ALKITAB SEBAGAI SATU-SATUNYA KEBENARAN ALLAH

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran”.(II Timotius 3:16)

Pendidikan/pengajaran yang diterima oleh Timotius sejak kecil tentang kebenaran Firman Tuhan yang dilakukan oleh Eunike ibunya (1:5) memunyai nilai istimewa karena dapat membimbing orang ke dalam pengalaman keselamatan oleh Allah. 

Dalam perikop ini rasul Paulus mengingatkan/berpesan kepada Timotius untuk selalu berpegang teguh pada kebenaran yang dia terima dan yakini. Alkitab adalah Firman Allah, dalam karya pengilhaman oleh Roh Kudus. Allah menggerakkan mereka sedemikian rupa sehingga mereka menulis tanpa salah. Firman Allah yang dinyatakan adalah ungkapan dari hikmat dan watak Allah yang dapat memberi hikmat dan tuntunan hidup rohani dalam iman kepada Kristus.

Kita sebagai orang Kristen yang beriman kepada Kristus harus yakin bahwa Alkitab satu-satunya kebenaran Allah. Tidak boleh ada sedikitpun keraguan dalam hati kita tentang kebenaran Firman Tuhan. Jika keraguan itu timbul maka dengan gampang kita akan terseret  dengan ajaran-ajaran yang menyesatkan. Bagaimana supaya kita tetap yakin bahwa Firman Allah (Alkitab) satu-satunya kebenaran Allah? Luangkanlah waktu untuk mempelajarinya, membaca rutin setiap hari, dan tentunya memohon
pertolongan Roh Kudus untuk memimpin kita dalam mempelajari Firman Tuhan. Membaca rutin Alkitab tidak menyita waktu kita. “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu”(Yoh 8:31-32).

Iman kita akan semakin teguh dan tidak tergoyahkan oleh ajaran apapun yang menyimpang dari kebenaran Firman Allah. (RDS)
Refleksi:
Sudahkah kita yakin dan percaya pada kebenaran Firman Allah?

SUKACITA, BERDOA, DAN BERSYUKUR

“Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”

(I Tesalonika 5:16-18)

Ketika seorang gadis datang kepada saya dan menanyakan “apakah saya bisa bersyukur saat diputusin oleh pacar”. Datang lagi seorang ibu bertanya “apakah masih bisa saya bersukacita, berdoa, dan bersyukur ketika suami  meninggalkan saya?” Pada kenyataannya memang sulit untuk mengekspresikan sukacita, bersyukur apalagi berdoa. Seolah-olah dunia ini sudah hancur berkeping-keping sehingga terasa mustahil untuk bisa beryukur. Dengan berjalannya waktu, gadis itu mulai menyadari bahwa Tuhan itu sangat baik, seandainya dipaksakan terus untuk berpacaran dengan pria idamannya pasti akan lebih sengsara dan menderita batin karena pria itu memunyai karakter yang tidak baik. Demikian juga dengan ibu tersebut, tidak henti-hentinya ia bersyukur dibalik peristiwa itu dia menyadari ada rencana Tuhan yang luar biasa. Bukan hanya suaminya kembali kepadanya tetapi Tuhan memulihkan keadaan rumah tangga dan hidupnya.

Rasul Paulus dalam surat 1 Tesalonika 5 mengajarkan kepada kita untuk bersukacita senantiasa dan tetap berdoa artinya kita terus menerus menjalin hubungan dengan Tuhan, berulang-ulang menaikkan doa, dan ada harapan yang pasti (Lukas 18:1-selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu; Roma 12:12-bersukacitalah dalam pengharapan…bertekunlah dalam doa; Kolose 4:2-..berjaga-jaga sambil mengucap syukur).
Kekristenan dihidupi dalam suasana yang terus menerus bersukacita, berdoa, dan mengucap syukur kepada Allah, sebab itulah yang dikehendaki-Nya.

Bagaimana dengan kehidupan kita sendiri sebagai staf/dosen/mahasiswa di Universitas Kristen Maranatha dalam menghadapi masalah yang menimpa kita? Mungkin kita bermasalah dengan atasan, dengan dosen yang menjengkelkan karena terus menerus memberi tugas yang banyak atau harus menunggu lama ketika sudah ada janji pertemuan dengan dosen wali. Apakah kita tetap bersukacita, berdoa, dan bersyukur? Atau sebaliknya dengan mengurung diri di dalam kamar dan merasa dunia ini akan hancur berkeping-keping seperti ilustrasi. Apa yang terjadi di dalam
kehidupan kita tidak terlepas dari pandangan dan  jangkauan-Nya. Pertolongan Tuhan selalu tepat dan janji-Nya tidak pernah diingkari. Selalu ditepati sesuai dengan kehendak-Nya. (RDS)
Refleksi:
Apakah hari ini Anda bersukacita, tetap berdoa, dan bersyukur selalu?

AUTOKRITIK ATAU EVALUASI DIRI ORANG KRISTEN

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu, hidup, jangan seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif” (Efesus  5:15)

Salah satu upaya terbaik untuk memperbaiki diri dan menjadikan diri sebagai insan yang lebih baik di mata Tuhan adalah dengan memperhatikan hidup dengan saksama yang dapat dipahami sebagai suatu bentuk autokritik atau evaluasi terhadap hidup yang telah atau sedang dijalani, sehingga dapat memperbaiki diri dan menjalani hidup yang akan datang seturut dengan kehendak-Nya. Renungkanlah apakah kita sudah mempunyai tujuan hidup yang benar. Selidikilah bagaimana kita hidup dan berkehidupan baik  di hadapan Allah, di dalam keluarga,
di kampus, maupun di tengah masyarakat. Perhatikan pula bagaimana cara-cara kita memelihara kesehatan, mengelola keuangan, bekerja, berkarya, atau menjalankan usaha. Melalui autokritik atau evaluasi diri dapat diketahui keadaan kita pada saat ini serta perjalanan hidup yang telah dilalui.
Rasul Paulus menjelaskan bagaimana hidup orang percaya harus berhati-hati dalam bertindak. Jemaat Efesus diingatkan untuk tidak bertindak seperti orang bebal tetapi bertindak seperti orang arif. Menjadi seorang yang arif tidak berarti menjauhkan diri dari pergaulan dengan masyarakat. Yang mesti ditentang adalah perilaku yang buruk atau yang bebal. Umat Tuhan diperintahkan untuk bercahaya di tengah-tengah
kegelapan.

Di bagian mana sudah baik serta di bagian mana dan dalam hal apa masih kurang baik, atau adakah yang tidak baik. Apa yang harus dipertahankan, dan apa yang harus kita hilangkan? Dengan demikian, kita dapat mengetahui hal-hal apa yang perlu diperkukuh, diperbaiki, ataupun diperbaharui pada masa yang akan datang. Autokritik atau evaluasi diri harus dilakukan secara kontinu dan berkelanjutan sehingga dapat sampai kepada  perbaikan dan pembaruan  diri ke arah yang lebih baik. Hal itu sangat penting untuk menghadapi tantangan global serta kita dapat meraih peluang dengan cemerlang sesuai dengan rancangan Allah. (RTM)
Refleksi:
Salah satu upaya yang terbaik untuk diri kita ialah autokritik, yaitu membangun kritik untuk memperbaiki diri.

TALENTA DAN POTENSI DIRI

“Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” (Roma 12:3)

Ketika kita mengenali diri sendiri, kita akan mengetahui talenta dan potensi diri kita sehingga dapat mengembangkan kemampuan sampai pada puncaknya. Dengan kata lain, kita harus mengelola talenta dan potensi kita menjadi yang terbaik sebagai karya kreatif Tuhan dalam hidup kita. Kita harus memperbaiki, membenahi, dan membangun diri sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan atau sesuai dengan standar-Nya.
Sebagai warga kerajaan Allah, kita sangat percaya bahwa Tuhan telah memberi kepada setiap orang potensi atau talenta tertentu. Kita yakin dan percaya bahwa salah satu cara terbaik dalam bersyukur ialah terus  mengembangkan talenta dan potensi diri tersebut dan menjadikannya berguna bagi sesama. Kita tidak boleh membandingkan talenta dan potensi diri kita dengan orang lain karena  talenta dan potensi diri yang dikaruniakan Allah kepada masing-masing itu berbeda. Meski betapapun besarnya talenta dan potensi diri, kita harus sadar akan penghakiman dan tidak membanggakan diri. Jangan kita menempatkan gerobak di depan kuda. Makna ungkapan ini adalah cara dan tindakan yang kita ambil dapat menentukan hasil yang dicapai.

Dengan kata lain, sebagai umat Allah, kita memiliki daya untuk mengubah dan memperbaiki keadaan yang dihadapi dalam kehidupan. Caranya dengan melatih kesadaran kita akan talenta dan potensi diri. Gunakanlah itu dan perjuangkanlah. (RTM)

Refleksi:
Bagaimanakah dengan talenta dan potensi yang Anda miliki? Sudahkah Anda berkomitmen untuk terus mengembangkannya?

MENGUKUR DIRI DENGAN MENGENAL DIRI

“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.”( II Korintus 13:5)

Kenalkah kita kepada diri sendiri? Apa pentingnya mengenal diri sendiri? Jika kita tidak cukup mengenali diri sendiri, kita akan berada dalam kondisi tidak
nyaman, takut, rendah diri, atau sebaliknya, kita dapat memiliki kepercayaan
diri yang berlebihan dan terlalu mencintai diri sendiri. Tanpa pengenalan diri yang cukup, kita akan berada di zona aman dan merasa tidak perlu melakukan upaya untuk memperbaiki kekurangan dan kelemahan kita.

Kedewasaan iman Paulus baik dari segi kualitas dan kualifikasi figur seorang pemimpin terlihat dalam kebebasannya melayani sesama karena anugerah-Nya, Paulus telah dipanggil sebagai pelayan, ia tidak mencoba menutupi citra dirinya yang buruk atau membuat orang lain terkesan dengan kehebatannya (lih. 1 Kor. 4; 1 Tes. 2:1-6).
Setelah kita menyelidiki dan mengenal diri kita, kita dapat mengetahui kelebihan dan kelemahan yang ada dalam diri. Tidak hanya itu, kita juga harus dapat memanfaatkan kelebihan itu seoptimal mungkin. Sebaliknya, kekurangan yang kita miliki juga harus kita terima dan dikelola agar tidak membuat kita jatuh. Pada saat kita mampu mengenal diri dengan baik, kita pun akan mampu memimpin orang lain dengan baik. Sesungguhnya, mengukur diri dengan cara mengenali diri merupakan bagian dari proses pendewasaan sebagai orang percaya untuk mampu melihat diri kita yang baru dalam Kristus, yang telah direkacipta  dalam gambaran Allah untuk
kehidupan yang baru. (RTM)
Refleksi:
Mengukur diri dengan cara mengenali diri sendiri berarti mengetahui kelebihan dan
kelemahan yang ada dalam diri.
Minggu, 27 Maret 2016

PEMIMPIN YANG MEWARISKAN BUDAYA

“Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea,berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu.”(Lukas 23:49)

Dalam sebuah buku digambarkan bagaimana sebuah organisasi akan mengalami ketidakseimbangan dan akhirnya organisasi tersebut runtuh, ketika organisasi tersebut tiba-tiba ditinggalkan oleh pemimpinnya.   Konon penyebabnya adalah pemimpin tidak sanggup mentransformasi value dari organisasinya menjadi suatu culture, atau  tidak sanggup mewujudkan sesuatu yang abstrak (value) menjadi sesuatu yang kongkret (culture).
 
Sulit menggambarkan perasaan apa yang berkecamuk di setiap hati para murid ketika menghadapi kenyataan orang yang terdekat selama ini: guru dan pemimpin mereka ditangkap kemudian mati tergantung di atas kayu salib (ay 49).   Setelah Yesus mati di hari Jumat, setelah lewat sore hari para murid melewatkan hari sabat mereka sebagai sebuah sabat yang gelap dan sunyi. Perasaan ketakutan luar biasa meliputi mereka.  Selain perasaan takut mereka juga diliputi rasa kecewa, karena  apa yang
mereka harapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan (ingat permintaan murid untuk duduk disebelah kanan dan kiri Yesus).  Yesus yang mereka pikir akan maju menjadi pemimpin politik, ternyata diluar dugaan mereka sama sekali justru Yesus tidak berdaya di atas kayu salib.  Kini hidup mereka seperti dalam ancaman, dan kini mereka bersembunyi.  Itulah gambaran sabtu atau sabat yang sunyi para murid, sabat yang tanpa harapan masa depan yang entah bagaimana.  

Namun dalam episode berikutnya sabtu yang tanpa harapan itu berubah sedemikian rupa dengan adanya peristiwa kebangkitan.  Momen paskah membuat murid tetap utuh dan bersatu. Selain pekerjaan Roh Kudus atas mereka, tidak dipungkiri Tuhan Yesus mengupayakan sendiri (selama tiga tahun) mengongkretkan nilai-nilai (ajaran-ajaran) tersebut menjadi sebuah hal yang nyata atau membudayakan dalam tindakan-tindakan nyata yang dicontohkan sendiri oleh Yesus. (ITW)
 
Refleksi: 
Nilai-nilai Kristiani Maranatha tidak sekedar slogan namun perlu diwujudkan dalam tindakan agar nilai tersebut menjadi budaya

SUDAH SELESAI

“Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.” (Yohanes 19:30)

Banyak ungkapan-ungkapan yang menggambarkan kelegaan karena telah berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik seperti “…akhirnya…”.  Ada perasaan lega karena sudah menyelesaikan tugas dan tanggung jawab yang telah dibebankan selama ini, sekarang sudah lulus kuliah, lulus studi lanjut, dsb. Rasanya beban yang terasa berat itu seperti lenyap begitu saja, ketika seluruh tugas itu telah dilaksanakan dengan baik.
Ungkapan “Sudah selesai” atau  tetelestai  dalam bahasa Yunani yang diucapkan Tuhan Yesus di kayu salib hendak menyatakan “kini sudah terlaksana sampai utuh”.  Kata  tetelestai  tersebut berasal dari kata ”telos”, yakni akhir yang merangkum perjalanan dari awal, yang memberi arti pada semua yang telah dijalani.  Ungkapan sudah selesai ini bukan hanya menyatakan sudah menyelesaikan tugas : menjalankan
maksud Allah bagi manusia. Akan tetapi ungkapan sudah selesai ini menyatakan juga makna lengkap atau utuh atau sudah terpenuhi semua perkataannya di atas kayu salib atau sudah menggenapi semua nubuat yang telah dituliskan oleh para nabi secara lengkap.  Seperti halnya ungkapan Aku haus,  bukan hanya ungkapan perasaan dahaga Yesus yang kekurangan cairan tubuh karena selama beberapa jam terus menerus mendapat siksaan. Ini merupakan penggenapan penderitaan yang akan dialami Yesus sesuai dengan Mazmur 69:22 dan Mazmur 22:15-16.  Dengan demikian ungkapan “sudah selesai” bukanlah teriakan biasa karena lepas dari penderitaan. Namun sebuah  sebuah teriakan kemenangan dari kayu salib bahwa misi-Nya telah selesai,  juga merupakan kegenapan seluruh nubuat tentang Dia. 

Kiranya ungkapan yang sering  kita teriakan diakhir pelayanan atau tugas kita “akhirnya…” bukan hanya ungkapan kelegaan bebas dari penderitaan karena menjalankan tugas kita karena tanggung jawab yang dibebankan.  Akan tetapi juga sebuah ungkapan kita telah berhasil menyelesaikan sebuah misi yang diberikan Allah sendiri bagi kita di dalam pekerjaan kita masing-masing. (ITW)
 
Refleksi: 
Renungkanlah  dalam menjalankan pekerjaan kita masing-masing, kita  sedang menyelesaikan misi Allah melalui pekerjaan kita

INTEGRITAS YANG TERUJI

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.“(Lukas 14:42)

Ketika ada yang bertanya, apa yang manusia cari dalam kehidupannya?  Para filsuf sekitar 2400 tahun yang lalu menyatakan: (1) kesenangan (Aristipos); (2) kebahagiaan (Plato dan Aristoteles). Dan rasanya pendapat tersebut di atas masih relevan sampai jaman ini. Setidaknya ini bisa dilihat misalnya upaya menghindari penugasan tertentu ke suatu daerah terpencil.  Ini merupakan bukti bahwa manusia berupaya menghindari ketidaknyamanan yang bisa mengarah
kepada penderitaan.
Dalam teks bacaan kita pada hari ini yang cukup panjang menunjukan sisi keilahian dan kemanusiaan Yesus.  Aspek keilahian (dalam hal ini sifat keilahian omniscience) tersebut dapat kita lihat, bagaimana Yesus mengetahui secara detail akan hal-hal yang belum terjadi.  Ia menjelaskan proses bagaimana para murid harus meminjam tempat untuk mengadakan perjamuan malam Paskah (ay. 10 – 12).  Dengan aspek keilahiannya inilah Ia pun menuturkan penderitaan yang akan segera ia alami kepada
para murid-Nya (ay 15 – 16) – walaupun para murid masih belum faham juga maksud pernyataan Yesus, bahwa Ia harus menderita.  Benarlah bahwa Yesus 100% Tuhan dan 100% manusia dari pasal 14 inilah kita dapat melihatnya.  Aspek kemanusiaan Yesus muncul  dengan sangat jelas pada saat Ia berdoa di taman Getsemani (ay 42), bagaimana Ia mengutarakan reaksi manusiawi-Nya kepada Bapa-Nya.  Reaksi –Nya terhadap ‘cawan’ (bdk Yer  25:15, Mzm 11:6)  atau penderitaan  fisik dan juga ketakutan secara psikis yang akan segera dihadapi-Nya.  Dalam episode Lukas 22 ini, sekali lagi kita melihat bagaimana integritas Yesus yang benar-benar teruji melalui pergumulan-Nya yang sangat berat (keringatnya menjadi seperti titik-titik darah, ay 44).  Ia memutuskan untuk mau mengambil cawan itu dan segera masuk dalam penderitaan.

Sebagai manusia biasa tentu kita tidak akan sanggup seperti Yesus, namun sekali lagi disini kita bisa mengambil teladan Yesus yang memiliki Integritas untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik.  Integritas dan kesetiaan untuk tetap melayani inilah yang senantiasa harus ada dalam  setiap insan Universitas Kristen Maranatha. (ITW)
Refleksi: 
Integritas Kristus integritas yang teruji

PENILAIAN SECARA ROHANI

“ Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.” (1 Korintus 2:15)

Orang Kristen sering merupakan teka-teki bagi orang-orang duniawi, dan
kadang-kadang merupakan teka-teki bagi orang Kristen yang berpikiran
lahiriah. Banyak pertentangan di kalangan Kristen dapat ditelusuri sumbernya pada soal penilaian secara rohani. Manusia rohani memiliki kemampuan untuk memahami segala sesuatu. Dia sendiri tidak dinilai oleh orang lain (yang tidak rohani), sebab orang yang tidak rohani tidak memiliki hubungan dengan Roh yang membuat dirinya dapat menilai orang yang rohani.
Sejak awal surat, Paulus menyebut orang-orang di Korintus sebagai orang yang telah dikuduskan dan dipanggil menjadi orang-orang kudus. Kepada mereka hikmat keselamatan Allah telah dinyatakan; hikmat tentang karya keselamatan Allah yang tersembunyi bahkan bagi para penguasa, tetapi yang disediakan Allah bagi kemuliaan mereka yang percaya seperti jemaat Korintus. Mereka pun telah menerima Roh-Nya, yang dalam analogi kemanusiaan, bahkan tahu hal-hal terdalam dari Allah. Atas dasar jati diri ini Paulus hendak menampilkan seperti apa itu manusia rohani: pertama, ia adalah seperti Paulus dan rekan sekerjanya, mengajar dan berkata-kata berdasarkan hikmat dan Roh Allah. Kedua, ia juga memahami hal-hal rohani, dan menilai segala sesuatu berdasarkan hikmat Allah, tanpa dinilai orang lain. Ketiga, ia tidaklah seperti manusia duniawi (Yun. psukhikos) yang tidak menerima hikmat dari Roh Allah, menganggapnya sebagai kebodohan, dan tidak dapat memahaminya.
Singkatnya, manusia rohani dapat mengapresiasi hikmat dan penyertaan Roh Allah melalui hidupnya.

Manusia rohani adalah orang yang berpikir dan berperasaan seperti Kristus Manusia rohani adalah orang yang tidak mementingkan dirinya sendiri. Penilaian terhadap manusia secara rohani berasal dari dalam hati dan jiwa seseorang yang melakukan penilaian berdasarkan wahyu Ilahi. Ketika seseorang memiliki jiwa yang indah, kehadiran mereka dapat dirasakan oleh orang lain. Keindahan rohani datang melalui kesadaran dan dari pengetahuan bahwa ada kekuatan yang lebih tinggi yang memberi
kita kekuatan dan keyakinan yang kita butuhkan untuk menjalani kehidupan terbaik yang kita bisa. Hal itu mendatangkan kedamaian, kepercayaan diri, dan kebahagiaan batin. (RCM)
Refleksi :
Manusia rohani menilai segala sesuatu berdasarkan hikmat dari Allah

BELAJAR DARI INTEGRITAS KRISTUS

”Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: ”Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.” (Matius 22 : 16)

Dalam sebuah lomba debat yang seru, tim penyanggah mengajukan  pertanyaan yang sangat dilematis. Apabila menjawab A salah dan menjawab B pun salah. Kedua jawaban menuntut konsekuensi lanjutan yang memojokkan pada situasi yang sengaja diciptakan lawan debat.  Menghadapi pertanyaan cerdik (cenderung licik) dan penuh jebakan diperlukan kejelian, ketajaman berpikir, dan kesanggupan mempertimbangkan segala konsekuensinya dengan cepat.  Kira-kira demikianlah yang dihadapi Yesus menghadapi para ‘penantangnya’ melalui pertanyaan menohok (dengan satu maksud menangkap Yesus), “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” 

Dalam teks bacaan kita saat ini orang Herodian dan orang Farisi berkoalisi ‘menantang’ Yesus dengan pertanyaan jebakan tersebut.  Seperti diketahui orang Farisi dan kelompok Herodian pada dasarnya mereka saling bertentangan. Orang Farisi begitu  getol menentang penjajah Romawi yang menekan orang Israel dengan pajaknya, sementara kelompok Herodian merupakan pendukung  dinasti Herodes sebagai bupati kekaisaran Romawi agar tetap langgeng berkuasa tentunya
mendukung penuh ‘kebijakan’ pajak kepada warga Israel. Mereka mengajukan pertanyaan yang mereka anggap dapat menjebak Yesus apapun jawabannya. Setiap jawaban membawa konsekuensi. Bila Yesus menjawab mendukung bayar pajak, maka orang Farisi akan menghasut rakyat melawan Yesus. Dan apabila Yesus tidak mendukung membayar pajak dengan sendirinya orang Herodian menganggap Yesus melakukan tindakan melawan pemerintah Romawi dan segera menyeret Yesus ke penjajah Romawi untuk dihukum. 

Jawaban Yesus mencengangkan semua lawannya,  “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Jawaban jenius merupakan bukti kualitas karakter Yesus sesungguhnya (ayat 16) yang mereka uji.  Luar biasa benar-benar integritas yang teruji!  Hari ini kita belajar dari integritas Yesus yang teruji.  Kadang integritas kita diuji bukan oleh pertanyaan menjebak, tapi justru melalui tawaran berupa kenyamanan.  Sanggupkah kita melawannya? (ITW)
Refleksi:
Integritas Kristus menjadi teladan bagi kita