BELAJAR MELUPAKAN

“Jadi siapa yang ada didalam Kristus, ia adalah ciptaan yang baru. Yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17)

Sebuah kata bijak berbunyi ”pengalaman adalah guru terbaik.” Kata bijak ini tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Pengalaman masa lalu dapat menjadi guru terbaik jika dimaknai sebagai bahan pembelajaran agar tidak mengulangi kesalahan yang sama dan meningkatkan keberhasilan dalam bidang-bidang yang menjadi kekuatan kita. Namun pengalaman masa lalu juga dapat menjadi penghalang terburuk jika kemudian kita selalu dibayang-bayangi oleh kesalahan masa lalu dan menjadi jumawa karena keberhasilan masa lalu. Menjadi berbahaya kondisi ini karena membuat kita  stagnan bahkan cenderung mendatangkan kemunduran bagi diri kita, membuat kita jauh dari kualifikasi excellent.

Rasul Paulus dalam tulisan-tulisannya berulang kali menegaskan dan memperingatkan orang percaya agar jangan sekali-kali terjebak pada masa lalu. Paulus selalu mendorong setiap orang fokus kedepan dan berusaha mencapai peningkatan hari demi hari. Status sebagai ”Ciptaan Baru” mengandung pengertian bahwa segala sesuatu dimasa lalu adalah sampah (Filipi 3:8) dan harus dilupakan (Filipi 3:13). Hanya ada satu yang perlu diingat dari masa lalu adalah kebaikan-kebaikan Tuhan (Mzm 103:20). Mengapa hanya kebaikan Tuhan yang perlu diingat? Karena dengan mengingat kebaikan Tuhan dimasa lalu kita menjadi yakin bahwa pertolongan Tuhan di massa depan sepasti yang telah dilakukan-Nya di masa lalu.

Kurang dari 24 jam lagi kita akan mengakhiri tahun 2015. Lupakanlah segala kegagalan kita, karena itu akan membuat kita tenggelam dalam rasa bersalah. Move on-lah dari setiap keberhasilan kita, karena hal itu dapat membuat kita jumawa. Tetapi simpan erat dalam memori kita setiap karya dan kebaikan Tuhan yang membuat kita excellent dari hari ke hari. (AL)
Refleksi :
Belajar melupakan memang sulit, tapi itu satu-satunya cara untuk hidup lebih
excellent dimasa depan. Selamat Menyongsong Tahun 2016.

SATU LANGKAH LEBIH MAJU

“Segera sesudah kaki para imam pengangkat tabut TUHAN, Tuhan semesta bumi, berhenti di dalam air sungai Yordan, maka air sungai Yordan itu akan terputus; air yang turun dari hulu akan berhenti mengalir menjadi bendungan.” (Yosua 3:13)

Tidak ada perjuangan yang mudah. Selalu ada tantangan dan resiko dalam setiap keputusan. Namun resiko seburuk apapun tidak boleh mencegah kita untuk melangkah. Saat bangsa Israel akan memasuki Tanah Perjanjian, ada satu masalah serius yang menghalangi mereka yakni Sungai Yordan. Sungai Yordan merupakan sungai yang dalam dan berbahaya pada masa itu. Sungai itu berair deras dan sangat lebar. Tidak mungkin membawa 2 juta orang melewatinya tanpa bencana. Ditengah pergumulan seperti ini, Tuhan memberitahu kepada Yosua untuk berani menyeberanginya membawa Tabut Tuhan dengan jaminan bahwa Tuhan sendiri akan bertindak membendung sungai itu. Saat Yosua dengan taat dan berani melangkah, ”maka berhentilah air itu mengalir…lalu menyeberanglah bangsa itu, ddi tentangan Yerikho” (Yosua 3:16).

Mujizat terjadi saat Yosua berani melangkah. Yosua bisa saja tidak mempedulikan jaminan Tuhan. Ia memiliki 1001 alasan untuk tidak melangkah. Masa itu musim menuai, air Yordan biasanya meluap begitu besar pada musim itu. Bagaimana mungkin sungai dengan debit air sebesar itu tiba-tiba terbendung? Resikonya terlalu besar, namun Yosua tetap melangkah karena dia tahu Tuhanlah penjaminnya. Apa yang terjadi jika Yosua tidak melangkah? Mereka tidak akan pernah menduduki Tanah Perjanjian.

Tahun 2016 sudah didepan mata, Tuhan memberi jaminan bagi kita untuk melangkah dengan berani. Jangan patah arang. Masalah akan selalu ada, tantangan akan selalu menghalangi. Berinovasilah, hadapi tantangan dengan ide kreatif dan cemerlang, kembangkan potensi diri. Karena bagi yang berani bertindak satu langkah lebih maju Tuhan memberikan garansi ”karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang-Amsal 23:18” (AL)

Refleksi :

Orang yang tidak berani melangkah akan selalu kalah dan menjadi pecundang.

NATAL YANG BERARTI

“Lalu kata malaikat itu kepada mereka: ’jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kesukaan besar untuk seluruh bangsa’.” (Lukas 2:10)

Sebuah lagu pop rohani memiliki syair yang sangat indah :
Sebab Natal takkan berarti tanpa kasih-Mu
Lahir dihatiku
Hanya bersama-Mu Yesus ku rasakan selalu
Indahnya natal di hatiku

Natal pada masa kini seringkali telah mengalami pergeseran makna. Padahal natal pertama justru merupakan natal yang sangat istimewa. Setelah 400 tahun Bangsa Israel tidak mendapatkan wahyu apapun dari Tuhan; saat penindasan Romawi menjadi semakin keras, saat bangsa itu mulai putus asa, berita natal sampai pertama kali kepada para gembala di padang Efrata. Mengapa harus para gembala? Harusnya berita itu tiba di Istana, kepada para Ahli Taurat. Bukankah itu berita kelahiran Sang Raja Surga? Mengapa harus para Gembala? Bukan berarti Allah lebih sayang kepada orang susah sedangkan orang kaya dibencinya, tidak seperti itu. Berita natal datang kepada para gembala menunjukan bahwa Allah sedang memberikan harapan baru kepada kaum lemah dan papa bahwa kasih Allah juga dinyatakan kepada mereka, kaum yang dipinggirkan dan tidak dianggap oleh orang lain. Bukankah setelah mendengar berita itu mereka penuh dengan sukacita? Itulah natal yang berarti.

Natal selalu berbicara mengenai pesan kasih Allah, harapan baru, dan masa depan yang cerah. Namun justru orang percaya masa kini menutup pintu pesan itu, sehingga natal berubah menjadi ajang pesta pora tanpa makna apapun. Kali ini, kembali kita diingatkan mungkin kita merasa hidup semakin berat, bahkan tahun depan sepertinya tanpa harapan. Jangan pernah lupa : natal berarti ”kesukaan besar”. Natal berarti harapan dan masa depan yang cerah bagi semua bangsa, semua orang hingga kaum lemah dan  terpinggirkan sekalipun. Pastikan diri kita mengalami natal yang berarti
dengan cara menerima kasih itu dan membagikannya dengan orang lain. (AL)
Refleksi :
Indahnya natal dihatiku…

YANG TERAKHIR YANG BERKESAN

“Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu” (Lukas 2:29-30)

Myurran Sukumaran dan Andrew Chan adalah 2 terpidana  Bali Nine yang
dieksekusi mati pada 29 April 2015 yang lalu. Mereka di dakwa karena
menyelundupkan narkoba dari Australia. Tapi bukan masalah kejahatannya
yang menarik; selama  mereka di LP Gerobokan Bali hingga di Nusa Kambangan mereka berdua menunjukan perubahan hidup yang luar biasa bahkan mereka turut membantu rehabilitasi banyak orang dari narkoba. Saat mereka dieksekusi, mereka menolak ditutup matanya dan menyanyikan lagu Amazing Grace. Apa yang membuat mereka setenang itu? Perjumpaan terakhir mereka dengan Sang Mesias !

Simeon dan Hana, 2 orang yang sangat saleh. Mereka hidup untuk Tuhan bahkan mereka sudah di janjikan tidak akan meninggal sebelum melihat Sang Mesias. Saat mereka berdua berjumpa terahir dengan Bayi Yesus, mereka sangat bersuka cita, bahkan lebih dari itu mereka tahu bahwa itulah saat mereka mengakhiri masanya didunia. Mereka juga menubuatkan bahwa keselamatan telah datang bagi orang Israel. Perjumpaan mereka dengan Sang Mesias  membuat mereka berdua mengakhirinya dengan gemilang.

Ditengah tekanan dunia yang makin berat, pekerjaan dan problematika hidup
yang menghimpit, perjumpaan pribadi dengan  Sang Mesias merupakan satu-
satunya jalan menggapai kemaksimalan hidup. Jangan tunggu hingga moment itu menjadi moment terakhir.  Jadikan momen itu faktual bagi kita dimasa kini. Sebab penyelamatan daripada-Nya adalah inti dari berita Natal. (AL)
Refleksi :
Satu-satunya momen paling berkesan adalah perjumpaan pribadi dengan Sang Mesias

KONTRIBUSI YANG EXCELLENT

”Kata Maria :’sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.’ Lalu malaikat itu meninggalkan dia” (Lukas 1:38)

 Jika diminta mendeskripsikan tentang natal, seringkali banyak orang hanya menceritakan mengenai inkarnasi Allah menjadi manusia dalam Yesus Kristus. Padahal kisah ini belumlah lengkap karena peristiwa inkarnasi itu bisa juga berlangsung karena adanya peran dari 2 orang yang menerima penyataan Tuhan dan bersedia dipakai sebagai alat Tuhan apapun konsekuensinya, yakni:  Yusuf dan Maria.

Coba bayangkan, betapa besar harga yang harus dibayar oleh pasangan ini saat mereka memilih taat dan turut ambil bagian dalam peristiwa ini. Yusuf dan Maria berpotensi dikucilkan masyarakat hingga ancaman hukuman mati dengan dirajam batu karena ”hamil diluar nikah” sesuai tuntutan hukum yang berlaku saat itu. Yusuf dan Maria tahu hidup mereka telah berubah sejak saat itu. Hidup mereka berubah tidak lebih baik. Tetapi apapun resikonya, mereka berdua tahu bahwa berkontribusi bagi pekerjaan Tuhan jauh lebih bernilai dari apapun didunia ini. Kata ”hamba” dalam teks ini menunjuk kepada seorang yang memperoleh kebebasan namun memilih mengikatkan dirinya menjadi pelayan orang lain. Maria dan Yusuf bisa berkata ”Tidak” tapi akhirnya mereka tetap berkata ”Ya”.

Berkontribusi bagi pekerjaan Tuhan selalu mendatangkan resiko. Pilihannya selalu tidak populer. Pilihan  tetap ditangan kita. Sudah banyak tokoh yang memilih jalan ini : Martin Luther dengan 95 dalilnya penuh resiko di hukum mati tapi ia tetap memilih ”ya” hasilnya kita bisa menikmati reformasi gereja saat ini, William Wilberforce yang berjuang bagi UU Anti Perbudakan di Inggris, sepanjang hidupnya dicela orang tapi tetap bertahan hingga akhirnya perjuangannya berhasil 3 hari sebelum ia meninggal dunia. Mgr. Albertus Ssoegijapranata, Uskup Agung Semarang yang mendukung perjuangan melawan Belanda dengan resiko ditangkap dan diasingkan tapi tetap bertahan. Sepanjang hidup kita bisa memilih berada dalam lingkaran kontribusi bagi pekerjaan Tuhan atau tidak. Namun tetaplah lebih mulia jika kita memilih berkata ”sesungguhnya aku  ini adalah hamba Tuhan;  jadilah padaku  sesuai perkataanmu itu.” (AL)
Refleksi :
Kontribusi Excellent dalam Pekerjaan Tuhan bukanlah paksaan. Pilihan selalu ditangan kita.

SELAMAT DARI DOSA

Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena “Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (Matius 1:21)

Di indonesia ada “regu penyelamat” yang dikenal dengan badan anggota Search and Rescue (SAR), SAR ini diartikan sebagai usaha dan kegiatan kemanusiaan untuk mencari dan memberikan pertolongan. Tugas mereka adalah menyelamatkan atau menolong orang yang mengalami kecelakaan atau bencana. Misalnya, menolong orang yang sedang terjebak dalam gedung yang runtuh, mencari dan menyelamatkan orang yang tersesat di hutan, mencari kapal dan atau pesawat terbang yang mengalami kecelakaan. Dalam menjalankan misinya tim SAR siap mengorbankan waktu, tenaga dan dirinya sebagai bagian tugas dan tanggung jawabnya.

Manusia hidup dalam kuasa dosa dan akan binasa, manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya dari hukuman dosa, Janji Tuhan kepada umatNya adalah menyelamatkan dari dosa. Sebuah janji yang digenapi dengan kelahiran Yesus Kristus di dunia. Kata “Dialah”  bermakna “hanya Dia dan tidak ada pribadi lain yang bisa.” Artinya, hanya Yesus satu-satunya Juruselamat dari Allah yang mampu membebaskan umat manusia
dari masalah terbesar manusia, yaitu masalah dosa. Jadi menyelamatkan umatNya dari dosa bukan sebuah bayangan, tetapi bukti dari penggenapan janji Tuhan. Kedatangan Sang juruselamat adalah untuk menghancurkan dan membinasakan perbuatan Iblis. Allah menyelamatkan umatNya dari hukuman dosa, menyelamatkan dari keberadaan dosa.

Pengharapan akan kehidupan yang baik tidak akan bisa tercapai tanpa kelahiran Sang Juruselamat. Kita bersyukur Kristus memberikan jaminan dan pengharapan yang sejati. KedatanganNya menyelamatkan dari dosa, karena upah dosa adalah maut. Kita sebagai orang berdosa layak menerima kematian kekal tetapi anugrah dalam Yesus yang membebaskan kita dari hukuman dosa. Keselamatan dari hukuman maut merupakan hadiah terbesar yang diberikan Allah melalui kedatangan Kristus ke dunia. Tidak ada kata atau ucapan yang bisa mengungkapkan anugrah keselamatan yang Tuhan berikan bagi kita. (RZA)
Refleksi :
Keselamatan manusia dari dosa hanya melalui kedatangan Yesus Kristus.

MENYAMBUT SANG MESIAS

Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. (Matius 2:10-11)

Natal di bulan Desember bukan hanya dirayakan oleh umat Kristen, banyak mall, kantor – kantor atau instansi pemerintah dan swasta  merayakan natal dengan menghiasi atau mendekorasi ruangan dengan pernak- pernik hiasan natal. Bagi umat Kristiani Perayaan Natal  bukan hanya sekedar mendekorasi rumah atau ruangannya dengan hiasan natal tetapi merupakan moment yang penting karena Kristus telah lahir ke dunia untuk manusia berdosa. 

Dalam perikop ini, kita dapat belajar dari sikap orang Majus yang mendengar kabar tentang kelahiran Sang Mesias  yaitu Yesus. Mereka datang dari tempat yang jauh untuk mencari Yesus dengan tujuan yang jelas yaitu mempersembahkan  hadiah yang terbaik. Mereka masuk ke dalam rumah dan mempersembahkan persembahan berupa emas, kemenyan dan mur. Sebuah bentuk penghormatan dan penyembahan
kepada Sang Mesias yang lahir ke dunia. Sikap orang majus ini menunjukkan bahwa kelahiran Mesias adalah peristiwa yang sangat penting bagi kehidupan manusia, maka Mesias Sang penyelamat layak untuk menerima sujud sembah.

Tepat pada hari ini setiap umat kristiani merayakan hari kelahiran Yesus Kristus dan dunia pun mengakui akan kedatangan Tuhan ke dalam dunia. Bagaimana dengan kita hari ini, apakah kita menyambut Kristus dengan hati yang penuh hormat dan penyembahan kepada-Nya dengan memberikan persembahan terbaik yang kita miliki? Seperti halnya orang majus memberi yang terbaik dan berharga. Tidak ada alasan,  untuk kita tidak memberikan yang terbaik kepada Tuhan yang telah rela datang ke dunia untuk membawa pembaharuan bagi setiap orang yang menyambutNya. (RZA)
Refleksi :
Sambutlah kelahiranNya dengan persembahan yang terbaik.

TAAT KARENA IMAN

“Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya.” (Matius 1:24)

Adalah suatu tindakan yang bodoh  jika seseorang melakukan atau menurut perintah orang yang tidak dikenal dan dengan alasan yang tidak masuk akal. Seseorang lebih bisa menerima atau melakukan  tugas dari atasan atau bosnya, situasi seperti sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.  Seorang pelayan dalam melakukan tugas atau perintah diperlukan ketaatan, tanggung jawab, dan kerelaan atau ketulusan hati tanpa memikirkan keuntungan bagi dirinya sendiri.

Dalam nats hari ini dikisahkan Yusuf bangun dari tidurnya, seorang malaikat Tuhan menampakkan diri kepadaNya. Dalam ayat 20 malaikat Tuhan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.” Sebuah pengalaman rohani yang tidak pernah diduga dan mungkin tidak diinginkan. Tetapi Tuhan memberikan kepercayaan yang besar untuk Yusuf tetap menikahi Maria tunangannya. Sebagai
orang yang normal ada alasan untuk Yusuf menceraikan calon isterinya karena Maria sudah mengandung. Yusuf dengan ketaatan dalam iman ia berani mengambil keputusan untuk mengambil Maria sebagai isterinya. Sebuah keputusan yang berani dan siap dengan berbagai macam cemooh, hinaan dari orang-orang di sekitarnya. Yusuf taat akan perintah Tuhan dengan menikahi Maria tetapi ia tidak bersetubuh dengan Maria sampai ia melahirkan Yesus.

Sebagai umat yang merayakan natal, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bertindak seperti Yusuf. Ia mau taat kepada perintah Tuhan, ia tidak memberikan argumentasi dalam melakukan perintah Tuhan. Dengan berbagai pilihan hidup, kita diberikan banyak kepercayaan dalam tugas dan tanggung jawab. Adakah sikap keragu-raguan jika Tuhan memerintah kita untuk melakukan suatu tindakan yang mungkin tidak masuk akal? Tindakan yang akan berdampak besar bagi orang lain. Keberanian melangkah dalam ketaatan  iman kepada Tuhan sangatlah penting dan bukti bagi umat yang mengasihi Tuhan. (RZA)
Refleksi :
Belajar menurut perintah Tuhan adalah wujud iman.

ADAKAH TEMPAT BAGI YESUS

Dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan  , karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.(Lukas 2:7)

Memasuki hari-hari libur khususnya menjelang natal dan tahun baru
beberapa  tempat wisata atau rekreasi menjadi penuh karena banyak orang menikmati masa liburan bersama keluarga, teman maupun sahabat. Suasana liburan yang panjang menjadi kesempatan orang-orang untuk menyediakan waktu dan mencari tempat untuk acara kebersamaan. Tidak kecuali pengalaman penulis dengan keluarga yang menikmati liburan dengan merasakan kepadatan dan keramaian tempat-tempat rekreasi.

Lukas menjelaskan (ayat 3-5) di zaman itulah Yusuf dan tunangannya Maria yang sedang hamil pergi dari Nazaret di Galilea ke kota Daud yaitu Betlehem. Ketika Yusuf dan Maria tiba di Betlehem tibalah waktunya Maria untuk bersalin. Sementara kota  telah penuh sesak sehingga tidak ada ruangan bagi Yusus dan Maria.  Ada tempat penginapan bagi para musafir tempat semacam kandang. Di tempat seperti inilah Maria melahirkan anaknya. Peristiwa bersejarah yaitu kehadiran Allah sebagai manusia sejati untuk menyelamatkan manusia. Dia menyatakan diriNya sebagai Allah yang berinkarnasi di dalam diri Yesus Kristus, yang lahir di kandang domba di
kota Betlehem. Dia datang untuk membebaskan Manusia dari belenggu dosa. Karya Allah yang luar biasa itu diwujudkan dalam peristiwa kelahiran Yesus yang penuh dengan kerendahan, yang rela lahir sebagai manusia biasa.

Kelahiran Yesus dengan penuh kerendahan yaitu ditempatkan dalam palungan, bukan dengan kemegahan atau tempat yang mulia. Sebagaimana Kristus telah mengambil rupa sebagai seorang hamba, dan taat sampai mati bahkan mati di kayu salib. Adakah tempat yang sudah kita berikan untuk Kristus yang datang ke dunia? KasihNya yang besar sudah kita terima, apakah respon kita atas kedatanganNya? Adakah perubahan sikap, perilaku kita dalam kehidupan ini? (RZA)
Refleksi :
Milikilah hati yang mau menerima kedatangan Kristus

TAKING OR GIVING (MENERIMA ATAU MEMBERI)

Kata Maria: Sesungguhnya aku  ini adalah hamba Tuhan;  jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu mailakat itu meninggalkan dia. (Lukas 1:38)

Natal merupakan momen yang ditunggu-tunggu, terutama bagi anak-anak. Mereka sangat senang sekali karena mereka membayangkan jika natal tiba mereka akan memperoleh hadiah natal. Natal bagi anak-anak adalah semua orang yang mencintai akan memberi dan sayalah  yang menerima. Biasanya anak-anak akan memperoleh hadiah lebih dari satu. Tradisi ini juga bisa  berlaku bukan hanya untuk anak-anak saja, banyak orang dewasa pun berpikir apakah  yang saya terima di hari natal ini dari orang – orang yang saya cintai?

Nas hari ini menyatakan jawaban Maria kepada mailakat yang berjumpa dengan dirinya.  Malaikat Tuhan saat menyampaikan kabar berita bahwa Maria akan beroleh kasih karunia di hadapan Allah akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan diberi nama Yesus. Maria tidak menyangka Tuhan mau memakai dirinya. Ketika Malaikat berkata bagi Allah tidak ada yang mustahil (ay 37), Maria menjawab: jadilah padaku menurut perkataanmu. Kata jadilah   (Bahasa asli) mengungkapkan harapan. A wish artinya keluar dari hatinya yang paling dalam. Itulah semangat Maria semangat untuk memberi. Memberi diri sebulat-bulatnya ke dalam tangan dan kehendak Tuhan. Memberi kandungannya untuk didiami dan menjadi tempat bersemayam Sang Janin Kudus. Maria sadar bahwa dirinya hamba Tuhan dan hasrat hamba sejati hanya hanya menyenangkan tuannya.

Natal adalah moment dimana kita boleh bersyukur atas kelahiran Kristus, mari kita merayakan natal tahun ini dengan semangat memberi diri, ketika gereja membutuhkan dana, tenaga, pikiran atau ketika teman/saudara membutuhkan pertolongan. Memberi bukan besar kecilnya bentuk pemberian tetapi motivasi dan ketulusan  kepada Tuhan yang telah datang untuk menyelamatkan hidup kita. Maria mau memberikan dirinya untuk dipakai oleh Allah, apakah kita juga rindu untuk dipakai oleh Tuhan? Segala yang kita miliki yaitu: waktu, tenaga, pikiran, uang dan seluruh kemampuan kita untuk kemuliaan nama Tuhan. Maria tidak memberontak terhadap Tuhan, tetapi ia dengan tulus hati dan taat menjalankan perintah Tuhan.Biarlah Natal (kado Allah bagi manusia) menyadarkan kita yang telah menerimaNya untuk tidak tinggal diam, tetapi berbuat sesuatu bagi orang lain dan untuk kemuliaan Tuhan. (RZA)
Refleksi :
 Natal sebuah moment yang tepat untuk kita memberi hadiah kepada orang yang  dicintai