HIDUP KITA MENCERMINKAN HATI KITA

“ Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.” (Amsal 27:19 )

Tidak mudah bagi seseorang untuk mengevaluasi diri sendiri karena menyangkut kejujuran, yang merupakan unsur utama dalam melakukan evaluasi. Kendala terbesar yang menjadi penghalang ketika seseorang melakukan evaluasi diri adalah adanya keakuan yang besar, kesombongan diri, kemunafikan atau keengganan untuk berubah. Tidak banyak orang yang mau mengevaluasi diri tentang kondisi hatinya, karena hal ini membutuhkan kerendahan hatinya. Seringkali kita berpura-pura dan berusaha menutup-nutupi hati kita dengan berbagai upaya agar orang lain tidak tahu yang sebenarnya. Ingat!  “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tapi Tuhan melihat hati.” (1 Samuel 16:7b). Mari kita belajar dari hidup Daud yang tidak pernah berhenti memohon kepada Tuhan agar Ia senantiasa menyelidiki hatinya. Seru Daud, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;” (Mazmur 139:23).

Manusia mengenal wajahnya dengan menatap cermin (air); begitu pula ia mengenal dirinya dengan menatap (menyelidiki) batinnya sendiri. Tetapi ayat ini juga dapat diterjemahkan seperti orang menemukan roman mukanya sendiri dalam cermin (air), demikian ia menemukan isi hatinya sendiri dalam hati orang lain (dengan meletakkannya di situ). Apa yang ada di hati seseorang akan tercermin melalui perilaku kesehariannya.

Hati dapat menimbulkan berbagai masalah dalam kehidupan karena segala tindakan kita berasal dari pikiran, termasuk di dalamnya perbuatan dosa. Apakah kita telah menggunakan pikiran kita secara efektif dan benar? Apakah kita sedang memikirkan kejelekan orang lain? Ataukah kita sedang merancang kejahatan di dalam hati kita? Sudahkah kita melakukan nasihat Paulus: “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” (Kolose 3:2)? Hati kita ibarat sehelai kanvas yang akan terbentuk coraknya sesuai cat yang disapukan ke atasnya. Impian dan keinginan hati manusia ibarat catnya dan apabila kita menyapukan kuas iman dan mulai mengecat di atas kanvas hati kita, terwujudlah apa yang Tuhan nyatakan bagi kita melalui iman dan tindakan kita. (RCM)
Refleksi :
Apa yang ada di hati tercermin melalui kehidupan kita

PIKIRKAN PERKARA DI ATAS

 “ Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi..” (Kolose 3:2)

Perkara di atas (rohani) adalah perkara-perkara yang mendasar bagi kehidupan di dunia ini. Misal, kalau kita menyadari bahwa roh kita kekal dan satu hari kelak kita harus mempertanggungjawabkan kehidupan kita kepada Tuhan, maka kesadaran itu akan mempengaruhi cara hidup, gaya hidup, tingkah laku, perkataan, dan pikiran kita. Hidup kita ada bersama Kristus di sorga maka kita harus memikirkan perkara yang di atas dan membiarkan sikap kita ditentukan olehnya. Kita harus menilai, mempertimbangkan, dan memikirkan segala sesuatu dari sudut
pandangan kekekalan dan sorga. Tujuan dan sasaran kita hendaknya mencari hal-hal rohani, melawan dosa, dan mengenakan watak Kristus. Semua sifat baik, kuasa, mengalaman, dan berkat rohani ada bersama Kristus di sorga. Ia memberikan hal-hal itu kepada sekalian orang yang dengan sungguh-sungguh meminta, dengan tekun mencari dan terus-menerus mengetok
Paulus berkata, karena kita sudah dibangkitkan bersama Kristus, kita harus memikirkan perkara-perkara di atas. Kita sudah disatukan dengan Kristus bersama kematian-Nya, maka pikiran dan hati kita harus disesuaikan dengan pikiran dan hati Kristus. Di sini ada proses identifikasi diri dengan Kristus. Hidup kita hanya untuk menyenangkan hati Allah, dan melakukan kehendak Allah, yaitu hal-hal yang mulia dan bernilai kekal. Identifikasi diri dengan Kristus harus mewujud dalam transformasi
hidup. Yaitu, perubahan hidup dari hidup duniawi — semua perbuatan hawa nafsu yang mendatangkan murka Allah, dan semua karakter berdosa yang tidak pantas dilakukan oleh orang kudus — menjadi hidup baru, yang rohani, yang terus menerus diperbaharui semakin menyerupai gambar Allah. Dunia modern semakin menawarkan kegemerlapan dunia malam yang penuh dengan pelampiasan hawa nafsu yang menjijikkan.

Anak Tuhan harus melakukan proses identifikasi diri dengan Kristus terus menerus dengan cara berdoa dan membaca firman. Hidup kita juga harus ditransformasi terus menerus, dengan menolak melakukan berbagai perbuatan jahat dan digantikan terus menerus dengan perbuatan baik. Meningkatkan kualitas waktu teduh saya, dan mempraktikkan hidup yang kudus, yang berkualitas, dan menjadi berkat bagi sesama. (RCM)
Refleksi :
Hidup anak-anak Allah adalah hidup yang difokuskan untuk perkara di atas

INTROSPEKSI DIRI

“Ujilah dirimu sendiri,  apakah kamu tetap tegak di dalam iman . Selidikilah dirimu!   Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu?   Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” (2 Korintus 13:5)

Kita memiliki kecenderungan merasa lebih pandai untuk menilai orang lain
ketimbang memeriksa diri sendiri. Oleh karena itulah kita harus benar-benar menjaga diri kita untuk tidak terjebak kepada perilaku seperti ini. Hal ini sungguh penting. Kita seharusnya lebih memprioritaskan untuk menyelidiki diri kita sendiri terlebih dahulu ketimbang menilai orang lain. Dalam kondisi fisik kita saja seharusnya begitu. Bayangkan bagaimana rawannya kelangsungan hidup kita jika kita tidak pernah memeriksa kesehatan kita, tidak pernah berolahraga tapi terus membiarkan hal-hal yang merusak kesehatan kita silih berganti masuk menghancurkan diri kita. Apalagi jika kita mengacu kepada kondisi rohani kita. Bayangkan ada berapa banyak bahaya yang tidak tersaring apabila kita tidak pernah memperhatikan dengan seksama segala sesuatu yang masuk ke dalam diri kita.
Jemaat Korintus banyak membuat Paulus khawatir. Memang jemaat ini kontroversial. Di satu pihak mereka menunjukkan gairah rohani yang luar biasa, terutama dalam kehausan akan karunia-karunia Roh yang spektakuler. Di lain pihak, kehidupan moral mereka sangat duniawi. Juga keterbukaan mereka kepada pengajar-pengajar palsu membuat mereka ada dalam bahaya tidak bertahan di dalam iman. Maka Paulus mendesak mereka untuk memeriksa diri. Maksudnya, bukan sekadar tahu doktrin dan bergairah akan karunia-karunia rohani, tetapi untuk memastikan bahwa Kristus benar-benar ada di dalam mereka. Hanya hubungan riil jemaat dengan Kristus, yang akan memampukan mereka untuk tahan uji, menjaga kemurnian dan tidak berbuat yang tidak benar.

Ketika kita berani menguji atau memeriksa diri sendiri, itu artinya kita berani melihat segala sesuatu dari diri kita, yang baik maupun yang buruk. Itu artinya kita berani melihat kelemahan kita sendiri. Dengan mengetahui kelemahan kita, disitulah kita akan dapat mengambil langkah untuk melakukan perbaikan. Dan hasilnya jelas, kita akan lebih kuat, lebih tahan uji dibandingkan orang yang tidak pernah peduli terhadap keselamatan dirinya sendiri, terlebih orang yang hanya suka menilai
kelemahan atau keburukan orang lain. (RCM)
Refeksi : 
Marilah kita menguji diri kita

PERHATIKANLAH HIDUPMU

“ Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup,   janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.”
(Efesus 5:15)

Sejak awal penciptaan, Allah menjadikan manusia dengan satu tujuan pasti: menjadikannya kudus; tak bercacat; untuk senantiasa memuji dan menyembah Dia; dan hidup menurut kehendakNya.  Manusia pertama dijadikan sempurna – sama seperti Allah sempurna adanya.  Adam dan Hawa memiliki segalanya.  Namun sayang, mereka melanggar perintah Tuhan.  Lalu apakah rencana Allah bagi manusia, gagal?   Sama sekali tidak!   Bahkan jauh sebelum Allah menciptakan manusia, Dia telah memiliki rencana untuk menyelamatkan manusia! Tuhan memberikan waktu (=kairos) untuk kita pergunakan sebaik mungkin.  “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup…”.   Maksudnya, jangan hidup sembrono!   Gunakan waktu yang Tuhan berikan untuk hidup dalam terang Tuhan, dan melakukan hal-hal yang berkenan kepadaNya!

Rasul Paulus membuat perbandingan antara anak terang dan anak gelap; antara orang bebal dan orang arif/bijak. Rasul Paulus selanjutnya menjelaskan bagaimana kehidupan orang percaya harus sangat berhati-hati. Dia memerintahkan jemaat di Efesus untuk dipenuhi dengan Roh Kudus dan ia menunjukkan kepada mereka hasil dari pemenuhan tersebut di dalam berbagai hubungan hidup yang praktis. Sebagai anak-anak terang, umat Allah hidup dengan meneladani Allah. Sama seperti Yesus
yang meneladani Allah demikian juga umat-Nya. Paulus juga mendorong orang percaya untuk meneladani Kristus. Hidup dalam kasih merupakan bukti nyata meneladani Kristus. Anak-anak terang memiliki hikmat untuk hidup sebagai anak-anak terang;

Hidup kita sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan oleh Allah melalui iman kepada Kristus sudah sepantasnya hidup dalam kebenaran terang Firman Tuhan. Hidup yang berkenan dihadapan Tuhan sebagai ungkapan syukur untuk keselamatan yang sudah dianugerahkan bagi kita. Perhatikanlah hidup kita masing-masing, baik sebagai tenaga pendidik, sebagai mahasiswa, sebagai tenaga kependidikan, sebagai
pejabat struktural, atau sebagai pengurus di jajaran yayasan. Apakah sudah hidup sesuai kehendak Allah?  (RCM)
Refleksi :
Perhatikanlah kehidupan kita supaya sesuai dengan kehendak Allah.

PAUSE

“Carilah TUHAN dankekuatan-Nya, carilahwajah-Nyaselalu!”
(Mazmur 105:4)

Practice the PAUSE. When in doubt, PAUSE. When angry, PAUSE. When tired, PAUSE. When stressed, PAUSE. And When You PAUSE, PRAY.”Menjadi pemimpin tidaklah mudah. Pemimpin adalah orang yang selalu diperhadapkan dengan berbagai masalah, dan masalah yang datang seringkali mengundang keraguan, kemarahan, kelelahan, dan tekanan. Ketika menghadapi semuanya itu, pemimpin juga harus selalu siap mengambil keputusan dan keputusan itu harus diputuskan secara cepat dan tidak ditunda-tunda. Dalam hal ini, bagaimana sebaiknya seorang pemimpin “bersiap-siap” dalam mengambil keputusan di tengah keraguan, rasa lelah, kemarahan, dan tekanan dari berbagai sisi?

Kitab Mazmur yang ditulis Raja Daud selalu membawa kita pada penghiburan, pengharapan dan iman. Daud yang adalah seorang pemimpin menyadari bahwa walaupun ia adalah seorang Raja, ia tetaplah manusia yangterbatas. Sehingga dalam segala kelemahannya, dan dalam segala kesulitan hidupnya, Ia selalu mencari Tuhan dan kekuatan-Nya, Ia selalu mencari wajah-Nya. Karena itu Ia pun menyuruh orang Israel untuk selalu mengandalkan Tuhan.

Begitu pula dalam pekerjaan, ketika masalah datang, hendaklah kita PAUSE. Kita rehat sejenak, mengambil nafas, dan luangkan waktu untuk berdoa. Mintalah hikmat Tuhan sehingga Saudara mampu mengambil keputusan yang bijak.

Seringkali karena berbagai masalah yang datang, kita jadi lupa akan Tuhan Sang Pemilik Hidup. Ketika ada persoalan, kita hanya fokus pada masalahnya. Padahal bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil. Yang diperlukan hanyalah kita datang kepada-Nya dan memohon kekuatan serta pertolongan-Nya. Daud sebagai pemimpin memberikan teladan bahwa di tengah segala persoalan hidupnya, ia selalu meluangkan waktu berdoa. Maukah Saudara meneladani Raja Daud yang selalu mengambil waktu berdoa ketika masalah datang? (AV)
Refleksi :
Practice the Pause.

EMPATHY IN WORK

“Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita, jika satu
anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” ( I Korintus 12:26)

Kita sudah sering mendengar kata “empati”. Tapi apakah empati itu? Empati adalah suatu keadaan psikologis yang membuat seseorang merasa seperti apa yang dirasakan orang lain atau membuat seseorang berpikir seperti apa yang dipikirkan orang lain.
Di dunia ini hanya sedikit tokoh yang memiliki rasa empati tinggi. Salah satunya adalah Mahatma Gandhi. Ia adalah seorang pemimpin yang punya empati tinggi, sampai-sampai Ia rela meninggalkan apa yang dia miliki, untuk melayani, menyatu dengan masyarakatnya di India. Ia terkenal sebagai pemimpin yang mau melayani orang lain dengan ikhlas dan tulus.
Bacaan hari menceritakan bagaimana Tuhan menghendaki kita untuk memiliki sikap empati terhadap semua anggota. Kita semua adalah anggota dari satu tubuh, yaitu tubuh Kristus. Kristus adalah kepala, dan kita semua anggota tubuhNya. Dan kesemua anggota tubuh tersebut adalah satu kesatuan. Sehingga jangan ada yang memegahkan diri, karena antara satu anggota dengan anggota tubuh yang lain saling
membutuhkan. Bahkan kita harus menaruh penghormatan khusus kepada anggota-anggota yang menurut kita kurang terhormat.

Jika dikaitkan dengan pekerjaan, bagaimana sikap empati bisa dilakukan? Empati bisa dilakukan hanya dengan jalan mampu merasa senasib dengan para pengikut (bawahan/pekerja/sesama pegawai,dll). Dalam mencapai tujuan bersama, hendaklah setiap pekerja salingmemperhatikan, karena semuanya adalah satu kesatuan. Apalagi dalam konteks kepemimpinan, seorang pemimpin harus bisa memahami perasaan dan pikiran bawahannya. Dengan begitu, suasana pekerjaan yang harmonis dan kondusif, bisa tercipta. Jika harmonisasi dan kondusifitas dalam
lingkup pekerjaan sudah tercipta, maka segala tujuan, visi, dan misi yang dimiliki perusahaan/lembaga pasti akan lebih mudah dilaksanakan. (AV)
Refleksi :
Dalam lingkup pekerjaan diperlukan sikap empati dari setiap orang termasuk pemimpin sehingga tujuan, visi, dan misi lebih mudah tercapai.

AMBISI VS PANGGILAN

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)
Bahan bacaan: Kolose 3:22-24

Ada satu kriteria yang sedikitnya diperlukan dalam dunia pekerjaan, yaitu
ambisi. Jika tidak ada ambisi, bagaimana bisa mencapai suatu target tertentu? Tanpa ambisi sepertinya tidak mungkin seorang pengusaha mencapai target keuntungan tertentu. Tanpa ambisi tidak mungkin seorang pegawai bisa mencapai posisi atau jabatan tertentu dalam karirnya. Tanpa ambisi tidak mungkin sebuah institusi atau perusahaan akan sukses. Benarkah begitu?

Memang ambisi itu diperlukan untuk mencapai sesuatu, entah itu kesuksesan, keuntungan, promosi dan lain-lain. Tapi ambisi bisa jadi salah jika motivasinya salah. Ambisi yang benar tertuju pada kemuliaan Allah, sedangkan ambisi yang salah tertuju pada kemuliaan diri sendiri. Persoalannya selama ini kata “ambisi” berorientasi pada diri sendiri sehingga “ambisi” ini berkonotasi negatif dan identik  dengan “menghalalkan segala cara” untuk mencapai tujuan tertentu.

Bahan bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa apapun yang kita perbuat harus dilakukan dengan segenap hati untuk kemuliaan Tuhan dan bukan untuk diri sendiri atau orang lain. Maka dari itu dalam nilai kekristenan kita tidak mengenal “ambisi” melainkan “panggilan”. Karena hanya melalui “panggilan-Nya” kita mampu memuliakan nama Tuhan.
Di saat orang-orang mengejar kesuksesan, kekayaan, jabatan, adakah diantara kita yang memilih untuk memenuhi panggilan-Nya. Ini bukan hanya bicara soal panggilan menjadi hamba Tuhan atau pendeta, tetapi juga panggilan menjadi pelayan-Nya di tempat pekerjaan. Hanya dengan menyadari “panggilan-Nya” kita bisa memuliakan Allah, menikmati kehadiran-Nya ketika bekerja. Bekerja penuh semangat dan memberi yang terbaik demi menyenangkan Tuhan bukan menyenangkan diri sendiri. Melalui pekerjaan, kita melakukan pelayanan demi nama-Nya dan demi orang lain, bukan melayani diri dan kepentingan sendiri. Karena hanya Allah Tuhan yang layak menerima pujian dan menerima yang terbaik. (AV)
Refleksi :
Ambisi berorientasi pada diri sendiri dan kemuliaan manusia, Sedangkan panggilan berorientasi pada kemuliaan Allah

CHARACTER IS MATTER

“…harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah…melainkan suka memberi tumpangan, sukia akan yang baik, bijaksana, adil,saleh, dapat menguasai diri dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat…” (Titus 1:7-9)

Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia, adalah seorang pemimpin yang sangat berkharisma. Bahkan sulit dipungkiri bahwa sampai sekarang belum ada pemimpin Indonesia yang kharisma kepemimpinannya menyamai Bung Karno. Tapi apakah benar keberhasilan pemimpin ditentukan oleh kharisma?. Memang kharisma berkontribusi penting bagi seorang pemimpin. Tapi tidak boleh lupa bahwa
ada yang lebih penting dari kharisma, yaitu karakter.

Bahan bacaan hari ini menunjukkan pada kita mengenai syarat atau kualifikasi penilik jemaat. Baik dalam kitab Titus maupun Timotius menunjukkan bahwa persyaratan pemimpin rohani adalah moral dan karakter. Kekudusan dan kesalehan adalah prinsip dasar pemimpin rohani. Mulai dari kehidupan pernikahan, keuangan, temperamen,
sifat perilaku secara sosial maupun seksual, percakapan, dll, semuanya itu menjadi unsur penting dalam moral dan karakter.
Mungkin kemudian muncul pertanyaan: “ya itu kan syarat-syarat untuk pemimpin rohani, kalau syarat pemimpin di dunia apakah perlu seketat itu? Kan tidak ada manusia yang sempurna…”. Betul, memang tidak ada manusia yang sempurna, sempurna hanya milik Allah. Tapi jika kita mengakui bahwa kita adalah orang percaya kepada Tuhan dan mengakui bahwa institusi dimana kita bekerja adalah institusi berlabel Kristen dan mendasarkan kehidupan kampus dengan nilai-nilai yang Alkitabiah, maka syarat-syarat tersebut tentu perlu menjadi perhatian utama. Jangan sampai kebiasaan-kebiasaan buruk yang dikategorikan sebagai “kelemahan manusiawi” itu dianggap sah-sah saja. Ada standar moral sebagai orang Kristen. Ada standar moral yang harus dimiliki oleh institusi Kristen. Karena karya pengurapan Roh Kudus ditentukan oleh kemurnian moral seseorang (atau lembaga). Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasul Paulus:  “jagalah dirimu… jagalah seluruh kawanan…” (Kisah Para Rasul 20:28). Jika seorang pemimpin bisa menjaga kelakuannya baik,  baru akan bisa menggiring para bawahan sehingga berlaku baik juga. (AV)
Refleksi :
Karya pengurapan Roh Kudus ditentukan oleh kemurnian moral seorang pemimpin/lembaga.

FEAR OF THE LORD

“Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.; Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”(Amsal 1:7, 9:10)

Pernahkah Saudara merasa takut?. Saya yakin setiap manusia sedikitnya pernah merasa takut. Entah itu takut terhadap ketinggian, takut jatuh, takut akan serangga, takut sendirian, takut gagal, bahkan ada juga orang yang takut (phobia) terhadap balon atau karet gelang misalnya.
Rasa takut merupakan perasaan alamiah yang terdapat di dalam diri manusia. Ketika Adam dan Hawa mengetahui bahwa dirinya telanjang karena sudah memakan buah pengetahuan yang baik dan tidak baik, mereka ketakutan dan bersembunyi. Mereka semakin takut ketika mendengar suara langkah kaki Allah di taman Eden yang mencari-cari mereka. Jadi mengapa kita seringkali merasa takut? Karena natur dosa
manusia. Persoalannya kita merasa takut dengan hal-hal yang dapat dilihat. Padahal ada Pribadi yang seharusnya lebih menakutkan, yaitu Allah yang tak kelihatan.

Bahan bacaan hari ini mengatakan takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, dan permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan pada dasarnya adalah kesadaran akan kekudusan, keadilan, dan kebenaran-Nya sebagai pasangan terhadap kasih dan pengampunan-Nya. Takut akan Tuhan berarti memandang Dia dengan kekaguman dan penghormatan kudus karena Dia adalah Allah yang kudus,
agung, dan berkuasa. Takut akan Tuhan menyebabkan orang taat pada segala perintah-Nya, orang menjauh dari dosa, punya kerendahan hati, dan menaruh iman kepercayaan dan harapannya hanya kepada Tuhan.

Akibat dari memiliki rasa takut akan Tuhan maka manusia memperoleh pengetahuan bahkan memiliki hikmat, yang mana kedua hal ini membuat seseorang bisa memutuskan secara tepat apa yang harus dia katakan atau harus dilakukan dalam setap situasi kehidupan termasuk dalam lingkup pekerjaan.Tentu bisa dibayangkan jika dalam lingkup pekerjaan semua orang mendasarkan hidupnya pada rasa takut akan Tuhan. Tentu hal ini akan membuahkan kehidupan pekerjaan yang penuh kasih persaudaraan: suasana yang kondusif dalam sebuah lembaga, komunikasi berjalan baik dan sopan, saling memperhatikan dan menolong, menghargai orang lain, dan masih banyak lagi. Dengan rasa takut akan Tuhan, saya yakin sebuah lembaga atau institusi akan menjadi kuat. (AV)
Refleksi :
Institusi atau lembaga akan menjadi kuat jika setiap orang di dalamnya
memiliki rasa takut akan Tuhan.

BACK TO BASIC

Sebab hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian. (Lukas 12:23)

Dalam bahasa Inggris Kata holic seringkali  dihubungkan dengan suatu tindakan yang eksesif. Misalnya bekerja – work, ketika kata holic  ditambahkan menjadi workaholic,  sebuah kata sifat yang menjelaskan arti gila kerja. Bahkan kata benda alcohol ketika ditambahkan menjadi alcoholic artinya menjadi tukang minum yang tidak tahu batas. Kata  shop atau belanja ketika disambungkan dengan kata holic menjadi  shopaholic  yang artinya tukang belanja edan.  Dan kesamaan dari semua yang menggunakan holic tersebut adalah mereka lupa pada apa yang penting
dalam kehidupan ini misalnya bagi yang  shopaholic  berbelanja dan tidak dapat membedakan barang mana yang perlu dibeli dan barang mana yang tidak perlu dibeli. Semuanya menjadi perlu dibeli. Atau bagi yang gila kerja, semuanya serasa perlu untuk dikerjakan. Dan hal terburuk dari perilaku holic adalah menuju ruang hampa, atau berubah menjadi penyesalan, dan yang jelas semakin jauh dari usaha untuk menemukan arti kehidupan nyang sebenarnya.
Ayat di atas memberikan sebuah pembatasan yang sangat penting. Perikop ayat di atas adalah tentang kekuatiran manusia dalam menghadapi kehidupannya di dunia ini. Manusia diperhadapkan pada ketakutan bahwa mereka akan mengalami kesulitan bahwa kebutuhan hidup mereka tidak akan terpenuhi. Namun jika kita melihat ayat di atas ada yang lebih mendalam yang hendak disampaikan oleh Tuhan Yesus. Sepertinya ini bukan masalah kekuatiran hidup saja, melainkan
ketidakpuasan manusia dalam menghadapi segala keinginan-keinginan yang ada dalam kehidupannya. Yesus menyampaikan sebuah pandangan menarik bahwa yang paling penting dalam kehidupan ini yakni nafas dan tubuh kita.

Seperti dijelaskan di atas hal ini bisa tentang kekuatiran, namun seringkali
yang menjadi sumber kekuatiran adalah justru ketidakpernahpuasan manusia, menghadapi segala keinginan yang ada di dalam dirinya sendiri. Keinginan manusia itu bisa menjadi seperti gelombang lautan. Di lain sisi, baik sebab membawa kemajuan dalam kehidupan manusia, namun di sisi lain bisa menjadi sangat berbahaya ketika manusia dihantui perasaan tidak puas terhadap segala keinginannya yang tidak tercapai, dan celakanya tidak semua yang diinginkan oleh seseorang bisa terpenuhi,
dan yang lebih celaka lagi keinginan manusia seakan-akan tidak ada habis-habisnya. Dan yang melenyapkan seluruh rasa ketidakpuasan itu hanyalah ketika manusia mau kembali kepada hal yang paling mendasar dalam kehidupannya seperti yang disampaikan oleh Tuhan Yesus Kristus. (AT)
Refleksi:
Hitunglah hal-hal baik yang ada pada diri anda ketika ketidakpuasan menghantui perasaanmu