BERMEGAH DALAM TUHAN

“Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”
(2 Korintus 10 : 17)

Foto selfie menjadi trend bukan hanya dikalangan anak muda tetapi hampir semua usia. Salah satu tujuan seseorang selfie adalah ingin menunjukkan, memamerkan dan membanggakan diri. Ada banyak orang yang merasa bangga dan hebat karena kekayaan, kepintaran, ketenaran dan apapun yang dimilikinya sehingga dengan berbagai cara dipublikasikan agar semua orang mengetahuinya. Di hadapan Tuhan tidak ada satupun yang bisa dibanggakan, semua tunduk kepada kuasa Allah. Kebanggaan diri yang berlebihan  akan menyebabkan kesombongan  dan tentunya hal ini tidak disukai Tuhan.
Nas hari ini rasul Paulus mengajar jemaat Korintus untuk bermegah di dalam Tuhan, yang berarti memuji dan dipuji Tuhan. Memuji Tuhan karena dipakai menjadi alat pemberitaan Injil Kristus. Bukan sebaliknya memujI diri sendiri dan bermegah atas karya sendiri atau pekerjaan yang dilakukan orang lain. Paulus tidak mau bermegah melampaui batas-batas yang ditetapkan Allah dan tidak berani membandingkan diri dengan orang-orang yang memuji diri mereka sendiri. Sebab bukan orang yang memuji diri sendiri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan. Sebagaimana dalam ayat sebelumnya rasul Paulus berharap apabila iman jemaat korintus makin bertumbuh, kami akan mendapat penghormatan lebih besar. Sebuah ungkapan yang menunjukkan seorang yang rendah hati dan tidak mau mencari pujian untuk diri sendiri.

Hari ini kita diingatkan untuk berhati-hati dengan pujian atau kebanggaan pada diri sendiri. Kita harus sadar dan mengerti bahwa kita dapat menikmati kebanggaan atau kemegahan itu semua dari Tuhan. Alasan kita bermegah karena  menikmati kasih dan kuasa Tuhan dalam kehidupan ini. Kita bisa memuji setiap karyaNya dalam hidup kita. Tidak ada sesuatupun yang bisa dibanggakan tanpa Allah dalam kehidupan ini. Tidak ada alasan untuk kita bermegah atas kehebatan diri sendiri. Apapun tugas dan
tanggung jawab yang diberikan oleh Tuhan itu adalah untuk menyatakan kabar baik tentang karya dan kuasa Allah dalam hidup manusia kepada orang-orang di sekitar kita. Kita boleh bermegah karena mengenal Allah dan bisa memperkenal Allah kepada setiap pribadi dimana Tuhan tempatkan. Bermegahlah di dalam Tuhan. (RZA)
Refleksi: 
Tidak ada alasan untuk kita bermegah atas kehebatan diri sendiri, bermegahlah untuk memuji dan dipuji Tuhan.

MENGENALI BUAHNYA

Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?(Matius 7:16)

Ada peribahasa yang mengatakan: “buah tidak jauh dari pohonnya”, demikian pula sikap dan perilaku seorang anak tidak akan jauh berbeda dari orang tuanya.  Nampaknya ungkapan ini bukanlah sebuah isapan jempol belaka karena pada kenyataannya dapat kita jumpai dalam kehidupan di sekitar kita. Karakter buruk orang tua akan mudah menular dalam diri anak-anaknya, dan  ini pun dialami oleh orang-orang yang menganggap dirinya beragama.  Sungguh sebuah tantangan bagi setiap orang yang mengaku dirinya percaya Tuhan untuk dapat menunjukkan buah yang baik dalam hidup sehari-hari.

Ayat di atas diawali dengan peringatan terhadap nabi-nabi palsu yang datang menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala buas. Nabi-nabi palsu ini mengeluarkan perintah palsu, pura-pura mendapatkan wewenang dan petunjuk langsung dari Allah untuk menjadi nabi dan menerima ilham ilahi padahal bukan demikian. Kita perlu berhati-hati dengan kepura-puraan mereka supaya tidak terperdaya karena dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Sebagaimana pohon yang baik akan mengeluarkan buah yang baik sebaliknya pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin kita berharap memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri. Buah selalu sesuai dengan jenis pohonnya.
Sikap dan tindakan seseorang adalah bukti dari apa yang menjadi prinsip hidupnya. Sebagai pengikut Kristus, kita akan berusaha menyatakan jati diri-Nya dengan pemahaman yang benar dan menampakkannya dalam sikap dan perilaku kita. Kampus Maranatha yang menyatakan jati diri sebagai Universitas “Kristen“ sudah seharusnya menyatakan eksistensinya melalui sikap dan tindakan dalam proses belajar mengajar. Semua warga baik mahasiswa, karyawan, dosen maupun pejabat struktural dan pimpinan dapat menyatakan buah hidupnya yang baik dan benar sesuai dengan kehendak Tuhan. Tidak ada alasan apa pun untuk tidak menghasilkan buah untuk kemuliaan-Nya. (RZA)
Refleksi :
Nyatakanlah jadi diri Kristus dengan menampakkannya dalam sikap dan prilaku.

HATI-HATI DENGAN HATI

“ Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” (Yeremia 17:10)

Pepatah mengatakan “Dalamnya laut dapat diselami, dalamnya hati siapa yang tahu”. Siapa yang tahu hati seseorang? Ada orang yang dari luar terlihat seperti orang baik atau tulus. Senyum di bibirnya, gerak tubuhnya, atau mungkin perkataannya sangat lembut, sehingga kita tidak berpikir bahwa ia ternyata memiliki  hati yang jahat seperti ular berbisa, yang siap menerkam kita ketika kita lengah. Memang tidak ada yang tahu isi hati seseorang. Bahkan ilmuwan yang paling pintar sekalipun, belum dapat membuat alat yang dapat membaca isi hati seseorang. Manusia hany bisa mengira-ngira, bagaimana isi hati seseorang dengan melihat penampilan dari luarnya. Sayangnya, hal tersebut tidak dapat menjamin bahwa hasilnya seratus persen akurat.
Alkitab sudah menuliskan bahwa hati itu sangat licik, bahkan jauh lebih licik daripada segala sesuatu yang lain. Penampilan dapat menipu manusia, akan tetapi hal tersebut tidak akan dapat menipu Tuhan. Mengapa demikian? Tuhan adalah Tuhan yang menciptakan manusia, termasuk hati manusia. Ia mampu menyelidiki hati manusia hingga yang terdalam sekalipun. Ia mampu menguji batin manusia, untuk mencari
tahu apakah ia memiliki batin yang benar di hadapan Tuhan. Jadi, jika manusia hanya bisa melihat dari luar, maka Tuhan dapat melihat dari dalam hati dan menghakimi orang tersebut, setimpal dengan perbuatannya, dan tentu saja setimpal dengan isi hatinya. Mungkin orang tersebut tidak pernah membunuh seseorang, tetapi jika di dalam hatinya ia sudah merencanakan yang jahat, Tuhan pun sanggup menghakimi
orang tersebut.

Sudahkah kita menyerahkan hati kita kepada Tuhan? Ingat bahwa hanya Tuhanlah yang mampu menyelidiki hati seseorang. Jika kita mengalami sakit hati karena orang lain, maka tidak ada dokter manapun di dunia ini yang dapat menyembuhkannya. Hanya Tuhanlah yang mampu menyembuhkan luka di hati kita dengan sempurna. Oleh karena itu, bagian kita adalah menjaga hati kita dengan sebaik-baiknya. Di sisi lain, kita juga harus tetap berhati-hati dengan orang lain yang terlihat baik di luar,
karena bisa jadi hatinya tidak setulus penampilannya. Yang terpenting adalah kita menyerahkan hati kita kepada Tuhan supaya tetap terjaga dengan baik. (RCM)
Refleksi :
Hati-hati dengan hati, karena hanya Tuhan yang mampu melihat hati.

PELITA TUHAN YANG MENYELIDIKI HATI MANUSIA

“ Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.” (Amsal 20:27)

Jika teknologi masih terus berusaha untuk mengungkapkan hal-hal yang sulit ditangkap mata lebih jauh, mata Tuhan sudah sejak awal mampu berfungsi seperti itu. Tuhan sanggup berada di segala tempat pada satu waktu yang sama untuk memantau apa saja yang kita lakukan. Salomo menyadari kuasa Tuhan ini sejak dulu. Tidak satupun tempat yang tersembunyi dariNya, bahkan di tempat yang tergelap sekalipun Tuhan bisa melihat. Semua ini menunjukkan bagaimana mata Tuhan mampu menjangkau segala sudut terkecil sekalipun dari hidup kita.

MataNya ada dimana-mana, di segala tempat, mengawasi yang jahat dan yang baik. Dia mengetahui pikiran kita, melihat kita bekerja dan beristirahat serta mengetahui apapun yang kita perbuat, Dia pun tahu apa yang menjadi isi hati kita sebelum kita mengucapkannya.

Kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, Dia ada bersama kita dalam setiap waktu, baik dalam keadaan suka maupun duka, dalam keadaan tenang maupun penuh gejolak. Tuhan berada bersama kita kemanapun kita melangkah, dan itu bisa membuat kita tidak perlu takut menghadapi apapun. Menyadari keberadaan Tuhan dengan kasih setiaNya setiap waktu bersama kita akan membuat kita tahu bahwa semua yang kita lakukan demi kemuliaanNya tidak akan pernah Dia abaikan, meski tidak ada satupun orang yang melihat. Sebaliknya bagi   orang jahat, orang yang terus memilih untuk hidup cemar dalam berbagai perbuatan dosa, ini adalah sebuah kabar buruk. Jika ada orang yang selama ini berpikir bahwa bisa selamat jika perbuatan jahatnya tidak diketahui orang lain, berpikir bahwa jika tidak terlihat maka mereka akan selamat, tidak ada tempat atau kesempatan sedikit pun sebenarnya untuk menyembunyikan diri dari sorot mata Tuhan.
Apapun yang kita lakukan, rencana yang ada di pikiran kita atau perasaan dalam hati kita, ingatlah bahwa Tuhan sedang memandang dan akan terus memantau kita. Maka hendaklah kita menjaga sikap, perbuatan, pikiran, perasaan, tingkah laku dan perkataan kita agar seturut kehendakNya. Sepanjang waktu Tuhan ada bersama kita, melihat dan menyelidiki kita, pergunakanlah kesempatan ini sebagai sebuah jaminan penyertaan dari Tuhan kepada anak-anakNya yang taat dan setia. (RCM)

Refleksi :
“Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.”

UJILAH SEGALA SESUATU

“ Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” (1 Tesalonika 5:21 )

Ujian dipakai untuk menguji kualitas sesuatu, misal kepandaian, kemampuan, hasil belajar dari seseorang, kualitas suatu produk, dan masih banyak yang lainnya.   Dalam dunia pendidikan ada yang namanya ujian akhir yaitu ujian untuk menentukan kenaikan tingkat atau kelulusan. Orang yang mampu menghadapi ujian dengan baik pasti mendapatkan hasil yang baik pula. Sebaliknya, yang tidak mempersiapkan diri dengan baik sedari awal, akan mendapatkan hasil yang pasti tidak akan pernah maksimal, mengecewakan dan mungkin akan gagal.

Paulus menutup suratnya dengan beberapa nasihat singkat berkenaan dengan masalah sosial, pribadi maupun rohani. Nasihat-nasihat terakhir Paulus yang ditujukan kepada jemaat Tesalonika khususnya menghadapi berbagai pengajaran yang muncul di dalam jemaat diantaranya untuk menguji segala sesuatunya. Segala sesuatu terutama mengacu kepada perkataan-perkataan yang bersifat nubuat. Ucapan-ucapan semacam itu tidak boleh diterima dengan mentah tetapi harus senantiasa diuji dengan penyataan yang lebih objektif dan khususnya dengan batu ujian yaitu ketuhanan Kristus dan inkarnasi-Nya. Yang baik, maksudnya, yang asli
bukan yang palsu. Tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepada orang-orang Kristen di Tesalonika sama beratnya dengan tugas dan tanggung jawab umat Tuhan saat ini. Jika hanya mengandalkan kekuatan sendiri mustahil semua tugas dan tanggung jawab tersebut dapat dilaksanakan. Jemaat memerlukan kekuatan dan pertolongan dari Tuhan supaya mereka dapat dengan tuntas menunaikan tugas dan tanggung jawab pelayanan mereka.
Ketika Allah memerintahkan kita untuk menguji segala sesuatu. Orang Kristen yang semakin mencintai Allah, seharusnya makin berwaspada dan menguji segala sesuatu dari perspektif Allah. Bagaimana mengetahui sesuatu itu dari Allah adalah sebuah pertanyaan yang selalu umat Kristen tanyakan. Mengingat akan adanya berbagai penyesatan dan bahkan kesesatan itu tidak akan dengan mudah dilihat oleh setiap orang Kristen kecuali oleh mereka yang mempelajari Firman Allah dengan sungguh-
sungguh. Jika memang segala sesuatu itu sudah sesuai dengan Firman Allah, maka ujilah sesuatu itu apakah itu benar-benar dari Allah. Karena tidak semua yang terlihat rohani adalah benar dari Allah. Dibutuhkan pengetahuan akan kebenaran Firman Tuhan yang lengkap dan untuk menguji segala sesuatu apakah itu benar dari Allah
atau bukan. (RCM)
Refleksi :
Kualitas yang baik dan benar akan terlihat setelah di uji

PENILAIAN SECARA ROHANI

“ Tetapi manusia rohanimenilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.” (1 Korintus 2:15)

Orang Kristen sering merupakan teka-teki bagi orang-orang duniawi, dan
kadang-kadang merupakan teka-teki bagi orang Kristen yang berpikiran
lahiriah. Banyak pertentangan di kalangan Kristen dapat ditelusuri sumbernya pada soal penilaian secara rohani. Manusia rohani memiliki kemampuan untuk memahami segala sesuatu. Dia sendiri tidak dinilai oleh orang lain (yang tidak rohani), sebab orang yang tidak rohani tidak memiliki hubungan dengan Roh yang membuat dirinya dapat menilai orang yang rohani.

Sejak awal surat, Paulus menyebut orang-orang di Korintus sebagai orang yang telah dikuduskan dan dipanggil menjadi orang-orang kudus. Kepada mereka hikmat keselamatan Allah telah dinyatakan; hikmat tentang karya keselamatan Allah yang tersembunyi bahkan bagi para penguasa, tetapi yang disediakan Allah bagi kemuliaan mereka yang percaya seperti jemaat Korintus. Mereka pun telah menerima Roh-Nya, yang dalam analogi kemanusiaan, bahkan tahu hal-hal terdalam dari Allah.
Atas dasar jati diri ini Paulus hendak menampilkan seperti apa itu manusia rohani: pertama, ia adalah seperti Paulus dan rekan sekerjanya, mengajar dan berkata-kata berdasarkan hikmat dan Roh Allah. Kedua, ia juga memahami hal-hal rohani, dan menilai segala sesuatu berdasarkan hikmat Allah, tanpa dinilai orang lain. Ketiga, ia tidaklah seperti manusia duniawi (Yun. psukhikos) yang tidak menerima hikmat dari Roh Allah, menganggapnya sebagai kebodohan, dan tidak dapat memahaminya.
Singkatnya, manusia rohani dapat mengapresiasi hikmat dan penyertaan Roh Allah melalui hidupnya.

Manusia rohani adalah orang yang berpikir dan berperasaan seperti Kristus Manusia rohani adalah orang yang tidak mementingkan dirinya sendiri. Penilaian terhadap manusia secara rohani berasal dari dalam hati dan jiwa seseorang yang melakukan penilaian berdasarkan wahyu Ilahi. Ketika seseorang memiliki jiwa yang indah, kehadiran mereka dapat dirasakan oleh orang lain. Keindahan rohani datang melalui kesadaran dan dari pengetahuan bahwa ada kekuatan yang lebih tinggi yang memberi kita kekuatan dan keyakinan yang kita butuhkan untuk menjalani kehidupan terbaik yang kita bisa. Hal itu mendatangkan kedamaian, kepercayaan diri, dan kebahagiaan batin. (RCM)
Refleksi :
Manusia rohani menilai segala sesuatu berdasarkan hikmat dari Allah

KEMAJUAN HIDUP

“ Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang.” (1 Timotius 4:15)

Hidup manusia yang normal mengalami pertumbuhan secara fisik. Pertumbuhan secara fisik seharusnya dibarengi dengan pertumbuhan secara intelektual, mental, spiritual dan yang lainnya. Selalu ada rintangan atau hambatan dalam proses pertumbuhan. Perlu perhatian dan pemeliharaan supaya pertumbuhan itu dapat terus berjalan dengan baik.

Nas hari ini merupakan surat pastoral dari Paulus kepada Timotius. Timotius berada dalam bimbingan Paulus dan mengalami pertumbuhan iman yang baik sebagai seorang pelayan. Seorang pelayan seperti Timotius harus dapat mengatasi segala sesuatu yang berpotensi untuk menyulitkan, mencemarkan, menghalangi, bahkan menggagalkan pelayanan yang dilakukannya. Untuk itu, ketekunan menjadi kata kunci yang harus Timotius cermati dan perhatikan. Ia tidak boleh membiarkan umurnya menjadi perintang bagi dirinya atau batu sandungan bagi orang lain. Karena itu, ia perlu menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, dan kesuciannya. Timotius juga diminta untuk tetap bertekun dalam pembacaan dan pengajaran nas-nas Kitab Suci di antara jemaatnya, tidak lalai dalam mempergunakan karunia yang Tuhan berikan padanya, dan sungguh-sungguh membiarkan hidupnya dikuasai oleh hal-hal yang baik tersebut, sehingga kemajuannya nyata bagi orang-orang di sekitarnya. Timotius juga harus mengawasi dirinya sendiri dan ajarannya. Kesemuanya itu harus dilakukannya dalam ketekunan. Singkatnya, Timotius harus memperhatikan semua aspek di dalam kehidupannya.

Jika kita ingin jadi orang yang dipakai oleh Tuhan maka kita pun harus mau memperhatikan kehidupan kita dan bertumbuh serta menjadi berkat bagi sesama. Pertumbuhan memerlukan disiplin hidup dan melatih diri sehingga orang lain dapat melihat kemajuan hidup kita. Apapun yang saat ini Tuhan percayakan kepada kita, baik sebagai tenaga pendidik, tenaga kependidikan, ataupun sebagai mahasiswa, mulailah dengan setia pada hal kecil, dan jangan berhenti. Bertumbuhlah, belajarlah, dan kembangkan pencapaian kita. Sukses bukan dicapai oleh orang yang memulai dengan hal yang besar, tetapi oleh orang yang memelihara momentumnya dalam waktu yang cukup panjang, hingga pekerjaannya menjadi karya besar dan menjadi berkat bagi banyak orang. (RCM)
Refleksi :
Kemajuan hidup diperoleh melalui sebuah perjuangan yang panjang

KETERBUKAN PADA TUNTUNAN TUHAN

“ Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku
 di jalan yang kekal!” (Mazmur 139:23-24)

Hal apakah yang sangat mempengaruhi hidup seseorang? Menurut pemazmur, pikiran, perenungan, dan pengenalan akan Allah berdampak besar dalam kehidupan seseorang. Seluruh keberadaan hidup kita dari yang nampak sampai yang tersembunyi, terbuka di hadapan Allah. Tak seorang pun dapat menyembunyikan diri atau menjauh dari Tuhan. Allah memperhatikan masing-masing pribadi sejak masih dalam kandungan, bayi, anak-anak hingga dewasa. Karena itu Allah sangat mengharapkan kejujuran dan keterbukaan kita di hadapan-Nya. Betapa bermaknanya hidup pribadi seseorang di hadapan Allah! Mazmur ini menguraikan berbagai aspek dari sifat-sifat Allah, khususnya kemahahadiran dan kemahatahuan-Nya sejauh sifat ini terkait dengan pemeliharaan umat-Nya. Allah menciptakan kita dan mempunyai pengetahuan sempurna tentang kita; Dia senantiasa bersama kita, dan pikiran-Nya senantiasa diarahkan kepada kita di dalam setiap situasi.

Daud tidak sekadar memahami bahwa Allah mahatahu, mahahadir, mahakuasa. Ia menjadikan kebenaran tersebut sebagai bagian dari pengalaman hidupnya dan juga menjadi dasar bagi doanya. Menghadapi serangan orang fasik, Daud memohon agar Tuhan memeriksa hidupnya. Dalam kemahatahuan-Nya, Tuhan pasti tahu setiap tindakan yang Daud buat dan motif yang melatarbelakangi tindakan itu. Daud meminta agar Tuhan menyelidiki dirinya dan menguji kesetiaannya, sehingga jelas
bahwa ia tidak seperti musuh-musuh Tuhan.

Kemahatahuan dan kedekatan Allah akan menjaga dan menuntun kita untuk mencapai yang terbaik. Di mana pun kita berada, ada rasa aman di dalam perlindungan-Nya. Kadang sulit bagi kita untuk mengenal pikiran Allah. Kita akan menyadari bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita adalah karena Ia mengizinkan dan Ia tetap bersama dengan kita untuk menghadapinya. Menyadari bahwa Tuhan itu mahatahu, mahahadir, dan mahakuasa, dapat memberikan ketenangan pada kita saat menghadapi masalah. Karena kemahatahuan-Nya, kehadiran-Nya secara pribadi, serta kekuasaan-Nya yang absolut, nyata dalam karya-Nya untuk kesejahteraan umat-Nya. Seharusnyalah kita setia mengikut Dia dan berani untuk tidak kompromi terhadap kejahatan. (RCM)
Refleksi :
Meyakini kemahatahuan, kemahahadiran dan kemahakuasaan Tuhan memberikan kedamaian dalam hidup orang percaya.

HIDUP YANG BERARTI

“ Aku menyelidiki diriku dengan menyegarkan tubuhku dengan anggur,
–sedang akal budiku tetap memimpin dengan hikmat–,dan dengan memperoleh kebebalan,sampai aku mengetahui apa yang baik bagi anak-anak manusia untuk dilakukan di bawah langit selama hidup mereka yang pendek itu.”(Pengkhotbah 2:3)

Pastor Henri Nouwen adalah seorang dosen di Universitas Harvard, Amerika yang sering menjadi pembicara dalam seminar di kalangan orang-orang terpelajar pada waktu itu, namun akhirnya ia meninggalkan semua kegiatan itu dan mengabdikan waktu, tenaga dan dirinya untuk melayani orang-orang yang mentalnya terbelakang di Belanda sampai ia meninggal di sana. Pastor Henri Nouwen memilih untuk menghambakan dirinya kepada Kristus dan tidak menerima pujian duniawi atas prestasi akademisnya itu.

Salomo menceritakan bagaimana ia telah mencoba kesenangan, kekayaan, dan kenikmatan budaya dalam usaha menemukan kepuasan dan hidup yang menyenangkan; namun semua ini tidak menghasilkan kebahagiaan sejati — hidup masih tidak memuaskan. Raja Salomo menilai semua hal yang dulu menjadi kebanggaannya telah dianggapnya sia-sia. Raja Salomo adalah seorang raja yang kaya-raya, terkenal, berhikmat serta telah menikmati semua keindahan dunia ini. Akan tetapi, baginya menikmati hidup bukanlah terletak pada harta yang berlimpah, keberhasilan mencapai prestasi tertentu, menjadi orang terpandai di dunia melainkan berdasarkan pada anugerah yang diberikan Tuhan untuk dapat menikmati ”pahit-manisnya” hidup ini. Sebab semua usaha yang dilakukan manusia dengan susah-payah untuk meningkatkan keadaan hidupnya menjadi lebih baik pada akhirnya akan sia-sia karena ia tidak akan membawa keberhasilannya itu setelah ia meninggal. Manusia yang berjuang untuk menjadi lebih kaya pada akhirnya kekayaan yang
dikumpulkannya itu akan diambil oleh orang lain yang tidak layak menikmatinya. Tuhanlah yang menentukan siapakah yang akan menikmati hasil kerja keras orang tersebut.

Banyak orang yang dalam hidupnya menetapkan sasaran tertentu sebagai syarat keberhasilannya, tetapi ketika tidak dapat meraihnya menjadi kecewa, sedih, putus asa dan menganggap Tuhan tidak adil. Sebaliknya, ada beberapa orang yang mampu menikmati hidupnya meskipun secara dunia ia dianggap tidak sukses. Kita hanya dapat menemukan sejahtera, kepuasan, dan sukacita abadi apabila mencari kebahagiaan dalam Allah dan kehendak-Nya. (RCM)
Refleksi :
Orang yang dapat menikmati hidup ini adalah orang yang mampu bersyukur dan menerima segala anugerah yang Tuhan berikan kepadanya.

MEMPERJUANGKAN KEBENARAN

“Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan, bahwa nabi itu benar-benar diutus oleh Tuhan” (Yeremia 28:5-9).

Biasa dipanggil Aam, lengkapnya Afifah Ahmad Maulana (13), bersama
keluarganya sekarang ia mengungsi ke Gresik. Kenapa? Kejujurannya membuat marah masyarakat di mana ia tinggal. Kisahnya berawal ketika Aam dipaksa oleh gurunya – dengan alas an balas budi kepada guru dan kasihan kepada teman sekelas – memberikan contekan saat UN Sekolah Dasar.  Pada hari ke-2 UN,  guru pengawas yang merupakan guru dari sekolah lain memergoki contek masal tersebut, dan sempat dilaporkan ke Dinas pendidikan kecamatan Tandes, tetapi kasus itu diredam. Namun, Siami, ibunya(32), yang berprofesi sebagai penjahit, tak rela anaknya dieksploitasi, dan ia melaporkan kasus tersebut kepada Dinas Pendidikan Surabaya, hingga kisah nyontek masal pun akhirnya terkuak.

Tindakannya berdampak besar, tak hanya guru yg kena sanksi, Siami dan keluarganya pun terkena sanksi masyarakat, masyarakat marah terhadap Siami, karena tak ingin anak2 mereka dituduh menyontek sehingga berpotensi tidak lulus UN. Mereka pun diusir dari rumah mereka sendiri.  Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pendidik, pejabat dinas pendidikan, dan masyarakat sudah abai terhadap norma kebenaran. Demi kepentingan pribadi/kelompok segala sesuatu boleh dilakukan, sekalipun bertentangan dengan nilai kebenaran. Segala cara di halalkan demi suatu tujuan.
Dalam bacaan kita, Yeremia menyerukan reformasi moral nasional atas bangsanya, yang mengalami penghukuman Tuhan, di buang ke Babel, sebagai akibat dari  menjauhnya bangsa itu dari Tuhan yang berdampak pada merosotnya moralitas umat ketika itu. Ia yang melayani sekitar 40 th, mendukung penuh gerakan perubahan yang dilakukan o/ Yosia. Tetapi, ia sadar bahwa gerakannya itu tdk membawa dampak perubahan yg berarti bagi seluruh bangsa. Sepanjang masa itu Yehuda memberontak terhadap Allah, dan mengandalkan persekutuan politik dengan bangsa lain untuk
mendapatkan kebebasan dari musuh2nya. Yeremia menyerukan pertobatan dan peringatan bahwa bangsa itu akan menerima hukuman, karena menolak Allah dan hukumNya, menjadi seruan Yeremia atas Yehuda. Namun, karena seruannya itulah justru Yeremia mendapat tantangan dan penderitaan.

Memperjuangkan kebenaran membawa konsekuensi tantangan dan penderitaan, sebagaimana dialami oleh Yeremia. Bagaimana dengan kita warga kampus Maranatha? Apakah kita akan terus memperjuangan kebenaran sekalipun diperhadapkan oleh tantangan yang besar? (AE)
Refleksi:
integritas dinyatakan melalui sikap yang menyatakan kebenaran.