MENGHADAPI PERBEDAAN DAN MENCARI SOLUSI PERMASALAHAN

“ dan ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah ia menyucikan hati mereka dengan iman” (Kisah Para Rasul 15:6-21)

Siapakah di antara kita yang tidak menyukai situasi yang serba aman?   Karena kita cenderung menyukai situasi yang aman, maka kita akan berupaya untuk selalu “mengamankan” segala hal yang dianggap dapat mengganggu keamanan tersebut. Sebab sesungguhnya kita menginginkan suatu kehidupan yang aman dan nyaman. kita akan lebih berupaya agar kita memiliki lingkungan yang lebih eksklusif: orang-orang yang se-“level”, se-“pendidikan”, se-“agama”, se-“etnis”, se-“hobi”,   sosial-ekonomi yang sama. Kebutuhan akan lingkungan orang-orang yang se-“level” dan kebutuhan akan lingkungan orang2 yang memiliki kesamaan,  pada satu pihak dapat meningkatkan kualitas keakraban. Tetapi, apakah  kehidupan kita di  bumi ini hanya diisi dan di tempati oleh orang2 yang “sama” dan “selevel” ? pada kenyataannya jelas tidak. Perbedaan merupakan sebuah keniscayaan/kepastian.  Bisa perbedaan suku, adat-istiadat, budaya, tingkat ekonomi, tingkat social, hobi, bahkan agama.  Karena itu perbedaan adalah suatu realitas.

Kedatangan beberapa orang dari Yudea ke Anthiokia yang mengajarkan kepada jemaat di Antiokia: “  jikalau kamu tidak disunat menurut adat-istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.” Kedatangan mereka ke Anthiokia menggambarkan sikap yang membangun zone nyaman dan aman bagi dirinya sendiri dan bagi kelompoknya. Keinginan membangun kelompok yang sama dan homogen
dan menentang atau menolak orang-orang yang berbeda latar-belakang tradisi, dengan menggunakan legitimasi ajaran (hokum Musa) yang belum tentu benar secara mendasar. Bahkan bukan hanya belum tentu benar, namun juga berbahaya karena mengancam persekutuan jemaat dan memiliki potensi perpecahan.  Ajaran dan kampanye ini ditolak dengan tegas oleh Paulus dan Barnabas. Oleh karena itu untuk mencegah permasalahan berkembang menjadi konflik dan perpecahan yang lebih luas di kalangan jemaat menjadi 2 atau lebih kelompok2, kelompok Yahudi
dan kelompok non-Yahudi, akhirnya ditetapkan supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat pergi ke Yerusalem untuk bertemu dengan Rasul2 dan Penatua2 untuk membicarakan persoalan itu.

Setiap persoalan perlu ada inisiasi untuk dicarikan penyelesaiannya dan  mau duduk bersama untuk mencari pemecahan adalah penting. Setiap perbedaan pendapat perlu dilihat hal biasa secara manusiawi, tapi harus dikelola dengan baik dan dicarikan solusinya. Membangun suasana yang kondusif jauh lebih penting dibandingkan membiarkan konflik. (AE)
Refleksi:
upayakan jalan rekonsiliasi untuk menyelesaikan masalah.

ADAKAH BERHALA? (KELUARAN 20: 1-10)

 “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Keluaran 20:3)

Dalam lagu “Karya Terbesar” ciptaan Sari Simorangkir ada petikan syair sbb:

Kasih yang terindah, hati yang mulia
Hanya kutemukan di dalamMu, Yesusku
Karya terbesar dalam hidupku
Pengorbanamu yang s’lamatkanku
Engkaulah harta yang tak ternilai
Yang kumiliki dan kuhargai
Yesus Engkau kukagumi

Yesus telah menyatakan kasihNya yang terbesar lewat pengorbananNya di kayu salib. Ia telah rela menanggung derita yang luar biasa secara fisik dan batin bahkan Yesus memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi manusia. Yesus telah memberikan segalanya, dan Ia layak menjadi segalanya dalam hidup kita; menjadi satu-satunya kekasih jiwa yang kita sembah dan andalkan. Hanya Yesus yang secara sempurna dapat memenuhi kahausan jiwa kita.

Saat menyanyikan lagu ini, kita diingatkan untuk memikirkan kembali, apakah Yesus telah sungguh menjadi harta yang sangat berharga dalam hidup ini? Atau adakah orang lain, hobi, harta, ambisi, pekerjaan, prestasi, pelayanan, atau hal-hal lain yang menjadi lebih penting dari Tuhan, yang sangat kita kejar dan kita cari sehingga mengikat hati dan pikiran kita?  Apa yang menjadi pusat hidup kita dan apa yang paling  berharga dalam hidup kita? 
Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa Tuhan tidak ingin ada siapapun atau apapun yang menjadi “berhala” dalam hidup kita, yang menggeser kedudukan Tuhan yang utama sebagai Allah dalam hidup kita. Jika Tuhan belum menjadi satu-satunya Allah dan harta kita, maka kita akan merasa hancur dan kehilangan segalanya saat berbagai hal yang sangat kita inginkan atau banggakan lenyap dari hidup kita. Kiranya Tuhan menolong kita untuk merenungkan kembali fokus hidup kita agar tertuju pada hal-hal yang bernilai kekal. (CA)
Refleksi :
Hal-hal apa atau siapa yang masih menjadi “berhala” dalam hidup saya saat ini?

LAYANG-LAYANG (GALATIA 5:1-15)

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka . Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih” (Galatia 5:13)

Apakah Anda pernah bermain layang-layang? Atau pernahkah Anda mengejar layang-layang yang putus? Apakah layang-layang yang putus bisa bebas terbang tinggi di langit? Layang-layang hanya bisa terbang tinggi bahkan jauh tinggi melampaui pohon-pohon atau gedung yang tinggi saat ia bersedia dikendalikan oleh sang penarik layang-layang dan diterbangkan di waktu dan tempat yang tepat dengan cara yang tepat sesuai keinginan pemilik layang-layang tersebut. Tetapi, saat layang-layang lepas dari genggaman sang pemilik atau putus benangnya, maka layang-layang itu dapat tersangkut di pohon atau tiang atau juga jatuh di tanah atau tempat lainnya. Layang-layang putus itu bebas dari kendali pemilik layang-layang, tetapi saat itulah ia tidak dapat berfungsi dan melayang tinggi di angkasa. Apakah Anda merasa hidup Anda terkekang atau Anda menjadi orang merdeka di dalam Kristus? Barangkali banyak orang merasa bahwa ia merdeka saat ia memiliki kebebasan untuk dapat melakukan segala sesuatu yang ia inginkan, entah hal itu berdampak positif atau negatif bagi dirinya, bermanfaat bagi orang lain atau hanya memuaskan ambisi diri sendiri.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa kemerdekaan yang sejati ada di dalam Kristus. Saat kita percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat serta menerima pengampunan yang sempurna, kita dibebaskan dari perbudakan dosa. Saat kita hidup di luar kasih karunia Kristus, kita tidak memiliki kebebasan untuk hidup merdeka. Saat kita mau menyerahkan kendali hidup kita kepada Tuhan, maka kita merdeka untuk melakukan hal-hal sesuai dengan kehendak Tuhan bahkan Tuhan menuntun kita untuk terbang tinggi bersamaNya mengalami perkara-perkara yang ajaib. Saat kita dimerdekakan oleh Kristus, hidup kita akan maksimal dan berguna bagi sesama, tidak seperti layang-layang yang putus dan tersangkut atau jatuh. Karena Kristus telah memerdekan kita dari perbudakan dosa maka Tuhan menolong kita untuk lepas dari jerat hal-hal negatif dan diberi kuasa untuk menang atas dosa. (CA)
Refeksi :
Apakah saya telah menjadi orang yang merdeka dalam Yesus?

BERANI HIDUP BENAR (MAZMUR 119:9-16)

“  Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih?  Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.”(Mazmur 119:9 )

Dalam suatu persekutuan kaum muda, seorang mahasiswi yang baru saja lulus sidang menceritakan pengalaman hidupnya. Ia bercerita bahwa saat
menempuh ujian akhir di SMA. Ia memutuskan untuk tidak melakukan
kecurangan seperti yang dilakukan oleh hampir seluruh teman-teman sekelasnya, walaupun ia telah ditawari kunci jawaban beberapa hari sebelum ujian. Ia memilih untuk tetap hidup takut akan Tuhan di tengah komunitas orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Saat hasil ujian diumumkan, ia memang agak sedikit kecewa karena nilainya tidak sebagus teman-temannya. Namun, ia percaya bahwa ia harus belajar untuk menyenangkan hati Tuhan. Tidak lama berselang, ia mencoba
mendaftar ke perguruan tinggi negeri. Ia melakukan usaha yang terbaik walaupun ia sempat kuatir apakah orang tuanya sanggup membiayai studinya kelak. Saat hasil tes diumumkan, ia tak menyangka bahwa ia lolos seleksi. Namun, ia masih bingung bagaimana untuk melunasi biaya kuliah karena orang tuanya hanya memiliki dana yang terbatas. Ternyata dengan cara yang ajaib, Tuhan membuka jalan sehingga ada orang yang tidak ia kenal yang membantu melunasi biaya pendaftaran dan kuliah
di awal semester. Ternyata, Tuhan telah membuka jalan baginya. Selama 4 tahun ia berkuliah dengan sungguh-sungguh dan menjadi guru les privat demi membiayai kuliahnya. Akhirnya ia dapat lulus sidang dan menyelesaikan studinya dengan baik. Saat ia merefleksi perjalanan hidupnya bersama dengan Tuhan, ia tak habisnya bersyukur dan ia memotivasi kaum muda lainnya yang adalah calon-calon pemimpin
di masa mendatang untuk berani hidup benar di hadapan Tuhan dalam segala perkara sejak masa muda.
Dalam bacaan FIrman Tuhan hari ini, kita diingatkan untuk menyimpan Firman  Tuhan dalam hati kita agar kita tidak jatuh dalam dosa dan kita dapat mempertahankan kelakukan kita bersih di hadapanNya. Caranya kita perlu menjaga hubungan pribadi kita dengan Tuhan hari demi hari lewat pembacaan Firman Tuhan dan menjadi pelaku Firman yang setia sehingga kita dapat menghadapi tantangan hidup bersama dengan Tuhan. (CA)
Refleksi:
 Apa yang Tuhan ingin saya lakukan hari ini sehingga saya belajar untuk hidup benar di hadapanNya?

DATANGLAH KETEMPAT TERBAIK DI ALAM SEMESTA

“Seorang yang tak berdosa mati bagi orang-orang berdosa. Kristus melakukannya untuk membawamu kepada Allah” (1 Petrus 3:18 )

Seorang pria 87 tahun, Giorgio Angelozzi menawarkan dirinya melalui iklan untuk diadopsi karena merasa kesepian setelah isterinya meninggal 12 tahun sebelumnya serta putri satu-satunya bekerja di Afghanistan.  Iklan itu kemudian mengubah hidupnya. Koran itu menerbitkan artikel di halaman depan baginya. Banyak permintaan akan informasi membanjir dari berbagai tempat. Angelozzi dalam semalaman menjadi seorang selebriti. Mulai dari tokoh terkenal, jutawan, pemilik villa-villa terkenal menawarkan diri. Namun ada satu surat yang menarik perhatiannya, sebab surat itu ditandatangani oleh setiap anggota keluarga – ayah, ibu, kakak, adik. Ia kemudian menerima tawaran itu, menetap di apartemen
sederhana itu, berjalan-jalan ditaman, membantu mencuci piring dan berbagai pekerjaan rumah lainnya. Ia merasa seperti menemukan rumah baru.
Surga tidak pernah mengeluarkan keadaan yang monoton. Kristus pernah berkata “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup yang nyata dan kekal, hidup yang lebih berarti dan lebih baik dari yang pernah mereka  impikan” (Yohanes 10:10 MSG). Allah juga tidak pernah menciptakan kesepian. Di antara kta-kata Pencipta kita yang pertama-tama direkam adalah kata-kata ini : “Tidak baik bagi manusia ini seorang diri saja” (Kejadian 2:18)

Dalam mengatasi kesepian, beberapa orang kemudian menyibukan diri; yang lain terus bermabuk-mabukan. Beberapa orang membeli hewan peliharaan; yang lain membeli pacar-pacar. Beberapa orang mencari terapi. Dan, sedikit yang mencari Allah. Dia mengundang kita semua datang kepada-Nya. Pengobatan yang Allah berikan tidak akan membawa kita ke sebuah bar atau biro jodoh atau klub sosial. Obat terbaik yang Allah berikan akan mengantar anda ke sebuah tempat terbaik di alam semesta ini : Palungan. “…dan mereka akan menamakan Dia Imanuel,  ‘yang berarti’, ‘Allah menyertai kita.’” (Matius 1:23) Imanuel. Nama itu muncul dalam bentuk bahasa Ibrani yang sama seperti dua ribu tahun yang lalu. “Immanu” berarti “beserta kita”. “El” menunjuk kepada Elohim atau Allah. Bukan “Allah yang di atas kita.” Atau “Allah yang ada di suatu tempat di sekitar kita”. Dia datang sebagai “Allah yang menyertai kita”. Allah beserta kita. (AL)
Refleksi:
Yesus terlalu mencintai kita untuk meninggalkan kita sendiri.

BIMBINGAN FIRMAN ALLAH

“Pergilah, mintalah petunjuk TUHAN bagiku, bagi rakya,  dan bagi seluruh Yehuda, tentang perkataan kitab yang ditemukan ini, sebab hebat kehangatan murka TUHAN yang  bernyala-nyala terhadap kita, oleh karena nenek moyang kita tidak mendengarkan perkataan kitab ini dengan berbuat tepat seperti yang tertulis di dalamnya.” (2 Raja-raja 22:13)
Kompas adalah alat penunjuk arah mata angin. Kompas adalah alat navigasi untuk menentukan arah tujuan perjalanan. Kompas dipakai oleh para tentara, kapal, para pendaki gunung, dan para pelancong. Tujuan memakai Kompas adalah supaya perjalanan tidak tersesat. Firman Tuhan adalah kompas kehidupan orang percaya.Yosia berumur delapan tahun pada waktu ia menjadi raja Yehuda dan tiga puluh satu tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem.

Yosia seorang raja yang berhasil membawa seluruh umat Yehuda berbalik kepada Tuhan, atau mengalami pertobatan nasional. Firman Tuhan mencatat bahwa sebelum dia,  tidak ada raja seperti dia yang berbalik kepada Tuhan dengan segenap hati, dengan segenap jiwanya,  dan dengan segenap kekuatannya, dan sesudah dia tidak ada bangkit lagi yang seperti dia, ayat 25. Yosia raja yang peka akan peringatan Tuhan melalui murka-murkaNya; Tuhan murka pasti ada sesuatu yang salah,  baik dirinya sebagai raja, para pemimpin umat, maupun  umat itu sendiri. Itulah sebabnya ia sebagai raja mengambil inisiatif untuk bertanya kepada Tuhan melalui kitab Taurat yang ditemukan di Bait Allah ayat 8 dan 13. Yosia meminta kepada imam Hilkia untuk mempelajari  isi kitab Taurat itu.
Setelah raja mendapatkan penjelasan isi kitab Taurat dari imam Hilkia, ia memimpin umat di rumah Tuhan untuk menyesali dan mengakui dosa dan kejahatan umat (melakukan pertobatan nasional) kemudian bersama-sama dengan umat berjanji  untuk mentaati hukum Taurat dengan segenap hati dan segenap jiwa. Komitmen itu ditindaklanjuti oleh Yosia dengan menghancurkan mezbah penyembahan berhala di seluruh kerajaan Yehuda, dan kemudian menghidupkan semarak peribadahan di Bait Allah.

 Pelajaran apa yang bisa kita ambil? Pertama, Kita harus selalu membaca firman Tuhan sebagai kompas kehidupan kita sehingga hidup kita tidak tersesat dan terjatuh.. Jika kita adalah seorang pemimpin, jadilah seorang pemimpin yang senantiasa memohon petunjuk Tuhan sebelum mengambil keputusan. dipimpinnya. (RS)
Refleksi:
Firman Tuhan adalah kompas kehidupan kita, tanpa kompas itu kita akan tersesat. Marilah kita disiplin membaca firman Tuhan setiap hari yang akan menuntun dan membimbing kehidupan kita.

MENGANDALKAN KEKUATAN ALLAH

“Demi didengar, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka kearah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, ia berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya.” (Daniel 6:11-12)

Teori kepemimpinan pada umumnya membahas bagaimana seorang pemimpin memiliki kemampuan intelektual yang mumpuni, kemampuan manajemen, dan  kemampuan membangun relasi.  Di lain pihak kecerdasan spiritual seringkali diabaikan dan diposisikan sebagai prioritas terakhir menjadi seorang pemimpin, kalau ada pun porsi pembahasannya sangat minim.

Daniel adalah seorang keturunan bangsa Israel yang ikut dalam pembuangan di Babel. Ia berhasil menduduki jabatan tinggi di kerajaan Babel mulai dari zaman raja Nebukadnezar,  raja Belsyazar anak Nebukadnezar, dan raja Darius. Raja-raja itu menaruh hormat pada Daniel, dimana  setiap  keputusan-keputusan penting bagi  kerajaan, raja-raja itu selalu berdiskusi dengan Daniel. Posisi atau jabatan penting
yang Daniel miliki dan kedekatannya dengan raja-raja membuat orang-orang di sekitar kerajaan panas hati. Mereka merancangkan niat jahat untuk menjatuhkan Daniel.

Keberhasilan dan kesuksesan seorang pemimpin bukan berarti steril dari tantangan dan ancaman dari orang-orang yang tidak suka, tetapi justru sebaliknya semakin banyak ancaman dan tantangan. Namun demikian, Daniel tidak kalah pada tantangan dan ancaman. Dia berhasil mengalahkan dan menaklukkan tantangan dan ancaman itu karena dia mengandalkan Tuhan.  Konsistensinya dalam doa, pujian,  dan ibadah
tiga kali dalam satu hari membuktikan bahwa ia benar-benarmengandalkan Tuhan.. Dapat disimpulkan bahwa Daniel adalah seorang pemimpin yang lengkap; dia cerdas secara intelektual, cerdas secara emosi, dan cerdas secara spiritual.
Banyak pemimpin saat ini yang memiliki kecerdasan intelektual luar biasa, hal tersebut dapat dilihat dengan banyaknya gelar yang dimilikinya. Banyak juga pemimpin yang cerdas secara emosi, sopan-santun, sabar, halus kata-katanya dan lemah lembut. Tetapi sangat sedikit pemimpin yang memiliki kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual berarti hidup benar-benar takut pada Tuhan dan mengandalkan Tuhan. Cerdas spiritual berarti bersikap jujur, berani menyatakan kebenaran, bertanggung jawab dihadapan Tuhan dan manusia. (RS)
Refleksi:
Marilah kita memberi diri kita untuk dibentuk, diperbarui, dikoreksi Allah sehingga kita memiliki kecerdasan spiritual.Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, tetapi kemalangan didapat  orang yang hanya mengandalkan dirinya sendiri dan mengandalkan manusia.

MEMBUKA DIRI UNTUK DIEVALUASI OLEH ALLAH

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenalah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal.”(Mazmur  139:23-24)

Kelemahan umum yang terjadi dalam hidup manusia adalah merasa diri paling benar, paling hebat dan ujungnya adalah kesombongan. Lebih repot lagi ketika mereka menduduki posisi atau jabatan yang strategis. Dalam sejarah Israel,  Daud adalah raja yang sangat dikagumi, dihormati karena kesuksesannya sebagai raja.Melalui kepemimpinannya bangsa Israel mengalami kejayaan ekonomi dan politik yang luar biasa. Pada zaman raja Daud, bangsa Israel disegani, dihormati dan ditakuti oleh bangsa-bangsa lain. Itulah sebabnya ketika umat Israel mengalami keterpurukan sehingga mereka harus dibuang ke bangsa Babel, mereka merindukan hadirnya raja seperti raja Daud yang dapat membawa bangsa pada kejayaan. Mazmur 139:1-5 dan ayat 23-24 menjelaskan tentang kerendahan hati Daud sebagai seorang raja. Daud sadar diri, siapa dirinya di hadapan Allah. Dia sadar bahwa dirinya bukanlah manusia yang sempurna, tetapi sebaliknya dia adalah manusia yang penuh dengan kekurangan dan kelemahan. Itulah sebabnya dalam doanya dia jujur membuka seluruh hidupnya untuk dikoreksi, diseleidiki, dinilai,  dan diluruskan oleh Allah. Daud sadar hanya Allah yang paling mengerti, dan paling tahu apa yang dikerjakan, dipikirkan dan diputuskan dalam hidupnya. Daud berdoa bukan hanya untuk dikoreksi, tetapi supaya Tuhan menuntun dan membimbing langkah
hidupnya., keputusannya,  dan kehendaknya. Tidaklah mudah menjadi seorang pemimpin, sebab keputusannya menentukan nasib seluruh bangsa. Itulah sebabnya ia berdoa seperti yang dinyatakan dalam ayat di atas.
Salah satu kunci kesuksesan seorang pemimpin Kristen adalah sikap rendah hati. Rendah hati berarti selalu membuka diri untuk dievaluasi oleh Tuhan dan oleh sesamanya. Rendah hati berarti merasa diri tidak sempurna, penuh kekurangan dan kelemahan. Ketika kita menyadari bahwa diri kita penuh kekurangan,  dan kelemahan, maka kita akan lebih banyak belajar  dan terbuka menerima masukan, kritikan,  dan teguran dari Tuhan maupun dari sesama kita. Jika Daud raja yang hebat, raja yang sukses saja mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, apalagi kita
yang bukan siapa-siapa jika dibandingkan dengan raja Daud.Jadi sejujurnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak meneladani sikap Daud. Daud memberikan keteladanan yang luar biasa bagi kita, apalagi jika kita adalah pemimpin-pemimpin Kristen yang ditempatkan oleh Allah . (RS)
Refleksi:
Kita harus selalu sadar dan mawas diri; kita bukanlah orang yang sempurna tetapi sebaliknya kita penuh kekurangan dan kelemahan. Melalui kesadaran demikian membawa kita untuk membuka diri kita selebar-lebarnya  untuk dikoreksi dan diluruskan oleh Allah. Tuhan mengangkat orang yang rendah hati  tetapi menentang orang yang congkak

ANTARA BELAS KASIHAN DAN PERSEMBAHAN

“Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Matius 9:13)

Kita pasti pernah menghadapi seseorang yang sedang membutuhkan
pertolongan. Mungkin saat itu keadaan kita sangat tidak memungkinkan
untuk memberikan pertolongan. Dengan kata lain, kita sedang mempunyai
banyak pekerjaan, keperluan pribadi, keperluan keluarga, dan lain sebagainya.   Dengan keadaan seperti itu, tentunya kita akan dengan mudah mengatakan :
“Maaf, saya tidak bisa membantu…”
“Maaf, saya sedang sibuk…”
“Maaf, saya sedang  punya urusan lain…”
 
Pernahkah kita sejenak berpikir,  bagaimanakah  jika orang yang meminta
pertolongan tersebut benar-benar dalam keadaan terdesak, dan hanya kita yang bisa menolongnya?  Kita dapat berkata bahwa urusan kita juga sangatlah penting, tetapi bagaimana jika apa yang mereka hadapi ternyata jauh lebih penting dan lebih mendesak daripada urusan kita?

Mengapa belas kasihan lebih dikehendaki oleh Tuhan Yesus dibandingkan dengan persembahan?  Jawaban atas pertanyaan ini, adalah  seringkali  persembahan  sekedar dijadikan syarat atau suatu kewajiban, dan agar terlihat baik di mata manusia.   Hal yang jauh lebih berharga dari pemberian persembahan yang kita berikan yaitu rasa belas kasihan untuk menjadikan orang-orang yang berdosa untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar atau mereka yang bermasalah mendapatkan jalan keluar.    Janda miskin yang memberi persembahan. dua peser,  dikatakan oleh Yesus bahwa  persembahan janda miskin itu lebih banyak dari pada
semua orang yang memasukan uang ke dalam peti persembahan. (Markus 12:43). Mengapa? Karena mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya. Janda miskin itu memberikan dari kekurangannya, dan itu hanya mungkin dilakukan ketika seseorang memiliki kasih dalam hidupnya.

Tuhan Yesus lebih menghendaki belas kasihan daripada persembahan, karena apa yang dilihat Tuhan bukanlah apa yang terlihat dari luar, melainkan apa yang berasal dari dalam. Ketika  kita memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan, bukan untuk mendapatkan pujian,  itulah yang akan membuat perbedaan.(IH)
Refleksi :
Mungkin mereka yang butuh bantuan datang di saat-saat yang kurang tepat, tapi apakah itu berarti kita boleh mengabaikan dan menunda melayani mereka? Tuhan Yesus menghendaki kita  memiliki rasa belas kasihan pada mereka.

ANTARA PERUBAHAN DAN KENYAMANAN

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh
pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah:  apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”  (Roma 12:2)

Kapan sebaiknya pergi ke bengkel untuk melakukan ‘service’ kendaraan?
Mungkin ada yang  berpendapat, kalau tidak rusak dan tidak ada masalah
dengan kendaraan, untuk apa pergi ke bengkel? Cuma buang uang untuk hal yang tidak perlu! Nanti saya kalau mogok atau ada kerusakan, baru pergi ke bengkel.
Demikian juga dengan sebagian orang Kristen. Merasa tidak perlu ada perubahan dalam hidupnya. Bukankah, setiap hari, sudah rajin bersaat teduh, berbuat baik. Rasanya, tidak ada masalah hubungan dengan Allah dan juga dengan manusia. Amsal Salomo menyatakan hati-hati dengan perasaan tersebut. “Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri.”   Amsal 27:2 . Bisa-bisa penilaian orang lain jauh berbeda dari apa yang dirasakan. Terkadang orang lain lebih mengenal diri kita.
Orang Kristen yang tidak berubah adalah orang Kristen yang melawan kehendak Allah!  Lalu, bagaimana kita tahu bahwa kehidupan kita sudah berubah?  Kita akan tahu jika kita ini sudah berubah ketika orang lain melihat  perubahan yang terjadi dalam diri kita, dan bukan kita sendiri yang menggembar-gemborkannya.  Ini berarti perubahan selalu akan memperlihatkan bukti yang dapat dilihat dengan jelas. Seseorang dikatakan berubah, baik itu ke arah positif atau pun negatif, apabila
perbuatannya diganti dengan perbuatan yang berbeda. Perubahan yang diharapkan, tentunya bukan berarti kita mulai tidak bersaat teduh lagi, tidak hadir lagi dalam persekutuan atau ibadah kampus, tetapi misalnya bagaimana kita memulai suatu kegiatan dalam rangka kepedulian terhadap lingkungan, membuang sampah pada tempatnya. Hal yang kita lakukan, mungkin dirasakan tidak begitu berarti, tetapi ketika orang melihat hal baik yang kita lakukan, mudah-mudahan mereka juga akan mengikuti apa yang baik yang kita lakukan.
Mengubah orang-orang di sekitar dapat dilakukan apabila kita telah lebih dulu melakukan apa yang kita ingin orang lain lakukan. Mustahil terjadi perubahan ke arah yang semakin baik kalau kita sendiri merasa tidak perlu berubah.(IH)
Refleksi :
Pikirkanlah, satu kegiatan yang akan  Saudara jadikan kebiasaan yang Anda pandang  baik. Lakukan setiap hari, sampai akhir bulan Februari 2016. Saudara akan menyaksikan ada orang-orang yang akan mengikuti apa yang biasa Saudara lakukan