PENCOBAAN ATAU PERCOBAAN

“Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” (Matius 6:13)

Seorang Pendeta memarkir mobilnya tepat di depan tanda  ‘ DILARANG PARKIR’ dan mencantumkan pesan berikut di kaca depannya, Saya telah mengitari BLOK INI SEBANYAK 10 KALI. Saya, seorang pendeta harus segera menemui seseorang yang memerlukan pelayanan saya. Ampunilah kesalahan saya.” Ketika Pendeta itu kembali ke mobilnya ia mendapati tulisan berikut dan selembar  surat tilang: “Saya telah mengitari BLOK INI SELAMA 10 TAHUN. Jika saya tidak menilang Anda, saya
akan kehilangan pekerjaan saya. Jangan bawa saya dalam pencobaan”

‘Percobaan’ dan ‘Pencobaan’ adalah dua kata yang berbeda arti. Dalam doa Bapa Kami, kita tidak meminta supaya Tuhan menjauhkan kita dari ‘Percobaan’, tetapi dari ‘Pencobaan’. ‘Pencobaan’  adalah ‘temptation’ (godaan/rayuan untuk berbuat dosa). Sedang percobaan adalah ‘test’(ujian). Dari kandungan arti, kata ‘test’ (percobaan/ujian) tidak otomatis berkaitan dengan hal yang negatif dan jahat. Misalnya, jika kita mau membeli mobil baru, kita tentu punya waktu untuk  ‘test drive’. Ada masa percobaan untuk karyawan baru. Ini semua dapat positif dan baik. Maka agak janggal rasanya kalau kita memohon Tuhan menjauhkan kita dari segala percobaan (test/ujian) padahal semua itu dapat  berguna bagi kita. Pendeta dalam ilustrasi di atas sedang melakukan percobaan, mudah-mudahan ia tidak ditilang.

Dalam doa Bapa Kami kita  memohon  agar jangan dibawa  ke dalam pencobaan/godaan (temptation). Pencobaan di sini menyangkut hal-hal yang bersinggungan dengan dosa.. Sumber dosa berasal dari pikiran, mata, hati. Karena kita melihat maka kita mengingini. Jika kita tidak sanggup mengontrol mata, pikiran, hati, maka pencobaan yang ada di sekitar kita akan gampang menarik kita jatuh pada dosa. Pak Polisi dalam ilustrasi di atas, tidak ingin melakukan sesuatu yang menyalahi tugasnya. Ia tidak mau masuk dalam pencobaan. (IH)
Refleksi : 
 Saat kita berdoa, “  Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi
lepaskanlah kami dari pada yang jahat,” kita mengakui kekuatan si jahat, , kelemahan kita, dan kebutuhan kita akan kuasa dari Tuhan.

PANGGILAN ALLAH

“Lalu aku mendengar  suara  Tuhan  berkata: “Siapakah  yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!”(Yesaya 6:8)

Suatu kali seseorang bertanya kepada Ibu Teresa, “Ibu telah melayani kaum miskin di Kalkuta.  Tetapi, tahukah Ibu, bahwa masih ada jauh lebih banyak lagi orang miskin yang terabaikan? Apakah Ibu tidak merasa gagal?” Ibu Teresa menjawab, “Anakku, aku tidak dipanggil untuk berhasil, tetapi aku dipanggil untuk setia.” Setiap pelayan Tuhan di mana pun dan dalam peran apa pun, tidak dipanggil untuk berhasil. Jika panggilannya adalah keberhasilan, ia akan sangat mudah  jatuh pada kesombongan atau penghalalan segala cara. Pelayan Tuhan dipanggil untuk setia, melakukan tugas pelayanan  dengan penuh komitmen dan tanggung jawab.

Allah tidak mengarahkan panggilan-Nya kepada Yesaya. Yesaya kebetulan  mendengarnya, dan ia menjawab; “Ini aku, utuslah aku.”   Panggilan Allah bukan untuk orang yang terpilih, tapi untuk setiap orang. Persoalannya, apakah panggilan Tuhan kita dengar? Dan bila kita mendengarnya apakah kita menanggapinya? Allah tidak memaksakan kehendak-Nya kepada Yesaya. Yesaya sedang berada dalam Bait Suci dan tanpa sengaja ia mendengar panggilan Allah. Dan Yesaya menanggapinya dengan sepenuh hati, tanpa berpikir  apakah tugasnya akan berat sekali atau apakah ia akan berhasil.

Allah tidak pernah memaksa Anda apalagi memohon kepada Anda untuk menerima panggilan-Nya. Ketika Tuhan memanggil murid-muridNya, Ia pun tidak  pernah melakukan tekanan.  Allah tidak memilih muridNya seperti ajang pencarian bakat. Sebaliknya, kita sering ‘mengklaim’   bahwa kita adalah orang yang paling berbakat dan terpilih sehingga  kita selalu berhasil dalam tugas pelayanan,  terkenal,  dan dikagumi. Keterkenalan dan keberhasilan  bukanlah suatu hal-hal yang bernilai kekal. Allah sekedar menginginkan kita mengerjakan semampunya. Selebihnya biarlah hanya kemuliaan Allah yang dinyatakan .  Dia mencari hati yang siap mengerjakan pekerjaan-Nya di dunia ini. Semampunya.

Tuhan bertanya: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”  Allah tidak mencari orang yang paling berkualitas atau berbakat; Dia justru mencari hati yang bersedia taat kepada-Nya. Dia mencari mereka yang menyediakan diri, dapat diandalkan, dan bersedia untuk dipakai. Dalam hidup mereka, Allah akan menunjukkan kekuatan-Nya; dan Dia akan dimuliakan. (IH)
Refleksi: 
Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung ( II Petrus 1:10)

BERANGKAT KE TEMPAT YANG TIDAK DIKETAHUI

“Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.” (Ibrani 11:8)

Pada saat hujan turun si optimis akan berseru, “Bagus sekali! Semua tanaman akan tumbuh dan subur!” Sedangkan bagi si pesimis, hujan yang sama mendatangkan reaksi, “Ugh! Banjir, deh, segalanya akan hanyut dan mati!” Sikap optimis memampukan kita melihat, mengambil sikap dan menikmati hidup sebagai sesuatu yang indah. Sikap pesimis membuat kita memiliki cara pandang yang menempatkan segala sesuatu sebagai yang buruk. Bagi orang optimis kesulitan adalah tantangan sekaligus peluang, sedangkan bagi orang pesimis kesulitan adalah musibah atau bencana.

Bagaimana dengan Abraham ketika ia berangkat  ke tempat yang tidak diketahuinya ?  Atau, bagaimana sikap Anda ketika  ‘berangkat’ dengan cara seperti itu? Jika pernah, seperti Abraham, Anda tidak dapat optimis atau pun pesimis. Abraham tidak tahu tempat yang ia tuju, apakah lebih indah dan lebih subur dari tempat kediamannya sekarang atau justru lebih buruk.. Dan, juga ia tidak mungkin pesimis, karena ia tahu Allah akan melakukan sesuatu untuknya: memberikan sesuatu yang akan menjadi
milik pusakanya.  Allah sedang menguji sikap iman Abraham dan sikap iman Anda. Sikap yang membuat Abraham dan Anda terus bertanya-tanya, karena tidak tahu apa yang Allah akan lakukan selanjutnya.

Tuhan tidak memberitahukan apa yang akan dilakukan-Nya terhadap Abraham dan juga kepada Anda.  Allah hanya menyatakan siapa diri-Nya. Tinggal, apakah Anda mau beriman atau tidak kepada-Nya bahwa ia akan melakukan sesuatu untuk Anda. Abraham memilih taat. Ia percaya bahwa Allah yang ia kenal selalu berada di dekatnya.

Ketika saya dan Anda bangun tadi pagi, Allah memberi kesempatan untuk ‘berangkat’  ke tempat  yang saya dan  Anda tidak ketahui. Mari kita bersama membangun  suatu sikap : Janganlah kuatir akan hidupmu …(Lukas 12:22a). Sikap yang akan membuat kita semua belajar untuk ‘berangkat’ dengan keyakinan iman hingga pada suatu saat kita semua mencapai suatu titik di dalam iman dimana tidak ada lagi penghalang
antara kita sebagai umat-Nya dengan Allah yang terus beserta dengan kita.  Maukah kita taat terhadap-Nya? (IH)
Refleksi
Sikap pesimis melihat segala sesuatu sebagai kesulitan dan ancaman, sikap optimis melihat segala sesuatu sebagai peluang dan tantangan. Sikap iman melampui semuanya, ia melihat segala sesuatu sebagai “Allah akan menyatakan diri-Nya, yang selalu berada dekat dengan umat-Nya.

PETA KEHIDUPAN

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Amsal 3:5-6

Mencari alamat atau jalan ? Saat ini, bukanlah sesuatu yang sulit. Tinggal buka ‘Google Map’, situs ini akan siap membantu. Jalan-jalan menuju tempat yang dituju, perkiraan lama perjalanan, bahkan gambar panorama dan gambar 3 dimensi  dari jalanan dan bangunan yang akan kita lewati disajikan oleh situs ini.

Demikian pula dalam menjalani kehidupan, kita hanya dapat melihat kejadian demi kejadian yang sedang terjadi  di depan kita. Tetapi ketika kita melihat peta kehidupan, yaitu Firman Tuhan, kita dapat melihat darimanakah kita, dan  jalan yang sedang kita tempuh. Firman Tuhan menunjukkan pula jalan mana yang seharusnya kita tempuh. Walaupun kita belum mencapai tujuan atau kita belum pernah menjalaninya, kita akan tahu kemana jalan itu akan berakhir.

Apabila kita tidak punya peta, kemungkinan besar kita akan tersesat. Perlu waktu yang lama untuk bertanya-tanya. Seringkali jawaban yang diberikan tidak jelas bahkan makin membuat kita jauh dari tujuan. Sama dengan bila kita tidak mau mengambil waktu untuk mempelajari Firman Tuhan, maka kita akan membuang banyak waktu dalam hidup kita dan kita tidak dapat  mencapai apa yang menjadi tujuan hidup kita.

Janganlah kita berusaha untuk mencari jalan sendiri tanpa mengandalkan peta kehidupan, yaitu Firman Tuhan. Tuhan melihat semua hal. Dia tidak hanya mengetahui dimana kita berada saat ini dan dari mana kita datang, keadaan saat ini dan masa lalu kita, tetapi Dia juga tahu jalur teraman, terpasti dan terbaik bagi kehidupan kita.

Pelajari dan ikuti peta kehidupan, Firman Tuhan, dan kita akan mengetahui jalan yang Tuhan sediakan. Kita hanya perlu melihat ke peta, mempercayainya, dan mengikutinya untuk mengetahui jalan kehidupan. Ketika kita membaca FirmanNya, mempercayaiNya dan mengikutiNya, maka kita akan keluar sebagai pemenang. Ya, tanpa keraguan! (IH)
Refleksi :
Tuhan  hendak mengajar dan menunjukkan kepada umat-Nya jalan yang harus ditempuh. Apakah mata dan telinga kita tertuju kepada-Nya

PERKATAAN DAN PERBUATAN

“Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: “Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.”Jawab anak itu: “Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi.Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: “Aku tidak mau.” Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.” (Matius 21: 28-30)

Seorang mahasiswa yang sedang saya bimbing skripsinya memohon agar saya dapat memberi lebih banyak waktu untuk bimbingan skripsi karena 2(dua) minggu lagi ia harus memasukkan draft skripsi yang sudah saya setujui. Jikalau ia tidak mendaftar untuk sidang bulan depan, ia akan dikenai kewajiban keuangan pada semester berikutnya, padahal ia telah  menyusun skripsi selama dua semester. Saya ingin  menolongnya. Saya katakan, dalam 2 minggu mendatang, saya akan sediakan waktu untuknya.  “Terima kasih. Saya akan hubungi Bapa.” Tetapi apa yang kemudian dilakukannya? Ia telah melewatkan dua minggu tersebut, bahkan beberapa bulan kemudian, ia tidak pernah menghubungi saya . 

Yesus bercerita tentang seorang muda yang melakukan hal yang serupa. Ayahnya meminta anak muda itu untuk bekerja di kebun anggurnya. Anak itu berkata, “Baik, bapa” (Mat. 21:29). Namun ia tidak melakukan janji yang sudah diucapkannya. Perkataannya tidak sesuai dengan perbuatannya.

Dalam penafsirannya terhadap perumpamaan itu, Matthew Henry menyimpulkan, “Tunas dan bunga bukanlah buah.” Perkataan kita bagaikan tunas dan bunga yang menanti bukti, dan semua itu tidak berarti sama sekali apabila tidak berbuah nyata dalam tindakan. Yesus menunjukan perkataan-Nya itu terutama kepada para pemimpin agama. Mereka mengajarkan ketaatan tetapi mereka tidak mau membuktikan ucapan mereka dengan sikap pertobatan.

Perkataan Yesus berlaku juga untuk kita. Mengikut Allah “dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1Yoh. 3:18)—bukan mengucapkan janji kosong—menjadi bukti bahwa kita menghormati dan taat kepada Tuhan dan Juruselamat kita. Allah akan kecewa –sama pula dengan kita- ketika orang-orang terkesan dengan FirmanNya, tetapi tidak melakukan apa yang Dia inginkan. Sebaliknya, Allah memberikan penghargaan kepada mereka, yang pada awalnya terkesan melawan, tetapi kemudian melakukan apa yang menjadi kehendakNya. (IH)
Refleksi :
Perkataan ibarat bunga, perbuatanlah buahnya.

YANG BAIK

“dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:27-28)

Pada jaman permulaan kekristenan ada seorang raja kerajaan Romawi yang bernama Nero. Sebagai Kaisar, Nero menempatkan dirinya setara dengan Tuhan di mana ia menuntut semua orang tunduk dan melayaninya. Apakah Nero seorang pemimpin?Ya, tentu saja. Apakah ia seorang pemimpin Kristen? Ini yang perlu untuk kita telaah dengan baik. Di dalam Gereja sendiri tanpa sadar atau disadari kepemimpinan gaya Nero ini bertumbuh subur. Sistem kepemimpinan yang mengkultuskan individu, menuntut ketundukan para pengikutnya, dan sikap melayani para anggota kepada pemimpinnya, gaya-gaya negatif dari model kepemimpinan yang paternalistik dan otoriter. Alkitab menyebut orang-orang yang sedemikian dengan label gila hormat.
Pada suatu saat Yesus ternyata diperhadapkan juga pada persoalan yang sama. Sebenarnya sangat normal jika dalam diri setiap orang ingin menjadi yang paling baik, paling besar, paling dihormati oleh orang lain. Yesus berhadapan dengan  Ibu Zebedeus yang meminta agar anak-anaknya duduk di sebelah kiri dan kanan Yesus. Murid-murid Yesus marah sebab pertanyaan ibu ini begitu lancang. Namun Yesus justru memberikan jawaban yang menjadi dasar bagi model kepemimpinan Kristen. Yesus menjelaskan bahwa posisi terhormat dalam sistem nilai yang diajarkanNya bukan diperoleh atas kebutuhan akan kekuasaan dan jabatan semata, namun sebuah proses kehambaan. Ini adalah jawaban yang menampar wajah banyak pemimpin Kristen yang tidak tahu diri di hadapan Gurunya sendiri yakni Tuhan Yesus Kristus: “ Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Kita harus terus mengoreksi diri.Memang sangat menyedihkan melihat
kepemimpinan dalam kekristenan saat ini.Banyak pemimpin Kristen hanya mengejar jabatan semata, bukan jiwa yang mau melayani seperti Kristus. Mereka mengejar kekuasaan dan posisi di mana melaluinya mereka bisa menggunakannya bukan untuk melayani, justru sebaliknya agar bisa menikmati fasilitas dan dilayani oleh orang lain. Tidakkah hal ini sangat memalukan jika kita menyebut diri pemimpin Kristen? Sedangkan Kristus sendiri datang dalam kehambaannya mendedikasikan kehidupanNya bagi orang-orang yang membutuhkan pelayananNya. Bahkan Ia berani menghadapi kematian yang menghampirinya. (AT)
Refleksi:
Marilah kita menjadi pemimpin yang seperti Tuhan Yesus Kristus.

MOTIF BEKERJA YANG LEBIH TINGGI

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)

Pada tahun 1940 an dikisahkan ada 2 dua sahabat muda dari keluarga miskin Albrecht Durer dan Franz Knigstein. Mereka ingin masuk sekolah seni lukis namun biayanya terlalu mahal. Lalu mereka berdua bersepakat bahwa salah satu dari mereka akan bekerja untuk membiayai yang lainnya bersekolah. Albrecht masuk sekolah dan Franz bekerja keras menjadi buruh kasar.Pada suatu malam ketika Albrecht melihat tangan kasar, bengkok, dalam posisi merapat antara kedua telapaknya, diterangi lampu minyak, memberinya inspirasi untuk melukis. Ternyata itu adalah tangan sahabatnya yang telah didedikasikan untuk bekerja keras, berkorban hingga tangannya sendiri rusak,  kaku, dan tidak mampu lagi digunakan
untuk melukis. Meskipun Franz kehilangan impiannya namun ia berhasil membuat sahabatnya menyelesaikan sekolah dan menjadi pelukis yang sangat terkenal.

Rasul Paulus mencoba memberikan nasehat tentang bagaimana seorang hamba bekerja pada tuannya.Di jaman rasul Paulus, pada jemaat Kolose, sistem perbudakan memang terjadi.Kekristenan yang memang berkembang dari masyarakat kelas bawah mempunyai banyak jemaat di gereja di Kolose yang status pekerjaannya adalah budak-budak.Seringkali dalam pekerjaannya, para budak merasa mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari tuannya. Namun apa yang disampaikan oleh Rasul Paulus dalam ayat ini adalah memotivasi orang untuk tetap bertahan, dan tetap mendedikasikan dirinya pada pekerjaan yang dijalani apapun yang menjadi tantangan. Ia menyarankan untuk bekerja lebih dari pada hal-hal yang membuat dirinya menjadi kalah oleh kenyataan. Dan bagi pemahaman mereka hal terbaik adalah Tuhan sendiri.

Kita semua memiliki motif untuk bekerja.Dalam pekerjaan kita tahu bahwa tidak ada yang mudah, atau yang sepenuhnya menyenangkan.Selalu saja ada hambatan, kesulitan khususnya hal-hal yang membuat kita merasa tidak senang atas kondisi pekerjaan yang kita jalani. Dan apa yang kita lakukan ketika hal itu terjadi? Apakah kita akan mundur dan menjadi kecewa atau marah atas apa yang terjadi? Atau kita tetap bertahan, tetap melakukan yang terbaik, sebab kita meletakkan motif bekerja dalam kehidupan kita pada hal yang lebih tinggi. (AT)

Refleksi:
Bentangkan perspektif Anda dalam bekerja sehingga menemukan titik yang paling penting di mana Anda bisa bertahan untuk tetap bekerja sebaik mungkin.

MENGHASILKAN HAL YANG BAIK

Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. (Kejadian 1:3-4)

Saya pernah mempunyai pengalaman yang sangat buruk bersama istri di sebuah kedai makanan di pinggir jalan.Kami memesan ayam rica menu utama yang disediakan oleh rumah makan tersebut. Ketika pemilik kedai itu mulai memasak, saya sedikit menaruh curiga ketika ia bertanya pada laki-laki di belakangnya tentang bumbu yang hendak digunakan pada makanan tersebut, dan laki-laki di belakangnya itu nampaknya memberi kode dengan mengangkat kedua bahunya di atas. Ketika makan disajikan kecurigaan saya ternyata beralasan.Ayam rica yang disajikan itu
rasanya sangat tidak enak sekali. Saya sampai tersenyum-senyum sendiri melihat makanan itu dan melihat bagaimana ibu kedai mencuri-curi pandang ke arah kami menginspeksi apakah kami akan memakan masakannya atau tidak. Meskipun keterlaluan bagaimanapun juga saya agak terharu melihat keberaniannya berjuang mencari nafkah.Kami tidak komplain tapi juga tidak memakan ayam goreng tersebut.

Ayat di atas adalah bagian dari kisah bagaimana Allah menciptakan dunia ini. Dan yang menarik pada setiap bagian pada proses penciptaanNya Allah selalu mengulang-ulang kata “baik”. Menurut penjelasan makna kata dalam bahasa Ibrani kata baik atau tov menjelaskan sebuah kondisi yang jika pada barang adalah bagus, atau pada wanita adalah cantik, atau pada makanan adalah enak, dan seterusnya.  Jadi dunia ini diciptakan Allah bukan dengan cara yang sembarangan. Allah menciptakannya dengan rincian yang sangat luar biasa, sehingga dunia akan menjadi tempat tinggal yang sempurna bagi manusia. Terlepas kemudian dari kegagalan manusia yang diamanatkan Allah untuk menjaga bumi ini, sains telah melakukan penelitian di jagad raya yang berisi milyaran bintang dan planet, dengan biaya mahal dan peralatan yang canggih, dipimpin langsung oleh para ilmuwan ternama yang salah satunya adalah Stephen Hawking, namun hingga saat ini bumi tetap adalah tempat tinggal bagi manusia yang paling baik.

Jadi selain kita mewarisi sifat-sifat Allah, sebab kita memang diciptakan dalam gambaran Allah sendiri, hal yang menarik dari kehidupan manusia dan bagaimana ia membangun  peradabannya adalah melalui daya cipta yang berasal dari akal budinya. Sehingga bagi kita semua dalam berkarya menghasilkan yang sesuatu dari kehidupan kita, sudah seharusnya jika mengikuti standar yang Allah sendiri telah lakukan dalam penciptaan yakni menghasilkan hal-hal yang baik. (AT)
Refleksi:
Mari menciptakan hal-hal yang baik dari kehidupan kita.

SUKSES DENGAN CARA YANG BENAR

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya…(Matius 6:33a)

Sepasang suami istri yang baru menikah sibuk merencanakan membangun rumah mereka sendiri.Padahal mereka tidak berpengalaman dalam membangun rumah. Setelah menyusun rencana yang menurut mereka bagus, sang suami mengambil inisiatif membeli segala keperluan seperti genting, semen, ubin, kayu-kayu kusen. Belum juga selesai, sang istri tak kalah sibuknya membeli wallpaper, wastafel, aneka keramik, hingga tak terasa uang mereka ludes terbelanjakan semua. Ketika mereka berpikir sudah siap membangun, mereka memanggil tukang dan
meminta bekerja membangun rumah mereka.Sang tukang nampak bingung sebab
tidak menemukan tiang-tiang besi pada bahan bangunan yang sudah dibeli, yang diperlukan untuk membangun fondasi rumah terlebih dahulu.

Ayat di atas adalah bagian dari sebuah perikop panjang ajaran Yesus yang berbicara tentang hubungan manusia dengan bagaimana cara mereka memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun demikian ada yang menarik pada kalimat di atas, alih-alih Yesus mengajarkan mereka untuk bekerja keras menjawab kebutuhan hidup mereka, Ia malah mengajarkan prinsip “mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya” barulah bagian ayat “…maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Sepertinya Allah hendak mengajarkan melalui ayat ini bahwa kesuksesan
hidup dalam pandangan Alkitab bukan sekedar kesuksesan sendiri, atau seluruhnya tentang keberhasilan hidup tanpa memperdulikan bagaimana cara memperolehnya. Yang diajarkan Allah di sini justru lebih kepada sebuah proses yang benar. Janji yang tertulis dalam Alkitab adalah jaminan bahwa kesuksesan akan diberikan kepada kita, asalkan yang menjadi proses yakni usaha meletakkan dasar prinsip kerajaan Allah
dan kebenarannya menjadi hal yang mendasar. Jika tidak mungkin seperti ilustrasi di atas, kita menumpuk semua barang namun lupa meletakkan fondasinya.
Kita sadar bahwa di dunia ini kita bisa melakukan cara apa saja untuk meraih kesuksesan. Bahkan kita melihat orang tidak segan orang melakukan tindakan-tindakan yang melawan hukum seperti korupsi, tindakan kriminal, atau merugikan orang lain memproduksi produk makanan dengan bahan-bahan murah dan berbahaya untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar, membuang limbah industri tidak pada tempatnya sesuai dengan tata cara atau ketentuan pengendalian
lingkungan, termasuk yang sekarang sedang hangat dibicarakan adalah pembukaan lahan dengan cara membakar lahan. Namun Yesus tidak mengajarkan hal sedemikian.Ia mengajarkan kita untuk hidup benar sebagai jalan menuju kesuksesan yang sebenarnya. (AT)
Refleksi:
Kesuksesan materi bukan segalanya dalam keimanan Kristen, namun memahami Allah sebagai sumber keberhasilan adalah landasan utama untuk membangunnya.

PEMBAHARUAN BUDI

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh
pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.(Roma 12:2)

Seorang ibu lansia heran melihat sepanjang hari langit mendung saja. Padahal ia sangat mengharapkan hujan yang sudah lama tidak turun akan segera turun hari itu, membasahi kebun kecil di belakang rumahnya yang tanamannya sudah mulai mengering. Namun malam tiba akhirnya ia menyerah.  Hujan tidak akan turun. Ya tentu saja sebab sebenarnya hari itu langitnya cerah sekali, bukan mendung. Ternyata si ibu lansia ini yang mulai agak pikun lupa melepaskan kacamata hitam kiriman anaknya yang dicobanya pagi-pagi sekali sebelum ia melihat keluar rumah.

Kisah ilustrasi di atas tentu saja hanya sebuah parodi.Namun ada hal menarik jika kita mengaitkan pada ayat yang disampaikan oleh Rasul Paulus pada jemaat di Roma tersebut. Secara perikop Roma 12:1-8 adalah nasihat Paulus tentang kehidupan yang dipersembahkan bagi Allah untuk mendukung kemajuan sebuah komunitas tubuh Kristus. Namun yang unik adalah di tengah-tengah dorongan tersebut Rasul Paulus
menyisipkan pentingnya perubahan dalam ayat kedua tersebut. Dalam bahasa Inggris kalimat di atas membentuk rima bahasa yang bagus  “…Be not conformed … but be ye transformed…” jangan menjadi serupa tetapi berubahlah, yang dalam hal ini dimulai dari akal budi, agar memiliki paradigma yang baik yakni yang dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Sebab jika tidak, bisa jadi apa yang terjadi pada ibu tua dalam
ilustrasi di atas akan terjadi dalam kehidupan kekristenan kita.

Mengapa gereja seringkali mengalami masalah seperti perpecahan, sikut-sikutan antar gereja dan hamba Tuhan?Mengapa pelayanan berubah arah dari yang rohani menjadi begitu materialistik misalnya yang terjadi pada dunia pelayanan pendidikan Kristen?Atau mengapa kita sendiri sering mengalami disorientasi dalam memahami panggilan Allah atas kehidupan kita? Mungkin di sinilah kita harus selalu ingat untuk tidak lupa melepaskan “kacamata” kita dan membiarkan Allah bekerja di dalam
akal budi kita, agar kita bisa melihat perspektif kerajaan Allah dalam kehidupan kita dengan benar. (AT)
Refleksi:
Lepaskan pola berpikir yang salah jika ingin semua kesalahan dalam kehidupan kita berlalu.