KEJATUHAN SAUL

“Sampai hari matinya Samuel tidak melihat Saul lagi, tetapi Samuel berdukacita karena Saul. Dan TUHAN menyesal, karena Ia menjadikan Saul raja atas Israel.”(1 Samuel 15:35)

Kita semua tahu tentang Saul, raja pertama bangsa Israel. Awalnya Tuhan memilih Saul, tetapi mengapa Saul pada akhirnya ditolak oleh Tuhan? Ada tiga hal yang ingin kita renungkan hari ini. Hal yang pertama, Saul tidak sabar dalam menanti waktunya Tuhan. (1 Samuel 13) pada saat orang Filistin berkemah di Mikhmas dan bangsa Israel ketakutan, Saul menanti Samuel selama 7 hari, tetapi Samuel tidak datang, rakyat mulai meninggalkan Saul. Saul kemudian mengambil pekerjaan Samuel dan mengorbankan korban bakaran kepada Tuhan. Tindakan Saul dikecam oleh Samuel sebagai tindakan yang bodoh (1 Samuel 13:13).

Hal yang kedua, Saul berkompromi terhadap perintah Tuhan. Tragedi mengorbankan korban bakaran kepada Tuhan menggantikan Samuel, juga bisa dilihat sebagai sikap Saul yang tidak mengindahkan perintah Tuhan sebagai perintah yang harus ditaati. Saul memiliki pemikiran dalam keadaan mendesak, perintah Tuhan bisa dilanggar asalkan hal yang dilakukan adalah baik. Peristiwa lainnya muncul ketika Tuhan memerintahkan Saul untuk menyerang orang Amalek (1 Samuel 15:3) dan
menumpas segala yang ada pada orang Amalek. Tetapi Saul tidak melakukan semua perintah Tuhan (1 Samuel 15:20-21) Saul memang menumpas orang Amalek, tetapi kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik tidak ditumpas dengan alasan dikhususkan untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Samuel mengecam tindakan Saul. “mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan” (1 Samuel 15:22).

Hal yang ketiga, Saul “takut” kepada kata-kata yang diucapkan oleh orang lain. 1 Samuel 15:24 menunjukkan bagaimana Saul mau mengakui esalahannya, tetapi dia takut apa yang akan dikatakan rakyatnya tentang dirinya, sehingga dia memohon Samuel untuk tetap bersamanya menyembah Tuhan agar rakyat tidak menjadikan kesalahan yang dilakukan Saul sebagai buah bibir.

Bila kita renungkan, ketidaksabaran, kompromi terhadap Firman Tuhan dan ketakutan dipersalahkan oleh orang-orang sekitar kita, sering merupakan kelemahan kita dalam kehidupan. Mari kita belajar untuk bersabar, taat sepenuhnya kepada Firman Tuhan dan berani dalam kehidupan kita, agar kehidupan kita bisa berkenan di hadapan Tuhan.(AS)
Refleksi:
Seberapa taatkah kita pada Firman Tuhan?

HIDUP DIPERKENAN TUHAN

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh
pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”(Roma 12:2)

Seorang pemuda mencintai seorang wanita. Tiga tahun setelah hubungan mereka berlangsung, sang pemuda ini merasakan semakin lama semakin renggang hubungannya. Dia merasa sedih dan berkonsultasi dengan pembimbing rohaninya. Pembimbingnya memberikan suatu pandangan baru pada pemuda itu. Pemuda itu kemudian menyadari bahwa Tuhan telah memberikan tugas untuk membimbing temannya agar percaya kepada Tuhan. Hubungan dengan temannya tidak berarti harus berakhir di pernikahan. Setelah itu pemuda ini pun mengajak berdialog “temannya” itu. Kesimpulan dari dialog tersebut membuat kedua pihak merasa lega. Keduanya memutuskan untuk melanjutkan hubungan sebagai orang yang saling membantu dalam pertumbuhan iman kepada Tuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari kita seperti pemuda di atas. Kita cenderung melihat kejadian di hidup kita dengan kacamata diri sendiri. Kita lupa bahwa hal yang terpenting adalah Tuhan berkenan dalam kehidupan kita.

Renungan kita hari ini adalah melihat kejadian dalam kehidupan kita dengan kacamata iman kepada Tuhan. Mari kita renungkan kejadian pembuangan bangsa Israel ke Babel. Sebelum Babel menyerang Israel, bangsa itu bukan tidak diberi peringatan oleh Tuhan. Mereka terus menerus diingatkan oleh para nabi bahwa mereka telah menyimpang dan Tuhan tidak berkenan. Tetapi walaupun peringatan-peringatan itu telah diberikan, mereka tidak mengalami perubahan. Kejadian sehari-hari berlalu dalam kenyamanan sehingga mata mereka seolah-olah tertutup. Mereka
tidak membuka diri untuk sadar bahwa ada Tuhan yang melihat perbuatan mereka dan tidak berkenan pada perbuatan mereka.

Kita hidup di zaman teknologi yang memberikan banyak kenyamanan bagi kita. Internet membuka wawasan kita dalam banyak pengetahuan. Kejadian-kejadian di dunia lain bisa kita ketahui dalam waktu singkat. Trend dan gaya hidup dengan mudah masuk ke dalam kehidupan kita. Dalam segala kenyamanan ini, kita harus selalu waspada. Kita harus selalu ingat semua ini hanya sementara. Kita harus ingat bahwa ada wawasan, pengetahuan, trend, nilai, dan gaya hidup yang tidak
diperkenan oleh Tuhan. Jangan lupa bahwa Tuhan mengawasi kita. (AS)
Refleksi:
Apakah selama ini kehidupan saya berkenan di mata Tuhan? Apa saja yang bisa kita buang agar Tuhan bisa bekenan?

GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU

“…Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
(Yohanes 21:17)

Suatu hari ada seorang pemuda yang dipercayakan sebagai pengurus di sebuah gereja. Ada sebuah kegiatan acara kebersamaan di mana pemuda tersebut menjadi pengurusnya. Pada awal rencana diumumkan, banyak pemuda yang berantusias ingin ikut acara, tetapi ketika pendaftaran dibuka, dari sejumlah anggota pemuda yang mengatakan ingin ikut acara ternyata yang mendaftar hanyalah 30%. Selain itu, muncul juga masalah-masalah perbedaan pendapat dengan pengurus gereja lainnya yang meragukan keberhasilan acara ini. Hal yang terbesar adalah masalah keuangan, dukungan keuangan dari gereja sangatlah terbatas. Betapa
kecewanya pemuda itu menghadapi semua masalah ini. Pada saat kecewa seperti itu, dia merasa tertekan (stress). Banyak pertanyaan yang kemudian muncul di benaknya. Jangan-jangan Tuhan tidak berkenan dengan acara ini?

Dalam kondisi stress ini, pemuda itu berlutut berdoa mohon petunjuk Tuhan. Tuhan menjawab doanya melalui pertanyaan: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Pemuda itu teringat peristiwa dimana rasul Petrus ditanya oleh Tuhan pertanyaan yang sama. Pemuda itu kemudian menangis. Dia teringat akan kesulitan-kesulitan yang harus dia hadapi. Dengan berat dia menjawab “Ya Tuhan, saya mengasihi Engkau.” dan
Tuhan berkata “Gembalakanlah domba-domba-Ku” Dari situ dia mulai mengubah cara pikirnya. Dia menyadari untuk tidak melihat jumlah peserta dan persetujuan dari semua pihak sebagai patokan keberhasilan. Dia melihat tujuan acara, apakah hasil akhir dari acara ingin memuliakan Tuhan? Hasil akhir acara haruslah bisa mengarahkan domba-domba Tuhan ke jalan benar.

Beberapa hari kemudian pada suatu malam pemuda ini dikagetkan dengan kabar bahwa ada beberapa jemaat gereja yang telah menyumbang sejumlah dana sehingga masalah dana bisa teratasi. Akhir cerita, acara bisa berjalan dengan baik, walaupun peserta hanya setengah dari yang diharapkan tetapi  feedback dari peserta cukup menggembirakan.

Di tempat kerja kita banyak pemimpin-pemimpin yang diserahi tugas dalam menggembalakan domba-domba Tuhan. Mari kita mendoakan agar mereka yang dipilih adalah orang-orang yang mengasihi Tuhan, agar mereka diberi kekuatan dalam setiap keputusan yang mereka ambil. (AS)

Refleksi:
Apakah di setiap karya kita dalam rangka mengasihi Tuhan. Jika demikian, gembalakanlah “domba-domba” yang Tuhan percayakan kepada kita.

DUA SISI KEBENARAN: INTEGRITAS & KEJUJURAN

“Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri?…”(Roma 2:21a)

Apa persamaan dan perbedaan antara Integritas dan Kejujuran? Pdt. Dr.
Joas Adiprasetya pernah mendeskripsikannya, seperti ini: “Kejujuran
adalah mengatakan yang benar kepada orang lain, sedangkan integritas
sesungguhnya adalah mengatakan yang benar kepada dirinya sendiri”. Dengan kata lain, persamaan keduanya adalah sama-sama bertumpu pada nilai-nilai kebenaran,sedangkan perbedaannya adalah kejujuran berada pada interaksi dengan orang lain,integritas berada pada penghayatan pada dirinya sendiri.

Pengertian yang sangat menarik untuk semakin memahami arti tentang integritas.Siapapun bisa saja mengatakan apapun kepada orang lain, entah itu jujur ataubohong, karena orang lain tidak akan pernah tahu apakah ia mengatakan jujur atauberbohong.  Akan tetapi, siapapun tak akan pernah bisa membohongi dirinya sendiri. Itulah integritas. Karena itu, siapa yang paling menentukan terjadinya keselarasan antara kata dan perbuatan, ya, dirinya sendiri!

Perikop Roma 2:17-24, mengisahkan tentang orang-orang Yahudi yang cenderung tak berintegritas. Mereka tahu bagaimana memuliakan Tuhan, tahu kehendak-Nya, tahu yang baik dan yang jahat, tetapi hal itu tidak mereka lakukan. Mereka senantiasa mengajarkan kebenaran kepada orang lain, tetapi mereka sendiri tidak melakukan kebenaran itu. Paulus merincinya seperti ini, “Engkau yang mengajar:“Jangan mencuri”, mengapa engkau sendiri mencuri? Engkau yang berkata: “Jangan
berzinah”, mengapa engkau sendiri berzinah?” (ay. 21-22).

Dalam dunia pendidikan, kita bisa saja mengatakan dan mengajarkan apapun kepada naradidik. Mereka pun tak akan tahu kita mengatakan yang sesungguhnya atau tidak. Akan tetapi, pengajaran yang terbaik akan selalu ada melalui keteladanan orang yang mengajar. Mengajar atau memimpin dengan keteladanan ternyata lebih efektif mencapai tujuan. Firman Tuhan mengatakan, “jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu” (Tit. 2:7). Mari, senantiasa kita memimpin dengan integritas, kini siapa yang menjadi saksi kita dalam memberlakukan integritas, ya, diri kitasendiri. (FH)
Refleksi:
Siapa yang paling dekat dengan kita yang akan senantiasa mengingatkan kita untukberintegritas setiap waktu, ia adalah hati nurani kita sendiri.

KATAKAN BENAR JIKA BENAR, KATAKAN SALAH JIKA SALAH

“… ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!”” (Matius 27:24)“

Yang menderita sengsara di bawah pemerintahan Pontius Pilatus…”,
sepenggal kalimat yang merupakan credo  (Pengakuan Iman Rasuli), yang seringkali diucapkan saat Kebaktian Minggu di gereja. Menarik bahwa dalam rumusan pengakuan iman orang percaya memasukkan unsur atau nama seorang pejabat pemerintah yang sebenarnya ikut serta menjatuhkan hukuman salib kepada Yesus Kristus. Meskipun Pontius Pilatus mengelak dengan mengatakan bahwa “aku tidak bersalah terhadap darah orang ini, itu urusan kamu sendiri” (Mat. 27:24), akan tetapi keputusannya tersebut justru membuat Yesus dijatuhi hukuman.

Ada banyak tafsiran yang menyebutkan alasan Pontius Pilatus tidak cukup berani menentang suara kerumunan orang Yahudi saat itu. Beberapa menyebutkan bahwa ia ingin jabatannya aman; ia tidak ingin dipindahkan atau digeser kedudukannya oleh kaisar Romawi karena dianggap tidak mampu mengurus konflik yang terjadi di Yerusalem. Padahal Pilatus sendiri sadar dan yakin betul bahwa tidak sedikit pun ia
menemukan kesalahan pada diri Yesus (lih. Luk. 23:4, “Kata Pilatus kepada imam-imam kepala dan seluruh orang banyak itu: “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada orang ini’).  Namun akhirnya, ia harus kalah; kalah dengan suara massa (orang banyak); kalah dengan ketakutannya (bahwa kedudukannya akan bergeser); kalah dengan nuraninya!

Gambaran Pilatus adalah gambaran kita, manusia yang disebut sebagai orang percaya. Jangankan bertindak benar, untuk dapat berkata benar pun menjadi sulit bagi kita. Kita lebih memilih berdiam diri dan enggan ikut campur sekaligus merasa bukan urusan kita. Padahal ketidakadilan, pengkhianatan, penderitaan lalu lalang di depan kehidupan kita. Sama halnya seperti Pilatus, kita tidak ingin kedudukan bergeser, tidak ingin ikut campur, tidak ingin menambah masalah dalam hidup. Persoalannya, kehadiran orang percaya di dunia untuk menyuarakan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan mewujudkan keutuhan ciptaan. Jika orang percaya diam seribu bahasa melihat berbagai persoalan yang terjadi lantas bagaimana damai sejahtera Allah dapat dirasakan banyak orang. (FH)
Refleksi:
Pontius Pilatus menjadi cerminan bagi kita untuk mampu menyuarakan kebenaran, keadilan, dan mewujudkan keutuhan ciptaan. Jangan diam melihat praktik ketidakadilan dan ketidakbenaran, karena di sanalah kita sebagai anak-anak-Nya diutus menyuarakan kasihNya.

MAU MENJADI PEMIMPIN YANG DAPAT DIPERCAYA?

“Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercaya.”
(1 Korintus 4:2)

Dapat dipercaya adalah sebuah penghargaan, sekaligus kesempatan.
Dianggap penghargaan berarti kontribusi kita dalam hidup ternyata berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Dianggap kesempatan berarti kita perlu menunjukkan setiap waktu konsistensi kata dan perbuatan kita di hadapan orang lain. Bukankah seorang pemimpin sejati dibuktikan dari keberadaannya yang dapat dipercaya? Karena itu, kepercayaan yang disematkan kepada seorang pemimpin, hendaknya dipandang sebagai sebuah kesempatan untuk menampilkan identitasnya yang berintegritas. Dengan kata lain, integritas seseorang menjadi prasyarat bagi
dirinya untuk dapat dipercaya.
Ya, seseorang dipercaya karena perkataan dan perbuatannya. Saat kata dan sikap tak bertolak belakang, melainkan berselaras, maka akan terbangun rasa percaya di mana-mana. Mengapa ketika berintegritas harus menyelaraskan kata dan sikap? Karena perkataan hanyalah buah pemikiran seseorang yang paling pertama terlontarkan di hadapan orang lain. Dan karena itu, perbuatan haruslah menjadi pembuktian dari buah pemikiran itu di hadapan orang lain juga. Jika hal itu tidak terjadi, maka ia akan diremehkan dan tak dihargai buah pemikirannya. Itu berarti ia sedang mempermalukan jatidirinya secara utuh di hadapan orang lain.

Keberadaan orang lain menjadi sangat penting untuk menilai apakah kita ini orang yang berintegritas atau tidak. Sebab, merekalah yang akan memandang, memperhatikan, bahkan memberi kesan dan kesimpulan tentang siapa kita ini. Apalagi kita ini adalah seorang pemimpin (pelayan gereja, hamba Kristus, pengajar), maka akan lebih banyak dituntut dari dirinya. Rasul Paulus menyadari hal itu, karena itu ia menyampaikan “Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikianlah
ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai” (ay. 2).

Seorang pemimpin menuntut orang lain yang dipimpinnya untuk taat dan setia, tetapi setiap mahasiswa/umat/rakyat/orang banyak (orang lain) menuntut seorang pemimpin yang dapat dipercaya. Karena itu, bangunlah integritas diri dalam perjumpaan kita dengan orang lain setiap waktu. (FH)
Refleksi:
Setiap orang tentu menginginkan dapat dipercaya oleh siapapun. Karena itu, berharaplah dapat dipercaya, tapi kepercayaan itu dinyatakan gayung bersambut dengan sikap integritas kita sendiri.

PERKATAANMU MENUNJUKKAN PIKIRANMU

“… barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.” (Yakobus 3:2b)

Manakah yang paling sering kita ucapkan dan dengarkan dalam keseharian: hal baik atau jahat? Baik atau jahat, keduanya sama-sama berdampak dalam kehidupan, baik ia yang mengucapkan maupun yang mendengarkan. Misalkan, seseorang yang terlalu sering mendengarkan kata-kata kasar, maka ia akan menganggap dirinya tak berdaya, tak percaya diri, dan tak berharga. Begitupula, seseorang yang terlalu sering mengucapkan kata-kata kasar, justru ia akan lebih mudah stress, sulit berpikir logis, kemampuan berbahasa dan berkomunikasinya lemah, serta fungsi memori otaknya semakin menurun.

Kini, bayangkanlah dampak perkataan seorang pemimpin! Melalui perkataannya, ia akan cepat ditiru; perintahnya akan dengan mudah dilaksanakan. Tapi apa jadinya, jika perkataan yang keluar dari seorang pemimpin tidak menunjukkan hal yang patut ditiru, bagaimana orang lain dapat mematuhinya.

Surat Yakobus ini menyatakan nasihat agar kita tidak menjadi guru “yang salah”. Di jaman Yakobus, guru dipandang sebagai seorang yang terhormat, sehingga banyak orang berlomba menjadi guru, tanpa sesungguhnya mereka menyadari peran penting seorang guru! Dengan demikian, banyak ditemukan orang-orang yang menjadi guru hanya sekadar status saja, tapi dalam kesehariannya tidak menunjukkan perilaku yang pantas ditiru dan perkataannya santun. Karena itu, bagi Yakobus, dosa karena lidah sangat besar dampaknya. Yakobus mengatakan bahwa perkataan kotor dan kasar “dapat membakar hutan yang besar dan penuh racun yang mematikan” (Yak. 3:5b, 8b). Akhirnya, semakin jelaslah bahwa perkataan seseorang tidak hanya berdampak bagi orang yang mendengarnya, tetapi juga bagi dirinya sendiri.

Kita bekerja di sebuah lembaga pendidikan, yang berperan membentuk dan membina tiap orang agar dapat berkata dan bertindak dengan baik, bukan sebaliknya! Karena itu, peran kita sebagai seorang pemimpin (dhi. Pengajar) adalah ikut terlibat dalam proses  humanisasi  (memanusiakan, manusia!),  bukan  dehumanisasi. Caranya, seorang pemimpin hendaknya memiliki integritas, yang terpancar melalui apa yang dikatakannya. Perkataan yang keluar dari mulut adalah cerminan dari apa yang kita pikirkan. Karena itu mulailah berpikir hal baik, sehingga kita dapat bertutur dengan baik. (FH)
Refleksi:
Jika kita diberikan kesempatan untuk memimpin, maka memimpinlah dengan integritas, khususnya dalam pikiran, perkataan, dan perbuatamu. Karena, di sanalah jatidirimu berada.

KEANGKUHAN YANG MENJERAT DAN YANG BISA

“Kemudian Haman disulakan pada tiang yang didirikannya untuk Mordekai.Maka surutlah panas hati raja.”  (Ester 7:10)

Alkisah dalam buku yang ditulis oleh Herodion Pitakarya Gunawan bercerita tentang seekor burung gagak yang diberi judul “Burung Gagak yang Jahat”. Burung gagak dalam cerita ini digambarkan bertubuh besar, gagah dan angkuh. Ia marah pada burung kutilang yang tidak takut padanya. Suatu hari datang seorang pemburu ke hutan. Gagak menghasut si pemburu untuk memanah si kutilang dengan
menawarkan bulunya sebagai anak panah. Namun, si pemburu berulang-ulang gagal memanah si burung kutilang hingga bulu burung gagak habis. Karena kesal tidak mendapatkan hasil buruan, sebagai gantinya pemburu menangkap gagak yang kini tidak dapat terbang karena bulunya sudah habis.
Haman, pembesar Kerajaan Persia, juga angkuh. Ketika Mordekhai, pegawai di gerbang istana, tidak bersedia menyembah ia marah. Ia pun menggunakan jabatan dan kedudukan politiknya untuk membunuh Mordekhai beserta seluruh orang Yahudi di kerajaan itu. Namun, tipu muslihatnya itu disingkap oleh Ester sehingga Raja Ahasyweros murka (Ester 7:1-7). Raja semakin murka ketika Haman melanggar kesusilaan istana dengan berlutut dan memohon kepada Ester yang tengah berbaring. Raja akhirnya memerintahkan agar Haman disulakan (ayat 7-9). Ironisnya Haman disulakan pada tiang yang disediakan untuk menyulakan Mordekhai (ayat 10). Ia akhirnya jatuh karena keangkuhannya.

Keangkuhan dapat menjerat kita dalam kebencian dan kepicikan. Sama halnya ketika kita menjadi seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang dipenuhi oleh rasa keangkuhan, tinggi hati tanpa melihat orang lain yang dipimpinnya, akan menggunakan cara yang penuh kebencian, kepicikan dan kemarahan. Padahal tanpa menggunakan hal tersebut, mengambil hati bawahan, mengajak bicara akan jauh lebih baik bagi seorang pemimpin terhadap bawahannya. Keangkuhan seorang pemimpin terhadap bawahannya akan menjerat pemimpin itu sendiri pada kejatuhannya. Menjadi pemimpin yang punya integritas baik, memiliki visi yang jelas akan membantu mewujudkan Maranatha mengarah ke pencapaian visi, misi, dan tujuan. (CSB)
Refleksi :
Berpegang teguh pada firman Tuhan dapat menghindarkan kita dari jerat
keangkuhan.

DENGAN PIMPINAN ROH KUDUS

Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia.
(Kisah para Rasul 16: 6)

Dari suatu kisah disebutkan bahwa di antara para pelaut kuno, suku Viking tergolong ulung dan pemberani. Dengan sampan mungil, mereka mengarungi Samudera Atlantik Utara dan berlayar ke tempat yang jauh. Diduga, berabad-abad sebelum Columbus mengelilingi benua Amerika, mereka telah menjelajahi lautan menuju benua Amerika. Columbus sudah memiliki kompas sebagai penunjuk arah. Tapi apa yang digunakan bangsa Viking ini sebagai penunjuk arah? Menurut legenda yang ada, mereka menggunakan burung gagak. Saat kehilangan arah, mereka melepas burung gagak ini ke udara. Burung gagak itu secara naluriah akan
mengarah ke daratan sehingga para pelaut tinggal mengikutinya.

Awalnya Paulus, Timotius, dan Silas berencana memberitakan injil ke Asia, tetapi Roh Kudus mencegah mereka (Kisah Para Rasul 16 ayat 6). Di titik itu pun mereka masih belum tahu tujuan selanjutnya. Mereka hanya berjalan sampai tiba di Misia, hendak masuk ke daerah Bitinia. Dan sekali lagi Roh Kudus tidak mengizinkan mereka untuk masuk kesana. Mereka berhenti di Troas, sambil menunggu petunjuk Tuhan. Dalam sebuah penglihatan, mereka tahu bahwa Tuhan memanggil mereka untuk
memberitakan Injil di Makedonia (ayat 10).

Dalam pelayaran hidup terkadang kita kehilangan arah dan tidak tahu lagi kemana akan melangkah. Sama halnya ketika seseorang dipercaya menjadi seorang pemimpin,  ada kalanya seorang pemimpin seperti seorang nahkoda yang kehilangan arah dan tidak tahu lagi akan diarahkan kemana kapalnya. Yang bisa dilakukan seorang yang kehilangan arah adalah meminta pertolongan dan pimpinan Roh Kudus. Roh Kudus
akan membantu memberikan petunjuk dan mengarahkan kemana sebaiknya kita harus melangkah. Ketika Roh Kudus mencegah perjalanan kita dibutuhkan kepekaan untuk mengerti kehendak-Nya. Seorang pemimpin perlu mendengar pimpinan dan tuntunan Roh Kudus dalam setiap langkahnya supaya pemimpin tersebut tidak salah melangkah. Tuhan melalui Roh Kudus akan menunjukkan arah. Kita harus
mengandalkan Roh Kudus sebagai penunjuk arah hidup dan taat pada pimpinan Tuhan tidak pernah salah. (CSB)
Refleksi :
Saat kita kehilangan arah, mintalah pimpinan Roh Kudus. Ikuti petunjuk-Nya, Ia akan menunjukkan arah yang tepat.

BAGIAN KITA

“Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.” (Amsal 30: 8)

Menarik mendengar kisah tentang seekor anjing yang berlari-lari membawa tulang dari tong sampah. Ketika melewati jembatan, ia menunduk dan melihat bayangan dirinya terpantul dari air sungai. Ia mengira, ada anjing lain membawa tulang yang lebih besar dari miliknya. Tanpa pikir panjang, ia menjatuhkan tulang yang dibawanya dan langsung melompat ke air. Anjing itu akhirnya bersusah payah berenang ke tepian. Ia hanya bisa berdiri termenung dan sedih karena tulang yang dibawanya tadi sudah hilang karena masuk ke dalam air.

Cerita di atas menggambarkan sikap tidak berpuas diri yang berkembang menjadi keserakahan. Agur bin Yake dalam kitab Amsal 30 belajar untuk menghindarinya. Ia memohon dua hal pada Tuhan (ayat 7).  Pertama, agar Tuhan menjauhkannya dari kecurangan dan kebohongan. Kedua, agar Tuhan tidak memberinya kemiskinan atau kekayaan. Intinya, ia memohon agar Tuhan memberikan apa yang menjadi bagiannya (ayat 8). Permohonan Agur menunjukkan kepercayaannya bahwa Tuhan sudah menyiapkan berkat khusus baginya.

Setiap orang harus melakukan apa yang menjadi bagiannya dengan baik dan bertanggung jawab apapun keadaannya. Seperti ada orang yang dipercaya menjadi pemimpin dan ada orang yang dipimpin. Ketika masing-masing dari kita melakukan bagian kita dengan baik, maka keserakahan, kecurangan, kebohongan untuk kepentingan pribadi tidak akan terjadi karena masing-masing akan mengerjakan apa yang menjadi bagiannya. Kisah anjing di atas yang kehilangan tulangnya memberi pelajaran. Terkadang hati kita dipenuhi kecemburuan, dipenuhi untuk melihat atau
membandingkan bagian orang lain tanpa menyadari bahwa kita harus bersyukur untuk apa yang kita miliki atau bagian kita. Agur bin Yake di kitab Amsal 30: 9 mengatakan ketika manusia sudah dipenuhi kecurangan, kebohongan, kecemburuan pada orang lain akan mengakibatkan manusia menyangkal dan mencemarkan nama Tuhan karena keinginannya tidak tercapai. Akankah kita sebagai ciptaan yang paling dikasihi Tuhan, mendukakan-Nya dengan menyangkal dan mencemarkan namaNya? (CSB)
Refleksi :
Tuhan sudah menentukan setiap kita pada bagiannya masing-masing. Tinggal kita mengerjakan bagian kita dengan sebaik-baiknya.