BERHENTI BERPURA-PURA BAIK

Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek
moyangmu telah membunuh mereka.(Lukas 11:47)

Hubungan pemerintah Jepang dan China masa sekarang terkait sejarah perang di masa lalu kadang-kadang sangat aneh. Jepang pernah menginvansi China, dan terjadi pembantaian  yang sangat kejam dari tentara Jepang kepada rakyat China. Di Indonesia hal yang sama juga terjadi. Hal anehnya adalah pemerintah Jepang mau memberikan santunan kepada korban perang, atau wanita-wanita yang pernah dipaksa menjadi budak seks bagi tentara Jepang, namun tidak pernah mau mengakui kesalahan mereka melakukan invansi, seperti yang dituntutkan oleh rakyat China. Sehingga seringkali hal ini menimbulkan ketidakpuasan meskipun niat baik pemerintah Jepang sudah dilakukan untuk menebus kesalahannya di masa lalu dengan memberikan bantuan.
Ayat di atas ada dalam sebuah perikop di mana Yesus menegur perilaku orang-orang Yahudi yang salah satunya adalah tradisi mereka merawat dan menjaga makam para nabi-nabi. Arah teguran Yesus dalam ayat di atas sebenarnya bukan pada kebiasaan mereka merawat makam, namun pada sikap ketidakmautahuan mereka terhadap latar belakang sejarah, yakni bahwa sesungguhnya makam yang mereka pelihara dengan baik menurut adat dan tradisi keagamaan mereka itu sebenarnya menyimpan kebusukan nenek moyang mereka di masa lalu. Ada dua kemungkinan di sini, pertama mereka melakukan hal tersebut untuk menghapus aib masa lalu, atau karena ketidaktahuan. Dan meskipun teguran Yesus sangat keras, justru memberikan informasi pada apa yang tidak mereka ketahui atau acuhkan. Seharusnya mereka menyelesaikan terlebih dahulu akar permasalahannya dari pada melakukan seolah-olah tindakan kamuflase yakni dengan menutupi kebusukan sendiri dengan perbuatan-perbuatan baik.
Dalam kehidupan kita seringkali terjadi hal yang sama. Kita melakukan hal-hal baik yang ternyata adalah usaha-usaha untuk menutupi sebuah luka atau borok atau kejahatan yang menganga. Tentu saja itu bukan cara yang tepat untuk memperbaiki keadaan. Hal itu hanya akan menambahkan ketidakpercayaan orang-orang yang pada akhirnya akan tahu juga siapa sebenarnya orang yang hanya berpura-pura melakukan kebaikan tersebut. Jadi untuk memperbaiki kualitas kehidupan bagi diri
sendiri kita sendiri atau bagi orang lain atau dalam sebuah lingkup pekerjaan atau kuliah, hal terbaik dalam menyelesaikan masalah adalah dengan menghadapinya secara langsung. Konsekuensi awalnya mungkin berat, namun percayalah sebuah kebohongan jauh lebih berat dipikul sebab harus terus menerus ditutupi dengan kebohongan yang lain. (AT)
Refleksi:
Selesaikan masalah yang sebenarnya. Berhentilah berpura-pura melakukan hal yang baik.

HIDUP SEPERTI NUH

Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang  sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. (Kejadian 6:9)

Di dalam Alkitab tertulis satu kali dunia pernah mengalami kehancuran
yang sangat besar. Seluruh umat manusia di bumi tenggelam dalam banjir
besar karena kejahatan mereka dan dikatakan sebab Allah menyesali telah menciptakan manusia yang ternyata berperilaku jahat dihadapanNya. Namun dari pemusnahan itu ada hanya satu keluarga yang mendapatkan kemurahan Allah, yakni Nuh. Siapakah Nuh? Ayat di atas menjelaskan siapa dirinya.

Ada tiga kata yang menarik dalam ayat di atas yang menjelaskan siapa Nuh. Pertama dikatakan ia adalah orang benar צַדִּיק  (tsaddı̂yq),  tidak bercela תָּמִים  (tamı̂ym). Dalam literasi teologi Kristen yang mengacu pada Perjanjian Lama kondisi ini diterjemahkan sebagai gambaran domba persembahan pada sistem persembahan tabernakel Israel, atau ditujukan pada Kristus. Sebuah kondisi manusia yang memang
tidak memiliki cacat dan cela dalam kehidupannya. Namun poin ketigalah yang paling penting yang sebenarnya menjelaskan bagaimana hal tersebut bisa terjadi yakni נֹחַ 
הָאֱלֹהִים הִתְהַלֶּךְ (hiṯhalleḵ- hāĕlōhîm noah) – Noah walked (with) God. Dalam terjemahan LAI dituliskan bergaul. Atau jika dijelaskan secara bebas Nuh memiliki kedekatan dengan Allah karena Ia berjalan dalam kehidupan atau kesehariannya dengan Allah. Ia hidup bersekutu dengan Allah sehingga ia menjadi orang orang benar yang tidak bercacat cela.

Mungkin dalam kehidupan dewasa ini akan sulit menemukan kriteria orang seperti Nuh. Namun bagaimanapun juga hal penting yang kita bisa pelajari pagi ini adalah bahwa hubungan Nuh dengan Allahlah yang membuat ia mendapatkan kehidupan yang dikehendaki Allah. Pertanyaannya adalah bagaimana dalam konteks yang relevan dewasa ini kita bisa berjalan dengan Allah? Tentu saja dengan cara belajar akan kebenaran Firman Allah yang tertulis dalam Alkitab, kemudian memiliki persekutuan pribadi melalui doa atau saat teduh, dan membiarkan Roh Tuhan memimpin kehidupan kita melalui nurani di dalam diri kita. Jika salah satu dari
Firman, persekutuan pribadi dan pimpinan Allah di dalam kehidupan kita hilang, kehidupan kita yang bagaikan sudah bagaikan gelombang ini akan lebih mudah lagi terombang-ambing dalam ketidakpastian di dalam dunia ini. (AT)
Refleksi:
Mari hidup seperti Nuh di era modern ini.

TAKUTLAH AKAN TUHAN

Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.(Amsal 1:7)

Saya sangat terkesan dengan keberanian seorang anak muda yang menunjukkan keahliannya dengan menggunakan papan skateboard atau dengan gaya akrobatik sepeda BMX nya. Diperlukan keberanian untuk melakukan hal tersebut. Namun sebaliknya meskipun dibutuhkan keberanian yang sama, saya sangat tidak terkesan melihat kelompok pemuda melakukan aksi demo anarkhis, merusak hal-hal yang ada di sekelilingnya. Saya juga sangat sangat tidak terkesan dengan berbagai aksi keberanian yang ditunjukkan melalui tragedi terorisme yang
akhir-akhir ini kian merebak. Mereka membunuh warga sipil melalui bom bunuh diri. Tidak perlu disangsikan bahwa tindakan-tindakan yang mereka lakukan memerlukan nyali yang besar namun tujuan mereka berbeda-beda.
Ayat di atas adalah bagian dari the  Book of Wisdom dari tradisi literatur bangsa Yahudi dalam kitab Amsal, yang ditulis oleh seorang yang dinyatakan memiliki hikmat atau kepandaian yang sangat luar biasa. Namun dalam antologi buku hikmatnya ini justru ia mengatakan suatu hal yang sangat menarik yakni rasa takut (kepada Tuhan) sebagai permulaan pengetahuan. Kata   ירְאת  יְהוָה  (yirat Yahweh) atau fear of the Lord menjelaskan sebuah kondisi rasa yang sangat amat ketakutan, atau rasa takut yang sangat berlebih kepada Tuhan, kegentaran, namun di sisi lain sesuai dengan tema besar buku sebagai buku hikmat, rasa takut yang sangat luar biasa itu bisa ditujukan pada sikap kebodohan seperti biasa dilakukan mereka yang dijelaskan di atas yakni orang bodoh menghina hikmat dan didikan.   

Bangsa kita berkali-kali menyaksikan kebodohan yang dipertontonkan di depan publik tanpa rasa takut. Bahkan mereka dengan lantang mengumbar kebodohannya seolah-olah tidak ada hukum yang mampu menjeratnya. Orang-orang ini tidak memiliki rasa takut seperti yang dimaksudkan oleh penulis Amsal di atas. Mereka tidak takut disebut bodoh dan bahkan menghina hikmat dan didikan. Yang terburuk adalah orang-orang melakukan kebodohan berulang-ulang dengan bangga. Kita pernah
dipertontonkan tragedi kekerasan krisis moneter 1998, kemudian tragedi perang suku dan agama di berbagai tempat di negeri ini, lalu ada lagi tontonan berulang-ulang para politisi korup yang seolah-olah kebal dari jerat hukum. Ada masih banyak lagi keberanian (baca kebodohan) yang dipertunjukkan oleh orang-orang yang tidak memiliki rasa takut ini. Dan perhatikan. Mereka juga ada di sekeliling kita, di tempat kerja kita, di tempat kita belajar kita, yakni orang-orang yang melakukan kebodohan
atau kejahatan dan tidak memiliki rasa takut.(AT)
Refleksi:
Takutlah akan Tuhan dan lakukan hal yang berhikmat agar kita tidak jatuh dalam kebodohan atau kejahatan.

NAHKODA YANG LEPAS KENDALI

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33)

Tugas seorang Nahkoda adalah mengarahkan arah kapal agar berjalan melintasi lintasan jalur laut menuju atau sampai kepada tujuan. Ia harus menentukan kordinat yang tepat agar kapal tidak berjalan di atas lintasan yang salah. Ketika sampai di ujung pantai apalagi yang memiliki bibir karang yang terjal, ia juga harus berhati-hati melihat arah cahaya mercusuar yang memandunya agar kapal yang dikemudikannya bisa berlabuh dengan selamat. Namun pertanyaannya: “Apa jadinya jika seorang Nahkoda tidak melakukan tugasnya tersebut?” Dijamin kapal
akan melewati lintasan  yang salah, dan tidak sampai pada tujuan, atau ketika kapal hendak berlabuh di bibir pantai terjal, kapal akan menghadapi ancaman bahaya besar, menabrak karang, atau bahkan tenggelam.
Ayat di atas adalah bagian dari perikop pengajaran Yesus tentang kekuatiran hidup. Banyak orang kuatir akan hidupnya, lalu oleh sebab kekuatirannya itu mereka lepas kendali dan melakukan apa saja untuk menjawab kekuatirannya itu. Namun Yesus mengingatkan bahwa ternyata untuk menjawab kekuatiran itu bukan dengan melakukan segala cara, tetapi dikatakanNya yakni dengan cara  mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya. Dalam kitab suci penjelasan kerajaan Allah bukan ditujukan pada lokasi melainkan pada prinsip nilai-nilai, yang membedakan antara hal yang salah dan hal yang benar. Justru dengan melakukan hal yang benar, dikatakan maka semuanya itu, yakni  jawaban atas kekuatiran itu akan ditambahkan kepadamu.

Kita harus mengaku di hadapan Tuhan bahwa dalam ketakutan dan kekuatiran kita akan kehidupan ini, seringkali membuat kita tidak membuat kita berserah kepada Tuhan, dan hidup dalam prinsip-prinsip kerajaan Allah. Kita hidup sesuka hati kita bahkan tidak jarang melakukan tindakan-tindakan yang menjurus pada kejahatan entah besar atau kecil. Di dunia bisnis orang seringkali sulit membedakan antara hitam dan putih, sebab dianggapnya yang penting uang masuk, dan uang itu sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di dunia pendidikan juga terjadi hal-hal seperti tindakan plagiaris, dosen ojekan yang tidak peduli kualitas yang diajarkan yang penting kejar setoran, dan mahasiswa SKS (sistem kebut semalam). Intinya orang-orang bisa menjadi lepas kendali yakni mereka yang menghalalkan segala cara asal tujuan atau kebutuhan tercapai atau terpenuhi. Itulah sebabnya Yesus melalui ayat di atas mengajarkan pada kita prinsip hidup yang sebenarnya, yakni mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya.(AT)
Refleksi:
Kendalikan hidupmu untuk melakukan apa yang benar.

ADAKAH BERHALA? (KELUARAN 20: 1-10)

“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku”
(Keluaran 20:3)

Dalam lagu “Karya Terbesar” ciptaan Sari Simorangkir ada petikan syair sbb:
Kasih yang terindah, hati yang mulia
Hanya kutemukan di dalamMu, Yesusku
Karya terbesar dalam hidupku
Pengorbanamu yang s’lamatkanku
Engkaulah harta yang tak ternilai
Yang kumiliki dan kuhargai
Yesus Engkau kukagumi
Yesus telah menyatakan kasihNya yang terbesar lewat pengorbananNya di kayu salib. Ia telah rela menanggung derita yang luar biasa secara fisik dan batin bahkan Yesus memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi manusia. Yesus telah memberikan segalanya, dan Ia layak menjadi segalanya dalam hidup kita; menjadi satu-satunya kekasih jiwa yang kita sembah dan andalkan. Hanya Yesus yang secara sempurna dapat memenuhi kahausan jiwa kita.

Saat menyanyikan lagu ini, kita diingatkan untuk memikirkan kembali, apakah Yesus telah sungguh menjadi harta yang sangat berharga dalam hidup ini? Atau adakah orang lain, hobi, harta, ambisi, pekerjaan, prestasi, pelayanan, atau hal-hal lain yang menjadi lebih penting dari Tuhan, yang sangat kita kejar dan kita cari sehingga mengikat hati dan pikiran kita?  Apa yang menjadi pusat hidup kita dan apa yang paling  berharga dalam hidup kita? 

Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa Tuhan tidak ingin ada siapapun atau apapun yang menjadi “berhala” dalam hidup kita, yang menggeser kedudukan Tuhan yang utama sebagai Allah dalam hidup kita. Jika Tuhan belum menjadi satu-satunya Allah dan harta kita, maka kita akan merasa hancur dan kehilangan segalanya saat berbagai hal yang sangat kita inginkan atau banggakan lenyap dari hidup kita. Kiranya Tuhan menolong kita untuk merenungkan kembali fokus hidup kita agar tertuju pada hal-hal yang bernilai kekal. (CA)
Refleksi :
Hal-hal apa atau siapa yang masih menjadi “berhala” dalam hidup saya saat ini?

LAYANG-LAYANG (GALATIA 5:1-15)

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih” (Galatia 5:13)

Apakah Anda pernah bermain layang-layang? Atau pernahkah Anda mengejar layang-layang yang putus? Apakah layang-layang yang putus bisa bebas terbang tinggi di langit? Layang-layang hanya bisa terbang tinggi bahkan jauh tinggi melampaui pohon-pohon atau gedung yang tinggi saat ia bersedia dikendalikan oleh sang penarik layang-layang dan diterbangkan di waktu dan tempat yang tepat dengan cara yang tepat sesuai keinginan pemilik layang-layang tersebut. Tetapi, saat layang-layang lepas dari genggaman sang pemilik atau putus benangnya,
maka layang-layang itu dapat tersangkut di pohon atau tiang atau juga jatuh di tanah atau tempat lainnya. Layang-layang putus itu bebas dari kendali pemilik layang-layang, tetapi saat itulah ia tidak dapat berfungsi dan melayang tinggi di angkasa. Apakah Anda merasa hidup Anda terkekang atau Anda menjadi orang merdeka di dalam Kristus? Barangkali banyak orang merasa bahwa ia merdeka saat ia memiliki kebebasan untuk dapat melakukan segala sesuatu yang ia inginkan, entah hal itu
berdampak positif atau negatif bagi dirinya, bermanfaat bagi orang lain atau hanya memuaskan ambisi diri sendiri.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa kemerdekaan yang sejati ada di dalam Kristus. Saat kita percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat serta menerima pengampunan yang sempurna, kita dibebaskan dari perbudakan dosa. Saat kita hidup di luar kasih karunia Kristus, kita tidak memiliki kebebasan untuk hidup merdeka. Saat kita mau menyerahkan kendali hidup kita kepada Tuhan, maka kita merdeka untuk melakukan hal-hal sesuai dengan kehendak Tuhan bahkan Tuhan menuntun kita untuk terbang tinggi bersamaNya mengalami perkara-perkara yang ajaib. Saat kita dimerdekakan oleh Kristus, hidup kita akan maksimal dan berguna bagi sesama, tidak seperti layang-layang yang putus dan tersangkut atau jatuh. Karena Kristus telah memerdekan kita dari perbudakan dosa maka Tuhan menolong kita untuk lepas dari jerat hal-hal negatif dan diberi kuasa untuk menang atas dosa. (CA)
Refeksi :
Apakah saya telah menjadi orang yang merdeka dalam Yesus?

BERANI HIDUP BENAR (MAZMUR 119:9-16)

“  Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih?  Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.” (Mazmur 119:9 )

Dalam suatu persekutuan kaum muda, seorang mahasiswi yang baru saja lulus sidang menceritakan pengalaman hidupnya. Ia bercerita bahwa saat
menempuh ujian akhir di SMA. Ia memutuskan untuk tidak melakukan
kecurangan seperti yang dilakukan oleh hampir seluruh teman-teman sekelasnya, walaupun ia telah ditawari kunci jawaban beberapa hari sebelum ujian. Ia memilih untuk tetap hidup takut akan Tuhan di tengah komunitas orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Saat hasil ujian diumumkan, ia memang agak sedikit kecewa karena nilainya tidak sebagus teman-temannya. Namun, ia percaya bahwa ia harus belajar untuk menyenangkan hati Tuhan. Tidak lama berselang, ia mencoba
mendaftar ke perguruan tinggi negeri. Ia melakukan usaha yang terbaik walaupun ia sempat kuatir apakah orang tuanya sanggup membiayai studinya kelak. Saat hasil tes diumumkan, ia tak menyangka bahwa ia lolos seleksi. Namun, ia masih bingung bagaimana untuk melunasi biaya kuliah karena orang tuanya hanya memiliki dana yang terbatas. Ternyata dengan cara yang ajaib, Tuhan membuka jalan sehingga ada orang yang tidak ia kenal yang membantu melunasi biaya pendaftaran dan kuliah
di awal semester. Ternyata, Tuhan telah membuka jalan baginya. Selama 4 tahun ia berkuliah dengan sungguh-sungguh dan menjadi guru les privat demi membiayai kuliahnya. Akhirnya ia dapat lulus sidang dan menyelesaikan studinya dengan baik. Saat ia merefleksi perjalanan hidupnya bersama dengan Tuhan, ia tak habisnya bersyukur dan ia memotivasi kaum muda lainnya yang adalah calon-calon pemimpin
di masa mendatang untuk berani hidup benar di hadapan Tuhan dalam segala perkara sejak masa muda.

Dalam bacaan FIrman Tuhan hari ini, kita diingatkan untuk menyimpan Firman  Tuhan dalam hati kita agar kita tidak jatuh dalam dosa dan kita dapat mempertahankan kelakukan kita bersih di hadapanNya. Caranya kita perlu menjaga hubungan pribadi kita dengan Tuhan hari demi hari lewat pembacaan Firman Tuhan dan menjadi pelaku Firman yang setia sehingga kita dapat menghadapi tantangan hidup bersama
dengan Tuhan. (CA)

Refleksi:
 Apa yang Tuhan ingin saya lakukan hari ini sehingga saya belajar untuk hidup benar di hadapanNya?

DATANGLAH KETEMPAT TERBAIK DI ALAM SEMESTA

“Seorang yang tak berdosa mati bagi orang-orang berdosa. Kristus melakukannya untuk membawamu kepada Allah” (1 Petrus 3:18 )

Seorang pria 87 tahun, Giorgio Angelozzi menawarkan dirinya melalui iklan untuk diadopsi karena merasa kesepian setelah isterinya meninggal 12 tahun sebelumnya serta putri satu-satunya bekerja di Afghanistan.  Iklan itu kemudian mengubah hidupnya. Koran itu menerbitkan artikel di halaman depan baginya. Banyak permintaan akan informasi membanjir dari berbagai tempat. Angelozzi dalam semalaman menjadi seorang selebriti. Mulai dari tokoh terkenal, jutawan, pemilik villa-villa terkenal menawarkan diri. Namun ada satu surat yang menarik perhatiannya, sebab surat itu ditandatangani oleh setiap anggota keluarga – ayah, ibu, kakak, adik. Ia kemudian menerima tawaran itu, menetap di apartemen
sederhana itu, berjalan-jalan ditaman, membantu mencuci piring dan berbagai pekerjaan rumah lainnya. Ia merasa seperti menemukan rumah baru.
Surga tidak pernah mengeluarkan keadaan yang monoton. Kristus pernah berkata “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup yang nyata dan kekal, hidup yang lebih berarti dan lebih baik dari yang pernah mereka  impikan” (Yohanes 10:10 MSG). Allah juga tidak pernah menciptakan kesepian. Di antara kta-kata Pencipta kita yang pertama-tama direkam adalah kata-kata ini : “Tidak baik bagi manusia ini seorang diri saja” (Kejadian 2:18)

Dalam mengatasi kesepian, beberapa orang kemudian menyibukan diri; yang lain terus bermabuk-mabukan. Beberapa orang membeli hewan peliharaan; yang lain membeli pacar-pacar. Beberapa orang mencari terapi. Dan, sedikit yang mencari Allah. Dia mengundang kita semua datang kepada-Nya. Pengobatan yang Allah berikan tidak akan membawa kita ke sebuah bar atau biro jodoh atau klub sosial. Obat terbaik yang Allah berikan akan mengantar anda ke sebuah tempat terbaik di
alam semesta ini : Palungan. “…dan mereka akan menamakan Dia Imanuel,  ‘yang berarti’, ‘Allah menyertai kita.’” (Matius 1:23) Imanuel. Nama itu muncul dalam bentuk bahasa Ibrani yang sama seperti dua ribu tahun yang lalu. “Immanu” berarti “beserta kita”. “El” menunjuk kepada Elohim atau Allah. Bukan “Allah yang di atas kita.” Atau “Allah yang ada di suatu tempat di sekitar kita”. Dia datang sebagai “Allah yang menyertai kita”. Allah beserta kita. (AL)
Refleksi:
Yesus terlalu mencintai kita untuk meninggalkan kita sendiri.

JANGAN MENURUTI KESERAKAHAN KITA

“jadilah puas dengan dirimu, dan jangan congkak. Tangan Allah yang kuat berada di
atasmu; Ia akan meninggikan engkau pada saat yang tepat” (1 Petrus 5:6 )

Seorang  pengusaha membeli berondong dari seorang penjual tua di pinggir jalan, setiap hari setelah makan siang. Suatu hari ia datang untuk menemukan si penjual keliling itu sedang menutup gerainya pada siang hari. “ada masalah?” tanyanya. Sebuah senyuman mengeriputkan wajah kasar penjual itu. “sama sekali tidak. Semuanya baik-baik saja.”

“Lalu mengapa anda menutup gerai berondong anda?” “Supaya saya bisa pulang ke rumah, duduk di beranda, dan minum teh dengan isteri saya.” Pengusaha itu protes. “Tetapi hari masih siang. Anda masih bisa berjualan.” “Tidak perlu,” jawab pemilik gerai itu. “Saya sudah mendapatkan cukup uang untuk hari ini.”“Cukup? Mustahil.  Anda harus terus bekerja.” Lelaki tua yang giat itu berhenti dan memandangi engunjung gerainya yang berpakaian keren.  “Dan, mengapa saya harus terus bekerja?” “Untuk menjual lebih banyak berondong.” “Dan mengapa harus menjual lebih banyak berondong?”“Sebab semakin banyak anda menjual berondong, semakin banyak uang yang adan dapat, dan semakin kayalah anda. Semakin anda kaya, semakin banyak gerai berondong yang dapat anda beli.  Dan anda akan semakin kaya, karena akan lebih banyak orang yang  menjual produk anda. Dan setelah anda merasa cukup, anda dapat berhenti bekerja, menjual gerai berondong anda, tinggal di rumah, dan duduk di beranda dengan isteri anda serta minum teh.”
Penjual berondong itu kemudian tersenyum.  “Saya dapat melakukannya hari ini.

Saya rasa, saya sudah merasa cukup.”Saya sudah cukup kaya – sebuah kalimat yang nyaris punah. Kita suka membesarkan ukuran kentang-kentang goreng kita, layar televisi dirumah, dan lemari-lemari kita.
Ingat bahwa ketamakan datang dalam berbagai bentuk. Tamak akan penerimaan, akan tepuk tangan, akan status, akan kantor terbaik, mobil tercepat, pacar tercantik, dan seterusnya. Dan bagaimana dengan pengamatan John D. Rockefeller? Ia ditanya, “Berapa banyak uang yang diperlukan untuk memuaskan seseorang?” Ia menjawab, “Cuma sedikit lagi.” Sungguh bijak orang yang menulis, “Siapa mencintai uang tidak
akan pernah puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya.” (Pkh. 5:9)(AL)
Refleksi:
Kesuksesan tidak ditentukan oleh posisi atau pertimbangan gaji, tetapi ditentukan oleh hal ini : MELAKUKAN SEBAIK-BAIKNYA APA YANG TERBAIK YANG ANDA KERJAKAN DAN MERASA PUAS DENGAN ITU.

MEMBACA HIDUP DARI BELAKANG

“Allah bekerja di dalammu untuk membantumu ingin melakukan dan
memampukanmu melakukan apa yang menyukakan-Nya” (Filipi 2:13 )

Kita sering mendapati diri kita menaiki gelombang kehidupan. Tidak melawan atau meronta-ronta, tetapi hanya menaikinya. Arus yang lebih kuat mengangkat, menyalurkan, dan membawa kita, membangkitkan keberanian kita untuk berkata, “saya diciptakan untuk melakukan ini.” Apakah kita mengenali gelombang itu? Tentu saja kita kenal. Karena gelombang itu merupakan gelombang-gelombang yang dijalani oleh kita sejak muda kita. Coba kembali ke masa lalu. Jika kita menjejaki
satu demi satu kisah hidup itu, kita akan menemukan apakah aktivitas yang yang menarik perhatian kita? Benda apa yang senang dipegang oleh kita? Topik apa yang selalu menjadi tema diskusi kita? Apapun itu, kesimpulan yang bisa ditarik adalah detail bisa berubah dan berganti. Tetapi kecenderungan, gairah, apa yang dirindukan tetap saja sama. Itulah sesungguhnya diri kita.

Dengan membaca hidup dari belakang, kita dapat mengetahui dan menyadari bahwa Allah memperlengkapi kita dengan karunia, talenta dan kemampuan yang khusus supaya Dia dapat dikenal melalui kita. Sebuah pepatah popular berkata “bagaimana hidup kita hari ini ditentukan dari hidup dimasa lalu. Dan bagaimana hidup kita dimasa depan, ditentukan dari hidup pada saat ini.” Sketsa-sketsa hidup yang ditulis oleh Tuhan dari sejak masa lampau merupakan batu peringatan bagi kita di masa depan. Batu peringatan itu kemudian akan mengingatkan kita selalu bahwa Allah
merencanakan dan mengemas kita dengan maksud untuk menggenapi tujuan-Nya dan rancangan-Nya itulah yang kemudian menentukan ketetapan Allah bagi kita.

Bahkan bukan itu saja, Allah memampukan kita melakukan apa yang menyukakan-Nya. Pencipta kita memadukan antara “ingin melakukan” dan “mampu melakukan”. Keinginan, duduk sebelah-menyebelah dengan kemampuan. Bapa kita begitu penyayang untuk menyerahkan kita kepada hidup yang sengsara. Seperti ditulis oleh Thomas Aquinas, “kehidupan manusia tampaknya terdiri atas apa yang paling disukai setiap manusia, yang khususnya ia perjuangkan, dan yang khususnya ia harap
dapat ia bagikan kepada kawan-kawanya.” (AL)
Refleksi:
Dengan membaca hidup dari belakang, kita dapat mengetahui rancangan Allah yang utuh bagi kita.