika karena perlakuan tak adil yang diterimanya. Sebagai orang pribumi, Ratulangi menerima gaji yang lebih rendah dari
kawan-kawan sekolahnya yang keturunan Indo-Belanda. Kenyataan itu
kemudian memotivasinya untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya.
Ia pun meneruskan sekolahnya dengan menempuh pendidikan di Lager
Onderwijs (LO) dan Middlebare Acte. Ijazah guru ilmu pasti untuk Sekolah
Menengah di negeri Belanda pun berhasil diraihnya pada tahun 1915.
Ia sebenarnya berhasrat untuk kuliah di Jurusan Ilmu Pasti pada Vrije Universiteit Amsterdam, namun hasrat itu terpaksa gagal karena ia tak memiliki ijazah HBS (Hogere Burger School) atau AMS (Algemene Middlebare School).  Dengan nasihat dari Mr. Abendanon, ia pun meneruskan studinya di Universitas Zurich. Pada tahun 1919, setelah empat tahun bekerja keras, Ratulangi berhasil menyandang gelar Doktor Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Swiss, ia sekaligus menjadi doktor ilmu pasti pertama Indonesia.Dr. Sam Ratulangi adalah tokoh pendidikan yang berjuang keras untuk bangsanya. (IH)

Refleksi :
Dimana ada niat yang baik disertai semangat, Tuhan bukakan jalan.

MENGUSAHAKAN KESEJAHTERAAN LEWAT PENDIDIKAN

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”(Yeremia 29:7)

Permulaan abad ke-20 merupakan awal abad yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Sebab, pada abad inilah tersemai bibit-bibit kesadaran kolektif untuk membebaskan bangsa dari kolonialisme. Abad ini juga merupakan awal munculnya banyak pemikir, pembaharu dan tokoh revolusi Indonesia. Mereka muncul di tengah kebutuhan dan keterdesakan zaman. Di antara para tokoh-tokoh tersebut adalah Prof. Dr. Todung Gelar Sutan Gunung Mulia Harahap. Ia akrab disapa dengan sebutan Mulia. Ia dilahirkan di sebuah kota kecil, di Padang Sidempuan, Sumatera Utara pada 21 Januari 1896. Mulia adalah keturunan bangsawan Batak
yang beragama Kristen.

Ketika Mulia menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ia melakukan pelbagai hal antara lain: pertama, meneruskan kebijakan menteri sebelumnya yakni kurikulum pendidikan yang berwawasan kebangsaan. Kedua, memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan, antara lain membangun kembali sekolah dan menambah jumlah tenaga pengajar. Ketiga, memperluas lembaga-lembaga pendidikan, yakni tidak hanya terfokus pada lembaga pendidikan umum, tetapi juga pendidikan yang berlatar belakang agama. Misalnya, pendidikan Kristen, NU (pesantren), dan Muhammadiyah.  Mulia menjabat sebagai menteri cukup singkat, yakni dari 14 November 1945 sampai 2 Oktober 1946. Rentang waktu satu tahun, tentu saja merupakan waktu yang singkat untuk menerjemahkan pemikiran dan gagasan Mulia ke dalam kebijakan-kebijakan pendidikan sesuai dengan pengalaman dan harapan masyarakat banyak. Namun, patut dicatat sejak menjabat menjadi menteri, Mulia memiliki akses yang cukup luas untuk menghidupkan pendidikan-pendidikan, terutama yang berorientasi dan berlatar belakang agama (Kristen). Pengalaman akan hal tersebut tentu sangat menguntungkannya. Sebab, di kemudian hari setelah purna jabatan, Mulia dan teman-temannya  mulai membangun jaringan pendidikan
Kristen yang diakui sangat kuat dan berkualitas hingga saat ini. (IH)

Refleksi :
Mengusahakan berarti  : 1)mengerjakan sesuatu, 2) mengikhtiarkan (berpikir dalam-dalam untuk mencari solusi),  3)berusaha sekeras-kerasnya dalam melakukan sesuatu, dan 4) membuat dan menciptakan sesuatu

JANGAN MENYERAH

“Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa,
 supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan
Anak Manusia.”(Lukas 21: 36)

Djamin Ginting adalah pahlawan nasional dari Sumatera Utara, tepatnya dari Tanah Karo. Karier militernya dimulai dari bawah sebagai tentara Peta, hingga ia meninggal dunia sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kanada. Djamin adalah salah satu dari dua orang ajudan Jenderal Ahmad Yani yang selamat dari kekejaman PKI pada peristiwa G30S.

Film 3 Nafas Likas mencoba menghadirkan sosok Djamin Ginting. Tetapi tokoh utamadalam film ini adalah Likas boru Tarigan, isteri sang pejuang.
Sejak kecil Likas adalah anak yang cerdas dan berani. Ia juga kritis dan selaluberontak atas ketidakadilan jender yang terjadi di kampungnya. Di antara kekanganadat, dan ibu yang terlalu posesif, Likas ingin menjadi perempuan yang maju. Untukitulah ia pergi ke kota untuk sekolah guru, meski pun ibunya meminta agar Likastidak pergi. Sang ibu mengatakan akan mati bila Likas pergi.  Bahkan ibunya berjanjiakan memberikan semua perhiasan emasnya bila Likas tetap tinggal di rumah. Tetapi
tekad Likas dan motivasi ayahnya yang berpandangan lebih maju  membuat Likasmelupakan ratapan sang ibu. Kata-kata sang ayah, “Kau ‘kan suka ke gereja. Kau ‘kantahu bahwa kematian itu akan terjadi jika Tuhan menghendaki,” membuat Likaskuat meninggalkan ibunya. Likas juga perempuan jang tidak pernah menyerah pada keadaan. Sepeninggal suaminya, ia diajak kerabatnya mengurus perkebunan. Instink sebagai guru membuatia siap membantu kerabatnya. Ternyata keuangan perusahaan tersebut sudah sangatterpuruk. Pertolongan Tuhan sajalah yang membuat perkebunan tersebut akhirnya menjadi perusahaan dengan lebih 1200 karyawan, ribuan hektar perkebunan sawit dan pabrik pengolahan CPO.Saat usianya genap 85 tahun, Likas menyerahkan semua urusan perusahaan kepadaanak-anaknya. Pesannya : “ Jangan pernah menyerah. Tuhan selalu mendengar doakita, tetapi kita tidak bisa ditolong oleh dinding, kita harus berusaha mencapainya.”(IH)

Refleksi :
 Dalam keadaan sesulit apa pun, percayalah Allah ingin berkarya lewat kita.
Berdoalah untuk minta hikmat Tuhan untuk mengatasinya dan berkaryalah !

IMAN YANG DINAMIS

Lalu Miryam,nabiah  itu, saudara perempuan Harun, mengambil rebana di tangannya, dan tampillah semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari.  Dan enyanyilah  Miryam memimpin mereka: “Menyanyilah bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur; kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut” (Keluaran 15: 20-21)

Mrianne Katoppo lahir di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, 9 Juni 1943. Sebagian besar pendidikannya dilalui di luar negeri. Usai meraih gelar Sarjana Muda di Sekolah Tinggi Teologi, Jakarta (1963), ia berangkat ke Tokyo, belajar di  International Christian University (1964), lalu di  Shingakuhbu  sejenis sekolah Teologi, Doshisa Daigaku, Kyoto (1965). Ia menyelesaikan study Sarjana Lengkap di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta (1975-1977) dan melanjutkan studi Pascasarjana di sebuah lembaga pendidikan teologi terkenal di dunia, yaitu Institute Oecumenique Bossey,  Swiss selama setahun. Tak banyak yang mengetahui bahwa Henriette M. Katoppo menguasai 12 Bahasa asing secara fasih, mulai dari yang standar seperti Inggris, Belanda, Belgia, Jepang dan lain-lain hingga ke bahasa Rusia , Latin, Tamil, Sahwil. Raumanen adalah novel  pertamanya  yang langsung memenangkan  Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 1975,  Hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1978 dan   South East Asian Write Award tahun 1982 (ia satu-satunya perempuan Indonesia bahkan Asia yang pertama menerima hadiah ini).

Sejak tahun 1978, ia berkeras menggunakan   kata “ perempuan” ketimbang “wanita”. Perempuan menurutnya berarti sangat dalam dan sama sekali berbeda dengan wa-nita. Perempuan adalah “empu”, seorang ahli..Berbeda dengan “wanita” yang dalam terminologi Jawa berasal dari “wani nek ditoto” (berani jika ditata, keberaniannya hanya ada kalau orang lain memintanya).Keterlibatannya pada pergumulan pluralisme dan ultikulturalisme adalah sejalan dengan teologi pembebasannya: teologi perempuan. Berangkat dari pilihan ini ia menyerukan agar konsep  Imago Dei diterjemahkan dalam perjuangan untuk mencapai kondisi manusia yang penuh, utuh, Liberation Theology Toward Full Humanity.(IH)

Refleksi : 
Iman  yang dinamis  diimplementasikan  dalam  dunia,  hidup  sehari-hari, dalam karya untuk kemanusiaan yang penuh

MENGASIHI SAUDARA-SAUDARA

Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidakn dilihatnya.” (1 Yohanes 4 : 20)

Yap Thiam Hien adalah gambaran tokoh Kristen yang mengasihi saudara-
saudaranya, sebangsa dan setanah air. Siapakah  Yap Thiam Hien ? Ia lahir di Aceh 25 Mei 1913. Ketika ia berusia 9 tahun, ibunya meninggal. Sejak itu, ia diasuh oleh neneknya. Ia masuk SMA di Yogyakarta, dan  mondok pada keluarga keturunan Jerman. Dalam keluarga ini, Yap mulai mengenal nilai hidup kristiani  yang berwujud kasih sayang.Keinginan Yap untuk mengenal iman Kristen dilanjutkan ketika ia belajar di Sekolah Guru di Jakarta. Ia menjadi aktivis pemuda dan guru Sekolah Minggu. Ia ikut katekisasi  dan menerima baptisan di GKI Perniagaan pada usia 25 tahun. Lulus dari Sekolah Guru, Yap mengajar di SD Cirebon dan Rembang. Kemudian, ia kembali ke Jakarta dan belajar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia sambil tetap menjadi guru SD. Ia bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia dan ikut memikirkan perjuangan kemerdekaan.

Kecintaan Yap untuk menjadi guru Sekolah Minggu dan aktivis pemuda dengan  belajar Pendidikan Agama Kristen (PAK) Anak dan PAK Remaja/Pemuda selama satu semester di Selly Oak College, Inggris. Yap, dalam pledoinya pada waktu membela Soebandrio  mengutip cerita Injil tentang seorang perempuan yang hendak dirajam oleh para pemuka agama dengan tuduhan perbuatan asusila. Lalu, Yap mengutip ucapan Yesus kepada para pemuka agama itu, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yoh. 8:7)
Yap seringkali mengingatkan orang Kristen agar jangan terlena dalam aspek vertikal individu dengan Allah, melainkan harus pula memperhatikan aspek horizontal  dengan masyarakat.” Yap tidak menyukai ibadah yang berlangsung lebih dari satu jam, apalagi yang seremonial. Ia sering mengutip ayat,  “Aku membenci … perayaanmu … Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu … Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.”  (Am. 5:21-24) (IH)
Refleksi :
Mengasihi orang-orang yang berada di sekitar Saudara adalah wujudnyata mengasihi Allah.

INTEGRITAS YANG TERUJI (LUKAS 9 : 57-62)

“Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah “ (Lukas 9: 62)

Salah satu tokoh penting dalam pergerakan kemerdekaan adalah Amir
Syarifuddin. Dia termasuk salah satu pilar pendiri bangsa  (founding fathers) bersama-sama Soekarno, Hatta dan Syahrir. Dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga Muslim, Amir pada akhirnya menemukan spiritualitas baru bagi dirinya. Perkenalan terhadap kekristenan setidaknya dipengaruhi beberapa hal. Pertama, kakek Amir, Soetan Goenoeng Toea adalah penganut Kristen taat. Kedua, saat menempuh pendidikan di Belanda bersama sepupunya Sutan Gunung Mulia ia tinggal bersama penganut Calvinis taat bernama Dirk Smink. Setelah dia menekuni
ajaran Kristen ia memutuskan bertobat dan dibaptis di Indonesia.
Amir memang orang yang keras pendiriannya. Keputusan Amir untuk menjadi seorang Kristen merupakan suatu aib bagi keluarga. Ibunya sempat mengancam Amir, kalau keputusan anaknya itu untuk menjadi seorang Kristen tidak diubah, maka dia akan bunuh diri. Tentu terjadi pergumulan yang berat di dalam diri Amir, namun ia tetap memutuskan untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan penebus dosa-dosanya. September 1945, Amir dipenjarakan Jepang karena melakukan gerakan bawah tanah. Amir dengan tragis digantung dengan kepala di bawah di balik jeruji besi. Sebelumnya, percakapan Amir dengan tentara Jepang.
Tentara Jepang: “Kamu adalah orang Kristen. Tetapkah kamu dalam kepercayaanmu itu?” Jawab Amir: “Tetap.”
Tentara Jepang: “Pastikah?” Jawab Amir: “Pasti.”
Tentara Jepang:  “Kristus bersedia berkorban demi kepercayaannya dan bagi para pengikutnya sampai pun dia harus disalibkan pada kayu salib. Kalau kamu betul-betul seorang Kristen, mestinya kamu juga bersedia berkorban dengan digantung pada salib. Kamu berjuang melawan Belanda dan sekarang melawan Jepang demi kemerdekaan Bangsamu. Bersediakah kamu digantung pula demi kepercayaan dan bangsamu?”  Amir: (tidak menjawab). (IH)
Refleksi :
Integritas teruji ketka pengikut Kristus siap memikul salibnya dan menyangkal diri.