PEMIMPIN YANG BERSEMANGAT

“Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa yang akan memulihkan semangat yang patah” (Amsal 18 : 14)

Berbagai persoalan dapat menimpa siapa saja, apakah ia sebagai orang kaya atau miskin, muda atau tua. Setiap orang selama dia hidup di dunia ini akan selalu berhadapan dengan persoalan atau masalah. Setiap orang terlepas dari status sosial, pendidikan, jabatan, dan profesinya tidak luput dari persoalan, masalah, dan pergumulan. Namun yang menjadi pertanyaan adalah sampai sejauh mana kita dapat memimpin kehidupan diri kita agar tidak terhanyut atau menyerah kalah pada persoalan, permasalahan, dan pergumulan yang datang pada kita.
Dalam Alkitab dikisahkan tentang dua belas orang pengintai yang diperintahkan oleh Musa untuk melakukan pengintaian terhadap tanah Kanaan. Sepuluh pengintai menyampaikan laporan yang membuat tawar hati dan gentar umat Tuhan untuk masuk ke tanah perjanjian. Sebaliknya Yosua dan Kaleb menyampaikan laporan yang menyemangati umat Allah untuk masuk ke tanah perjanjian. Mereka menyebutkan tanah yang mereka tuju adalah tanah yang penuh susu dan madu. Mereka pemimpin yang menentramkan hati para pengikutnya untuk tetap bersemangat dan optimistik. Sekaligus mereka adalah tipe pemimpin yang mengerakkan orang-orang yang dipimpinnya mencapai tujuan.

Ketika kita sebagai warga kampus melihat orang-orang yang putus asa, apatis di sekitar kita, Arahkanlah mereka untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan agar mereka mendapatkan rasa  aman, tentram, dan termotivasi mewujudkan cita-cita bersama sebagai institusi.  Berikanlah semangat dalam menghadapi setiap tantangan supaya mendapatkan solusi   dan mampu mengisi peluang demi kemajuan bersama di masa depan. (AG)
Refleksi :
 Orang yang bersemangat adalah orang yang tidak mau menyerah

SANG PEMIMPIN

  “Jauhlah daripadaku, ya Tuhan, untuk berbuat demikian!” (2 Samuel 23 : 17a)

Alexander Agung, seorang pemimpin besar dari kerajaan Makedonia dan
dikatakan sebagai pemimpin yang berhasil. Mengapa? Alexander Agung
dikatakan sebagai pemimpin besar yang berhasil karena dia bersedia
berkorban bagi prajurit-prajuritnya. Dia tidak melupakan prajuritnya disaat dalam keadaan susah. Ia mau menderita bersama-sama dengan para prajuritnya.

Sudah selayaknya seorang pemimpin mau berkorban untuk orang-orang yang di pimpinnya. Bukan mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Mau merasakan penderitaan,  baik itu kepanasan maupun kedinginan. Dia tidak menghindar untuk berbagai alasan tetapi mau menyatu secara utuh dengan orang-orang yang dipimpinnya dan berani bertanggung jawab. Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang dapat menginspirasi dan dapat dekat secara emosional dengan orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang memimpin dengan hati dan yang menuangkan perkataannya pada perilaku dan perbuatannya. Kita semua diberi
kesempatan untuk menjadi seorang pemimpin, paling tidak kita berkesempatan untuk menjadi pemimpin bagi diri kita sendiri.

Kalau kita tengok pada diri kita sendiri, apakah kita adalah seorang pemimpin yang berintegritas? Ataukah kehidupan kita dipenuhi dengan polesan make-up yang tebal sehingga menjadi sebuah topeng? Ataukah perilaku kita itu hanya sebagai pencitraan saja? Apakah perilaku dan perbuatan kita sesuai dengan apa yang sering kita katakan ataukah kita hidup dalam kepura-puraan?

Orang yang terbiasa hidup dengan berintegritas akan merasakan hadirnya suatu kedamaian, ketenangan, dan sukacita menyelimuti kehidupannya, tetapi orang yang hidup dengan tidak berintegritas akan selalu dibayang-bayangi dengan kecemasan, ketakutan, gelisah, dan tidak ada sukacita yang terpancarkan. Bahkan kadang kala hidup dalam kecurigaan terhadap orang lain yang ada disekitarnya. Itu semua keluar sebagai cerminan diri karena sebenarnya ada sesuatu yang dia sembunyikan yaitu
kehidupan yang tidak berintegritas.(AG)

Refleksi:
Apakah Anda siap bila dipanggil menjadi seorang pemimpin dengan segala
konsekuensinya?.

HIDUP TRANSPARAN

“Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran “

(1 Yohanes 1:6)

Transparan berarti tembus pandang, dapat dilihat dengan jelas sampai ke dalam. Hidup transparan artinya bahwa kehidupan, tata cara, perilaku kita yang dapat terlihat sampai ke dalam dengan jelas. Tidak ada yang tersembunyi sehingga bila kita menjalani kehidupan ini dengan menggunakan topeng atau kedok maka itu akan terlihat dengan jelas bagaimana kita berperilaku. Apakah kita berperilaku pura-pura (dalam berdoa, beribadah, bekerja, pelayanan, peduli dengan orang lain) 
ataukah kita melakukan semua itu dengan kesungguhan tanpa maksud melakukan pencitraan?

Dalam bacaan kita hari ini, dengan jelas dikatakan bahwa  “Jika kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup dalam kegelapan, maka kita berdusta dan kita melakukan hal yang tidak benar”. Bahkan bila : “Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita” (1 Yohanes 1:10) berarti sama saja dengan kita menipu Allah, dan membuat Allah sebagai penipu. Dalam hal seperti inilah kita akan menjadi seseorang yang membaca dan mendengar firman Tuhan, namun kita tidak merasakan bahwa firman itu hadir dan ada sehingga kita pun tidak merasa kalau kita sedang ditegur, kita tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Menjalani kehidupan yang transparan tidaklah mudah. Hidup yang menunjukkan kesatuan yang utuh haruslah disertai dengan adanya konsistensi antara apa yang dikatakan dengan apa yang diperbuat. Sebagai warga Universitas Kristen Maranatha, kita menganut nilai ICE yang salah satunya adalah Integritas yang berarti pula adanya
tuntutan untuk berperilaku jujur dan menjadi satu kesatuan yang utuh. Dalam kita bersosialisasi ada tuntutan perlunya untuk tetap berintegritas sehingga saat kita bersosialisasi kita bisa memilah perilaku mana yang tepat dan kapan perilaku itu kita gunakan, karena setiap gerak gerik atau perilaku kita dapat terlihat dengan jelas oleh orang disekitar kita. (AG)
Refleksi :
Bila kita bisa memimpin dalam lingkup kecil (mulai dari diri kita ), maka kita akan bisa memimpin dalam lingkup yang lebih besar.

SAAT ORANG LAIN TIDAK TAHU

  “Engkau tadinya merasa aman dalam kejahatanmu, katamu : ”tiada yang melihat aku!”. Kebijaksanaanmu dan pengetahuanmu itulah yang menyesatkan engkau, sehingga engkau berkata dalam hatimu: “Tiada yang lain di sampingku”” (Yesaya 47 : 10)

Kita ingat cerita tentang Yusuf, anak yang sangat disayangi oleh Yakub bapa-nya namun dibenci oleh saudara-saudaranya. Akhirnya ia dijual dan menjadi budak. Dia diangkat oleh Potifar menjadi kepala atas rumahnya. Alkitab mengatakan bahwa  Yusuf itu “manis sikapnya dan elok parasnya” (Kejadian 39:6b). Isteri Potifar menyukai  dan menggoda Yusuf  berulang kali. Tetapi Yusuf tetap menolak godaan ini dengan memberi berbagai alasan. Puncak permasalahan adalah: “Pada suatu hari
masuklah Yusuf ke dalam rumah untuk melakukan pekerjaannya, sedang dari seisi rumah itu seorangpun tidak ada di rumah. Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: “Marilah tidur dengan aku.” Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar”. (Kejadian 39 : 11 – 12).

Ujian integritas dimulai saat dimana atau dianggap sepertinya tidak ada orang lain yang akan tahu kalau kita sedang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai tersebut. Kita diuji untuk melakukannya saat kita diliputi kegelapan, namun kita tidak menyadarinya karena kita menganggap kegelapan itu adalah terang. Saat kita merasa bahwa tidak akan ada orang lain yang tahu akan pikiran, perasaan dan
perbuatan kita.

Di dalam kehidupan kita di lingkup Universitas Kristen Maranatha ini, marilah melihat ke dalam diri masing-masing, apakah ada peluang-peluang untuk tidak berintegritas? Sebagai mahasiswa, ujian itu datang pada saat mengerjakan tugas dari dosen atau waktu ujian. Sebagai dosen, ujian itu datang pada saat kita melakukan kegiatan belajar mengajar, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Sebagai karyawan kita diuji dalam hal kinerja, tanggung jawab, dan otoritas. Sebagai pejabat struktural, integritas diuji dalam mewujudkan visi, misi dan tujuan Universitas. (AG)
Refleksi:
Mari kita berintegritas di hadapan Tuhan dan sesama.

INTEGRITAS TIDAK SAMA DENGAN IMAGE (YAKOBUS 1 : 2 – 8)

“Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.”
(Yakobus 1 : 4)

Integritas dimengerti sebagai  “completeness, wholeness, unified dan entirety” yang semuanya itu merujuk pada satu keutuhan, sehingga integritas itu juga dapat diartikan sebagai konsistensi dari suatu tindakan yang dilandasi pada nilai-nilai dan kode etik yang sesuai dengan kapasitasnya. Nilai-nilai dan kode etik itulah yang menjadi pegangan seseorang dalam bertindak. Jika integritas adalah siapa diri
kita sesungguhnya, maka image atau citra diri itu adalah gambaran atau persepsi orang lain terhadap diri kita, yang seringkali merupakan gambaran dari luar saja, dan gambaran dari luar tidak sama dengan yang ada di dalam diri kita.

Dalam bacaan kita hari ini, dikatakan pula bahwa ”supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun”. Sempurna dan utuh dalam setiap aspek kehidupan kita, baik itu dalam perbuatan maupun dalam perkataan. Dalam Yakobus 2 : 17 : Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati, dan dalam Yakobus 2 : 18 : “Tetapi mungkin ada orang berkata : “Padamu ada
iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia : “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku”, jelaslah artinya bahwa kita diinginkan menjadi seorang yang ber-integritas bukan hanya pencitraan diri saja. Dari perbuatan dan perilaku kita akan terlihat integritas kita.

Jadi bila kita saat ini sebagai warga Universitas Kristen Maranatha yang diberi kesempatan berjalan dengan ICE. Sudah sejauh mana kita sebagai mahasiswa, tenaga pendidik, dan  tenaga kependidikan ataupun sebagai pejabat struktural menerapkan secara konsistensi nilai-nilai ICE dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kita. (AG)
Refleksi:
Taat dan disiplin dalam membaca FirmanNya dan berdoa padaNya

KEPEMIMPINAN DEBORA

“Pada waktu itu Debora, seorang nabiah, isteri Lapidot, memerintah sebagai hakim ats orang Israel.” (Hakim-hakim 4:4)

Jabatan seorang hakim pada zaman hakim-hakim bersifat kharismatik, karena sebagai hakim, mereka tidak dipilih oleh rakyat dan mereka juga tidak mewarisi jabatan mereka. Para hakim tidak diangkat secara resmi. Mereka disebut pemimpin kharismatik karena secara spontan mereka mengambil peran kepemimpinan manakala kebutuhan muncul dan mendesak. Tuhan mengangkat mereka untuk membebaskan bangsa Israel. Salah satu pemimpin perempuan yang dipakai Tuhan dalam pemerintahan bangsa Israel adalah Debora. Kualitas kepemimpinan Debora tidak diragukan lagi. Adapun karakteristik kepemimpinan
Debora dalam kitab Hakim-Hakim 4:1-16 yaitu:
1.  Mengutamakan Orang Lain, Menurut kamus besar bahasa Indonesia
“mengutamakan” berarti menomorsatukan, menjadikan utama, menganggap lebih penting atau mendahulukan. Debora tidak menonjolkan diri, Debora mengutamakan Barak dalam Hakim-hakim 4:6a. Ia menyuruh Barak bin Abinoam sebelumnya untuk maju melawan panglima Sisera. Debora tidak mengutamakan diri sendiri, Debora ingin Barak mejadi pemimpin yang besar, namun Barak menolak dan akhirnya Debora
maju untuk menghadapi panglima Sisera dan tepat seperti yang dikatakan Alkitab; Deboralah yang dikenang sepanjang sejarah dalam kitab Hakim-hakim sebagai pahlawan bagi bangsa Israel (Hakim-Hakim 4:9).  Debora tidak hanya mengutamakan orang lain dengan cara mendahulukannya supaya menjadi besar, melainkan Debora mengutamakan damai sejahtera bagi bangsa Israel.
2. Berani Mengambil Resiko, Kata ‘berani’ berarti mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam memnghadapi bahaya maupun kesulitan; tidak takut dan gentar. Pemimpin yang berani ialah pemimpin yang tidak gentar terhadap apapun, meskipun hal tersebut beresiko bagi dirinya. Ia akan menghadapi kesulitan-kesulitan tersebut bukan lari dan melimpahkan kepada bawahan (orang yang dipimpinnya). Demikian halnya dengan Debora. Kisah ini dikontraskan antara Debora dan Barak yang notabene adalah seorang panglima perang.  Ternyata
Debora terbukti lebih berani dan berhasil memimpin pasukan melawan musuh yang jumlahnya jauh lebih banyak dari mereka. Debora tidak gentar menghadapi pasukan yang berkekuatan 900 kereta besi.  Dalam kondisi yang tidak menguntungkan, Debora berani mengambil tantangan untuk menjadi pemimpin militer dan mengalami kemenangan besar karena pertolongan Tuhan. (YG)
Refleksi :
Kualitas seorang pemimpin bisa dilihat dari standard yang mereka tetapkan untuk diri mereka sendiri.

PEMIMPIN VS BOSS

“Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya.” (Yohanes 13:16)“

Leadership is action no position” demikianlah pesan dari sebuah display
picture yang saya temukan beberapa waktu lalu dari seorang kontak BB
saya. Betapa orang sering gagal untuk menjadi pemimpin karena mereka
tidak berlaku sebagai pemimpin melainkan berlaku sebagai Boss. H.Gordon Selfridge adalah pendiri salah satu department store di London yang merupakan salah satu Department store terbesar di dunia. Ia mencapai kesuksesan tersebut dengan menjadi seorang “Pemimpin” dan bukan menjadi “Boss”. Apa yang membedakan seorang pemimpin dengan Boss?
Seorang boss mempekerjakan bawahannya; 
tetapi seorang pemimpin mengilhami mereka.
Seorang boss mengandalkan kekuasaannya;
tetapi seorang pemimpin mengandalkan kemauan baiknya.
Seorang boss menimbulkan ketakutan;
tetapi seorang pemimpin memancarkan kasih.
Seorang bos mengatakan AKU ; 
tetapi seorang pemimpin mengatakan KITA.
Seorang boss menunjuk siapa yang bersalah; 
tetapi seorang pemimpin menunjuk apa yang salah.
Seorang boss tahu bagaimana sesuatu dikerjakan;
tetapi seorang pemimpin tahu bagaimana mengerjakannya
Seorang boss menuntut rasa hormat; 
tetapi seorang pemimpin membangkitkan rasa hormat.
Seorang boss berkata PERGI !!! ;
tetapi seorang pemimpin berkata MARI KITA PERGI !
Ketika Yesus membasuh kaki murid murid-NYA; Ia kemudian bertanya, “Mengertikah kamu apa yang telah Ku perbuat kepadamu?” Dalam hal ini Yesus tidak hanya mengajari atau memerintah mereka dengan kata kata tetapi Ia memberikan contoh terlebih dahulu bagaimana seharusnya melakukannya. IA mengajarkan dan memberi contoh bagaimana menjadi seorang pemimpin yang mau melayani bukan menjadiboss. (YG)
Refleksi :
Leadership is the art of getting someone else to do something that you want because he wants to do it – Dwight D.Eisenhower.

T I M O T I U S

“Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.” (II Timotius 1:5)

Setiap pemimpin cenderung memimpin sebagaimana ia pernah
dipimpin. Observasi ini terdengar sederhana, namun memiliki implikasi yang penting. Khususnya terhadap pengembangan kepemimpinan. Jika seorang pemimpin tidak memiliki mentor dengan prinsip, pola, dan perilaku kepemimpinan yang baik, maka kemungkinan besar ia juga tidak akan menjadi pemimpin yang baik. Tidak heran kita terus-menerus dikecewakan oleh pemimpin dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tiran menghasilkan tiran. Manipulator menghasilkan manipulator. Namun sebaliknya juga benar, pemimpin-pelayan menghasilkan pemimpin-pelayan.  Memang pemimpin dapat memimpin berdasarkan sikap natural
yang inheren dalam dirinya, atau program pelatihan kepemimpinan yang ia ikuti, atau bahkan buku yang ia baca.

Timotius adalah seorang yang Allah pakai untuk menjadi pemimpin gereja-Nya sebagai generasi penerus Paulus. Ia masih muda menurut standar sosial Yahudi pada waktu itu. Ia memiliki sifat pemalu dan kurang percaya diri (1 Kor 16:10; 1 Tim 4:12). Dan terkadang sakit-sakitan, khususnya gangguan perut (1 Tim 5:23). Pendek kata, ia bukan tipe pemimpin menurut standar dunia; ia bukan seorang yang berkarisma;  yang menjadi idola banyak orang. Namun Allah memakai Timotius dibalik berbagai
kelemahan diatas. Bahkan Allah telah mempersiapkan Timotius dari sejak ia masih sangat muda. Neneknya, Lois, dan ibunya, Eunike, memberi pengaruh yang besar dalam imannya kepada Allah. Fondasi iman telah tertanam dalam diri Timotius semenjak kecil. Timotius juga belajar dari Paulus segala sesuatu yang ia perlu ketahui untuk menjadi pemimpin-pelayan yang berkenan bagi Allah dan berpadanan dengan panggilan Injil. Ia telah meneladani ajaran, cara hidup, pendirian, iman, kesabaran,
kasih, dan ketekunan Paulus, bahkan bersama-sama merasakan penderitaan aniaya dengan Paulus (2 Tim 2:10-11).

Fungsi pemimpin bukan menciptakan pengikut, tapi melahirkan pemimpin.
Keberadaan pemimpin bukan untuk membuat generasi pengikut yang selalu berada dalam baying-bayangnya. Bukan untuk kloning pengikut. Namun pemimpin eksis untuk melahirkan para pemimpin baru yang bahkan lebih baik dari dirinya. (YG)
Refleksi :
Fungsi pemimpin bukan menciptakan pengikut, tapi melahirkan pemimpin!

KEPEMIMPINAN MUSA

“Adapun Musa adalah seorang yang lembut hatinya, lebih daripada setiap manusia yang ada di muka bumi”  (Bilangan 12:3)

Dari seluruh tokoh yang ada dalam Alkitab, salah satu tokoh yang sering di sorot kepemimpinannya adalah Musa. Dikatakan bahwa, Musa adalah seorang yang sangat lembut hatinya lebih dari setiap manusia yang ada di atas muka bumi. George W. Coats mengungkapkan bahwa pemimpin Kristen masa kini dapat mempelajari pola kepemimpinan Musa bagi pelayanannya.  Beberapa hal penting yang dapat kita pelajari dari kepemimpinan Musa antara lain:

(1) Kepemimpinan Musa adalah kepemimpinan yang lahir dari panggilan Ilahi. Kepemimpinan Kristiani bukanlah bersumber dari warisan dan upaya kudeta sebagaimana kepemimpinan raja-raja Israel umumnya. Kepemimpinan Kristiani tak berpusatkan pada kecakapan khusus seseorang,tetapi lebih pada panggilan Ilahi. Panggilan Ilahi menjadi pemimpin merupakan hal mutlak untuk seseorang yang mau (“berambisi”) menjadi pemimpin Kristiani. Tanpa panggilan Ilahi itu, jabatan kepemimpinan hanyalah suatu prestasi yang diraih oleh upaya seseorang
yang menginginkan kedudukan atau jabatan itu. Jabatan dan kedudukan seorang pemimpin Kristiani adalah suatu anugerah (pemberian) Allah yang diberikan kepada seseorang untuk mengerjakan rencana-Nya bagi umat dalam era tertentu.
(2) Ketundukan Musa sepenuhnya kepada Allah. Musa takluk pada kehendak Tuhan. Ia mau mendengarkan dan melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Kepemimpinan Alkitabiah bukanlah kepemimpinan yang mandiri (tergantung semata-mata pada diri sang pemimpin), tetapi lebih berupa kepemimpinan teokratis, di mana sang pemimpin tunduk kepada Allah sebagai Pemimpin Utama.
(3) Musa memiliki manajemen kepemimpinan yang baik. Setelah mendengar usulan mertuanya, Musa merumuskan ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada bangsa Israel termasuk tentang hak budak, peraturan kebaktian, jaminan nyawa sesama manusia, tentang orang-orang tak mampu dan lain-lain. Musa memahami benar bahwa sebagai pemimpin ia membutuhkan orang lain. (YG)
Refleksi :
Jabatan dan kedudukan seorang pemimpin Kristiani adalah suatu anugerah
(pemberian) Allah yang diberikan kepada seseorang untuk mengerjakan rencana-
Nya bagi umat

PEMIMPIN = PELAYAN

“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Markus 9:35b)

Kira-kira empat tahun yang lalu, penulis berkesempatan bertemu dan berbincang  dengan salah satu pemimpin gereja yang saat ini dipercayakan menggembalakan ribuan jemaat Tuhan. Pada akhir pembicaraan, penulis dibuat tertegun dan kagum dengan apa yang dilakukan oleh pemimpin gereja tersebut. Bagaimana tidak, ditinjau dari pengalaman pelayanan, maka penulis masih sangat tergolong muda
dan belum banyak pengalaman pelayanan. Namun penulis kagum dengan sikap rendah hati pemimpin tersebut, dimana beliau tidak sungkan ataupun malu untuk menanyakan kekurangan apa yang masih harus diperbaiki dalam pelayanannya.

Banyak orang menganggap dirinya dirinya sebagai seorang pemimpin, meskipun konsep dan aksi kepemimpinan mereka sangat berbeda dengan konsep dan aksi kepemimpinan yang didemostrasikan oleh Yesus Kristus. Konsep kepemimpinan pada umumnya dikaitkan dengan konsep kuasa (power), dimana seorang pemimpin diidentikkan sebagai seorang yang memiliki kuasa (kapasitas untuk mempengaruhi orang lain). Ajaran Yesus sama sekali tidak berfokus pada kuasa seorang pemimpin, namun kerendahan hati seorang pelayan. Yesus memiliki konsep yang berbeda
dengan dunia tentang seorang pemimpin.

Alkitab menggunakan kata  ‘doulos’ dan  ‘diakonos’ (bah-Yunani) yang berarti ‘hamba’ untuk menjelaskan konsep pemimpin. Kata  ’doulos’ ini mengacu kepada seseorang yang berada di bawah otoritasorang lain, sedangkan  ‘diakonos’ menekankan kerendahan hati untuk melayani orang lain. Markus 9:35 mengatakan “jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”   Yesus mengajarkan kepemimpinan yang sejati. Yang ingin menjadi pemimpin; harus menjadi hamba. Kita cenderung inginjadi besar namun tidak mau menjadi pelayan bagi sesama. (YG)
Refleksi :
Kebesaran seorang pemimpin Kristen tidak terletak pada berapa banyak orang yang menjadi pengikutnya, tetapi berapa banyak orang yang dilayaninya.