KERJA NYATA

“Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulutNya datang pengetahuan dan kepandaian” (Amsal 1 : 6)

Sebagian orang menganggap bahwa menjadi Dosen lebih ringan bebannya
dibandingkan menjadi Guru. Sebab Dosen berhadapan dengan orang orang yang
sudah dewasa, bukan anak anak lagi. Mahasiswa dipandang sudah lebih dewasa
(aspek kognitif, afektif dan psikomotornya) telah matang. Anggapan tersebut sebagian
besar benar adanya. Namun tidak semua mahasiswa menunjukkan kematangan
yang sama. Tingkat kematangan seseorang sangat dipengaruhi oleh berbagai
faktor. Baik faktor pola asuh, lingkungan tempat tinggal, dan relasi dalam keluarga
maupun kesediaan seseorang untuk mengembangkan dirinya secara terus menerus.
Tantangan bagi Dosen, apakah dosen bersedia menerima dan mengakui bahwa
mahasiswa yang sehari hari dihadapinya ternyata memiliki tingkat kematangan yang
tidak sama (khususnya dalam menyikapi sesuatu). Bila jawabannya ya, maka harus
dibarengi dengan memberikan perhatian lebih bagi mereka. Perhatian tersebut
banyak bentuknya. Antara lain dengan memberi kesempatan mengikuti perbaikan
saat nilai kuis atau responsi belum menunjukkan hasil yang memadai dan memberi
kesempatan untuk mengumpulkan tugas susulan serta menyediakan waktu untuk
bicara dari hati ke hati.
Anggapan bahwa mahasiswa adalah orang yang telah dewasa secara tidak langsung
menutup “pintu” bagi dosen untuk mengembangkan kepeduliannya terhadap
berbagai kendala yang mungkin dihadapi oleh mahasiswanya. Begitu juga halnya
dengan mahasiswa, ada perasaan sungkan untuk menyampaikan/menceritakan
permasalahan yang sedang dihadapi. Sekedar mengingatkan bahwa sebagai pendidik
tugas kita tidak hanya transfer pengetahuan tetapi juga mencakup berbagai aspek
kehidupan untuk mengantar mereka kepada kedewasaan yang sesungguhnya.
Kedewasaan tersebut akan tampak antara lain pada sikap yang terus menerus
menunjukkan adanya perubahan. Perubahan dalam menepati janji, perubahan
dalam pola belajar,  serta perubahan perubahan lainnya.
Kepedulian dan perhatian yang kita berikan dengan sepenuh hati akan mendorong
orang lain bertumbuh menjadi orang orang yang peduli kelak. (SG)
Refeksi :
Sudahkah kita memedulikan orang-orang di sekitar kita?

SALING MELENGKAPI DALAM PELAYANAN

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”
(Kolose 3 : 23)

Lumrah rasanya bahwa dalam kehidupan ada yang memimpin dan ada yang
dipimpin. Dalam keluarga ada orang tua yang menjadi teladan, contoh bagi
anak anaknya. Di sekolah ada Bapak/Ibu guru yang mengantikan peran orang
tua selama anak anak berada di sekolah. Di kampus ada dosen sebagai teladan dan
mitra para mahasiswa.
Pertanyaan yang menggelitik bagi saya, apakah kita sebagai orang tua, sebagai guru
atau sebagai dosen pernah memberi kesempatan kepada anak anak kita, siswa kita
atau mahasiswa kita untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan dan pikirkan
terkait dengan kepemimpinan kita? Adakah mereka merasakan bahwa kita telah
memperlakukan mereka secara adil, secara bijaksana penuh dengan kepedulian? 
Jangan-jangan kita menganggap bahwa penilaian anak, siswa dan mahasiswa kita
“baik” padahal justru sebaliknya mereka tidak nyaman dan merasa tidak dipedulikan.
Bukankah untuk bisa mengukur atau menilai secara objektif  terhadap kepemimpinan
seseorang maka berbagai masukan, pandangan, dan pendapat dari orang orang
yang dipimpin menjadi suatu keharusan. Kesediaan dalam mendengar kemudian
menindaklanjuti merupakan salah satu wujud kepedulian. Kepedulian yang
diungkapkan hanya dalam bentuk kata kata dan tidak diikuti tindakan nyata hanya
akan mengantarkan kekecewaan bagi orang orang yang mendengarnya.
Mother Theresa menulis pengalamannya di Calkuta India. Saat itu dia berkunjung
ke salah satu keluarga petani miskin untuk mengantarkan sekarung beras. Tidak
lama kemudian Mother Theresa melihat bahwa petani tadi membagi beras menjadi
dua bagian dan kemudian mengantar ke rumah salah satu tetangganya yang lebih
miskin lagi. Peristiwa ini cukup mengagetkan Mother Theresa tetapi petani miskin
itu mengatakan bahwa kepedulian yang dilakukan oleh Mother Theresa telah
menggugah dirinya untuk juga melakukan kepedulian yang sama bagi orang orang
yang ada di sekitarnya. (SG)
Refleksi :
Adakah kepedulian kita sudah diwujudkan secara nyata dan dirasakan orang orang
di sekitar kita atau masih dalam wujud kata-kata?
Senin, 30 Mei 2016 Senin, 30 Mei 2016

PEMIMPIN YANG PEDULI

“untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan
kejujuran” (Amsal 1 : 3)

Kepemimpinan merupakan suatu kondisi di mana seseorang menjadi pusat
perhatian, pusat kegiatan, dan pusat pengambilan keputusan. Hampir semua
kegiatan tergantung kepada keputusan atau perintah dari pemimpin. Hal ini
tentu saja menjadi sesuatu yang penting bahwa seorang pemimpin harus memiliki
berbagai kelebihan dari orang yang dipimpinnya. Ada dua kemungkinan yang
terjadi. Kemungkinan yang pertama : Pemimpin akan merasa paling benar, apa
yang dia pikirkan harus dilakukan. Pemimpin merasa tidak perlu mendengar. Tidak
perlu diarahkan apalagi dinasehati. Sebaliknya kemungkinan yang kedua pemimpin
menyadari bahwa sebagai manusia dia tidaklah sempurna. Oleh karena itu dia akan
rajin mendengar dan menerima masukkan, terlibat dalam berbagai kegiatan agar
dapat mengenali orang orang yang dipimpin termasuk kebiasaan dan karakter yang
mereka miliki.
Bila kita disuruh memilih pemimpin seperti apakah yang baik menurut kita maka
pastilah kita memilih kemungkinan yang kedua dan akan menghindari kemungkinan
yang pertama. Namun bila pertanyaannya dibalik, bagaimana jika saya atau Anda yang
jadi pemimpin. Apakah jawaban kita masih tetap sama. Bukankah kecenderungan
bijaksana itu terjadi ketika seseorang merasa “diuntungkan” namun sebaliknya saat
merasa tidak diuntungkan orang bukan menjadi bijaksana tapi menjadi bijaksini.
(artinya selama menyenangkan buat saya dan nyaman bagi saya).
Keadaan seperti ini seolah sudah menyatu dalam kehidupan. Sulit sekali menemukan
seorang pemimpin yang peduli. Kepedulian mereka akan tampak jika ada manfaat
yang diperoleh secara pribadi. Padahal kepedulian yang sesungguhnya adalah
kepedulian yang tanpa pamrih. Bukankah saat kita memberi tanpa pamrih, maka
kita tidak akan kecewa bila orang lain tidak berterimakasih atau melakukan sesuatu
yang sesuai dengan yang kita harapkan?
Kepedulian lembaga lembaga kristen saat ini sering menjadi sorotan. Nilai kepedulian
yang selama ini menjadi icon, menjadi kebangggaan seolah sirna ditelan zaman.
Kehadiran Tuhan Yesus lebih dari dua ribu tahun lalu yang hadir sebagai orang yang
melayani dan bukan dilayani tidak berbekas. (SG)
Refleksi :
Adakah nilai kepedulian itu masih menyatu dalam kehidupan kita? Masihkah nilai
kepedulian itu bisa dirasakan oleh orang lain?

ALLAH MENCIPTA, MANUSIA TURUT SERTA

“Langit itu langit kepunyaan TUHAN, dan bumi itu telah diberikan-Nya kepada anak-
anak manusia”
(Mazmur 115:16).

Alkitab mengatakan kepada kita bahwa dalam penciptaan, Allah mendirikan
bagi manusia tiga relasi yang sangat fundamental.
1.  Relasi dengan Allah,  sebab Ia menciptakan mereka dalam gambar dan
rupa-Nya; 
2.  Relasi manusia yang satu terhadap yang lain, sebab umat manusia
merupakan makhluk yang majemuk sejak mulanya, dan
3.  Relasi terhadap bumi yang diciptakan, beserta dengan segala ciptaan
didalamnya.
Selanjutnya, ketiga relasi ini menyimpang akibat kejatuhan. Adam dan Hawa
terpisah dari hadirat Tuhan Allah di taman tersebut, mereka saling menyalahkan
satu dengan yang lain untuk apa yang telah terjadi, dan bumi yang baik terkutuk
akibat ketidaktaatan mereka.
Jika demikian, bagaimana seharusnya kita menyikapi bumi yang terkutuk ini ?
Jika kita mengingat bahwa ciptaan dihadirkan oleh Allah dan didelegasikan kepada
kita, kita akan menghindarkan diri dari dua posisi ekstrem yang saling bertolak
belakang, dan sebaliknya kita akan mengembangkan relasi ketiga. Pertama, kita
akan menghindarkan diri dari mengilahkan alam, mempercayai bahwa bumi adalah
superorganisme yangmampu menyesuaikan diri dan juga memelihara kehidupan yang
berjalan didalamnya.  Sifat pada alam itu mandiri, memiliki mekanisme keteraturan
sendiri, dan mampu memperbarui diri sendiri.Kedua, kita harus menghindarkan
diri dari posisi ekstrem yang sebaliknya, yakni eksploitasi alam. Ini  adalah tindakan
yang arogan terhadap alam bahwa seolah-olah kita adalah Allah Ketiga dan yang
tepat antara umat manusia dan alam adalah kerjasama dengan Allah. Tentu saja,
kita sendiri adalah bagian dari ciptaan, sama bergantungnya kepada Pencipta
sebagaimana semua ciptaan-Nya yang lain. Namun pada saat yang sama, Allah
menghargai manusia sebagai mitra-Nya.  Ia menciptakan bumi ini, namun kemudian
memerintahkan kita untuk menaklukkannya. Ia menjadikan sebuah mengusahakan
dan memeliharanya” (Kejadian 2:15). Ini sering disebut sebagai mandatbudaya.
Sebab apa yang telah Allah berikan kepada kita disebut “alam”, sedangkan apa
yang kita lakukan terhadap alam disebut “budaya”. Kita tidak hanya dipanggil untuk
melestarikan alam, tapi juga untukmengembangkan sumber-sumber daya yang ada
di dalamnya bagi kebaikan bersama. (IH)
Refleksi :
Adalah suatu penghargaan ketika Allah menjadikan manusia sebagai mitraNya
dalam memelihara ciptaan-Nya. Jangan salah gunakan kepercayaan ini.

BELAJAR DARI PETANI

“Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan  
Tuhan!
Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia
sabar
 sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi”
(Yakobus 5: 7)

Petani di dalam menanam padi, tidak serta merta dia menghasilkan padi untuk
dituai. Tetapi di dalam semuanya itu, seorang petani harus memulai untuk
menanam benih padi dan kemudian dia harus menanti hasilnya untuk beberapa
bulan ke depan. Dia harus dengan sabar menanam bibit padi, dia harus dengan sabar
melihat pertumbuhan padi, dia harus dengan sabar memberi pupuk, menghalau
hama, memastikan kecukupan air, dan lain sebagainya. Semua proses yang dilaluinya
harus dijalani dengan sabar.
Kontras dengan hal itu, adalah populasi penduduk dunia. Penghitungan dimulai dari
tahun 1804 SM, ketika penduduk dunia mencapai 1 milyar jiwa. Pada permulaan
abad ke-20, populasi dunia tersebut telah mencapai angka 6,8 milyar jiwa, dan pada
pertengahan abad ini diperkirakan angkanya akan mencapai jumlah yang luar biasa
yaitu, 9,5 milyar jiwa.
Bagaimana mungkin memberi makan sedemikian banyak orang, terutama ketika
tidak orang muda bercita-cita jadi petani ? Masalah lain, kita harus sabar menantikan
hasil panen dari petani. Sedangkan kebutuhan pangan mendesak.
Apa pun yang terjadi, Yakobus  meminta kita tetap bersabar. Yakobus berbicara
tentang kedatangan Kristus seperti sudah dekat. . Kristus akan datang sebagai
hakim untuk menghukum yang jahat dan memberi pahala kepada yang benar
dan membebaskan mereka dari penderitaan. Kesabaran adalah sifat menanggung
ketidakadilan, penderitaan, kesulitan, dan penganiayaan, sambil menyerahkan
hidup kita kepada Allah dalam kepercayaan bahwa Dia akan membereskan segala
sesuatu.  Terkadang kita putus-asa melihat keadaan sekeliling kita yang semakin
tidak terkendali.  Tetaplah bersabar dan Ia ingin anak-anakNya menyatakan kuasa-
Nya. Buah dari kesabaran membuat seseorang  tercatat sebagai saksi-saksi iman
yang begitu luar biasa dan hal ini telah disampaikan di dalam kitab Ibrani 11:1-40.
Sungguh kesabaran membuat seseorang bisa menerima berkat-berkat Tuhan yang
luar biasa. Demikian pula sivitas akademika Universitas Kristen Maranatha dapat
dipakai menjadi saksi-saksi iman yang luar biasa untuk menyatakan kuasa-Nya. (IH)
Refleksi :
Marilah kita bersabar untuk menantikan jawaban Tuhan atas segala permasalahan
kita hingga hal ini menjadi sebuah sumber kesaksian yang luar biasa.

MEMULIAKAN CIPTAAN TUHAN

“Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh
belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.”
( Amsal 14:31)

Ada suatu kisah nyata dari suatu siaran televisi yang tidak pernah saya lupakan 
(yang saya lupa nama siarannya dan setasiun televisinya). Kisahnya tentang
seorang ibu yang bekerja serabutan di pasar, sebagai buruh pengupas
bawang, ‘bakul’ pembawa barang belanjaan dan pekerjaan lain. Setiap hari, ibu
ini mendapatkan uang sekitar Rp. 30.000,- Hal yang berkesan bagi saya, dari hasil
keringatnya itu ibu ini  sisihkan Rp. 20.000,- untuk tetangganya, seorang anak yang
lumpuh. Bagi dirinya, cukup uang Rp. 10.000,- untuk kebutuhan hari itu.
Saat kita berinteraksi dengan seseorang, kita harus selalu menyadari bahwa orang
itu adalah ciptaan Allah dan bahwa Allah mengasihi orang itu. Tidak ada orang
yang sedemikian menyebalkan sehingga Allah tidak mengasihi dia lagi. Dalam kitab
Yunus, Allah mengungkapkan bahwa Ia mengasihi orang-orang Niniwe (Yunus 4:11),
padahal bangsa Niniwe adalah bangsa yang jahat dan merupakan musuh umat Allah.
Nabi Yunus sulit menerima kenyataan tersebut sehingga ia tetap menginginkan
dijatuhkannya hukuman Allah terhadap bangsa Niniwe.
Bagaimana sikap kita saat kita melihat sesama kita yang miskin, menderita, sakit,
atau menghadapi masalah yang berat? Apakah hati kita tergerak oleh belas kasihan
dan berusaha menolongnya? Bagaimana sikap kita saat berhadapan dengan orang
yang kelakuannya jahat dan sikapnya menjengkelkan? Apakah kita dapat  melihat
orang itu sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang harus dikasihi?
Bila kita hanya bisa mengasihi dan berbuat baik terhadap orang yang baik terhadap
diri kita, kita tidak lebih baik daripada orang-orang berdosa (Lukas 6:33). Bila kita
hendak menjadi garam yang mengasinkan atau terang yang menerangi dunia yang
berdosa ini, kita harus bersedia untuk berbuat baik terhadap semua orang, termasuk
terhadap orang yang kelakuannya jahat dan sikapnya menjengkelkan. Dengan
demikian, kita telah meneladani  Tuhan Yesus yang rela mati bagi manusia berdosa.
Apa jadinya bila orang yang lemah, dan tidak berdaya bila ditindas. Pastinya mereka
semakin tidak punya daya. Panggilan kita untuk memberdayakan mereka.(IH)
Refleksi :
Tindakan yang paling Tuhan benci adalah memperdaya orang-orang yang tidak
berdaya. SebaliknyaTuhan memuji mereka yang memberdayakan orang-orang yang
tidak berdaya.

PEMBALASAN TUHAN

“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang
akan membalas perbuatannya itu.
(Amsal 19:17)

Sersan Dua Nicolas Sandi Harewan (24), anggota Komando Pasukan Khusus
(Kopassus) yang menyelamatkan Is (31), korban kasus pencurian dan kekerasan
serta percobaan pemerkosaan yang dilakukan di dalam Mikrolet C01 jurusan
Senen-Ciledug pada Senin (23/7/2012)  Malam itu Serda TNI Nicolas Sandi Harewan
yang kebetulan sedang mengendari motor bersama pacarnya. Mendengar teriakan
minta tolong. Ia  lantas mengikuti laju mikrolet tersebut. Singkat cerita Serda Nicolas
berjuang menolong karyawati malang tersebut,  hingga akhirnya menangkap seorang
pelaku berinisial AA.
Sebenarnya tindakannya adalah tindakan biasa, karena sebagai seorang anggota
Koppasus yang sangat terlatih untuk perang, menghadapi para penjahat di angkot
seharusnya bukanlah masalah besar. Tetapi menjadi luarbiasa  dalam peristiwa
tersebut adalah kemauannya untuk peduli dan pada saat yang tepat berbuat nyata
menyelamatkan sesama yang membutuhkan pertolongan saat itu. Tindakannya
diganjar dengan kenaikan pangkat dari Serda menjadi Sersan Satu.
Sejatinya kepedulian adalah bukan bicara soal tindakan besar di luar kemampuan
kita. Kepedulian adalah gerakan hati karena belas kasih terhadap sesama.
Masalahnya bukan pada kemampuan, tetapi pada kemauan kita untuk memberi hati
dan untuk peduli. Manusia modern saat ini semakin banyak mendapatkan alasan
pembenar untuk tidak peduli. Kadang-kadang mendadak kita menjadi merasa
tidak memiliki kemampuan ketika diminta  memberikan sumbangan.  mendadak
kita merasa tidak punya cukup uang untuk membantu. Ketika harus memberikan
bantuan tenaga untuk orang lain yang saat itu membutuhkan,  kita merasa itu bukan
tanggungjawab kita. Lebih sering kita menunggu orang lain melakukan lebih dulu,
sehingga tidak perlu melakuan tindakan itu.
Maka ketika ada sebuah tindakan kecil seperti yang dilakukan Serda Nicolas, kita
kembali diingatkan dan diberi petunjuk serta harapan bahwa tidak semua manusia
zaman ini mati hatinya, tak peduli sesamanya. Kita yakin masih banyak yang punya
hati dan mau peduli untuk sesamanya. Mudah-mudahan itu adalah saya dan Anda.
Bukan untuk mendapatkan balasan dari Tuhan tetapi lebih karena Tuhan telah
memberi terlalu banyak untuk kita. (IH)
Refleksi :
Apa yang ‘luarbiasa’ dalam pandangan orang lain adalah hal ‘biasa’ yang kita
lakukan.

MENYATAKAN KEPEDULIAN

 
“karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir,
dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri
atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang
menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya”
(Filipi 2: 2-3)
Teknologi seharusnya semakin mempermudah kita dalam berhubungan dengan
orang lain, tetapi yang terjadi seringkali sebaliknya. Kita tidak lagi menganggap
penting untuk bertemu karena toh bisa digantikan dengan telepon atau bahkan
sms dalam karakter yang diusahakan sesingkat-singkatnya agar lebih hemat. Jika dulu
kita memilih untuk bertemu dan memberi ucapan secara langsung pada momen-
momen khusus tertentu, sekarang email, jejaring sosial maupun telepon genggam
bisa menggantikan semua itu, bahkan kepada orang yang tinggalnya tidak jauh dari
kita. Teknologi menjadikan yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh.
Bagaimana menyatakan kepedulian kepada orang-orang di sekitar kita ? Dunia
membuat kita semakin egois. Seringkali kita  dengar ‘jangankan mengurusi orang
lain, mengurus diri sendiri dan keluarga sendiri saja belum’ . Firman Tuhan berbicara
sebaliknya.  Sehati, sepikir, satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, itu menggambarkan
panggilan untuk bersatu dan bertindak bersama-sama.  Selanjutnya lihatlah
bahwa kita pun diminta untuk bersikap rendah hati dengan mengedepankan atau
mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.  Kasih yang
kita miliki seharusnya mampu membuat kita untuk peduli kepada orang lain dan tidak
berpusat kepada kepentingan diri sendiri. Ayat selanjutnya kemudian berkata “dan
janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi
kepentingan orang lain juga.” (ay 4).
Peduli kepada orang lain seringkali tidak cukup hanya sebatas kata-kata, tetapi
sebuah perbuatan pun diperlukan untuk membantu mereka secara nyata. Kerinduan
untuk memberi bukanlah tergantung dari seberapa besar harta milik kita, tetapi
seberapa besar kepedulian kita terhadap penderitaan orang lain. Dan seringkali
tidak perlu jauh-jauh untuk itu, karena disekitar kita pun ada banyak yang orang
yang membutuhkan uluran Bukan saja yang kita kenal tetapi juga pada yang asing
bagi kita. Begitu pentingnya hingga dikatakan “Siapa menaruh belas kasihan kepada
orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya
itu.” (Amsal 19:17).  (IH)
Refleksi :
Mempedulikan orang lain adalah meraih mereka yang jauh untuk mendekat kepada
Allah

WASPADAILAH DIRI SENDIRI

“ Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23)

Ada sebuah kapal diamuk badai yang amat dahsyat sehingga semua awak kapal dilanda kecemasan. Tiba-tiba mereka mendengar suara benturan yang lebih keras daripada suara debur ombak. Rasa rasanya suara itu berasal dari ruang bawah kapal. Beberapa orang segera lari ke sana untuk melihat apa yang sedang terjadi. Ternyata semua itu berasal dari meriam yang menabrak dinding kapal karena meriam itu terlepas dari ikatannya. Betapa cemas hati mereka karena posisi meriam itu sedang siap meluncur dan akan menabrak lambung kapal yang sedang oleng itu. Tanpa memikirkan resiko diri sendiri, dua awak kapal segera turun tangan untuk mengatasi bahaya besar yang mengancam semua penumpang. Mereka sadar bahwa benturan meriam ke lambung kapal jauh lebih berbahaya daripada amukan badai. Apa yang dapat kita pelajari dari ilustrasi tersebut?

Amsal memberikan sebuah nasehat yang amat berharga mengenai hati kita. Sebelum seseorang melakukan sesuatu, terlebih dahulu apa yang akan ia lakukan sudah terlintas di dalam hatinya. Perbuatan dan perkataan seseorang terpancar dari dalam hatinya. Hati kita turut menentukan keselamatan hidup kita. Hati yang jahat akan membahayakan hidup kita sendiri. Menjaga hati dengan segala kewaspadaan sangatlah penting. Firman Tuhan harus selalu melekat di dalam hati kita karena sangat mempengaruhi hidup kita. Jika Firman Tuhan selalu kita renungkan siang dan malam, maka hati kitapun akan memancarkan apa yang kita renungkan itu. Sebaliknya, jika hal hal yang bertentangan dengan kehendak Allah selalu kita renungkan di dalam hati, maka hal-hal itulah yang nampak di dalam hidup kita.

Sangatlah penting bagi kita untuk selalu waspada terhadap apa yang mempengaruhi suasana hati kita. Baik buruknya kehidupan kita akan sangat ditentukan dari apa yang ada dalam hati kita. Marilah kita berikan hati kita untuk selalu dipimpin dan dipenuhi oleh Roh Tuhan. Dengan demikian apa yang nampak di dalam kehidupan kita adalah buah yang sesuai, yaitu yang memuliakan Tuhan. (RPA)

Refleksi :

Bersediakah hati kita dipimpin oleh Roh Tuhan?

PEMIMPIN YANG MEMILIKI INTEGRITAS

“ Guru Engkau adalah seorang yang jujur …tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka”(Matius 22:16)

Akhir –akhir ini  istilah ”karakter” sering kita dengar, seperti membangun
watak yang berkarakter, mahasiswa yang berkarakter. Dalam dunia yang
terus berubah dengan pesatnya, budaya karakter perlu dibangun. Salah satu
karakter yang yang baik adalah “integritas”. Dalam buku  The complete book of
everyday Christianity ditulis demikian, integritas berhubungan dengan konsistensi
karakter yang memadukan perkataan dan perbuatan, visi dan pilihan, nilai dan
perilaku. Kehidupan yang berintegritas adalah kehidupan pribadi seutuhnya  dalam
semua aspek kehidupan. Ketika seseorang kekurangan integritas ia kehilangan
dirinya.
Yesus adalah figur yang memiliki integritas. Ia adalah seorang yang jujur. Apa yang
disampaikanNya sesuatu yang benar dan patut dipercayai. Yesus tidak mudah dicobai
atau disuap dengan hal-hal materi ataupun kekuasaan (Matius 4:8). Ia juga bukan
orang yang suka mencari muka di depan banyak orang. Meskipun ada kesempatan
bagiNya untuk melakukan semua itu.
Zaman di mana kita berada adalah zaman yang telah mengalami perubahan yang
pesat. Seiring dengan perubahan zaman terjadi pula perubahan perilaku. Banyak
perilaku yang tidak baik melingkupi anak anak Tuhan, seperti terjebak dalam
narkoba, kekerasan, suap, hedonisme. Semua ini menunjukkan, bahwa mereka telah
kehilangan integritas sehingga mudah dipengaruhi oleh hal–hal yang tidak baik.
Bagaimana kita dapat mempengaruhi dunia seperti integritas yang ditampakkan
oleh Yesus? Integritas merupakan kekuatan besar yang dapat membangun diri
sendiri dan orang lain.
Kita perlu meneladani karakter Yesus dalam pribadi kita. Billy Graham menyatakan
bahwa  “integritas adalah ibarat lem yang merekatkan cara hidup kita menjadi
satu …kita harus terus berjuang untuk menjaga agar integritas kita tetap utuh”.
Ke arah itulah karakter kita diajak bertumbuh, yaitu ke arah  “….kedewasaan
penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (baca
Efesus 4: 13). Dalam tugas tanggung jawab kita saat ini, integritas diperlukan.
Tuhan akan memampukan kita melaksanakan tugas berlandaskan keteladan Yesus
yang berintegritas. Perlihatkanlah integritas sebagai gaya hidup. Filipi 3:12, “….
aku mengejarnya” dan ayat 14”…berlari –lari kepada tujuan”. Apabila kita adalah
pemimpin yang berintegritas, maka akan berpengaruh pada lingkungan kerja kita.
Kiranya Roh Kudus  memperbarui hati kita untuk pekerjaan yang baik. (RPA)
Refleksi :
Integritas merupakan kekuatan besar yang dapat membangun diri sendiri dan orang
lain.