“BAIK” SEBAGAI BUAH ANUGERAH (2)

“ ..  Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan.” ( Kisah Para Rasul 11:24)

Sebutan “baik” dalam Alkitab, ditentukan oleh kebaikan Allah, karena  Allah adalah kebaikan ( Mark. 10:18). Kebaikan Allah ditunjukkan dalam kemuliaan” ciptaan-Nya dan berkat-berkat-Nya untuk alam semesta. Pemazmur menyatakan bahwa perintah-perintah-Nya baik karenanya, ketaatan terhadapnya juga baik, bahkan Alkitab menyatakan sebagai cara kita mengasihi Allah. Jadi, mengasihi sesama manusia itu baik,  murah hati juga baik sebab semua itu sesuai dengan karakter dan kehendak  Allah. Dan kasih karunia Kristus, imannya kepada Kristus dan Roh Kudus yang memenuhi dirinya, menjadikan Barnabas orang baik, di mata banyak orang.

Bagaimana dengan Universitas Kristen Maranatha, dinyatakan sebagai institusi “kristen”, apakah diakui masyarakat sebagai kampus yang baik? Bangunan-bangunan yang megah di kampus, akreditasi Institusi/Jurusannya bernilai “A”, memang membuat kampus menjadi baik, tampak baik, dipuji olah banyak orang. Tetapi, apakah baik sesuai dengan standar TUHAN Allah? Ukuran “baik” TUHAN tentunya lebih dari itu, ukurannya justru terletak pada warganya, apakah warganya yang sudah menerima anugerah-Nya, sedia dipenuhi Roh Kudus-Nya, sehingga fokus hidupnya Kristus dan taat pada firman-Nya.  Bagaimana dengan peraturan-peraturan di dalamnya, apakah sesuai dengan firman-Nya? (HW)

Refleksi :
Moga Universitas Kristen Maranatha diperjalanan selanjutnya setelah merayakan ulang tahun berdirinya yang ke 50, menjadi lebih “baik” di mata Kristus

“BAIK” SEBAGAI BUAH ANUGERAH (1)

“ ..  Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan.”( Kisah Para Rasul 11:24)

Pandangan para filsuf empiris modern mengenai sebutan “baik” untuk seseorang atau suatu benda, sepenuhnya subjektif. Hanya merupakan ungkapan hasil kesepakatan. Orang yang perilakunya membuat senang, berguna bagi orang lain, misalnya suka memberi, berderma, mau mengalah,  disebutkan sebagai orang baik .  Bagaimana pengertian  ‘baik’ dalam Alkitab? Allah adalah kebaikan, karena itu kebaikan sesuatu ditentukan oleh kebaikan Allah (#/TB Mr 10:18*). Kebaikan Allah ditunjukkan dalam  kemuliaan ciptaan-Nya dan  berkat-berkat-Nya untuk
alam semesta. Perintah-perintah-Nya pun baik dan ketaatan terhadapnya juga baik. Mengasihi sesama manusia itu baik (#/TB Gal 6:9* dst.) dan bertindak  murah hati juga baik (#/TB Kis 2:44-45*), sebab semua itu timbul dari kasih Allah (#/TB 1Yoh 5:2*).
Para murid Kristus dari Siprus dan Kirene yang telah mengalami kasih karunia Allah dan pertobatan datang ke Antiokhia  menjadi pewarta kasih karunia, Injil Kristus, dan mereka berani menyatakan dalam Injil yang diberitakan bahwa Yesus adalah TUHAN. Dengan pewartaan ini, tampaknya mereka menyadari bahwa mereka menaruh diri sendiri sebagai tuhan atas hidup pribadi, sebelum kasih karunia Allah dialaminya. Setelah mereka menerima kasih karunia-Nya, mereka menyatakan bahwa Yesus adalah TUHAN, yang menjadi raja, penguasa atas hidup mereka – bukan diri sendiri.
Universitas Kristen Maranatha, dinyatakan sebagai institusi “kristen”, yang berarti berdirinya dilandaskan pada semangat dan prinsip kristiani, pengelolaannya dijalankan secara kristiani – yaitu, secara  implisit mengakui bahwa Yesus adalah TUHAN dan Alkitab, firman Allah sebagai landasan peraturan-peraturan yang ada di kampus. Nilai-nilai kristiani ICE (“Integrity, Care and Excellence”), menjadi bagian nilai-nilai hidup kristiani Alkitabiah, yang harus dihadirkan di kampus Universitas Kristen Maranatha  menjadi sumber nilai etis bagi pemimpinnya, etika dosennya,
dan etika mahasiswanya.

Tatkala anugerah telah dialami oleh para warga kristianinya, dan sampai pada pengakuan bahwa Yesus adalah TUHAN – maka nilai “integrity” menghendaki bahwa pengalaman diberi anugerah dan Yesus adalah TUHAN tampak dalam cara memimpin, dalam kerja dan proses belajar-mengajar – sehingga damai sejahtera Kristus ada di kampus ini. (HW)
Refleksi :
Integritas diri dibuktikan dengan perwujudan pengakuan iman percaya  “Yesus adalah TUHAN” dalam cara memimpin, dalam kerja dan belajar di kampus

SETIA PADA KASIH KARUNIA KRISTUS

“ …  Barnabas …  menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan..”  (Kis 11:23) 

Kasih karunia TUHAN Allah yang mentransformasi beberapa orang Siprus dan Kirine, di Antiokhia  membuat mereka bertobat jadi pengikut Yesus, dan berani mewartakan Injil bahwa Yesus adalah TUHAN  kepada orang Yunani. (Kisah Para Rasul 11:19-26). Akibat pemberitaan itu  terbentuklah kumpulan pengikut Kristus, sehingga dipandang perlu oleh jemaat Yesrusalem mengirim Barnabas. Dan nasehat Barnabas bagi murid-murid Kristus yang baru adalah agar mereka tetap “setia” kepada TUHAN, setia pada kasih karunia-Nya.

Barnabas mengingatkan agar para murid Kristus, setia, yang artinya terus menerus berpegang teguh,  tinggal dalam kasih karunia Kristus. Setelah mengalami anugerah pengampunan dan keselamatan  TUHAN Allah melalui
Yesus Kristus, realita hidup, juga kerja dan belajar di kampus Universitas Kristen Maranatha,  tidak mudah, sering berusaha menarik keluar, lepas dari anugerah. Lupa bahwa anugerah TUHAN Allah, damai sejahtera Kristus sudah ada dalam dirinya – Roh Kudus juga ada dalam dirinya. Anugerah TUHAN Allah harus menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi kehidupan, tetap berfokus pada TUHAN Yesus  – Sang Anugerah.

Pemimpin yang menyadari bahwa kasih karunia Allah, TUHAN Yesus Kristus, ada didalam dirinya, yang mengangkat dia menjadi pemimpin serta Roh Kudus yang menolongnya dalam memimpin institusi kristiani – akan memimpin dengan sukacita dan membuat sukacita warga kampus – karena damai sejahtera Kristus ada di dalamnya. (HW)
Refleksi :
Menyadari dan memegang teguh kasih karunia-Nya ada dalam kerja dan proses belajar-mengajar menjadikan warga kampus mampu menjalaninya dengan sukacita

KASIH KARUNIA KRISTUS MEMBUAT PERUBAHAN DAN SUKACITA

“Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia.”( Kisah Para Rasul 11:23)

Kasih karunia TUHAN Allah memang luar biasa dalam mentransformasi banyak orang. Di tengah maraknya penganiayaan para pengikut Kristus setelah Stefanus dirajam mati, ada beberapa orang “asing” Siprus dan Kirine, di Antiokhia  justru bertobat jadi pengikut Yesus, dan berani mewartakan Injil bahwa Yesus adalah TUHAN, kepada orang Yunani. Penganiayaan tidak membuat mereka takut. Tangan TUHAN menyertai mereka dan dinyatakan bahwa sejumlah besar orang menjadi percaya dan bertobat,  berbalik kepada TUHAN. Jemaat Yerusalem mengutus Barnabas mendatangi komunitas ini, dan Barnabas melihat kasih karunia Allah ada dalam komunitas itu, dan ia bersukacita. Ia menjemput Saulus di Tarsus dan dibawa ke Antiokhia, tinggal disitu, mengajar selama setahun – komunitas murid Kristus di Antiokhia itulah disebut “Kristen”  (Kisah Para Rasul 11:19-26)

Kampus kita, secara jelas menyatakan dirinya sebagai “kristen”, Universitas Kristen Maranatha – apakah didalam kampus ada banyak orang yang berani mewartakan bahwa Yesus adalah TUHAN, dan melalui kematian dan kebangkitan-Nya, kasih karunia Allah hadir nyata di dunia, disediakan untuk semua orang? Apakah di dalamnya orang bisa melihat kehadiran kasih karunia TUHAN Allah dan menjadi sukacita karenanya?
Kampus memang bukan Gereja, tetapi di dalam kampus “kristen” setiap pribadi kristiani dipanggil untuk mewartakan  Injil-Nya, kasih karunia TUHAN Allah. Jika banyak warga kampus menjadi percaya dan berbalik kepada TUHAN,  maka banyak orang akan melihat dan mengalami perubahan karena kasih karunia-Nya itu. Perubahan suasana kampus, perubahan pelayanan, perubahan cara berkomunikasi antar warga kampus menampakkan suasana   sukacita  karena kasih karunia TUHAN Allah benar-benar dirasakan. (HW)

Refleksi :
Transformasi di dalam kampus diawali dengan Warta Injil Kristus

ADA DI TENGAH UNTUK MEMBANGUN

“Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.” (1 Yohanes 4:9)

Apa perlunya TUHAN Allah menjadi manusia, tinggal ditengah-tengah
kehidupan manusia di jamannya? Sabda TUHAN menyatakan bahwa  TUHAN Allah mengutus Anak-Nya  untuk menyatakan kasih-Nya – agar kita hidup oleh-Nya, hidup oleh kasih karunia-Nya. Agar kehendak , semangat, tekad kita terbit karena kasih karunia-Nya. Hal itu juga diingatkan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa “Ing madya mangun karsa”. Di tengah-tengah membangun semangat, membangun motivasi, membangkitkan kehendak. Oleh karena itu pendidik atau pemimpin yang
baik, pasti ada ditengah-tengah peserta didik atau anak buahnya. Kehadirannya menjadi sumber semangat, tekad mereka.

Pendidikan di lembaga-lembaga kristiani,  -pendidikan yang dilandaskan pada kehadiran kasih karuia-Nya dalam Kristus- membuat  peserta didik akan sampai pada tujuan pendidikan yang semestinya, yaitu  peserta didiknya mengenal dengan benar siapa TUHAN Allahnya. Dan juga, supaya peserta didik, yang adalah anak-anak Allah, bisa hidup tiada beraib dan tiada bernoda, tidak bercela di tengah-tengah angkatan
yang bengkok hatinya dan yang sesat, dan bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia (Fil.2: 15)
Dalam proses belajar-mengajar, dosen seringkali hanya memberikan pelajaran seperti yang digariskan oleh kurikulum yang ada saja.  Hal ini memang harus dilakukan. Namun, karena kasih karunia-Nya hadir ditengah proses belajar mengajar, melalui apa yang sedang dipelajari; seorang pengajar dan peserta didiknya harus sampai pada pengenalan pada  TUHAN Allahnya dan Injil-Nya.  Penghayatan atas pengenalan ini  memampukan  mereka untuk hidup tak bercela – bercahaya, melayani, memberikan hal yang sesuai kehendak TUHAN bagi masyarakat. (HW)

Refleksi :
Menyadari bahwa kasih karunia-Nya ada di proses belajar-mengajar
Senin, 16 Nopember 2015

JUJUR DAN SERIUS DALAM KERJA

“ Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu”. (Titus 2:7b)

Paulus dalam suratnya ke jemaat Korintus (1 Kor.15:10), dengan tegas menyatakan bahwa kasih karunia TUHAN Allah dalam TUHAN Yesus, mengubah hidupnya. Dari Penganiaya menjadi “yang dianiaya” demi Inijil Kristus. Kasih karunia itu membuat dia dapat diandalkan, dapat dipercaya (jujur) serta bekerja keras, bersungguh-sungguh dalam pelayanannya. Kasih karunia  itu telah merubah total dirinya dan kekuatan kasih karunia itu terus berlanjut, membuat Paulus bisa memberi teladan. Dan itulah yang terus diserukan kepada anak-anak rohaninya.

Keteladanan terbit dari kekuatan kasih karunia TUHAN Allah.Itu bukan dari kemampuan atau kekuatan diri kita – hal ini harus menjadi pegangan kita. Keteladanan yang bersumber dari diri sendiri, melelahkan. Keteladanan itu menjadi keteladanan yang lemah, bahkan bisa terjerumus dalam ke-“pura-pura”-an, kemunafikan. Tanpa kasih karunia, sangat sukar memberi keteladanan yang jujur – keteladanan yang kudus.

Bagian Sabda TUHAN mengingatkan Titus, dan para pemimpin, pengajar serta seluruh warga kristani kampus Universitas Kristen Maranatha untuk jujur, bisa dipercaya, bisa diandalkan dan bekerja dengan sungguh – yang dilandaskan pada kekuatan kasih karunia TUHAN Allah. Seseorang yang memiliki kejujuran dan kesungguhan yang berlandaskan kekuatan Roh Kudus, akan menjadi teladan, model, panutan yang membawa semua orang untuk melihat TUHAN Allah yang Mahakasih – bukan untuk memperoleh tepuk-tangan, puja-puji bagi diri sendiri. (HW)

Refleksi :
Jujur dan sungguh dalam kerja adalah bentuk perubahan, transformasi  diri yang disentuh oleh anugerah / kasih karunia TUHAN Allah.

TELADAN DALAM BERBUAT BAIK

“ .. jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik.
(Titus 2:7)

Tulisan DR S Rohman dari U.N.J, Kompas 23 April 2015, mengingatkan, bahwa filsafat pendidikan pertama bagi bangsa Indonesia, yang dicetuskan oleh Ki Hadjar Dewantara (1889-1959), menerapkan keteladanan (tuladha), kesamaan tekad (karsa), dan dukungan (andayani) bagi pembangunan bangsa. Sebelum kelahiran perundang-undangan tentang pendidikan, Dewantara telah memilihkan pendidikan yang sesuai dalam sistem sosial yang berlaku sepanjang praktik kehidupan bernegara – dengan mendirikan Sekolah Taman Siswa.

Bagian Sabda TUHAN menyatakan bahwa Titus, sebagai pemimpin dan pengajar jemaat Kristus,  harus memberi “keteladanan dalam berbuat baik”.  Kata “baik”, dalam Alkitab selalu berpedoman pada diri  Allah, karakter Allah. TUHAN Allah adalah kebaikan, karena itu kebaikan ‘apa pun”ditentukan oleh kebaikan Allah (Markus 10:18). Kebaikan Allah tampak dalam kemuliaan ciptaan-Nya dan berkat-berkat-Nya untuk alam semesta, Pemazmur terus menerus menyanyikannya. Mengasihi sesama manusia, murah hati adalah baik, sebab sumbernya dari kasih Allah. Perintah-perintah-Nya baik dan karenanya ketaatan terhadap- Nya juga baik, dikehendaki-Nya dan menjadikan hidup kita baik.

Panggilan untuk menjadi “teladan dalam berbuat baik” diperlukan untuk membangun Universitas Kristen Maranatha sebagai kampus kristiani, yang sebagian besar isinya para intelektual. Kebaikan TUHAN Allah yang dinyatakan selama hampir 50 tahun, tampak jelas dalam pertumbuhan kampus secara fisik dan para dosennya. Dengan berbekal kebaikan TUHAN Allah, Injil-Nya dan dampingan Roh Kudus-Nya, para pemimpin, para dosen – karyawan, juga mahasiswanya mestinya mampu menjadi teladan untuk berbuat seperti yang dilakukan TUHAN Allah terhadap tempat studi  dan kerjanya. (HW)

Refleksi : 
Kebaikan dan teladan-Nya, memampukan  kita memberi teladan

TUT WURI HANDAYANI

“ ..Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya..” (Yohanes 14:16)

Hal  “tut wuri handayani ”  berarti bahwa pendidik bisa berada  di belakang peserta didiknya untuk  mendukung, dan menopang (mendorong) mereka untuk  berkarya dengan bebas bagi kehidupan masyarakat dan dengan pengaruhnya menjaga agar benar pada jalur kebaikan masyarakat dan hidup pirbadinya (Visi Pendidikan K H Dewantara -  B Samho). Para pemimpin, pendidik tidak harus selalu berada di depan, tetapi harus bisa di belakang anak buahnya, peserta didiknya yang memiliki masa depan sendiri – jadi mereka bukanlah “budak”, mereka adalah pribadi yang bebas untuk menentukan masa depannya – jadi pemimpin dan pendidik hanya membantu mereka agar mereka dalam meraih masa depannya. 

Setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga , TUHAN Yesus menjanjikan Sang Penolong yang lain, yaitu Roh Kudus-Nya untuk menyertai para murid dan umat-Nya selama-lamanya. Sang Penolong, Parakletos, itu istilah yang berasal dari dunia hukum, yang berarti pendamping, yang akan menolong dan membela para murid dan umat-Nya untuk melanjutkan tugas Kristus Sang Tuan sebagai pelayan. TUHAN Allah hadir dengan Tiang Awan atau Tiang Api-Nya, Dia hadir menjadi manusia, dan sampai sekarang Dia hadir dalam Roh Kudus-Nya dalam diri setiap orang percaya Dia. Melalui Roh Kudus-Nya, Ia “tut wuri handayani”, disamping bahkan dibelakang untuk memampukan umat-Nya berperan di dunia, memberitakan perbuatan ajaib
TUHAN Allah, Injil Kristus. Jika semua warga kampus Universitas Kristen Maranatha menyadari ada Penolong di dalam dirinya, pasti  kita mampu menjadi pelayan-Nya yang baik di kampus dan bagi masyarakat sekitarnya.(HW)
Refleksi :
Mari kita sadari bahwa Kristus yang bangkit, ada dalam diri kita – agar kita mampu menjadi pelayan-Nya yang membangun komunitas  ini

ING MADYA MANGUN KARSA

“ ….. Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan”. (Lukas 22: 27)

Hal  “ing madya mangun karsa” berarti bahwa pendidik harus ada ditengah-tengah peserta didiknya, dan ia terus menerus memotivasi, membangun niat mereka untuk berkarya dan menumbuhkan ide-ide agar mereka produktif dalam berkarya (Visi Pendidikan K H Dewantara -  B Samho). Para pemimpin, pendidik hanya bisa melakukan tugasnya untuk membangun pribadi mereka yang dipimpinnya / dididiknya, tentunya (1) harus ada di tengah-tengah mereka dan (2) memiliki jiwa melayani, bukan menguasai atau memerintah. 

Dalam perjalanan keluar umat TUHAN dari perbudakan di Mesir menuju Tanah Perjanjian , TUHAN Allah Sang Pencipta Semesta, “turun ke bumi” ikut serta dalam perjalanan  umat-Nya dalam bentuk nyata sebagai Tiang Awan di siang hari atau Tiang Api di malam hari. Dan dalam masa Perjanjian Baru, TUHAN Allah menjadi manusia dalam diri TUHAN Yesus. Yang Mahabesar sedia menjadi kecil dan terbatas dengan “tinggal di tengah manusia”. Dan apa yang dilakukan-Nya dinyatakan dengan jelas, yaitu sebagai “pelayan”. Dan itu dibuktikan dengan masuk keluar kampung  menyembuhkan, mendidik melalui kotbah-Nya, memberi makan banyak orang dan secara khusus DIA hidup ditengah-tengah 12 orang murid-Nya. DIA tidak menjadi dan tidak ada dalam jajaran kaum elit agamawan, meskipun banyak orang menyebutnya “Guru”.  TUHAN Yesus yang hadir secara fisik sebagai “pelayan” di tengah manusia di jaman itu, melayani banyak orang sehingga terjadi perubahan kondisi fisik dan rohani serta membangun semangat dalam diri banyak orang, misalnya Zakheus.

Perenungan diatas, mengingatkan akan tugas kita di tempat kerja khususnya, yaitu sebagai pelayan. Jika semua warga kampus Universitas Kristen Maranatha memiliki sikap ini, pasti  menjadi kampus pilihan masyarakat Indonesia. (HW)
Refleksi :
Jika Tuhan Yesus sudah menyatakan diri sebagai pelayan, seharusnyalah kita sadar bahwa kita adalah pelayan-Nya

ING NGARSA SUNG TULADHA

 “ .. Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat
sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu”. (Yohanes 13:13)

Banyak orang berebut memilih berada  di depan, khususnya untuk antri
mendapatkan sesuatu yang penting bagi dirinya. Dan di depan juga bisa
dikaitkan dengan upaya mengaktualisasi dirinya – menunjukkan dirinya bisa melakukan sesuatu, memimpin, mengambil keputusan, bisam dipercaya – tetapi tatkala di depan, keteladanan sering diabaikan.

TUHAN Yesus di Perjamuan Akhir bersama para muridNya, sebelum di salibkan, melakukan hal yang mengejutkan mereka dengan mencuci kaki mereka – sebagai  tanda perendahan diri. Dia sebagai Guru dan TUHAN, menghendaki para murid-Nya melakukan juga apa yang diteladankan-Nya, yang intinya sedia merendahkan diri. Kita tahu bahwa di kemudian hari, para murid-Nya yang adalah orang biasa, menjadi orang yang “luar biasa”, berkotbah, menghadirkan mujijat yang dengan itu bisa menjadi sombong, tetapi mereka tetap rendah hati.

Ki Hajar Dewantara, bapak Pendidikan Indonesia , mengingatkan bahwa “ing ngarsa sung tulada” – barang siapa di depan, sebagai pemimpin, harus memberi teladan,  bukan untuk pamer diri, pencitraan diri. Di depan, memimpin itu untuk menjadi teladan artinya menjadi  acuan, anutan, cermin, contoh, model, panduan. Sikap rendah hatinya ditunjukkan salah satunya dengan mengubah nama ningratnya

Soewardi Surjaningrat (cucu Raja Sri Paku Alam III), menjadi Ki Hadjar Dewantara, saat ia berumur 40 tahun. Ia tidak lagi menggunakan nama ningratnya, agar bisa dengan leluasa bergaul dengan rakyat biasa. Ayahnya yang tunanetra dan ia  lahir ketika  ayah ibunya bercerai, menyebabkan K H Dewantara harus hidup dalam kondisi serba kurang. Kesederhanaan hidup itu membuktikan integritasnya, ia menolak bantuan uang dari Mr. Abendanon, sahabat R A Kartini, dan dari S V Deventer serta Johnkam (tokoh-tokoh Belanda). (HW)
Refleksi :
Jika Tuhan Yesus sudah memberi teladan, seharusnyalah DIA menjadi model hidup kita.