LIDAH BUKAN UNTUK MENGHANCURKAN

”Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah” (Yakobus 4:11a)

Seorang yang memiliki kedudukan sebagai pemimpin diharapkan dapat
memberikan teladan bagi orang yang dipimpinnya. Menjadi figur yang disegani, karena pandai menjaga lidah dan bijaksana. Persoalannya mengapa harus
menjaga lidah? Dengan lidah, reputasi seseorang dapat hancur karena fitnah yang
dilakukan oleh orang yang tak bertanggung jawab. Sering orang mengatakan fitnah
bagaikan tikaman pisau seorang tukang jagal. Namun fitnah dapat pula dilakukan
dengan sangat halus, bagaikan cara kerja seorang dokter bedah.
Iblis sangat cerdik. Ia tahu cara menjatuhkan Ayub. Dengan pertanyaan tepat sasaran
dan  tepat waktunya iblis dapat menghancurkan seseorang. Ayub 1:9, iblis bertanya,
“Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah?” Pertanyaan iblis
ini sangatlah licik sebab pertanyaan tersebut berarti menghindarkannya dari tuduhan
melakukan kebohongan seperti yang biasa dilakukannya. Namun pertanyaan iblis
tersebut, merusak motivasi baik seseorang dengan cara menyatakan secara tidak
langsung bahwa semua perbuatan baik Ayub hanyalah untuk menutupi sikap
mementingkan diri sendiri.
Bila kita mengalami kondisi seperti itu, sadarlah  kita akan masuk ke dalam permainan
iblis. Kita diberi lidah bukan untuk menghancurkan reputasi seseorang melainkan
untuk membangun seseorang, seperti nasihat dalam Yakobus 4 : 11a, kita diminta
untuk berbicara tentang hal- hal benar dari orang lain bukan hanya di depan orang
itu, tetapi juga di belakangnya. Orang menjulukinya seperti bunglon bagi mereka
yang tidak memiliki pendirian yang tetap. Pikiran dia hanya memikirkan strategi
bagaimana bisa tetap dipandang orang. Orang ini terkesan dipandang sebagai penjilat
karena hanya berusaha  menyenangkan orang lain dengan kelicikannya sehingga
dia dipuji. Sebentar dia akan setuju dengan tindakan seseorang yang menurutnya
akan mendatangkan kebaikan bagi dirinya sendiri. Di lain waktu dia akan mencela
tindakan orang pertama yang pada waktu lalu dipujinya dengan tujuan dia dapat
menyenangkan orang yang kedua.
Firman Tuhan mengajarkan kepada kita untuk menjaga lidah, menjadi seorang
pemimpin yang bertanggung jawab dengan setiap perkataan yang ke luar dari mulut.
Berlakulah sebagai orang bijak dengan menjaga perkataan. Jangan berlaku seperti
bunglon. (RPA)
Refleksi :
Lidah kita memiliki kekuatan untuk membangun, namun lidah juga dapat
menghancurkan.

PEMIMPIN YANG BERKELUARGA DENGAN BAIK

Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik. (I Timotius 3:12)

Di Amerika ada yang disebut dengan istilah PK. Segerombolan anak-anak yang dikenal memiliki perilaku nakal. PK artinya  Preacher Kidatau  anak-anak pengkotbah, hamba Tuhan atau pendeta. Saya sendiri bukan sekali dua kali bertemu dengan ibu-ibu yang begitu giat melayani, hingga melupakan keluarganya. Mereka bepergian kesana kemari seolah-olah sudah melakukannya untuk Tuhan, menjadi seorang rohaniawan atau hamba Tuhan yang sangat sibuk. Pertanyaannya jika seseorang yang merasa sudah mengasihi Tuhan namun keluarga anda pecah berantakan apa pandangan kita terhadap mereka? Atau di dunia kerja jika seseorang
merasa sukses di dunia bisnis namun keluarga Anda pecah berantakan. Anak-anak Anda tidak betah tinggal di rumah, istri sibuk shopping melepaskan diri dari stress, suami jarang di rumah, apakah kemudian sebuah kesuksesan itu berarti?

Dalam surat Paulus kepada muridnya Timotius ini, memang memberikan kriteria-kriteria tentang bagaimana seharusnya seorang diaken atau pemimpin pelayanan di dalam Gereja itu seharusnya hidup. Salah satunya adalah tentang bagaimana mereka seharusnya berkeluarga dengan baik.Mereka diharapkan dapat membuktikan kemampuan mereka mengurus pelayanan atau pekerjaan dengan baik jika mereka terlebih dahulu mampu mengurus keluarganya.Jika keluarganya berantakan artinya mereka dianggap belum memiliki kapasitas untuk mengurus pelayanan atau pekerjaan dengan baik.

Memang ada yang pekerjaan dan pelayanannya sangat baik, namun keluarganya pecah berantakan.Tentu saja bukan itu yang Tuhan kehendaki dalam kehidupan kita. Inti lain dari pesan di atas adalah keteladanan hidup dari orang-orang yang berdiri di depan sebagai pemimpin. Apalagi jika kita berbicara tentang kepemimpinan Kristen.
Keteladanan adalah salah satu bagian yang sangat menentukan apakah seseorang mampu menjadi pemimpin yang baik atau tidak. Jika kita gagal menjadi teladan bagi yang kita pimpin hal terburuk adalah bahwa hal tersebut menjadi hambatan bagi orang lain untuk menerima pesan kita. Keteladanan hidup adalah bagian dari integritas. Saya pernah mendengar keluhan dari sahabat baik saya yang melayani di sebuah gereja demikian: “Menurut Anda bagaimana jika ada pendeta ini berkotbah tentang kasih di atas mimbar, tapi setelah berkotbah dalam kehidupan sehari-hari ia suka marah-marah, mengumpat, dan sangat pelit.” Ia adalah pekerja di gereja
tersebut. (AT)
Refleksi:
Lakukan yang bai! Jadilah teladan bagi orang yang dipimpin!

PEMIMPIN YANG BERTINDAK SEMESTINYA

Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah. (I Timotius 5:23)

Ilustrasi ini tentu saja hanya rekayasa cerita mengenai betapa sulitnya kadangkala kita harus mengambil sebuah keputusan.Seorang ibu yang hendak melahirkan mengalami pendarahan yang sangat hebat. Sang dokter memanggil suaminya dan bertanya padanya apa yang harus dilakukan? Apakah ia akan menyelamatkan istrinya atau anaknya melalui sebuah operasi? Jauh sebelum  hal itu terjadi sang istri telah berpesan padanya agar apapun keadaannya, ia menghendaki bayinyalah
yang lahir dengan selamat. Mendapatkan pertanyaan sedemikian dari dokter yang menolong kehamilan istrinya dan pesan yang disampaikan istrinya sebelumnya, sang suami tercekat sejenak, sulit mengambil keputusan. Akhirnya keputusan diambil.Ia mengatakan kepada dokter: “Dok saya mau dua-duanya selamat. Tapi jika tidak bisa tolong selamatkan istri saya.”

Ayat di atas seringkali menjadi sebuah perdebatan panjang.Di satu pihak agama turunan semitik anti terhadap minuman keras dan tradisi itu masih terbawa dalam kehidupan orang Kristen hingga saat ini.Orang Kristen tidak mengkonsumsi alkhohol itu sudah menjadi bagian dari identitas normatif.Namun ayat di atas justru memberikan kelonggaran yang sebaliknya.Rasul Paulus menyarankan agar kita bisa menambahkan anggur atau minuman fermentasii beralkhohol, sebab ternyata orang
yang bersangkutan mengalami kelemahan tubuh dan gangguan pencernaan.Anggur di sini dianggap sebagai obat yang bisa memperbaiki metabolisme tubuhnya.Namun secara normatif ayat ini tetap sulit untuk dipahami.Kenapa tidak berdoa saja?Atau menggunakan minyak urapan saja? Atau cara lain yang tidak bertentangan dengan norma yang berlaku dalam kekristenan?

Inti dari pembahasan ayat ini tentu saja bukan debat tanpa ujung tentang alkhohol. Dalam kaitan dengan hal kepemimpinan saya hendak menjelaskan inti pesannya adalah sebuah keberanian seorang pemimpin untuk bertindak sesuai dengan kondisi yang diperlukan.Baru-baru ini ada kisah tragis pembongkaran 10 gereja di Singkil sebab dianggap tidak memiliki IMB.Seluruh umat Kristen jelas tidak setuju dan mencelatindakan biadab di bumi Pertiwi ini.Namun pernahkah ada yang bertanya sebaliknya, misalnya di daerah kelapa Gading di wilayah Jakarta saja menurut sebuah sumber ada kurang lebih 300 Gereja.Dan sekali lagi ini bukan soal perdebatan perijinan pembangunan rumah ibadah dan isu kerukunan umat beragama, melainkan sikap kepemimpinan yang berani bertindak semestinya. (AT)
Refleksi:
Diperlukan keberanian untuk melihat permasalahan yang sebenarnya bagi seorang pemimpin untuk menyelesaikan permasalahan dengan baik.

PEMIMPIN YANG DIDENGARKAN

Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, (Yohanes 10:27)

Ada seorang Komandan yang senang sekali berkelakar.Ia sering mengerjai anak buahnya dengan lelucon-lelucon yang menjengkelkan. Misalnya pada suatu hari ketika ia berjalan di rawa-rawa bersama anak buahnya, ia berteriak dengan sangat ketakutan: “Ada buaya!!!” Tentu saja anak buah di belakangnya kalang kabut tunggang langgang. Melihat itu ia tertawa. Lalu pada hari lainnya di tengah malam ia berteriak: “Kebakaran…kebakaran…kebakaran!!!” Anak buahnya kaget, terjaga dari tidur, dan berlarian keluar barak, lalu sang komandan tertawa lebar. Berulang-ulang
hal ini dilakukan sang komandan, sehingga akhirnya jika ia berteriak, anak buahnya tidak lagi mendengarnya dan menganggapnya angin lalu saja. Pada suatu subuh yang komandan dengan sangat ketakutan berteriak: “Awas barang kita diserang musuh.” Mendengar peringatan itu para prajuritnya malah menarik selimut. Tak berapa lama kemudian musuh datang dan membunuh sang komandan beserta seluruh pasukannya yang tinggal di barak tersebut.

Ayat di atas menjelaskan suatu kondisi di mana Yesus berada dalam kelompok orang-orang Yahudi yang meragukan kepemimpinanNya. Mereka adalah orang-orang Yahudi yang menolak ajaran Yesus.Namun di samping yang menolaknya, ada banyak juga orang yang percaya. Dan bagi mereka yang percaya Yesus memberikan kesaksian sesuai nats di atas bahwa mereka mendengarkan suaraNya, Ia mengenal mereka, dan mereka mengikut diriNya. Sungguh sebuah hubungan yang sangat baik
antara Yesus sebagai pemimpin dengan mereka yang mengikutinya. Kepemimpinan yang mutualistik di mana antara pemimpin dan yang dipimpin memperoleh manfaat yang baik dari peran masing-masing.

Namun jika kita melihat dan mengevaluasi pola kepemimpinan yang kita jalankan saat ini apakah benar “domba-domba” kita mengenal suara kita, dan apakah sebagai pemimpin kita mengenal mereka, dan jika kita berbicara mereka mengikuti kita? Jika itu tidak terjadi maka kita mungkin berperilaku seperti sang komandan yang ketika berhadapan dengan situasi yang sulit atau berbahaya hal itu akan membuat mereka
yang mengikuti kita malah celaka. (AT)

Refleksi:
Dengarkan suara mereka dan kenalilah, maka mereka akan mendengarkan Anda.

PEMIMPIN YANG MEMBEBASKAN

Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, (Markus 2:27)

Pernahkah Anda berada pada sebuah kondisi di mana Anda ingin menolong seseorang namun suatu peraturan melarang Anda melakukan hal tersebut?Atau pernahkah Anda melakukan hal baik namun perbuatan itu sebenarnya melawan hukum?Ini tentu saja menjadi suatu hal yang rumit. Seringkali larangan tersebut mematahkan keinginan kita untuk menolong mengingat konsekuensi yang akan kita harus hadapi jika melakukannya, atau kita tetap melakukannya sebab kita yakin apa yang kita lakukan atau kita memang enggan melakukan hal baik tersebut dan
bersembunyi di balik peraturan itu.

Dalam bahasan ayat di atas Yesus Kristus diperhadapkan pada sebuah kondisi yang sama, bahkan berulang-ulang terkait tentang aturan hukum Sabat yang dilanggarNya. Orang Yahudi yang memang menjaga kesakralan Sabat selama ribuan tahun tentu saja menjadi marah dan membuat menghujat apa yang dilakukan oleh Yesus di hari Sabat seperti menyembuhkan orang sakit atau memetik gandum di hari Sabat. Namun apa pandangan YEsus terkait hal tersebut: “…Hari Sabat diadakan
untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.”.Matthew Henry mengambil pengertian yang bagus terhadap ayat ini yakni bagaimana Yesus menjelaskan bahwa sebuah hukum agama seharusnya dibuat bukan untuk menjadi beban bagi kehidupan manusia, melainkan haruslah membebaskan.

Dalam kaitan kapasitas Yesus sebagai pemimpin bagi para pengikutNya, apa yang dilakukannya seringkali bertolak belakang dengan kepemimpinan yang terjadi dewasa ini, termasuk yang ada banyak di dalam Gereja. Kepemipinan Yesus di sini bahkan bergerak lebih jauh dari kepedulian yang menjadi sebuah usaha pembebasan bagi manusia dari tekanan-tekanan aturan  nonsense keagamaan yang membuat mereka terikat pada ajaran-ajaran obsolete yang tidak relevan. Banyak pemimpin secara sadar bahkan mengikat pengikutnya agar menuruti saja apa yang diomongkan para pemimpin melalui aturan-aturan yang dibuatnya. Alih-alih menjadi pemimpin yang memberi pembelaan bagi pengikutnya, ia malah ikut-ikutan menindas melalui sistem aturan yang dibuatnya. Justru di sinilah kepemimpinan seperti yang ditunjukkan Yesus dalam ayat ini menjadi hal yang sangat penting bagi kita semua. Kita seharusnya menjadi seorang pemimpin yang meneladani Kristus saja. (AT)
Refleksi:
Apakah Anda senang mengikat kehendak orang agar mereka metaati dan mengikuti semua yang Anda katakan?

PEMIMPIN YANG PEDULI SEPERTI YESUS

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Matius 11:28)

Anda mungkin belum mengenal nama Jose Mujica. Dia adalah salah satu
Presiden termiskin di dunia sebab ia menggunakan semua gajinya sebagai Presiden Negara Uruguay untuk menolong orang-orang miskin di negaranya. Ia sendiri tinggal di sebuah peternakan tua dengan satu-satunya barang berharga mobil Beetle 1987 miliknya yang hanya bernilai tidak lebih dari 2000 dolar. Nasib baik menghampirinya. Setelah diwawancarai oleh majalah Basqueda, seorang Syech Arab hendak membeli mobilnya kurang lebih 1 juta dolar. Namun kembali ia merencanakan bahwa seluruh hasil penjualan mobilnya akan disumbangkan kepada orang-orang miskin.

Ayat di atas menjelaskan apa yang menjadi kerinduan Yesus dalam melayani umat manusia. Kebalikan dari para pemimpin agama Yahudi yang menggunakan agama sebagai alat untuk mengundang orang-orang berada masuk dalam lingkungannya 

Untuk mendukung secara politis dan mendapatkan keuntungan secara ekonomis,Yesus justru mengundang orang-orang yang letih lesu, patah semangat dan memiliki beban yang berat dalam kehidupannya. Tidak sampai di situ, Ia juga menjanjikan kelegaan pada mereka. Eksposisi MacLaren menjelaskan kedalaman ayat ini dengan menyebutnya sebagai terobosan kuasa ilahi masuk dalam kehidupan nyata manusia. Jadi ini bukan sekedar kredo keagamaan yang seringkali bersifat  superficial, keberagamaan yang seringkali tumbuh tanpa empati yang sesungguhnya pada penderitaan manusia. Bukan hanya sekali saja Yesus peduli dan berbelarasa pada yang miskin dan tertindas.

Jiwa kita selalu digoncangkan dengan pertanyaan apakah kehidupan kita sudah memiliki kepedulian yang sama seperti Yesus kepada orang-orang di sekeliling kita? Seringkali kita menjadi manusia yang sangat egois yang hidup hanya demi kenyamanan sendiri. Jika Yesus mengundang orang-orang bermasalah datang agar mereka mendapatkan kelepasan, dalam kehidupan atau pelayanan atau kegerejaan, justru kita bertindak sebaliknya yakni mengundang orang-orang yang dapat memberikan keuntungan, dan melupakan orang-orang yang sesungguhnya memerlukan pertolongan. Sekali lagi mengkritisi diri sendiri, kita seharusnya malu menjadi pengikut Yesus hanya untuk mengejar keuntungan bagi diri sendiri. Memanfaatkan penderitaan Yesus hanya sebagai jalan pembebasan beban, namun enggan berbagi salib penderitaan dalam persekutuan denganNya untuk melayani orang-orang yang bermasalah agar mereka beroleh kelepasan. (AT)
Refleksi:
Milikilah kepedulian bagi mereka yang menderita seperti Yesus.

MENUDUH ORANG LAIN

“Jangan menuduh orang lain, dan Allah tidak akan menuduhmu. Allah akan memperlakukanmu tepat seperti kamu memperlakukan mereka.”
(Matius 7:1-2 CEV)

Seseorang yang bernama Sir Percival Lowell adalah astronom ternama pada akhir abad ke-19. Ketika melihat planet Mars dari teleskop raksasa di Arizona , ia melihat ada garis-garis di planet itu. Menurutnya, itu adalah kanal-kanal buatan makhluk planet Mars. Lowell mengabdikan seluruh hidupnya untuk memetakan garis-garis itu. Namun, foto satelit kini membuktikan tidak ada kanal di Mars. Lantas apa yang dilihat Lowell ?Ternyata ia melihat pembuluh-pembuluh darah di matanya sendiri saat melihat teleskop! Ia menderita penyakit langka yang kini disebut
“Sindrom Lowell”.
 
Sama seperti Lowell, kita pun bisa salah memandang orang lain. Sifat-sifat buruk orang lain tampak begitu besar dan nyata, sehingga kita terdorong untuk menegur dan menghakiminya. Padahal tanpa sadar kita pun punya sifat buruk itu, bahkan mungkin lebih parah! Ini ibarat orang yang mau mengeluarkan serpihan kayu dari mata orang lain, padahal ada balok di matanya sendiri. Sebuah perbuatan munafik yang tidak akan berhasil. Seseorang harus menyadari dulu sifat-sifat buruknya sendiri, lalu berusaha mengatasinya. “Balok di matanya” harus dikeluarkan, sebelum bisa menegur orang dengan penuh wibawa.
 
Sikap suka menghakimi atau menuduh kerap muncul dalam keluarga. Bisa terjadi dalam hubungan antara orangtua dan anak, atau suami dan istri. Kedekatan membuat kita sangat mengenal cacat cela orang-orang yang kita kasihi. Akibatnya, kita menjadi sangat mudah menemukan kesalahan mereka. Ini yang harus kita waspadai. Lain kali, sebelum menuduh dan mencaci-maki, periksalah diri sendiri dulu. Belum tentu kita lebih baik dari mereka. Jadi, lebih baik saling menasihati daripada saling menghakimi. (AL)
Refleksi :
Dengan menghakimi kita merasa diri hebat dengan saling menasihati kita akan merasa diri sederajat

SEORANG TEMAN YANG SEJATI

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” (Amsal 27:17)

Ada hal yang seringkali tidak kita pahami yaitu terkadang Tuhan memakai
orang lain untuk membentuk kita.  Ayat nas di atas jelas menyatakan bahwa pembentukan karakter ditentukan oleh kerelaannya menerima teguran dan pembelajaran dari orang lain.

Interaksi atau persekutuan kita dengan orang lain akan   membawa dampak bagi kita:   makin dipertajam, dimatangkan dan didewasakan.   Yang membentuk dan menggesek kita biasanya bukan orang jauh, melainkan orang-orang yang dekat dengan kita.   Oleh karena itu kita harus berhati-hati membangun hubungan dengan seseorang, karena hubungan itu akan membentuk diri kita.   Amsal 13:20:   “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.”   dan   “Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”   (1 Korintus 15:33).   Orang   bodoh yang bergaul dengan orang bodoh akan tetap menjadi bodoh, tetapi bila ia mau bergaul dengan orang yang pintar dia akan menjadi pintar, karena dia bisa belajar dari orang itu. Jika orang yang tidak baik mau bergaul dengan orang baik, dia akan menjadi baik. Namun kalau orang yang tidak baik itu hanya mau bergaul dengan orang yang tidak baik, dia akan tetap menjadi orang yang tidak baik.  Oleh karena itu kita harus selektif dalam memilih teman atau sahabat supaya kita tidak terpengaruh kepada hal-hal yang tidak baik.  Kita harus bisa menemukan teman atau sahabat yang bisa memberi
nilai tambah yang positif bagi kita:  membangun, menguatkan dan membimbing kita kepada kehidupan yang berkenan kepada Tuhan.  Inilah perlunya memiliki seorang sahabat:   orang yang bisa memberi dan menerima, berjalan dalam kebersamaan baik suka mau pun duka, meningkatkan semangat dan gairah dalam belajar atau melayani Tuhan.   Untuk apa punya sahabat bila dengan persahabatan itu kita semakin jauh dari Tuhan, meninggalkan pelayanan, nilai-nilai di sekolah makin turun
drastis dan sebagainya?  Itulah sebabnya tidak gampang menemukan sahabat yang sejati, butuh waktu dan proses yang tidak singkat.  “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”  (Amsal 17:17). (AL)
Refleksi:
Sahabat tidak hanya mengasihi atau hadir saat dalam keadaan senang atau
mendapat berkat, melainkan di segala keadaan.

MENOLONG ORANG LAIN YANG MERASA BERSALAH

“Kasihanilah aku, ya, Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!” (Mazmur 51:3)

Apakah kita berjumpa dengan rekan atau sahabat yang merasa bersalah hari ini atau pada hari-hari yang sudah berlalu ? Rasa bersalah adalah sebuah perasaan yang tidak merasa bahagia,tidak merasa ada damai dan tidak tentram. Perasaan yang buruk, salah, tidak berharga, merasa gagal, merasa malu dan kalah karena sesuatu perbuatan yang telah dilakukan. Para pakar psikologi berpendapat bahwa perasaan bersalah itu muncul karena kegagalan untuk mencapai standar-standar perilaku yang telah ditetapkan sendiri. Misalnya ketika kita telah mengecewakan atau menyakiti hati seseorang, itu merupakan suatu perilaku yang buruk atau dosa.

Rasa bersalah itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh Daud, adalah merupakan suatu dosa. Dosa itu menyakiti hati Allah. Alkitab mengatakan bahwa pada dasarnya kita semua bersalah. “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak”, (Roma 3:10). Artinya kesalahan itu sifatnya universal atau umum. Di mata Allah semua manusia bersalah, karena manusia cenderung tidak mau dipimpin oleh Allah dan memberontak terhadap-Nya.

Apa yang Daud telah ungkapkan dalam Mazmur 51 ini, adalah sebuah pengakuan dosa dari Daud. Nabi Natan telah diutus Tuhan datang kepada Daud supaya membeberkan dosa perjinahan yang telah dilakukan Daud dan pembunuhan yang telah direncanakan/dilakukan oleh Daud, dalam kisah 2 Samuel 12 : 1-13. Dalam kisah ini, Daud telah melakukan perjinahan dengan istri Uria bernama Batsyeba, dan karena hendak mengambilnya menjadi istrinya maka Daud dengan sengaja merencanakan dan membiarkan Uria mati dalam peperangan.Maka solusi yang dapat ditawarkan adalah kita mendorong mereka belajar memaafkan diri sendiri dan hidup dengan cara yang baik agar tidak merugikan orang lain. Jika hal ini dilakukan tentunya setiap kita akan bebas dari perasaan bersalah. (AL)
Refleksi:
Sudahkah kita berhasil menjadi penolong bagi setiap orang?

MEMERCAYAI ORANG LAIN

“Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.” (Kisah Para Rasul 9:17)

S uatu hari seorang bapak bercerita kepada saya bahwa seluruh menejemen keuangan keluarga dihandel olehnya. Mengapa demikian? Menurut bapak tersebut, istrinya tidak dapat dipercaya dalam mengelola keuangan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Seorang ibu dalam keluarga yang lain juga menyatakan hal yang sama. Ketika suaminya sedang bekerja atau bepergian ia ingin mengetahui keberadaan suaminya. Dengan alasan tersebut ia selalu bertanya pada suaminya tentang ini dan itu. Mengapa ibu ini berlaku demikian? Jawabannya karena ibu ini kurang percaya pada suaminya.

Salah satu bagian yang penting dalam komunitas kristen perjanjian baru adalah kepercayaan. Tanpa kepercayaan maka seorang pemimpin tidak akan pernah mendelegasikan suatu tugas yang sangat penting kepada bawahannya. Tanpa kepercayaan maka dalam sebuah keluarga akan timbul terus menerus kecurigaan yang tidak beralasan. Akibatnya antara suami – istri, orangtua – anak, sesama keluarga saling mencurigai, tidak saling mempercayai. Ananias mau pergi menemui dan mendoakan Saulus dari kebutaannya akibat perjumpaanya dengan Tuhan dalam sinar kemuliaan karena Ananias percaya bahwa Saulus akan dipakai oleh Tuhan seperti dirinya (KIS 9:17). Setelah Saulus bertobat dan didoakan, murid-murid yang ada di Yerusalem takut menerimanya karena mereka belum percaya pada Saulus kalau ia sekarang juga telah menjadi murid Tuhan (KIS 9:26).

Kehidupan dalam komunitas harus kita dasari dengan kepercayaan. Kita tidak bisa membangun komunitas ataupun keluarga kita dalam kecurigaan dan ketidakpercayaan. Sikap saling percaya antara satu dengan yang lain akan menepis rasa curiga yang kadang muncul dibenak kita. Bagimana kita bisa membangun kepercayaan dalam komunitas kita? Jawabanya singkat, kita semua harus dapat menjadi orang yang dapat dipercaya. Ketika kita sadar tentang arti dan dampak dari sebuah kepercayaan, maka kita dapat membangun komunitas yang harmonis. (AL)
Refleksi:
Setiap orang harus dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari komunitas. Rasa percaya akan membuatnya bertahan dalam komunitas tersebut.