SUKACITA NATAL

Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. (Matius 2:10)

Sore itu anak kedua saya menunjukkan ekspresi kebingungan. Melihat ekspresi wajahnya saya menyimpulkan pasti ada sesuatu yang dia cari. Di tengah kebingungannya saya bertanya,  mengapa kamu seperti orang bingung?  ia menjawab, papa aku sedang mencari kartu games masterku yang hilang atau terselip dengan barang yang lain. Dalam pencariannya tiba-tiba dia berteriak kegirangan dengan muka berseri-seri, horeeee….kartuku sudah ditemukan. Ekspresi kebahagiaan, sukacita bisa dilihat ketika kita mendapatkan atau menemukan sesuatu yang kita nilai istimewa atau berarti. Hal ini juga yang dialami oleh orang majus.

Dalam nas hari ini dikatakan sangat bersukacitalah mereka, kata “bersukacitalah” menunjukkan pada situasi hati yang dipenuhi dengan  kepuasan dan kegembiraan yang melimpah. Saat orang  majus  mencari raja Yahudi yang baru dilahirkan dengan melihat bintangNya di Timur, mereka merasakan sukacita. Sukacita mereka menjadi penuh karena menemukan tempat kelahiran Sang Mesia. Mereka datang sujud menyembah Sang Mesias. Kendala dan kesulitan dalam pencarian bintangNya di timur melalui padang pasir tidak menghalangi kerinduan besar mereka untuk melihat
dan menyembah Sang Mesias Juruselamat dunia.

Bagaimana dengan kita, apakah kita merasakan sukacita seperti yang dialami oleh orang majus? Sukacita bukan karena situasi dan kondisi mendapat materi yang banyak dan keadaan nyaman. Sukacita yang dirasakan orang majus adalah sukacita karena apa yang selama ini mereka cari didapatkan;  sesuatu yang berharga dan memiliki arti besar bagi umat manusia yang berdosa. Sukacita  dalam hati karena kelahiran Sang Mesias yang menyelamatkan manusia yang berdosa. Mari kita rayakan Natal dengan sukacita yang melimpah sebagai bentuk syukur karena Sang Mesias sudah datang ke dunia untuk menyelamatkan umatNya. (RZA)
Refleksi :
Perjumpaan dengan Kristus membawa sukacita penuh.

IMANUEL

“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” – yang berarti: Allah menyertai kita.(Matius 1:23)

Nama adalah bagian identitas yang dianggap penting. Bulan Mei yang lalu adik perempuan saya melahirkan seorang anak laki-laki. Saat menunggu kelahiran anaknya dia berusaha mempersiapkan nama yang memiliki arti atau bermakna baik. Nama Imanuel dalam nats di atas berarti Allah menyertai kita. Sebuah arti nama singkat tetapi memiliki makna yang dalam dan luar biasa. Nama Imanuel diberikan kepada Yesus bukan tanpa alasan tapi memiliki arti dan makna sesuai dengan tujuan Bapa yaitu Allah hadir dalam kehidupan manusia dan menyertai umatNya sampai selama-lamanya.

Nas hari ini merupakan penggenapan nubuat nabi Yesaya bahwa Tuhan akan memberikan suatu pertanda; seorang perempuan muda yang mengandung dan melahirkan anak laki-laki dan menamakan Imanuel. Arti Imanuel, Tuhan Allah beserta kita membuktikan bahwa Allah bersama dalam kehidupan kita baik ketika bekerja, belajar, berkarya bahkan pada saat kita mengalami pencobaan dan penderitaan. KedatanganNya ke dunia menyatakan kerendahan diri Allah untuk menyelamatkan
manusia. Allah bukan lagi Allah yang jauh, tetapi melalui Yesus, Dia adalah Allah yang dekat. Allah yang mendengarkan doa dan yang tahu kebutuhan hidup kita. Allah menyertai kita menyatakan bahwa Allah selalu siap untuk menghibur, melindungi dan membela kita dalam berbagai macam pergumulan. Tidak ada alasan apapun yang membuat kita menjadi takut menghadapi berbagai macam masalah yang akan terjadi. Sekalipun masalah datang menimpa kehidupan kita, janji Tuhan tetap akan menyertai.

Kita patut bersyukur menjadi umat yang menerima janji Tuhan yaitu Imanuel, bahwa Allah menyertai kita sampai saat ini. Tidak ada sesuatu hal yang bisa menghentikan janji Tuhan dan tidak ada yang bisa membatasinya. Kehadiran Allah dalam setiap pergumulan kita membuktikan bahwa DIA adalah IMANUELSampai hari ini secara pribadi maupun lembaga, Universitas Kristen Maranatha menikmati penyertaan Tuhan. Janji Allah dan penyertaan Allah akan terus kita alami sampai Maranatha. (RZA)
Refleksi :
Nikmatilah  janji penyertaan Tuhan dalam kehidupan ini.

KECIL TAPI MENJADI BERKAT

“Tetapi engkau, hai Betlehem   Efrata,   hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah  Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala,  sejak dahulu kala.” (Mikha 5:1 )

Kita sering mendengar ungkapan  ”Kecil-kecil cabe rawit” yang artinya biarpun kecil tapi pemberani, kecil tapi ampuh. Ada banyak orang kurang menghargai yang kecil. Padahal sesuatu yang kecil bisa berdampak besar 

Mikha 5:1 dengan jelas sekali nabi Mikha yang diilhami oleh Allah menubuatkan bahwa Mesias akan lahir di Betlehem tempat kelahiran Daud (1 Samuel 16:1-13). Lebih kurang 700 tahun sebelum Mesias lahir di Betlehem telah dinubuatkan oleh Mikha bahwa Raja yang diurapi itu akan lahir di kota yang kecil itu. Meskipun kota Betlehem begitu kecil tetapi pengharapan seluruh bangsa Israel bahkan seluruh dunia adalah Betlehem, yang lama tidak diperhitungkan orang namun Allah akan
meninggikan Betlehem sama dengan meninggikan bukit Zion dan Yerusalem (Mikha 4:8), karena Mesias akan lahir di Betlehem. Nats ini merupakan teks yang terkenal dari Perjanjian Lama dalam hubungannya dengan kelahiran Yesus. Efrata adalah nama marga bangsa yang tinggal di wilayah Betlehem. Betlehem yang kecil, berbeda dengan Yerusalem dengan bangunan-bangunan yang megah (Mika 3 : 10). Raja yang
datang dari Betlehem itu akan memerintah dengan kekuatan dan kuasa yang datang dari Allah. Dan dibawah kuasaNya rakyat akan hidup dengan senang dan damai. Dari kota kecil yang pengharapannya hampir sirna inilah kemudian muncul pemimpin besar, pemimpin yang pemerintahannya jauh melampaui batas-batas wilayah Israel dan Yehuda.

Kita diajak untuk tidak mengabaikan “yang terkecil”, dan untuk tidak terjebak dalam semacam sindrom minoritas. Melalui kelahiran Yesus di Betlehem, Allah merombak cara pandang dan sikap manusia, untuk tidak meremehkan hal-hal yang kecil. Kehidupan ini tidak terletak di dalam kecil atau besar, tetapi di tangan siapa yang kecil dan besar itu berada. Dan kita percaya bahwa hidup kita, entah kecil atau besar, berada dalam naungan kasih Kristus, sang Pemimpin Besar kita yang muncul dari kota kecil Betlehem Efrata. Ternyata, kebesaran itu tidaklah terletak pada parameter
manusia seperti keadaan geografis, jumlah penduduk, kekuatan militer, melainkan pada kuasa dan campur tangan Allah sendiri. Sesuatu yang tidak penting, kurang berarti, kurang diperhitungkan dibandingkan dengan yang lain dalam penilaian manusia dapat dijadikan Allah sebagai sesuatu yang penting, dan bahkan menjadi sumber sukacita dan damai sejahtera.(RCM)

Refleksi :
 Jangan mengabaikan yang kecil

PERTANDA DARI TUHAN

“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda:   Sesungguhnya, seorang perempuan muda   mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki,  dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yesaya 7:14 )

Dalam mencari kehendak Tuhan, sering kita meminta tanda dari-Nya.
Masalahnya, tidaklah mudah bagi kita membaca tanda-tanda-Nya. Kita
cenderung membaca tanda sesuai dengan keinginan kita. Kita meminta suatu tanda dari Tuhan, mungkin karena kita ingin peneguhan dari Tuhan bahwa kita harus melakukan suatu hal. Ketika Tuhan memberikan tanda dari surga kepada seseorang, itu bukanlah suatu kebetulan belaka, melainkan pasti ada maksud Tuhan bagi orang tersebut.

Kelahiran Yesus dari seorang perawan telah dinubuatkan oleh Yesaya ± 700 tahun sebelum Yesus lahir. Seorang perawan (Maria) mengandung dari Rohkudus dapat kita lihat dalam Matius 1:18-25 dan Lukas 2:1-7. Memang secara akal sehat kita tidak dapat menerima peristiwa ini. Namun kita harus yakin bahwa yang bekerja di sini bukan manusia tetapi Tuhan. Untuk memahami peristiwa ini, kita membutuhkan iman yang teguh dan iman yang murni. Ada banyak orang yang tidak mau menerima peristiwa ini karena ini tidak masuk akal namun mereka lupa bahwa di ayat itu sendiri Tuhan telah berbicara melalui hambanya Yesaya bahwa Tuhan akan memberitakan suatu tanda, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang anak dara mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yesaya 7:14 a).

Kalau kita mau membuka mata hati kita untuk menerima informasi yang datang dari firman Tuhan, kita tidak akan memiliki masalah tentang peristiwa kelahiran Mesias dari seorang perawan. Tetapi jika kita tidak memiliki motif yang benar apa pun yang dikatakan firman Tuhan, kita tetap menolaknya meskipun hal itu begitu sederhana. Dalam pergumulan iman, kadang kita membutuhkan tanda dari Tuhan sebagai jawaban atau tuntunan. Meminta tanda juga membutuhkan hikmat untuk memastikan apakah tanda itu benar-benar dari Tuhan. Apakah ada di antara kita
yang pernah atau sedang meminta tanda dari Tuhan? Tidak salah memang meminta tanda dari Tuhan, akan tetapi akan jauh lebih baik apabila hidup kita dan iman kita tidak didasari hanya berdasarkan tanda semata. Iman itu secara singkat adalah melihat jauh melalui mata rohani, walaupun secara mata jasmani hal tersebut belum terlihat nyata. (RCM)
Refleksi :
Tuhan menyatakan tanda berdasarkan kehendak-Nya

MEMPERSIAPKAN JALAN

“Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.” (Maleaki 3:1 )

Kedatangan orang penting di suatu kota atau wilayah akan dipersiapkan dengan sebaik mungkin. Untuk menyambut kedatangan tokoh penting seringkali mengeluarkan dana yang begitu besar serta butuh persiapan yang cermat. Bahkan berbagai persiapan dilakukan dengan begitu teliti. Tempat-tempat yang akan dilewati dilakukan ‘sterilisasi’ atau pembersihan aneka hambatan dan ancaman yang akan menganggu kedatangan tamu. Persiapan yang baik dan mahal tersebut diadakan dengan harapan peristiwa penting yang akan terjadi tidak bercacat sedikit pun.

Nas hari ini merupakan nubuatan kedatangan Mesias yakni Yesus Kristus. Nubuatan ini disampaikan atau dibuat pada masa sesudah pembuangan, ketika banyak orang Yahudi telah kembali ke tanah air mereka. Waktu itu terjadi kemerosotan rohani, yaitu ketika agama orang Yahudi telah menjadi formalitas semata, dengan kata lain mereka beribadah tetapi mereka melakukan apa yang jahat dimata Tuhan seperti: mempersembahkan binatang cacat (1:6-14), pengajaran yang tidak benar dari para imam (2:1-9), kawin campur dan perceraian (2:10-16), tidak memberikan persembahan persepuluhan (3:6-12), dosa-dosa lain (3:5,13-14). Di saat nabi-nabi tidak lagi menyampaikan nubuatan, Maleakhi kembali menyampaikan nubuat akan datangnya Tuhan. Namunm kedatangan Tuhan akan didahului oleh utusanNya untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Tugas utama utusan adalah mempersiapkan jalan bagi Tuhan, sehingga perjumpaan antara umat dengan Tuhan membawa damai sejahtera. Utusan mempersiapkan agar pertemuan Tuhan dengan umat hendaknya tidak ada pelanggaran, kejahatan, dan kemunafikan. Utusan itu mengecam kemerosotan moral dan formalitas keagamaan yang kosong, dengan demikian mempersiapkan jalan dan menyerukan pertobatan.

Jika dalam rangka menyambut kedatangan orang saja begitu cermat, teliti dan kerja keras, kiranya sebagai orang beriman selayaknya kita lebih cermat, teliti dan bekerja keras dalam rangka menyambut kedatangan Yesus, Tuhan kita,  Penyelamat Dunia. Maka baiklah kita siap-siaga dalam menyambut kedatangan   Yesus, Tuhan dan Penyelamat Dunia, antara lain dengan mengusahakan diri dalam keadaan ‘tak bercacat dan kudus’. (RCM)

Refleksi :
Persiapkanlah hati yang bersih untuk menyambut kedatangan Kristus

PENANTIAN DENGAN PENUH HARAPAN

“Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian   bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu,  dan Aku akan mengokohkan kerajaannya.Dialah yang akan mendirikan rumah   bagi nama-Ku   dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya.” (2 Samuel 7:12-13 )

Cukup banyak orang beranggapan bahwa menanti adalah sikap pasif yang sama dengan membuang waktu. Pemahaman demikian mungkin disebabkan oleh budaya kita yang cenderung mengukur segala sesuatu berdasarkan hasil yang tampak. Hendri J.M. Nouwen melalui renungan singkat tentang spiritualitas penantian, memberikan dua arti penantian dalam hidup kita yaitu kita menantikan Allah dan Allah menantikan kita. 

Nas hari ini berisi dua nubuatan yang sering kita sebut sebagai “nubuatan ganda.” Nubuatan pertama ditujukan kepada Salomo yang akan naik tahta menggantikan Daud. Nubuatan kedua adalah Mesias yang menjadi raja selama-lamanya. Bagaimanakah nubatan ini cocok dengan Mesias atau Yesus? Hal inilah yang perlu kita simak. Dalam bahasa Alkitab, bila  Yesus atau Mesias disebut Anak Daud bukan berarti Mesias itu anak kandung Daud. Tetapi Mesias disebut Anak Daud karena Mesias itu lahir dari keturunan Daud. Hal ini dapat kita fahami kalau kita melihat silsilah Yesus dalam kitab Matius 1:1-17. Di sanalah terdapat garis keturunan Daud sampai kepada Mesias melalui Yusuf. Dan kitab Lukas 3:23-38 garis keturunan Daud sampai kepada Mesias melalui Maria. Jadi baik melalui garis keturunan Yusuf maupun melalui garis keturunan Maria, kedua garis keturunan ini berpusat pada Daud melalui Salomo dalam kitab Matius dan dalam kitab Lukas. Penantian orang Yahudi terpenuhi dengan hadirnya Yesus di dunia.
Menanti berarti terpenuhinya janji. Orang yang menanti adalah orang yang
menerima janji. Menanti adalah sikap aktif dan bukan pasif. Menanti secara aktif artinya melakukan segala sesuatu untuk persiapan menerima janji yang sedang dinantikan. Hendri Nouwen mengatakan bahwa menanti adalah sesuatu yang esensi dari kehidupan spiritual. Menanti sebagai seorang yang beriman kepada Allah bukan penantian yang kosong tetapi menanti penggenapan janji Allah. Itu sebabnya perlu persiapan selama masa penantian. Perenungan tentang penantian sangat penting sebagai bagian dari penghayatan iman kita dalam situasi yang tidak menentu saat
ini. (RCM)

Refleksi :
Menantikan penggenapan janji Allah di dalam iman kepada Kristus tidak akan pernah mengecewakan

ESTAFET KEPEMIMPINAN

“Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda  ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.”  (Kejadian 49:10 )

Banyak pemimpin yang gagal mempersiapkan pengganti! Seharusnya setiap pemimpin menyadari bahwa masa kepemimpinannya terbatas. Perlunya regenerasi merupakan suatu keniscayaan (sesuatu yang pasti terjadi). Oleh karena itu, pemimpin yang bijaksana adalah pemimpin yang mempersiapkan pengganti dirinya. Memang, bagi seorang pemimpin, mengerjakan sendiri tugas-tugas kepemimpinan lebih mudah daripada mengajar orang lain untuk melakukan apa yang biasa dilakukannya sendiri. Tidak mudah untuk mencari pemimpin yang memiliki visi dan misi yang sama.

Bapa leluhur menyingkapkan nasib anak-anaknya, yaitu suku-suku yang disebut dengan nama anak-anaknya di masa mendatang. Kedudukan istimewa Yehuda dan penghormatan terhadap keluarga Yusuf (suku Efraim dan Manasye) menunjukkan zaman kemudian ketika suku-suku tersebut bersama-sama memainkan peranan utama dalam kehidupan bangsa Israel sebagai pemimpin. Berkat yang dicurahkan atas Yehuda menunjukkan bahwa dia diberikan hak kesulungan, dan dengan demikian memperoleh berkat yang dijanjikan kepada Abraham. Hakikat janji ini ialah
bahwa Yehuda diberi tahu bahwa keturunannya akan mempunyai kedudukan yang umumnya lebih tinggi dari keturunan saudara-saudaranya “sampai Dia datang yang berhak atasnya”. Sebagian nubuat ini digenapi bahwa keturunan kerajaan Israel adalah keturunan Daud, yaitu keturunan Yehuda. “Dia datang yang berhak atasnya” akhirnya menunjuk kepada Mesias yang akan datang, Yesus Kristus, yang keturunan
suku Yehuda. Yakub bernubuat bahwa semua orang akan tunduk kepada-Nya, dan bahwa Dia akan membawa berkat rohani yang besar. Yesus Kristus akan menjadi seorang pemimpin yang menggantikan pemimpin sebelumnya diantara keturunan Yehuda.

Pada masa kini, setiap institusi perlu mempersiapkan para pemimpin. Bila setiap pemimpin mempersiapkan penggantinya, visi dari para pemimpin tersebut dapat diteruskan oleh sang pengganti. Bila kita hanya “menunggu” Tuhan mengirimkan seorang calon pemimpin, belum tentu bisa ditemukan calon pemimpin yang bersedia dan mampu meneruskan visi dari pemimpin sebelumnya. (RCM)

Refleksi :
Setiap pemimpin harus menyiapkan penerusnya

TUNAS HARAPAN

“Suatu tunas   akan keluar   dari tunggul   Isai,   dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya   akan berbuah.  Roh   TUHAN   akan ada padanya, roh hikmat   dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan,  roh pengenalan dan takut akan TUHAN;” (Yesaya 11:1-2 )

Banyak harapan yang digantungkan kepada Jokowi dan Jusuf Kala sebagai pemimpin baru di negeri ini. Besarnya harapan rakyat menunjukkan bahwa kondisi negeri ini masih jauh dari harapan rakyat. Rakyat menginginkan perubahan dan berharap perubahan itu bisa diwujudkan oleh pemimpin baru. Hasil yang bisa dibayangkan dan diharapkan dari pemerintahan dan kepemimpinan seorang kepala negara paling tidak dipengaruhi oleh dua hal. Pertama: sistem dan aturan yang digunakan untuk memerintah dan memimpin. Kedua: karakter dan
kapasitas personal pemimpin itu.

Yesaya memberikan gambaran yang indah tentang dunia baru masa depan yang diperintah oleh sang Tunas (yaitu, Yesus Kristus). Kata Ibrani netzer (”Tunas”). Yesus disebut sebagai orang Nazaret (Mat 2:23) yang bisa berarti ”orang dari Nazaret” atau ”orang dari Tunas”. Dia akan timbul sebagai Tunas dari tunggul Isai, yaitu ayah Daud dan akan menjadi pemimpin dunia yang dipulihkan kepada kesejahteraan, kebenaran dan kebaikan. Awal penggenapan nubuat ini terjadi 700 tahun kemudian
ketika Yesus Kristus lahir. Teks Alkitab hari ini mengenai pemulihan, mengenai suatu awal yang baru. Begitu indah kedengarannya: permulaan yang baru. Paling tidak ada tiga macam pemulihan yang dijanjikan oleh Allah, yang semuanya berkaitan dengan pemulihan hubungan. Setelah kehancuran, akan muncul sebuah tunas baru dari tunggul sebuah pohon. Tunas itu adalah keturunan Daud, seorang pemimpin yang akan menjadi wakil Allah yang setia di bumi. Pemulihan pertama adalah pemulihan
hubungan antara manusia dengan Allah Hal ini dinyatakan dengan seorang pemimpin manusia yang menaati Allah, yang digerakkan oleh Roh Allah. Ia tidak dapat melaksanakan tugasnya bila Roh Allah tidak menyertainya. Roh itulah yang memberikannya kemampuan dan ketaatan untuk menjadi seorang pemimpin yang berkenan di hadapan Allah, memulihkan masalah hukum dan keadilan.

Apa yang menjadi harapan kita ketika berada di Universitas Kristen Maranatha baik sebagai mahasiswa, tenaga kependidikan, tenaga pendidik, pejabat strukturan, atau organ yayasan? Harapan dapat terwujud jika kita bersama-sama berkontribusi di dalamnya. (RCM)
Refleksi :
Selalu ada harapan jika kita memandang Kristus.

PEMIMPIN SEJATI

“Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas  adil  bagi Daud. Ia akan memerintah  sebagai raja  yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran  di negeri” (Yeremia 23:5 )

Presiden pertama Republik Indonesia yang lebih akrab di panggil Bung Karno sangat disegani oleh para pemimpin negara-negara di dunia pada waktu itu. Gaya kepemimpinan yg diterapkan oleh Ir. Soekarno berorientasi pada moral dan etika ideologi yang mendasari negara atau partai, sehingga sangat konsisten dan sangat fanatik, cocok diterapkan pada era tersebut. Sifat kepemimpinan yang juga menonjol dari Ir. Soekarno adalah percaya diri yang kuat, penuh daya tarik, penuh inisiatif dan  inovatif serta kaya akan ide dan gagasan baru. Pada puncak kepemimpinannya, Bung Karno pernah menjadi panutan dan sumber inspirasi pergerakan kemerdekaan dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta pergerakan melepas ketergantungan dari negara-negara barat (Amerika dan Eropa).

Nas hari ini mengungkapkan bahwa tunas (yaitu keturunan raja) Daud dipotong ketika Allah membinasakan kerajaan Daud pada tahun 586 SM.  Tetapi, Allah berjanji untuk membangkitkan seorang raja dari keturunan Daud yang akan menjadi Tunas adil; raja ini akhirnya dan sepenuhnya akan melakukan apa yang benar dan adil. Nubuat ini menunjuk kepada Mesias, Yesus Kristus. Allah tidak dapat lagi mempercayai para pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Ia sendiri yang akan turun tangan untuk
mengumpulkan kambing domba yang sudah tercerai-berai dan memimpin mereka kembali ke padang. Kemudian Allah juga akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang baru demi pembaharuan hidup kambing domba-Nya. Tindakan Allah tidak berhenti sampai di sini. Suatu hari Ia akan mengganti para pemimpin yang korup dengan seseorang yang berasal dari keturunan Daud, seorang raja bijaksana yang akan melakukan keadilan dan kebenaran dan akan memberikan keselamatan dan
ketentraman kepada Yehuda yang sudah dipulihkan dan diperbaharui. Juruselamat itu adalah Yesus Kristus. Sebagai Raja, Imam, dan Nabi, Kualitas yang dituntut dari seseorang yang akan menjadi pemimpin – sebuah ciri dari seorang pemimpin sejati, yaitu selalu siap untuk melayani yang lain walaupun harus mengalami kerugian maupun penderitaan. 

Universitas Kristen Maranatha sebagai sebuah institusi memerlukan pemimpin yang mendedikasikan dirinya untuk dunia pendidikan dan melayani sepenuh hati, bukan yang mencari kepentingan sendiri. (RCM)
Refleksi :
Pemimpin sejati adalah pemimpin yang hidup seturut kehendak Allah

SPIRITUALITAS MARIA DAN YUSUF

“Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hatinya dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.  Kata Maria:  ‘Sesungguhnya aku  ini adalah hamba Tuhan;  jadilah padaku menurut perkataanmu itu.’  Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.”

(Matius 1:19,  Lukas 1:38)

Yusuf dan Maria sama-sama dari keluarga sederhana baik dalam status sosial ekonomi maupun dalam pendidikan. Di dalam kesederhanaan itulah Allah mempercayakan tanggungjawab besar kepada mereka.  Mereka dipercaya oleh Allah menjadi orang tua yang melahirkan dan mendidik Yesus sampai pada saatnya Dia melayani.

Ada beberapa pelajaran iman yang dapat kita ambil dari seorang Yusuf dan Maria. Pertama: Yusuf dan Maria berani menanggung resiko besar dengan kesediaannya mengandung bayi dari Roh Kudus;  Yusuf bersedia menjadi suami bagi Maria dan menjadi ayah bagi Yesus. Berani menanggung resiko dari apa yang tidak pernah mereka lakukan. Mereka siap jika masyarakat mengusir dan mencemooh mereka.

Kedua, Yusuf seorang laki-laki yang dengan tulus hati dan baik hati. Bukti bahwa ia tulus hati dan baik hati dapat dilihat melalui niatnya  untuk memutuskan hubungannya dengan Maria secara diam-diam. Yusuf ingin menjaga nama baik Maria dan keluarganya. Ia tidak menunjukkan sikap emosi, marah atau menuduh Maria selingkuh dengan laki-laki lain. Ia tetap menghargai Maria sebagai seorang wanita dengan segala permasalahannya.  Ia lakukan semua itu dengan niat baik dan tulus tanpa ada tekanan atau motif keuntungan pribadi.

Ketiga, Yusuf dan Maria sama-sama memiliki hati yang taat kepada Tuhan.  Ketika Malaikat Allah menjumpai mereka dan menyampaikan rencana Allah melalui mereka, mereka taat. Maria berkata: “Sesungguhnya aku adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Demikian pula dengan Yusuf, ia tidak jadi menceraikan Maria, dan memilih taat kepada Tuhan, mengambil Maria sebagai  isterinya. Menempatkan posisi sebagai hamba, yang berarti siap melakukan dan taat kepada perintah tuannya.  Mereka sadar ada harga yang harus mereka tanggung dari sebuah ketaatan, namun demikian mereka tetap memilih untuk taat kepada rencana dan kehendak Allah. (RS)

Refleksi:
Segala sesuatu yang kita lakukan, lakukanlah dengan hati yang tulus dan lakukan semua itu seperti untuk Tuhan.